Diposkan pada Chapters, The Daily Life Of Super Junior's Little Sisters

(Cho Jiyoung’s Story) In The Middle Of The Night (Part 1)

kyula88-107Author : Cho Haneul (KyuLa88)
Title       : The Daily Life Of Super Junior’s Little Sisters
(Cho Jiyoung’s Story – In The Middle Of The Night)
Type      : Twoshoot
Genre    : Horror, Mystery, Family
Poster  : http://ssoopuding.wordpress.com/

Cast :
– Cho Jiyoung
– Cho Kyuhyun
– Kim JongDae (OC)
– Kim Jae In (OC)

___________________________________

Jiyoung menatap pemandangan hijau yang terhampar luas dari dalam mobilnya. Mobil Hyundai silver itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan pedesaan yang sepi dan juga asri. Didalam mobil itu hanya ada dia dan sang oppa, Cho Kyuhyun. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Gyeongju yang notabennya adalah kampung halaman Cho Seunghwan, appa mereka. Sudah bertahun-tahun lamanya kedua kakak beradik ini tidak pulang ke Gyeongju. Tepatnya semenjak halmonie mereka meninggal dunia, 4 tahun yang lalu.

Tapi tahun ini atas permintaan sang appa, Kyuhyun dan Jiyoung pulang ke kampung halaman mereka. 3 hari lagi adalah hari anniversary kedua orang tua mereka dan sang appa ingin merayakannya secara sederhana dirumah masa kecilnya, yaitu di Gyeongju. Padahal Kyuhyun sudah berencana untuk membuat pesta anniversary kedua orang tuanya di hotel berbintang, namun apa daya, keinginan sang appa tak kuasa untuk ditolak. Sebenarnya Kyuhyun sendiri tidak terlalu suka untuk pulang ke kampung halamannya. Ia lebih memilih untuk istirahat dirumah sembari memainkan game-nya yang sudah lama tak tersentuh. Lagipula perjalanan menuju Gyeongju cukup menguras energinya.

Namun berbeda halnya dengan Jiyoung. Gadis itu justru merasa sangat senang ketika tahu bahwa mereka akan pulang ke Gyeongju. Jiyoung memang sangat menyukai Gyeongju dikarenakan pemandangannya yang indah nan asri.

Dan kenapa hanya mereka yang ada didalam mobil saat ini? Ah, itu semua karena kesibukan Kyuhyun dan juga Jiyoung. Kedua orang tua mereka sudah berangkat terlebih dahulu ke Gyeongju. Kyuhyun yang saat itu masih ada pekerjaan, serta Jiyoung yang masih repot mengurus persiapan kuliahnya terpaksa harus menunda kepergian mereka dan baru bisa pergi sekarang.

“Oppa, memang kau masih ingat jalan menuju rumah halmonie? Rumahnya kan agak terpencil.” Tanya Jiyoung seraya menatap Kyuhyun yang sedang mengemudi.

“Tentu saja ingat. Ingatanku kan bagus, tidak seperti ingatanmu yang sudah seperti halmonie.” Kyuhyun berkata dengan nada mengejek yang sukses membuat bibir Jiyoung maju beberapa centi. Kyuhyun melirik dongsaengnya dan seketika terkekeh geli kala ia melihat ekspresi kesal yang ditunjukkan oleh Jiyoung. Namja tampan itu mengacak pelan rambut Jiyoung dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih memegang kemudi.

“Kau terlihat senang, eo? Aku pikir kau tidak akan senang dengan ide appa.”

“Ne, nan neomu haengbokhae. Aku suka dengan pemandangan Gyeongju yang indah dan asri. Lagipula Boyoung dan Jiyeon sedang sibuk dengan acara mereka masing-masing. Aku tidak ada teman. Memang oppa tak senang bisa pulang ke Gyeongju?” Tanya Jiyoung sembari menatap Kyuhyun.

Namja tampan itu mengeleng. “Ne, aku tak suka pulang. Lebih baik menyelesaikan level game-ku. Kasihan mereka sudah hampir sebulan lebih tidak tersentuh.” Jawab Kyuhyun.

