Diposkan pada Chapters

After The Storm (Part 9)

after-the-storm

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title     : After The Storm
Type    : Chaptered
Genre  : Romance, Friendship, Family, Drama
POSTER : moonlight08 

Cast :
– Jin Seyeon
– Cho Kyuhyun
– Kim Woo Bin
– Kim Taeyeon
– Choi Siwon
– Kim Jongin
– Jung Krystal

____________________________________

ec8381ec868dec9e90eb93a4-e16-131128-hdtv-x264-720p-lte00-31-19

Pagi-pagi sekali Seyeon sudah dikejutkan dengan keberadaan Woo Bin didepan rumahnya. Gadis itu baru saja ingin lari pagi, namun begitu ia membuka pintu pagar, Woo Bin tengah bersandar dimobilnya yang diparkir didepan rumah Seyeon. Gadis itu berjalan menuju Woo Bin.

“Sedang apa disini?” Tanya gadis itu merasa heran.

“Sudah tahu kabar bahagia tentang kedua orang tua kita?” Woo Bin tersenyum kecil. Seyeon terdiam, dan kemudian mengangguk kecil. Sesungguhnya itu tidak sepenuhnya berita gembira untuknya, terlebih dengan fakta bahwa ibunya tidak ingin ia masih berhubungan dengan Woo Bin.

Woo Bin terkekeh kecil. “Wae? Kau terlihat tidak bersemangat.”

“Aniyo. Jadi, sedang apa kau disini?” Seyeon kembali bertanya.

Woo Bin tersenyum sumringah. “Sekarang anak SMA sedang libur menjelang ujian, bukan?”

“Ne. Lalu?”

“Temani aku pergi ke suatu tempat.” Ajak Woo Bin. Seyeon mengernyit heran. “Suatu tempat? Kemana?”

“Menemui ibuku.” Woo Bin tersenyum sumringah, membayangkan dirinya yang sebentar lagi akan bertemu sang ibu setelah sekian lama. Seyeon menatap Woo Bin. “Hmm… kenapa kau mengajakku?” Tanya Seyeon seraya menatap Woo Bin.

Woo Bin mengedikkan bahunya. “Molla. Aku hanya tidak ingin pergi sendiri. Wae? Kau ada rencana lain?”

“Kapan kita berangkat?”

“Hari ini?” Woo Bin menatap Seyeon, menanti jawaban yang akan dilontarkan gadis itu. Seyeon terdiam sejenak, sebelum pada akhirnya ia menjawab tawaran Woo Bin. “Tunggu disini, aku akan bersiap-siap.”

Woo Bin langsung tersenyum senang mendengar jawaban Seyeon yang berarti gadis itu menerima ajakannya. “Jangan lupa bawa baju ganti. Kita akan pergi ke Gyeongju selama 3 hari.” Seru Woo Bin.

“Arasso.”

 

 *****

 

Kyuhyun menghela napas. Pasalnya sedari tadi ia berusaha untuk menghubungi ponsel Seyeon, namun tampaknya ponsel gadis itu sedang tidak aktif. Kyuhyun menghempaskan tubuhnya ke sofa. Pria itu menatap ponselnya dengan tatapan menerawang. Saat ini ia sedang membutuhkan seorang teman untuk berbicara, dan Seyeon adalah orang yang tepat untuk itu. Hoobae-nya itu selalu bisa membuatnya tenang dan merasa nyaman.

Cho Hana masuk kedalam kamar putranya itu. “Eh, kenapa dihari minggu yang cerah ini kau hanya berdiam diri didalam kamar, eo? Seharusnya kau menghabiskan waktu dengan Seyeon.” Ujar Hana.

“Seyeon sedang sibuk belajar untuk persiapan ujian minggu depan.” Bohong Kyuhyun.

Hana duduk disebelah Kyuhyun. “Apa kau sudah tahu bahwa pernikahan eomma Seyeon dan appa-nya Woo Bin dibatalkan?” Hana menatap Kyuhyun antusias. Kyuhyun spontan langsung menoleh kearah ibunya. “Jinjja?” Ia balik bertanya.

