Diposkan pada Chapters

After The Storm (Part 10)

jbb8Q5fCjVFqn7

 

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title     : After The Storm
Type    : Chaptered
Genre  : Romance, Friendship, Family, Drama
POSTER :
 PHAGGET3V3RL3

Cast :
– Jin Seyeon
– Cho Kyuhyun
– Kim Woo Bin
– Kim Taeyeon
– Choi Siwon

________________________________________

Woo Bin memasuki kamar yang dulu ditempati ibunya. Pria itu masih bisa mencium wangi khas ibunya. Hatinya terasa tenang dan sakit disaat yang bersamaan. Tenang karena bisa mencium wangi khas tubuh ibunya yang sudah lama tak pernah ia cium, dan sakit karena kenyataan bahwa ia takkan bisa bertemu ibunya lagi. Mata Woo Bin tertuju pada meja berukuran sedang yang terletak dipojok ruangan. Tangannya bergetar ketika ia menyentuh potret dirinya. Ternyata sang ibu tidak sedikit pun melupakannya. Woo Bin tersenyum perih.

Pria itu duduk diranjang ibunya. Tangannya memeluk baju milik ibunya. Tetes demi tetes air mata jatuh dipipinya. “Eomma…” Isaknya pedih. “Eomma… aku merindukanmu.”

Seyeon yang tidak sengaja menemukan Woo Bin didalam kamar ibunya hanya bisa menatap dalam diam. Gadis itu tidak berniat untuk mengganggu kegiatan Woo Bin. Ia mengerti bahwa Woo Bin butuh waktu untuk menerima itu semua. Kehilangan seseorang yang amat berarti untuk kita bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Yang Seyeon tahu adalah bahwa saat ini Woo Bin amat sangat membutuhkannya, maka dari itu sebisa mungkin ia akan berada disamping namja itu.

 

 

*****

 

“Kim Taeyeon?” Hana menatap berang kearah putranya. Kyuhyun hanya dapat menghela napas. “Gadis yang kau maksud adalah Taeyeon? Kau rela melepaskan Seyeon demi Taeyeon? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu.” Hana menggelengkan kepalanya.

“Aku mencintai Taeyeon, eomma. Dia juga mencintaiku. Intinya kami saling mencintai. Apakah kami salah jika kami bersama?”

“Jelas salah!” Bentak Hana. Wanita paruh baya itu mengambil tempat disebelah Kyuhyun. Ia menggenggam tangan putra kesayangannya itu. “Taeyeon adalah kekasih Woo Bin. Apa kau tega merebut kekasih temanmu sendiri, eo?”

“Tapi mereka sudah putus, dan Taeyeon tidak pernah mencintai Woo Bin. Dia mencintaiku eomma.” Kyuhyun tetap bersikeras. Hana terlihat sangat kecewa. “Aku tidak menyangka kau menjadi begini, Kyu. Hanya karena seorang gadis kau tega menyakiti temanmu sendiri. Jika tetap seperti ini Woo Bin akan semakin membencimu dan ia takkan pernah memaafkanmu. Aku kecewa padamu.”

Setelah berkata demikian Hana keluar dari kamar Kyuhyun. Kyuhyun merenungkan perkataan ibunya. Ia sadar apa yang dilakukannya telah semakin menyakiti Woo Bin. Namun apa daya, ia hanyalah manusia biasa yang memerlukan cinta. Dan ketika cinta itu menghampirinya, ia berusaha untuk menjaga dan melindungi cinta tersebut.

Kyuhyun menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Helaan napas yang sarat akan rasa lelah keluar dari mulutnya. Kyuhyun bergumam lirih. “Ya Tuhan, apa aku salah jika aku ingin mendapatkan kebahagianku?”

 

*****

 

“Disini dingin. Masuklah oppa.” Ujar Seyeon sembari menyelimuti tubuh Woo Bin dengan selembar selimut. Woo Bin hanya tersenyum kecil. Wajah namja itu sembab dan matanya merah. Seyeon tahu dengan sangat bahwa namja itu sedari tadi menangis. Seyeon ikut duduk disebelah Woo Bin. Mereka berdua tengah duduk diberanda rumah sembari memandang bintang yang bertaburan di langit.

