Diposkan pada Oneshot

This Is The End Of Us

kyula88-157

 

 

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title       : This Is The End Of Us
Type     : Oneshoot
Genre   : Sad Romance, Drama
Poster  : http://ssoopuding.wordpress.com/

Cast :
– Cho Haneul (Fictional)
– Choi Siwon
– Cho Kyuhyun
– Kwon Yuri

_________________________________________________________

 

Haneul menatap dengan sendu pria yang sedang duduk dihadapannya. Pria tampan tersebut terlihat amat sangat sibuk dengan IPhone putih yang ada digenggamannya. Choi Siwon, nama pria itu. Ia adalah seorang pengusaha muda yang terkenal. Diusianya yang baru menginjak 26 tahun, pria berparas tampan itu sudah memiliki segala hal yang diinginkan oleh hampir semua pria dibelahan dunia ini. Wajah yang tampan, harta yang melimpah, kesuksesan dan juga memiliki seorang tunangan yang cantik.

Sekali lagi helaan napas terdengar dari mulut Haneul. Gadis itu berharap sang namja akan menyadari helaan napasnya yang sarat akan rasa lelah. Namun apa daya, sang namja tetap sibuk akan dunianya. Ia bahkan tidak sedikitpun menoleh guna untuk menatap Haneul, tunangannya. Jemari pria itu tetap bergerilya diatas layar iphone putihnya.

“Siwon oppa…” Panggil Haneul, berharap kali ini ia akan dapat sedikit perhatian dari namjanya.

“Hmm…” Siwon hanya bergumam singkat. Tatapan pria itu masih seratus persen terfokus pada layar ponselnya. Lagi-lagi Haneul menghela napas. Ia jenuh.

“Apa kau begitu sibuknya sampai tidak bisa menatapku?” Tanya Haneul mulai jengah. Yah, gadis itu sudah tidak dapat menahan perasaannya lagi. Sudah cukup selama ini ia makan hati menerima perlakuan acuh Siwon padanya.

Siwon menoleh. Seketika kedua mata tajam milik pria itu menatap lurus kearah Haneul, membuat gadis itu bergidik ngeri. Tatapan mata Siwon yang seakan ingin menelannya hidup-hidup cukup membuat nyali Haneul menciut.

“Ne, aku sibuk.” Jawab pria itu dingin.

Haneul menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata tajam milik Siwon. “Mianhe.” Ucap gadis itu pelan. Baru saja Haneul ingin kembali membuka suara, namun deringan ponsel Siwon membatalkan niat gadis berambut sebahu itu.

“Sebentar.” Ujar Siwon seraya beranjak dari kursinya.

Haneul memandang kosong pada Siwon yang sedang terlarut dalam pembicaraannya ditelpon. Bahkan Haneul berani bertaruh bahwa pria tampan berlesung pipi itu lupa bahwa dirinya juga berada disini.

‘Apa yang sedang terjadi dengan kita, oppa?’

 

*****

 

 

(Haneul’s POV)

Hubunganku dengan Siwon oppa sudah berjalan selama 2 tahun. Bukan waktu yang terlalu lama, namun juga bukan waktu yang sebentar. Kami memang dijodohkan oleh orang tua masing-masing. Akan tetapi hubungan kami murni dilandasi oleh cinta, bukan paksaan dari kedua orang tua kami. Kedua orang tua kami hanyalah perantara. Keputusan akhir tetap berada ditangan kami, aku dan Siwon oppa.

Merasa nyaman satu sama lain. Rasa itulah yang membawa kami hingga mencapai tahap hubungan ini. Siwon oppa yang sangat pengertian, ramah, serta penuh kasih sayang, selalu membuatku merasa nyaman saat berada disisinya dan sifat-sifat itupula yang membuatku merasa menjadi seorang yeoja yang paling beruntung di dunia.

Namun belakangan ini semua berubah. Tidak ada lagi Siwon oppa yang pengertian. Tidak ada lagi Siwon oppa yang penuh akan kejutan romantisnya. Tidak ada… seakan semuanya sifat-sifat favoritku itu lenyap tak bersisa.

