Diposkan pada Chapters

After The Storm (Part 7)

After The Storm

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title     : After The Storm
Type    : Chaptered
Genre  : Romance, Friendship, Family, Drama
POSTER : moonlight08 

Cast :
– Jin Seyeon
– Cho Kyuhyun
– Kim Woo Bin
– Kim Taeyeon
– Kim Jongin
– Jung Krystal

_____________________________

_AT CHO CORPORATION_

“Mulai hari ini saya resmi mengumumkan Cho Kyuhyun, putra kedua saya, sebagai salah satu pemegang saham di  perusahaan ini.”

Hampir semua pemegang saham dan beberapa petinggi perusahaan yang hadir dalam rapat tahunan itu bertepuk tangan sebagai sambutan atas bergabungnya Cho Kyuhyun kedalam perusahaan mereka. Diantara mereka, hanya Siwonlah yang tidak memberikan reaksi apapun. Pria tampan itu hanya diam tanpa mau membuka suara. Sedari tadi ia hanya melayangkan tatapan dinginnya kearah Kyuhyun yang duduk dihadapannya. Kyuhyun sendiri pura-pura tak menyadari itu. Ia sudah terlalu lelah menghadapi semuanya.

Kebencian Siwon semakin menjadi-jadi. Ingin rasanya pria itu memberontak keras, namun apa daya, ia tidak memiliki kuasa yang cukup untuk menentang keinginan ayahnya.

“Selamat bergabung di Cho Corporation. Kami yakin bahwa anda tidak akan mengecewakan kami.” Ujar salah seorang petinggi di perusahaan. Kyuhyun tersenyum sopan menanggapi berbagai macam ucapan selamat dan sambutan yang ditujukan padanya.

*****

 

Seyeon berjalan tanpa arah. Langit sudah menunjukkan petang, malam akan segera tiba. Seyeon merutuki kebodohannya yang meninggalkan tas dan dompetnya didalam mobil. Gadis itu hanya mempunyai sedikit uang didalam saku seragamnya. Sangat sedikit, bahkan gadis itu tidak dapat menggunakannya untuk ongkos pulang. Beruntung ponselnya tersimpan aman didalam saku.

Seyeon duduk dibangku taman. Gadis itu kelelahan dan juga kelaparan. Uangnya yang sedikit itu sudah dipakai untuk membeli sebotol minuman dan sekarang gadis itu benar-benar tidak mempunyai uang sepeser pun. Seyeon duduk diam. Ia tidak ingin pulang ke rumah. Hatinya masih sakit kala mengingat perbuatan ibunya.

Rasa sepi menyelubungi hati gadis berparas cantik itu. Dikeheningan malam ia duduk sendiri, merenungi nasibnya yang tidak pernah berubah. Ia hanya ingin bisa memiliki kehidupan layaknya remaja biasa, tapi ibunya selalu mengendalikan hidupnya. Seyeon merasa ia seperti burung disangkar emas. Ia merasa seperti property ibunya yang bisa diperlakukan seenaknya.

Seyeon meronggoh sakunya. Gadis itu menatap ponselnya yang sedari tadi ia matikan. Ia yakin ibunya sekarang sedang kalang kabut mencarinya. Seyeon memandangi layar ponselnya. Ada satu nama yang terlintas dibenak gadis itu. Namun ia ragu apakah ia harus meminta bantuan namja itu atau tidak. Setelah berdebat lumayan lama dengan dirinya sendiri, Seyeon memutuskan untuk meminta bantuan namja tersebut.

“Tumben kau menelponku. Ada apa?”

“Kim Woo Bin… nan… aku butuh bantuanmu.”

___________________________________

Woo Bin turun dari motornya. Pria itu berlari kecil menuju bangku taman yang diduduki oleh Seyeon. Seyeon menoleh kearah Woo Bin, dan Woo Bin dapat melihat betapa mengenaskannya gadis itu hari ini. Mata sembab, wajah pucat, dan penampilan yang berantakan. Sekali melihat Woo Bin langsung tahu bahwa ada hal yang buruk terjadi pada calon adik tirinya itu.

