Diposkan pada Chapters, KyuLa Couple (Kyuhyun Haneul), The Sibuna Club

The Sibuna Club (Case 1)

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title       : The Sibuna Club
Type      : Series/chapter (Setiap chapter mempunyai cerita yang berbeda)
Genre    : Mystery, Action, Friendship, Life

Diadaptasi dari serial Detective Conan

Cast :
– Cho Haneul
– Cho Kyuhyun
– Ana Mulvoy Ten as Amber Weasley
– BurkelyDuffield as Eddie Watson
– Jade Ramsey
– Brad Kavanagh as Brian Lewis
– Eugene Simon as Jerry Adams
– Lee Donghae as Aiden Lee

___________________________________________

_KIRIN’s DORM_

BRAKK!

Suara bantingan pintu yang cukup kuat itu membuat Haneul terlonjak kaget. Ia menatap teman sekamarnya, Amber, dengan pandangan bingung. Amber menghempaskan tubuhnya diatas ranjang tidurnya yang bersebelahan dengan ranjang milik Haneul. Sang gadis berambut pirang itu menghembuskan napasnya kesal.

“Ada apa? Sepertinya kau sedang kesal.” Tanya Haneul seraya menatap intens teman sekamarnya itu. Amber menghembuskan napasnya kasar sebelum ia menjawab. “Aku kesal dengan Eddie. Dia selalu melarangku untuk dekat dengan Mick, sedangkan ia sendiri selalu saja dekat dengan Mara. Aku kesal!” Seru Amber.

“Lebih tepatnya cemburu.” Balas Haneul sambil tersenyum geli.

“Ahh, terkadang aku lebih senang punya pacar seperti Kyuhyun. Walaupun autis tapi setidaknya ia tidak cerewet, usil dan menyebalkan.”

“Hey! Enak saja kau mengatai pacarku autis. Ia tidak autis hanya saja…”

“Aneh!” potong Amber dan kemudian gadis itu terkekeh geli melihat reaksi sang sahabat.

“Amber!”

“Haha, ok ok! I’m sorry.” Ujar gadis pirang itu.

Tok Tok Tok!

“Masuk!”  Ujar Haneul.

“Hey Jade, ada apa?” Tanya Haneul ketika seorang gadis berambut merah gelap masuk ke dalam kamarnya dan Amber.

“Mr.Smith ingin bertemu dengan kita.”

“Ada kasus?” Tanya Amber. Gadis itu bangkit dari posisis berbaringnya dan kemudian duduk bersila diatas ranjangnya. Jade menganggukkan kepalanya. “Apa lagi alasannya ingin bertemu kita jika bukan karena kasus?”

Akhirnya, ketiga gadis itu pun beranjak pergi menuju ruangan Mr.Smith, kepala sekolah Kirin International High School dan sekaligus penanggung jawab kelas detektif. Dan benar saja, setibanya mereka di ruangan Mr.Smith, anggota Sibuna yang lain sudah berada disana.

Ruangan Mr.Smith yang luas dan didominasi oleh warna hitam dan putih itu pun dipenuhi oleh para anggota Sibuna club. Kedelapan remaja itu duduk dimeja panjang yang terletak ditengah-tengah ruangan. Meja itu memang selalu digunakan untuk pertemuan atau rapat penting. Seperti saat ini misalnya, semua member Sibuna duduk dimeja tersebut untuk membicarakan sebuah kasus.

“Jadi begini, aku mengumpulkan kalian disini demi menyelesaikan sebuah kasus. Kasus kali ini datang dari kota Egham. Telah terjadi 2 kasus pembunuhan dan 3 kasus percobaan pembunuhan dalam waktu seminggu ini. Dan yang menarik dari kasus ini adalah pembunuh hanya mengincar orang-orang tertentu. Pembunuh yang diduga laki-laki ini hanya mengincar wanita sebagai targetnya.”

Semua anggota Sibuna mendengarkan penjelasan dari Mr.Smith dengan seksama. Tak satupun hal yang mereka lewatkan. Mr.Smith kemudian membuka sebuah map coklat dan mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam map tersebut.

