Diposkan pada Chapters, KyuYeon (Kyuhyun Jiyeon)

When Bad Boys Meet Good Girl (Part 11)

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title     : When Bad Boys Meet Good Girl
Type    : Chaptered
Genre  : Romance, Friendship, Life, Drama

Cast :
– Park Jiyeon
– Yong Junhyung
– Cho Kyuhyun
– Jang Hyunseung
– Jeon Boram
– Lee Kikwang
– Yang Yoseob
– Son Dongwoon
– Yoon Doojoon

______________________________________________

(Jiyeon’s POV)

_IN THE CLASS_

Eomma ottohke?!!! Apa yang harus kulakukan sekarang?? Haruskah aku menerimanya?! Keunde, bagaimana dengan Kyuhyun oppa? Aku sangat mencintainya. Ia adalah namjachingu-ku, takkan mungkin aku tega menghianatinya.

Tapi…

Aish jinjja!!!

BRUK!

Aku menolehkan kepalaku kesamping dan mendapati Boram sudah duduk dikursinya. Seperti biasa, aku tersenyum padanya dan menyapanya riang. Tetapi aku sangat terkejut ketika melihat matanya yang merah dan sembab. Kelihatannya ia menangis semalaman hingga mengakibatkan keadaannya menjadi seperti sekarang.

“Boram-ah, gwenchana?” Tanyaku khawatir seraya menyentuh bahunya pelan.

“Ne.”

“Keunde, kau tidak terlihat baik-baik saja sekarang. Kau terlihat seperti habis menangis semalaman. Apa kau benar baik-baik saja?”

“Sudah kubilang bahwa aku baik-baik saja, kan?!” Jawabnya ketus dan kemudian ia beranjak pergi ke luar kelas. Aku terdiam melihat tingkahnya yang begitu dingin tadi.

Ada apa dengan Boram? Kelihatannya ia marah padaku. Tapi karena apa?! Apa tanpa sadar aku telah melakukan kesalahan?

Aish jeongmal! Semua ini membuatku pusing saja. Pertama Junhyung dan sekarang Boram…

(Jiyeon’s POV End)

*****

_AT SCHOOL’s GARDEN_

Boram duduk termenung dibangku taman sekolah. Gadis mungil itu merasa bersalah karena telah berlaku ketus dan dingin pada Jiyeon, sahabat baiknya sendiri. Dia sadar bahwa tak seharusnya ia bersikap demikian pada Jiyeon, terlebih semua ini bukanlah kesalahan Jiyeon. Bukan kesalahan Jiyeon jika Junhyung menyukai Jiyeon dan bukan dirinya.

‘Mianhe Jiyeon-ah… Mianhe atas sikap dinginku tadi. Kau pasti sakit hati padaku. Aku tidak bermaksud demikian. Aku hanya… cemburu. Ne… aku cemburu melihatmu dan Junhyung. Aku iri karena Junhyung menyukaimu dan bukan aku.’ Batin Boram. Ia menundukkan kepalanya dan menatap rumput-rumput yang ada di bawah kakinya dengan nanar.

Boram benar-benar ingin melupakan semuanya dan kembali bersikap biasa pada Jiyeon, tetapi hal tersebut sangat sulit untuk dilakukan. Terlebih, setiap kali ia melihat Jiyeon, ia akan merasa semakin sakit hati dan juga iri.

*****

Kyuhyun merebahkan tubuhnya diatas sofa dengan paha Jiyeon sebagai alas kepalanya. Jiyeon yang sedang menonton TV pun mengalihkan pandangannya pada namja tampan yang sedang tidur dipangkuannya. Jiyeon agak merasa sedikit terkejut dengan tindakan tiba-tiba Kyuhyun, karena Kyuhyun tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kyuhyun bukanlah tipe namja yang suka bersikap manja pada yeojachingunya, ia adalah tipe namja yang dewasa.

Merasa sedang diperhatikan, Kyuhyun pun menolehkan kepalanya dan mendapati sang yeojachingu sedang menatapnya bingung.

“Waeyo?” tanya Kyuhyun dengan senyuman manis yang terpatri diwajahnya.

“Aniyo, hanya merasa sedikit aneh saja. Oppa bersikap aneh hari ini.”

“Apanya yang aneh?”

“Kau bersikap manja. Which is totally not you.” Jiyeon menatap wajah namjachingunya intens. Kyuhyun tersenyum.

“Jinjja?” Tanyanya, yang dibalas anggukan oleh Jiyeon.

“Apa salah jika aku bersikap seperti ini? Kau kan yeojachinguku. Lagipula ini adalah hal biasa yang dilakukan oleh sepasang kekasih.” Ucap Kyuhyun.

“Tidak salah kok oppa. Aku hanya sedikit bingung saja.”

