Diposkan pada Chapters

After The Storm (Chapter 11 – END)

jbb8Q5fCjVFqn7

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title     : After The Storm
Type    : Chaptered
Genre  : Romance, Friendship, Family, Drama
POSTER :
 PHAGGET3V3RL3

Cast :
– Jin Seyeon
– Cho Kyuhyun
– Kim Woo Bin
– Kim Taeyeon
– Choi Siwon

_____________________________________

 

Woo Bin hanya dapat menatap kosong kearah ayahnya yang sedang bermesraan dengan seorang wanita yang tak dikenalnya. Tangan pria itu mengepal dengan sempurna. Ingin rasanya ia menyalurkan emosinya tersebut, namun ia tak tahu pada siapa ia harus menyalurkannya. Kim Heung Soo dan wanita itu masuk kedalam hotel. Woo Bin sudah dapat menebak apa yang akan ayahnya lakukan didalam sana.

Pria tinggi itu masuk kedalam mobilnya. Tangannya menggenggam kemudi mobil dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.

BRAK! BRAK! BRAK!

Woo Bin memukul-mukul setir mobilnya dengan membabi buta, layaknya orang yang tengah kerasukan. Woo Bin baru berhenti ketika ia nyaris tidak bisa merasakan tangannya lagi. Tangannya sudah memerah, namun sakitnya tidak separah sakit hati yang tengah dirasakannya sekarang. Woo Bin benci menyadari bahwa didalam tubuhnya mengalir darah Kim Heung Soo, lelaki paling brengsek yang pernah dikenalnya selama ia hidup.

Satu persatu bulir air mata jatuh dipipi Woo Bin. “Aish!” Ia mengelap air matanya dengan kasar. Satu hal lagi yang dibencinya saat ini. Ia benci menjadi lemah!

“ARRRGH!”

 

*****

 

Seyeon berdiri ditengah tangga rumahnya. Mata gadis itu menatap sekitar dengan tatapan sendu. Lagi-lagi kekosongan itu muncul dihatinya. Seberapa pun kerasnya ia berusaha untuk tidak peduli, namun pada akhirnya ia tetap akan merasakan perasaan sesak dan sedih. Seyeon tahu seharusnya ia tidak perlu merasa demikian. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan keadaan rumah yang selalu sepi. Tanpa sosok ibu apalagi ayah. Sejak kecil ia sudah merasa bahwa keluarganya memang berbeda dari keluarga teman-temannya.

Ayah dan Ibunya tidak pernah mengajaknya piknik bersama seperti keluarga pada umumnya. Ia bahkan tidak pernah mengingat kapan terakhir kali kedua orang tuanya mengajaknya liburan bersama. Atau malah tidak pernah sama sekali?

Mata Seyeon memanas. Ia tidak ingin menangis, akan tetapi rasa sesak dihatinya terlalu mendominasi. Pada akhirnya gadis malang itu lagi-lagi mengeluarkan air matanya. Seyeon membayangkan akan seperti apa rasanya memiliki keluarga yang utuh dan orang tua yang saling mencintai serta mencintai dirinya. Ia tidak pernah merasakan itu semua.

“Eomma… Appa…”

 

 

*****

 

_CAMPUS BACKYARD_

“Ini semua salahku… Mereka begini karena ku. Aku ingin memperbaiki segalanya, namun aku sadar bahwa itu hal yang sulit. Terlebih aku telah menyakitinya Woo Bin terlalu banyak. Entahlah, apa aku bisa memperbaiki segalanya.” Taeyeon mendesah lirih. Gadis itu menatap menerawang. Seyeon ikut sedih melihat sunbae-nya seperti ini. Ia tahu bahwa keinginan terbesar Taeyeon adalah untuk melihat kedua sahabatnya bisa kembali akur.

“Unnie, bagaimana jika kita merancang sebuah rencana agar mereka kembali berbaikan?” Usul Seyeon sembari tersenyum.

Taeyeon terlihat tertarik. “Rencana yang bagaimana?”

“Aku ada villa kosong di Daejun. Bagaimana jika liburan bulan depan kita kesana? Keunde, kau jangan memberitahu mereka bahwa mereka akan bertemu disana. Kita akan pergi secara terpisah. Disana, kita akan memulai rencana kita untuk mendekatkan mereka kembali. Eotte?” Tanya Seyeon.

