Diposkan pada Chapters, KyuLa Couple (Kyuhyun Haneul), The Sibuna Club

The Sibuna Club (Case 1 – End)

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title       : The Sibuna Club
Type      : Series/chapter (Setiap chapter mempunyai cerita yang berbeda)
Genre    : Mystery, Action, Friendship, Life

Diadaptasi dari serial Detective Conan

Cast :
– Cho Haneul
– Cho Kyuhyun
– Ana Mulvoy Ten as Amber Weasley
– BurkelyDuffield as Eddie Watson
– Jade Ramsey
– Brad Kavanagh as Brian Lewis
– Eugene Simon as Jerry Adams
– Lee Donghae as Aiden Lee

__________________________________________________

“Ah, itu satpamnya!” Ujar Haneul saat tanpa sengaja matanya menangkap siluet satpam yang tadi ditemuinya. Inspektur Clarke menyuruh anak buahnya untuk membawa si satpam tersebut kehadapannya, guna untuk meminta keterangan mengenai kasus ini.

Satpam yang ternyata bernama Jasper Holmes, berumur 42 tahun itu pun memberikan keterangannya.

“Saya tidak melihat satu pun orang yang mencurigakan saat terjadinya kasus. Dan yah, saya tadi sempat bertemu dengan nona muda ini.” Ujar sang satpam sembari melayangkan tatapannya ke Haneul. Kemudian satpam tersebut melanjutkan perkataannya. “Tapi setelah itu saya pergi ke toilet. Pelaku pasti melakukannya pada saat saya meninggalkan pos.”

“Ayah! Laura baru saja meninggal. Kenapa kau tega sekali berkata demikian?!”

Semua orang melayangkan pandangan kearah ribut-ribut yang terjadi di TKP. Kekasih Laura, yang diketahui bernama John, tengah bersitegang dengan seorang pria paruh baya yang ternyata adalah ayahnya.

Melihat perseteruan mereka, dapat diambil kesimpulan bahwa ayah John tidak menyukai Laura. Itu semua terlihat jelas dari caranya berbicara mengenai Laura.

“Sepertinya ayah John tidak suka dengan Laura.” Ujar Eddie sembari memperhatikan kedua orang yang sedang berseteru itu.”

“Don’t make it like a big deal! There are a lot of beautiful girls out there. You can get one as soon as possible. Just forget about the stupid girl!” Ujar Ayah John dengan nada kasar. Pria paruh baya itu menatap tajam putra-nya yang masih meratapi kematian sang kekasih. Pria itu membalikkan badannya sebelum beranjak pergi. “And next time, try to date a clean girl!”

“Huh, clean girl? What did he mean?” Tanya Haneul bingung.

“Kurasa itu mengenai kecelakaan yang terjadi disini setahun yang lalu. Laura memiliki catatan kriminal karena ia pernah menabrak seorang anak kecil hingga tewas ditempat. Kejadian itu terjadi di basement ini. Saat itu, korban yang bernama David sedang bermain bola sambil menunggu ibunya yang berbelanja. Tetapi, tiba-tiba saja mobil yang dikendarai Laura kehilangan kendali dan menabrak anak kecil itu hingga tewas.”

Jade berbisik pelan. “Ah, kalau begitu bukankah ayah John patut untuk dicurigai? Bukankah dia tidak suka dengan Laura? Jadi bisa saja jika ia membunuh gadis itu.”

Haneul menghela napas. “Entahlah, kasus ini masih sangat kabur.”

“Mereka semua mengendarai mobil…” Kyuhyun bergumam pelan. Tapi cukup keras untuk dapat didengar Haneul yang berdiri tepat disebelah pria tampan itu. Haneul mengerutkan keningnya. Ia merasa bingung dengan ucapan yang dilontarkan kekasihnya. “Maksudmu?”

Kyuhyun mengeluarkan foto-foto para korban yang ada disaku bajunya. “Lihat! Korban pertama dipukul ketika ia baru keluar dari mobil. Dan sekarang Laura, ia juga diserang ketika baru keluar dari mobil.”

Aiden yang ikut mendengarkan penjelasan Kyuhyun pun menyuarakan pendapatnya. “Ok, mungkin kau benar soal korban pertama dan keenam ini. Tapi bagaimana kau bisa mengetahui tentang korban yang lainnya? Menurut keterangan, mereka ada yang diserang saat berada di toilet umum, di depan kafe dan…”

“Mr.Sam.” Panggil Kyuhyun pada kaki tangan Inspektur Clarke. Pria itu menghampiri Kyuhyun. “Ada apa?” Tanyanya.