Hana menatap tajam kearah putranya itu. “Aigoo Kyuhyun-ah! Bagaimana mungkin kau tidak tahu kabar mengenai keluarga kekasihmu, eo? Kau ini benar-benar namja yang tidak perhatian. Omo, aku jadi merasa gagal mendidik putraku.” Ujar Hana berlebihan.

“Sudahlah eomma, tidak usah berlebihan seperti itu. Aku bukannya tidak peduli, keunde Seyeon tidak menceritakannya padaku.” Kyuhyun berusaha untuk membela dirinya.

“Eomma dengar kabarnya dari salah seorang teman eomma. Hmm, eomma jadi penasaran kenapa pernikahan dibatalkan tiba-tiba seperti ini. Padahal mereka baru saja melangsungkan pesta pertunangan.”

Kyuhyun menatap eommanya. “Sudahlah eomma. Itu bukan urusan kita.”

“Ara! Eomma hanya penasaran saja. Oh ya, ngomong-ngomong apa kau sudah bertemu dengan calon mertuamu itu, eo?”

“Eomma aku__________”

“Ara ara! Tapi toh cepat atau lambat kalian akan bertunangan dan kemudian menikah, bukan?”

Kyuhyun terdiam mendengar perkataan ibunya. Dalam hati ia mengeluhkan sikap eommanya yang terlalu terobsesi untuk berbesan dengan Eun Sang. Ingin rasanya Kyuhyun berkata bahwa ia tidak mencintai Seyeon. Gadis yang dicintai adalah Taeyeon, Kim Taeyeon.

Ngomong-ngomong soal Taeyeon, Kyuhyun jadi memikirkan gadis itu. Dia jadi ingin bertemu meskipun ia tahu bahwa Taeyeon tidak ingin bertemu dengannya untuk saat ini. Kyuhyun bangkit dari duduknya.

“Kau mau kemana, Kyu?” Tanya Hana.

“Pergi menemui seseorang.” Jawab Kyuhyun singkat dan kemudian segera beranjak pergi sebelum eommanya bertanya lebih banyak.

Hana langsung tersenyum senang. Ia mengira bahwa seseorang yang dimaksud oleh Kyuhyun adalah Seyeon. “Selamat bersenang-senang jagiya!” Seru Hana seraya melambaikan tangan.

 

 

*****

 

Woo Bin dan Seyeon tengah berada didalam kereta api yang akan membawa mereka menuju Gyeongju. Tadinya Woo Bin sudah akan memesan tiket pesawat, namun Seyeon menolak dan lebih memilih untuk melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta api. Toh perjalanan dari Seoul ke Gyeongju tidak memakan waktu yang lama. Gadis itu ingin menikmati pemandangan disepanjang perjalanan. Woo Bin pun akhirnya setuju.

“Alasan apa yang kau berikan pada eommamu?” Tanya Woo Bin.

9a435460784fe6716194e8ec9f7a5065

 

Seyeon tersenyum kecil. “Eommaku sedang pergi ke Singapura. Dia ada acara disana.”

“Ah, pantas kau bisa dengan mudah pergi.” Woo Bin tertawa kecil. Seyeon menatap Woo Bin. “Jadi selama ini kau selalu mencari eommamu, ya?”

“Ne. Dan pencarianku pada akhirnya membuahkan hasil. Jujur saja, aku nyaris putus asa.”

“Aku senang pada akhirnya kau akan bertemu dengan eommamu. Lagipula, dengan begitu aku tidak perlu repot-repot memainkan Kiss The Rain untukmu.” Gadis itu kemudian tertawa kecil ketika Woo Bin menatapnya kesal.

“Cih, jadi selama ini kau terpaksa, eo? Dasar nappeun sister!” Cibir Woo Bin. Mendengar Woo Bin menyebutnya sister, membuat Seyeon terdiam. Gadis itu melayangkan pandangannya kearah jendela. Seyeon bergumam kecil. “Kita kan bukan saudara lagi.”