Taeyeon tersenyum sumringah sembari menganggukkan kepalanya. “Ide bagus! Ku harap dengan begitu mereka akan bisa menjadi dekat kembali. Kyuhyun oppa benar-benar berharap Woo Bin akan dapat memaafkannya. Aku tahu bahwa kesalahan Kyuhyun memang fatal, tapi setidaknya ia sudah menyesal. Ia sudah menghukum dirinya sendiri selama 2 tahun belakangan.”

 

*****

 

Seyeon menatap jalanan dengan bingung. Gadis itu yakin bahwa ini bukanlah jalan menuju rumahnya. Seyeon menoleh menatap Woo Bin yang masih fokus dengan kemudinya. “Oppa, ini bukan jalan menuju rumahku. Kita mau kemana?”  Tanya Seyeon penasaran.

“Kita memang tidak akan pulang. Setidaknya untuk malam ini.” Jawab Woo Bin tanpa menatap Seyeon.

Seyeon menjadi semakin bingung. “Tapi____”

“Ku mohon… aku sedang tidak ingin sendiri. Aku takut melakukan hal-hal gila jika aku sendiri.”

Nada bicara Woo Bin terdengar sangat pilu dan frustasi. Seakan namja tampan itu sedang memikul beban yang amat berat. Seyeon menjadi tidak tega untuk meninggalkannya. Akhirnya gadis itu menuruti keinginan Woo Bin. Toh ia sudah bertekad untuk selalu ada disisi Woo Bin selama namja itu masih membutuhkannya.

Woo Bin memarkir mobilnya didepan sebuah taman kecil. Taman yang terletak didataran tinggi itu membuat siapapun yang datang dapat menikmati pemandangan kota Seoul dari atas sana. Suasana malam kota Seoul benar-benar indah dengan kelap kelip cahaya lampu yang berwarna warni. Woo Bin keluar dari dalam mobilnya, diikuti oleh Seyeon. Mereka duduk dibangku taman yang ada disana sembari menikmati pemandangan malam kota Seoul.

“Hari ini si brengsek itu kembali berkencan dengan wanita lain. Ini sudah wanita kedua setelah ibumu.” Woo Bin mengepalkan tangannya. Pria itu menghela napas, mencoba untuk menjaga emosinya. “Aku tahu bahwa seharusnya aku sudah terbiasa dengan hal ini, keunde… setiap aku mengingat penderitaan ibuku akibat namja brengsek itu… aku… aku sangat marah. Aku sangat membenci pria itu. Aku sangat membenci ayah kandungku sendiri. Bagaimana bisa ibuku menikah dengan namja brengsek seperti dia. Ibuku terlalu baik.”

Seyeon menggenggam tangan Woo Bin yang mengepal, menyalurkan kehangatan bagi namja yang tengah dirundu frustasi itu. “Jangan membencinya. Jika bukan karena dia, kau tidak akan berada disini. Aku tahu bahwa perbuatannya sudah tidak bisa kau maafkan lagi, keunde… cobalah untuk tidak terlalu membencinya. Ia ayahmu sendiri.”

Woo Bin menegadahkan kepalanya. “Apa kau membenci ibumu?”

Pertanyaan itu membuat Seyeon terdiam. Jujur, ia memang pernah amat sangat membenci ibunya. Bukan hanya ibunya, tetapi juga ayahnya. Namun gadis itu belajar bahwa kebencian hanya akan menyakiti dirinya sendiri, terlebih jika orang yang dibencinya itu adalah orang tuanya sendiri. Maka dari itu Seyeon berusaha untuk menghilangkan kebencian itu.

“Bohong jika aku berkata aku tidak pernah membenci ibu. Alasan terbesarku melakukan percobaan bunuh diri adalah karena aku benci ibuku… aku benci dengan kehidupanku. Namun aku sadar, bahwa kebencian itu hanya akan menyakiti diriku sendiri. Aku memang masih kesal pada ibuku, tapi setidaknya aku tidak membencinya. Bagaimanapun juga ia adalah orang yang telah melahirkanku dan merawatku. Tanpanya aku takkan bisa menjadi seperti ini.” Seyeon tersenyum kecil.

