Diposkan pada Chapters, Ghost Stories, Oneshot

Ghost Stories (Case 1)

Ghost stories

Author : Cho Haneul
Title      : Ghost Stories (There’s Something In The Toilet)
Type     : Series/Chaptered
Genre   : Horror, Mystery, Drama

Cast :
– Kim Ji Won as Choi Haneul
– Park Bo Young as Park Shin Ri
– EXO members
– Zelo aka Choi Junhong
– DaeHyun
– Kim Woo Bin

___________________________________

_GUDANG TUA_

Kondisi gudang yang kosong memudahkan mereka untuk membersihkan ruangan itu. Saat sedang bersih-bersih, tanpa sengaja Haneul melihat sebuah kalender yang tergantung di dinding ruangan. Gadis itu mengamati tahun yang tertera disana. “Tahun 2000? Omo, sudah lama sekali gudang ini ditutup.” Gumam Haneul.

“Apa yang sedang kau lihat?” Suara bass Chanyeol sukses mengagetkan Haneul. “Yak, kau mengagetkanku!” Gadis itu memukul pelan dada Chaneyol. Chanyeol tertawa kecil. Mata pria itu tertuju kearah kalender yang tergantung dibelakang kekasihnya itu. “Wah, ternyata gudang ini memang sudah lama tak terjamah. Tidak heran jika banyak hantunya.”

“Aish, jangan membicarakan hal yang tidak-tidak!”

Chanyeol mengacak poni Haneul. “Yah, memang itu yang aku dengar dari murid-murid lain.”

“Loh, kau ada disini? Bukannya tadi kau ada diluar?” Luhan memandang Chanyeol bingung.

“Kau mungkin salah lihat. Aku dari tadi tidak kemana-mana. Tanya saja pada Haneul.”

Luhan terdiam mendengar perkataan Chanyeol, sebab namja itu jelas-jelas melihat Chanyeol berada diluar saat ia akan membuang sampah. Pada akhirnya Luhan memilih untuk melupakan apa yang dilihatnya tadi. Yah, siapa tahu ia memang salah lihat.

Xiumin sedari tadi terus gelisah. Perasaan tidak nyaman itu semakin menekan dirinya. Ingin rasanya ia pergi dari gudang itu sekarang juga. Sebenarnya ia ingin mengatakan firasat jeleknya pada teman-temannya, namun ia tidak ingin mengacaukan semuanya. Tengat waktu sudah semakin dekat, dan hanya ini tempat yang bisa mereka gunakan. Lagipula sejauh ini tidak ada gangguan sama sekali. Maka dari itu Xiumin tetap bertahan dan bersikap seakan tak ada apa-apa.

“Siap-siap diposisi! I, 2, 3 action!” Seru Daehyun. Pria itu bertugas sebagai kameraman yang merekam dance member  EXO.

Musik berkumandang diseluruh penjuru gudang. Haneul dan Shin Ri menonton dari sudut ruangan. Mereka berdua begitu menikmati gerakan lincah yang tengah dilakukan oleh member EXO. Haneul menoleh sekilas kearah jendela, sebab ia merasa ada yang sedang memperhatikan mereka. Gadis itu terpaku saat melihat seorang laki-laki yang sedang mengintip dari jendela. Pada awalnya Haneul berfikir bahwa laki-laki itu juga salah seorang murid Jeguk High School. Namun gadis itu segera berubah pikiran saat ia menyadari bahwa laki-laki itu menggunakan seragam yang berbeda dari yang ia dan teman-temannya kenakan. Seragam itu… seragam Jeguk High School yang lama saat sekolah itu masih berada di gedung lama.

Haneul menjadi panik. Tanpa sadar gadis itu mencengkram lengan Shin Ri, membuat gadis mungil itu meringis sakit. “Shin… Shin Ri-ya, apa kau lihat namja yang berada disana?” Tanya Haneul gugup.

“Ne? Yang mana?”

“Yang i…tu.” Begitu Haneul menoleh lagi kearah jendela, pria itu sudah tidak ada disana. Haneul menjadi semakin panic. “Tapi… tadi ada… Ah, dwaeso…”

Shin Ri merasa ada yang aneh dengan sunbae-nya itu, namun ia memilih untuk diam. Sesekali Shin Ri masih mencuri pandang kearah jendela yang beberapa saat lalu ditunjuk oleh Haneul. Gadis itu penasaran dengan namja yang dilihat oleh Haneul.

