Diposkan pada Chapters

I Love You For Now and Forever (Part 1)

ff

 

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title     : I Love You For Now and Forever
Type    : Chaptered
Genre  : Romance, Friendship, Life

Cast :
– Mario Maurer
– Aom Sucharat Manaying
– Apinya Sakuljaroensuk

_______________________________________________________

 

_IN 2001_

“Pokoknya Mario itu pacarku!” Pekik Aom sebal. Orang-orang yang sedari tadi menggoda gadis kecil itu tertawa geli melihat reaksi berlebihan yang diberikan oleh Aom. Gadis kecil berambut panjang itu langsung berlari menghampiri anak laki-laki tampan yang tadi diakuinya sebagai kekasihnya.

Mario, nama anak laki-laki tampan itu. Ia memiliki darah Thailand dan Jerman yang mengalir di tubuhnya. Dan tentu saja, paras tampannya itu sedikit banyak dipengaruhi oleh percampuran etnis yang ada ditubuhnya. Mario lebih tua 4 tahun dari Aom yang berusia 6 tahun.

“Phi!” (panggilan untuk kakak laki-laki) Aom memeluk Mario dengan erat. Mario hanya tertawa kecil sembari mengusap kepala gadis kecil itu.

“Ada apa?” Tanya Mario kecil lembut. Aom menatap Mario dengan puppy eyes andalannya. “Mereka tidak percaya bahwa Phi adalah pacarku.” Adu gadis kecil itu yang hanya ditanggapi dengan senyuman malu-malu Mario.

“Tidak usah mempedulikan mereka.”

“Baiklah. Lagipula yang terpenting phi Mario adalah kekasihku.” Ucap Aom tanpa malu.

Aom dan Mario. Semua yang mengenal mereka pasti tahu bagaimana kedekatan kedua anak kecil ini. Aom yang ceria dan cerewet, serta Mario yang pendiam dan tenang. Mereka bagaikan satu paket yang saling melengkapi. Aom tidak segan-segan untuk mengatakan pada setiap orang yang ia jumpai bahwa Mario adalah kekasihnya. Dan hal tersebut tentu saja menjadi bahan candaan bagi orang-orang yang mendengarnya. Namun baik Aom dan Mario tidak pernah memusingkan hal tersebut. Wajar saja, mengingat bahwa mereka hanyalah anak kecil yang masih duduk dibangku sekolah dasar.

Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia Aom dan Mario, olokan semua yang mengatakan bahwa mereka adalah sepasang kekasih membuat kedua remaja tersebut merasa risih dan tidak nyaman. Hingga akhirnya tanpa mereka sadari mereka mulai saling memberikan jarak satu sama lain. Jarak yang awalnya sedikit kian lama menjadi banyak… semakin banyak… hingga akhirnya berpisah…

 

 

*****

 

 

_IN 2013_

Aom membuka matanya dengan susah payah, seakan ada lem yang merekatkan kedua matanya. Gadis yang sekarang berusia 18 tahun itu merenggangkan kedua tangannya.

“New day, new life…” Gumam Aom sembari menatap langit-langit kamarnya.

Ya, hari ini adalah hari pertama gadis itu menjejakkan kakinya di Universitas. Aom bangkit dari posisi tidurnya dan langsung bergegas untuk bersiap-siap menempuh hari pertamanya di universitas.

 

*****

 

BUGH!

BRAKK!

“Arrgh!”

Suara-suara pukulan maupun erangan terdengar menggema disebuah lapangan kosong. Disana, tepat ditengah-tengah lapangan, terdapat seorang pria tampan yang tengah memukuli lawannya dengan membabi buta. Pria tampan itu seakan tak kenal lelah. Meskipun peluh sudah membanjiri wajah tampannya namun semangat pria itu tak sedikitpun padam.

“Mario, dibelakangmu!” Teriak salah seorang teman pria tampan yang bernama Mario itu. Mario langsung membalikkan badannya dengan sigap dan… BUGH! Pria yang baru saja hendak memukulnya langsung terkapar tak berdaya direrumputan yang empuk.