Jiyoung langsung mencibir sang oppa. “Dasar maniak game!”

“Cih, seperti kau tidak saja.” Balas Kyuhyun tak mau kalah.

“Ei, tapi setidaknya aku tidak separah kau, oppa. Aku masih dalam kategori normal.”

“Keunde neo…”

Bla bla bla…

Perjalanan yang tadinya sunyi pun dimeriahkan dengan perdebatan konyol antara Kyuhyun dan Jiyoung. Itu merupakan hal yang biasa mengingat betapa hebohnya kedua bersaudara ini jika sudah bertemu.

*****

(Jiyoung’s POV)

Hujan yang tadinya hanya rintik-rintik kini sudah mulai berubah menjadi hujan yang deras, membuat Kyuhyun oppa agak kesulitan melihat jalanan yang ada dihadapannya. Aku menatap pemandangan yang ada disampingku sambil mengingat-ingat jalan menuju ke rumah nenek. Dan yah, berjam-jam bahkan berhari-hari pun aku mencoba untuk mengingat namun hasilnya nol besar. Ingatanku sama parahnya dengan Boyoung :p

“Oppa, apa ini jalan yang benar? Ini sudah mau gelap dan kita masih belum sampai.” Aku menoleh menatap Kyuhyun oppa.

“Aku yakin ini jalan yang benar. Lagipula sebelum pergi aku sudah menanyakan alamat yang jelasnya pada appa.” Jawab Kyuhyun oppa. Pandangan oppaku ini masih terpaku pada jalanan yang ada dihadapannya.

“Aku harap kita cepat sampai. Hujan sangat deras dan juga sudah mau gelap.”

“Ne, aku harap juga begitu. Aku juga sudah lelah dan ingin beristirahat.”

Aku mengeluarkan handphoneku yang sedari tadi berada didalam tas tanganku. “Aish, low battery!” Rutukku kesal tatkala menemukan handphoneku yang sudah dalam keadaan off. Kyuhyun oppa menoleh sekilas. “Kau lupa mencharge-nya?”

“Ne. Ku pikir akan bertahan sampai kita sampai ke Gyeongju. Ah, ternyata dugaanku meleset.” Ucapku sembari meletekkan kembali handphone Samsung hitamku kedalam tas.

“Pakai saja punya oppa kalau kau butuh.” Tawar Kyuhyun oppa.

“Ara.” Ku ambil Iphone 4 milik Kyuhyun oppa yang ada di dashbor mobil. Setelah mengotak-atik selama beberapa saat. Aku menghela napas kecewa. Kyuhyun oppa melirikku sekilas. “Wae?” Tanyanya bingung.

Aku meletakkan handphone-nya kembali ke dashbor mobil. “No signal.” Jawabku.

“Jinjja?” Tanya Kyuhyun oppa agak kaget. “Ah, mungkin karena jalanan yang kita lalui ini terpencil sekali, eo?”

“Mungkin juga. Ini kan jalan pintas yang ditunjukkan appa.” Balasku.

Kami kembali diam. Sebenarnya aku mengantuk, tapi aku tak tega membiarkan Kyuhyun oppa menyetir sedangkan aku enak-enakkan tidur. Lagipula entah mengapa perasaanku menjadi tidak enak. Wajar saja sebenarnya, mengingat hari sudah mulai gelap dan hujan juga bukannya semakin mereda tapi malah menjadi semakin deras disertai dengan angin yang lumayan kencang. Disamping itu, perjalanan kami masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sampai ketempat tujuan. Yah, semoga saja tidak terjadi hal yang buruk.

(Jiyoung’s POV End)

*****

(Kyuhyun’s POV)

“Kalau mengantuk tidurlah.” Ujarku pada Jiyoung. Terlihat sekali dongsaengku ini sebenarnya sudah mulai mengantuk. Sedari tadi ia terus menguap, sudah tak terhitung berapa kali pastinya.

Jiyoung menggelengkan kepalanya. “Ani, gwenchana. Lagipula aku tak bisa tidur dalam keadaan seperti ini. Hujannya deras sekali.” Jawabnya pelan. Aku mengelus kepala Jiyoung pelan. “Bilang saja kau ingin menemani oppa, kan?” Godaku. Jiyoung menatapku datar. “Aish, arasso jagiya.” Ucapku sembari mengacak rambutnya pelan.

