Diposkan pada Oneshot

In My Dream (Oneshot)

 

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title       : In My Dream
Type      : Oneshot
Genre    : Romance, Fantasy

Cast :
– Vega (My sister 🙂 )
– Justin Bieber
– Zayn Malik
– One Direction

_______________________________________

Well, sebenernya FF ini request-san dr dongsaeng aku. dia tu maruk bgt ma Justin & one direction. Ya udh deh, sebagai eonnie yang baik aku buatin FF ini khusus dia 😛
Td-nya sih ngga pengen ak post disini. tp, ya sudahlahh 😀

Happy reading yaa! And jgn lupa RCL 😀

________________________________________

 

Gadis berambut coklat gelap itu hanya dapat termangu menatap sekelilingnya yang sepi. Ia bingung dengan keadaan sekitarnya yang sepi. Terlalu sepi malah. Gadis berambut coklat gelap itupun melangkahkan kakinya dengan pasti. Badannya yang tergolong kurus itu hanya terbalut oleh sebuah cardigan berwarna hijau, warna favorit gadis itu. Ia seakan tidak peduli akan suhu udara kota London yang mulai mendingin karena ini sudah memasuki musim dingin.

Gadis itu mengedarkan pandangannya, merasa semakin bingung. “Kemana pergi-nya semua orang?” Gumam gadis itu seraya mengedarkan pandangannya. Ia merapatkan cardigan hijau-nya. Rambutnya yang ikal menjadi berantakan akibat hembusan angin. Tapi ia tidak repot-repot untuk membenarkan rambutnya, karena ada yang lebih penting dari itu semua…

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?!

Ya, itulah yang sedari tadi dipikirkan oleh gadis manis ini. Ia yakin ia masih berada di London, tapi masalahnya kemana semua orang saat ini? Seakan-akan semua orang menghilang secara misterius dari muka bumi ini. Di saat sang gadis sedang sibuk dengan pikirannya, terdengarlah sebuah suara memanggilnya.

“Hey kau!”

Sontak gadis ini membalikkan badannya, merasa kaget dengan sebuah suara yang muncul secara tiba-tiba. Ia tertegun menatap pemandangan di depannya. Disana, tepat didepannya sudah berdiri seorang pria berambut pirang dengan badan tegap dan tak lupa dengan senyum rupawan yang terpantri jelas di wajah tampannya itu. Gadis itu seakan kehilangan napasnya untuk sesaat.

“Aku tahu aku sangat tampan, tapi kau jangan memasang wajah bodoh seperti itu.” Ujar pria itu narsis. Gadis itu hanya mendengus, berlagak tak peduli meskipun jantungnya sudah berdetak tak karuan. “Siapa juga yang terpesona padamu!” Ujarnya ketus, membuat sang pria tertawa geli.

“Apa? Ada yang lucu?”

“Aku tak bilang kalau kau terpesona denganku loh! Kau sendiri yang mengakuinya.”

‘SIAL!’ Umpat gadis itu dalam hatinya. Hancur sudah harga dirinya di depan pria yang tak dikenalnya ini.

“Ngomong-ngomong kita ada dimana?” Tanya gadis itu.

“Menurutmu kita dimana?” Bukannya menjawab, pria itu malah bertanya balik dengan nada misterius yang tersirat dari caranya bertanya. Gadis itu terdiam sejenak sebelum menjawab. “A…aku tidak tahu. Tapi kurasa kita masih di London.”

“Ya, kita memang masih di London.”

“Huh? Tapi, kemana perginya semua orang?”

“Entahlah…”

Gadis itu terdiam, bingung harus berkata apalagi terhadap pria keren yang ada di hadapannya tersebut. Nyaris saja ia terlonjak kaget saat pria itu membuka suara perihal untuk menanyakan namanya. “Aku Justin. Dan kau?” Pria itu mengulurkan tangannya. Gadis berambut coklat itu menerima uluran tangan pria itu seraya menjawab, “Aku Vega.”