Woo Bin terdiam mendengar perkataan Seyeon. Namja itu melepaskan genggaman tangan Seyeon dan berbalik menggenggam tangan gadis itu. Seyeon tersenyum kecil melihat tangannya yang berada dalam genggaman tangan Woo Bin yang besar. Terasa pas ditangannya.

“Kalau kau tidak ada disini bersamaku, entah apa yang akan kulakukan pada diriku sendiri. Perasaan ini sangat menyesakkan, hingga membuatku ingin mati.” Ucap Woo Bin lirih.

“Geokjonghajima, aku akan selalu berada disisimu…”

 

*****

 

Kedua gadis cantik itu menjalankan rencana mereka untuk mendamaikan Kyuhyun dan Woo Bin. Seyeon dan Woo Bin yang pertama kali sampai di villa. Setelah meletakkan barang-barang mereka didalam kamar masing-masing, mereka berdua memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar villa, menikmati pemandangan alam yang begitu kaya akan keindahan.

Taeyeon dan Kyuhyun sampai setengah jam kemudian. Taeyeon tersenyum senang menatap villa berukuran sedang yang ada dihadapannya. Meski tidak terlalu besar, namun villa tersebut terlihat sangat indah dengan arsitekturnya yang bernuansa Eropa klasik, mengingatkan pada rumah-rumah di Eropa zaman dulu. Pemandangan sekitar juga sangat indah dengan berbagai macam tanaman dan bunga yang tumbuh dengan subur. Danau berukuran besar didepan villa juga menambah keindahan villa tersebut.

“Ini villa siapa?” Tanya Kyuhyun penasaran.

Taeyeon tersenyum manis. “Kan sudah kukatakan sebelumnya bahwa ini adalah villa temanku. Kau tidak percaya?”

“Bukan begitu. Keunde, siapa nama temanmu itu? Bukan kah aku mengenal hampir semua temanmu?”

“Kau akan tahu nanti. Kajja!” Taeyeon keluar dari mobil sambil membawa barang-barangnya. Kyuhyun tidak punya pilihan lain selain mengikuti kekasihnya itu. Dalam hati pria tampan itu masih amat sangat penasaran mengenai pemilik villa tersebut.

Taeyeon mengetuk villa tersebut. Tidak ada yang merespon. Saat gadis itu ingin melayangkan ketukan kedua, sebuah suara yang ia kenal memanggil namanya.

“Taeyeon eonnie!”

“Annyeong Seyeon-ah, maaf kami agak terlambat.”

Kyuhyun membeku ditempatnya. Bukan karena kehadiran Seyeon, namun karena kehadiran namja yang dibelakang Seyeon. Reaksi Woo Bin juga tak jauh berbeda dengan Kyuhyun. Kedua namja itu saling mematung, menatap kosong satu sama lain. Seyeon dan Taeyeon saling bertukar pandang. Kedua gadis itu berinisiatif untuk mencairkan suasana yang mulai menegang.

“Ayo ayo kita masuk kedalam!” Ajak Seyeon. Gadis itu mengandeng lengan Woo Bin. Mereka berjalan masuk mendahului Taeyeon dan Kyuhyun. Kyuhyun menahan tangan kekasihnya. “Kenapa kau berbohong? Kau bilang ini villa temanmu.” Desis Kyuhyun agak kesal karena merasa dibohongi.

“Nan? Berbohong? Jelas-jelas aku sudah sangat jujur. Seyeon kan memang temanku. Apa kau lupa, eo?” Taeyeon menatap Kyuhyun intens. Gadis itu menarik tangan Kyuhyun lembut. “Rubah ekspresi menyeramkanmu itu! Ayo masuk!”

______________________________________________

“Berhubung kamar yang bisa digunakan hanya dua, jadi kita akan berbagi kamar. Kyuhyun oppa sekamar dengan Woo Bin oppa, sedangkan aku berdua dengan Taeyeon eonnie.” Seyeon merangkul lengan Taeyeon.

Kedua namja itu menghela napas. Mereka sudah menduga bahwa akan menjadi seperti ini. “Apa tidak bisa dirubah?” Tanya Woo Bin malas.

Seyeon melotot menatap Woo Bin. “Yak! Kau berharap kita sekamar begitu?”