“Done!” Seru Daehyun sembari mengancungkan ibu jarinya. Member EXO langsung mengerubungi Daehyun, ingin melihat hasil rekaman pria itu. Haneul dan Shin Ri juga ikut bergabung. Wajah Haneul masih pucat akibat kejadian beberapa saat lalu. Chanyeol menyadari ada yang tidak beres dengan kekasihnya begitu ia menggenggam tangan Haneul yang sedingin es.

“Kau kenapa? Sakit?” Tanya Chanyeol cemas. Haneul bungkam. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. “Nanti aku ceritakan.” Bisiknya parau. Chanyeol tidak bertanya lebih banyak. Pria itu mengeratkan genggaman tangannya, mencoba memberikan ketenangan bagi Haneul.

“Wah, ini bagus sekali! Aku optimis kita akan menang.” Seru Tao semangat.

“Ne, ne! Ini benar-benar daebak. Cara pengambilan gambarnya juga sangat bagus, seperti professional. Gomawo Daehyun-ah!” Ujar Baekhyun sambil tersenyum senang.

Keenam belas remaja itu sudah bersiap-siap akan pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan tentu saja sekolah sudah sepi. Mereka semua sudah keluar dari dalam gudang. Suho yang keluar belakangan dan bertugas untuk mengunci pintu itu kembali.

“Ah, chakkaman, sepertinya topiku tertinggal didalam.” Ujar Luhan. Hanya ada dia dan Suho disana, sedangkan yang lainnya sudah berjalan menuju tempat parkir.

“Baiklah, aku tunggu disini.” Balas Suho.

Luhan masuk kembali kedalam gudang. Pria itu menatap sekeliling. Ia menemukan topinya berada sudut ruangan, tempatnya meletakkan tas. Luhan bergegas berjalan menuju topinya. Saat pria itu membungkuk untuk mengambil topinya, samar-samar ia mendengar seseorang memanggil namanya. Aniya, suara itu bukan milik Suho. Suara itu terdengar agak berat. Tiba-tiba Luhan merinding. Dengan tergesa ia meninggalkan gudang itu.

 

 

*****

 

_IN THE TRAIN_

“Ceritakan padaku apa yang terjadi tadi!”  Pinta Chanyeol pada Haneul.

“Loh, memangnya terjadi sesuatu tadi?” Junhong menatap kedua orang disebelahnya dengan bingung. Haneul mendesah. Masih ada terselip rasa takut dibenak gadis itu. Suasana kereta yang tidak terlalu ramai memudahkan gadis itu untuk bercerita.

“Tadi, saat di gudang… aku… melihat seorang namja dijendela. Ia sedang mengintip kita. Keunde, pria itu mengenakan seragam sekolah yang lama. Dan, pria itu menghilang begitu saja.” Haneul meremas tangannya. “Hokshi… apa dia… hantu?”

Chanyeol terdiam mendengar perkataan Haneul. Masih segar diingatannya perkataan Xiumin sesaat sebelum mereka berpisah di gerbang sekolah.

‘Aku merasakan aura tidak enak disana. Emm, kau tahu kan apa maksudku?’

“Kau tahu apa, Xiumin juga merasakan aura tidak enak disana.” Ucap Chanyeol pelan. Namja itu menatap kearah Haneul dan Junhong. “Bisa dibilang Xiumin memiliki indera keenam. Ia tidak bisa melihat, keunde ia dapat merasakan kehadiran mereka.”

Ketiga remaja itu terdiam. Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka. Tapi setidaknya mereka merasa lega, sebab syuting telah berakhir dan itu berarti mereka tidak perlu berurusan dengan gudang tua itu dan apapun yang ada didalamnya.

Akan tetapi, sayangnya mereka salah soal itu…

 

 *****

 

Pagi-pagi sekali semua murid Jeguk High School dikejutkan dengan keadaan sekolah yang berantakan dan dipenuhi genangan air. Sampai lantai dua pun tak luput dari terjangan air. Usut punya usut, telah terjadi hal yang aneh dengan semua toilet di sekolah. Tanpa alasan yang jelas, semua toilet di gedung sekolah mendadak rusak dan air mengalir tiada henti disemua kran, hingga mengakibatkan sekolah dipenuhi dengan genangan air. Pihak sekolah sudah memanggil tukang ledeng untuk mengatasi permasalahan ini. Namun untuk semantara semua toilet yang berada di gedung baru tidak bisa dipakai. Dan itu berarti mau tidak mau mereka semua harus menggunakan toilet di gedung lama.