“Ada apa denganmu. Kau tidak terlihat baik.” Woo Bin berkata sembari memperhatikan wajah Seyeon.

“Aku memang sedang tidak baik.” Seyeon menunduk. Kemudian ia memandang Woo Bin sambil tersenyum kecil. “Terima kasih sudah mau datang. Maaf aku memintamu datang kesini. Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa.” Ucap Seyeon lirih.

Woo Bin masih memandang Seyeon. “Gwenchana. Bukankah kita teman?” Woo Bin tersenyum kecil.

“Apa yang terjadi? Apa kau ada masalah dengan ibumu?”

Seyeon mengangguk. Gadis itu kemudian menceritakan permasalahannya dengan ibunya. Gadis itu mengutarakan kekecewaan yang selama ini dipendamnya. Ini pertama kalinya Seyeon bercerita panjang lebar pada seseorang mengenai masalah dalam kehidupannya. Bahkan ia tidak pernah bercerita pada Jiyeon ataupun Kyuhyun yang notaben lebih dekat dengannya.

Woo Bin mendengarkan dengan seksama. Ia merasa iba melihat keadaan Seyeon. Ia memang tahu betapa otoriter dan protektifnya Eun Sang pada Seyeon, namun ia tidak pernah menyangka bahwa Eun Sang akan bertindak sejauh itu.

“Apapun masalahmu, kabur bukanlah jalan keluar yang baik. Justru semuanya akan menjadi lebih rumit.” Ujar Woo Bin.

“Aku tahu. Tapi aku terlalu kecewa. Untuk saat ini aku tidak sanggup untuk bertemu dengan ibu. Bertemu dengannya hanya akan membuatku semakin membenci dirinya. Aku tidak mau seperti itu.”

“Arasso. Yah, setidaknya kau kabur dari rumah dan bukannya bunuh diri.”

Mendengar perkataan Woo Bin membuat Seyeon tertawa getir. “Jangan kau pikir aku tidak pernah melakukannya.”

Woo Bin tertawa kecil mendengar perkataan Seyeon. Ia pikir gadis itu sedang bercanda. Namun melihat ekspresi Seyeon yang begitu serius membuat Woo Bin mengernyit heran. Tawa pria itu berhenti. Ia menatap Seyeon penasaran. “Yak, kau serius?” Tanyanya.

Seyeon menatap Woo Bin. “Tentu saja. Apa wajahku terlihat jika aku sedang membual?” Woo Bin menatap Seyeon kaget. Seyeon menggulung lengan bajunya dan kemudian menunjukkan pergelangan tangan kirinya yang terdapat bekas luka yang sudah mulai menghilang. “Lihat bekas luka ini? Aku menyayatnya beberapa bulan yang lalu.” Ujar Seyeon santai, seakan itu adalah hal lumrah yang dilakukan oleh setiap orang.

Woo Bin memandang kaget kearah gadis cantik itu. Ia tidak pernah menyangka jika dibalik sikapnya yang santai dan tenang, ternyata Seyeon menyimpan begitu banyak kepedihan sehingga membuat gadis itu nekat melakukan percobaan bunuh diri.

“Kau bisa menginap di tempatku untuk saat ini. Setidaknya itu lebih baik daripada kau berkeliaran tidak jelas dijalanan seperti ini.” Woo Bin menawarkan bantuan. Entahlah, namja itu hanya tidak ingin jika Seyeon kembali melakukan hal-hal yang dapat membahayakan nyawanya sendiri. Jika gadis itu berada disekitarnya maka ia akan dapat memantau keadaan Seyeon.

“Di Zeus hotel? Tapi nanti ayahmu akan tahu dan ia pasti akan langsung menghubungi ibuku.”