“Hei, meskipun orang tua kita tidak jadi menikah, itu bukan berarti kita tidak bisa menjadi saudara, bukan? Kau tetap bisa menganggapku sebagai oppamu, dan aku akan memperlakukanmu seperti dongsaengku sendiri.” Woo Bin berkata dengan tulus. Seyeon cukup tersentuh dengan ucapan Woo Bin. Gadis itu memandang Woo Bin yang duduk disebelahnya dan kemudian ia tersenyum manis.

 

 

*****

 

Taeyeon mendesah pasrah ketika gadis itu mendapati hujan deras tengah mengguyur kota Seoul. Taeyeon baru saja menyelesaikan pentas musikalnya. Akibat hujan yang deras ini Taeyeon jadi tidak bisa pulang. Masalahnya gadis itu lupa membawa payung. Ia sudah terbiasa diantar jemput oleh Woo Bin dengan mobilnya, hingga tidak perlu khawatir kalaupun hujan datang.

“Sifat pelupamu sepertinya telah kembali. Lagi-lagi kau lupa membawa payung.”

Taeyeon langsung menoleh ketika ia mendengar suara berat yang sangat dikenalinya. Ia mendapati Kyuhyun yang tengah berdiri tak jauh darinya sembari memegang sebuah payung ditangannya. Kyuhyun tersenyum seraya menghampiri Taeyeon. Sedangkan Taeyeon sendiri masih diam, merasa agak sedikit canggung dengan kehadiran Kyuhyun yang diluar perkiraannya.

“Kenapa kau bisa ada disini?” Tanya Taeyeon pada akhirnya. Kyuhyun tertawa kecil. “Kurasa kau tidak perlu menanyakannya. Bukankah sedari dulu aku memang selalu berada disekitarmu?” Kyuhyun tersenyum lembut.

Hati Taeyeon berdesir kala melihat senyuman lembut nan meneduhkan milik Kyuhyun. “Terima kasih sudah mau menjemputku.”

“Kajja!” Kyuhyun menggandeng tangan Taeyeon dan membawa gadis itu menuju ke tempat parkir.

Taeyeon berkali-kali mencuri pandang kearah Kyuhyun. Rasanya masih sulit dipercaya bahwa ia sedang berada sedekat itu dengan Kyuhyun, tanpa takut akan amukan Woo Bin. Debaran itu masih ada, dan masih amat sangat terasa. Merasa diperhatikan, Kyuhyun pun menoleh. Mobil sedang berhenti di lampu merah, sehingga memberikan waktu bagi kedua sejoli itu untuk saling bertatapan, menyuarakan isi hati mereka.

“Kyuhyun-ah, aku….” Taeyeon berkata dengan ragu. Kyuhyun masih sabar untuk menanti. “Aku…”

TIN TIN TIN!

Bunyi klakson mengangetkan Taeyeon dan juga Kyuhyun. Lampu telah berubah warna menjadi hijau, pertanda bahwa mobil harus lekas melaju. Kyuhyun kembali fokus pada kemudinya, sedangkan Taeyeon hanya diam sembari menatap jalanan yang mereka lalui. Gadis itu kembali mengumpulkan keberaniannya yang telah hilang.

 

 

*****

 

Begitu sampai di Gyeongju, Woo Bin dan Seyeon langsung menuju ke kediaman ibunda Woo Bin. Akan tetapi Woo Bin harus menelan kekecewaan sebab rumah yang ditujunya kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Bahkan menurut seorang tetangga yang sempat Woo Bin temui, rumah itu sudah kosong semenjak 2 minggu yang lalu. Hal itu membuat Woo Bin frustasi.

“Harus dimana lagi aku mencari? Alamat ini adalah satu-satunya informasi yang aku miliki.” Woo Bin berkata dengan suara yang bergetar. Seyeon menatapnya iba. Gadis itu menepuk punggung Woo Bin pelan, berusaha untuk memberikan semangat.

