Diposkan pada Chapters, KyuYeon (Kyuhyun Jiyeon)

When Bad Boys Meet Good Girl (Part 1)

 

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title       : When Bad Boys Meet Good Girl
Type      : Chapters
Genre    : Friendship, Comedy, Romance

Cast :
– Park Jiyeon
– Yong Junhyung
– Jeon Boram
– Cho Kyuhyun
– BEAST

__________________________________________

 

“Jinjja?”

“Ne, mereka benar-benar mengagumkan. Mereka bahkan menang melawan “The Darkness.” Neomu Daebak!”

“Omo… uri Beast is The Best!”

Jiyeon menatap teman-temannya dengan aneh. Jujur, ia tak mengerti mengapa teman-temannya begitu mencintai Beast. Ok, mungkin jika mereka adalah sekumpulan namja yang keren, baik, serta pintar, ia masih dapat menerimanya. Keunde, The fact is….

Beast are nothing but TROUBLES!

Jiyeon menghembuskan napasnya kesal, “Daebak?! Jinjja? Apa tidak salah?” cibir Jiyeon dengan tatapan yang meremehkan.

“Ya, jangan gunakan tatapan meremehkan seperti itu ketika kau sedang membicarakan Beast! Kau masih mau hidup dengan tenang, kan?” Boram berbisik ditelinga Jiyeon. Gadis mungil itu mengingatkan teman sebangku-nya agar tidak berbicara sembarangan jika menyangkut soal Beast, gangster yang terkenal seantreo sekolah. Ani, bahkan seantreo SEOUL!

“Ara ara!” Balas Jiyeon acuh tak acuh.

BRAAAK!

Semua mata di kelas langsung tertuju ke arah pintu kelas mereka. 6 orang namja dengan penampilan yang tak layak untuk dikatakan sebagai seorang pelajar, masuk ke dalam kelas dengan langkah angkuh setelah sebelumya mereka membanting pintu kelas, selayaknya mereka adalah penguasa di sekolah itu. Tapi anehnya, hampir semua yeoja yang ada di dalam kelas itu menatap mereka dengan kagum, layaknya mereka adalah pangeran pangeran yang baru tiba dari negeri dongeng.

Yeah, ke-6 namja itu adalah BEAST…

The TROUBLEMAKERS from Kirin School!

Tapi berbeda dengan para yeoja di kelasnya, Jiyeon justru sangat membenci ke-6 namja tersebut. Baginya, mereka hanyalah sekumpulan namja yang tidak jelas serta tak bermasa depan. Tipe namja yang jelas-jelas patut untuk dijauhi.

‘Cih, apa hebatnya sich namja-namja tak berotak itu?!’ Batinnya kesal.

 

*****

 

(Jiyeon’s POV)

“Ya, Boram-ah! Neo nappeun chingu! Betapa teganya kau membiarkanku menunggu selama 2 jam, sedangkan kau enak-enakkan pacaran dengan Donghae oppa. Kau bayangkan itu, 2 jam aku menyia-yiakan waktuku.” Ujarku kesal pada Boram. Sedangkan yang terdakwa malah terkekeh geli, seakan-akan aku sedang menceritakan sebuah lelucon padanya. Membuatku semakin emosi saja!

“Hehehe… mianhe Jiyeon-ah. Aku lupa mengatakan padamu bahwa aku sudah ada janji dengan Donghae oppa. Jeongmal mianhe. Keunde, aku berjanji akan membayar semua kerugianmu. Aku akan mentraktirmu sepuasnya. Tapi jebal, maafkan aku yaaa…” ujar Boram memelas. Ah, jika sudah begini pasti ujung-ujungnya aku akan memaafkan kesalahannya ini. Ne, aku memang tipe orang yang tidak tega-an.

“Aish arasso! Awas kalau kau sampai mengulanginya lagi!”

“Hehe, gomawo yaa jagi…”

“Hmm, ngomong-ngomong sekarang kau ada dimana?”

“Aku? Aku masih di bioskop. Aku baru saja selesai nonton film Breaking Down part II dengan dengan Donghae oppa di bioskop.” Jawabnya riang.

“MWORAGO? Jadi kau sudah menonton duluan?! Ya, bukankah kau sudah berjanji jika akan menontonnya berdua denganku?!”

“Ah! Iya, mian aku lupa..”

Cih! Enak sekali dia bilang lupa! Sudah dia membatalkan janji seenaknya, dan sekarang dia malah nonton film itu duluan tanpaku?! Ah membuat mood-ku semakin rusak saja!

“Jiyeon-ah, jangan marah lagi, ok! Aku tutup telepon-nya dulu ya. Annyeong!”

KLIK. Dan telepon pun ditutup. Aku hanya dapat menatap ponselku miris. Ah, what a great day to start! Boram benar-benar sukses membuat moodku hancur! Seharusnya hari ini kami pergi café Rainbow, sebab ada menu baru disana yang wajib untuk dicicipi. Ne, kami ini adalah penggemar berat wisata kuliner. Tapi jika sudah begini jadinya, lebih baik aku batal pergi saja. Mood-ku sudah benar-benar hancur lebur tak berbentuk.

Saat sedang menuju jalan pulang, aku mendengar beberapa suara dari arah gang kecil di depanku. Jalanan ini termasuk sepi, karena jarang dilewati oleh pejalan kaki. Keunde, dengan modal nekat, aku pun menuju ke arah suara itu. rasa penasaran yang sudah membuncah tinggilah yang membuatku senekat ini. Aku menajamkan pendengaranku. sepertinya itu suara orang yang sedang berkelahi.