“Ini aneh. Bagaimana bisa semua toilet mendadak rusak di waktu yang bersamaan. Dan yang lebih parahnya, untuk sementara kita terpaksa menggunakan toilet di gedung lama. Padahal disana kan…” Shin Ri menggigit bibirnya. Kris menoleh sekilas. “Wae? Hantu? Kau percaya?” Tanya namja berwajah dingin itu.

Shin Ri mengangguk. “Tentu saja. Sudah ada yang pernah melihat kok. Lagipula itu kan gedung lama, jadi wajar jika ada hantunya.”

Mereka sampai didepan tangga menuju lantai 3. “Aku duluan. Sampai ketemu nanti.” Kris mengelus kepala Shin Ri, membuat gadis itu berbunga-bunga. Ia selalu suka jika kekasihnya itu mulai bersikap manis padanya. Shin Ri melambaikan tangannya, dan gadis itu melanjutkan perjalanannya menuju kelasnya yang berada diujung koridor.

 

 

*****

_IN THE CLASS_

“Seonsaengmin, aku ingin permisi ke toilet.” Ujar Chen.

“Silahkan, jangan terlalu lama, eo.”

Xiumin yang duduk disebelah Chen menahan lengan namja itu. “Mau kutemani?” Tawarnya agak cemas. Lagi-lagi Xiumin mendapat firasat buruk mengenai gedung lama itu. Chen tertawa kecil mendengar tawaran Xiumin. “Yak, kau pikir aku Tao yang takut pergi ke toilet sendiri? Haha, ada-ada saja kau.” Chen tertawa dan tetap bersikeras ingin pergi sendiri.

Xiumin hanya dapat menatap kepergian temannya itu dengan cemas. Kai yang sedari tadi memperhatikan keduanya tampak agak bingung. Tidak biasanya Xiumin bersikap aneh seperti itu.

‘Kenapa ia terlihat khawatir sekali? Toh Chen hanya ke toilet gedung lama. Itu bahkan terletak tepat dibelakang gedung ini.’ Batin Kai.

 

_________________________________________

 

“Aish, kenapa toilet bisa rusak semua sih?!” Chen menggerutu kesal sembari berjalan menuju gedung lama. Pintu gedung lama terbuka. Gelap dan pengap. Chen yang memang pemberani itu, sama sekali tidak gentar terhadap kondisi tersebut. Dengan santai ia memasuki gedung lama tersebut dan berjalan melewati kelas demi kelas untuk sampai ke toilet.

Chen masuk kedalam toilet. Lampu tidak bisa menyala sehingga ia terpaksa hanya dapat mengandalkan seberkas sinar matahari yang masuk melalui jendela.  Chen menyalakan kran air yang di wastafel. “Ah, bersih sekali airnya.” Gumam pria itu.

Toilet laki-laki juga dilengkapi dengan 3 buah bilik. Chen sudah akan berniat untuk keluar dari toilet tersebut, namun suara tangisan seorang perempuan menghentikan niat namja itu. Chen menatap ketiga bilik dihadapannya. Bilik ke 3 yang berada dipojok, pintunya tertutup.

“Siapa disana?” Tanya Chen tegas. Pria itu menunggu dengan sabar, namun tidak ada jawaban. Suara tangisan itupun perlahan menghilang layaknya ditelan bumi. Chen melangkahkan kakinya menuju toilet nomor 3. “Apa ada orang didalam?” Tanya namja itu lagi. Dengan perlahan ia membuka pintu toilet tersebut.

Tidak ada siapapun didalam sana. Chen beranggapan bahwa ia salah dengar. Lagipula, itu adalah toilet pria, mana mungkin ada perempuan didalam sana. Begitu Chen membalikkan tubuhnya, sebuah tangan terjulur dan menarik bahu namja itu hingga ia terseret masuk kedalam toilet.

“Aaakh!”

BLAM!

Pintu toilet tertutup dengan rapat.

 

*****

 

Xiumin panic bukan kepalang. Pasalnya Chen tidak kembali ke kelas sejak ia pamit ke toilet. Chen bukanlah tipe orang yang suka membolos, jadi Xiumin yakin seratus persen jika namja itu tidak sedang membolos. Kai yang tadinya tidak terlalu khawatir, mendadak ikut menjadi khawatir. Chen tidak bisa ditemukan dimanapun, seakan namja itu menghilang begitu saja. Bahkan disaat tiba saatnya pulang, Chen tetap tidak muncul. Tas dan semua barangnya masih tergeletak diatas mejanya. Ia tidak mungkin pulang tanpa membawa barang-barangnya, bukan?

“Mwo? Chen menghilang? Bagaimana bisa, eo?” Pekik Chanyeol panic.