“Ayo kita pergi!” Ajak Mario pada teman-temannya yang lain. Dengan santai mereka berenam melengggang pergi meninggalkan lawan-lawan mereka yang sudah terkapar tak berdaya.

22587_26280_ww_hh

 

*****

 

O5

Aom tersenyum ramah pada orang-orang yang ditemuinya. Ia hanya berharap bahwa ia akan dapat memiliki banyak teman selayaknya saat ia masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Sembari berjalan mengintari kampusnya yang berarsitektur tradisional-modern Thailand, Aom juga mengamati keadaan sekitarnya yang tentunya berbeda dengan sekolahnya dulu.

“Aom!” Panggil seseorang. Aom langsung menoleh dan nyaris berteriak kegirangan saat melihat Apinya, teman sebangkunya saat kelas 1 SMA.

img-img

“Yak, kau juga berkuliah disini?” Aom memeluk Apinya erat. Apinya tertawa kecil sembari membalas pelukan Aom. “Ya, pada akhirnya aku memutuskan untuk memilih unversitas ini.” Jawab Apinya sembari tersenyum lebar.

“Jurusan apa?” Tanya Aom sembari menatap teman lamanya itu.

“Jurusan Performing Arts.”

“Wah, kau benar-benar serius ingin menjadi artis rupanya.”

Apinya tertawa mendengar perkataan Aom yang memang benar adanya. Dari dulu gadis berkulit hitam manis ini memang sangat ingin menjadi seorang aktris. “Kau sendiri?” Apinya balik bertanya.

“Komunikasi.” Jawab Aom.

“Hey, jangan bilang kau mau masuk ke universitas ini karena pria itu!” Apinya menatap Aom penasaran, sedangkan Aom hanya menatap temannya ini bingung. Ia masih belum mengerti arah pembicaraan Apinya. “Pria mana?” Tanya Aom bingung. Apinya membisikkannya ketelinga Aom. “Cinta pertamamu itu…”

 

*****

 

 

Aom mendudukkan tubuhnya dibangku taman belakang kampus. Satu jam lagi gadis itu akan kembali masuk kelas. Aom menatap menerawang kedepan, tepatnya kesebuah danau yang lumayan besar yang terdapat di taman belakang itu. Tidak banyak orang yang berada disana dan hal tersebut membuat Aom merasa senang dan nyaman. Gadis cantik itu memang agak susah untuk beradaptasi dalam lingkungan baru.

Jika boleh jujur, mungkin perkataan Apinya tempo lalu itu memang benar. Salah satu alasan mengapa ia memilih untuk melanjutkan pendidikannya disini adalah karena pria itu. Cinta pertamanya, Mario Maurer…

Sudah 3 tahun lamanya Aom tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan Mario. Setiap gadis itu bertandang ke rumah Mario, pria tampan itu pasti sedang tidak ada di rumah. Atau kalaupun ada, dia tidak pernah mau keluar dari kamarnya hanya untuk sekedar menyapa Aom. Yah, semenjak beberapa tahun yang lalu hubungan kedua insan ini merenggang hingga akhirnya benar-benar menjauh, seakan kedua orang ini tak saling mengenal.

Keadaan semakin runyam kala kedua orang tua Mario memutuskan untuk bercerai. Mario kemudian memutuskan untuk tinggal seorang diri sehingga makin hilanglah kesempatan Aom untuk bertemu dengan pria yang sampai sekarang masih menempati ruang kosong dihatinya itu.

‘Eh, kalau tidak salah ia kuliah di jurusan bisnis, kan?’ batin Aom.

Aom berjalan dengan agak canggung melintasi ruang demi ruang yang ada didalam gedung jurusan bisnis. “Tidak ada.” Desah gadis itu lirih. Perasaan kecewa menyelubungi dirinya. Ia hanya ingin bisa bertemu dengan Mario. Apa itu terlalu berlebihan?

