Diposkan pada Chapters, Ghost Stories, Oneshot

Ghost Stories (Case 2)

Ghost stories

Author : Cho Haneul
Title      : Ghost Stories (The curse of Melody)
Type     : Series/Chaptered
Genre   : Horror, Mystery, Drama

Cast :
– Kim Ji Won as Choi Haneul
– Park Bo Young as Park Shin Ri
– EXO members
– Zelo aka Choi Junhong
– DaeHyun
– Kim Woo Bin as  Choi Young Do
– Hwang Nam Ri (OC)

_____________________________________

 

Hwang Nam Ri, yeoja yang baru berumur 17 tahun itu, sedang berjalan bersisian dengan Cho seongsaenim, guru musiknya. Terdapat sebuah box berukuran sedang ditangan masing-masing. Mereka akan menyimpan tumpukan kaset dan buku music lama itu di ruang music gedung lama, sebab ruang music di gedung baru sedang direnovasi besar-besaran akibat kebakaran kecil yang terjadi 2 hari yang lalu.

Hwang Nam Ri menatap gedung yang ada dihadapannya dengan perasaan ragu. “Apa seonsaengnim yakin kita akan kesana?” Tanyanya ragu. Wanita dewasa itu menoleh bingung, namun saat ia mendapati wajah Nam Ri yang agak ketakutan, ia jadi mengerti apa maksud gadis itu. Guru Cho tersenyum kecil. “Wae? Kau takut? Tidak ada apa-apa disana. Lagipula ini kan siang hari.” Guru Cho berusaha untuk menenangkan gadis mungil yang ada disebelahnya itu.

Akhirnya, walaupun dengan perasaan yang masih ragu, Nam Ri memantapkan tekadnya untuk memberanikan diri masuk ke dalam gedung lama itu.

“Eh, apa-apaan mereka itu?!”

Nam Ri menoleh kearah pandangan guru Cho. Gadis itu melihat ada tiga orang siswa yang tengah merokok dibelakang sekolah. Guru Cho, yang juga termasuk dalam bidang kesiswaan tentu tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Begitu ketiga siswa itu menyadari keberadaan sang guru, mereka langsung lari pontang panting.

“Yak, jangan lari kalian!” Seru guru Cho. “Nam Ri. Kau letakkan barang-barang ini duluan. Aku akan menyusul setelah memberi pelajaran pada anak-anak badung itu.”

Tanpa menunggu jawaban dari Nam Ri, wanita dewasa sudah berlari mengejar siswa-siswa itu. Tinggalah Nam Ri disana, menatap kosong kearah box yang ada ditangannya dan kemudian pandangannya tertumpu pada gedung tua nan kokoh yang ada dihadapannya. Nam Ri meneguk salivanya.

“Aish, aku pasti sudah gila!” Gerutu gadis itu. Ia tidak punya pilihan lain selain masuk dan meletakkan box yang ada ditangannya ke dalam ruang music. Toh, guru Cho akan segera menyusulnya.

________________________________

 

Suara derit lantai kayu mengiringi langkah Nam Ri. Gadis itu bersenandung kecil untuk mengisi keheningan yang tercipta di dalam gedung tua itu. Gadis itu mengingat-ingat dimana letak ruang music. Ini kali kedua ia masuk ke dalam gedung lama. Pertama kali adalah saat masa orientasi dua tahun lalu.

Langkah kaki Nam Ri sontak berhenti kala samar-samar ia mendengar ada suara dentingan piano. Gadis itu mengerutkan dahinya. “Siapa yang bermain piano? Bukankah seharusnya gedung ini kosong?”

Bukannya malah menjauh, namun Nam Ri justru semakin mendekat kearah datangnya suara tersebut yang ternyata berasal dari dalam ruang music. Gadis itu terdiam sejenak. Jujur, ia merasa terbuai dengan alunan music yang ia tahu adalah hasil karya dari Beethoven itu. Tapi ia juga bertanya-tanya siapa gerangan yang tengah memainkan piano itu. Dengan menggunakan tangan kirinya, Nam Ri menggeser pintu ruang music.

DEG!