Sebenarnya aku juga agak kesulitan mengemudi dalam kondisi cuaca yang seperti ini. Maka dari itu sedari tadi aku mengemudi dengan kecepatan nyaris dibawah rata-rata. Selain jalanan yang berkelok, jalanan yang licin juga menjadi kendala.

Jujur, dalam hati aku juga merasa sedikit ada keganjilan. Menurut prediksiku seharusnya saat ini kami sudah tiba di daerah rumah halmonie. Keunde, kenapa kami masih ada dijalanan sepi ini? Aku melirik kekanan dan kiriku. Hanya ada hutan dan sungai disepanjang jalan ini. Lalu dimana daerah perumahan halmonie?

Aku menolehkan kepalaku menatap Jiyoung. Ternyata dongsaengku ini sudah tertidur. Aku pun mengurungkan niatku untuk bertanya padanya. Saat sedang melirik jajaran hutan yang ada disebelahku, aku melihat ada sebuah bangunan tua (mirip menara namun tidak terlalu tinggi) yang berdiri diantara pohon-pohon besar itu. Bangunan itu terlihat jelas dari tempatku sekarang karena jaraknya yang tidak jauh dari mobilku. Bangunan yang dindingnya bercat putih kusam itu terlihat sekali tak terawat. Namun, yang membuatku terpaku menatap menara itu hingga memelankan laju mobilku adalah sosok seorang wanita yang berdiri tegak diatas beranda bangunan itu. Wanita itu berdiri tegak tak mempedulikan angin kencang yang menerpanya. Ia menatap jauh kedepan. Aku tak sampai lama memperhatikan wanita itu karena mobilku yang melaju pelan meninggalkan bangunan itu. Tapi ada sesuatu yang membuatku merasa aneh.

‘Kenapa ada seorang wanita ditempat yang seperti ini?’

Saat aku membalikkan kepalaku, wanita itu sudah tak ada disana. Kemana perginya wanita itu?

(Kyuhyun’s POV End)

*****

BRAK!

“Oppa!” Teriak Jiyoung panik. Gadis itu baru saja terbangun dari tidurnya lantaran merasakan guncangan yang disertai bunyi yang sangat nyaring. Wajah gadis itu pucat pasi. “Wae geure oppa?” Tanya Jiyoung pada sang oppa.

Kyuhyun menghela napas. “Sepertinya ban mobil kita masuk kedalam lubang yang cukup dalam. Biar aku periksa dulu.” Ujar Kyuhyun sembari memakai penutup kepala jaketnya.

Hujan deras masih setia mengguyur bumi. Langit yang tadinya berwarna kelabu sekarang sudah berubah warna menjadi hitam, pertanda bahwa hari sudah malam. Jiyoung menatap dengan cemas kearah oppanya yang sedang memeriksa keadaan ban mobil mereka. Bisa gawat jadinya kalau sampai ban mobil mereka rusak sekarang.

Tak lama Kyuhyun masuk kedalam mobil dengan sekujur tubuh yang sudah basah. Pria itu agak sedikit menggigil karena kedinginan. “Bagaimana oppa?” Tanya Jiyoung cemas sekaligus kasihan melihat Kyuhyun yang sudah basah kuyup dan kedinginan.

“Ban mobilnya robek. Harus segera diganti. Kita tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan ban mobil yang sudah rusak seperti ini.” Jawab Kyuhyun yang sukses membuat Jiyoung melemas seketika.

“Ottohke? Disini sepi. Kita harus meminta bantuan pada siapa, oppa?” Jiyoung bertanya dengan nada panik. Kyuhyun mengusap kepala Jiyoung lembut. “Geokjongma, ada bengkel kecil dibelakang disana.” Ujar Kyuhyun sembari menunjuk kearah yang tadi mereka lalui. “Kita kembali saja kesana, toh jaraknya tidak terlalu jauh. Semoga saja masih buka.” Tambah Kyuhyun lagi.

