Diposkan pada Oneshot

Kajima Oppa… (Oneshot)

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title  : Kajima Oppa…
Type : Oneshot
Genre : Family, Life, Drama

Cast :
– Park Jiyeon
– Lee Donghae
– Kwon Sohyun
– Lee Hyukjae

______________________________________

PLAK!

“Neo! Kau memang anak yang tak tahu diuntung! Sudah bersusah payah aku membesarkan dan menyekolahkanmu, keunde ini balasanmu padaku?! Pada ayahmu sendiri?”

“Bukan aku pemilik kaset itu. Aku difitnah.”

PLAK!

“YA LEE DONGHAE, KAU MASIH TIDAK MAU MENGAKU?” Bentak sang ayah.

“Aku tak akan pernah mau mengaku, karena bukan aku pemilik kaset itu. Aku pun tidak tahu mengapa kaset itu ada didalam tasku.” Ujar namja tampan yang diketahui bernama Lee Donghae.

Tuan Lee, ayah dari Donghae hanya tertawa sinis mendengar penuturan dari puteranya tersebut. “Jadi maksudmu, kaset itu pindah sendiri kedalam tas-mu, begitu?”

Donghae hanya diam, ia tak ingin berdebat lagi dengan ayahnya. Ia sudah lelah. Sudah cukup penjelasannya perihal kaset tersebut, tetapi ternyata sang ayah tetap tidak mempercayai penjelasannya. Rupanya ia sudah dianggap pemberontak oleh ayahnya, sehingga apapun yang dikatakannya hanya dianggap sebuah omong kosong yang tak patut untuk didengar.

Tuan Lee mengurut keningnya. Ia sudah bosan dan lelah dalam menghadapi putra sulungnya ini. Tiada hari tanpa masalah. Jujur, ia sudah sangat malu kepada pihak sekolah. Apalagi Tuan Lee adalah salah satu penyumbang dana terbesar disekolah, jadi otomatis namanya sudah dikenal oleh orang-orang di Shinhwa High School, tempat kedua anaknya menimba ilmu.

“Kenapa sih kau tidak bisa seperti Jiyeon, adikmu? Seharusnya kau menjadi teladan untuknya, bukannya malah seperti ini.”

“Aku ya aku, tidak ada hubungannya dengan Jiyeon.” Jawab Donghae tajam. Seketika itu amarah tuan Lee kembali memuncak. Baru saja ia ingin melayangkan sebuah tamparan ke pipi mulus Donghae, tapi untung saja sebuah suara lembut membuatnya menghentikan tindakan kasarnya tersebut.

“Cukup appa! Jangan pukul Donghae oppa lagi, jebal…”

“Tapi Jiyeon, oppamu ini sudah terlalu banyak berbuat ulah. Sifatnya itu sudah membuat appa malu.” Terang Tuan Lee. Jiyeon berjalan mendekat kearah appa dan oppanya. Ia berdiri disamping Donghae, dan menggenggam tangan oppanya erat. “Aku yakin kaset porno itu bukan punya Donghae oppa.” Ujar Jiyeon tegas.

“Tapi bukti-bukti menunjukkan bahwa kaset itu miliknya, Jiyeon. Pihak sekolah menemukan kaset tersebut didalam tasnya saat mereka mengadakan razia.”

“Appa, bisa sajakan ada orang yang berniat jahat pada Donghae oppa dan kemudian orang itu yang meletakkan kaset tersebut di dalam tas Donghae oppa.” Jiyeon tetap bersikeras untuk membela oppanya.

“Sudahlah Jiyeon, tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Percuma, takkan ada yang percaya.” Ujar Donghae lirih.

*****

(Jiyeon’s POV)

Tok tok tok…

Ku ketuk pelan pintu ruang kerja ayahku. Setelah mendapat izin masuk dari appa, aku pun membuka pintu kayu berukir itu. Tak lupa aku membawa secangkir kopi hangat ditanganku. Appa tersenyum saat melihatku. Aku kasihan pada appa, wajahnya terlihat letih sekali.