“Ini foto kelima korban tersebut. 2 meninggal dan 3 luka-luka.” Ujar Mr.Smith seraya menyodorkan lembaran foto-foto itu pada anak didiknya. Member Sibuna memperhatikan foto-foto tersebut dengan cermat. Meskipun terdapat 2 lembar foto mayat yang menjadi korban dari pembunuhan tersebut, tetapi para member Sibuna sama sekali tidak takut dan gentar. Mereka menanggapinya dengan santai, seakan kedua lembar foto tersebut merupakan foto yang normal.

“Mereka cantik-cantik.” Komentar Aiden, pria berdarah campuran Korea dan Amerika tersebut menatap satu persatu foto-foto yang ada dihadapannya.

“Kira-kira apa motif dari pembunuhan berantai ini? Tidak mungkin kan si pembunuh hanya asal memilih orang. Pasti ada alasannya.” Amber ikut membuka suara perihal kasus tersebut.

“Kelima gadis itu berambut pirang. Sepertinya bukan kebetulan.” Ucap Kyuhyun. “Ah iya, Kyuhyun benar. Sepertinya si pelaku hanya mengincar gadis-gadis yang berambut pirang.” Ujar Haneul.

“Iya, polisi juga menduga demikian. Kurasa kasus ini menarik dan sedikit lebih menantang dari kasus-kasus kalian sebelumnya. Maka dari itu aku sengaja mengambil kasus ini dan menyerahkannya pada kalian. Berhubung kasus ini terjadi di Egham, sudah pasti kalian harus pergi kesana guna untuk penyelidikan. Aku sudah menyiapkan surat izin kalian. Besok pagi jam 7 tepat kalian harus pergi ke kota Egham. Kalian mengerti?”

“Yes sir, we understand!” Jawab anggota Sibuna Club bersamaan.

*****

_AT EGHAM TOWN_

2 buah mobil berwarna hitam berhenti didepan sebuah kantor polisi. Kedelapan remaja yang menaiki mobil tersebut pun turun dari mobil dan masuk beriringan kedalam kantor tersebut. Mereka disambut dengan baik oleh petugas disana, sebab mereka adalah murid sekolah detektif pilihan. Meskipun masih ada beberapa orang yang meragukan kemampuan para remaja tersebut.
Seorang pria setengah baya memperkenalkan dirinya. “Perkenalkan, saya inspektur Clarke. Saya yang menangani kasus ini.” Pria tersebut menyodorkan tangannya pada member Sibuna. Setelah satu persatu member Sibuna memperkenalkan diri, inspektur Clarke memulai perbincangan mengenai kasus yang sedang marak terjadi ini.

“Seperti yang sudah kalian tahu, akhir-akhir ini sudah terjadi beberapa kasus penyerangan hingga mengakibatkan 2 orang meninggal dan 3 luka-luka. Kami telah meminta keterangan pada 3 orang korban yang selamat. Korban mengatakan bahwa pelaku penyerangan itu adalah seorang laki-laki. Laki-laki tersebut menggunakan topi rajut, jubah panjang, dan syal yang menutupi wajahnya, sehingga identitasnya tersamarkan. ” Jelas inspektur Clarke.

“Dimana saja lokasi terjadinya penyerangan-penyerang maupun pembunuhan tersebut? Apa itu semua terjadi di tempat yang sama atau berdekatan?” Tanya Jerry.

“Kasus-kasus itu terjadi di tempat yang berbeda. Korban pertama adalah Ana Muller. Dia diserang ketika mobilnya yang kebetulan sedang berhenti ditabrak dari belakang, kemudian saat ia keluar dari mobil ia dipukul dengan pentungan besi. Lalu ada Patricia Ramsey, ia dipukul dengan pentungan besi saat baru keluar dari toilet taman. Dan kemudian Joanna Rivers, ia pukul dengan pentungan besi saat baru keluar dari box telepon umum. Ketiga korban itu selamat, sedangkan 2 orang lagi, yaitu Darrell Evans dan Jody Picklet, keduanya ditemukan sudah tak bernyawa. Darrell ditemukan tewas di taman dekat rumahnya, sedangkan Jody ditemukan tewas didepan café miliknya.”