Aku merasa Siwon oppa menjauh dariku. Aku merasa seperti… ia bosan padaku. Bosan pada hubungan kami…

Tak jarang aku merasa seperti ia sengaja menghindar dariku. Dimulai dengan membatalkan janji-janji kencan kami, hingga tidak pernah mau menjawab telpon ataupun hanya sekedar membalas pesan singkatku. Ia selalu menjadikan pekerjaannya sebagai alasan atas semua tindakannya. Ia mungkin memang tidak tahu bahwa tanpa sengaja aku pernah memergokinya yang sedang duduk di sebuah café bersama teman-temannya. Padahal hari itu ia baru saja membatalkan janji makan malam kami dengan alasan bahwa ia ada meeting mendadak.

Aku ingin marah. Aku ingin meminta penjelasannya. Namun disatu sisi aku takut. Aku takut jika ia memang sudah bosan dan jenuh pada hubungan kami ini. Aku takut jika ia ingin mengakhiri hubungan kami.

(Haneul’s POV End)

 

*****

 

 

Haneul menginjakkan kakinya di perusahaan SCTOWN, perusahaan yang notabennya adalah milik keluarga tunangannya, Choi Siwon. Gadis itu tersenyum ramah pada orang-orang yang berpapasan dengannya. Hal yang wajar, mengingat bahwa ia adalah tunangan sang direktur utama. Haneul menekan tombol 8 dan lift pun mengantarkan gadis itu menuju ke lantai 8, tempat ruangan Siwon.

“Annyeong Yuri eonnie!” Sapa Haneul ramah pada sekretaris Siwon. Yuri tersenyum manis. Cantik dan anggun. Itu kesan yang Haneul rasakan ketika melihat sekretaris cantik itu.

“Annyeong Haneul-ssi. Mencari Siwon sanjangnim, eo?” Tanya Yuri sopan.

“Ne. Apa ia ada?”

Yuri tersenyum tidak enak. “Dia baru saja pergi keluar dengan kliennya.” Yuri menjawab sembari memperhatikan ekspresi Haneul yang mendadak menjadi muram. Gadis itu terdiam. Haneul melayangkan pandangannya kearah pintu ruangan Siwon yang berada disamping meja Yuri.

“Arasso eonnie. Ini, berikan makanan ini pada Siwon oppa jika ia kembali.” Haneul menyerahkan satu rantang makanan yang tersusun atas tiga kotak. Yuri mengambil rantang itu. “Tenang saja, nanti aku akan serahkan langsung ketangan Siwon sangjangnim.” Yuri tersenyum manis yang kemudian dibalas oleh Haneul. Haneul membungkukkan badan dengan sopan sebelum ia beranjak pergi.

TING!

Bunyi lift yang terbuka menyadarkan Haneul dari lamunannya. Gadis itu mendongakkan kepalanya dan kemudian mendapati seorang namja tampan sudah berada didepannya.

“Kyuhyun oppa.”

Kyuhyun tersenyum manis. “Habis bertemu dengan Siwon hyung, eo?” Tanya pria berambut coklat tersebut. Haneul menggeleng seraya tersenyum kecil. “Inginnya sih begitu, keunde Siwon oppa sedang keluar bersama kliennya.” Jawab Haneul. Kyuhyun terdiam mendengar jawaban yang terlontar dari bibir Haneul. Bagaimana tidak? Namja itu tahu dengan pasti bahwa Siwon ada di ruangannya, sebab Siwon sendiri yang tadi menyuruh Kyuhyun untuk datang ke ruangannya.

Kyuhyun hanya diam. Meskipun ia merasa ada yang aneh dengan hubungan Haneul dan Siwon, namun tidak sedikit pun namja itu menyuarakan berbagai pertanyaan yang berseliweran dikepalanya. Ia memilih untuk diam meskipun hatinya terasa sakit melihat ekspresi muram yang terpatri diwajah Haneul, gadis yang diam-diam dicintainya.

 

*****

 

 

“Sangjangnim, ini makanan yang tadi diantar oleh Haneul-ssi.” Ujar Yuri sembari menghampiri Siwon yang baru keluar dari ruangannya. Yah, Siwon memang ada di ruangannya sedari tadi. Ia hanya malas untuk bertemu dengan Haneul.

Siwon menatap kotak makanan yang disodorkan Yuri dalam diam. Namja itu menghela napas pelan. Sebersit perasaan menyesal muncul dihatinya. “Untukmu saja. Kau bisa membuangnya jika kau tidak mau memakannya.” Setelah berkata demikian, Siwon berjalan menghampiri Kyuhyun yang rupanya sedari tadi sudah berada disana.