“Ini untuk appa.” Ujarku sembari meletakkan kopi hangat tersebut di atas meja kerja appa.

“Gomawo, jagi.”

Aku duduk di kursi yang berada di depan appa. “Appa, jangan marah pada oppa lagi ya. Aku yakin, Donghae oppa bukan orang yang seperti itu. Hmm… meskipun ia sering berbuat ulah, tapi ia itu anak yang baik kok.” Kataku yakin.

“Dia yang menyuruhmu berbicara seperti itu?” Tanya appa, yang langsung kujawab dengan gelengan. “Aniyo, oppa sama sekali tidak menyuruhku. Itu memang kenyataan appa. Donghae oppa bukanlah orang yang seperti itu.”
Appa hanya terdiam mendengar penuturanku.

“Sekali-kali, percayalah padanya appa. Ia butuh kepercayaan darimu…” Kataku pelan, dan kemudian aku beranjak keluar dari ruang kerja appa. Aku hanya berharap bahwa appa merenungkan ucapanku tadi.

*****

_IN DONGHAE’s ROOM_

Aku dan Donghae oppa berbaring terlentang di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang berwarna biru, warna kesukaan kami berdua.

“Kenapa kau mau membelaku?” Tanyanya.

“Karena aku percaya padamu.” Jawabku singkat.

“Kenapa kau percaya?” Tanyanya lagi.

“Karena kau oppaku.”

“Kenapa…”

“Aigoo, kenapa oppa jadi cerewet sekali sih?”

Donghae oppa hanya tertawa saat melihat reaksiku. Ia bangkit dari posisi terlentangnya. Ia mengacak rambutku pelan sambil menunjukkan senyum indahnya. Senyum favoritku!

“Gomawo… Kau satu-satunya orang di dunia ini yang masih percaya padaku.”

“Aku akan selalu percaya padamu oppa. Karena kau adalah oppaku…”

(Jiyeon’s POV End)

*****

(Donghae’s POV)

_AT THE ROOFTOP_

Aku sedang duduk menikmati semilir angin yang berhembus di atas atap sekolah. Aku reflex menolehkan kepalaku kearah pintu atap ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Ternyata itu teman sekelasku, Kangin. Ia berjalan kearahku dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan. Seperti… prihatin?

“Aku mencarimu kemana-mana tadi, tenyata kau disini.” Ujarnya seraya mengambil tempat disebelahku. Kami terdiam memandang langit yang hari ini terlihat mendung. Sepertinya sebentar lagi akan ada hujan lebat.

“Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu.” Katanya lagi seraya menatapku.

“Marhaebwa!”

“Aku tahu siapa yang sudah meletakkan kaset porno itu kedalam tasmu.”

“Nugu?”

“Kau pasti takkan mempercayainya. Aku pun mungkin juga takkan mempercayainya jika aku tak dengar sendiri penuturan dari orang yang bersangkutan.”

“Sudah cepat katakan siapa orang brengsek itu?!” Kataku tak sabar. Kangin terlihat berpikir sebentar sebelum ia menyebutkan nama seseorang yang amat sangat kukenal. Aku hanya bisa tertegun tak percaya sangat ia menyebutkan nama orang itu sebagai pelakunya. Orang itu adalah sahabatku sendiri!

“Hyukjae… ia pelakunya…”

“Mwo?”

“Tadi saat ditoilet aku tak sengaja mendengar penuturannya tersebut.”

Aku mengepalkan tanganku. Marah dan kecewa, Itu yang kurasakan saat ini. Betapa teganya ia melakukan semua ini padaku! Bukankah kami adalah sahabat?! Sahabat macam apa yang tega menjerumuskan sahabatnya sendiri?!
Tanpa pikir panjang aku pun segera bangkit dari dudukku dan berjalan menuju pintu. “Ya, kau mau kemana Hae?” teriak Kangin. “Membereskan masalahku dengan si penghianat itu.” Kataku dingin sebelum membuka pintu atap.