“Yah, setidaknya lebih baik daripada aku sekamar dengan…” Woo Bin melirik malas kearah Kyuhyun. Kyuhyun menjadi agak tersinggung. “Kau pikir aku senang sekamar dengan namja yang suka mendengkur sepertimu? Cih, jangan berharap!”

Woo Bin melotot kesal. “Mwo? Mendengkur?! Bukannya kau yang hobi mendengkur dan selalu membuat pulau dibantalmu, eo?” Nada bicara Woo Bin terdengar amat sangat meremehkan Kyuhyun.

“Yak kau!”

“DIAM KALIAN!” Teriak Seyeon dan Taeyeon serempak. Kedua yeoja ini menghela napas kesal, berusaha untuk bersabar dalam menghadapi kedua namja kekanakan yang ada dihadapan mereka. Taeyeon menatap kedua namja itu kesal. “Tidak ada penolakan! Pilih tidur di kamar atau tidur di luar?!” Ujar Taeyeon tegas, membuat kedua namja itu terdiam. “Jah, ayo kita berberes dulu sebelum memasak untuk makan siang.” Taeyeon tersenyum kecil sembari mengandeng tangan Seyeon. Kedua yeoja itu tersenyum puas melihat tidak ada penolakan lagi dari Kyuhyun maupun Woo Bin.

“Semoga rencana kita sukses.” Harap Taeyeon.

“Hm, kuharap juga begitu. Hwaiting!” Seyeon mengepalkan tangannya sambil tersenyum manis.

 

 

*****

 

Suasana dapur begitu tenang, atau lebih tepatnya dingin. Kedua namja itu masih ngotot untuk mempertahankan gengsi mereka. Hal ini membuat Seyeon dan Taeyeon gemas bukan kepalang.

“Oppadeul, jika kalian tidak berniat untuk membantu, maka pergi jauh-jauh dari dapur ini. Kalian membuat pekerjaan kami terhambat.” Keluh Seyeon. Woo Bin merangkul gadis itu. “Mian, aku tidak akan mengacaukannya. Aku juga sudah lapar, kau tahu.”

“Baiklah kalau begitu.” Ucap Seyeon.

Gadis itu membalikkan badannya, berniat untuk mengambil piring. Akan tetapi lantai yang licin membuat Seyeon nyaris terpeleset. Beruntung Woo Bin dengan sigap menahan tubuh Seyeon sehingga Seyeon terhindar dari rasa sakit akibat terpelanting. Gadis itu tersenyum manis pada Woo Bin. “Gomawo oppa.” Ucapnya.

Woo Bin terkesima dengan senyum yang ditujukan untuknya itu. Begitu indah dan tulus. Woo Bin dibuat gugup karenanya. Taeyeon yang menyaksikan itu tersenyum tipis.

‘Sepertinya kau sudah mulai bisa untuk melupakanku.’

Mereka makan sambil bertukar cerita. Lebih tepatnya hanya Seyeon dan Taeyeon yang bertukar cerita. Woo Bin dan Kyuhyun hanya menjadi pendengar setia sembari menyantap hidangan mereka. Kedua namja itu duduk berhadapan. Tapi sebisa mungkin mereka menghindari kontak mata. Entah apa yang akan terjadi malam nanti saat dengan terpaksa mereka harus berbagi kamar.

“Kenapa sayurnya tidak dimakan? Bukankah ini makanan kesukaanmu?” Ujar Seyeon pada Woo Bin. Tanpa menunggu jawaban dari namja itu, Seyeon menyendokkan sayuran tersebut kedalam piring Woo Bin. Woo Bin menjadi salah tingkah. Ia merasa seperti seorang suami yang tengah dilayani oleh istrinya sendiri. Terlebih sayuran itu memang khusus dimasak oleh Seyeon untuknya.

“Apa makanannya enak?” Seyeon bertanya dengan nada semangat. Gadis itu berharap-harap cemas menunggu jawaban dari Woo Bin. Begitu melihat anggukan Woo Bin yang dibarengi dengan sebuah senyuman lembut, membuat gadis itu senang bukan kepalang. Rasanya berbunga-bunga… seperti mendapatkan pujian dari suami mu.

‘Eh? Mwoya ige?!’