Akhirnya dengan terpaksa kedua kakak beradik itu menunda perjalanan mereka ke rumah sang halmonie. Kyuhyun mengendarai mobilnya dengan amat sangat pelan, mengingat kondisi ban mobilnya yang sudah sangat memprihatinkan. Tak lama, Nampak cahaya lampu dari sebuah toko kecil yang terbuat dari papan. Ada 2 orang ahjussi disitu.

“Hah, untung masih ada orang.” Ujar Kyuhyun lega. Pria itu pun keluar dari mobil mewahnya diikuti oleh sang adik.

Kedua orang ahjussi itu menatap mereka bingung, terlebih melihat mobil mewah Kyuhyun. Wajar saja, sebab di desa tersebut tidak ada orang yang memakai mobil semewah itu. Kedua pria paruh baya itu menelisik Kyuhyun dan Jiyoung sebelum akhirnya mereka saling menyapa.

“Annyeonghaseyo ahjussi, mian mengganggu.” Sapa Kyuhyun ramah.

“Ne. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya salah seorang ahjussi yang menggunakan jaket berwarna biru gelap. Sedangkan ahjussi yang satunya masih setia melayangkan tatapan menelitinya pada Jiyoung dan Kyuhyun. Dalam hati Kyuhyun berdoa agar kedua ahjussi ini tidak mengenal dirinya.

“Neo… sepertinya aku pernah melihatmu di televisi.” Ucap ahjussi yang berjaket merah. Kyuhyun tersentak kaget. “Kau mirip dengan idola cucuku.” Ujar ahjussi itu lagi, membuat Kyuhyun gelapan.

“Aish, tidak usah didengarkan perkataan anehnya ini. Yak Kim Jong Dae! Jangan berbicara yang aneh-aneh! Mana mungkin artis idola cucumu itu nyasar kesini, eo?” Celetuk sang ahjussi yang berjaker biru. Kyuhyun hanya tersenyum canggung.

“Jadi, apa yang bisa kubantu?” Tanya sang ahjussi lagi.

“Igo, ban mobilku robek karena menabrak lubang yang ada dijalan sana.”

“Ah, lubang itu! Ne, lubang itu memang sangat besar. Sudah banyak mobil yang menjadi korbannya. Kau adalah orang kedua hari ini.” Ujar sang ahjussi tersebut. “Geure, biar kulihat kerusakannya.” Tambahnya lagi. Kyuhyun menunjukkan ban mobilnya yang robek tersebut.

Sang ahjussi meneliti kerusakan yang dialami oleh ban mobil tersebut, sedangkan Kyuhyun berdiri disamping lelaki paruh baya itu sambil berharap-harap cemas.

“Kerusakannya parah. Harus diganti sekarang juga.” Sang ahjussi itu menoleh kearah Kyuhyun. Kyuhyun menggeram kesal dalam hati. Pria itu merutuki keteledorannya dalam menyetir. Seharusnya ia menyetir dengan hati-hati dan memperhatikan kondisi jalan dengan baik, jadi hal ini tidak perlu terjadi. Namun percuma ia menyesalinya. Nasi telah menjadi bubur.

“Kalau begitu segeralah diganti. Kami masih harus melanjutkan perjalanan.” Pinta Kyuhyun pada sang ahjussi.

“Sayangnya aku tidak memiliki ban yang sesuai untuk mobilmu.” Ujar sang ahjussi dengan nada menyesal. Ia menatap Kyuhyun iba. Kyuhyun sendiri sudah bingung harus melakukan apa. Pria itu tidak membawa cadangan ban dalam mobilnya. Sekali lagi Kyuhyun merutuki kebodohannya yang dengan sengaja meninggalkan cadangan ban mobil di apartemennya.

“Apa benar-benar tidak ada? Coba cari lagi.” Pinta Kyuhyun agak memaksa.

“Benar-benar tidak ada anak muda. Kau tahu sendiri bahwa di desa seperti ini mana ada yang memiliki mobil mewah seperti dirimu. Maka dari itu, persediaan ban mobil yang ada ditempatku hanya untuk mobil-mobil biasa, seperti ban untuk mobil pengangkut barang.” Jelas sang ahjussi panjang lebar.