“Kajja!” Siwon menepuk bahu Kyuhyun pelan.

 

*****

 

 

_AT THE CAFÉ_

“Wae geure?” Tanya Kyuhyun tanpa basa basi.

Siwon meneguk coffee latte-nya. “Opseo.” Jawabnya singkat. Terlihat sekali bahwa Siwon malas membahas masalahnya. Pria itu tahu dengan pasti apa yang ingin ditanyakan oleh Kyuhyun. Yah, pasti mengenai sikapnya terhadap Haneul.

Kyuhyun mendesah pelan. “Geotjimal!” Kyuhyun menatap Siwon. “Jelas-jelas sikapmu pada Haneul berubah. Kau… tidak sedang merencanakan sesuatu yang nantinya akan menyakiti Haneul, kan?” Tanya Kyuhyun seraya menatap Siwon tajam.

“Molla.”

“Molla?!” Kyuhyun nyaris berteriak mendengar jawaban Siwon yang tidak pasti. “Ada apa, hyung? Kau bersikap seakan kau ingin menghindar dari Haneul.”

“Aku memang sedang menghindar darinya.” Jujur Siwon yang sukses membuat kedua bola mata Kyuhyun membesar karena kaget.

“Wae?”

Siwon mengedikkan bahunya. “Entahlah. Tapi… aku merasa ragu akan perasaanku sendiri. Aku merasa semua ini tidak benar.”

“Mwo?!” Pekik Kyuhyun kaget. “Yak! Bicara apa kau hyung?! Setelah nyaris 3 tahun kalian bersama dan sekarang dengan mudahnya kau berkata bahwa kau merasa semua ini tidak benar?! Kau mempermainkan Haneul, eo?!” Kyuhyun menggeram marah. Emosi pria itu sudah menumpuk diubun-ubun, kapan saja siap untuk meledak. Siwon hanya menatap Kyuhyun datar. Pria berlesung pipi itu terlalu malas untuk berdebat. Daripada berdebat, ia lebih memilih untuk menghabiskan coffee latte miliknya yang sudah mulai mendingin.

“Kau kejam, hyung.”

“Arrayo. Aku memang brengsek.”

 

*****

 

 

(Haneul’s POV)

“Siwon sangjangnim baru saja pergi keluar.” Ucap Yuri eonnie. Aku menganggukkan kepalaku dan kemudian berjalan menuju lift. Lagi-lagi aku tidak bisa bertemu dengannya. Sesibuk itukah ia sampai tidak punya waktu sedikitpun untukku?

Aku menatap angka-angka yang tersusun rapi didinding lift. Bukannya menekan tombol menuju lobby, jari telunjukku malah menekan tombol 14, yang berarti menuju ke rooftop. Aku malas pulang. Perasaan kecewa masih menyelubungi hatiku. Yang kuinginkan sekarang hanyalah melepaskan penat. Yah, barangkali saja angin sejuk di rooftop bisa mendinginkan hatiku yang panas.

Pintu lift terbuka di lantai 10. Kyuhyun oppa tersenyum ramah seraya melangkahkan kakinya masuk kedalam lift.

“Lantai 14? Rooftop?” Tanyanya heran. Aku hanya tertawa kecil. “Yah, mencari udara segar. Sepertinya pemandangan di rooftop bagus.” Ucapku sembari memperhatikan nomor lantai yang tertera didalam lift.

TING!

“Kajja!” Ajak Kyuhyun oppa.

“Ke rooftop juga, eo?” Tanyaku yang dibalas dengan senyuman singkat oleh Kyuhyun oppa.

Langkah kakiku mendadak berhenti ketika menyadari bahwa tidak hanya ada aku dan Kyuhyun oppa disini. Tak jauh dari tempatku berdiri aku melihat Siwon oppa sedang bersama seorang gadis cantik. Mereka terlihat sedang dalam perbincangan yang serius dan…

Gelap…

Aku merasa pandanganku dihalangi oleh sesuatu. Lebih tepatnya kedua mataku ditutup menggunakan kedua telapak tangan Kyuhyun oppa. Kyuhyun oppa membalikkan tubuhku hingga posisiku menjadi menghadapnya. Perlahan ia melepaskan kedua tangannya dari mataku. “Jangan dilihat.” Bisiknya lirih ditelingaku. Kedua tangannya yang tadi menutup mataku, sekarang berganti posisi memeluk tubuhku.