 

*****

 

“Kyuhyun-ah, tolong ambilkan tangga di lantai 2, eo. Sepertinya lampu dapur akan mati sebentar lagi.” Pinta Taeyeon. Kyuhyun meletakkan buku yang tengah dibacanya. “Tunggu sebentar.” Ucapnya.

“Tangganya ada di lantai 2, di kamar yang dekat jendela besar.” Ujar Taeyeon sebelum Kyuhyun pergi. Gadis itu menatap punggung Kyuhyun sambil tersenyum senang.

“Semoga dengan begini akan memperbaiki keadaan.” Gumam Taeyeon.

 

________________________________________

Kyuhyun melangkah masuk kedalam kamar yang dimaksud. Namja itu agak bingung dengan keadaan pintu yang terbuka, seperti ada seseorang didalam kamar itu. Kyuhyun terdiam ketika melihat Woo Bin yang sedang sibuk mencari sesuatu. Woo Bin menyadari akan kehadiran seseorang. Ia membalikkan tubuhnya, dan wajahnya berubah dingin.

Kyuhyun berdeham. “Neo… kau sedang mencari apa? Butuh bantuan?”

Woo Bin hanya diam. Pria itu memutuskan untuk pergi. Ia berjalan begitu saja melewati Kyuhyun, seakan Kyuhyun adalah namja yang kasat mata. Woo Bin menarik pintu, namun namja itu mengernyit heran saat mendapati bahwa pintu itu tidak bergeming sama sekali. Ia menarik-narik gagang pintu, namun hasilnya tetap sama. Pintu itu tetap tidak terbuka.

Kyuhyun menoleh bingung. “Apa pintunya terkunci?” Tanyanya.

Woo Bin menghela napas. “Kau lihat sendiri kan ini tak bisa dibuka.” Jawabnya ketus.

Kyuhyun menarik gagang pintu tersebut, dan hasilnya sama seperti Woo Bin. “Bagaimana bisa terkunci? Padahal tadi tidak apa-apa.” Ujar Kyuhyun sambil masih berusaha untuk membuka pintu itu. Ia bahkan menggedor-gedor pintu tersebut seraya memanggil Taeyeon dan Seyeon, berharap bahwa kedua yeoja itu akan datang dan menolong mereka.

Woo Bin mengusap wajahnya gusar. Pria itu memilih untuk duduk disofa yang ada diruangan itu. “Percuma. Mereka tidak akan datang. Toh ini adalah rencana mereka.” Ucap Woo Bin datar, menghentikan kegiatan Kyuhyun.

“Bagaimana…”

“Seyeon menyuruhku kesini untuk mencari bola lampu. Kau pasti juga disuruh oleh Taeyeon untuk mencari sesuatu disini, keuchi?”

“Sialan!” Desis Kyuhyun. Pria itu tertawa hambar. “Benar-benar mereka itu.”

Merasa tidak ada yang bisa dilakukannya lagi, Kyuhyun pun berinisiatif untuk duduk disebelah Woo Bin. Mereka duduk bersebelahan, namun seakan ada tembok tebal yang memisahkan mereka. Lumayan lama mereka duduk diam dalam keheningan. Kyuhyun melirik Woo Bin. Ia sudah tidak kuat menahan perasaannya lagi. Jauh dilubuk hatinya, ia masih sangat menyayangi sahabatnya itu. Ia merindukan saat-saat mereka menghabiskan waktu bersama. Woo Bin adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki.

“Mianhe…” Ucap Kyuhyun lirih, memecahkan keheningan diantara mereka.

Woo Bin menghela napas. Ia benci suasana seperti ini. Melihat tidak ada reaksi dari Woo Bin, Kyuhyun kembali meminta maaf. “Jeongmal mianhe. Aku tahu aku ini brengsek, bajingan, penghianat. Terserah kau mau mengatai aku apa. Keunde, aku benar-benar minta maaf Woo Bin-ah. Aku tahu, kata maafku ini takkan membuat… tangan mu kembali seperti sedia kala. Nan… aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat menyesal. Andai aku dapat memutar waktu maka…”

“Diam! Kau bersujud pun takkan pernah mengembalikan semuanya seperti sedia kala.”  Woo Bin berkata dengan nada sedingin es.