“Bagaimana jika kita ke hotel dulu untuk meletakkan barang-barang kita dan juga sekaligus untuk makan malam. Setelah itu kita akan memikirkan langkah selanjutnya.” Seyeon memberi usul. Woo Bin tidak punya pilihan lain selain mengikuti Seyeon. Pria tampan itu benar-benar sudah kehilangan arah.

“Oppa, jangan menyerah, eo! Aku yakin kita pasti akan bisa bertemu dengan ibumu. Aku yakin.” Seyeon berkata dengan optimis. Woo Bin hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Seyeon. Pria itu juga amat berharap bahwa ia akan dapat bertemu dengan ibu yang sudah lama ia rindukan.

 

 *****

 

Matahari sudah menyembunyikan wujudnya kala mobil yang dikendarai Kyuhyun berhenti tepat didepan rumah Taeyeon. “Ja, kita sudah sampai.” Kyuhyun tersenyum kecil. Taeyeon seakan larut dalam lamunannya sendiri. “Tae?” Kyuhyun mengelus tangan gadis itu.

“Eh? Kita sudah sampai ya?”

“Kenapa melamun, eo?”

Taeyeon tersenyum kecil. “Aniyo… geunyang… ah, terima kasih sudah mengantarkanku pulang. Hati-hati di jalan, Kyu.” Taeyeon melepas seat belt-nya dan kemudian keluar dari dalam mobil Kyuhyun. Kyuhyun masih setia disana, memperhatikan gadis itu sampai masuk kedalam rumah. Namun Taeyeon mendadak berhenti didepan pagar rumahnya, dan tak lama gadis itu berbalik arah menuju Kyuhyun. Kyuhyun yang penasaran pun segera keluar dari dalam mobilnya.

“Waeyo Tae? Apa ada hal yang ingin kau katakan?”

Lotte-Fansign-Taeyeon-girls-generation-snsd-36001850-950-1425

Taeyeon masih agak ragu. Gadis itu memainkan jemarinya, pertanda bahwa ia tengah gugup. “Hmm… hokshi… aku memikirkan tentang kita… apakah tawaranmu yang dulu masih berlaku?” Taeyeon menatap Kyuhyun ragu. Kyuhyun masih diam, berusaha untuk mencerna perkataan Taeyeon.

“Mak… maksudmu… kau mau… hmm… mencobanya denganku?”

Dengan perlahan Taeyeon menganggukkan kepalanya. “Ne. Tapi tentu saja jika tawaran itu masih berlaku.”

Kyuhyun langsung tersenyum sumringah. “Tentu saja tawaran itu masih berlaku. Dan selamanya akan tetap berlaku. Perasaan ini tidak pernah berubah sedikit pun, Tae.”

Taeyeon menatap mata Kyuhyun dengan dalam. “Aku ingin membuka lembaran baru bersamamu Kyu…” Sebuah perkataan yang amat sederhana, namun amat berarti bagi Kyuhyun. Dia sudah lama menanti perkataan itu keluar dari bibir Taeyeon, dan akhirnya setelah sekian lama ia dapat mendengarnya. Rasa senang terasa membuncah didalam hati Kyuhyun. Dengan satu tarikan Taeyeon telah berada didalam pelukan Kyuhyun.

“Gomawo atas kesempatan yang kau berikan padaku…”

 

 

*****

 

Udara malam di Gyeongju yang dingin dan cukup berangin, tidak sedikitpun mematahkan semangat Woo Bin dalam mencari ibunya. Kini pria tampan itu beserta Seyeon tengah menuju ke tempat ibu Woo Bin bekerja. Menurut salah seorang tetangga yang mereka temui didekat rumah ibunya dulu, mengatakan bahwa ibu Woo Bin memang sudah pindah dari rumah kontrakan tersebut. Wanita paruh baya itu menyerahkan alamat yang ia yakin bisa membantu Woo Bin.

“Ah chakkaman! Aku rasa ini salon yang dimaksud.” Seyeon berhenti tepat di depan sebuah salon elit. Woo Bin menatap salon tersebut dan kemudian kertas bertuliskan alamat ditangannya. “Yah, aku rasa begitu. Ini memang tempat yang kita tuju.”