Jiyoung sudah ingin menangis saja rasanya saat mendengar perkataan ahjussi tersebut. Gadis itu ingin sekali segera sampai ke rumah sang halmonie dan bertemu dengan kedua orang tuanya. Hujan dan juga petir yang bersahutan membuat Jiyoung bergidik ngeri. Gadis itu tidak suka dengan suasana hujan deras ditambah petir seperti ini. Ia merapatkan tubuhnya pada Kyuhyun. Kyuhyun yang mengerti ketakutan sang dongsaeng, merangkul tubuh Jiyoung.

“Ottohke oppa?” Tanya Jiyoung putus asa. Kyuhyun terdiam. Sejurus kemudian namja itu kembali menolehkan kepalanya kepada sang ahjussi.

“Apa kau tidak dapat membantu kami? Oh, atau coba saja pakai ban yang lain. Mungkin tidak terlalu pas, tapi setidaknya bisa dipakai untuk sementara.”

“Dengan resiko akan terlepas dijalan? Andwae! Itu berbahaya.” Balas sang ahjussi.

“Emm, tapi jika kau mau, aku bisa mencarikan ban yang cocok untuk mobilmu di desa sebelah. Tapi tidak bisa malam ini, sebab bengkel itu hanya buka sampai menjelang malam. Lagipula tidak mungkin kita pergi dalam keadaan hujan badai seperti ini.” Ujar sang ahjussi. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menolong kedua muda mudi yang ada dihadapannya.

“Ghamsahamnida.” Kyuhyun membungkuk sedikit, diikuti oleh Jiyoung.

“Berarti tidak bisa pergi ke rumah halmonie malam ini juga ya?” Jiyoung menatap Kyuhyun dengan lesu. Kyuhyun mengusap kepala dongsaengnya dengan lembut. “Ne. Kau dengar sendiri kan tadi? Kita harus menunggu besok.”

“Keunde, bagaimana dengan appa dan juga eomma? Mereka pasti cemas sekarang.” Ujar Jiyoung cemas

“Jangan khawatir, aku sudah mengirim pesan pada mereka bahwa perjalanan kita agak sedikit terhambat.” Kyuhyun berusaha meredakan kecemasan Jiyoung.

“Tapi oppa, apa kau yakin bahwa kita tidak salah jalan, eo? Aku ragu dengan itu. Apa tidak lebih baik kau bertanya saja pada ahjussi itu? Yah, mana mungkin ia tahu.”

“Arasso.” Jawab Kyuhyun singkat. Namja itu langsung menghampiri ahjussi yang sedang sibuk dengan peralatan bengkelnya. “Ahjussi, apa kau tahu alamat ini?” Kyuhyun menunjukkan Iphone-nya yang bertuliskan alamat lengkap rumah halmonie.

Ahjussi itu menyipitkan matanya. “Eh, kau mau menuju ke alamat ini?” Tanya pria paruh baya itu sembari menatap Kyuhyun. “Ne.” Jawab Kyuhyun.

“Aigoo, kau salah jalan anak muda! Tempat ini sudah terlewat.”

“Mworago?!” Pekik Kyuhyun kaget.

“Ne. Harus balik ke pertigaan yang tadi kau lewati dan kemudian kau pilih yang kearah timur.”

Jiyoung yang mendengar percakapan Kyuhyun dengan sang ahjussi hanya dapat terduduk lemas di kursi yang ada diteras bengkel. “Ige mwoya? Ottohke?” Gumam Jiyoung lirih seraya menundukkan kepalanya.

*****

(Jiyoung’s POV)

Disinilah kami sekarang, di depan sebuah rumah tua yang besar dan emm… terlihat angker. Aku bergidik ngeri menatap rumah tua ini. Perasaan takut menyelubungi diriku. Aku mengamit lengan Kyuhyun oppa, membuat ia menoleh padaku. “Apa tempat ini bisa ditempati?” Tanyaku sangsi. Kyuhyun oppa mengedikkan bahu. “Entahlah, kita coba lihat dulu. Kalau memang parah kita batalkan saja. Kurasa menginap dimobil tidak begitu buruk.” Jawab Kyuhyun oppa.