Ruangan kosong. Tidak ada satu orang pun disana. Dentingan piano itu juga langsung berhenti bertepatan saat Nam Ri membuka pintu. Dengan agak gemetar Nam Ri melangkahkan kakinya menuju piano yang terletak didepannya.

Telunjuk Nam Ri menekan salah satu tuts piano dengan gemetar, dan ternyata piano tersebut tidak mengeluarkan suara. Nam Ri mencoba tuts yang lain, dan hasilnya sama. Tidak ada sedikitpun nada yang keluar dari piano tua itu. Tubuh Nam Ri bergetar. Gadis itu membalikkan badannya dan langsung berlari keluar ruangan.

BAM!

Suara piano yang keras terdengar kembali dari dalam ruang music itu. “Kyaaaa~”

 

 

*****

 

_DI DALAM KELAS_

“Ini sudah tiga hari dan tidak ada tanda-tanda kemunculan hantu-hantu itu lagi.” Ucap Shin Ri pada Junhong. Pria jangkung berambut hitam itu menatap Shin Ri dengan aneh. “Yak, kenapa sekarang kau malah terkesan ingin berurusan dengan hantu-hantu itu, eo?”

“Aniyo, keunde hanya merasa aneh saja. Aku juga berharap tidak perlu berurusan dengan hantu-hantu itu lagi. Satu kali sudah cukup bagiku.”

Junhong tertawa mendengar penuturan Shin Ri. Nam Ri masuk ke dalam kelas dengan keadaan yang kacau. Tidak ada yang terlalu memperhatikan, kecuali Junhong yang hobinya memang memperhatikan keadaan sekitar. Pria itu mengernyit heran melihat Nam Ri yang seperti orang ketakutan dan ling lung. Biasanya gadis itu akan bersikap hyperactive dan berisik.

Nam Ri yang sadar bahwa ia tengah menjadi objek tatapan Junhong menoleh kearah namja itu dan dengan tergesa ia menghampiri Junhong dan Shin Ri.

“Aku takut!”

“Waeyo? Kau kelihatan tidak baik. Apa telah terjadi sesuatu?”  Tanya Shin Ri cemas. Nam Ri memeluk tubuhnya sendiri. Ia masih gemetar ketakutan. Shin Ri menarik Nam Ri agar duduk dibangkunya, sedangkan gadis itu berdiri sembari mengusap bahu Nam Ri. “Ada apa?” Tanyanya dengan lembut.

“Ada yang tidak beres dengan gedung lama itu.” Ucap Nam Ri dengan suara yang bergetar.

DEG!

Shin Ri dan Junhong saling bertukar tatapan. Mereka memang sudah tahu mengenai hantu-hantu yang berada disana, sebab semuanya tertulis jelas didalam buku harian hantu itu.

“Neo… melihat sesuatu?” Junhong menatap Nam Ri.

Gadis itu mengangguk. “Bukan melihat, keunde aku mendengar suara. Tadi aku bersama Cho seonsaengnim berniat untuk menyimpan kaset dan buku music bekas di ruang music gedung lama, keunde ditengah perjalanan kami bertemu dengan murid-murid badung yang sedang merokok. Seonsaengnim mengejar mereka, dan menyuruhku untuk masuk duluan. Saat ditangga aku mendengar suara alunan music piano, lagu Beethoven. Suara itu berasal dari dalam ruang music. Keunde… saat aku masuk… tidak ada seorang pun disana. Bahkan piano itu sudah tidak berfungsi lagi.”

Kini Nam Ri sudah mulai menangis tersedu-sedu. “Aku tidak mau mati.” Ucap gadis itu sesegukan.

“Mati?!” Seru Junhong dan Shin Ri bersamaan. Mereka menatap bingung kearah gadis yang masih menangis tersedu-sedu dihadapan mereka itu.