Kyuhyun memutar arah tubuhnya hingga ia berhadapan dengan perut datar Jiyeon. Sepasang tangan hangatnya memeluk pinggang Jiyeon dan ia membenamkan wajahnya diperut Jiyeon. Jiyeon mengelus rambut coklat Kyuhyun perlahan dengan jari-jari lentiknya, membuat Kyuhyun merasa sangat nyaman dan tenang.

“Aku takut jika harus kehilanganmu, Yeonnie-ya…” Ujar Kyuhyun lirih.

Jiyeon membeku mendengar penuturan yang terlontar dari mulut namja yang sedang berbaring dipangkuannya ini.

“Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?”

“Molla… tapi firasatku mengatakan demikian. Rasanya seperti seseorang akan merebutmu dariku. Dan kau… akan meninggalkanku…” Ucap Kyuhyun lirih. “Dan aku tak mau itu terjadi!” tambah Kyuhyun seraya mengeratkan pelukannya pada pinggang Jiyeon

“Oppa…” Jiyeon menatap namjachingu-nya sendu. Ia mengingat tentang pengakuan cinta Junhyung padanya, dan hal tersebut sukses membuatnya semakin bingung.

*****

_AT THE SCHOOL_

“Jemi-ya!” Panggil seorang gadis yang bernama Yoon Ae pada temannya. Jemi yang merasa dipanggil pun membalikkan badannya dan tersenyum sambil membalas sapaan temannya itu. “Annyeong!”

“Annyeong!”

Mereka berjalan bersisian menuju kelas sambil bercakap-cakap.  Senyuman Jemi menghilang seketika saat matanya menangkap sosok seseorang yang saat ini paling tak ingin ditemuinya. Sosok itu adalah Hyunseung. Hyunseung berdiri tak jauh didepannya. Pria itu tidak sendirian, para member Beast yang lain juga ada disana bersamanya, kecuali Junhyung karena ia masih berada di Rumah Sakit.

Berbeda dengan Jemi, reaksi Yoon Ae justru sebaliknya. Senyumnya langsung terkembang saat ia melihat para member Beast yang ada dihadapannya. Yoon Ae melambaikan tangannya kearah member Beast, membuat Jemi panic setengah mati.

“Ya! Kenapa kau melambaikan tangan pada mereka? Apa kau kenal mereka?” Bisik Jemi.

Yoon Ae mengangguk singkat sambil menatap Jemi. “Ne, tentu saja aku mengenal mereka. Yoseob itu kan adalah sepupu ku dan…”

“Dan?” Tanya Jemi penasaran sambil menatap Yoon Ae.

“Dan Kikwang adalah namjachingu-ku.” Yoon Ae tersenyum manis. Sedangkan Jemi kaget bukan main. Yoon Ae tertawa geli melihat ekspresi kaget Jemi yang menurutnya cukup lucu.

“Memangnya kenapa sih? Kau tahu, reaksimu itu berlebihan sekali.” Ujar Yoon Ae masih sambil tertawa.

“Dia… dia… neo namjachingu?”

“Ne!” Jawab Yoon Ae mantap.

Tanpa pemberitahuan, Yoon Ae langsung menarik tangan Jemi menuju para member Beast. Jemi tentu saja panic bukan main atas tindakan tiba-tiba Yoon Ae. Ia mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Yoon Ae dilengannya.

“Chakkaman! Aku lupa mengembalikan buku catatan Bella. Aku harus mengembalikannya sekarang. Sampai jumpa di kelas!” Ujar Jemi dan kemudian gadis itu pergi dengan terburu-buru tanpa menunggu jawaban dari Yoon Ae. Yoon Ae hanya menatap punggung Jemi yang perlahan semakin menjauh dengan agak bingung. Tapi gadis itu tidak ambil pusing. Ia pun memutuskan untuk menghampiri Beast.

“Annyeong oppadeul!” Sapa Yoon Ae pada member Beast.

“Annyeong Yoon Ae-ya!”

Kikwang menarik tangan Yoon Ae, membuat jarak tubuh mereka menjadi lebih dekat. “Morning babe..” Sapa Kikwang dan tak lupa ia mengecup pipi sang yeojachingu. Wajah Yoon Ae bersemu merah efek dari kecupan tersebut. Gadis manis itu menundukkan kepalanya malu. Ia merasa malu pada Kikwang dan terlebih pada para member Beast yang juga berada disitu.

“Ya! Siapa yang mengizinkanmu untuk mencium yeodongsaeng-ku, hah?!” Yoseob menarik tangan Yoon Ae mendekat kearahnya.

“Cih! Kau hanya iri karena kau tidak memiliki yeojachingu.” Ujar Kikwang.

Member Beast yang lain tertawa melihat ekspresi Yoseob yang sedang kesal. Ia terlihat seperti anak kecil dengan bibirnya yang dikerucutkan.