“Gwenchana oppa… gwenchana…” Ucapku serak. Kedua mataku sudah memanas. Aku tahu persis pemandangan apa yang tadi akan kulihat jika saja kedua tangan Kyuhyun oppa tidak menutup kedua mataku.

Siwon oppa dan gadis cantik itu… mereka akan berciuman. Bukan akan, tapi mereka pasti sedang melakukannya saat ini.

Inikah alasan atas semua sikap anehmu padaku belakangan ini?

(Haneul’s POV End)

 

*****

 

 

Kyuhyun menatap gadis yang sedang berdiri disebelahnya dengan iba. Dalam hati pria berparas tampan itu merutuki Choi Siwon.

“Hubungan kami memang sedang merenggang. Sikap Siwon oppa juga belakangan ini berubah.” Haneul berkata dengan lirih. Pandangan mata gadis itu masih terpaku pada aliran sungai Han yang mengalir dengan tenang. Angin yang bertiupan menerpa wajah Haneul, membuat rambut gadis itu agak sedikit berantakan. Haneul menghela napas pelan. “Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa ini semua akibat orang ketiga.”

Kyuhyun mendengarkan dengan penuh perhatian. Jika bisa, ingin sekali Kyuhyun merengkuh Haneul kedalam pelukannya. Namun ia masih tahu diri untuk tidak dengan lancang melakukan itu.

“Salahku yang terlalu membosankan hingga membuat ia jenuh.”

Kyuhyun menarik tangan kanan Haneul dan kemudian menggenggam tangan gadis itu dengan lembut. “Kau tidak salah. Mungkin ia hanya jenuh sebentar. Dia perlu waktu untuk memikirkan kelanjutan hubungan kalian.”

“Atau akhir dari hubungan kami.” Sahut Haneul dengan suara yang serak.

“Mungkin… hubungan kami memang sudah harus diakhiri.” Haneul berkata dengan suara pelan, bahkan nyaris berbisik. Kyuhyun terdiam mendengar perkataan Haneul. Pria itu bingung harus bereaksi seperti apa. Ia bukanlah namja yang berpengalaman dalam hal percintaan.

 

*****

 

 

Haneul meremas jemarinya dengan gugup. Buku-buku jari gadis itu sudah mulai memutih. Gadis itu dilanda kepanikan yang amat sangat. Itu semua akibat telepon singkat dari Siwon yang diterimanya tadi pagi. Itu adalah telepon pertama dari Siwon selama 2 bulan ini. Mendengar dari nada suara pria itu yang terkesan datar dan dingin, membuat Haneul yakin bahwa pria itu ingin membicarakan mengenai kelanjutan hubungan mereka.

Haneul melewati jajaran pohon sakura yang terdapat di Yeouido park. Dari kejauhan gadis itu melihat Siwon yang sedang duduk disalah satu bangku dengan tatapan menerawang. Haneul membulatkan tekadnya. Dengan pasti gadis berambut coklat itu melangkahkan kakinya menuju kearah Siwon. Siwon mendongakkan kepalanya kala kedua mata pria itu melihat sepasang sepatu putih beraksen pita tepat dihadapannya. Sepatu itu adalah sepatu pemberiannya untuk Haneul saat ulang tahun gadis itu 1 tahun yang lalu.

“Annyeong oppa.” Sapa Haneul sambil tersenyum agak canggung. Haneul tidak bisa memungkiri bahwa ia sangat merindukan sosok pria tampan yang ada dihadapannya ini.

“Duduklah.” Siwon menepuk tempat kosong yang ada disebelahnya.

Cukup lama mereka terdiam, sebelum pada akhirnya Siwon membuka suara. Namja itu sadar bahwa dialah yang harus menyampaikan sesuatu pada Haneul.

“Ini mengenai hubungan kita.” Ucap Siwon yang sukses membuat jantung Haneul berdegub kencang. Siwon menatap Haneul intens, sedangkan gadis itu hanya mampu untuk menundukkan kepalanya, terlalu takut untuk menatap langsung sepasang mata tajam nan indah milik Siwon.

“Aku merasa hubungan kita berjalan dengan tidak semestinya. Hubungan ini terasa kosong dan… hampa. Aku tidak dapat merasakan apapun. Hubungan ini tidak memiliki masa depan.”