Xiumin mengacak rambutnya frustasi. “Ia tadi pamit ingin ke toilet gedung lama, keunde sampai sekarang ia tidak kembali. Aku bahkan sudah mengecek di toilet gedung lama, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Chen. Ini aneh!” Ujar Xiumin.

Haneul bergumam lirih. “Hokshi… apa kau merasakan sesuatu yang aneh?” Tanya gadis berambut coklat gelap itu. Xiumin mengangguk pelan. “Ne. Aku merasakan sesuatu yang aneh. Maka dari itu tadi aku melarang Chen untuk pergi sendiri, tapi kalian tahu kan bagaimana keras kepalanya dia? Dia tetap bersikeras ingin pergi sendiri. Hah, seharusnya aku bisa mencegahnya.” Xiumin merasa bersalah. Haneul menepuk pelan pundak Xiumin. “Jangan menyalahkan dirimu.”

Tao sudah hampir menangis ketakutan. “Ap…apa jangan-jangan… hantu toilet menculiknya?”

“Yak, jangan berbicara yang tidak-tidak! Tidak ada yang bernama hantu toilet atau yang lainnya.” Seru Kai tegas. Luhan yang sedari tadi diam pada akhirnya ikut angkat bicara. “Kai, aku tahu bahwa kau sebenarnya juga percaya soal rumor hantu itu. Dan aku mengalami kejadian aneh saat kita syuting kemarin. Aku mendengar ada yang memanggil namaku dan aku melihat seseorang yang mirip Chanyeol diluar gudang.”

Semua terdiam mendengar pengakuan Luhan yang cukup mengagetkan itu. Sehun mendesah. “Apa ini gara-gara kita membuka gudang tua itu?”

“Ayo kita kembali mencari di gedung lama. Siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu disana.” Usul Lay.

Mereka memutuskan untuk berpencar dalam beberapa kelompok guna untuk memudahkan pencarian. Bahkan Daehyun juga ikut membantu pencarian.

“Aku bingung. Bagaimana mungkin Chen bisa menghilang begitu saja. Tadi aku juga ke toilet dan tidak terjadi sesuatu yang aneh kok.” Ucap Daehyun sembari menggaruk belakang kepalanya.

“Apa kau sendirian?” Chanyeol menatap Daehyun. Daehyun menggeleng sambil tersenyum tiga jari. “Aniyo. Aku bersama Himchan.”

Chanyeol mendesah. “Itu dia masalahnya.  Chen hanya sendirian. Apapun bisa terjadi saat itu.”

 

_____________________________

_IN THE OLD BUILDING_ 

“Jangan jauh-jauh!” Kris menggenggam tangan mungil Shin Ri. Kris, Shin Ri, Kyungsoo, BaekHyun dan Sehun mencari di area lantai satu. Mereka sampai didepan toilet pria lantai satu. Kris yang pertama kali melangkahkan kakinya disana. Satu persatu bilik mereka buka, namun nihil. Chen tidak ada disana.

“Coba kita cari di toilet wanita. Yah, siapa tahu kan.” Usul Kyungsoo. Yang lain mengikuti KyungSoo. Kris berjalan paling belakang. Namun sesaat sebelum ia melangkah keluar dari dalam toilet, ia mendengar suara aneh. Suara itu berasal dari bilik nomor 3. Dengan perlahan Kris melangkahkan kakinya menuju asal suara tersebut. Tangannya sudah bersiap akan mendorong pintu bilik itu.

“Oppa palliwa!” Seru Shin Ri.

“Ne.”

Tidak ada yang tahu bahwa didalam bilik nomor 3 tersebut ada sesosok perempuan berambut panjang menyentuh lantai yang sedang menyeringai seram, merasa senang akan kedatangan tamu-tamu mudanya tersebut.

 

 *****

 

Hari kedua, dan Chen masih belum ditemukan. Sejauh ini tidak ada yang aneh selain dari menghilangnya Chen secara misterius.

“Apa kalian sudah menghubungi keluarganya? Mereka pasti panic karena Chen tidak pulang seharian.” Ujar Haneul.

“Dia tinggal sendiri. Orangtuanya berada di China.” Jawab Suho.

Kris menatap teman-temannya dengan wajah yang serius. “Aku masih merasa bahwa Chen ada di gedung lama. Aku ingin kita kembali mencarinya di tempat itu.”

Shin Ri menatap Kris. “Keunde, kita sudah mencarinya disana. Dan nihil kan? Tidak ada tanda-tanda keberadaan Chen disana.”

“Tapi dia tidak mungkin kan menghilang begitu saja?”