Nam Ri menatap kedua temannya itu dengan matanya yang basah dan merah. “Temanku, Miyoung, dia juga mendengar suara music itu saat ia dan teman-temannya menguji nyali di gedung lama. Hanya Miyoung yang dapat mendengar suara itu. Dan semenjak itu ia selalu dihantui oleh suara piano tersebut. Berkali-kali dia mendengar suara itu sampai membuatnya sangat frustasi.” Nam Ri menarik napas. Air mata gadis itu kembali mengalir dari pipinya. “Dan gara-gara suara itu juga… sekarang ia terbaring lemah di rumah sakit akibat kecelakaan.”

“Temanmu kecelakaan?” Shin Ri menatap Nam Ri dengan iba.

“Ne. Saat dijalan ia mendapat telepon, namun saat ia menjawab telepon tersebut, suara piano itu kembai terdengar. Miyoung panic hingga dia menyebrang jalan tanpa melihat dan… kecelakaan itu terjadi. Sekarang ia dalam keadaan kritis. Lagu itu… lagu kutukan!”

 

*****

 

_KEDIAMAN KELUARGA PARK_

“Aku khawatir padanya. Ia kelihatan sangat frustasi.” Ucap Shin Ri.

Chanyeol menenggak air mineralnya. “Apa Hwang Nam Ri yang kau maksud itu adalah Hwang Nam Ri kekasihnya Sehun?” Pria itu menatap yeodongsaengnya. Shin Ri mengangguk. Teman sekelasnya itu memang adalah kekasih Oh Sehun sejak 2 bulan yang lalu.

“Aku akan meminta Haneul untuk mencari tahu perihal mengenai hantu itu dibuku harian. Mana tahu ada petunjuk. Dan kau…” Chanyeol menatap adik perempuannya dengan tegas. “Jangan coba-coba mendekati gedung lama itu tanpaku, ara!”

Shin Ri menganggukkan kepalanya. “Ah, kenapa aku merasa kita seperti sedang berada didalam film horror?” Shin Ri terkikik. Chanyeol mengacak rambut adiknya itu. “Terus saja tertawa seperti itu. Tunggu sampai mereka muncul dihadapanmu lagi.”

“JANGAN BERBICARA SEPERTI ITU OPPA!” Teriak Shin Ri kesal. Chanyeol tertawa keras melihat reaksi adiknya yang agak berlebihan itu. Ia memang senang sekali menggoda adik kesayangannya itu.

 

 

*****

 

_TAMAN SEKOLAH_

Wajah Nam Ri pucat pasi. Semalaman gadis itu tidak bisa tidur akibat terror dari lagu kutukan itu. Lagu itu seakan mengikuti kemanapun Nam Ri pergi. Lagu itu terdengar ketika Nam Ri tengah menelpon, terdengar dari televisi, radio, dan bahkan terdengar dari kotak music gadis itu. Nam Ri bahkan sudah menghancurkan radio serta kotak music kesayangannya itu, namun lagu itu tetap terdengar. Sekarang Nam Ri merasa amat sangat frustasi.

Sehun mengelus punggung tangan kekasihnya itu. Sehun juga tidak menyangka jika kekasihnya harus mengalami hal mistis macam ini.

“Aku sudah membaca buku harian itu, keunde aku tidak menemukan satupun cerita tentang lagu kutukan itu. Yang ada hanya tentang hantu pianis. Aku tidak tahu apa kasus kali ini sama dengan hantu pianis itu.” Ujar Haneul sembari memegang buku harian hantu itu.

“Unnie, aku benar-benar sudah tidak tahan seperti ini. Lagu itu… lagu itu seakan selalu mengikutiku dan enggan pergi. Aku… aku bisa gila jika seperti ini terus!” Nam Ri berkata dengan nada yang amat sangat frustasi. Genggaman tangan Sehun mengerat. Pria itu juga tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan masalah yang tengah menimpa kekasihnya itu.

Haneul menatap Nam Ri iba. “Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membantumu.”

 

 

*****

 

_KEDIAMAN CHOI HANEUL_

“Disini dibilang bahwa lantunan piano itu terdengar dimana saja. Persis seperti kasus yang dialami oleh Nam Ri, bukan?” Haneul menata Chanyeol. Namja tinggi itu mengangguk. “Kurasa ini kasus ini hampir sama. Dan disini juga dibilang bahwa cara untuk menidurkan hantu itu adalah dengan menghancurkan medium yang digunakan oleh hantu itu. Jika dibuku ini medium yang dimaksud adalah piano. Tempelkan kertas jimat kuning ini, lalu menyiram air suci sembari membaca doa dan kemudian membakar medium yang dimaksud.”