 

*****

 

 

Mario baru saja keluar dari toilet. Napasnya terasa tercekat saat ia melihat seorang gadis cantik yang ia amat sangat kenali. Mario tidak memanggil Aom. Ia hanya diam mengamati gadis itu dari kejauhan.

‘Sedang apa dia disini? Ah ya, tahun ini kan dia sudah menjadi seorang mahasiswi.’

Mario tersenyum hangat melihat gadis yang sudah tiga tahun tidak pernah dilihatnya itu. Ada perasaan senang yang menyelubungi hati pria tampan blasteran Jerman-Thailand itu.

“Mario, let’s go man!” Gun merangkul pundak Mario dan membawa pria tampan itu pergi. Sebelum benar-benar pergi, Mario menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang. Ia ingin menatap Aom sekali lagi.

‘Long time no see my sweet Angel…’

 

*****

 

“Aom!”

“Iya ma!” Teriak Aom dari dalam kamar. Tak berapa lama pintu kamar terbuka dan menampakkan sang ibu yang tengah memandangnya heran. “Kenapa lemas seperti itu, hah?” Tanya ibu Aom yang merasa heran melihat sang anak gadis berbaring malas-malasan sembari menatap langit-langit kamar.

“Tidak ada. Aku hanya bosan.” Jawab Aom.

Ibunya tersenyum. “Ehm, bagaimana jika kau menemani ibu ke rumah bibi Nam?”

Seketika Aom terbangun dari posisi terlentangnya. “Bibi Nam?” Gadis itu kembali bertanya. Kali ini ia menjadi bersemangat. Bibi Nam adalah ibunda dari Mario. Setelah bercerai dari suaminya wanita ini menjadi sangat workaholic dan lebih banyak menghabiskan waktunya di Singapore daripada di Thailand.

“Ey, kenapa tiba-tiba menjadi semangat, eo?” Ibu memandang menyelidik. Aom hanya tersenyum tiga jari. “Aku kan hanya senang akan bertemu dengan bibi Nam. Memang salah?”

“Ingin bertemu dengan bibi Nam atau dengan anaknya?” Tanya ibu dengan nada menggoda yang sukses membuat wajah Aom memerah. Namun dengan segera Aom langsung membantah dan bergegas pergi ke kamar mandi guna untuk membersihkan tubuhnya.

“Ya Tuhan, aku mohon pertemukanlah aku dengan phi Mario. Aku mohon… hanya sebentar saja…”

 

*****

 

 

Aom mengenakan dress ungu bermotif bunga-bunga kecil favoritnya. Dress tersebut menampakkan bahunya yang putih mulus. Rambut coklatnya dibiarkan tergerai indah dibahunya. Yah, gadis itu benar-benar mempersiapkan penampilannya seapik mungkin demi bertemu dengan Mario.

Aom berdiri dengan harap-harap cemas. Akankah ia bertemu dengan Mario? Tapi bukankah Mario sudah tidak tinggal di rumah ini lagi? Aom bergelut dengan pikirannya ketika pintu depan rumah mewah itu terbuka. Jantung Aom berdetak semakin cepat. Ia gugup.

“Rin!”

“Nam!”

Kedua wanita dewasa itu saling berpelukan melepas rindu. “Aduh, aku rindu sekali denganmu. Sudah setahun lebih kita tidak bertemu.” Ujar Nam.

Aom tersenyum kecil melihat pemandangan tersebut. Dalam hati ia masih berharap tiba-tiba Mario akan muncul dan yah… mungkin mereka bisa memperbaiki hubungan mereka atau malah memulai semuanya dari awal.

“Ya ampun, sudah lama sekali bibi tidak melihatmu. Kau semakin cantik saja, Aom!” Bibi Nam memeluk Aom dan mencium pipi kanan dan kiri gadis itu. Aom tersenyum manis.

“Ayo ayo masuk!” Ajak bibi Nam.

___________________________________________________

 

Aom menatap jam tangannya yang berwarna silver. Desahan putus asa terdengar dari mulut gadis cantik itu. Sudah satu jam ia berada di rumah tersebut, tapi tak tampak sedikitpun tanda-tanda kehadiran Mario. Perasaan sedih dan hampa melanda hati Aom. Tak henti-hentinya ia memohon dalam hati agar dapat bertemu dengan Mario walaupun hanya sebentar saja.