“Tenang saja. Aku akan mengurus semuanya. Keberadaanmu tidak akan diketahui oleh ibumu. Aku jamin itu.” Ujar Woo Bin.

Seyeon mengangguk setuju. Toh gadis itu memang tidak memiliki tujuan saat ini.

*****

 

Makan malam keluarga Cho terasa amat dingin, sedingin udara di kutub selatan. Hanya Cho Hana-lah yang sedari tadi berusaha untuk mencairkan suasana dingin tersebut, namun hingga detik ini usahanya belum membuahkan hasil. Cho Seunghwan sendiri tidak ingin repot-repot untuk membuang tenaga.

“Kyuhyun-ah, eomma bangga sekali padamu. Mulai sekarang kau harus giat belajar agar kau bisa segera turun tangan membantu di perusahaan. Kau tidak boleh membuat malu appa-mu. Contohlah hyungmu itu. Banyak-banyaklah belajar dari Siwon.” Ujar Hana, yang tidak terlalu ditanggapi oleh Kyuhyun.

Siwon bangkit dari kursinya. “Aku sudah selesai. Aku ingin kembali ke kamar.” Ucapnya datar dan kemudian beranjak pergi.

“Chakkaman!” Seru Cho Seunghwan. Siwon membalikkan tubuhnya guna untuk menatap sang appa. Tuan Cho berdeham sebentar sebelum ia kembali membuka suara. “Kau belum memberi selamat pada dongsaengmu.” Ucapnya yang sarat akan perintah. Siwon menahan kesal dihatinya. Ia menatap enggan kearah Kyuhyun. Kyuhyun dapat melihat kemarahan yang sangat mendalam dikedua bola mata Siwon.

“Chukkae.” Siwon berkata dengan nada dingin. Tanpa senyum, jabat tangan, atau pelukan hangat. Semuanya terkesan dingin dan dipaksakan. Kyuhyun tersenyum kecil. “Gomapta.” Gumamnya nyaris berbisik. Ia terlalu kelu untuk berkata-kata didepan hyungnya itu.

*****

 

_AT ZEUS HOTEL, WOO BIN’s ROOM_

“Kau bisa tidur disini.” Ujar Woo Bin mempersilahkan Seyeon untuk menginap di kamarnya. Seyeon menatap Woo Bin ragu. Seakan mengerti arti tatapan itu, Woo Bin kembali membuka suara. “Yak, jangan khawatir, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Aku sengaja tidak memesan kamar yang lain sebab staf hotel pasti akan melapor pada ayahku, dan ayahku tentu saja akan segera melapor pada ibumu.” Jelas Woo Bin.

Seyeon mengangguk mengerti. “Arasso. Gomawo.” Ucap gadis itu tulus.

“Istirahatlah disini, aku akan membelikan makanan untukmu.”

_______________________________________

Woo Bin baru saja melangkah keluar dari lift. Pria itu sempat berpapasan dengan seorang wanita muda. Woo Bin terdiam dan kemudian menoleh kearah wanita yang baru saja masuk kedalam lift itu. Woo Bin merasa familiar dengan wanita itu. Sekilas ingatan muncul dipikiran Woo Bin dan seringai sinis pun muncul dibibir namja beralis tebal itu.

Woo Bin mencoba membuka ruang kerja ayahnya, namun ruangan itu terkunci dari dalam. Ini aneh, sebab ayahnya jarang mengunci ruangan tersebut, kecuali jika ia sedang tidak berada didalam sana. Namun Woo Bin yakin jika ayahnya ada didalam, mengingat mobil mewah sang ayah masih terparkir didepan lobby hotel.

Woo Bin terpaksa mengetuk pintunya, dan tak lama pintu terbuka. Woo Bin menatap ayahnya curiga.

“Ada apa?” Tanya Heung Soo.

Woo Bin tersenyum kecil. “Aniyo, hanya tiba-tiba ingin bertemu denganmu saja.” Woo bin melangkah masuk kedalam kantor sang ayah tanpa Heung Soo sempat melarangnya.