Kyuhyun menatap Woo Bin lirih. “Arayo. Bahkan jika aku mati pun keadaan tidak akan menjadi bisa menjadi seperti dulu. Andai saja ada yang bisa kulakukan agarkau sudi memaafkan ku. Apapun itu akan kulakukan…”

Woo Bin tidak menberi respon pada perkataan Kyuhyun. Namja itu hanya diam sembari memejamkan kedua matanya. Perasaannya kembali goyah. Sebagian hatinya menyuruhnya untuk memaafkan Kyuhyun, namun sebagiannya lagi menyuruhnya untuk tetap mempertahankan egonya.

PRANG!

Mata Woo Bin sontak terbuka saat ia mendengar bunyi benda yang pecah. “YAK APA YANG KAU LAKUKAN EO!” Woo Bin berteriak panic saat melihat Kyuhyun yang sedang mengarahkan pecahan kaca yang tadi dipecahkannya ke pergelangan tangan kirinya. Kyuhyun hanya diam, namun dengan perlahan pecahan kaca tadi mulai mengiris pergelangan tangannya hingga menyebabkan pergelangan tangannya itu berdarah. Woo Bin dengan sigap merebut pecahan kaca itu sebelum Kyuhyun mengiris lengannya  lebih dalam.

“APA KAU GILA BRENGSEK?! APA KAU PIKIR DENGAN BEGINI SEMUANYA AKAN KEMBALI MENJADI SEMULA?!” Woo Bin berteriak kalap. Kyuhyun terduduk lemas dilantai sembari menunduk. Perlahan, bulir-bulir air mata terjatuh dipipi pucat Kyuhyun.

“Mianhe… jeongmal…” Ucap Kyuhyun lirih.

Woo Bin tanpa sadar juga ikut menangis. Hatinya terasa sakit saat melihat Kyuhyun yang rapuh seperti ini. Woo Bin bersimpuh didepan Kyuhyun, dan tanpa berkata apa-apa ia menarik Kyuhyun kedalam pelukannya. Tangisan Kyuhyun semakin menjadi.

“Mianhe Woo Bin-ah… jeongmal mianhe…”

“Diamlah babo! Aku sedang tak ingin mendengarkan permintaan maafmu.”

 

*****

 

Kyuhyun, Seyeon, Taeyeon dan Woo Bin sedang duduk dimeja makan, menghabiskan sarapan pagi mereka. Di dalam hati, Seyeon dan Taeyeon berharap-harap cemas. Pasalnya semenjak mereka membuka pintu kamar pagi ini, Woo Bin dan Kyuhyun tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Kedua namja itu masih tetap diam. Bahkan Taeyeon dan Seyeon cukup cemas melihat lengan Kyuhyun yang terluka. Namun kedua yeoja itu memutuskan untuk tidak banyak bertanya. Taeyeon juga bungkam ketika ia sedang memberi perban pada lengan Kyuhyun.

Seyeon menawari Woo Bin udang goreng tepung. Kyuhyun yang melihatnya langsung membuka suara. “Woo Bin alergi terhadap udang.” Ucap Kyuhyun. Taeyeon dan Seyeon saling bertukar pandangan.

Woo Bin menatap kedua yeoja dihadapannya dengan tajam, membuat Taeyeon dan Seyeon agak bergidik. “Kyuhyun-ah, apa yang harus kita lakukan pada kedua yeoja nakal ini, eo? Dengan seenaknya mereka mengunci kita di kamar itu semalaman. Membuat kita menggigil kedinginan.”

“Ah geureyo Woo Bin-ah… hmmm…” Kyuhyun tampak berpikir sejenak, sebelum kemudian sebuah seringai evil muncul diwajahnya.

Taeyeon dan Seyeon menjadi semakin bingung sekaligus waspada. “Ka… kalian… sudah berbaikan?” Tanya Taeyeon agak terbata.

Kyuhyun menatapnya tajam. “Menurutmu? Kalian pikir gara-gara siapa kami begini?”

“Kyu, ayo!”

Woo Bin dan Kyuhyun berlari mengejar Taeyeon dan Seyeon. Kedua gadis itu berlari pontang panting, takut jika sampai ditanggap oleh kedua namja usil itu. Kyuhyun berhasil menangkap pergelangan tangan Taeyeon. “Kena kau!” Kyuhyun tertawa puas. Tangan-tangan usilnya mulai menggelitiki tubuh Taeyeon, membuat gadis itu menjerit histeris. Semakin keras jeritan Taeyeon, maka Kyuhyun semakin bersemangat menggelitiki tubuh gadisnya itu.