‘Lee Hyukjae, selamat! Kau baru saja membangunkan singa yang tertidur…’

(Donghae’s POV End)

*****

_IN JIYEON’s CLASS_

Jiyeon menceritakan semua keluh kesahnya kepada teman sebangku yang juga merangkap sebagai sahabatnya, Kwon Sohyun. Sohyun dengan setia dan sabar mendengar keluh kesah Jiyeon tanpa menyelanya sedikitpun. Karena Sohyun tahu, yang dibutuhkan Jiyeon saat ini adalah seorang pendengar yang baik.

“Ne, aku juga setuju padamu. Donghae oppa tidak mungkin seperti itu. Wajahnya bukan wajah namja yadong kok!” Ujar Sohyun dengan mimic serius yang terpantri sempurna diwajah manisnya. Jiyeon tertawa melihat ekspresi berlebihan sahabatnya ini. “Gomawo sudah percaya pada oppaku.” Ucap Jiyeon tulus, yang dibalas senyuman oleh Sohyun.

“Jiyeon-ah!” Teriak Hwayoung panic.

“Wae gurae, Hwayoung-ah? Kenapa wajahmu panic begitu.” Tanya Jiyeon. “Ne, seperti ada hal darurat saja.” Timpal Sohyun.

“Ini memang darurat! Oppamu Jiyeon-ah… ia sedang berkelahi dengan temannya yang bernama Hyukjae!”

“Mwoya?!” Jiyeon sontak berdiri dari duduknya. “Dimana mereka sekarang?” Tanya Jiyeon yang mulai panic.

“Ditaman belakang, dekat ruang olah raga.”

“Kaja!”

*****

“BRENGSEK KAU HYUKJAE!!” Amuk Donghae seraya memukul Hyukjae tanpa ampun. Meskipun Hyukjae sudah tergeletak lemah di tanah, tapi Donghae masih tetap melayangkan pukulan-pukulan mautnya kepada sahabatnya tersebut. Seakan ia sudah tidak mengenal lagi yang namanya belas kasihan. Teman-teman yang menonton perkelahian yang didominasi oleh Donghae itu pun tidak berani melerai. Mereka sudah tahu tabiat Donghae. Berani mencampuri urusannya, sama saja dengan menggali kuburanmu sendiri.

“Oppa keumanhe!” Teriak Jiyeon. Ia berlari kearah Donghae yang masih terus memukul Hyukjae. Jiyeon menahan tahan Donghae. “Jebal oppa… hentikanlah! Kau bisa mendapat masalah lagi..” Pinta Jiyeon memelas. Ia benar-benar takut jika oppanya kembali mendapat masalah.

“Ani! Asal kau tahu, ia yang sudah meletakkan kaset itu di dalam tasku. Dia sudah memfitnahku!”

“Iya, tapi tidak begini cara menyelesaikannya oppa. Kau bisa mendapat masalah.”

“Aku tak peduli! Yang penting aku bisa memberi pelajaran pada makhluk hina ini!” Ujar Donghae keras kepala.

Sial baginya! ketika ia baru saja ingin melanjutkan pelajarannya pada Hyukjae, kepala sekolah datang karena mendapat laporan bahwa ada perkelahian antar murid di taman. Ia menatap Donghae bengis. Amarah pria paruh baya itu sudah memuncak.

“HENTIKAN LEE DONGHAE! SEKARANG KAU IKUT AKU KE KANTOR!” Kepala sekolah berteriak murka kepada Donghae. Ia sudah tak peduli lagi akan yang namanya kesabaran serta image-nya sebagai seorang kepala sekolah karena berteriak kasar di depan para murid. Sudah habis kesabarannya selama ini!

*****

_IN HEADMASTER’s OFFICE_

“Aku memukulnya karena aku memiliki alasan yang jelas.”

“Apa alasanmu?”

“Dia sudah memfitnahku. Ia yang meletakkan kaset tersebut di dalam tasku. Ia ingin balas dendam padaku, karena ia beranggapan aku telah merebut yeojachingu-nya.” Terang Donghae yang hanya ditanggapi dengan tawa mengejek dari si kepala sekolah.