30-Kim-Woo-Bin-Choi-Young-Do-The-Heirs-Kdrama-Fashion

Woo Bin dan Seyeon pun masuk kedalam salon tersebut. Tak lama kedua sejoli itu keluar dari salon dengan wajah yang sumringah. Aniya, mereka tidak bertemu dengan ibu Woo Bin disana, sebab ternyata ibunya sudah mengundurkan diri sejak 3 minggu yang lalu. Namun mereka juga tidak pergi dengan tangan hampa, sebab mereka mendapatkan alamat ibu Woo Bin yang baru. Dengan semangat yang masih menggebu, Woo Bin dan Seyeon memutuskan untuk mendatangi alamat itu.

_____________________________________________

Mereka berdua turun dari taksi. Seyeon menatap sangsi kearah rumah yang mereka tuju. Rumah itu gelap, seperti menandakan bahwa tidak ada siapapun didalam sana. Woo Bin masuk kedalam perkarangan rumahnya. Pria itu memencet bell dengan antusias, berharap bahwa sedetik kemudian pintu itu akan terbuka dan menampakkan ibunya sudah sudah beberapa tahun ini dicarinya.

“Apa ibumu sedang pergi?” Tebak Seyeon. Woo Bin hanya diam dan masih terus memecat bell serta sesekali memanggil ibunya.

“Jogiyo, apa yang sedang kalian lakukan disana?” Sebuah suara menginterupsi kegiatan Woo Bin. Woo Bin dan Seyeon dengan serentak menoleh kearah suara tersebut. Mereka mendapati seorang wanita tengah baya sedang berdiri didepan pagar. Seyeon membungkuk sopan pada wanita itu. “Annyeong haseyo ahjumma. Saya Seyeon dan dia Woo Bin. Kami kesini ingin mencari pemilik rumah ini, nyonya Yoo Jin Ah.”

Ahjumma itu memperhatikan Seyeon dan Woo Bin secara seksama. Ketika ia memperhatikan wajah Woo Bin, tiba-tiba ia tersentak kaget. “Omo, hokshi, neo Kim Woo Bin? Kim Woo Bin putra Jin Ah?”

“Ne ne! Naneun Kim Woo Bin imnida. Apa kau mengenal ibuku?” Tanya Woo Bin dengan antusias, sebab kelihatannya wanita yang ada dihadapannya ini mengenal ibunya. Wanita itu tersenyum. “Ne, tentu saja. Kami bertetangga. Aku tinggal tepat disebelah rumah ini.”

“Lalu dimana ibuku sekarang? Apa ia sedang pergi?” Tanya Woo Bin lagi.

Kali ini ekspresi ahjumma itu mendadak menjadi suram. Wanita itu menatap Woo Bin dengan pandangan kasihan, hingga membuat Woo Bin bingung. “Aku turut menyesal harus mengatakan ini. Aku tahu kau pasti sangat ingin bertemu dengan ibumu, tapi sepertinya Tuhan punya rencana lain untuk kalian.”

Woo Bin dan Seyeon menjadi semakin bingung. “Maksud ahjumma apa?”

“Yoo Jin Ah sudah meninggal 2 hari yang lalu.”

DEG!

heirs-02-c6050

Jantung Woo Bin serasa dicabut secara paksa dari tempatnya. Sakit. Itu yang sangat ini dirasakan Woo Bin. “Ani…aniya… ahjumma pasti salah… eommaku…” Air mata Woo Bin berjatuhan. Suara namja itu terdengar sangat parau. Seyeon langsung menggenggam tangan Woo Bin, berusaha memberikan kekuatan pada Woo Bin.

“Aku tahu ini berat bagimu, keunde kau harus bisa menerima takdir. Ibumu menghembuskan napas terakhirnya dua hari yang lalu. Sudah setahun belakangan ini ibumu menderita penyakit yang parah.”