Chanyeol mengangguk-anggukan kepalanya. “Kurasa dalam kasus ini kita membutuhkan seorang cenayang.”

“Ehm, kurasa juga begitu.”

“Aku akan meminta tolong pada Xiumin.”

Choi Young Do, kakak tertua di keluarga Haneul, baru saja pulang dari kerja part time-nya. Ia tersenyum ramah menyapa Chanyeol. Kedua orang itu memang sudah saling mengenal seminggu setelah Haneul resmi berpacaran dengan Chanyeol. Terlebih, Junhong juga sangat dekat dengan Chanyeol.

“Sedang membicarakan apa? Sepertinya serius sekali.” Tanya Young Do.

Haneul tersenyum. “Aniya oppa. Hanya sedang membicarakan acara pensi sekolah yang akan datang.” Bohong Haneul. Gadis itu tidak mungkin menceritakan hal sebenarnya. Bukan karena takut sang oppa tidak percaya, sebab gadis itu tahu bahwa Young Do akan selalu percaya padanya. Tapi Haneul hanya takut jika Young Do melarangnya untuk berurusan dengan hantu-hantu itu. Young Do adalah tipe kakak laki-laki yang protektif terhadap adik-adiknya. Pria itu takkan membiarkan dongsaengdeulnya berada didalam bahaya, bahaya sekecil apapun itu.

“Junhong dimana?” Tanyanya.

“Dikamarnya. Ia sedang mengerjakan tugas. Oppa sudah makan?”

“Sudah. Baiklah, silahkan lanjutkan perbincangan kalian. Aku ke kamarku dulu, ne.”

Selepas perginya Young Do, Chanyeol menatap kekasihnya. “Kau tidak menceritakan perihal hal ini pada Young Do hyung?” Tanya Chanyeol. Haneul hanya menggeleng. “Jika oppa tahu aku melakukan hal semacam ini, ia pasti akan menentang. Oppa tidak suka jika aku dan Junhong melibatkan diri kami pada hal-hal berbahaya, termasuk berurusan dengan hantu sekolah.” Jelas Haneul.

 

*****

 

_KEDIAMAN HWANG NAM RI_

Nam Ri memegang ponselnya dengan tangan yang sudah gemetaran. “Sehun oppa?!”

“Ne. Kau kenapa?” Sehun agak panic mendengar suara Nam Ri yang gemetaran dan bahkan sudah terisak.

“Suara itu… aku mendengarnya lagi… Aku mohon datanglah kesini. Aku sendirian di rumah. Orang tuaku sedang pergi ke luar kota. Jebal…” Isakan Nam Ri semakin menjadi-jadi. Sehun langsung bergegas menuju kediaman Nam Ri yang hanya memerlukan waktu tempuh 10 menit dari rumahnya.

“Tunggulah, aku akan segera sampai.”

Lantunan lagu itu kembali terdengar. Tubuh Nam Ri menegang. Dengan takut-takut gadis itu menoleh kebelakang, kearah sebuah piano hitam yang terletak didekat jendela. Disana, tepat didepan piano itu, sesosok makhluk tengah duduk disana. Nam Ri berteriak amat sangat kencang hingga mengalihkan perhatian makhluk itu dari piano. Tatapan makhluk itu terasa amat sangat menusuk. Makhluk itu menyeringai seram. Tanpa pikir panjang Nam Ri langsung berlari menjauh. Keadaan rumah yang agak gelap lumayan menyulitkan langkah gadis itu. Nam Ri sudah akan menuruni tangga, namun tepat dibawah tangga ia melihat hantu dengan pakaian klasik ala eropa. Nam Ri mengurungkan niatnya untuk turun tangga dan memilih untuk berbalik arah. Akan tetapi, begitu ia membalikkan tubuhnya, hantu yang tadi dilihatnya dibawah tangga, kini sudah berada tepat didepan wajahnya.