Haneul menatap teman-temannya, dan dengan agak ragu gadis itu berkata. “Perbuatan makhluk gaib?”

 

*****

 

“Baiklah anak-anak, sekarang buka halaman 50 dan baca artikel yang ada disitu. Aku permisi ke toilet.” Ujar Kang Seongsaenmin.

Salah seorang murid berseru, “Seonsaengnim, apa kau tidak takut berada di gedung lama itu? Kemarin temanku kesana, dan dia mendengar suara-suara aneh berasal dari dalam toilte pria.” Murid berbando merah itu bergidik ngeri saat membayangkan suara-suara aneh yang dikatakan oleh temannya.

Sang guru tersenyum kecil. “Gwenchana, lagipula jika pun mereka ada, selama kita tidak mengganggu mereka maka semuanya akan baik-baik saja kok. Jangan berisik! Aku akan segera kembali.”

 

__________________________________

 

Kang Seongsaenim tengah mencuci tangan di wastafel. Samar-samar ia mendengar suara isakan yang berasal dari salah satu bilik dibelakangnya. Pria itu yakin bahwa tidak ada orang lain disana selain dirinya. Terlebih, itu adalah isakan seorang gadis, dan jelas-jelas ini adalah toilet pria.

Pria muda itu berjalan menuju bilik toilte nomor 3, tempat suara itu berasal. Pintunya tidak tertutup rapat, sehingga bisa dibuka dengan sedikit dorongan. “Apa kau baik-baik saja?” Tanyanya lembut. Ia mendapati seorang murid wanita tengah berdiri membelakanginya. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia masih menangis sesegukan.

Kang seongsaenim menyentuh bahu gadis itu. Gadis itu membalikkan wajahnya, membuat guru muda itu nyaris terkena serangan jantung. Bagaimana tidak? Wajah gadis itu pucat pasi dengan bibir yang membiru. Terdapat bekas jeratan dilehernya. Seakan kaku, Kang seongsaenim hanya dapat berdiri terdiam menatap sosok menyeramkan itu. Gadis itu menyeringai seram dan dengan sekali tarikan ia berhasil menyeret Kang seongsaenim masuk kedalam bilik itu.

KYAAAAAA!

BLAM!

Pintu tertutup rapat.

 

*****

 

Kabar menghilangnya Kang seongsaenim cukup menghebohkan seisi Jeguk High School pada siang itu. Semua murid berspekulasi bahwa Kang seongsaenim telah diculik oleh hantu toilet tersebut.

“Ah, chakkaman!” Shin Ri menahan lengan Haneul. “Ke toiletnya tidak jadi saja. Aku masih bisa menahannya kok.” Ujar Shin Ri.

“Tapi kita sudah ada disini. Lagipula, tidak baik menahan buang air kecil. Itu bisa menyebabkan penyakit. Tidak apa-apa. Aku kan menemanimu.” Haneul merangkul lengan Shin Ri. Kedua remaja berbeda usia itu akhirnya memasuki gedung lama guna untuk ke toilet. Mereka hanya berharap bahwa tidak ada hal aneh yang akan terjadi.

Sejujurnya perasaan Haneul tidak enak. Sejak awal mereka menjejakkan kaki kedalam gedung, ia merasa ada yang mengintai mereka. Namun dengan segera Haneul menepis pikiran negatifnya itu. Ia beranggapan bahwa itu hanya rasa takut yang muncul akibat cerita-cerita horror yang sering ia dengar mengenai gedung itu.

Shin Ri masuk kedalam salah satu bilik toilet. Haneul menunggu didepan wastafel, sembari ia membenarkan tatanan rambutnya. Dari sudut matanya, gadis itu melihat seorang gadis tengah mengintip didepan pintu. Sontak Haneul langsung menoleh. Namun yang aneh, sosok itu tidak berada disana. Perasaan Haneul semakin tidak enak. Gadis itu nyaris memekik kaget saat ia merasakan getaran ponselnya didalam saku jas sekolahnya.

“Eo, Chanyeol-ah. Waeyo?”

“Kau dimana? Bell sudah berbunyi dan sebentar pelajaran akan dimulai.” Tanya Chanyeol.

“Aku ada di toilet gedung lama, menemani dongsaengmu.”

Chanyeol terdengar panic. “Mwo?! Kenapa tidak memintaku untuk menemani kalian, eo? Apa kau tidak tahu jika Kang seongsaenim, guru sejarah itu, juga ikut menghilang sejak ia pergi ke gedung lama.” Chanyeol berkata dengan nada panic. Namja itu sudah bergegas akan menyusul dua orang gadis kesayangannya itu.