CKLEK!

Suara pintu yang terbuka memberikan secercah harapan pada Aom. Apalagi saat bibi Nam tersenyum sumringah pada orang yang baru datang tersebut sembari berkata, “Nah ini dia yang sudah ditunggu-tunggu.”

Aom tak dapat menahan senyumannya. Gadis itu begitu senang. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur pada Tuhan. Namun…

“Selamat datang Fei!”

Senyuman yang tadinya terpatri indah diwajah Aom seketika sirna saat tahu bahwa yang datang adalah teman ibunya dan bibi Nam, bukannya Mario. Aom tersenyum miris. ‘Jangan terlalu banyak berharap, Aom. Dia tidak ada disini.’

Disaat harapan Aom sudah mulai sirna, tiba-tiba dari arah tangga terdengar suara langkah kaki. Jantung Aom berdebar semakin kencang, sebab kali ini dia tahu pasti bahwa langkah kaki itu pastilah milik Mario mengingat bahwa kamar Mario memang terletak dilantai 2. Aom menantikan langkah demi langkah Mario dengan hati yang berdebar tak karuan, sampai pada akhirnya dengan mata kepalanya sendiri Aom melihat sosok pria tampan itu.

“Wah Mario, sudah lama bibi tidak melihatmu.” Ujar ibu Aom. Mario tersenyum ramah dan menyapa kedua teman ibunya, Rin dan Fei. Rin menoleh menatap putrinya yang tengah tersipu menatap Mario.

“Ada yang merindukanmu loh.” Ujar Rin sembari menatap putrinya. Mario mengikuti arah pandangan Rin dan pria itu tertegun mendapati Aom yang berdiri hanya beberapa meter dihadapannya.

Aom gelapan. Dengan segera ia langsung bangkit dari duduknya ketika Mario berdiri tepat dihadapannya sembari mengulurkan tangan. “Lama tak berjumpa.” Ucap Mario sembari tersenyum.  Aom bersumpah bahwa ini merupakan senyuman terindah yang pernah dilihatnya dalam 3 tahun belakangan ini.

“Ya, lama tak berjumpa.”

Aom tak henti-hentinya mencuri pandang kearah Mario yang tengah duduk tak jauh dari hadapannya. Mario tampak sibuk dengan ponselnya. Ingin rasanya Aom menghampiri pria itu dan memulai percakapan selayaknya mereka dulu. Namun gadis itu sadar bahwa semuanya telah berbeda. Ada tembok besar yang membatasinya dengan Mario.

“Halo? Hah, kau sudah tahu dimana Name tinggal? Bagus. Kirimkan alamatnya, aku akan segera kesana.” Mario berbicara ditelepon. Setelah ia mengakhiri sambungan telponnya, pria tampan itu langsung bergegas pergi setelah sebelumnya ia berpamitan pada sang ibunda.

Aom menatap kepergian Mario dengan sedih. Dalam hati gadis itu bertanya-tanya tentang Name. Nama seorang gadis yang tadi disebut oleh Mario.

‘Ya Tuhan, jangan bilang kalau gadis itu adalah kekasih phi Mario!’

 

 

-To Be Continued-

Yuhuuu~ ini FF dengan latar belakang Thailand pertama aku. Sebenarnya cast awal FF ini adalah Kyuhyun sama Jiyoung Kara. Tp setelah nonton ulang film-film Mario, ngga tau kenapa aku malah ngerasa klo karakter cowoknya lebih cocok buat Mario drpd Kyuppa. Dan berhubung cowoknya orang Thailand, maka aku juga pake aktris Thailand buat meranin tokoh ceweknya.

Ok, aku harap kalian suka sama FF aku kali ini. Don’t forget to leave some comment. Byee 😀

 

 

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

5 tanggapan untuk “I Love You For Now and Forever (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s