Diposkan pada KyuYeon (Kyuhyun Jiyeon), Oneshot

In My Dream (Oneshot)

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title      : In My Dream
Type     : Oneshot
Genre   : Romance, Fantasy

Cast :
– Park Jiyeon
– Im Jaebum
– Cho Kyuhyun

____________________________

 

Gadis berambut coklat gelap itu hanya dapat termangu menatap sekelilingnya yang sepi. Ia bingung dengan keadaan sekitarnya yang sepi. Terlalu sepi malah. Gadis berambut coklat gelap itupun melangkahkan kakinya dengan pasti. Badannya yang tergolong kurus itu hanya terbalut oleh sebuah cardigan berwarna hijau, warna favorit gadis itu. Ia seakan tidak peduli akan suhu udara kota London yang mulai mendingin karena ini sudah memasuki musim dingin.

Gadis itu mengedarkan pandangannya, merasa semakin bingung. “Kemana pergi-nya semua orang?” Gumam gadis itu seraya mengedarkan pandangannya. Ia merapatkan cardigan hijau-nya. Rambutnya yang ikal menjadi berantakan akibat hembusan angin. Tapi ia tidak repot-repot untuk membenarkan rambutnya, karena ada yang lebih penting dari itu semua…

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?!

Ya, itulah yang sedari tadi dipikirkan oleh gadis manis ini. Ia yakin ia masih berada di London, tapi masalahnya kemana semua orang saat ini? Seakan-akan semua orang menghilang secara misterius dari muka bumi ini. Di saat sang gadis sedang sibuk dengan pikirannya, terdengarlah sebuah suara memanggilnya.

“Hey kau!”

Sontak gadis ini membalikkan badannya, merasa kaget dengan sebuah suara yang muncul secara tiba-tiba. Ia tertegun menatap pemandangan di depannya. Disana, tepat didepannya sudah berdiri seorang pria berambut pirang dengan badan tegap dan tak lupa dengan senyum rupawan yang terpantri jelas di wajah tampannya itu. Gadis itu seakan kehilangan napasnya untuk sesaat.

“Aku tahu aku sangat tampan, tapi kau jangan memasang wajah bodoh seperti itu.” Ujar pria itu narsis. Gadis itu hanya mendengus, berlagak tak peduli meskipun jantungnya sudah berdetak tak karuan. “Siapa juga yang terpesona padamu!” Ujarnya ketus, membuat sang pria tertawa geli.

“Apa? Ada yang lucu?”

“Aku tak bilang kalau kau terpesona denganku loh! Kau sendiri yang mengakuinya.”

‘SIAL!’ Umpat gadis itu dalam hatinya. Hancur sudah harga dirinya di depan pria yang tak dikenalnya ini.

“Ngomong-ngomong kita ada dimana?” Tanya gadis itu.

“Menurutmu kita dimana?” Bukannya menjawab, pria itu malah bertanya balik dengan nada misterius yang tersirat dari caranya bertanya. Gadis itu terdiam sejenak sebelum menjawab. “A…aku tidak tahu. Tapi kurasa kita masih di London.”

“Ya, kita memang masih di London.”

“Huh? Tapi, kemana perginya semua orang?”

“Entahlah…”

Gadis itu terdiam, bingung harus berkata apalagi terhadap pria keren yang ada di hadapannya tersebut. Nyaris saja ia terlonjak kaget saat pria itu membuka suara perihal untuk menanyakan namanya. “Aku Jaebum, keunde kau bisa memanggilku JB. Dan kau?” Pria itu mengulurkan tangannya. Gadis berambut coklat itu menerima uluran tangan pria itu seraya menjawab, “Aku Jiyeon.”

“Jiyeon? Hmm… nama yang bagus.”

“Terima kasih.” Jawab gadis yang bernama Jiyeon itu singkat.

“Ayo!”

“Huh?” Jiyeon menatap JB bingung. Tapi sebelum ia dapat bertanya lebih lanjut, pria tampan bernama JB itu sudah terlanjur menarik tangannya lembut.