“Mian, aku_______”

“KYAAAA!!!”

Shin Ri keluar dari toilet dengan tergesa-gesa. Wajah gadis itu panic. “Eonni, ada sesuatu didalam sana!” Gadis itu menarik tangan Haneul dan mereka sudah akan bergegas untuk keluar dari dalam toilet itu. Namun tepat didepan pintu, sesosok gadis berseragam SMA tengah menyeringai menatap mereka. Seketika itu juga kedua remaja itu berteriak histeris.

Chanyeol yang masih tersambung lewat telepon mendengar teriakan Haneul dan Shin Ri. Pria yang biasanya selalu berwajah ramah nan riang itu, kini tengah dilanda kepanikan yang luar biasa. Kris yang duduk dimeja sebelah Chanyeol ikut menjadi panic.

“Wae? Apa terjadi sesuatu?” Kris terlihat khawatir.

“Ikut aku!”

Kedua namja itu berlari kencang menuju gedung lama, tidak mempedulikan tatapan aneh siswa siswi lain yang melihat dua orang namja popular tengah berlarian bak orang dikejar setan.

 

 

*****

 

Haneul dan Shin Ri berlari menaiki tangga lantai 2. Entah apa yang ada dipikiran kedua gadis itu hingga mereka semakin jauh memasuki gedung lama itu. Haneul dan Shin Ri melewati ruangan yang mereka yakin adalah perpustakaan. Haneul sempat melihat sekilas dari jendela perpustakaan itu bahwa disana ada beberapa murid yang tengah membaca buku. Tentu saja mereka bukanlah murid yang sebenarnya, namun mereka adalah roh roh penasaran yang masih bergentayangan.

Shin Ri merasa ada yang ikut berlari disampingnya. Dengan ragu gadis itu menoleh. “Kyaa~ eonnie!” Shin Ri mencengkram lengan Haneul. Haneul menoleh dan gadis itu ikut berteriak kaget. Tepat disebelah Shin Ri, kerangka tubuh yang biasanya digunakan untuk pelajaran Biologi tengah ikut berlari bersama mereka. Dengan tiba-tiba kerangka tersebut menoleh menghadap Haneul.

“Tolong…” Suara parau dan serak itu keluar dari mulut sang kerangka. Haneul menarik Shin Ri menuju sebuah ruangan yang pintunya kebetulan terbuka. Haneul langsung menutup pintu itu. Beruntung, kerangka berjalan itu tidak dapat masuk. Setidaknya Haneul dan Shin Ri dapat bernapas lega walaupun hanya sedikit.

Haneul memandang sekeliling ruangan yang baru mereka masuki itu. Ternyata mereka tengah berada di bekas ruangan kepala sekolah. Bahkan foto-foto beberapa orang kepala sekolah yang terdahulu juga masih terpajang di dinding.

“Eonnie, aku takut… apa yang harus kita lakukan? Apa tidak sebaiknya kita menghubungi oppadeul untuk meminta bantuan?”

“Ah ne, kau benar.” Haneul meraba saku jas sekolahnya. “Eh? Ponselku tidak ada!” Pekik Haneul panic.

“Jangan-jangan terjatuh saat di toilet tadi!” seru gadis itu. Shin Ri terduduk lemas di kursi kepala sekolah. “Bagaimana ini?” gumamnya putus asa.

BRAK BRAK BRAK!

Pintu ruangan tersebut digedor dengan sangat keras dan kuat. Haneul dan Shin Ri saling berpelukan. Kedua gadis itu sudah amat sangat ketakutan. Shin Ri bahkan sudah menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba seisi ruangan bergoyang, layaknya sedang terjadi gempa bumi. Beberapa berkas-berkas usang yang terletak diatas rak berjatuhan. Bingkai-bingkai foto kepala sekolah juga berjatuhan.

“Shin Rin! Haneul!”

“Itu suara Chanyeol oppa!” Seru Shin Ri. Gadis itu lantas berteriak kencang memanggil sang oppa. “Chanyeol oppa, kami disini!” teriak gadis itu kencang.

Gempa lokal itu berhenti bertepatan dengan terbukanya pintu ruang kepala sekolah. Chanyeol dan Kris berada disana dengan napas yang terengah-engah. Shin Ri langsung berlari dan memeluk Chanyeol. Gadis itu menangis sesegukan dipelukan oppanya.