“Kau pikir aku percaya? Semua orang tahu reputasi burukmu itu, Lee Donghae. Jadi jangan kau pikir kau bisa membodohiku, ara!”

“Tapi…”

“LEE DONGHAE!” Teriak tuan Lee yang baru saja masuk ke dalam kantor kepala sekolah. Ia menatap geram putra sulungnya tersebut. Lagi-lagi membuat masalah!

*****

(Jiyeon’s POV)

Aku menunggu dengan cemas di depan ruang kepala sekolah. Ya tuhan, aku benar-benar khawatir akan nasib Donghae oppa. Melihat wajah serius kepala sekolah serta appa tadi, aku yakin pasti hal buruk akan terjadi.

Hampir satu jam lamanya aku menunggu disini, di depan ruang kepala sekolah. Aku bahkan sampai membolos pelajaran Bahasa Inggris, yang notabene adalah pelajaran favoritku, demi menunggu disini. Aku segera menolehkan kepalaku kearah pintu, ketika telingaku menangkap suara pintu yang terbuka. Aku menanti dengan cemas.
Hatiku mencelos saat melihat ekspresi kedua namja didepanku ini. Pasti hal buruk terjadi. Tepat seperti perkiraanku.

“Otte oppa, appa?” Tanyaku pada mereka bergantian.

“Dia dikeluarkan dari sekolah ini.” Jawab appa. Hatiku semakin mencelos saat mendengarnya. Di keluarkan? Andwee! Ini kan bukan hanya kesalahan Donghae oppa!

“Kenapa begitu? Donghae oppa melakukan hal tadi kan juga karena salah Hyukjae. Seharusnya oppa diberi keringanan.” Ujarku.

“Sudahlah Jiyeon, itu memang kesalahannya. Kau tak perlu lagi melindunginya.”

“Harus berapa kali kukatakan bahwa aku tak bersalah?”

BUGH!

Sebuah pukulan mendarat mulus di pipi Donghae oppa. Aku tercengang melihatnya, sedangkan Donghae oppa hanya terdiam. Tapi dapat kulihat dari matanya bahwa ia bersedih dan seperti…

…ingin menangis…

Tuhan, aku tak tega melihat oppa seperti ini. Mengapa selalu ia yang disalahkan??

“Tutup mulutmu, Lee Donghae! Sekarang kau puas sudah membuatku malu??! PUAS??!! Kau tahu? Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa menyesal telah mempunyai anak sepertimu. Akan lebih baik jika kau tak ada di dunia ini!” Appa berkata sembari menatap Donghae oppa dengan marah.

Aku terkejut mendengar perrkataan appa yang bisa dibilang sudah sangat keterlaluan itu. bagaimana bisa ia berkata bahwa ia menyesal telah memiliki anak seperti Donghae oppa?

“Geure… mungkin memang lebih baik jika aku tak ada lagi di dunia ini. Jadi takkan ada yang bisa menyusahkan kalian dan membuat kalian malu.” Ujar Donghae oppa. Mendengarnya berbicara seperti itu membuat hatiku tambah sakit. Dengan sigap aku menahan tangannya, ketika ia hendak pergi.

“Oppa…” Kataku lirih.

“Biarkan saja dia!”

“Andwee!!” Aku tetap memegang tangan Donghae oppa erat. Donghae oppa menatapku pedih, ia tersenyum kecil seraya melepaskan tangannya dari peganganku. Perlahan, genggaman tangan kami terlepas. Aku menatapnya dengan air mata yang sudah berjatuhan dari mataku, mengisyaratkannya untuk jangan pergi.

“Kajima…” Ucapku tanpa suara. “Mianhe…” Balasnya lirih dan kemudian ia beranjak pergi dari hadapanku. Aku hanya terdiam terpaku di tempatku berdiri. Seakan sudah tak memiliki tenaga untuk sekedar bergerak. “Dia akan baik-baik saja…” Ucap appa untuk menenangkanku. Appa memelukku erat, membiarkanku untuk menumpahkan seluruh kesedihanku.