Ruangan berdesain minimalis itu sepi. Hanya ada mereka berdua disana. Namun Woo Bin tidak mau menyerah begitu saja. Sorot matanya menangkap bilik kecil disudut ruangan, tempat ayahnya menyimpan berkas-berkas penting. Dengan langkah yang lebar-lebar Woo Bin berjalan menuju bilik tersebut.

KREK!

Dengan sekali hentakan ia membuka pintu tersebut. Woo Bin tersenyum sinis begitu ia mendapati seorang wanita muda dengan pakaian yang berantakan tengah berdiri didalam sana. Wanita itu adalah wanita yang beberapa saat lalu ditemuinya didepan lift. Wanita tersebut tersenyum canggung kearah Woo Bin.

“An…annyeong Woo Bin-ah. Sudah lama kita tidak bertemu.”

Woo Bin menoleh kearah ayahnya. Heung Soo sendiri tidak dapat menatap putra tercintanya itu. Ia sudah tertangkap basah. Pria paruh baya itu memilih untuk diam.

“Kau bahkan akan bertunangan dalam hitungan hari, dan kau masih sempatnya bermain-main dengan wanita lain. Kau benar-benar luar biasa tuan Kim.” Woo Bin berkata dengan nada menghina. Pria itu berdecak. “Dan kau menyuruhku untuk menjadikanmu panutanku? Aku pasti sudah gila jika aku menjadikanmu panutanku.”

Woo Bin menghela napas. Masih dengan nada yang sinis, ia berkata, “Silahkan lanjutan kegiatan kalian. Aku pergi.”

*****

 

_IN THE CLASS_

Jongin melirik kearah bangku Seyeon yang kosong. Sejak kemarin namja itu tidak melihat Seyeon di kelas. Kabar terakhir yang ia dengar, kemarin Seyeon buru-buru pulang bahkan tanpa pamit kepada satu orang pun. Dan semua itu terjadi setelah ia kembali dari kantor kepala sekolah.

‘Apa ada sesuatu buruk yang terjadi?’ Batin Jongin.

Bahkan Jiyeon yang notabennya adalah teman terdekat Seyeon di sekolah juga tidak tahu menahu mengenai keberadaan mantan kekasihnya itu.

Bell sekolah berbunyi, menandakan bahwa jam pelajaran telah usai dan tiba waktunya istirahat. Jongin masih berdiam ditempatnya. Ia malas untuk pergi ke kantin. Ia bahkan menolak tawaran ke kantin dari beberapa orang teman dekatnya.

“Jongin-ah!” Krystal tiba-tiba datang, dan seperti biasa langsung berlari kecil menghampiri Jongin. Gadis itu tersenyum manis. “Tidak ke kantin?”

Jongin menggeleng. “Aku sedang malas. Kau pergi saja sendiri.” Ujar namja itu.

“Gwenchana, aku sudah tahu bahwa akan jadi begini, maka dari itu…” Krystal mengeluarkan kotak bekalnya. “Tara! Spagethi special made by Krystal Jung!” Seru Krystal sembari memamerkan spagethi hasil buatannya itu. Jongin hanya menanggapinya datar, membuat Krystal merasa agak sebal.

“Yak, aku bersusah payah membuat ini untukmu. Setidaknya hargailah usahaku ini.” Krystal menatap Jongin kesal. Jongin menghela napas dan kemudian menoleh kearah Krystal. “Gomawo Krystal Jung…” Jongin berkata sembari tersenyum paksa.

“Yak! Kau terlihat aneh dengan senyum paksamu itu. Wae? Apa ada sesuatu yang terjadi?” Tanyanya. Jongin hanya diam dan lebih memilih untuk memakan spagethi buatan Krystal itu.