Woo Bin masih terdiam membisu. Ia merasa dunianya sudah sangat hancur. Semua harapannya kini harus dikubur dalam-dalam. Ia takkan pernah bisa bertemu dengan ibunya. Woo Bin nyaris saja terjatuh jika saja Seyeon tidak menahan tubuhnya.

“Eom…eomma…” lirih Woo Bin pilu. “Aku ingin bertemu dengan ibuku.”

 

 *****

 

Siwon pulang dengan wajah suntuk. Pria itu habis makan malam dengan Gyuri, gadis yang dijodohkan dengannya. Sikap gadis itu yang sombong serta egois sukses membuat muak. Siwon sudah sangat ingin meninggalkan Gyuri, namun pria itu masih menjaga wibawanya, maka dari itu ia berusaha untuk bertahan. Ayahnya tentu tidak akan membiarkan perjodohannya dengan Gyuri hancur berantakan.

Siwon berpapasan dengan Kyuhyun. Kyuhyun sebenarnya ingin menanyakan kabar Siwon, namun pria itu mengurungkan niatnya. Siwon sedang dalam kondisi yang tidak baik. Kyuhyun hanya tidak ingin menyulut api pertengkaran diantara mereka. Kyuhyun hanya diam sembari menatap Siwon yang masuk kedalam kamarnya.

“Eomma, apa appa benar-benar menjodohkan hyung dengan Park Gyuri?” Tanya Kyuhyun pada eommanya.

Cho Hana yang sedang asyik menonton televisi menoleh menatap sang putra. “Ne. Wae?”

Kyuhyun menghela napas. “Apa itu tidak sedikit berlebihan? Hyung tidak terlihat senang dengan itu semua.” Ujar Kyuhyun.

Cho Hana hanya mengedikkan bahu. “Molla. Eomma tidak berani ikut campur mengenai keputusan appamu. Lagipula salahnya sendiri. Sudah umur 28 tahun namun belum memiliki pendamping. Seharusnya ia mencontoh darimu yang sudah mempunyai yeoja cantik dan berasal dari keluarga terpandang.” Hana berkata sembari tersenyum senang. Kyuhyun menghela napas. “Eomma, bagaimana jika aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Seyeon, keunde aku sedang menjalin hubungan dengan yeoja lain?” Kyuhyun memperhatikan ekspresi ibunya.

Cho Hana tampak kaget. “Mwo? Kau sudah putus dari Seyeon? Atau jangan-jangan kau selingkuh?!” Pekiknya.

“Aniyo. Bukan putus ataupun selingkuh, keunde sedari awal kami memang tidak memiliki hubungan apapun. Eomma tidak pernah mau mendengar tiap kali aku berusaha menjelaskannya padamu.”

“Jadi kau tidak memiliki hubungan dengan Seyeon?”

Kyuhyun mengangguk pelan. “Ne.”

Hana mendelik menatap sang putra. “Neo! Aish!” Wanita itu langsung beranjak pergi. Hancur sudah impiannya untuk berbesan dengan Eun Sang. Kyuhyun menatap kepergian eommanya dalam diam. Ia merasa lega sudah mengatakan yang sebenarnya pada sang ibu. Ia sudah amat tidak enak pada Seyeon karena telah menyeret gadis itu kedalam masalahnya. Lagipula sekarang Kyuhyun sudah memiliki Taeyeon. Gadis yang selama ini dicintainya.

0705-kyuhyun-wide-800x450

 

*****

 

Suasana pagi di Gyeongju yang mendung seakan dapat menggambarkan perasaan yang sedang menyelimuti Woo Bin. Pria itu masih tidak percaya bahwa ia tengah berada didepan makam sang ibu. Air mata Woo Bin terus berjatuhan. Dadanya terasa sesak, seakan ingin meledak. Ingin rasanya ia menyalahkan takdir yang begitu kejam padanya.

“Eomma…” Tangan Woo Bin bergetar kala ia menyentuh nisan ibunya. “Kenapa takdir mempermainkan kita seperti ini, eo? Kenapa kau harus pergi disaat aku sudah berhasil menemukanmu? Kenapa Tuhan tidak mengizinkan kita untuk bertemu?”