Yah, kami terpaksa berada disini karena ban mobil kami yang robek dan harus diganti. Ahjussi yang dibengkel tadi itu berjanji akan mencarikan ban mobil yang sesuai untuk kami, namun sialnya kami masih harus menunggu sampai fajar datang. Malam semakin larut dan hujan pun masih dengan giatnya mengguyur bumi, seakan bumi masih kehausan. Kami butuh tempat menginap, tapi sialnya lagi tidak ada penginapan disekitar sini. Maklum saja, tempat ini sangat terpencil, jadi mustahil ada turis yang datang melancong kemari, kecuali turis yang tersesat.

Disaat aku dan Kyuhyun oppa pasrah dengaan takdir, tiba-tiba ahjussi yang berjaket merah yang kuketahui bernama Kim Jongdae, menawarkan tempat menginap pada kami. Ia bilang ia  punya rumah kosong yang bisa kami tempati. Aku dan Kyuhyun oppa yang sudah kelelahan serta kedinginan tentu dengan senang hati menerimanya.

Maka disinilah kami sekarang…

Tapi aku benar-benar tidak tahu bahwa rumahnya menyeramkan seperti ini. Lebih baik aku tidur dimobil saja, setidaknya akan lebih aman menurutku.

Masih dengan mengamit lengan Kyuhyun oppa, kami berdua berjalan dengan pelan memasuki rumah ini. Begitu menapakkan kaki didalam rumah ini, aku langsung bersin-bersin. Bagaimana tidak, debu-debu berterbangan dimana-mana. Jelas sekali terlihat bahwa rumah ini sudah lama tidak ditempati. Atau jangan-jangan… ini memang rumah hantu?!

“Mian, rumahnya berantakan dan juga kotor. Terakhir aku membersihkannya sekitar beberapa minggu yang lalu.” Ujar Jongdae ahjussi.

Ah, kurasa yang benar bukan beberapa minggu, keunde beberapa tahun yang lalu!

“Tapi jangan khawatir. Aku akan membersihkan rumah ini dengan kilat. Jadi kalian tidak perlu khawatir.” Tambah sang ahjussi lagi.

Kyuhyun oppa menatap sekeliling rumah. “Not bad.” Gumamnya. Kemudian ia melayangkan tatapan kearah Jongdae ahjussi. “Dimana kami bisa tidur? Itu yang terpenting.” Tanya Kyuhyun oppa.

“Oh ya, kalian tenang saja, itu perkara mudah. Ada banyak kamar bagus disini.” Jongdae ahjussi menatap aku dan Kyuhyun oppa bergantian. “Eung… kalian ini…” Ia menatap kami dengan tanda tanya.

“Kami adik kakak.” Jawab Kyuhyun oppa.

“Oh, kalau begitu satu kamar berdua tidak akan menjadi masalah, bukan?”

“Ne, tentu saja. Lagipula nona muda ini takkan berani tidur sendirian dalam kondisi seperti ini.” Ucap Kyuhyun oppa dengan nada mengejek yang kuhadiahi dengan cubitan maut dari kuku-kuku kebanggaanku. Kyuhyun oppa meringis. “Appo!”

Aku tidak mempedulikan ringisan manja Kyuhyun oppa. Kakiku melangkah dengan pelan dan hati-hati mengitari sekitar ruang tamu ini. Kakiku terhenti didepan sebuah ruangan yang menurutku mirip ruang baca, sebab ada banyak buku yang tersusun rapi dirak meskipun sudah terlihat berdebu. Entah mendapat keberanian dari mana aku berani melangkah masuk kedalam ruangan tersebut. Ruangan ini tidak terlalu gelap karena mendapat sedikit sinar lampu dari ruang tamu dan juga bulan malam ini bersinar dengan terang.

DEG!