KYAAAAA~

Nam Ri memekik histeris. Gadis itu kehilangan keseimbangan hingga dengan begitu mudahnya tubuh gadis itu terlempar kebawah.

BRUK!

 

*****

 

_DI RUMAH SAKIT_

Sehun menggenggam tangan Nam Ri dengan lembut. Gadis itu mengalami geger otak ringan dan juga patah tulang. Kondisinya cukup mengkhawatirkan. Namja berwajah dingin itu benar-benar terkejut saat mendapati kekasihnya tengah terbaring lemah dibawah tangga dengan darah yang mengalir dari kepalanya yang terluka akibat benturan.

Kris menepuk bahu sahabatnya itu. “Dia akan baik-baik saja. Besok, ketika obat biusnya sudah habis ia pasti akan sadar.” Ucap Kris, mencoba untuk menenangkan hati Sehun.

Sehun menatap ketiga temannya, Kris, Chanyeol dan Haneul. “Kita harus melakukan sesuatu. Kita harus menyegel hantu itu. Aku tidak ingin ia kembali mengganggu Nam Ri dan membuatnya semakin celaka.”

Ketiga temannya mengangguk setuju. “Aku sudah menghubungi Xiumin, dan besok ia akan membawa saudara sepupunya yang merupakan seorang cenayang. Besok malam kita akan bergerak.” Ujar Chanyeol.

 

 

*****

 

_DI GEDUNG SEKOLAH LAMA_

Haneul, Chanyeol, Kris, Kai, Xiumin, Chen dan Mei Lin sedang berada di gedung tua sekolah mereka. Mei Lin adalah sepupu Xiumin yang merupakan seorang cenayang. Mereka bertujuh tengah menuju ruang music, sebab Nam Ri pertama kali mendengar lagu kutukan serta lantunan piano itu disana. Sehun tidak ikut bersama mereka karena ia masih harus menemani Nam Ri sampai kedua orang tua gadis itu kembali dari Busan.

“Ini ruang keseniannya.” Xiumin berkata sembari menggeser pintu ruangan tersebut.

“Mwo? Kenapa tidak ada? Dimana piano itu?” Kai menggaruk lehernya, bingung.

Mereka melangkah masuk. Piano itu tidak ada disana. Yang ada diruangan itu hanyalah tumpukan kardus yang berisi barang-barang bekas, serta sebuah lemari kayu tua yang sudah lapuk dimakan rayap. “Apa mungkin ada yang memindahkan?” Gumam Kris.

Chen menggeleng. “Tidak mungkin. Piano itu sudah tua dan rusak, jadi mana mungkin ada yang mau repot-repot memindahkannya ke tempat lain. Kecuali… yah, jika ia berpindah sendiri…” Chen mengakhiri kalimatnya dengan nada yang agak ragu. Rasanya masih sulit baginya untuk percaya bahwa hantu itu ada. Namun kejadian yang menimpa dirinya beberapa waktu yang lalu telah membuatnya mau tidak mau harus percaya bahwa hantu itu memang ada disekitar kita.

Mei Lin berjalan mengelilingi ruangan. Gadis itu memejamkan mata sembari menggumamkan beberapa baris mantra dan doa. “Aku memang merasakan kehadiran makhluk itu disini, namun sangat samar dan perlahan-lahan menghilang. Kurasa piano itu memang berpengaruh sangat besar terhadap keeksistensian makhluk itu, maka dari itu ia menyembunyikan piano tersebut.” Mei Lin menatap remaja-remaja yang ada dihadapannya. “Sebaiknya kita berpencar untuk mencari piano itu. Kita harus bergerak cepat sebelum matahari terbenam.” Ucap Mei Lin lagi.

“Aku akan menelpon member EXO yang lain.” Ujar Kai sembari mengeluarkan ponselnya.

Mereka pun berpencar demi mencari piano tua yang tiba-tiba menghilang. Gedung tua yang cukup besar serta luas lumayan mengguras tenaga mereka. Beruntung member EXO yang lain, minus Sehun, Tao dan BaekHyun, dapat membantu pencarian. Bahkan DaeHyun dan Shin Ri juga ikut membantu.