“Kajja!” Ujar Doojoon pada teman-temannya.

Doojoon, Dongwoon, Kikwang, dan Yoseob berjalan didepan sambil berbincang-bincang, sedangkan Yoon Ae dan Hyunseung menyusul dibelakang.

“Yoon Ae…”

Yoon Ae menoleh menghadap Hyunseung. Hyunseung terlihat ragu-ragu ingin bertanya sesuatu. Tetapi akhirnya ia memutuskan untuk tetap bertanya.

“Apa gadis itu temanmu?” tanyanya.

“Gadis itu? Ehm… maksud oppa Jemi?”

“Ne.”

“Ne oppa, ia adalah teman sekelasku. Kenapa kau bertanya soalnya? Oppa mengenal Jemi?” Yoon Ae bertanya dengan nada penasaran.

“Ani… aku hanya bertemu dengannya beberapa kali.” Jawab Hyunseung.

Yoon Ae menganggukkan kepalanya ketika mendengar jawaban dari Hyunseung.

“Gadis seperti apa dia?” Tanya Hyunseung lagi.

“Dia gadis yang baik tentunya. Agak sedikit pemalu dan tertutup. Tapi saat kau sudah mengenalnya lebih jauh, kau akan tahu bahwa ia adalah gadis yang menyenangkan dan juga lucu.”

Akhirnya Yoon Ae menceritakan semua hal yang ia ketahui tentang Jemi pada Hyunseung. Namja itu mendengarkan dengan seksama seakan hal yang sedang dikatakan Yoon Ae adalah informasi yang sangat penting. Terkadang senyum simpul menghiasi wajah dingin Hyunseung saat Yoon Ae menceritakan hal lucu mengenai Jemi. Sejujurnya Yoon Ae merasa heran dengan Hyunseung yang tiba-tiba menjadi sangat tertarik pada Jemi.

‘Apa oppa menyukai Jemi?’ Tanya Yoon Ae pada dirinya sendiri sembari melihat namja yang sedang berjalan disampingnya.

*****

(Jiyeon’s POV)

“Jiyeon eonnie?”

“Ne?” Aku menatap gadis yang baru saja memanggilku dengan heran. Sepertinya aku tidak mengenalnya, keunde kenapa ia bisa tahu namaku? Hmm… tunggu dulu! Wajahnya terasa familiar bagiku. Sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Tapi aku tak ingat siapa dia dan kapan aku bertemu dengannya.

“Oh maaf. Biar kuperkenalkan diriku dulu.” Ucap gadis itu sambil tersenyum. Mungkin ia menyadari ekspresi bingungku.

“Annyeonghaseyo, namaku Yong Haneul. Aku adalah yeodongseong Yong Junhyung.”

‘Ahh pantas saja aku seperti pernah melihatnya. Ternyata ia adik Junhyung toh.’

“Oh ne, annyeong! Jiyeon imnida.” Aku juga turut memperkenalkan diriku meski gadis ini sudah mengenalku.

“Eonnie, sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih padamu karena kau telah menolongku. Aku benar-benar merasa sangat bersyukur atas pertolonganmu eonnie. Maaf baru sekarang bisa mengatakannya.”

“Gwenchana. Aku senang bisa membantumu. Lalu bagaimana kondisimu sekarang?” Tanyaku padanya sambil tersenyum ramah.

“Keadaanku sudah jauh lebih baik sekarang.” jawabnya sambil tersenyum manis.

_AT THE CAFÉ_

Aku sedang di café bersama Haneul. Ia bilang ingin mentraktirku sebagai balasan atas pertolonganku tempo dulu. Banyak sekali hal yang kami berdua perbincangkan. Haneul adalah lawan bicara yang baik dan juga menyenangkan. Tak jarang ia membuatku tertawa karena gurauannya. Jujur, aku jadi bertanya-tanya dalam hatiku. Apa benar Haneul itu adiknya Junhyung? Kenapa sifat mereka sangat berbeda jauh? Sang adik sangat baik dan ramah, sedangkan sang oppa sangat dingin dan ketus.

“Eonnie, apa kau tahu bahwa Junhyung oppa sering sekali membicarakanmu?”

“Mwo?”

“Ne, ia membicarakanmu nyaris setiap saat.” Ujar Haneul sambil tertawa. Dia menatapku sambil tersenyum penuh makna. “Kurasa ia sangat menyukaimu, eonnie…”

Tubuhku serasa membeku saat mendengar hal itu. Haneul kemudian melanjutkan perkataannya. “Junhyung oppa tidak pernah seperti ini sebelumnya. Seperti yang semua orang tahu, Oppa adalah tipe orang yang dinging, cuek, dan angkuh. Tetapi ketika ia membicarakanmu, aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Caranya membicarakanmu, ehmm… seperti kau adalah oranh yang istimewa baginya.”