TES.

Setetes air mata jatuh kepangkuan Haneul. Gadis itu menggigit bibirnya, berusaha untuk menahan tangisannya yang ia tahu hanya akan berakhir dengan sia-sia. Ia sudah tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi.

“Aku sudah memikirkan ini masak-masak. Kurasa ada baiknya jika kita menyudahi hubungan ini.” Kalimat terkutuk itu lolos dari mulut Siwon. Remasan tangan Haneul semakin menguat. Tubuh gadis itu agak sedikit bergetar.

“Apa kau bahagia dengan gadis itu?” Tanya Haneul dengan nada bergetar. Gadis itu masih menundukkan kepalanya. Siwon terkesiap mendengar pertanyaan Haneul, namun dalam sekejap ia kembali merubah ekspresinya menjadi datar.

“Ne, aku bahagia bersama gadis itu.” Jawab Siwon jujur, membuat hati Haneul semakin hancur. Pupus sudah harapannya untuk memperbaiki hubungannya dengan Siwon. Siwon sudah berbahagia bersama gadis pilihannya. Dan gadis itu bukanlah dirinya.

“Mianhe… Aku tahu bahwa aku adalah namja brengsek. Tapi aku tidak bisa berpura-pura seakan hubungan kita baik-baik saja dan masih sama seperti dulu.”

“Sudah berapa lama kalian berhubungan?” Tanya Haneul lirih. Air mata gadis itu sudah membanjiri wajar cantiknya. Siwon terdiam seraya menatap wajah tertunduk Haneul dengan lekat.

“Sudah 2 tahun.”

Kali ini Haneul mendongakkan kepalanya. Kedua matanya langsung menatap Siwon lekat. Ekspresi kaget terlukis jelas diwajah lembutnya. 2 tahun adalah masa hubungannya dengan Siwon. Jika namja itu berkata bahwa ia sudah menjalin hubungan dengan yeoja itu selama 2 tahun, itu berarti…

“Selama ini oppa selingkuh?” Haneul menatap Siwon dengan sendu. Bibir gadis itu bergetar. Hatinya serasa diremas kala mendengar jawaban itu terlontar dari mulut Siwon langsung.

Siwon menghela napas. “Aku tidak selingkuh.” Siwon menatap Haneul intens, seakan menunggu reaksi yang akan diberikan oleh gadis itu. “Miyoung adalah yeojachinguku jauh sebelum aku bertemu denganmu.” Lanjut Siwon.

Haneul terdiam. Gadis itu syok. Jadi selama ini dirinyalah yang telah menjadi selingkuhan Siwon dan juga menjadi orang ketiga dalam hubungan Siwon dan gadis yang bernama Miyoung itu. Haneul mengutuk dirinya sendiri. Ingin rasanya ia berteriak guna melampiaskan emosinya. Namun yang bisa gadis itu lakukan hanyalah diam dan meremas kedua tangannya.

Dan pada akhirnya Haneul sadar bahwa apa yang gadis itu perjuangkan selama ini hanyalah sia-sia belaka. Dan gadis itu pun juga menyadari bahwa inilah akhir dari segalanya. Akhir dari perjuangan cintanya.

“Geure, ayo kita berpisah…” Dengan susah payah Haneul mengucapkan kata-kata tersebut.

Siwon menatap lekat gadis yang sedang duduk disampingnya. Wajah gadis itu sembab akibat air mata yang sedari tadi terus mengalir. Haneul menghapus dengan kasar sisa-sisa air mata yang ada dipipinya. Gadis itu mencoba tersenyum meski rasa sesak dan sakit mendominasi hati dan perasaannya. Haneul hanya tak ingin mengakhiri hubungan mereka dengan tangisan. Ia ingin mengakhirinya dengan keikhlasan dan juga kebahagiaan, meskipun itu sangat sulit.

“Seharusnya lusa adalah anniversary kita yang ketiga. Keunde… kita sudah berpisah sekarang.” Haneul tersenyum getir. Gadis itu menoleh, menatap Siwon dengan ragu. “Bisakah… bisakah kita melakukan kencan terakhir? Kencan terakhir tepat di hari anniversary kita. Kumohon… setelah itu aku berjanji akan melepasmu dan juga aku berjanji tidak akan pernah muncul dihadapanmu lagi dan mengganggu kehidupanmu.”