 

 

*****

(Jiyeon’s POV)

Pria ini… entahlah harus ku deskripsikan bagaimana. Ia terlalu misterius. Sulit untuk ditebak. Tapi bukan itu saja yang menjadi bahan pemikiranku sekarang. Aku juga memikirkan tentang keadaan aneh yang kualami sekarang. Bagaimana tidak aneh? Nyaris semua warga London menghilang tak bersisa, dan yang anehnya kenapa hanya aku yang tertinggal?

Aku hanya dapat menghela napas pelan. Terlalu pusing untuk memikirkan semuanya. Pandanganku beralih pada pria yang sedang berjalan disampingku. Sedari tadi ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun padaku. Dia malah asyik menggenggam tanganku…

Tunggu! Menggenggam tanganku?!

Ya tuhan! Aku baru sadar jika pria yang bernama JB ini sedari tadi masih menggenggam tanganku. Pantas saja aku merasakan kehangatan pada tangan kiriku yang sekarang sedang digenggamnya itu. Dengan segera aku melepaskan tangan kami yang bertautan, membuat pria berambut pirang itu menolehkan kepalanya ke arahku. Ia menaikkan alisnya, bingung dengan tindakanku yang terkesan tiba-tiba.

“Ada apa?” tanyanya santai. Aku menatapnya sinis, “Kau tidak sadar ya kalau kau menggenggam tanganku tadi? Memangnya kau siapa bisa dengan seenaknya menyentuhku! Aku ini sudah punya pacar tahu!” Ujarku kesal.
JB hanya tersenyum mengejek. “Bukannya kau merasa senang karena aku menggenggam tanganmu? Buktinya kau tidak sadar bahwa aku menggenggam tanganmu, itu artinya kau benar-benar menikmatinya, kan?”

“Kau!”

“Apa?” tanyanya menantang seraya menatapku dingin. Sumpah! Demi apapun, jangan pernah gunakan tatapan itu padaku! Kau bisa membuatku mati mendadak, bodoh!

“A… Ah, kau benar-benar mengesalkan!” umpatku.

——————————–

“Hey, apa kau masih betah berdiri disitu?” Ia bertanya padaku seraya mengambil beberapa kue dan pudding dari meja di samping kasir. Saat ini kami sedang berada di sebuah café. JB yang mengajakku kesini. Ku lihat ia semangat sekali mengambil makanan-makanan itu. Aku mengambil tempat untuk duduk tepat di depannya yang mulai menikmati makanan-makanan itu.

“Apa tidak apa-apa?”

Ia menghentikan aktivitasnya sejenak. “Apanya?” Ia mengernyitkan dahi. Aku menatap makanan-makanan yang ada dihadapan kami. “Makanan itu. Kau mengambilnya tanpa izin.”

“Memangnya harus izin dengan siapa? Apa kau melihat orang lain selain kita disini?” Tanyanya, yang hanya kubalas dengan gelengan. “Jadi, tak apa-apa?” Aku kembali memastikan. Ia menganggukkan kepalanya, “Ya, tentu saja.”

“Oh, baiklah…”

(Jiyeon’s POV End)

*****

_Great Ormond Street Hospital, London_

Pria berwajah tampan itu melangkahkan kakinya dengan pasti menelusuri koridor rumah sakit. Terdapat sebuket bunga tulip kuning di tangan pria muda itu. langkahnya terhenti di depan sebuah kamar rawat. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan, mencoba untuk menenangkan dirinya. Sejenak ia terdiam menatap pintu yang ada dihadapannya. Ada terbesit sedikit keraguan di dalam hatinya, karena jujur, ia belum sanggup untuk menerima sebuah kenyataan. Kenyataan yang menyakitkan untuknya. Tapi kemudian, ia tersadar akan sesuatu. Bahwa ia merindukan sosok itu.

…Ia merindukan kekasihnya…

Suara derit pintu yang terdengar menandakan bahwa pintu itu telah dibuka. Pria tampan berjaket coklat itupun, berjalan perlahan menuju sebuah ranjang berukuran sedang yang terdapat di samping jendela. Ia menatap sosok yang ada dihadapannya dengan miris.