“Aku ingin tahu apakah korban-korban ini mengendarai mobil?”

Mr.Sam tampak berpikir sejenak. Pria itu mengelus dagunya dengan jempolnya, tanda bahwa ia sedang berusaha mengingat. “Aku rasa para wanita itu mengendarai mobil. Sebab korban yang diserang di toilet umum dan di box telepon umum itu membawa mobil saat datang ke kantor kami. Dan korban pertama, jelas sekali ia mengendarai mobil sebab ia diserang saat baru keluar dari mobil. Tapi untuk 2 orang korban yang meninggal aku tidak yakin.”

“Tapi setidaknya mereka pasti memiliki mobil, kan?”

“Ah, apa kau berpikir bahwa pelaku menyerang mereka lantaran mereka mengendarai mobil?” Tanya Mr.Sam, yang dibalas anggukan oleh Kyuhyun. “Yah, aku berpikir demikian.” Jawab Kyuhyun dengan gaya khasnya yang dingin.

*****

“Aiden…” Bisik Amber. Aiden menoleh menatap gadis blonde yang ada dihadapannya. “Aku pinjam kunci mobilnya. Sepertinya kita akan lama disini, jadi aku ingin meletakkan barang belanjaanku dulu dan setelah itu ke toilet.”

“Ini!” Aiden menyerahkan kunci tersebut yang langsung disambut oleh Amber. “Jangan lama-lama ya! Dan lebih baik kau mengajak Haneul atau Jade. Atau kau mau aku temani?” Tawar Aiden. Amber tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. “Terima kasih, tapi tidak usah. Aku akan minta ditemani Jade saja.”

——————————————–

Amber berjalan menuju mobil yang terparkir dengan kedua tangan yang penuh dengan barang belanjaan. Gadis itu memang maniak shopping. Tidak peduli tempat dan situasi, asal melihat barang yang lucu dan bagus pasti akan langsung dibelinya.

“Ah akhirnya!” Ujar gadis blonde itu lega saat menemukan mobil mereka yang terparkir. Tangannya sudah terasa ingin putus akibat terlalu lama memegang barang-barang tersebut.

Tanpa Amber sadari, ada sepasang mata yang menatapnya geram. Sepasang mata itu seakan ingin menerkamnya dan menghabisinya saat itu juga.

“Jade, ayo temani aku ke toilet!” Pinta Amber.

“Iya sebentar lagi…” Jawab Jade. Gadis itu sedang sibuk bertukar pikiran dengan Jerry dan Brian mengenai kasus  ini. Amber yang sudah tidak tahan kembali memanggil Jade. “Ayolah, aku sudah tidak tahan ingin buang air kecil.”

“Tunggu sebentar… ah, atau kau pergi saja dengan Haneul. Dia ada disana.” Tunjuk Jade asal dan kemudian ia kembali berkutat dengan Jerry dan Brian.

Dengan perasaan dongkol, akhirnya Amber memutuskan untuk pergi sendiri. Tidak lucu jika ia mengompol hanya karena tidak ada yang mau menemaninya ke toilet.

—————————————————

MAAF TOILET SEDANG DIBERSIHKAN

Amber bergumam kesal ketika membaca papan tersebut. “Oh god! Are you kidding me?!”

Dengan sangat terpaksa ia harus mencari toilet yang lain. Sedangkan toilet yang lain berada satu lantai dari tempatnya berada sekarang, yaitu  di lantai 4. Dengan terburu-buru, Amber melangkahkan kakinya menuju toilet yang berada di lantai 4.

‘Mudah-mudahan toilet yang di lantai 4 sedang tidak dibersihkan.’

*****

_AT THE BASEMENT_

“Kami akan mengangkat mayatnya.” Ucap salah seorang polisi yang sudah siap dengan tandu ditangannya.

“Ya silahkan.”

Saat membawa mayat Laura tersebut, tanpa sengaja kaki mayat keluar dari tandu hingga menyebabkan flat shoes yang dipakai oleh Laura terjatuh. Kyuhyun yang melihat kejadian itu pun tersentak kaget. Pria tampan itu seperti mengingat sesuatu. Terlebih ketika salah seorang polisi yang mengangkat mayat Laura mengatakan bahwa sepatu yang dikenakan gadis itu longgar. Hal yang cukup aneh.

“Jade, tadi kau sempat berkata padaku bahwa ada hal yang janggal dari mayat tersebut, bukan?”

“Yeah, why?” Jade memandang Kyuhyun, merasa penasaran.

“Apa yang terlihat janggal itu adalah sepatu yang dipakai oleh Laura?”