‘Tuhan… lindungilah Donghae oppa… Aku mohon…’

*****

Ini sudah 2 hari semenjak Donghae oppa pergi. Seperti yang kutakutkan, ia tak kembali kerumah semenjak pertengkaran hebat dengan appa saat di sekolah 2 hari yang lalu itu. Handphone-nya pun tidak aktif. Aku hanya bisa berdoa agar tuhan memberikan yang terbaik untuknya dan juga agar ia selalu berada dalam lindungan tuhan.

~ Nado lovey dovey dovey oh oh oh
Lovey dovey dovey oh oh oh ~

Aku bangkit dengan malas menuju meja belajarku. Ternyata sahabatku Sohyun yang menelpon. “Yoboseyo.” Sapaku.

“Jiyeon-ah, ini gawat!” ujar Sohyun panic.

“Wae geure?”

“Donghae oppa, ia….”

“Mworago?!”

“Kau segera kesini ya! Nanti alamatnya aku SMS. Palli!”

“Ne, arasso!”

Aku bergegas mengambil jaketku yang tergantung dibalik pintu dan memakainya dengan tergesa-gesa. Tak lama, masuk pesan dari Sohyun yang berisikan alamat tempat yang dimaksud. Dengan kecepatan penuh aku berlari menuju halte bus, guna untuk pergi ke tempat yang dimaksud Sohyun.

(Jiyeon’s POV End)

*****

Jiyeon berlari kencang, tidak peduli dengan napasnya yang sudah terengah-engah maupun keringat yang mulai membasahi wajah cantiknya. Ia bahkan tidak peduli dengan umpatan kesal para pejalan kaki yang tidak sengaja ditabraknya. Ia hanya ingin secepat mungkin sampai di tempat itu.

‘Donghae oppa…’

———————————

“Sohyun, dimana Donghae oppa?” Tanya Jiyeon panic.

“Disana.” Jawab Sohyun sambil menujuk ke atas sebuah gedung tinggi yang sedang direnovasi. Jiyeon kaget setengah mati. Disana, ia melihat seorang namja yang sedang berdiri tegak di pinggir atap gedung berlantai 5 tersebut. Sedikit gerakan dapat dipastikan akan membuat orang tersebut jatuh dan kehilangan nyawanya. Orang tersebut tak lain dan tak bukan adalah Lee Donghae.

Tanpa pikir panjang, Jiyeon segera berlari masuk ke dalam gedung tersebut. Ia lumayan kewalahan karena harus menaiki banyak anak tangga agar bisa sampai ke atas atap gedung tersebut.

“Oppa…” Ucap Jiyeon lirih. “Apa yang sedang kau lakukan disitu? Itu berbahaya, oppa. Turunlah! Jebal…” pinta Jiyeon.

“Sedang apa kau disini?” Tanya Donghae tanpa melihat Jiyeon. Ia masih asyik menatap kosong pemandangan indah kota Seoul pada malam hari yang bisa ia lihat dengan jelas dari tempatnya berdiri.

“Oppa…”

“Lebih baik kau pulang. Anak baik sepertimu tidak pantas berkeliaran pada malam hari.”

“Kenapa? Kenapa kau ingin melakukannya?” Tanya Jiyeon yang sudah mulai menangis tersedu-sedu. Ia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.

Donghae berkata dingin. “Bukankah kau sudah tahu jawabannya? Anak pembawa masalah sepertiku, tak pantas untuk berada di sekitar kalian. Aku… tak pantas untuk berada di dunia ini… semuanya akan lebih baik jika aku… jika aku pergi…”

“ANDWE! Walaupun semua orang bilang kau pembawa masalah, menyebalkan, dan hal lainnya. Keunde, aku tidak peduli. Bagiku, kau adalah oppaku… oppa yang sangat kusayangi. Jadi kumohon… jangan seperti ini oppa…”

“TAHU APA KAU JIYEON?!” Donghae membentak Jiyeon. Jiyeon sedikit kaget akan sikap Donghae. Ia menatap oppa kesayangannya itu pedih.