Mata Haneul menangkap sebuah buku usang yang terselip dibelakang bingkai foto salah seorang kepala sekolah mereka. Dengan ragu Haneul mengambil buku tersebut. Tidak ada nama maupun keterangan mengenai buku tersebut. Haneul membuka lembar demi lembar buku tersebut, dan gadis itu kaget mengetahui bahwa buku tersebut berisi mengenai informasi hantu-hantu dan cara menangkap mereka.

“Neo gwenchana?” Chanyeol menangkupkan kedua tangannya diwajah Haneul. Haneul tersenyum kecil. “Kalian datang disaat yang tepat.” Ucapnya. Chanyeol memeluk Haneul erat.

Kris menatap buku yang ada ditangan Haneul. “Itu buku apa?” Tanya namja itu.

Haneul menatap buku yang tengah dipegangnya itu. “Aku menemukan buku ini didalam bingkai foto salah seorang kepala sekolah yang lama. Ini… berisi cara-cara menangkap hantu.”

Kris, Chanyeol dan Shin Ri terbelalak kaget. “Jinjja?”

“Coba aku lihat.” Kris mengambil alih buku yang tengah dipegang Haneul.

Ada berbagai macam gambar hantu disertai informasi mengenai hantu tersebut, serta cara menangkapnya. Kris menggeleng. Masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Ini… benar-benar sulit untuk dipercaya.”

“Kris, coba balik ke halaman yang sebelumnya!” Pinta Chanyeol.

Kris membalik halaman sebelumnya. Disana tertera judul “Hantu Toilet” disertai dengan sketsa hantu tersebut.

“Ini… ini adalah hantu yang tadi kami temui di toilet.” Haneul berkata dengan suara yang gemetar.  Chanyeol merangkul bahu gadisnya, guna untuk memberikan ketenangan. Shin Ri juga sedari tadi tidak melepaskan tangannya dari Kris.

Kris membaca cara menangani makhluk tersebut. “Kita bisa menangkapnyaa dengan sebuah botol yang telah ditempeli jimat dan juga dengan beberapa tetes air suci.” Kris menatap ketiga temannya.

“Bagaimana kita bisa mendapatkan itu semua? Dan air suci? Kita bahkan kehabisan air biasa disini.” Ujar Shin Ri.

“PERGI… PERGI….”

Suara parau nan menyeramkan itu muncul kembali. Shin Ri semakin merapat pada Kris.

“Kajja!” Seru Chanyeol seraya menarik Haneul ikut lari bersamanya. Keempat remaja itu berlarian menyusuri koridor sekolah yang gelap dan lembab. Suara menyeramkan itu masih mengikuti mereka, namun sosok itu tidak terlihat. Tiba-tiba Chanyeol terjatuh akibat tarikan kuat dikakinya. Haneul menatap kearah kaki Chanyeol, dan gadis itu melihat hantu toilet itu tengah menarik kaki Chanyeol. Mereka bertiga berusaha untuk mempertahankan Chanyeol. Namun kekuatan mereka tidak sebanding. Dengan mudah sosok itu menyeret Chanyeol.

“AAAAAARRGH!”

“CHANYEOL!”

“OPPA!”

“Kajja! Dia pasti membawa Chanyeol ke toilet.” Seru Kris.

 

____________________________________

 

Chanyeol berpegangan pada pintu masuk toilet. Perlahan namun pasti pegangan namja itu terlepas. Ia nyaris masuk kedalam toilet, ketika Kris dengan sigap menahan tangan Chanyeol. Namja itu tidak akan membiarkan hantu tersebut kembali mengambil temannya. Haneul, dengan air mata yang sudah bercucuran, kembali membaca cepat informasi mengenai hantu yang ada dihadapannya ini. Haneul menyadari bahwa ada sebuah kertas yang tertempel disamping informasi mengenai hantu tersebut. Gadis itu baru menyadari bahwa kertas itu adalah jimat ketika ia membaca tulisan kanji yang tertera disana.

“Ini jimatnya!” Serunya.

“Palli! Pikirkan sesuatu. Aku tak bisa menahan Chanyeol lebih lama lagi.” Kris berkata dengan susah payah.

Haneul menatap sekeliling, mencari sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan. Gadis itu menemukan sebuah vas bunga berukuran sedang diatas wastafel. Dengan sigap Haneul menyambar vas tersebut. Dan sekarang masalah yang tersisa adalah air suci. Ia tidak tahu harus dimana mencari air tersebut. Dan kalaupun tahu, ia merasa bahwa waktunya tidak akan cukup.