“Vega? Hmm… nama yang bagus.”

“Terima kasih.” Jawab gadis yang bernama Vega itu singkat.

“Ayo!”

“Huh?” Vega menatap Justin bingung. Tapi sebelum ia dapat bertanya lebih lanjut, pria tampan bernama Justin itu sudah terlanjur menarik tangannya lembut.

 

 

 

*****

(Vega’s POV)

Pria ini… entahlah harus ku deskripsikan bagaimana. Ia terlalu misterius. Sulit untuk ditebak. Tapi bukan itu saja yang menjadi bahan pemikiranku sekarang. Aku juga memikirkan tentang keadaan aneh yang kualami sekarang. Bagaimana tidak aneh? Nyaris semua warga London menghilang tak bersisa, dan yang anehnya kenapa hanya aku yang tertinggal?

Aku hanya dapat menghela napas pelan. Terlalu pusing untuk memikirkan semuanya. Pandanganku beralih pada pria yang sedang berjalan disampingku. Sedari tadi ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun padaku. Dia malah asyik menggenggam tanganku…

Tunggu! Menggenggam tanganku?!

Ya tuhan! Aku baru sadar jika pria yang bernama Justin ini sedari tadi masih menggenggam tanganku. Pantas saja aku merasakan kehangatan pada tangan kiriku yang sekarang sedang digenggamnya itu. Dengan segera aku melepaskan tangan kami yang bertautan, membuat pria berambut pirang itu menolehkan kepalanya ke arahku. Ia menaikkan alisnya, bingung dengan tindakanku yang terkesan tiba-tiba.

“Ada apa?” tanyanya santai. Aku menatapnya sinis, “Kau tidak sadar ya kalau kau menggenggam tanganku tadi? Memangnya kau siapa bisa dengan seenaknya menyentuhku! Aku ini sudah punya pacar tahu!” Ujarku kesal.
Justin hanya tersenyum mengejek. “Bukannya kau merasa senang karena aku menggenggam tanganmu? Buktinya kau tidak sadar bahwa aku menggenggam tanganmu, itu artinya kau benar-benar menikmatinya, kan?”

“Kau!”

“Apa?” tanyanya menantang seraya menatapku dingin. Sumpah! Demi apapun, jangan pernah gunakan tatapan itu padaku! Kau bisa membuatku mati mendadak, bodoh!

“A… Ah, kau benar-benar mengesalkan!” umpatku.

——————————–

“Hey, apa kau masih betah berdiri disitu?” Ia bertanya padaku seraya mengambil beberapa kue dan pudding dari meja di samping kasir. Saat ini kami sedang berada di sebuah café. Justin yang mengajakku kesini. Ku lihat ia semangat sekali mengambil makanan-makanan itu. Aku mengambil tempat untuk duduk tepat di depannya yang mulai menikmati makanan-makanan itu.

“Apa tidak apa-apa?”

Ia menghentikan aktivitasnya sejenak. “Apanya?” Ia mengernyitkan dahi. Aku menatap makanan-makanan yang ada dihadapan kami. “Makanan itu. Kau mengambilnya tanpa izin.”

“Memangnya harus izin dengan siapa? Apa kau melihat orang lain selain kita disini?” Tanyanya, yang hanya kubalas dengan gelengan. “Jadi, tak apa-apa?” Aku kembali memastikan. Ia menganggukkan kepalanya, “Ya, tentu saja.”

“Oh, baiklah…”

(Vega’s POV End)

*****

_Great Ormond Street Hospital, London_

Pria berwajah tampan itu melangkahkan kakinya dengan pasti menelusuri koridor rumah sakit. Terdapat sebuket bunga tulip kuning di tangan pria muda itu. langkahnya terhenti di depan sebuah kamar rawat. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan, mencoba untuk menenangkan dirinya. Sejenak ia terdiam menatap pintu yang ada dihadapannya. Ada terbesit sedikit keraguan di dalam hatinya, karena jujur, ia belum sanggup untuk menerima sebuah kenyataan. Kenyataan yang menyakitkan untuknya. Tapi kemudian, ia tersadar akan sesuatu. Bahwa ia merindukan sosok itu.