“Yak yak! Lepaskan aku Evil Kyu!” Taeyeon meronta-ronta, namun sama sekali tidak ditanggapi oleh Kyuhyun.

Woo Bin menangkap tubuh Seyeon dari belakang. Lebih tepatnya memeluk tubuh gadis itu dari belakang. Seyeon yang tadinya berontak mendadak terdiam. Gadis itu merasa gugup yang amat sangat. Ia dapat merasakan napas Woo Bin yang menyapu tengkuknya, membuatnya merinding. Ia merasa begitu dekat dengan Woo Bin.

 

*****

 

Malam ini merupakan malam terakhir mereka di villa. Besok pagi mereka akan kembali ke Seoul guna untuk menjalani aktivitas harian mereka. Mereka berempat tengah ber-barbekyu ria dihalaman depan villa yang langsung berhadapan dengan danau yang indah tersebut. Malam yang dingin tidak menyurutkan kesenangan mereka berempat barang sedikitpun.

Taeyeon dan Seyeon tak henti-hentinya tersenyum melihat hubungan Kyuhyun dan Woo Bin yang perlahan namun pasti menunjukkan perubahan yang positif. Kedua namja itu bahkan tengah sibuk saling membantu memanggang ikan sambil sesekali tertawa, layaknya sahabat lama yang setelah sekian lama berjumpa kembali.

“Rencana kita berhasil. Seharusnya sudah sedari dulu aku menjalankan rencana ini.” Ujar Taeyeon sembari menatap Woo Bin dan Kyuhyun dengan penuh haru. Seyeon tersenyum mendengar perkataan Taeyeon. Ia turut bahagia melihat namjadeul yang disayanginya rukun seperti ini.

Taeyeon mengalihkan pandangannya pada Seyeon. “Lalu… kau bagaimana?” Gadis bertubuh lebih pendek daripada Seyeon itu mengerling jahil, khas seorang Kim Taeyeon.

“Aku bagaimana?” Tanya Seyeon bingung.

“Kau dengan Woo Bin…”

Wajah Seyeon bersemu merah. “Maksud eonnie apa sih? Nan molla.” Seyeon berpura-pura menyibukkan diri dengan menata meja yang akan mereka gunakan untuk makan nanti. Taeyeon tertawa jahil. “Aigoo aigoo… ada apa dengan wajahmu yang bersemu itu, eo?”

“Eonnie!” Seyeon memegang kedua pipinya, membuat tawa Taeyeon semakin membahana.

“Ada apa? Sepertinya seru sekali?” Tanya Kyuhyun yang baru datang. Pria itu membawa hasil panggangannya. Tangannya merangkul pasti bahu sang kekasih. Taeyeon menoleh kearah Kyuhyun. “Aniya, hanya urusan yeoja.”

“Ayo ayo kita makan!” seru Woo Bin sembari meletakkan hasil panggangannya diatas meja.

“Ah, aku lupa minumannya!” Taeyeon menepuk dahinya pelan. Gadis itu menarik tangan Kyuhyun. “Ayo bantu aku mengambil minumannya!” Ajak gadis itu.

Seyeon memakan ikan hasil panggangan Woo Bin dan Kyuhyun. “Emm, mashita!” Tukas gadis itu semangat. Woo Bin tersenyum. “Jinjjayo? Haha, aku memang berbakat!” Pujinya pada diri sendiri.

Seyeon menyuapi Woo Bin. “Otte? Enak kan?”

Woo Bin mengangguk. “Tentu saja! Kemampuanku memang tidak diragukan lagi.”

“Dasar narsis!” Seyeon menyenggol bahu Woo Bin yang duduk disebelahnya itu. Woo Bin menggenggam tangan Seyeon, membuat gadis itu menatapnya dengan bingung. “Gomawo untuk yang telah kau dan Taeyeon lakukan untuk kami. Berkat kalian, aku dan Kyuhyun bisa berbaikan.” Ucap Woo Bin tulus. Seyeon tersenyum. “Itu sudah tugas kami, oppa. Aku senang dapat membantu. Kau dan Kyuhyun oppa adalah namja yang penting bagiku.”