“Aku datang. Maaf membuatmu menunggu lama.” Ucapnya lirih terhadap sosok gadis yang sedang terbaring lemah dihadapannya. Gadis itu adalah kekasihnya. Gadis yang amat sangat ia cintai.

Dengan perlahan, ia mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya erat. “Aku merindukanmu. Tidakkah kau juga merindukanku?” lirihnya seraya mengecup punggung tangan gadis itu perlahan.

“Cepatlah kembali, Jiyeon…”

*****

Jiyeon benar-benar merasakan sensasi yang lain saat ia berdekatan dengan JB. Perasaan yang sama dengan yang dirasakannya kala ia bersama dengan Kyuhyun, kekasihnya. Mengingat Kyuhyun, seketika membuat gadis itu meruntukkan dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia sempat menyamakan Kyuhyun dengan pria asing yang sedang berada dihadapannya saat ini.

‘Ah, kau sudah gila Jiyeon! Bagaimana mungkin kau mulai menyamakan Kyuhyun dengan dia?!’

Jiyeon dan JB menghabiskan hari mereka dengan bersenang-senang. Well, meskipun tidak sepenuhnya dianggap bersenang-senang oleh Jiyeon, gadis berambut coklat itu. Ia masih memikirkan cara bagaimana untuk pulang. Bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi dan menyayangi dirinya.

“Bagaimana jika setelah ini kita ke bioskop?” JB bertanya seraya menatap Jiyeon intens. “Terserah saja.” Jawab Jiyeon pasrah.

“Aku tahu, kau pasti ingin pulang, kan? Tapi apa salahnya jika kau memikirkan itu nanti, dan kita nikmati dulu semua ini.”

“Ku lihat kau tenang-tenang saja, sama sekali tidak merasa takut atas kejadian aneh ini. Tidakkah kau ingin pulang?” JB hanya tersenyum, lebih tepatnya tersenyum miris mendengar pertanyaan Jiyeon barusan. “Aku tidak mungkin pulang. Ini adalah tempatku.”

“Ayolah, kita nikmati semua ini sebelum kau pulang.” Ujar pria itu lagi seraya menarik tangan Jiyeon. “Hey, kenapa kau suka sekali sih menarik tanganku?!” Tanya gadis itu kesal. “Karena kau itu lamban layaknya kura-kura.”

“YA!”

_______________________________

Hari telah berganti malam, kedua insane ini sudah lelah karena telah menghabiskan waktu seharian ini dengan berkunjung ke tempat-tempat wisata. Seperti : Kebung Binatang ZSL, Istana Kensington, Tower Bridge, dan bahkan ke menara jam besar yang terkenal di London, atau yang biasa disebut Big Ben. Kedua remaja ini bahkan menyempatkan diri untuk berfoto di tempat-tempat tersebut.

Sekarang mereka sedang berada di Sungai Thames, sungai yang terkenal di London. Matahari baru saja menghilang dan sekarang berganti dengan bintang-bintang serta bulan yang terhampar luas di permukaan langit. Dari tempat mereka berdiri sekarang, mereka bisa melihat pemandangan kota London pada malam hari dengan leluasa. Menara Big Ben pun terlihat jelas dari tempat mereka berdiri.

“Ini.” JB menyerahkan segelas coklat panas pada Jiyeon. “Terima kasih.” Balas gadis itu singkat. Mereka terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya JB membuka suara. “Aku senang bisa menghabiskan hari ini denganmu. Aku harap, kejadian ini bisa terulang lagi.”

Jiyeon tersenyum mendengar penuturan JB. “Yeah, aku juga.”

“Setelah ini, aku harap kau tidak akan melupakanku.” Ucap JB sembari menatap gadis yang ada disebelahnya. Jiyeon tersenyum manis. “Tentu saja tidak.”

“Kau, jangan menyukaiku ya!”

“Eh?”