“Lalu apa rencana anda mengenai kasus ini?” Tanya Brian.

Inspektur Clarke menolehkan kepalanya menghadap Brian. “Kami sedang melakukan pengintaian dikelima TKP. Selain itu kami juga melakukan metode jebakan.”

“Metode jebakan?”

“Iya, kami mengambil tindakan tersebut karena pelaku hanya mengincar wanita berambut pirang dengan dandanan menyolok.”

Para anggota Sibuna terlihat sibuk berpikir. Mr Smith benar. Kasus ini memang lebih menantang dibanding dengan kasus-kasus mereka sebelumnya hingga membuat para anngota Sibuna menjadi tertantang untuk segera menyelesaikannya. Dengan semangat mereka berusaha mencari cara untuk membekuk si pelaku. Dan mereka mempunyai firasat bahwa semuanya masih akan terus berlanjut.

“Firasatku mengatakan bahwa akan ada korban selanjutnya.” Gumam Haneul. Kyuhyun menatap kekasihnya sekilas, sebab ia pun juga merasa demikian.

*****

“Kau marah?” Eddie bertanya seraya menatap Amber. Gadis itu hanya  mendengus kesal. “Menurutmu?” Tanyanya balik. Kemudian ia beranjak menyusul Jade dan Haneul yang sudah berjalan lebih dulu darinya, meninggalkan sang kekasih yang masih menunggu jawaban.

“Hey!” panggil Eddie yang sama sekali tak digubris oleh Amber.

“Biarkan saja, nanti juga baik sendiri.” Ujar Aiden sembari merangkul teman sekamarnya itu. Eddie hanya bisa menghela napas pasrah. “Salahmu yang terlalu possive padanya.” Ujar Aiden.

“Salahkan dia yang terlalu baik pada pria.” Balas Eddie tak mau kalah.

_______________________________________

Kyuhyun dan Brian mengamati lokasi kejadian dengan seksama. Sedikit pun mereka tidak menemukan keanehan di tempat-tempat tersebut, selain sebuah fakta bahwa lokasi – lokasi penyerangan dan juga pembunuhan itu saling berdekatan.

“Apa motifnya?” gumam Brian.

“Mungkin dendam.”

“Pada gadis pirang dan berdandan mencolok? Bukankah sedikit tidak masuk akal?” Brian menatap Kyuhyun, menunggu jawaban yang akan dilontarkan oleh temannya itu. Kyuhyun menggeleng. “Entahlah.” Jawabnya yang juga merasa bingung dengan kasus yang masih abstrak ini.

*****

_AT THE MALL_

Anggota Sibuna memutuskan untuk makan malam di Mall terbesar yang ada di kota Egham. Mereka duduk disalah satu meja yang ada di food court. Mereka masih membahas tentang kasus tersebut. Tak lama handphone milik Amber yang terletak di atas meja pun berbunyi, membuat gadis manis berambut pirang panjang itu menghentikan makannya.

“Halo?”

Eddie yang tanpa sengaja melihat aksesoris yang sedang dipakai oleh kekasihnya itu mendadak teringat akan sesuatu.

“Dimana kau membeli aksesoris yang sedang kau pakai itu?” Tanyanya sambil menatap Amber. Amber mengernyitkan dahi dan melihat aksesoris yang sedang dipakainya. “Ini?” Gadis itu menunjuk kalung berantai panjang dan gelang yang sedang dipakainya.
“Aku tidak membelinya. Ini hadiah saat aku membeli sesuatu di Mall ini.” Jawab Amber.

“Ada apa memangnya?” Tanya Haneul dan Jade bersamaan.

Eddie mengeluarkan foto-foto korban yang disimpannya. Sejurus kemudian, anggota Sibuna yang lain berseru kaget. “Aksesoris yang Amber miliki sama dengan yang dimiliki oleh para korban!”