…Ia merindukan kekasihnya…

Suara derit pintu yang terdengar menandakan bahwa pintu itu telah dibuka. Pria tampan berjaket coklat itupun, berjalan perlahan menuju sebuah ranjang berukuran sedang yang terdapat di samping jendela. Ia menatap sosok yang ada dihadapannya dengan miris.

“Aku datang. Maaf membuatmu menunggu lama.” Ucapnya lirih terhadap sosok gadis yang sedang terbaring lemah dihadapannya. Gadis itu adalah kekasihnya. Gadis yang amat sangat ia cintai.

Dengan perlahan, ia mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya erat. “Aku merindukanmu. Tidakkah kau juga merindukanku?” lirihnya seraya mengecup punggung tangan gadis itu perlahan.

“Cepatlah kembali, Vega…”

*****

Vega benar-benar merasakan sensasi yang lain saat ia berdekatan dengan Justin. Perasaan yang sama dengan yang dirasakannya kala ia bersama dengan Zayn, kekasihnya. Mengingat Zayn, seketika membuat gadis itu meruntukkan dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia sempat menyamakan Zayn dengan pria asing yang sedang berada dihadapannya saat ini.

‘Ah, kau sudah gila Vega! Bagaimana mungkin kau mulai menyamakan Zayn dengan dia?!’

Vega dan Justin menghabiskan hari mereka dengan bersenang-senang. Well, meskipun tidak sepenuhnya dianggap bersenang-senang oleh Vega, gadis berambut coklat itu. Ia masih memikirkan cara bagaimana untuk pulang. Bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi dan menyayangi dirinya.

“Bagaimana jika setelah ini kita ke bioskop?” Justin bertanya seraya menatap Vega intens. “Terserah saja.” Jawab Vega pasrah.

“Aku tahu, kau pasti ingin pulang, kan? Tapi apa salahnya jika kau memikirkan itu nanti, dan kita nikmati dulu semua ini.”

“Ku lihat kau tenang-tenang saja, sama sekali tidak merasa takut atas kejadian aneh ini. Tidakkah kau ingin pulang?” Justin hanya tersenyum, lebih tepatnya tersenyum miris mendengar pertanyaan Vega barusan. “Aku tidak mungkin pulang. Ini adalah tempatku.”

“Ayolah, kita nikmati semua ini sebelum kau pulang.” Ujar pria itu lagi seraya menarik tangan Vega. “Hey, kenapa kau suka sekali sih menarik tanganku?!” Tanya gadis itu kesal. “Karena kau itu lamban layaknya kura-kura.”

“Hey!”

_______________________________

Hari telah berganti malam, kedua insane ini sudah lelah karena telah menghabiskan waktu seharian ini dengan berkunjung ke tempat-tempat wisata. Seperti : Kebung Binatang ZSL, Istana Kensington, Tower Bridge, dan bahkan ke menara jam besar yang terkenal di London, atau yang biasa disebut Big Ben. Kedua remaja ini bahkan menyempatkan diri untuk berfoto di tempat-tempat tersebut.

Sekarang mereka sedang berada di Sungai Thames, sungai yang terkenal di London. Matahari baru saja menghilang dan sekarang berganti dengan bintang-bintang serta bulan yang terhampar luas di permukaan langit. Dari tempat mereka berdiri sekarang, mereka bisa melihat pemandangan kota London pada malam hari dengan leluasa. Menara Big Ben pun terlihat jelas dari tempat mereka berdiri.

“Ini.” Justin menyerahkan segelas coklat panas pada Vega. “Terima kasih.” Balas gadis itu singkat. Mereka terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya Justin membuka suara. “Aku senang bisa menghabiskan hari ini denganmu. Aku harap, kejadian ini bisa terulang lagi.”