“Ah ya! Tepat sekali! Setahuku dandanan gotchic tidak memakai flatshoes, tetapi mereka biasa memakai sepatu boot bersol tebal.”

Kyuhyun tersenyum kecil ketika mendengar penjelasan dari Jade. Sedangkan Jade hanya memandangnya bingung.

“Kenapa? Apa kau tahu sesuatu?” Tanya gadis berambut merah gelap itu penasaran. Ia menatap Kyuhyun intens.

“Ya, sepertinya aku tahu apa motif si pelaku menyerang korban dan juga siapa pelaku tersebut…”

Aiden yang baru datang terlihat kaget melihat Jade bersama dengan Kyuhyun. “Loh, kau disini Jade? Aku pikir kau menemani Amber ke toilet.” Ujar Aiden yang kaget melihat Jade berada disana dan bukannya menemani Amber.

“Aku pikir ia pergi dengan Haneul.” Jawab Jade.

Kyuhyun memandang sekeliling basement. Dan ia menyadari sesuatu…

‘Orang itu… tidak ada?!’

*****

Amber baru saja keluar dari toilet, ketika secara tiba-tiba lampu mall padam, menandakan bahwa mall tersebut telah ditutup. Amber jelas panic dengan keadaan tersebut.

“Ya tuhan, kenapa harus padam sekarang sih?!” Gadis itu bergumam sembari berjalan cepat, atau lebih tepatnya berlari-lari kecil menuju pintu keluar. Ia terpaksa harus menggunakan tangga darurat, karena sudah dapat dipastikan bahwa lift dan escalator tidak bisa dipergunakan.

Tanpa Amber sadari, mata tajam yang penuh dendam itu terus mengikutinya secara perlahan.

*****

“Apa?! Pelaku mengincar wanita yang memakai sepati boot bersol tebal serta mengendarai mobil?!” Seru Inspektur Clarke setelah mendengar penuturan dari Kyuhyun.

“Ya. Dan pelaku tersebut sengaja menukar sepatu yang dikenakan Laura agar tidak ketahuan.” Timpal Brian.

“Oh ya, Boot sol tebal itu adalah salah satu penyebab dari kecelakaan yang terjadi setahun yang lalu itu.” Ujar Mr.Sam.

“Salah seorang temanku bilang bahwa Laura terlambat mengerem karena ia memakai sepatu boot bersol tebal pada saat mengemudi.” Tambah Mr.Sam.

“Jelas sekali bahwa ini ada sangkut pautnya dengan kecelakaan setahun yang lalu.” Ujar Aiden seraya tersenyum tipis, karena ia pun juga sudah tahu siapa pelaku tersebut. “David Holmes. Itu adalah nama korban kecelakaan itu kan?” Aiden menatap Mr.Sam.

“Iya… tunggu dulu! Bukankah satpam tadi juga bernama Holmes? Jasper Holmes. Itu berarti dia…”

“Ya, dialah pelaku dari pembunuhan berantai ini.” Kyuhyun berkata dengan suara tegasnya.

“Si pelaku mengincar gadis yang memakai boot bersol tebal dan mengendarai mobil, bukan? Semua itu tentu akan sulit karena ia tidak bisa melihat sepatu yang dipakai gadis-gadis itu karena mereka didalam mobil. Lain halnya jika ia bisa dengan leluasa melihat mereka turun dari mobil. Atau dengan kata lain, satpam itu sudah mengincar mereka yang saat itu berkunjung ke department store ini. Ia pasti melihat sepatu yang mereka pakai saat mereka turun dari mobil.” Jelas Jerry panjang lebar.

Inspektur Clarke segera menyuruh anak buah-nya untuk mencari informasi mengenai orang tua korban kecelakaan setahun yang lalu itu. Ia juga menyuruh beberapa anak buahnya untuk mencari si satpam yang telah menghilang tersebut.

“Inspektur, saya sudah mendapatkan informasi. Dan ternyata satpam itu memang ayah kandung dari David Holmes.” Ujar seorang polisi pada Inspektur Clarke. Dan tak lama berselang, seorang polisi muda datang dengan terburu-buru.

“Inspektur, kami tidak bisa menemukan satpam tersebut. Mobilnya masih ada dan tidak seorang pun melihatnya keluar dari area department store ini.”

Tiba-tiba Haneul tersentak. “Amber!” Ujarnya panic. “Ia masih berada didalam dan ia menggunakan sepatu bersol tebal!” Lanjutnya. Jantungnya berdegub dengan kencang. Ia tak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu yang buruk pada sahabat sekaligus teman sekamarnya itu.