“Bagaimana rasanya?” Tanya Krystal sembari berharap-harap cemas. Setidaknya gadis itu berharap bahwa hasil kreasinya itu layak untuk dimakan oleh manusia. Ia tidak ingin namja pujaannya itu sakit sia-sia hanya gara-gara spagethi buatannya.

“Lumayan. Setidaknya masih bisa dimakan.”

Yah, walaupun bukan itu jawaban yang diharapkan oleh Krystal, namun setidaknya Jongin bersedia memakan hasil masakannya itu. Krystal melirik kearah bangku Seyeon yang berselang tiga bangku dari tempat Jongin. Tidak ada tas Seyeon disana, menandakan bahwa si pemilik tidak datang hari ini. Seketika Krystal mengingat percakapan yang kemarin tidak sengaja didengarnya itu. Ia yakin, Seyeon tidak masuk hari ini ada kaitannya dengan kejadian kemarin. Krystal ingin menceritakannya pada Jongin, namun gadis itu mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin Jongin jadi mengkhawatirkan dan kembali memikirkan Seyeon.

*****

 

“Kau yakin ingin masuk kedalam?” Tanya Woo Bin sembari memperhatikan ekspresi Seyeon. Seyeon mengangguk. “Kau sendiri yang mengatakan bahwa kabur tidak akan menyelesaikan masalah, bukan?” Seyeon menatap Woo Bin dalam. Woo Bin tersenyum kecil dan kemudian mengangguk. “Arasso. Tapi persiapkanlah hatimu, sebab eommamu pasti akan sangat marah.”

Seyeon tertawa kecil. “Aku jadi tidak sabar ingin melihat ekspresinya itu.”

“Masuklah kedalam. Aku harus pulang sekarang.” Ujar Woo Bin.

Seyeon menatap calon kakak tirinya itu. “Gomawo atas bantuanmu. Kau ternyata tidak menyebalkan seperti yang kuduga.”

“Kuanggap itu pujian. Aku pergi. Sampai bertemu di hari pertunangan.”

Seyeon terdiam. Gadis itu jadi kembali ingat bahwa 3 hari lagi ibunya akan bertunangan dengan Heung Soo dan 3 bulan kemudian mereka akan melangsungkan pernikahan. Semuanya sudah dirancang dengan baik oleh orang tua mereka.

‘Yah, pada akhirnya aku memang tidak akan bisa menentang keinginan ibuku…’

*****

 

Woo Bin melangkah melewati satu demi satu meja. Pria itu sedang berada disalah satu café didaerah Myeondong. Taeyeon yang memintanya untuk datang kesana. Setelah seminggu lebih mereka berperang dingin, Taeyeon akhirnya menelponnya. Woo Bin berpikir bahwa Taeyeon pada akhirnya akan menyerah dan ingin kembali memperbaiki hubungan mereka.

“Mian, aku terlambat.”

Taeyeon menatap Woo Bin. “Gwenchana. Aku juga baru datang. Aku sudah memesankanmu minuman.”

“Gomawo.” Woo bin diam, sebelum pada akhirnya ia memutuskan untuk membuka suara. “Aku yakin ada yang kau ingin sampaikan padaku.” Ujar Woo Bin.

Seorang pelayan datang membawakan 2 gelas minuman yang tadi Taeyeon pesan. Woo Bin meminum minumannya sembari menunggu perkataan yang akan keluar dari mulut Taeyeon. Taeyeon sendiri terlihat bimbang. Namun gadis itu berusaha untuk memantapkan hatinya. Dengan perlahan gadis itu menyentuh tangan Woo Bin yang berada diatas meja. Taeyeon menggenggamnya pelan. “Nan jeongmal mianhe… aku tahu aku sudah mengecewakanmu. Keunde, aku tidak bisa melakukan ini lagi… Nan…”

“Geumanhe!” Ujar Woo Bin dengan dingin.