“Ah, itu berarti para korban adalah pengunjung dari mall ini!” Seru Jade bersemangat karena mereka telah menemukan satu fakta lagi mengenai kasus ini.

“Tapi belum tentu kan, siapa tahu hanya kebetulan.”  Ucap Haneul yang masih belum yakin akan pendapat dari teman-temannya.

“Terlalu janggal jika disebut kebetulan. Lagipula jarak lokasi penyerangan dan pembunuhan itu tidak jauh dari Mall ini. Bisa saja jika gadis-gadis itu sebelumnya merupakan pengunjung dari Mall ini.” Jelas Eddie.

“Bagaimana Kyuhyun?” Tanya Eddie pada Kyuhyun. “Yah, aku juga berpikiran yang sama denganmu. Kurasa mereka memang mendapatkan aksesoris itu dari mall ini, dan dengan kata lain mereka adalah  pengunjung di Mall ini. Dan bisa pula sang pelaku sudah mengincar mereka disaat mereka masih berada disini.”

“Biar lebih jelas, bagaimana jika kita mengubungi inspektur Clarke?” Saran Jerry.

“Ah ide bagus! Siapa yang menyimpan nomornya? Ah, kalau tak salah kau kan Haneul?”

“Iya.”

Haneul meronggoh tasnya guna mencari handphone-nya. Lama ia meronggoh tapi ia tidak bisa menemukan handphone-nya. Belakangan ia baru sadar bahwa handphone-nya tertinggal di dalam mobil yang tadi ditumpanginya.

“Ah, handphone-ku tertinggal di mobil. Biar kuambil dulu.” Haneul beranjak dari kursinya. “Kau ingat kan dimana letak mobil diparkir?” Tanya Aiden sambil memberikan kunci mobil. Haneul mengangguk sebagai jawaban.

Baru gadis itu akan melangkah, tangannya sudah ditahan oleh Amber. “Biar aku temani.” Ucap gadis itu. “Tak usah, aku ingat kok dimana letak mobilnya. Kau habiskan saja makananmu.”

Selepas Haneul pergi, Amber mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun. Ia menatap pria itu dengan pandangan mengintimidasi. Kyuhyun yang merasa ditatap pun hanya bisa mengernyitkan dahi, tidak mengerti arti dari tatapan Amber.

“Kau ini bagaimana sih!” Gerutu Amber kesal.

“Apa maksudmu?” Tanya Kyuhyun datar dengan ekspresi dingin khasnya.

“Dia itu kan pacarmu, seharusnya kau berinisiatif untuk ikut menemaninya. Tapi kau malah diam. Huh, pacar macam apa kau?”

“Haneul bukan gadis manja yang harus ditemani kemana-mana.” Kyuhyun melanjutkan makannya tanpa peduli dengan Amber yang sudah gatal ingin memukul wajah dinginnya itu. Teman-teman mereka yang lain hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya. Amber yang cerewet dan Kyuhyun yang pendiam. Benar-benar tontonan yang menarik.

“Kau tak takut Amber?”

Amber menatap Jerry bingung. “Takut? Takut pada apa?”

“Pada si pembunuh. Kau tak sadar bahwa kau bisa saja menjadi target selanjutnya. Kau berambut pirang dan memakai aksesoris yang sama dengan para korban. Ada kemungkinan kau juga akan diincar.”

Wajah Amber berubah pucat pasi saat mendengar perkataan Jerry. Ia baru sadar bahwa dirinya saat ini bisa dikategorikan dalam posisi tidak aman. “Ak…Aku…”

“Tenang saja kau tak akan kenapa-kenapa.” Eddie menepuk pelan bahu Amber.

“Sudahlah Jerry, jangan berbicara yang tidak-tidak! Kau tidak lihat wajah Amber jadi pucat pasi gara-gara ucapanmu tadi.” Tegur Jade.