Suho, Kyungsoo, Kai dan Lay mencari dilantai 2. Satu persatu ruangan mereka masuki guna untuk mencari piano itu. Kyungsoo mendesah lelah begitu lagi-lagi mereka tidak menemukan piano itu. “Dimana si hantu itu menyembunyikan piano tua itu? Tidak mungkin piano itu raib begitu saja.”

Dilantai 3 gedung, Haneul, Chanyeol, Junhong, Luhan dan Chen juga tidak kalah frustasi karena tidak kunjung menemukan piano itu. Haneul sedari tadi memeluk buku harian hantu itu. Haneul berjalan ditengah, diapit oleh dongsaeng dan namjachingunya sehingga membuat gadis itu merasa nyaman dan aman.

Namun secara tiba-tiba Haneul mendengar lantunan piano tersebut. Gadis itu seakan terbius akan lantunan piano yang merdu tersebut. Haneul berjalan dengan tatapan mata yang mendadak kosong menuju kearah datangnya suara itu. Tidak ada yang menyadari kepergian Haneul karena disaat itu mereka sedang memeriksa ruang drama yang besar di lantai 3. Tempat itu dipenuhi dengan debu yang berterbangan, benar-benar sarang penyakit. Chanyeol baru saja akan menyuruh Haneul untuk menunggu diluar sebab namja itu tahu bahwa kekasihnya itu memiliki masalah pada pernapasannya.

“Haneul sebaiknya kau______” Ucapan Chanyeol terhenti kala ia tidak mendapati Haneul disana. Ia melayangkan pandangan kesekeliling. Gadisnya tetap tidak dapat ditemukan. “Junhong, dimana Haneul?” Chanyeol mulai panic.

“Aku baru saja akan bertanya padamu hyung!” Ujar Junhong tak kalah panic. Luhan gemetaran. Namja itu memang penakut jika ada sangkut pautnya dengan makhluk gaib.

“Ayo kita cari Haneul!” Ujar Chen.

“Apa jangan-jangan ia diculik oleh hantu toilet?” Tanya Luhan.

Junhong menggeleng. “Tidak mungkin hyung. Hantu toilet itu sudah disegel.” Jawabnya.

 

*****

 

_ATAP SEKOLAH_

Haneul membeku menatap piano yang ada dihadapannya. Ia tengah berada diatap sekolah. Suara itu menuntunnya kesana, dan ia mengikuti suara itu dibawah alam sadarnya. Tepat didepan matanya. Gadis itu melihat sesosok makhluk dengan pakaian ala klasik eropa yang tengah memainkan piano. Haneul bergerak mundur dan mundur hingga tubuhnya menubruk pintu akses ke atap. Haneul berusaha membuka pintu itu, namun pintu itu seakan terkunci. Haneul panic. Ditengah kepanikannya itu ia baru menyadari jika lantunan piano itu telah berhenti. Bulu kuduk Haneul berdiri. Ia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menoleh ke belakang, sebab ia tahu bahwa makhluk itu sudah berdiri tepat dibelakangnya.

Dengan susah payah Haneul tetap berusaha membuka pintu atap tersebut. Entah diusaha yang keberapa gadis itu akhirnya berhasil membuka pintu besi tersebut. Haneul langsung berlari kelua,r dan dengan terburu-buru menuruni anak tangga.

“KYAAAA!” Haneul tersandung kakinya sendiri. Tubuh gadis itu terlempar ke bawah. Haneul sudah pasrah, namun beberapa detik kemudian ia menyadari bahwa ia tengah berada didekapan seseorang.

“Unnie, gwenchana?”

Haneul membuka matanya, dan orang pertama yang dilihatnya adalah Kris. Ternyata Kris yang tadi menangkap tubuhnya. Haneul menoleh dan melihat wajah cemas Shin Ri. “Unnie baik-baik saja?” Tanya gadis mungil itu lagi. Haneul mengangguk.

“Dia disini.” Mei Lin bergegas menaiki tangga menuju atap, diikuti dengan Xiumin dan Daehyun.