Taeyeon menatap sendu kearah Woo Bin. “Woo Bin-ah, nan…”

“Aku bilang hentikan!” Ujar Woo Bin dengan nada yang agak keras. Taeyeon terdiam. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca. Woo Bin menatap sendu kearah Taeyeon. Pria itu terlihat begitu hancur. “Tidak bisakah kau memikirkannya lagi?”

“Mian… Aku ingin mengakhiri hubungan ini. Aku tidak ingin menyakitimu lebih jauh lagi. Aku tidak ingin hidup dalam kebohongan.” Suara Taeyeon bergetar ketika ia mengatakannya. Tangan Woo Bin mengepal. “Cho Kyuhyun… ini semua karena dia, kan?” Woo Bin tersenyum sinis.

“Jangan salahkan Kyuhyun. Keputusan ini murni keputusanku sendiri. Aku menyayangimu Woo Bin-ah, keunde aku tidak mencintaimu…”

*****

 

_AT THE ENGAGEMENT PARTY_

Pesta pertunangan berlangsung meriah dan dihadiri oleh orang-orang kalangan atas. Wajah bahagia yang terpatri diwajah Eun Sang dan Heung Soo terlihat kontras sekali dengan ekspresi kedua anak mereka. Woo Bin sedari tadi hanya diam, tanpa sedikitpun mengeluarkan senyuman manisnya. Seyeon sendiri yang masih melakukan aksi diam pada ibunya juga terlihat tidak senang dengan pesta tersebut. Bahkan Seyeon memilih untuk menjauh dari keramaian. Gadis itu memilih menyendiri di taman. Sebenarnya Seyeon mengundang Kyuhyun, namun sunbae-nya itu berhalangan hadir, sedangkan satu-satunya teman dekat yang ia miliki, Jiyeon, sedang membuat surprise party untuk namjachingunya itu.

Woo Bin datang dan duduk disebelah Seyeon. Namja itu masih tetap bungkam, dan Seyeon memilih untuk diam sampai Woo Bin sendiri yang bersedia bercerita padanya.

“Aku muak berada disini. Melihat senyuman palsu pria tua itu.” Ucap Woo Bin.

Seyeon menoleh kearahnya. “Wae? Apa terjadi sesuatu?” Tanya gadis itu. Woo Bin hanya diam. “Aku ingin menagih janjimu.” Ucap Woo Bin.

“Kau ingin aku memainkan lagu Kiss The Rain?” Seyeon menatap Woo Bin. Namja itu mengangguk. Woo Bin kemudian bangkit dari duduknya. Ia menyodorkan tangannya. “Kajja!” Ucapnya.

_________________________________

Seyeon duduk didepan piano yang berada disalah satu ball room yang ada di ZEUS HOTEL. Hanya ada mereka berdua disana. Woo Bin berdiri disebelah gadis itu, mengamati jemari Seyeon yang perlahan memainkan tuts tuts piano tersebut. Perasaan namja itu menjadi tenang saat alunan indah itu menyapa indera pendengarannya. Dan kenangan dirinya bersama sang ibu muncul silih berganti bagai sebuah film yang diputar. Mata namja itu berkaca-kaca. Ia merindukan ibunya. Ia ingin bertemu dengan ibunya.

Seyeon tertegun melihat air muka Woo Bin yang kini berubah menjadi sendu. Dalam hati Seyeon bertanya-tanya apa yang membuat Woo Bin menjadi seperti itu.

Kiss The Rain diakhiri oleh Seyeon dengan sangat indah, membuat siapapun akan terenyuh, termasuk Woo Bin. Ia tersenyum manis kearah calon adik tirinya itu. “Aku mengakui kau memang pianis yang handal.” Ujar Woo Bin.

“Gomawo.” Seyeon tersenyum.

Woo Bin duduk disebelah Seyeon. Pria itu menatap menerawang. “Wae geure?” Seyeon menatap Woo Bin, menanti jawaban yang akan keluar dari mulut namja itu.

Woo Bin menghela napas. “Sepertinya sebentar lagi kau akan patah hati, maka dari itu persiapkanlah dirimu.” Ujar Woo Bin yang membuat Seyeon bingung.