“Dibawa kemana jiwa-jiwa yang sudah pergi itu?” Woo Bin bertanya dengan suara yang kecil, nyaris berbisik. Wajahnya terlihat sangat sedih dan pilu. Seyeon memandang Woo Bin. Gadis itu menggenggam tangan Woo Bin dan mengelusnya. “Aku tidak tahu. Tapi kuharap, dimanapun ibumu berada, ia mendapat tempat yang layak disisi-Nya.”

Woo Bin tersenyum kecil. Namja itu mengamati gadis yang sudah dianggap sebagai adiknya itu. Cantik dan bersinar. Itu kesan yang ia dapat dari Seyeon. Diam-diam dalam hati Woo Bin berharap bahwa gadis yang dicintainya itu bukanlah Kim Taeyeon, melainkan Jin Seyeon.

“Besok kita akan pulang. Aku tidak ingin kau mendapat masalah karena pergi terlalu lama.” Ucap Woo Bin.

“Arasso.”

 

*****

 

Hari pertunangan Siwon dengan gadis bernama Park Gyuri akhirnya tiba. Sanak saudara, rekan bisnis  serta kerabat dari kedua keluarga datang menghadiri pesta mewah itu. Karena ini pertama kalinya bagi keluarga Cho untuk mengadakan acara pertunangan, dan terlebih ini adalah pertunangan putra pertama mereka, maka acara dibuat semeriah dan semewah mungkin.

Semua orang yang melihat Siwon dan Gyuri pasti berdecak kagum, memuji betapa serasinya mereka berdua. Namun yang tidak mereka ketahui adalah bahwa pertunangan ini adalah atas dasar perjodohan dan paksaan orang tua. Gyuri memang tidak terlalu keberatan. Apalagi alasannya kalau bukan karena tampang dan materi yang dimiliki Siwon. Namun Siwon sangat menentang perjodohan ini. Akan tetapi namja itu tidak bisa berbuat apa-apa saat sang ayah meminta ia untuk mencari pengganti Gyuri dan mengenalkannya kepada mereka. Siwon tidak bisa melakukan itu karena namja itu memang tidak punya seorang pun yang ia cintai. Seumur hidup Siwon baru satu kali merasakan cinta, namun sayangnya kisah cintanya tidak semanis di novel maupun drama.

Pada akhirnya Siwon hanya bisa pasrah dan membiarkan hidupnya kembali diatur oleh ayahnya. Siwon memasang wajah datar nan dingin andalannya, sedangkan Gyuri juga tak kalah memasang wajah angkuh andalannya.

Kyuhyun memandang hyungnya itu. Ia prihatin. Ia tahu seperti apa rasanya saat kita disuruh melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan, apalagi yang menyangkut hal percintaan. Taeyeon berbisik. “Walaupun mereka dijodohkan, tapi jujur saja ya, mereka terlihat serasi. Kau lihat saja yang satu memasang tampang datar dan dingin, dan satunya lagi memasang wajah angkuh. Aigooo…”

Kyuhyun tertawa kecil mendengar celotehan yeojachingunya itu. Ia merangkul Taeyeon. Tawa Kyuhyun menghilang saat ia menangkap keberadaan ibunya yang rupanya sedari tadi tengah mengamati mereka berdua. Kyuhyun menjadi agak gelisah. Ia takut ibunya akan bersikap tidak bersahabat pada Taeyeon.

“Eh, itu Hana ahjumma. Aku belum memberi salam. Ayo kita kesana!” Taeyeon menarik tangan Kyuhyun. Namja itu tidak sempat mencegah kekasihnya itu.

“Annyeong haseyo ahjumma. Lama tidak berjumpa. Ahjumma apa kabar?” Tanya Taeyeon ramah.