“Omo!” Pekikku kaget. Nyaris saja aku terjatuh sangking kagetnya. “Ya ampun Jiyoung, itukan bayanganmu sendiri. Dasar babo!” Aku memukul kepalaku pelan. Aku menatap cermin yang tadi nyaris membuatku menjerit ketakutan. Cermin yang indah dengan ukiran kayu dipinggirannya. Jemariku secara perlahan mendarat dipermukaan cermin dan mengelusnya dengan pelan.

“Ya, sedang apa kau disini?!”

“Omo oppa! Kau membuatku kaget!” Aku mengelus dadaku yang berdebar kaget.

“Kajja, kamarnya sudah selesai dibersihkan. Kita bisa beristirahat.”

Aku berjalan mendekati Kyuhyun oppa. “Apa layak ditempati?” Tanyaku ragu. Kyuhyun oppa mengangguk. “Keadaan kamarnya seratus kali lebih baik dari keadaan ruangan yang lain.” Jawab Kyuhyun oppa yang membuatku sedikit lega. Aku pun meraih tangan Kyuhyun oppa dan segera beranjak menuju kamar kami.

(Jiyoung’s POV End)

*****

Yang Jiyoung tidak tahu, tepat setelah ia dan Kyuhyun pergi meninggalkan ruangan itu, cermin yang tadi disentuhnya bergoyang dengan pelan. Samar-samar muncul bayangan seorang wanita cantik berambut panjang dari dalam cermin tersebut.

Wajah cantik itu tidak bertahan lama, sebab tak lama kemudian, seiring dengan seringaian yang muncul diwajah wanita itu, wajah cantiknya berubah. Matanya memutih dengan pupil mata yang mengecil. Bibirnya penuh luka dan ketika ia tersenyum darah mengalir segar dari dalam mulutnya yang ternyata robek. Wajah wanita itu penuh parutan dan goresan yang mengeluarkan darah dan juga nanah.

Wanita itu tersenyum seram, merasa senang bahwa malam ini ia kedatangan tamu. Bukan tamu, melainkan mangsa lebih tepatnya. Dengan perlahan wanita itu melayang keluar dari dalam cermin, dengan sebilah pisau ditangan kanannya…

*****

_AT KIM JONGDAE’s HOUSE_

“Apa ayah sudah gila membiarkan mereka menginap di rumah terkutuk itu, eo?!” Pekik Kim Jae In, putri Kim Jongdae, dengan marah. Sang ayah hanya menanggapi dengan santai. “Tidak akan terjadi apa-apa. Cerita itu kan sudah lama sekali berlalu. Lagipula mereka hanya akan menumpang tidur disana, tidak lebih. Aku juga sudah memperingatkan mereka agar jangan berkeliaran lewat tengah malam. Dan yang paling penting, aku sudah meletakkan jimat didalam kamar yang mereka huni.” Jawabnya panjang lebar.

Meski begitu Jae In tetap tidak tenang. Ia amat sangat menyayangkan tindakan gegabah yang diambil oleh sang ayah. Ia menatap ayahnya sengit. “Apa ayah pikir jimat bodoh itu akan menyelamatkan mereka?” Tanya Jae In sembari menatap sang ayah.

“Apa kau pikir kita tidak butuh uang, eo?!” Kim Jong Dae menatap Jae In geram. “Kau tahu bahwa kita sangat membutuhkan uang saat ini! Aku tidak peduli dengan setan-setan keparat itu! Aku hanya ingin uang!” Teriak pria paruh baya itu dengan geram. Ia mengambil uang yang baru saja ia dapatkan dari Kyuhyun dan kemudian beranjak pergi menuju kamarnya.

Jae In terdiam. Dia tidak bisa memungkiri bahwa mereka memang membutuhkan uang. Tapi apa harus begini? Apa mereka harus mengorbankan orang-orang  yang tidak bersalah dan bahkan tak tahu apapun mengenai rumah itu?

‘Semoga mereka baik-baik saja…’ Batin Jae In.

-To Be Continued-

Horror yang failed bgt! Ini FF horror pertama aku. Tapi mungkin aku emang lebih cocok di genre romance deh. Tapi yah, try something new isn’t that bad, right? 🙂 Please show some support ^^

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

Satu tanggapan untuk “(Cho Jiyoung’s Story) In The Middle Of The Night (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s