Seyeon yang berdiri dibelakang Woo Bin juga ikut menangis. Gadis itu merasa sedih melihat pemandangan memilukan dihadapannya itu. Masih segar dalam ingatannya betapa gembiranya Woo Bin ketika menceritakan rencana apa saja yang akan dilakukannya kala ia bertemu dengan sang ibu. Woo Bin bilang ia sangat ingin merasakan masakan ibunya yang sudah lama tak ia rasakan.

Seyeon ikut berjongkok disebelah Woo Bin. Gadis itu mengelus punggung Woo Bin. “Ibumu sudah tenang disana. Aku yakin ia sedang melihat kita saat ini. Ia pasti senang bisa bertemu denganmu lagi.” Ucap Seyeon lembut. Woo Bin menatap sendu kearah Seyeon. Namja itu bersyukur dikala seperti ini ada seseorang yang mendampinginya. Semalam Woo Bin sudah menghubungi ayahnya, sekedar memberi tahu kabar kematian ibunya. Tapi sang ayah malah terkesan tidak peduli. Hal itu membuat Woo Bin semakin membenci ayahnya.

“Aku… aku sudah tidak memiliki siapapun. Satu-satunya orang yang menjadi alasanku untuk hidup sampai saat ini telah tiada. Aku… sendirian…”

“Aniya, kau tidak sendirian. Buktinya aku ada disini kan bersamamu. Bukankah aku dongsaengmu?” Seyeon tersenyum lembut. Woo Bin langsung memeluk Seyeon. “Gomawo.” Bisik namja itu lirih.

emotional-performance-woo-bin

 

*****

 

“Annyeong!” Sapa Taeyeon ceria. Kyuhyun tersenyum sembari mengelus kepala Taeyeon.

“Bagaimana pekerjaannya?”

“Hari ini café sedang tidak terlalu ramai, makanya aku bisa minta izin untuk pulang lebih cepat.” Jawab Taeyeon. Kemudian Taeyeon menatap Kyuhyun penasaran. “Hari ini kita akan kemana?” Tanya gadis itu antusias.

Taeyeon

Kyuhyun terkekeh kecil. “Kau mau kemana?” Ia bertanya balik.

“Aku?” Taeyeon tampak berpikir. “Bagaimana jika kita karaoke? Aku sudah lama tidak mendengarmu bernyanyi.”

Kyuhyun tertawa. “Ah, bilang saja kau ingin berduet denganku.”

“Kajja kajja!” Ajak Taeyeon bersemangat.

Kedua sejoli itu menghabiskan waktu mereka dengan bersenang-senang di tempat karaoke. Sudah lama mereka tidak bernyanyi bersama. Taeyeon benar-benar merasakan kebahagiaan yang selama ini tidak pernah ia rasakan bersama Woo Bin. Bukannya ia tidak bahagia bersama Woo Bin. Ia bahagia, namun sensasi saat bersama Kyuhyun terasa amat sangat berbeda.

Kyuhyun pun akhirnya merasakan kebahagiaan yang membuncah yang selama ini tak pernah ia rasakan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir ini, Kyuhyun merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Dan ia dapat melupakan semua masalah yang menerpa hidupnya. Semua itu berkat Kim Taeyeon. Yah, sesederhana itu.

“Kyuhyun-ah…” Panggil Taeyeon. Kyuhyun menoleh. “Ne?”

Taeyeon tersipu malu. Gadis itu mendekatkan wajahnya kearah Kyuhyun dan kemudian mengecup pipi Kyuhyun. “Aku menyayangimu.” Ucap gadis itu malu-malu. Kyuhyun tersenyum bahagia. Jantungnya berdegub kencang dan hatinya terasa hangat sangat mendengarkan kaliamt sederhana itu keluar dari mulut gadis yang dicintainya itu.

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

2 tanggapan untuk “After The Storm (Part 9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s