“Ayo kita menyusul mereka!” Seru Kris.

Haneul dan Shin Ri berlari berdampingan, sedangkan Kris mengikuti dari belakang. Mereka tiba disana dan menemukan piano itu yang tengah mengeluarkan suara yang indah tanpa ada sesosok pun yang tengah menekan tuts-tuts itu. Mei Lin bergerak maju. Gadis berdarah cina itu memejamkan matanya sembari melafalkan doa dan mantra pengusir hantu. Tak lupa gadis itu mencipratkan air suci pada piano tersebut. Tiba-tiba saja lantunan piano itu berubah menjadi suara yang memekakkan telinga. Tidak ada lagi lantunan yang indah, yang tertinggal hanya suara keras yang memecahkan keheningan sekolah di malam hari.

Dengan serentak mereka menutup telinga mereka. “HENTIKAN!” Teriak Shin Ri. Gadis itu menangis. Ia tidak kuat mendengar suara yang menyakitkan telinga itu. Gendangnya serasa mau pecah.

“Lebih baik kita pergi!” Ajak Xiumin.

 

*****

 

Member EXO yang lain juga mendengarkan suara yang memekakkan itu. Mereka ketakutan, namun mereka takkan pergi sebelum bisa menyelesaikan permasalahan ini. Kai, Suho, Lay dan Kyungsoo bertemu dengan Chanyeol, Junhong, Luhan dan Chen di lobby depan lantai satu.

“Suara apa itu?!” Tanya Luhan panic.

“Hantu itu marah. Kurasa Mei Lin sedang melakukan pembersihan sekarang.” Ucap Suho.

“Apa kalian ada melihat Haneul? Kami kehilangan dia secara tiba-tiba.” Chanyeol tampak frustasi, begitu juga dengan Junhong.

“Mungkin dia sedang bersama rombongan Kris.” Kai berusaha untuk berpikir positif.

Lay yang sedari tadi diam kini angkat bicara. “Lebih baik kita susul mereka. Aku khawatir.”

 

*****

 

“Ada terlalu banyak aktivitas gaib di gedung ini. Pilihan yang paling baik adalah dengan membakar gedung ini.” Ujar Mei Lin. Mereka sedang berada di lantai 3, duduk dibawah tangga.

“Itu memang sudah tidak diragukan lagi. Gedung ini sudah tua dan terlalu banyak menyimpan misteri. Tapi untuk saat ini urusan kita adalah dengan lagu terkutuk itu.” Ucap Xiumin.

Mei Lin menatap buku harian yang ada dipelukan Haneul. “Sepertinya buku itu telah memilih kalian untuk menyelesaikan persoalan ini. Kalian akan mengalami banyak hal yang mistis seperti ini dimasa yang akan datang, bahkan mungkin lebih menyulitkan dan membahayakan daripada ini.” Ucap gadis Cina itu lagi.

“Halo? Ne, kami ada dilantai 3 di dekat tangga bagian selatan gedung. Ya, dia juga ada disini.” Ucap Kris ditelepon. “Baiklah, kami akan menunggu kalian.” Ucap namja itu lagi sebelum menutup teleponnya.

“Siapa?” Tanya Haneul.

“Chanyeol. Ia menanyakanmu tadi. Ia panik karena kau menghilang secara tiba-tiba.”

“Lagu itu menuntunku keatap. Aku saja tidak sadar bahwa aku meninggalkan Chanyeol dan teman-teman yang lain.”

“Hey dengar! Suaranya menghilang!” Seru Daehyun.

Daehyun benar. Kini suasana kembali hening. Hanya helaan napas mereka yang terdengar. Mei Lin menutup mata dan menajamkan indera keenamnya. “Suara itu memang menghilang. Namun kehadirannya masih terasa disini.” Ucap Mei Lin.

Suara langkah kaki terdengar. Tak lama kemudian muncul beberapa orang namja tampan yang masih mengenakan seragam sekolah. Chanyeol langsung menghampiri Haneul. “Kau baik-baik saja? Aku khawatir saat tidak menemukanmu.” Ucap Chanyeol. Wajah pria itu masih panic. Haneul tersenyum kecil sembari menggenggam tangan kekasihnya itu. “Aku baik-baik saja. Lagu itu membiusku.”