Tatapan Siwon melembut. Perlahan, tangan besar milik pria itu membelai dengan lembut kepala Haneul. “Baiklah.”

 

*****

 

 

(Haneul’s POV)

Aku menatap bayanganku dicermin. Dress putih polos dengan aksen renda dan juga sebuah cardigan biru langit, membalut tubuhku. Tak lupa pula aku menggenakan sepatu putih beraksen pita pemberian dari Siwon oppa. Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya aku menggunakan sepatu ini.

Aku menghela napas perlahan. “Hwaiting Haneul! Tersenyumlah! Buat kencan terakhir ini menjadi kenangan yang tak terlupakan.” Ujarku pada diri sendiri. Aku tersenyum lebar seraya membenahi tatanan rambutku.

(Haneul’s POV End)

 

*****

 

_AT TRAIN STATION_

Keadaan di stasiun tidak terlalu ramai. Mungkin akibat cuaca yang kurang bersahabat, sehingga membuat orang-orang malas untuk berpergian. Haneul dan Siwon berjalan beriringan sembari bergandengan tangan. Khusus untuk hari ini mereka akan bersikap seakan-akan mereka masih bersama-sama, seakan hubungan mereka masih baik-baik saja. Langkah kaki kedua insan itu berhenti di tempat perhentian kereta. Kereta menuju Jecheon akan datang sekitar 15 menit lagi.

“Hujan…” Ujar Haneul sembari menampung hujan dengan tangan kanannya. Siwon yang berdiri disamping gadis itu ikut menampung hujan dengan tangan kanannya. Pria berlesung pipi itu mencuri pandangan kearah Haneul dan dengan usilnya ia menyipratkan air hujan yang tadi ditampungnya kewajah Haneul.

“Ah oppa!” Pekik Haneul sebal. Gadis itu mengerucutkan bibirnya dan sedetik kemudian pekikan kaget terdengar dari bibir Siwon. Haneul tertawa puas saat melihat wajah Siwon yang basah akibat air yang tadi dicipratkannya.

“Yak yak! Jangan membalas! Kita impas.” Haneul berlari kecil menghindari Siwon. Tawa renyah terlepas dari mulut Haneul dan Siwon. Mereka berdua benar-benar menikmati momen-momen terakhir mereka tanpa memikirkan perpisahan yang cepat atau lambat akan menghampiri mereka.

Begitu kereta datang, Haneul dan Siwon melangkah dengan pasti memasuki gerbong kereta. Perjalanan terakhir itu mereka isi dengan canda tawa dan berbagai tingkah konyol. Mereka, terutama Haneul, sangat ingin mengingat kenangan ini dengan senyuman dan bukannya dengan tangisan.

*****

 

 

(Haneul’s  POV)

Hujan reda ketika kereta yang kami tumpangi sampai di Jecheon. Siwon oppa membantuku melangkah keluar dari gerbong kereta. Tangannya menggenggam tanganku dengan erat, persis seperti dulu. Aku belum pernah ke Jecheon sebelumnya, begitu juga dengan Siwon oppa. Ini adalah pertama kalinya bagi kami menginjakkan kaki ditempat indah ini.

“Kyaa!” Teriakku panic saat dengan usilnya Siwon oppa menarikku masuk ke sungai. Untung saja aku sempat melepaskan sepatuku. “Dingin…” leguhku.

“Kajja, kita menyebrang kesana. Bawa sepatumu!” Ajak Siwon oppa. Dengan bergandengan tangan, aku dan Siwon oppa menyebrangi sungai yang dalamnya hanya semata kaki kami ini. Siwon oppa menggenggam tanganku dengan erat, takut jika sewaktu-waktu aku terpeleset akibat bebatuan yang licin.

Kencan kami berjalan selayaknya kencan normal pada umumnya. Kami mencoba berbagai permainan yang ada ditempat ini dan juga melihat berbagai macam kerajinan tangan dan barang-barang antik. Aku tertawa geli saat melihat Siwon oppa memainkan salah satu permainan tradisional Korea yang dikenal dengan nama Nol-Ttwigi. Permainan ini dimainkan oleh 3 orang. 2 orang duduk dikedua sisi papan, sedangkan seorangnya lagi berdiri ditengah-tengah dan kemudian meloncat-loncat, sehingga kedua pemain lainnya akan meloncat dalam waktu yang berlawanan. Yah, permainan ini memang mirip dengan jungkat-jungkit.