Vega tersenyum mendengar penuturan Justin. “Yeah, aku juga.”

“Setelah ini, aku harap kau tidak akan melupakanku.” Ucap Justin sembari menatap gadis yang ada disebelahnya. Vega tersenyum manis. “Tentu saja tidak.”

“Kau, jangan menyukaiku ya!”

“Eh?”

“Aku tahu kau sudah mulai menyukai-ku, benarkan?” Vega menundukkan wajahnya. Ia yakin, wajahnya pasti sudah mengeluarkan semburat merah sekarang. “Ti.. tidak.” Elaknya gugup. Justin tertawa dan mengacak rambut Vega lembut.

“Jangan suka padaku. Kau kan sudah memiliki kekasih.”

“Hey, aku kan sudah bilang bahwa aku tidak suka padamu. Kau saja yang terlalu percaya diri.” Seru Vega kesal. “Jangan menekuk wajahmu seperti itu. Kau terlihat menyeramkan.”

“Hey! Kau sudah bosan hidup ya!” Teriak Vega gusar. Justin langsung mengambil langkah seribu saat melihat gadis yang bersama-nya ini mengamuk.

———————————————————-

Mereka terduduk kelelahan di taman dekat Sungai Thames. Vega menegadahkan kepalanya, menatap langit yang malam itu terlihat sangat indah. Seketika ia teringat akan kekasihnya, Zayn. Apakah pria itu menghawatirkannya? Apakah pria itu mencarinya?
Gadis itu terlarut dalam pikirannya, hingga tak menyadari bahwa pria tampan yang ada disebelahnya menatapnya lama. “Apa?” Tanya Vega ketika ia menyadari bahwa sedari tadi Justin menatapnya. “Aku serius dengan perkataan-ku tadi. Jangan menyukaiku, mengerti?!”

“Kenapa?”

“Karena aku…”

“Vega!”

Vega membalikkan badannya saat ia mendengar seruan seseorang yang sangat dirindukannya. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Zayn. Vega tersenyum senang saat melihat Zayn yang berjalan kearahnya dari kejauhan.

“It’s time for say goodbye…” lirih seseorang disebelahnya, Justin. “Maksudmu?” Tanya Vega tak mengerti. Justin tersenyum dan mengusap rambut Vega dengan lembut. “Pacarmu sudah datang untuk menjemputmu. Sudah saatnya kau pergi dan melanjutkan kehidupan normalmu kembali.” Ujar pria itu. “Lalu bagaimana denganmu?” Vega menatap Justin lirih.

Justin tersenyum kecil. “Aku akan terus berada disini. Karena ini adalah tempatku.”

“Tapi…”

“Pergilah…”

“Vega, ayo kita pergi!” ajak Zayn yang sudah berada di sebelah Vega. Vega menatap Zayn sebentar, tapi ketika ia membalikkan tubuhnya untuk menatap Justin, pria itu sudah menghilang! Ia sudah pergi!

“Justin?”

“Justin, kau dimana?!” Vega menyerukan nama itu berulang-ulang, berharap bahwa pria itu akan segera muncul kembali dihadapannya. Tapi nihil! Pria itu menghilang bak ditelan bumi.

“Justin…” Lirih Vega. Tanpa terasa gadis itu sudah meneteskan air matanya. Entahlah, ia merasa kehilangan yang teramat besar. Ia sendiri pun merasa heran mengapa ia bisa merasa seperti itu. terlebih ia dan Justin baru saja bertemu.

‘Aku harap kita bertemu lagi…’

*****

(Vega’s POV)

Vega…

Vega…

Aku membuka mataku perlahan. Silau. Yeah, itu yang kurasakan disaat pertama aku membuka mata ini. Rasanya sudah sangat lama saat terakhir kali aku merasakan sinar matahari.

“Vega!”

Aku menolehkan kepalaku saat mendengar suara itu. Suara dari pria yang kurindukan, Zayn. Ia segera merengkuhku ke dalam pelukannya. “Aku senang kau kembali.” Bisiknya lirih. Aku hanya tersenyum seraya membalas pelukannya.