Kyuhyun menatap dengan cemas, takut akan reaksi yang akan diberikan oleh ibunya. Namun perkiraan namja itu salah. Ibunya memberikan respon yang baik pada Taeyeon. Hana masih bersikap sama, sama sekali tidak ada yang berubah. Hal itu membuat Kyuhyun amat bersyukur.

“Aku baik-baik saja. Senang bisa bertemu denganmu lagi, Taeyeon-ah.” Hana memeluk Taeyeon sekilas.

 

 

*****

 

Hari kelulusan bagi Seyeon dan teman-temannya tiba. Mereka semua berkumpul di aula sekolah demi mendengarkan pidato singkat dari kepala sekolah dan pengumuman murid teladan untuk tahun angkatan mereka, serta pembagian ijazah kelulusan. Mereka semua mendengarkan pidato singkat kepala sekolah dengan penuh khidmat. Hal yang jarang atau bahkan nyaris tidak pernah mereka tunjukkan sebelumnya. Untuk yang terakhir kalinya. Itu pikir mereka semua.

Semua bertepuk tangan meriah ketika Kang Minhyuk dinobatkan menjadi murid teladan. Seyeon ikut berbahagia, meskipun ia dikalahkan oleh teman sekelasnya itu.

“Seyeon-ah, apa kau tahu bahwa Jongin akan meneruskan pendidikannya di Busan?” Tanya Jiyeon sembari menatap temannya itu. Seyeon menggelengkan kepalanya. “Neo jinjja molla?! Aigoo… kurasa ini kesempatan terakhirmu untuk berbicara dari hati ke hati dengannya. Kau takkan pernah tahu kapan akan bertemu dengannya lagi, kan?”

Seyeon terdiam mendengar penuturan Jiyeon. Perasaannya pada Jongin memang sudah tidak sebesar dulu. Sepuluh bulan merupakan waktu yang cukup baginya untuk mengikis perasaannya pada Jongin. Namun tetap saja, ada terselip rasa sedih dibenak gadis cantik itu. Setidaknya ia ingin bisa memperbaiki hubungannya dengan Jongin sebelum namja itu pergi. Ia ingin bisa berteman baik dengan Jongin. Tapi yang menjadi kendala, apakah Jongin bersedia untuk menerimanya kembali sebagai seorang sahabat? Seyeon tidak terlalu yakin.

“Itu Jongin! Palli ka! Jangan sampai kau menyesal.” Ujar Jiyeon.

Jongin tengah berfoto ria dengan teman-temannya. Bisa dibilang ini juga sekaligus pesta perpisahan untuk Jongin. Sebab akhir minggu ini namja itu akan bertolak ke Busan untuk meneruskan pendidikannya.

“Seyeon-ssi.” Suho, salah seorang teman Jongin, menyapa Seyeon sehingga membuat Jongin menyadari keberadaan mantan kekasihnya itu.

“Annyeong!” Seyeon terlihat agak gugup saat ia bertatapan langsung dengan Jongin. Teman-teman Jongin yang mengerti keadaan pun memutuskan untuk memberikan waktu pada mereka.

“Kami kesana dulu.” Ujar Suho sembari mengajak teman-temannya yang lain.

Tinggalah Seyeon dan Jongin disana. Kedua anak manusia itu hanya diam. Mereka berjalan bersisian menuju kelas, ingin mengenang saat-saat mereka di sekolah sebelum pada akhirnya mereka resmi akan meninggalkan sekolah yang telah menaungi mereka selama kurang lebih 3 tahun.

“Aku dengar kau akan ke Busan. Kapan?” Seyeon membuka percakapan. Mereka tengah berada di kelas. Berdiri bersisian didepan jendela sambil memandang taman sekolah.

“Akhir minggu ini. Selamat, kau berhasil masuk ke universitas pilihanmu. Aku turut senang.”

Seyeon tersenyum manis. “Terima kasih. Aku selalu mengharapkan yang terbaik untukmu. Oh ya, kau belum menandatangi journal ku.” Seyeon menyodorkan journal miliknya yang hampir penuh dengan coretan tanda tangan teman-temannya ataupun dengan kata-kata perpisahan teman-temannya. Jongin mengambil buku itu dan membubuhkan tanda tangannya ditempat yang masih kosong. Ia juga melakukan hal yang sama pada Seyeon.

