Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

It’s Our Turn (Part 9)

It's Our Time florfiore

Title     : It’s Our Turn (Sequel from KDrama “The Heirs”
Genre  : Romance, Friendship, Drama
Type    : Chaptered
Poster From : radioactive_lego 

Cast :
– Kim Ji Won as Yoo Rachel
– Kim Woo Bin as Choi Young Do
– Lee Minho as Kim Tan
– Kim Suho as Kim Suho
– Park Shin Hye as Cha Eun Sang
– Krystal Jung as Lee Bona
– Kang Minhyuk as Yoon Chanyoung
– Park Hyun Shik as Joo Myung Soo
– Doo Hwe Ji as Park Shin Rin

____________________________________

Rachel masih belum mengatakan apapun mengenai rencana pertunangannya dengan Suho pada Young Do. Ia tak ingin membuat namja itu risau. Lagipula Rachel dan Suho akan berusaha keras agar pertunangan mereka batal. Sepertinya akan mudah untuk meyakinkan ibunda Suho, Kim Jieun. Sebab wanita paruh baya itu berhati lembut dan dia sangat mengutamakan kebahagiaan Suho diatas segala-galanya. Kontras sekali bukan perbedaannya dengan Esther?

Young Do bukannya tidak menyadari. Namja itu sadar dengan perubahan yang dialami oleh Rachel. Meskipun tak terlalu signifikan, namun Young Do tahu bahwa kekasihnya itu sedang menghadapi masalah yang pelik. Tadinya Young Do ingin mendesak Rachel untuk bercerita, akan tetapi pada akhirnya namja itu membiarkan sampai Rachel sendiri yang berniat untuk bercerita.

“Young Do-ya…” Ucap Rachel amat lirih. Young Do yang sedang duduk disebelah gadis ini sontak langsung menoleh. “Waeyo?” Tanyanya lembut.

“Eomma sudah merencanakan pertunanganku dengan Suho.” Adu Rachel pada akhirnya. Gadis itu sudah tidak kuasa untuk menyimpan semua permasalahannya seorang diri. Young Do terdiam. Sebenarnya namja itu sudah tidak kaget lagi. Ia tahu bahwa cepat atau lambat ini memang akan terjadi. Ia hanya tak berharap bahwa pertunangan itu terjadi saat ini, disaat ia baru saja merajut kasih dengan Rachel. Young Do mengamati ekspresi Rachel yang begitu sendu.

“Nan… aku tak ingin bertunangan dengan Suho ataupun dengan namja lain selain denganmu.” Ucap Rachel terisak. Young Do langsung menarik gadis bertubuh mungil itu kedalam pelukannya. Lengan kekar namja itu melingkari tubuh Rachel. “Arayo… aku juga tidak rela melihat mu bertunangan dengan namja lain selain denganku.” Balas Young Do dan kemudian ia mengecup lembut puncak kepala Rachel, membuat gadis itu agak sedikit lebih tenang.

“Kita akan bisa melewatinya asal bersama-sama…”

 

*****

 

_STUDIO MYUNGSOO_

“Kemana Young Do? Tumben ia tidak ada disini.”

acac4cdc58825bb0dbf7c94aba1d823a

Myungsoo tersenyum bocah. “Aigoo, kau merindukannya ternyata.” Ucap namja itu dengan nada menggoda. Kim Tan memutas bola matanya. “Aku hanya bertanya, bukan berarti aku merindukan namja aneh itu.” Elak Kim Tan.

Myungsoo dan Chanyoung bertukar pandang sambil terkekeh kecil. Mereka senang sekali bahwa rencana mereka untuk memperbaiki hubungan Kim Tan dan Young Do berjalan dengan amat baik. Semenjak di arena paint ball itu, hubungan Young Do dan Kim Tan sudah tidak sekaku dulu. Bahkan mereka pernah beberapa kali memergoki Kim Tan dan Young Do yang saling membela ataupun mengobrol layaknya teman akrab. Persis seperti saat mereka masih kecil dulu.

Myungsoo duduk disebelah Kim Tan. “Sepertinya peristiwa kau dan Eun Sang akan kembali berulang, namun kali ini pemerannya adalah Rachel dan Young Do.” Myungsoo berkata dengan nada prihatin. Kim Tan dan juga Chanyoung menatapnya bingung, butuh penjelasan lebih dari Myungsoo.