Eddie yang menyadari bahwa sang kekasih berada dalam bahaya segera berlari memasuki department store.

“Eddie!” Teriak Aiden. Tapi Eddie seakan tuli. Pria berambut pirang itu terus berlari kencang. Yang ada dipikirannya hanya satu. Amber…

*****

“Amber, where are you now? Are you fine?” Tanya Haneul bertubi-tubi. Amber agak sedikit menjauhkan handphone-nya dari telinganya, merasa agak sedikit kaget dengan suara Haneul.

“Hey, calm down! I’m fine, ok. Kenapa nada suaramu panic begitu sih?” Tanya Amber penasaran.

“Nanti saja aku ceritakan. Yang jelas sekarang juga kau harus keluar dari dalam mall. Segeralah kembali kesini! Dan kau masih belum menjawab pertanyaanku. Kau ada dimana sekarang?”

“Aku ada ditangga darurat, lantai 4. Lampunya padam dan otomatis lift dan eskalator tidak berfungsi. Tapi jangan khawatir, aku akan keluar melalui restaurant yang ada di mall ini. Restaurant di mall ini terletak di lantai 2 dan ia buka 24 jam, jadi aku aman.”

“Ok, be careful Amber.”

“Eh?” Amber membalikkan badannya. Ia menatap kearah tangga yang gelap sambil menyorotkan jam tangannya yang memiliki lampu kearah tangga tersebut. Gadis itu bergidik. Ia dapat merasakan bahwa ada yang sedang mengikutinya. Tapi dengan segera ia buang jauh-jauh pikiran tersebut.

“Amber? Kau baik-baik saja?” Tanya Haneul cemas.

Amber melanjutkan langkahnya. “Ya, aku baik-baik saja. Hanya merasa ada yang aneh, seperti…”

Amber membalikkan badannya dan seketika jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Ia melihat seorang pria tinggi besar yang memakai setelan mantel hitam, topi rajut, serta syal yang menutupi hampir seluruh wajahnya, kecuali mata. Yang membuat ia terkesiap adalah benda yang sedang dipegang oleh pria tersebut. Sebuah tongkat baseball. Tidak salah lagi, pria ini adalah si PEMBUNUH BERANTAI!

Pria itu mengancungkan tongkatnya, hendak memukul Amber. Napas gadis itu tercekat. Mati-matian ia berusaha menghirup oksigen.

“Amber?! Amber?!” Teriak Haneul panik karena tidak mendapat respon dari Amber.

Tongkat itu pun dilayangkan dan…. BRAKK!

“KYAAAAAA!!!!”

Tongkat itu sukses menghantam pegangan tangga yang terbuat dari besi, hingga menimbulkan suara yang nyaring. Beruntung Amber dapat mengelak dari pukulan tersebut. Tanpa pikir panjang, gadis blonde itu melempar handphone-nya ke wajah si pelaku dan ia langsung berlari kencang menuju lantai 2.

*****

Haneul pucat pasi. Tangannya gemetar hingga handphone-nya terjatuh begitu saja dari tangannya. “Sepertinya pembunuh itu sudah menemukan Amber…” Ujarnya lirih disertai dengan air mata yang mengalir di pipinya. Para anggota Sibuna yang lainnya tersentak kaget dan kecemasan pun meliputi mereka.

“Kita tidak bisa diam disini. Kita harus menyusul Eddie untuk menyelamatkan Amber!” Ujar Aiden.

“Tapi kita tidak tahu dimana keberadaan Amber. Bagaimana kita bisa menyelamatkannya?!” Jade meremas rambutnya frustasi. Gadis itu benar-benar panic sekarang.

Kyuhyun mengambil handphone Haneul yang terletak di lantai basement. Telepon tersebut masih tersambung dan pria itu dapat mendengar dengan jelas suara mesin mainan. “Ayo, aku tahu dimana Amber sekarang!” Ujar Kyuhyun sambil menatap teman-temannya.

“Lebih baik kalian berdua disini saja.” Brian berkata sembari menatap Jade. Jade mengangguk mengerti. “Hati-hati.” Ujar gadis itu, yang dibalas anggukan oleh Brian.

“Aku titip Haneul.” Ujar Kyuhyun pada Jade, sebelum pria itu berlari masuk ke dalam mall bersama ketiga teman lelakinya yang lain, Jerry, Brian dan Aiden. Jade menatap dengan cemas kearah teman-temannya. Ia sangat berharap mereka dapat menyelamatkan Amber.

Beberapa orang polisi juga ikut membantu mencari Amber sekaligus untuk membekuk si pelaku. Mereka menyebar, guna untuk mempermudah pencarian.