 Donghae membalikkan badannya perlahan, sehingga ia bisa menatap Jiyeon. “Neo! Kau adalah anak kesayangan appa. Kebanggaan semua orang. Semua orang sayang padamu, mereka berbondong-bondong datang ingin menjadi temanmu. Kau pintar, cantik, baik. SEMPURNA!” Ujar Donghae member penekanan pada kata terakhir.

“Tidak seperti aku.” Sambungnya lirih. “Aku hanya si pembawa masalah yang dibenci semua orang. Bahkan ayah sendiri bilang bahwa ia menyesal mempunyai anak sepertiku. Ia ingin agar aku menghilang dari kehidupannya…” Air mata menetes dari mata Donghae.

“Oppa, aku yakin appa saat itu hanya emosi. Oppa, turunlah!”

“Mianhe Jiyeon-ah… mianhe karena aku tidak bisa menjadi oppa yang baik untukmu. Aku harap… kau dan appa akan hidup lebih baik tanpa aku…”

“Andwee oppa!”

“Annyeong nae dongsaeng…” Ucap Donghae lirih. Dan sedetik kemudian, tubuhnya terhempas bebas dari atap gedung berlantai 5 tersebut. Napas Jiyeon tercekat saat melihat semua adegan itu. Seperti ada slow motion… persis seperti film-film action yang sering ia tonton.

“ANDWEEEEE!!!! DONGHAE OPPA!!!!” Teriakan pilu Jiyeon terdengar diantara hiruk pikuk kehidupan malam di kota Seoul. Dan kota Seoul pun menjadi saksi bisu atas peristiwa tragis tersebut.

*****

(Jiyeon’s POV)

“ Jiyeon-ah, ireonna…”

“Erg…”

“Jiyeon…”

Aku merasa pipiku dielus oleh seseorang. Dengan paksa, kubuka kedua kelopak mataku. Rasanya berat sekali, seperti ada lem yang direkatkan di kedua kelopak mataku. Samar-samar aku mendengar suara orang yang memangil namaku. Tersirat kelegaan di dalam suara orang itu.

Tunggu dulu! Suara itu….

Tanpa mempedulikan kepalaku yang masih pusing, aku bangun dari posisi tidurku. Aku duduk diranjang. Seketika mataku membulat sempurna saat melihat namja yang ada dihadapanku ini.

“Untunglah demam-mu sudah turun.” Ia menurunkan tangannya yang tadi memegang keningku. Aku menyentuh wajah tampan itu perlahan dengan jari-jariku.

“Donghae oppa?”

“Ne, jagi…” ia tersenyum padaku. Senyum favoritku…

“Oppa…” aku memeluknya erat, takut akan kehilangannya. Ia membalas pelukanku seraya mengelus rambut serta punggungku lembut. Aku benar-benar merasa nyaman dalam dekapannya. Demi apapun di dunia ini, aku tak ingin kehilangannya!

“Kau kenapa, Jiyeon?” Tanyanya lembut seraya mengelus pipiku pelan.

“Kau masih hidup?”

Ia terlihat mengernyitkan dahinya, mungkin merasa aneh atas pertanyaanku barusan. “Ne, tentu saja aku masih hidup. Memangnya yang sekarang ada dihadapanmu kau pikir siapa?”

“Ah syukurlah!” Ujarku lega sambil memeluknya kembali. Donghae oppa tertawa pelan. “Baru kali ini aku melihat orang yang menjadi linglung akibat demam. Sungguh unik!”

Aku hanya tersenyum manis menatapnya.

“Memangnya aku demam ya?” Kataku sambil meraba keningku sendiri. “Ah, pantas saja aku merasa pusing.”

“Ne, kau memang demam. Tak hanya itu, tapi kau juga pingsan saat disekolah. Aish jinjja, kau membuatku panic saja. Kurasa kau bisa masuk rekor dunia.”

“Huh, rekor dunia?” Tanyaku bingung.

“Ne, kau pingsan dari kemarin, Jiyeon. Aku bahkan sempat mengira kau koma gara-gara kau terlalu lama pingsan.”