“Keberatan jika berfoto bersama? Hmm… mungkin ini untuk yang terakhir kalinya.” Nada bicara Seyeon menjadi lirih. Jongin hanya mengangguk. Seyeon mengarahkan ponselnya kearah Jongin dan dirinya.

“Seyeon…”

“Ehm?” Seyeon manatap Jongin.

Seulas senyum muncul diwajah Jongin. Senyum yang sudah lama tidak pernah ditujukan pada Seyeon. Seyeon sempat terpana.“Senang bisa mengenal orang sebaik dirimu.” Ucap pria berkulit gelap itu.

“Senang juga bisa bertemu dengan namja unik sepertimu, Kim Jongin.”

Jongin tertawa mendengar perkataan Seyeon. Pria itu menjulurkan tangannya. “Mari memulai semuanya dari awal. Uri chingu haja. Annyeong haseyo, Kim Jongin imnida.”

Seyeon tersenyum sembari menyambut uluran tangan Jongin. “Annyeong haseyo, naneun Jin Seyeon imnida. Bangapseumnida.”

Tidak ada salahnya bukan untuk berteman dengan seseorang yang pernah mengisi hatimu? Setidaknya walaupun tidak bisa bersama sebagai sepasang kekasih, menjadi sahabat bukanlah hal buruk.

 

*****

 

_AT THE RESTAURANT_

Woo Bin mengajak Seyeon untuk makan malam bersama guna untuk merayakan kelulusan gadis itu. Apalagi Seyeon juga sudah resmi diterima di universitas yang sama dengan dirinya. Semenjak kematian ibunda Woo Bin, mereka berdua menjadi semakin dekat. Setidaknya jika sedang bersama Seyeon, Woo Bin dapat sedikit mengalihkan perhatiannya dari Taeyeon. Woo Bin tahu bahwa Taeyeon dan Kyuhyun sudah resmi berpacaran.

Woo Bin menyodorkan sebuah bungkusan pada Seyeon. Gadis itu menatap Woo Bin. “Hadiah kelulusanmu.” Ucap Woo Bin, mengerti arti tatapan Seyeon. Seyeon tersenyum dan kemudian ia membuka bungkusan berukuran sedang itu. Gadis itu nyaris memekik girang saat mendapati 2 buah buku yang sangat diinginkannya tengah berada didepan matanya. Sebuah novel dan sebuah buku partitur.

Mata Seyeon tampak berbinar, membuat Woo Bin ikut merasa senang. “Gomawo oppa.”

Lagi-lagi Woo Bin terpana dengan senyuman indah milik Seyeon. Namja itu sempat membeku sesaat sebelum ia berusaha untuk kembali bersikap biasa.

 

*****

 

_SHINHWA UNIVERSITY_

Seyeon tengah berada di Shinhwa untuk mengurus berkas-berkasnya serta melengkapi persyaratan sebagai mahasiswi baru. Seyeon bertemu dengan Kyuhyun dikoridor kampus. Sudah sebulan lamanya semenjak terakhir kali mereka bertemu.

“Annyeong hoobae.” Kyuhyun melambaikan tangannya. Seyeon tertawa kecil. “Ah, lagi-lagi kau menjadi sunbae ku.” Seyeon menggelengkan kepalanya, pura-pura kecewa. Kyuhyun mengacak poni gadis itu. “Seharusnya kau bersyukur bisa punya sunbae keren seperti diriku.”

Seyeon terkikik geli mendengar kata-kata narsis Kyuhyun. Gadis itu lumayan merindukan Kyuhyun. Semenjak sandiwara mereka sebagai sepasang kekasih usai, mereka jadi jarang bertemu. Apalagi keduanya memang sedang sibuk.

“Bagaimana hubungan sunbae dan Taeyeon unnie?”