Tawaku meledak saat melihat betapa seriusnya wajah Siwon oppa saat melompat. Kedua wanita yang duduk dikedua sisi papan juga tertawa lepas. Yah, biasanya permainan ini dimainkan oleh para yeoja. Wajar saja jika mereka tertawa geli melihat Siwon oppa yang melompat-lompat dengan penuh semangat.

“Aigoo… apa masa kecilmu kurang bahagia, eo?” Candaku sembari mengelap peluh yang membasahi wajahnya. Siwon oppa hanya tersenyum kecil. “Tadi itu menyenangkan loh. Sayang sekali kau tidak mau ikutan.” Ujarnya. Aku menggelengkan kepalaku sembari terkekeh geli. “Ini, minumlah. Setelah ini kita makan ya. Nan neomu baegopa.”

“Kajja. Ayo kita mulai wisata kuliner kita!”

 

________________________________________

 

Aku menyuapkan kimchi pedas kedalam mulut Siwon oppa. “Mashitaa~” Serunya seperti bocah. Melihatnya seperti ini membuatmu takkan menyangka bahwa ia adalah Choi Siwon, sang direktur SCTOWN.

“Neodo meodgo”

“Ne.” Jawabku dan kemudian menyuapkan kimchi kedalam mulutku sendiri.

“Ini pesanan ice cream-nya.” Ujar seorang ahjumma sembari meletakkan semangkuk besar es krim stroberi.

“Woah, oppa juga memesan ini?” Aku menatap penuh selera es krim berukuran jumbo yang ada dihadapanku. Aku memang sangat menggemari es krim, terlebih yang rasa stoberi. Aku suka sensasi asam dan manis yang kurasakan kala lidahku mengecap rasa es krim stroberi.

“Ne. Habiskan dulu kimchi-mu baru setelah itu kita makan es krim ini.”

Aku memakan dengan lahap es krim yang ada dihadapanku. Sesekali mataku terpejam, akibat rasa asam, manis dan dingin yang bercampur didalam mulutku. “Ya ya! Sekarang siapa yang masa kecilnya tidak bahagia, eo?” Siwon oppa balas meledekku. Aku hanya nyengir sembari kembali menyendokkan es krim stoberiku.

“Suapi aku!” Pinta Siwon oppa, membuatku tertawa kecil. Aku menyuapinya dengan sesendok es krim. “Mashita! Lagi lagi!”

(Haneul’s POV End)

 

*****

 

 

 

Disetiap perjumpaan pasti akan ada sebuah perpisahan…

Disinilah mereka berdua. Disebuah stasiun yang akan mengantarkan mereka pulang, dan yang akan menjadi saksi bisu perpisahan kedua insan muda ini. Haneul sengaja berjalan lambat-lambat, berharap bahwa saat ini tidak akan berakhir. Semenjak menapakkan kaki di stasiun, Haneul mendadak menjadi pendiam. Sedari tadi gadis itu berusaha untuk menahan air mata yang kapan saja siap meluncur bebas dari matanya.

Gadis itu mengeratkan genggaman tangannya dan Siwon.

‘Ku mohon Tuhan, jangan biarkan ini berakhir…’

“Haneul…” Siwon menghentikan langkahnya, membuat Haneul mau tak mau juga ikut menghentikan langkah kakinya. Siwon mengangkat dagu gadis itu. “Mianhe…” Ucapnya lirih. Haneul menggelengkan kepalanya. ‘Ani, jangan berkata apa-apa! Jebal…’ Pinta gadis itu dalam hati.

“Aku senang pernah mengenal yeoja sebaik dirimu. Menghabiskan waktu denganmu adalah hal yang menyenangkan dan takkan mungkin kulupakan. Satu yang kusesali… aku menyesal karena harus menyakiti gadis sebaik dirimu. Mianhe… jeongmal mianhe…”

Siwon memeluk Haneul dengan erat. Tangisan Haneul langsung pecah. Gadis itu menangis terisak-isak layaknya gadis kecil yang ditinggal mati ibunya. “An…andwae…” Isak Haneul. Gadis itu membenamkan wajahnya kedada Siwon. Ini akan menjadi yang terakhir kalinya gadis itu dapat merasakan kehangatan pelukan Siwon.