Brian melirik jam tangannya dan kemudian ia melayangkan pandangannya kearah pintu masuk restoran yang sedang mereka kunjungi. “Kenapa Haneul lama sekali?” tanyanya. Jade ikut melayangkan pandangannya kearah pintu masuk restoran. “Ah iya, kau benar!” Ujar gadis berambut merah itu. Sejurus kemudian ia mengeluarkan handphone hitamnya dari dalam saku. “Coba kutelepon dulu. Barangkali ia lupa jalan atau sedang ke toilet.” Ucap Jade sembari menyentuh layar touch screen ponselnya.

“Halo?”

“Apa kau sudah menemukan handphone-mu?” Tanya Jade.

“Sudah. Aku sempat kesulitan mencari letak mobil.” Jawab Haneul.

“Kau masih di basement parkiran mobil?”

“Yup! Ini sedang mencari pintu masuk mall.”

“Alright, faster ok!”

“Yup, I know.”

Baru saja Jade akan menutup teleponnya, tiba-tiba gadis itu mendengar teriakan yang cukup nyaring. Teriakan tersebut berasal dari sambungan telepon, yang berarti teriakan itu adalah teriakan Haneul. Sontak saja Jade langsung panic.

“Haneul?! Are you alright?! Hey, answer me!” Jade panic bukan main. Member Sibuna yang lain menatap Jade penuh tanda tanya.

“Ada apa?”

“Apa yang terjadi dengan Haneul?”

Pertanyaan-pertanyaan bernada khawatir terlontar dari bibir anggota Sibuna. Mereka merasa khawatir dengan keadaan Haneul. Tak terkecuali Kyuhyun. Pria itu juga khawatir dan panic bukan main dengan keadaan sang kekasih. Terbesit rasa menyesal karena ia tak menemani Haneul.

“Haneul, apa yang terjadi?!”

“A…ada… mayat…”

“APA?!”

*****

_AT THE MALL BASEMENT_

“Pembunuhan yang ketiga. Pelaku sepertinya orang yang sama.” Ujar Inspektur Clarke, setelah ia melakukan penyidikan.

“Ya, ciri-ciri korbannya sama. Lagipula, ini adalah basement mall yang sedang jadi permasalahan itu kan. Tidak salah lagi.”

“Apa mungkin ini adalah perbuatan orang yang punya dendam dengan mall ini? Yah, mungkin saja niatnya adalah untuk menurunkan pamor Mall ini.” Salah satu kaki tangan inspektur Clarke menyuarakan pendapatnya.

“Tidak, kurasa bukan itu tujuannya.” Bantah Kyuhyun.

“Laura!”

Seorang pria berteriak histeris dengan air mata yang sudah bercucuran. Pria itu berusaha melepaskan diri dari polisi yang sedang menahannya agar tidak mendekati TKP. Pria itu terus memberontak sambil berteriak-teriak histeris. “Biarkan aku mendekat! Ia adalah pacarku!” teriak pria itu. “Kenapa kalian diam saja?! Ayo tangkap pembunuh itu! Aaarrgh… kalian benar-benar tidak berguna!”

____________________________________

“Korban bernama Laura Evans, berumur 23 tahun. Menurut informasi dulu ia merupakan karyawati toko pakaian di Mall ini. Tapi karena suatu hal ia dipecat dan sekarang ia menganggur. Dan juga menurut informasi, seharusnya hari ini ia bertemu dengan kekasihnya untuk diperkenalkan pada ayahnya. Ayah pria itu adalah pemilik mall ini. Rencananya mereka akan makan siang di salah satu restoran yang ada di mall ini.” Jelas polisi yang bernama Jack.

“Berarti ia dipukul oleh si pelaku ketika baru turun dari mobil.”

“Iya, itu mungkin.”

“Haneul, apa kau melihat orang yang mencurigakan sebelum kau menemukan mayat?” Tanya inspektur Clarke pada Haneul.

“Tidak ada. Yang berpapasan denganku hanya satpam mall ini.”

“Satpam?”

“Ya, tepat di pintu mall yang menuju tempat parkir ini. Hmm… kira-kira umur satpam itu sekitar 40 tahunan.” Ujar Haneul sambil mengingat-ingat kembali rupa satpam yang berpapasan dengannya.

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

2 tanggapan untuk “The Sibuna Club (Case 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s