Kyuhyun tersenyum. “Kami baik-baik saja. Yah, meskipun sampai sekarang eommaku masih belum terlalu setuju. Dia masih berharap bahwa kau adalah kekasih ku.”

“Haha, aku jadi merindukan ahjumma.” Seyeon mengenang saat-saat dirinya bersama Cho Hana.

Woo Bin memandang tidak suka kearah Seyeon dan Kyuhyun yang sedang bercakap-cakap. Woo Bin benci melihat Kyuhyun dekat dengan semua orang yang dekat dengannya. Woo Bin mengepalkan tangannya. Pria memilih pergi daripada ia kehilangan control dan malah membuat keributan disana. Namun langkah pria itu terhenti. Tepat dihadapannya telah berdiri Kim Taeyeon.

“Annyeong.” Sapa Taeyeon agak ragu. Woo Bin masih diam. Hatinya masih sakit jika mengingat bahwa Taeyeon tega meninggalkan dirinya demi bisa bersama Kyuhyun. Taeyeon yang sepertinya menyadari akan amarah yang terpendam dalam diri Woo Bin, merasa amat bersalah. “Jeongmal mianhe. Aku tahu kau pasti sangat membenciku. Aku benar-benar minta maaf.”

Woo Bin hanya diam. Ia berjalan melewati Taeyeon, namun Taeyeon sempat menahan lengan namja itu. “Tidak bisakah kita bertiga kembali seperti dulu. Kita adalah teman, bukan? Aku merindukan kita yang dulu. Aku merindukan kalian berdua…” Nada suara Taeyeon terdengar amat pilu. Woo Bin mulai goyah, tetapi pria itu tetap mempertahankan egonya. Ia berusaha untuk mengeraskan hatinya. Tanpa berkata sepatah katapun, Woo Bin beranjak pergi, meninggalkan Taeyeon yang hanya bisa menatap sedih kepergian namja itu.

‘Semuanya tidak akan bisa kembali seperti dulu, Tae… Aku sudah terlalu sakit…’

“Apa tadi adalah Woo Bin?” Tanya Kyuhyun yang baru datang. Taeyeon mengangguk pelan. “Aku jahat…” Ucap gadis itu lirih. Kyuhyun menggenggam tangan Taeyeon. “Kita hanya berusaha untuk bahagia, Tae. Itu adalah hal yang wajar. Cepat atau lambat Woo Bin pasti akan mengerti.”

 

*****

 

_IN SEYEON’s HOUSE_

Eun Sang menyodorkan sebuah map. Seyeon menatap berkas yang disodorkan itu dengan bingung, dalam hati bertanya-tanya apa isi map tersebut. Eun Sang tersenyum. “Bukalah.” Suruhnya.

Seyeon membuka map tersebut. Mata gadis itu menyusuri baris demi baris tulisan yang ada dikertas tersebut. Seyeon menghela napas begitu ia tahu bahwa map itu berisi formulir pendaftaran untuk sekolah business yang cukup terkenal di Seoul. Seyeon meletakkan map tersebut.

“Maksud eomma apa? Eomma sudah tahu bukan bahwa aku sudah diterima di Shinhwa. Aku tidak perlu formulir ini lagi.” Ujar Seyeon.

“Tapi sekolah ini adalah sekolah yang bergengsi.”

“Aku tetap tidak mau. Dan bukankah sudah ratusan kali aku katakan bahwa aku tidak ingin menjadi pebisnis sepertimu, eo?” Seyeon berkata dengan kesal. Gadis cantik itu tidak habis pikir dengan ibunya yang selalu berbuat apapun sesuka hatinya. “Eomma sudah berjanji akan membiarkanku memilih jalan hidupku sendiri. Tapi kenapa sekarang eomma begini lagi, eo?”

“Seyeon-ah, kau anak eomma satu-satunya. Eomma hanya ingin memastikan bahwa kau mendapatkan yang terbaik. Dan eomma tidak suka melihatmu masih dekat dengan Woo Bin.”