Haneul terus berkata panjang lebar mengenai Junhyung, yang sama sekali sudah tak kudengar lagi. Aku terpaku pada perkataannya tadi, bahwa Junhyung sangat menyukai-ku. Sekarang aku jadi bingung pada diriku sendiri. Entah kenapa aku merasa senang mendengar bahwa Junhyung menyukaiku.

Ah, ini tidak benar! Aku tidak mungkin menyukai Junhyung. ANDWAE!!

(Jiyeon’s POV End)

*****

(Junhyung’s POV)

Ahh aku benar-benar bosan! Member Beast yang lain sedang ada urusan masing-masing, jadi mereka tidak bisa datang untuk mengunjungiku. Sebenarnya aku sudah merasa baikan sekarang. Aku ingin sekali keluar dari Rumah Sakit ini. Tapi masalahnya Haneul melarangku untuk pulang. Ia bersikeras menyuruhku untuk tetap tinggal dan istirahat disini selama beberapa hari kedepan. Yeodongsaengku itu terlalu berlebihan!

Aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman Rumah Sakit. Barangkali saja ada hal menarik yang akan kutemui.

_AT THE HOSPITAL’s GARDEN_

Jiyeon…

Nama itu terus terngiang dalam benakku. Aku tidak bisa membantah bahwa aku merindukan gadis itu. sejak dihari aku menyatakan cinta padanya, Jiyeon sudah tidak pernah datang mengunjungiku lagi. Jika biasanya ia akan menelepon atau setidaknya mengirim pesan jika ia tak bisa datang, maka kali ini berbeda. Sepertinya ia ingin menghindar dariku.

Aku tahu ini salahku. Salahku yang terlalu jujur padanya. Jika saja aku tahu bahwa semua akan jadi seperti ini, pasti aku takkan nekat menyatakan perasaanku padanya.

“Nan jeongmal baboya…” gumamku.

“Aniya, kau tidak babo kok!” Seru seseorang. Aku langsung menoleh kesamping dan mendapati Boram sedang duduk persis disebelahku. Gadis itu tersenyum padaku. Aku hanya menatapnya datar.

“Aku rasa kau tidak babo. Lagipula, lebih baik kau berkata jujur daripada kau hanya diam menyimpan semuanya dalam hati. Yah, setidaknya dia sudah tahu bagaimana perasaanmu padanya.” Boram berkata sambil tersenyum.

“Aku… aku…”

“Jangan menyangkal! Aku sudah tahu semuanya. Aku… aku ada disana… ketika kau menyatakan cinta pada Jiyeon.” Nada bicara Boram berubah menjadi lirih dan pandangan gadis itu berubah sendu. Ada apa dengan gadis ini?

“Neo…”

“Ah tapi kau jangan salah sangka! Aku tidak bermaksud menguping pembicaraanmu. Aku hanya tak sengaja mendengar.”

“Gwenchana.”

Lama kami terdiam, sebelum akhirnya aku kembali membuka suara.

“Boram-ssi..”

“Ne?”

Aku terdiam sejenak. “Apa menurutmu Jiyeon akan menyukaiku? Apa aku memiliki kesempatan? Dan bisakah kau membantuku untuk mendapatkan Jiyeon?” Tanyaku. Gadis disampingku ini menatapku diam. Aku bisa melihat ada rasa terkejut dalam dirinya. Aish babo sekali aku berkata demikian padanya! Ini benar-benar memalukan!

“Tentu saja!” tiba-tiba gadis itu berkata seraya menganggukkan kepalanya. Aku menatapnya yang dibalas dengan senyumannya. “Tentu aku akan membantumu!”

(Junhyung’s POV End)

*****

Junhyung tidak menyadari bahwa secara tidak langsung ia telah menyakiti gadis yang ada disebelahnya. Hati Boram sangat sakit. Benar-benar sakit! Mati-matian gadis itu menahan agar tangis-nya tidak meledak keluar. Dari awal Boram sadar bahwa ia memang tidak akan pernah bisa mendapatkan Junhyung. Hati Junhyung hanya untuk Jiyeon, dan akan selalu untuk gadis itu. Dan karena itu juga Boram akhirnya memutuskan untuk…

…menyerah…

‘Gwenchana Boram-ah… setidaknya kau bisa melihatnya tersenyum dan membuatnya bahagia. Semuanya akan baik-baik saja… Rasa sakit ini akan segera hilang…’ Batin Boram. Gadis itu memegang dadanya erat, berharap bahwa rasa sakit dan sesak yang menyelubungi dadanya akan segera lenyap.

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

2 tanggapan untuk “When Bad Boys Meet Good Girl (Part 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s