“Aku tahu kau sudah mulai menyukai-ku, benarkan?” Jiyeon menundukkan wajahnya. Ia yakin, wajahnya pasti sudah mengeluarkan semburat merah sekarang. “Ti.. tidak.” Elaknya gugup. JB tertawa dan mengacak rambut Jiyeon lembut.
“Jangan suka padaku. Kau kan sudah memiliki kekasih.”

“Hey, aku kan sudah bilang bahwa aku tidak suka padamu. Kau saja yang terlalu percaya diri.” Seru Jiyeon kesal.

“Jangan menekuk wajahmu seperti itu. Kau terlihat menyeramkan.”

“Hey! Kau sudah bosan hidup ya!” Teriak Jiyeon gusar. JB langsung mengambil langkah seribu saat melihat gadis cantik yang bersama-nya ini mengamuk.

———————————————————-

Mereka terduduk kelelahan di taman dekat Sungai Thames. Jiyeon menegadahkan kepalanya, menatap langit yang malam itu terlihat sangat indah. Seketika ia teringat akan kekasihnya, Kyuhyun. Apakah pria itu menghawatirkannya? Apakah pria itu mencarinya?

Gadis itu terlarut dalam pikirannya, hingga tak menyadari bahwa pria tampan yang ada disebelahnya menatapnya lama. “Apa?” Tanya Jiyeon ketika ia menyadari bahwa sedari tadi JB menatapnya. “Aku serius dengan perkataan-ku tadi. Jangan menyukaiku, mengerti?!”

“Kenapa?”

“Karena aku…”

“Jiyeon!”

Jiyeon membalikkan badannya saat ia mendengar seruan seseorang yang sangat dirindukannya. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Kyuhyun. Jiyeon tersenyum senang saat melihat Kyuhyun yang berjalan kearahnya dari kejauhan.

“It’s time for say goodbye…” lirih seseorang disebelahnya, JB. “Maksudmu?” Tanya Jiyeon tak mengerti. JB tersenyum dan mengusap rambut Jiyeon dengan lembut. “Pacarmu sudah datang untuk menjemputmu. Sudah saatnya kau pergi dan melanjutkan kehidupan normalmu kembali.” Ujar pria itu. “Lalu bagaimana denganmu?” Jiyeon menatap JB lirih.
JB tersenyum kecil. “Aku akan terus berada disini. Karena ini adalah tempatku.”

“Tapi…”

“Pergilah…”

“Jiyeon, ayo kita pergi!” ajak Kyuhyun yang sudah berada di sebelah Jiyeon. Jiyeon menatap Kyuhyun sebentar, tapi ketika ia membalikkan tubuhnya untuk menatap JB, pria itu sudah menghilang! Ia sudah pergi!

“JB?”

“JB, kau dimana?!” Jiyeon menyerukan nama itu berulang-ulang, berharap bahwa pria itu akan segera muncul kembali dihadapannya. Tapi nihil! Pria itu menghilang bak ditelan bumi.

“JB…” Lirih Jiyeon. Tanpa terasa gadis itu sudah meneteskan air matanya. Entahlah, ia merasa kehilangan yang teramat besar. Ia sendiri pun merasa heran mengapa ia bisa merasa seperti itu. terlebih ia dan JB baru saja bertemu.

‘Aku harap kita bertemu lagi…’

*****

(Jiyeon’s POV)

Jiyeon…

Jiyeon…

Aku membuka mataku perlahan. Silau. Yeah, itu yang kurasakan disaat pertama aku membuka mata ini. Rasanya sudah sangat lama saat terakhir kali aku merasakan sinar matahari.

“Jiyeon!”

Aku menolehkan kepalaku saat mendengar suara itu. Suara dari pria yang kurindukan, Kyuhyun. Ia segera merengkuhku ke dalam pelukannya. “Aku senang kau kembali.” Bisiknya lirih. Aku hanya tersenyum seraya membalas pelukannya. Seketika aku tersentak. JB… nama itu terasa familiar bagiku. Tapi, aku tak bisa mengingat dengan jelas siapa pria itu.