“Argh! ANDWAE!” Teriak Kris panic ketika pegangannya pada Chanyeol terlepas. Chanyeol terseret masuk kedalam toilet tersebut. Pintu itu tertutup diiringi dengan teriakan pilu dari Chanyeol. Haneul menjerit histeris. Beberapa tetes air mata gadis itu jatuh dan masuk kedalam vas yang tengah dipegangnya. Vas yang telah ditempeli dengan kertas jimat itupun terlihat bercahaya.

“Eonnie vasnya!”

Tiba-tiba pintu toilet nomor 3 itu terbuka, dan menampakkan sosok hantu penghuninya. Gadis itu menatap tajam kearah vas yang dipegang Haneul.

“Haneul, lakukan sekarang!” Ujar Kris.

Haneul maju sambil mengancungkan vas tersebut. Gadis itu mengucapkan sebaris mantra yang tadi ia baca didalam buku tersebut. Hantu itu berteriak histeris. Haneul terus mengulang bacaan mantranya. Seakan ada magnet yang sangat kuat, hantu tersebut tersedot masuk kedalam botol. Kertas mantra menutup lubang vas tersebut sehingga hantu tersebut tidak bisa keluar. Haneul terduduk lemas diatas lantai. Gadis itu masih menangis sesegukan.

“Argh, apa-apaan ini? Kenapa kita semua ada disini?”

“Yak! Kau menginjak kakiku!”

“Aish, ini sempit sekali!”

Terdengar suara ribut-ribut didalam bilik nomor 3 tersebut. Kris membuka pintu bilik itu dan ia mendapati Chen, Chanyeol dan Kang seongsaenim berada didalam sana. Shin Ri dan Haneul langsung menghampiri Chanyeol. Kedua gadis itu memeluk Chanyeol erat.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Kris pada Chen. Namja berwajah tegas itu tampak linglung. Sepertinya ia masih belum mengerti situasi yang terjadi. Begitu juga dengan Kang seongsaenim. Ia menatap sekeliling dengan bingung.

“Gadis itu… dia…” Kang seongsaenim menatap sekeliling dengan waspada.

“Dia sudah tidak ada disini. Anda tidak perlu khawatir.” Ucap Kris dengan tenang.

 

*****

 

Semua member EXO, termasuk Haneul, Shin Ri dan Daehyun, tengah mengelilingi Chen. Mereka begitu lega saat tahu bahwa Chen baik-baik saja. Dengan penuh semangat mereka menanyakan kejadian yang menimpa namja itu.

Chen menggaruk pelipisnya. “Aku tidak ingat apa-apa selain hantu perempuan itu menarikku masuk kedalam toilet.” Jelas Chen.

“Ah, aku tidak menyangka akan terjadi hal aneh seperti ini. Masih sulit untuk dipercaya.” Ucap Daehyun.

“Begitu juga denganku.” Gumam Chen.

Xiumin merangkul bahu Chen. “Apa kau masih bisa bilang bahwa hantu itu tidak ada? Bahwa mereka hanyalah halusinasi belaka?” Xiumin menatap Chen jenaka. Chen tersenyum kecil. Yah, namja itu memang tidak memiliki pilihan lain selain setuju bahwa hantu itu ada, sebab ia sendiri sudah mengalami kejadian mistis itu secara langsung.

“Yah, kurasa aku memang harus menjilat ludahku sendiri.” Ucap Chen.

Sehun menatap buku yang tengah didekap Haneul. Matanya mengamati buku itu secara teliti. “Kau bilang buku itu berisi cara-cara menangkap hantu, kan? Apa itu berarti kita akan semakin banyak menemukan hal-hal aneh seperti ini kedepannya?”

Pertanyaan Sehun membuat mereka semua terdiam. “Entah mengapa aku merasa sepertinya kita sudah ditakdirkan untuk menangkap hantu-hantu itu.” Ucap Suho. Pria itu menghela napas pasrah.

“Yah, kalaupun memang begitu, setidaknya kita memiliki buku ini. Dan yang terpenting adalah kita bersama-sama. Semua akan menjadi lebih mudah.” Haneul tersenyum manis sembari menatap teman-temannya.

“Ah, aku tidak ingin berada disituasi seperti ini. Aku benci hantu!” Leguh Tao.

“Tidak perlu kau bilang kami sudah tahu dengan amat jelas, hyung.” Ujar sang maknae, Junhong.

Sebenci apapun mereka terhadap hantu, tampaknya mau tidak mau mereka memang harus berurusan dengan makhluk-makhluk mistis itu. Tapi semuanya akan baik-baik saja selama mereka selalu bersama dan saling membantu.

Hantu apa lagi yang akan muncul selanjutnya?

 

 

==============

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s