Seketika aku tersentak. Justin… nama itu terasa familiar bagiku. Tapi, aku tak bisa mengingat dengan jelas siapa pria itu.
“Justin… dimana dia?” Tanyaku pada Zayn. “Justin?” Ia mengerutkan dahinya. “Siapa dia?” tanyanya lagi, membuatku terdiam. Sekarang yang ada dibenakku hanya satu. Apakah Justin itu nyata, atau hanya imajinasiku semata?
Tapi, pria itu…

Dia terlalu nyata untuk hanya sekedar tokoh fiksi. Tapi… Ya Tuhan! Kenapa aku jadi bingung begini?!

“Aku akan segera memanggilkan dokter.” Ujar Zayn seraya mengecup keningku singkat, sebelum ia keluar untuk memanggil dokter.

——————————————————–

Sekarang aku ingat. Semua kejadian yang kualami bersama Justin adalah kejadian yang terjadi di alam bawah sadarku. Yeah, aku koma selama hampir seminggu akibat kecelakaan lalu lintas yang kualami. Saat itu aku ingin pergi menonton konser Zayn bersama keempat rekannya, yang tergabung dalam grup bernama One Direction. Naasnya, saat dalam perjalanan kesana taksi yang kunaiki mengalami kecelakaan sehingga membuatku koma.

Jadi, intinya semua situasi aneh dan semua kejadian yang kualami bersama Justin, itu semua terjadi dalam dunia bawah sadarku. Hal tersebut memang sering terjadi pada orang yang mengalami koma. Tapi walaupun begitu, aku cukup senang karena aku sempat bertemu dan mengenal pria misterius itu. Pria keren dan misterius yang bernama Justin.

“Hey, sedang apa kau  disini? Angin malam tak baik untuk kesehatanmu.” Ujar Zayn. Ia memelukku dari belakang dengan erat, seakan tak ingin kehilanganku lagi. “Kau tahu, aku hampir gila saat melihatmu koma. Aku benar-benar takut kehilanganmu.” Ujarnya lirih. Ia meletakkan dagunya pada pundakku dan mengeratkan pelukannya.

“Aku takkan meninggalkanmu. I promise.”

“Ok then, I keep your promise.”

Aku tersenyum mendengar penuturannya. Aku mengusap lengan Zayn pelan. Tiba-tiba Zayn membalikkan tubuhku, hingga kami berada dalam posisi saling berhadapan. Ia menatapku intens, nyaris membuatku lupa bagaimana caranya bernapas. Perlahan tapi pasti ia mendekatkan wajahnya ke arahku. Reflek aku langsung memejamkan mataku. Jantungku sudah berdetak tak karuan, nyaris meledak mungkin.

Hangat…

Itu yang kurasakan saat wajahnya sudah semakin dekat dengan wajahku. Sedikit lagi….

“Hey, bisa kalian hentikan lovey dovey kalian? Kami sudah kelaparan menunggu kalian.” Ujar Harry.

Ah, benar-benar mengganggu saja bocah keriting ini!

“Sudah-sudah, adegan romantisnya nanti saja dilanjutkan. Sekarang isi perut dulu.” Timpal Liam dengan wajah sok polosnya. Sungguh! Rasanya ingin kulempar saja mereka dari balkon lantai 2 ini! Benar-benar mengganggu!

Zayn yang sudah kepalang malu pun, langsung beranjak masuk. Akupun melemparkan death glare terbaikku kepada 2 anak manusia yang tak tahu malu ini. Mereka hanya cengengesan menatapku, dan dengan sigap langsung berlari masuk.

“HEY BOCAH-BOCAH PENGGANGGU! KEMARI KALIAN!”

-The End-

kekeke, sumpah gaje bgt deh! :p
Tapi tetep RCL yaa 😀

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

2 tanggapan untuk “In My Dream (Oneshot)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s