“JB… dimana dia?” Tanyaku pada Kyuhyun. “JB?” Ia mengerutkan dahinya. “Siapa dia?” tanyanya lagi, membuatku terdiam. Sekarang yang ada dibenakku hanya satu. Apakah JB itu nyata, atau hanya imajinasiku semata?

Tapi, pria itu…

Dia terlalu nyata untuk hanya sekedar tokoh fiksi. Tapi… Ya Tuhan! Kenapa aku jadi bingung begini?!

“Aku akan segera memanggilkan dokter.” Ujar Kyuhyun oppa seraya mengecup keningku singkat, sebelum ia keluar untuk memanggil dokter.

——————————————————–

Sekarang aku ingat. Semua kejadian yang kualami bersama JB adalah kejadian yang terjadi di alam bawah sadarku. Yeah, aku koma selama hampir seminggu akibat kecelakaan lalu lintas yang kualami. Saat itu aku ingin pergi menonton konser bersama Kyuhyun oppa. Keunde, aku memutuskan untuk berangkat sendiri dengan menggunakan taksi. Naasnya, saat dalam perjalanan kesana taksi yang kunaiki mengalami kecelakaan sehingga membuatku koma.

Jadi intinya, semua situasi aneh dan semua kejadian yang kualami bersama JB, itu semua terjadi dalam dunia bawah sadarku. Hal tersebut memang sering terjadi pada orang yang mengalami koma. Tapi walaupun begitu, aku cukup senang karena aku sempat bertemu dan mengenal pria misterius itu. Pria keren dan misterius yang bernama JB.

“Hey, sedang apa kau  disini? Angin malam tak baik untuk kesehatanmu.” Ujar Kyuhyun oppa. Ia memelukku dari belakang dengan erat, seakan tak ingin kehilanganku lagi. “Kau tahu, aku hampir gila saat melihatmu koma. Aku benar-benar takut kehilanganmu.” Ujarnya lirih. Ia meletakkan dagunya pada pundakku dan mengeratkan pelukannya.

“Aku takkan meninggalkanmu. I promise.”

“Ok then, I keep your promise.”

Aku tersenyum mendengar penuturannya. Aku mengusap lengan Kyuhyun oppa pelan. Tiba-tiba Kyuhyun oppa membalikkan tubuhku, hingga kami berada dalam posisi saling berhadapan. Ia menatapku intens, nyaris membuatku lupa bagaimana caranya bernapas. Perlahan tapi pasti ia mendekatkan wajahnya ke arahku. Reflek aku langsung memejamkan mataku. Jantungku sudah berdetak tak karuan, nyaris meledak mungkin.

Hangat…

Itu yang kurasakan saat wajahnya sudah semakin dekat dengan wajahku. Sedikit lagi….

“Hey, bisa kalian hentikan lovey dovey kalian? Kami sudah kelaparan menunggu kalian.” Ujar Shindong oppa.

Ah, benar-benar mengganggu saja oppa-ku yang gendut ini!

“Sudah-sudah, adegan romantisnya nanti saja dilanjutkan. Sekarang isi perut dulu.” Timpal Jinki oppa dengan wajah sok polosnya.

Sungguh! Rasanya ingin kulempar saja mereka dari balkon lantai 2 ini! Benar-benar mengganggu!

Kyuhyun yang sudah kepalang malu pun, langsung beranjak masuk. Akupun melemparkan death glare terbaikku kepada 2 anak manusia yang tak tahu malu ini. Mereka hanya cengengesan menatapku, dan dengan sigap langsung berlari masuk.

“HEY OPPADEUL PENGGANGGU! KEMARI KALIAN!”

-The End-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

13 tanggapan untuk “In My Dream (Oneshot)

  1. Ach da ff kyuyeon yg bru…sukaaaa,,
    kok g blang”sich!!! ;>
    d tnggu lg y ff kyuyeon yg lain_ny lbih so sweet tentu_ny…heuheu

      1. Ya da papa…hehehe
        eonN tnggu lg pokokny ff kyuyeon yg lain_ny…heuheu
        sama sequel choi jiyeon’s story nya ya… ;> faigthing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s