Ah… jadi ternyata semua itu hanyalah mimpi. Keunde, itu terasa nyata. Sangat nyata malah! Aish sudahlah, seharusnya aku bersyukur karena itu semua hanyalah mimpi. Sungguh! Aku takkan bisa menghadapinya jika itu semua kenyataan. Rasanya seperti ingin mati saja saat melihat Donghae oppa melompat dari atap gedung tersebut.

“Kau masih terlihat pucat, lebih baik kau kembali tidur.”

“Aku akan tidur, tapi aku ingin tidur sambil dipeluk oleh oppa.” Kataku manja. Donghae oppa tersenyum sambil mengacak rambutku. “Dasar manja!” ujarnya tertawa. Ia naik ke atas kasurku dan kemudian berbaring di sebelahku. Ia menarikku dalam pelukannya, pelukan yang sangat nyaman dan hangat.

“Tidurlah…” Ucapnya.

“Ne, selamat malam oppa.”

“Selamat malam dongsaeng-i…”

Terima kasih Tuhan… karena semuanya hanya mimpi

The End

Tada! bagaimana chingudeul sekalian? Hancurkah? :p

Well, aku emang lagi hobi banget buat FF yg bergenre family. soalnya kan jarang ada yang buat. sebenernya sih ini lebih condong ke arah impianku, yaitu pengen bgt punya oppa yg guaateng + keren kaya suju oppadeul *curcol*

hahaha, ok deh!
Jangan lupa komen yaa 😀

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

19 tanggapan untuk “Kajima Oppa… (Oneshot)

  1. hhuuuuuwww… chingu, kau membuatku jantungan waktu donghae oppa mau lompat… T.T
    untung aja cuma mimpi.. ^^
    sama chingu, aku juga pingin punya oppa kayak suju oppadeul tapi lebih pingin punya suami kayak suju oppadeul… hahahahahaha *ingat umur*

    1. kekeke… untung gk smpe kena serangan jantung ya 😀 #plak
      wkwkwk… aku sih pengen punya oppa kyk member suju, trus punya suami kyk Kyuhyun, eh gk suka kyk deh! Kyuhyun-nya aja langsung #Gubraak!

      gomaow udh mampir, baca, + komen FF aku.. *bow*

  2. Chingu sbenerny q dah bca and coMen d pjyff,,,
    tpi q jga mo ikt coment dsini bleh kan!!hehe
    demi pa chingu kmu tuch jgo bnget bkin ff,,crtanya bgus”dech…Kkk
    q pling suka law jiyeon udah d pairingin ma kyuhyun and donghae,berasa gmanaaa gtoch…!hehehe
    q tUnggu lgi y ff haeji and kyuyeon_ny yg pastiny yg lbh so sweet and romantis…hahaha
    faigthing

    1. hehe iyaa aku ada baca komen kamu kok 😀
      gomawo bgt yaa udh sempetin baca + komen 🙂 *author senyum gaje*
      waah jinjja? padahal menurutku, FF aku masih byk kurangnya loh. tp syukur deh klo kamu suka >__<

      Iya, akhir2 ni aku emang suka buat Fanfic Kyuyeon. gk tau kenapa, lebih dpt aja gitu feel-nya 🙂

      skali lagi gomawo udh komen FF-ku 🙂

  3. Yatuhaan… Bikin jantung copot tapi akhirnya kepasanglagiiii!! 😥 oh ya thor, pas video yadong itu juga mimpi? Semua cerita itu semuanya mimpi jiyeon? Seru yah punya oppa seganteng sebaik donghae oppa… 😥 iri apa jiyeooon!! 😥 thor kapan2 bikin ff haeyeon cinta2 yaa? (ʃ⌣ƪ)

    1. waah untung gk jadi copot! >.<
      he'eh chingu! smua cuma mimpi #plak :p
      iya, ntr deh aku buat FF Haeyeon couple yg cinta2-an
      gomawo ya udh ninggalin jejak. hehe 😀

  4. Astagjiiiiiiim aku udah jantungan kaget gara gara hae katanya mau bunuh diri taunya –” Daebakk ff ini, author knight rupanya.. hohohohho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s