Ternyata dugaanku tepat! Rupanya, sedang ada perkelahian yang sengit disana. Aku bergerak cepat dan langsung menyembunyikan diri di ujung gang, dekat bak sampah besar. Sepertinya ini benar-benar pertarungan yang sengit.

Tunggu dulu! Sepertinya aku mengenal beberapa orang yang sedang berkelahi di sana. Mereka seperti… beast. OMO BEAST?! YA MEREKA ADALAH BEAST! The troublemakers from my school dan juga merangkap sebagai teman sekelasku.

‘Omo,ottohke? Apa aku harus lapor polisi? Ah andwee lebih baik aku pergi saja. Toh ini bukan urusanku.’

‘Aigoo, tapi mereka terlihat seperti sedang butuh pertolongan. Aku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja.’

Yeah, sebenci apapun aku terhadap mereka, keunde aku masih memiliki hati nurani. Aku tidak mungkin tega membiarkan mereka kesusahan. Terlebih mereka adalah orang yang kukenal. Lagipula aku tak yakin mereka bisa menang. Jumlah mereka kalah banyak dengan musuh. Kalian bayangkan saja, mereka hanya ber-6! Dan yang lebih parahnya lagi, musuh mereka membawa banyak senjata yang berbahaya.

Omo! Beberapa member Beast sudah ada yang terluka. Oh Tuhan, apa mereka masih ada kemungkinan untuk menang?

Mataku melebar sempurna saat aku melihat ada seseorang dengan sebuah balok kayu besar dibelakang Junhyung. Ia pasti ingin memukul Junhyung dengan balok kayu besar yang ada ditangannya itu. Tanpa sadar aku pun berteriak kalap. “JUNHYUNG, AWAS!”

Bagus! Sekarang semua mata tertuju padaku. Mereka bahkan menghentikan perkelahian mereka. Walhasil, sekarang aku menjadi pusat perhatian segerombol namja ini. Para member Beast melihatku dengan terkejut, merasa tak menyangka akan melihatku disini.

“Ya, ketua kelas! Sedang apa kau disini?” Tanya Yoseob, namja yang paling pendek diantara mereka semua.

“A… An… Annyeong! Hmm… aku hanya numpang lewat saja kok. Maaf jika aku mengganggu. Ji…jika kalian mau melanjutkannya, silahkan saja tak usah sungkan. Aku takkan melarang. Selamat bersenang-senang. Annyeong!” Aku melambaikan tanganku pada mereka dan bergegas untuk mengambil langkah seribu.

Tapi sayangnya, jangankan langkah seribu. Baru selangkah aku berjalan, tanganku sudah dicengkram oleh salah satu dari musuh Beast. Ia menarik tanganku kasar dan menyeretku lebih dekat dengannya. Aku hanya dapat meronta-ronta panic. “YA APA YANG KAU LAKUKAN?! BIARKAN AKU PERGI!” Racauku panic.

“Jika kau mendekat, maka aku takkan segan segan untuk menyakiti teman kalian ini.” Ujar namja yang menyanderaku saat Kikwang bergerak maju untuk menolongku. Kikwang pun terpaksa mundur teratur, ia tak ingin mengambil resiko.

“Jebal, biarkan aku pergi…”

“Biarkan yeoja itu pergi. Ia tak ada hubungannya dengan kita.” Hyunseung berkata dengan gaya tenang andalannya. Salut aku dengannya! Dalam keadaan seperti ini pun, ia masih tetap stay cool. Ia manusia atau bukan sih?!

“Jebal biarkan aku pergi…” Aku memohon pada namja jelek yang menyanderaku ini. Air mata-ku sudah bercucuran, tak dapat kutahan. Aku benar-benar takut. Bagaimana jika ini adalah akhir dari kehidupanku?! Betapa tragisnya! Aku bahkan tidak dapat kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal pada Kyuhyun oppa.

‘Oppa, aku takut… aku harap kau ada disini…’

“Guys, let’s get them!” Seru namja jelek ini pada teman-temannya. Dan yeah… pertarungan sengit kembali dimulai…

Eomma ottohke???

PRANGGG!!

BUGH!

Aku menutup mataku rapat-rapat ketika tubuhku jatuh ke tanah. Serasa ada yang berat menimpa tubuhku, keunde aku terlalu takut untuk membuka mataku. Ya tuhan, aku hanya berharap ini semua segera berakhir.

“Gwenchana?” tanya seseorang padaku. Perlahan aku membuka mataku. Dan ternyata itu adalah JUNHYUNG! Ia membantuku untuk bangun dari tanah sambil menggenggam tanganku erat. Aku menolehkan kepalaku kesamping. Dan aku mendapati namja jelek yang menyanderaku tadi sudah terkapar tak berdaya di tanah, dengan kepala yang berlumuran darah.

Jantungku pun berdetak kencang saat melihat pemandangan itu. “A…Apa… dia mati?” Tanyaku takut.

“Ani, ia hanya pingsan.”

Junhyung menarik tanganku lembut, “Ayo, kita harus pergi dari sini sebelum…”

PRAANGG

“JUNHYUNG!!!!”

(Jiyeon’s POV End)

 

 

To Be Continued

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

10 tanggapan untuk “When Bad Boys Meet Good Girl (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s