“Noona aku khawatir sekali!” Junhong memeluk kakak tersayangnya itu. Haneul membalas pelukan dongsaengnya yang jauh tinggi dibandingkan dirinya. Ia menepuk-nepuk punggung Junhong.

“Apa langkah selanjutnya?” Tanya Kyungsoo.

Xiumin menarik napas. “Satu-satunya cara adalah kita harus membakar piano itu. Air suci itu justru membuatnya murka. Maka dari itu kita akan memancingnya terlebih dahulu. Mei Lin noona akan membaca doa sembari mencipratkan air suci, lalu kita akan menempelkan kertas jimat itu disana dan setelah itu kita akan membakar piano itu.” Xiumin mengutarakan rencananya. Yang lain mengangguk setuju.

“Baiklah kalau begitu, ayo kita kembali ke atap!” Ujar Kris.

 

 

*****

 

Mereka berbondong-bondong kembali ke atap. Mei Lin kembali melafalkan doa dan beberapa mantra. Suara memekakkan itu kembali terdengar, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Mereka semua sontak langsung menutup telinga. Mei Lin tetap tak gentar. Ia tetap terus melafalkan doa-doa sambil mencipratkan air suci.

“Cepat siram bensin ke piano itu!” Pekik Xiumin.

Dengan susah payah Kai membuka tas punggungnya dan mengambil 2 botol penuh bensin serta pemantik api. Chanyeol menempelkan kertas jimat itu diatas piano. Suara itu makin memekakkan telinga. Membuat kepala menjadi sakit. Kyungsoo bahkan sudah tak sadarkan diri. Darah mengalir dari hidung dan telinga namja itu. Kondisi yang tak jauh berbeda juga terjadi pada Luhan, Lay, Shin Ri dan Chen. Chanyeol panic melihat Shin Ri yang sudah pucat dan mimisan. Chanyeol menyuruh Chen untuk membawa Shin Rin, Luhan beserta Lay pergi, sedangkan Daehyun membopong Kyungsoo yang sudah tak sadarkan diri.

Kai dan Suho menyiram bensin itu diseluruh bagian piano dan kemudian Kai itu menyalakan pemantik apinya. Dengan cepat api membakar piano tersebut. Suara piano itu makin terdengar nyaring.

“ARRRRGH!”

“HENTIKAN!”

Para remaja itu berteriak kesakitan. Kepala mereka seakan mau pecah. Mei Lin bahkan sudah terduduk lemas dilantai. Xiumin membopong sepupunya itu. Perlahan namun pasti, api itu membakar seluruh bagian piano. Suara yang awalnya terdengar amat nyaring dan memekakkan itu lama kelamaan memelan hingga akhirnya suara itu menghilang. Mereka semua menghela napas lega ketika suara itu hilang.

Kai dan Suho terduduk lemas di lantai. “Semuanya telah berakhir. Kita berhasil…” Ucap Suho terengah-engah seraya menatap kobaran api yang tengah membakar piano itu. Kedua namja itu saling bertatapan dan kemudian tertawa kecil. “Yah, kita berhasil…” Ucap Kai.

Kris membantu Kai dan Suho untuk berdiri. Namja itu menepuk bahu kedua sahabatnya itu. “Good job guys!” Ucap pria itu dengan aksen Kanadanya.

Sambil saling berangkulan, segerombolan remaja itu pun meninggalkan gedung tua itu. Penampilan mereka acak-acakan dengan noda darah diwajah dan seragam sekolah mereka. Namun begitu, satu hantu lagi telah sukses mereka segel.

“Kalian semua baik-baik saja?” Tanya Chanyeol.

“YA!” Jawab mereka sambil tersenyum puas.

Sebelum benar-benar meninggalkan sekolah, Mei Lin sempat menoleh. Gadis berusia 23 tahun itu menghela napas. “Sepertinya sebentar lagi kalian akan kembali bertemu dengan makhluk-makhluk itu.” Gumam Mei Lin.

 

 

 

==============

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s