Siwon melepaskan pelukannya. Kedua bola mata pria itu menatap Haneul. “Aku punya dua tiket dengan tujuan yang sama namun berbeda waktu. Kau bisa mengambil salah satu dari tiket ini.” Siwon menyodorkan dua lembar tiket. Haneul mengambil asal selembar tiket dari tangan Siwon. “Pukul 5.” Ucap Haneul lirih.

“Punyaku pukul 4. Berarti aku yang pergi terlebih dahulu.” Balas Siwon. Siwon menghapus air mata Haneul dengan kedua jempolnya. “Jangan menangis, Haneul! Bukankah kau bilang ingin membuat kenangan ini menjadi kenangan yang indah dan penuh kebahagiaan?” Siwon berkata dengan nada lembut.

Tangisan Haneul semakin menjadi. “Jangan pergi… kumohon… Aku tidak bisa seperti ini, oppa…”

“Mianhe…”

TING TING TING

Bunyi pertanda kereta sudah sampai terdengar dengan jelas disepanjang stasiun. Haneul semakin mengeratkan genggamannya pada lengan Siwon.

“Andwae!”

“Dengar Haneul!” Siwon menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. “Ini adalah yang terbaik untuk kita. Kau akan mendapatkan namja yang jauh lebih baik daripada aku. Aku jamin itu!”

“Ani…”

“Aku harus pergi Haneul… gomawo… geurigo, mianhe…”

Genggaman tangan Haneul melemah sampai akhirnya terlepas dari lengan Siwon. Gadis itu menatap perih kearah namja yang sedang menaiki gerbong kereta. Tidak ingin merasa semakin hancur melihat namja-nya pergi, Haneul pun membalikkan tubuhnya. Gadis itu enggan melihat kereta yang dalam hitungan detik akan membawa namja yang dicintainya pergi. Siwon sendiri hanya menatap nanar pada gadis yang berdiri memunggungi kereta. Pria berlesung pipi itu menghela napas pelan.

‘Maafkan aku yang brengsek ini… Hiduplah dengan baik dan segeralah lupakan aku…’

*****

 

 

Kyuhyun memandang resah kearah pintu masuk kereta yang baru saja terbuka. Tadi pria itu mendapatkan pesan singkat dari Siwon yang menyuruhnya untuk datang kesini.

“Datanglah ke stasiun Haebaragi! Haneul membutuhkanmu…”

Itu yang dikatakan Siwon dalam pesannya, hingga membuat Kyuhyun langsung melesat pergi menuju ketempat yang dimaksud. Tatapan Kyuhyun terkunci pada sesosok gadis cantik yang tengah berjalan dengan gontai. Hati Kyuhyun sakit melihat keadaan Haneul yang seakan kehilangan jiwanya.

Langkah gontai Haneul terhenti kala sepasang mata sembabnya menatap Kyuhyun yang berdiri tegak dihadapannya. “Kyuhyun oppa!” Haneul berlari menubruk tubuh Kyuhyun. Gadis itu memeluk tubuh Kyuhyun dengan erat. “Ia pergi… hiks… semuanya berakhir…” Isak Haneul. Kyuhyun mengeratkan pelukannya.

“Menangislah sepuasmu. Tapi setelah ini, berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan menangis lagi. Terlebih karena pria itu.” Ucap Kyuhyun masih sambil memeluk Haneul. “Dan aku juga berjanji takkan membuatmu menangis. Aku akan selalu ada disampingmu dalam keadaan apapun. Maka dari itu, izinkanlah aku untuk membuktikannya, Haneul…”

 

-The End-

Langsung aja ya, FF ini aku kerjain disela-sela kesibukan aku tes universitas. Yah, memang ngga terlalu bagus, tapi juga ngga jelek jelek amat kok LOL. Beberapa scene-nya terinspirasi dari WGM Taecyeon Gui Gui (Sumpah deh, aku cinta bgt ama couple itu!)

Leave some comment, so i’ll know your opinion. Thanks 🙂

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

4 tanggapan untuk “This Is The End Of Us

  1. So suitt deh.. Uh kasian haneul. Siwon jahat banget… Kebayang gak si? Aku nyesek deh bacanya. Tp pas kyuhyun dateng jd lega gitu deh hehe…
    Jd kyu sama haneul kan… Siwon sana sana pergi aja hush hush #dicekek-siwon
    Ff nya daebak… Bahasanya bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s