Seyeon berdecak kesal. “Ah, jadi itu alasan eomma. Eomma tidak ingin melihatku dekat dengan Woo Bin? Bagaimana jika aku bilang bahwa aku mencintai Woo Bin dan sekarang kami tengah berpacaran. Apa yang akan eomma lakukan?” Tantang Seyeon.

Eun Sang mendelik emosi. “Mwo?! Seyeon, kau tidak main-main, kan?”

Seyeon tersenyum sinis. “Apa aku terlihat main-main? Sekali lagi eomma mencampuri urusanku, maka kau tidak akan melihatku lagi.” Ancam Seyeon. Gadis itu tidak main-main dengan ucapannya, terbukti dengan bekas sebuah sayatan yang cukup dalam dilengan kiri gadis itu.

Eun Sang terdiam. Ia tidak bisa berkutik jika Seyeon sudah mengeluarkan ancamannya. Eun Sang tidak ingin mengambil resiko akan kehilangan putri satu-satunya.

“Biarpun Kim Heung Soo adalah namja brengsek, tapi itu bukan berarti jika Woo Bin juga brengsek. Aku mengenalnya dengan baik. Ia berbeda dengan ayahnya. Ia namja baik.” Ucap Seyeon sebelum gadis itu beranjak pergi, meninggalkan sang ibu yang masih duduk diam.

 

 

****

 

Woo Bin uring-uringan. Pasalnya sudah seharian ini ia tidak bisa menghubungi Seyeon. Woo Bin menatap layar ponselnya dengan gusar. Yang aneh adalah, bukan wajah Kim Taeyeon lagi yang menghiasi layar ponsel Woo Bin, melainkan wajah seorang Jin Seyeon. Jangan tanya dimana Woo Bin mendapatkan selca gadis itu. Selalu ada cara bagi Kim Woo Bin untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Tak lama layar ponsel Woo Bin menyala, menandakan adanya panggilan masuk. Ekspresi wajahnya agak berubah menjadi cerah.

“Seyeon-ah…”

“Eo, oppa. Wae geure? Aku melihat ada 5 miscall darimu. Apa hal penting apa?” Tanya Seyeon.

Woo Bin berdecak kesal. “Oh, jadi harus ada sesuatu yang penting dulu baru aku boleh menelponmu, eo?”

“Aniyo, geunyang… jika tidak ada hal yang penting kenapa kau menelponku sebanyak itu?”

“Karena aku ingin mendengar suara mu.”

Seyeon terdiam mendengar perkataan Woo Bin. Jantung gadis itu jadi berdebar tidak karuan.

“Apa yang tadi sedang kau lakukan sehingga membuatmu tidak menjawab teleponku, eo?”

“Aku tadi sedang skype dengan Jongin. Ia menunjukkan asrama barunya dan kami juga banyak bertukar kabar.” Jawab Seyeon dengan nada riang. Nada riang yang membuat Woo Bin seketika menjadi muram. Pria itu mendadak merasa takut. Ia takut jika kemungkinan Seyeon kembali bersama Jongin. Tidak ada yang tidak mungkin, kan?

“Oppa?”

“Seyeon-ah, apa kau masih menyukai Jongin?” Tanya Woo Bin pelan.

Seyeon mengernyit heran. “Kenapa tiba-tiba menanyakan itu, eo?”

“Hanya ingin tahu.”

“Aku dan Jongin hanya teman baik sekarang. Kami memilih jalan seperti ini, setidaknya ini adalah pilihan yang terbaik.”

Woo Bin mendesah lega. Ia telah mendengarnya langsung jika gadis itu takkan kembali pada Jongin. Tapi kemudian Woo Bin tersentak. Kenapa ia harus selega itu hanya karena mengetahui bahwa Seyeon takkan kembali pada Jongin? Ini aneh!

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

2 tanggapan untuk “After The Storm (Part 10)

  1. Sorry ya.., baru comment d part ini.. Baru tau ada web ini.. Cerita nya bagus 2.. Bikin penasaran.. Lanjutanny jgn lama ya… Kykny woo bin mulai suka ama seyeon.. Ff nya daebak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s