“Mwo? Patah hati?” Seyeon menatap Woo Bi bingung. Woo Bin balas menatap gadis itu. Air mukanya berubah menjadi serius. “Hubunganku dan Taeyeon sudah berakhir, dan itu berarti Kyuhyun akan memiliki kesempatan untuk mendekati Taeyeon. Kau tahu, mereka berdua sudah lama saling mencintai.”

Seyeon tersenyum kecil. “Gwenchana. Aku turut senang jika Kyuhyun sunbae senang.”

Woo Bin menatap Seyeon heran. Mana ada gadis yang senang mengetahui namjanya akan berpacaran dengan gadis lain. ‘Apa gadis ini gila?’

“Pasti kau menganggapku aneh. Asal kau tahu saja, dari awal aku memang tidak ada hubungan apapun dengan Kyuhyun sunbae. Waktu itu kami hanya melakukan sandiwara kecil.” Terang Seyeon.

Woo Bin tersenyum kecil. “Pantas saja kau selalu tenang. Jika yeoja lain mungkin mereka sudah menangis meraung-raung.” Ujar Woo Bin.

“Yak, perkataanmu itu sudah menyinggung seluruh gadis di dunia ini, eo.”

Seyeon melirik sekilas kearah Woo Bin, mencermati ekspresi namja itu. “Lalu… kau sendiri bagaimana? Aku tahu kau sangat mencintai Taeyeon eonnie.”

Woo Bin menghela napas. “Aku? Entahlah… yang jelas perasaanku hancur…”

*****

 

Seyeon dan Jiyeon sedang berjalan bersisian menuju kantin. Jiyeon sedang heboh-hebohnya menceritakan acara pesta kejutan yang ia buat untuk kekasihnya itu. Ponsel Seyeon bergetar. Seyeon melihat ID caller yang tercantum di layar ponselnya. Seketika desahan malas keluar dari mulut Seyeon.

“Nugu?” Tanya Jiyeon penasaran.

“Ibu Kyuhyun sunbae.” Jawab Seyeon singkat dan kemudian ia menjawab panggilan dari Cho Hana.

“Yoboseyo.”

“Ah, yoboseyo, Seyeon-ah. Bagaimana kabarmu?”

“Aku baik-baik saja. Ahjumma sendiri bagaimana?”

“Aku juga dalam keadaan baik-baik saja. Keunde, kenapa kau masih memanggilku ahjumma? Panggil aku eommonim.”

“Ah ne.”

“Eommonim minta maaf tidak bisa hadir di acara pertunangan eommamu. Kemarin tiba-tiba saja kakak perempuan eommonim masuk rumah sakit. Sampaikan maaf eommonim pada ibumu ya.”

“Ne.”

“Oh ya, kau ada waktu hari ini? Eommonim ingin mengajakmu makan siang bersama. Kuharap kau bisa. Eommonim sedang butuh teman mengobrol.”

Seyeon terdiam. Ia ingin menolak, namun mendengar nada memelas Cho Hana membuatnya tidak tega dan akhirnya terpaksa mengiyakan ajakan Cho Hana.

“Tentu saja aku bisa.”

“Ah jinjja? Johta! Baiklah, eommonim akan menjemputmu di sekolah nanti. Annyeong Seyeon-ah.”

“Ne, annyeong eommonim.”

Seyeon menutup pembicaraan dan menyimpan ponselnya kedalam saku jas sekolahnya. Jiyeon yang sedari tadi mendengar pembicaraan itu menatap Seyeon dengan jahil. “Eommonim? Aigoo… sepertinya sebentar lagi akan ada yang menjadi nona muda Cho.” Ucap Jiyeon dengan nada jahil.

“Diam saja!”

“Aigoo, eommonim jangan marah-marah dong! Hahaha.”

“Yak, Park Jiyeon!”

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s