Woo Bin menatap Seyeon dalam. “Seberapa penting aku bagimu?” Pertanyaan itu terucap dari mulut Woo Bin. Pria itu sudah tidak tahan untuk menanyakan hal yang selama ini berseliweran dikepalanya. Seyeon tadinya terdiam membeku, namun tak lama, sebuah senyuman manis dan begitu tulus muncul diwajah cantiknya itu. “Sangat penting… hingga aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.”

Woo Bin tersenyum mendengarnya. “Neo… juga adalah orang terpenting dalam hidupku, setelah mendiang ibuku, tentunya.”

Kedua muda mudi itu sama-sama tersenyum manis. “Bagaimana jika kita mencoba untuk… em… ketahap yang lebih serius dan tinggi?”

“Maksud oppa?”

“Bagaimana jika kita berpacaran saja?”

Seyeon terkaget mendengar perkataan Woo Bin yang begitu santai namun penuh dengan kesungguhan. Gadis itu menatap Woo Bin dalam. Woo Bin sebenarnya agak takut dengan jawaban yang akan diberikan Seyeon. Bisa dibilang ini salah satu hal nekat yang pernah ia lakukan dalam hidupnya. Bagaimana jika Seyeon menolaknya dan kemudian gadis itu akan menjauhinya? Aish!

CUP!

Oksigen Woo Bin seakan ditarik paksa dari paru-parunya. Sangking senangnya ia jadi sulit untuk bernapas. Namja itu menyentuh ujung bibinyar yang tadi dikecup oleh Seyeon. Ia menatap gadis yang sedang tersenyum malu itu.

“Kuanggap itu iya.” Ucap Woo Bin.

“Menurutmu?”

Seyeon tertawa kecil, membuat Woo Bin ikut tersenyum kala mendengar suara tawa gadis yang mulai detik ini menjadi miliknya. Woo Bin menarik Seyeon kedalam pelukannya dan mengecup dahi gadis itu dengan lembut. Perlahan ia menurunkan kecupannya, kehidung dan kemudian berakhir dibibir merah muda milik Seyeon.

“Aku menyayangimu…”

“Aku juga menyayangimu oppa…”

“Yak yak Kim Woo Bin! Jangan seenaknya mencium dongsaengku!” Seru Kyuhyun jahil.

“Yak Kyu babo, sudah sana jangan menggangguku!”

Dan malam itu dilalui mereka dengan canda dan gelak tawa.

 

-The End-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

8 tanggapan untuk “After The Storm (Chapter 11 – END)

  1. anyeongggg thor aku reader baru disini bru nemu ff yg main cast nya jin seyeon stelah menjelajah muter muter google akhirnya dpat juga wah senang bnget lebay
    buat lagi thor ff yg cast nya jin seyeon onnie jarang bnget yg buat ff sperti ini.trus mau bca ff yg cast nya jin seyeon eonnieeh malah pakai bhs inggris maklum thor nilai bhs inggris ku pas pasan eh knpa malah curhat
    sudahlah plis buat lgi thor he he he mian bnyak permintaaan nya

    1. Annyeong Ratna 🙂 Makasih banyak udh baca ff ini. Hehe, aku emg suka sama Jin Seyeon. Tenang aja, pasti aku bakalan bikin cerita dgn Seyeon sbg main cast lg kok. Ditunggu aja ya ^^

  2. sbenernya q dah slesai bca ff ni cma q lnjut bca ff u yg IJNY, mf y q komnnya chapter akhir soalnya ffnya udah slesai jdi nanggung bnget gpp kan hehe,, q kra endingnya bkal ma kyu & q psti akn prots ke authornya,,hehe just kid pling q cma nangis haha.. tpi syukrlh sma woobin, q g tw ni cma prasaan q aj ato g, stiap ngeliat part jsy sm kyu koq lbih sreg jd adik kk dibnding jd couple, soalnya q prnh liat jsy ma kyu di radio star,,hehe jdi mf y. udh ah q komn pnjang bget, tpi autor jgn bosn komn q yg pnjng, pkokny kslurhn crt bags bgt.. FIGHTING bwt autornya, bwt ff jsy lg y????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s