*****

Amber berlari tak tentu arah. Yang diinginkannya hanya satu. Terbebas dari si pembunuh itu. Tapi naas bagi Amber, sepatunya yang bersol tebal itu menyulitkannya untuk berlari, sampai akhirnya gadis itu jatuh terduduk. Peluh sudah membasahi wajah imut Amber. Rambut blonde-nya yang selalu ia banggakan sudah berantakan tak terurus. Tak ada waktu untuk memperbaiki tatanan rambut.

Amber pasrah saat pria itu mendekatinya secara perlahan seraya menyeret tongkat baseball yang sedari tadi dibawanya. Gadis itu sudah tak memiliki tenaga, bahkan untuk menghapus air matanya sendiri.

“Tadinya aku hanya ingin menghukummu, tapi karena kau sudah melihat wajahku. Terpaksa… aku harus menghabisimu.” Ujar pria itu dengan suara beratnya yang sukses membuat Amber bergidik ngeri.

“A…apa sa…lahku?” Tanya Amber dengan suara yang bergetar.

“Gadis sepertimu tidak pantas hidup! Kalian gadis-gadis bejat yang telah melenyapkan nyawa anakku!”

“A…Aku…”

“Dan sekarang kau harus merasakan seperti apa rasanya kematian!” Pria itu mengancungkan tongkatnya tinggi, bersiap untuk memukul Amber.

Tapi tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menarik tangan pria tersebut, hingga membuat pria tersebut menolehkan kepalanya. Dan…

BUGH!

Pria itu tersungkur jatuh setelah mendapatkan pukulan telak diwajahnya.

“Eddie!” Teriak Amber parau.

Pembunuh itu masih tak ingin menyerah, dengan segera ia bangkit kembali dan berniat memukul Eddie dengan tongkat baseball-nya. Beruntung Eddie cepat tanggap. Ia segera mengelak dan kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi pada pria yang telah berniat untuk melukai kekasihnya. Sumpah, demi apapun ia takkan membiarkan pria ini lolos!

Pukulan demi pukulan Eddie layangkan pada pria tersebut. Tak banyak perlawanan yang bisa diberikan oleh pria itu, terlebih mengingat Eddie adalah pemegang sabuk hitam Taekwondo. Jadi sudah pasti ia lebih tangguh dari pembunuh yang hanya mengandalkan tongkat baseball-nya itu.

“Eddie, Amber!” Seru Aiden seraya berlari menghampiri kedua orang sahabatnya. Beberapa orang polisi juga ikut bersama mereka. Polisi-polisi itu segera menyergap si pembunuh yang sudah terkapar tak berdaya.

“Kau yang menghajarnya?” Tanya Aiden dengan decak kagum.

“Yah, tentu saja.”

“Hebat!” Puji Jerry dan Aiden bersamaan. Eddie hanya tertawa kecil melihat reaksi kedua temannya. Pria tampan berambut blonde itu menghampiri kekasihnya, Amber. Gadis itu masih terduduk lemas di lantai. Terlihat sekali bahwa ia masih shock dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Eddie memeluk Amber erat. “Aku senang kau baik-baik saja.” Bisiknya tepat ditelinga sang kekasih.

“Terima kasih…” Ujar Amber pelan.

Kasus pembunuhan berantai ini terselesaikan dengan amat baik oleh para anggota Sibuna. Pelaku pembunuhan tersebut adalah satpam department store yang bernama Jasper Holmes. Motifnya adalah dendam akibat kematian putra semata wayangnya yang dikarenakan oleh kecelakaan mobil. Jasper pun dibawa oleh para polisi untuk diadili sesuai dengan perbuatannya. Yah, sepertinya pria paruh baya itu harus tahan tinggal dibalik jeruji besi untuk waktu yang lama.

Inspektur Clarke menghampiri kedelapan member Sibuna. Ia merasa amat sangat terbantu, karena berkat kedelapan pelajar ini kasus bisa diselesaikan dengan baik.

“Terima kasih atas bantuan kalian semua. Senang bisa berkenalan serta bekerja sama dengan remaja berbakat seperti kalian.” Inspektur Clarke menjabat tangan kedelapan remaja itu satu persatu. Tak lama, ia pun pamit untuk kembali ke kantor.

“Satu kasus telah terselesaikan. Ready for the next case?” Jerry menatap teman-temannya bergantian.

“Yeah!” Seru mereka dengan bersemangat.

-Case Solved-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

3 tanggapan untuk “The Sibuna Club (Case 1 – End)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s