Myungsoo mengerti arti tatapan kedua temannya ini. Ia kembali melanjutkan perkataannya. “Aku dengar dari Young Do bahwa ibu Rachel kembali menjodohkan Rachel. Dan bahkan ia sudah merencanakan pertunangan dalam waktu dekat ini.”

Kim Tan dan Chanyoung terdiam. Mereka merasa prihatin dengan nasib yang lagi-lagi tidak berpihak pada Young Do dan Rachel.

image4

“Nyonya Esther memang keterlaluan. Bagaimana mungkin ia kembali melakukan ini pada Rachel. Belum sampai setahun pertunangan Rachel dan Kim Tan batal, dan ia kembali merencanakan pertunangan lain untuk Rachel. Aku kasihan pada Rachel.” Ucap Chanyoung.

Kim Tan masih diam. Sekarang ia mengerti mengapa akhir-akhir ini sikap Rachel kembali dingin dan kaku. Itu semua karena masalah yang tengah menimpanya sekarang. Kim Tan sangat ingin membantu Rachel dan Young Do. Ia sangat ingin melihat kedua teman baiknya itu bahagia, seperti dirinya yang tengah berbahagia bersama Eun Sang.

 

 

*****

 

Suho menatap gadis didepannya dengan tajam. “Park Shin Rin, aku hanya akan mengatakannya satu kali, jadi dengarkan baik-baik!” Suho menarik napas dalam-dalam. “Apa kau menyukaiku?”

Shin Rin terdiam mematung. Oksigennya seakan direnggut paksa dari paru-parunya. Shin Rin menjawab dengan terbata. “Ke… kenapa kau… tiba-tiba bertanya seperti itu, eo?”

“Jawab saja! Apa kau menyukaiku?”

“Kenapa aku harus menjawab? Apa pentingnya untukku?”

Suho memegang kedua bahu gadis itu. Ia agak sedikit menunduk guna untuk menyamakan tingginya dengan Shin Rin. Kedua mata Suho yang biasa teduh dan lembut itu kini sarat akan emosi dan juga kegugupan.

“Ini sangat penting… untukku… Jadi ku mohon, jawablah pertanyaanku ini.” Nada suara Suho terdengar amat memelas. Shin Rin memberanikan diri untuk balas menatap namja itu. “Bagaimana denganmu? Apa kau menyukaiku?” Shin Rin balas bertanya tanpa menjawab pertanyaan Suho terlebih dahulu.

“Sangat suka… Aku amat sangat menyukaimu… Saranghae…”

Shin Rin terpaku mendengar perkataan Suho. “Neo… tidak bercanda kan? Bukankah kau menyukai Rachel?”

Suho menggeleng cepat. “Aniya! Aku tidak pernah menyukai Rachel. Aku selama ini selalu mencoba untuk membuatmu cemburu. Aku ingin kau hanya melihatku seorang. Aku tidak ingin kau melihat Kris atau Kai, atau namja lainnya.” Suho terengah-engah. Ia tidak pernah tahu jika mengungkapkan perasaan akan memakan energy seperti ini. Suho kembali membuka suara. “Eomma berniat untuk melaksanakan pertunanganku dan Rachel dalam waktu dekat ini. Pertunangan ini bisa batal asal aku bisa membawa yeoja yang aku cintai kehadapan eomma ku. Jika kau menyukaiku dan dapat membalas perasaanku maka aku akan sangat senang sekali. Namun, jikalau pun kau menolakku, aku takkan marah. Aku menghargai keputusanmu.” Suho menatap Shin Rin dengan sungguh-sungguh.

Gadis itu menahan salivanya. “Ayo…” Ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan.

Alis Suho terangkat, bingung dengan maksud Shin Rin. Shin Rin menatap Suho. Sebuah senyuman manis terpatri diwajah cantinya. “Ayo kita temui eomma mu. Bukankah kau harus membawa yeoja yang kau cintai kehadapan eomma mu?”

Senyum Suho seketika langsung mengembang. Pria itu menggenggam tangan Shin Rin dan kemudian menarik gadis itu kedalam pelukannya. Wajah Shin Rin bersemu merah. Beruntung tidak ada orang lain selain mereka di taman itu, jadi Shin Rin tidak khawatir jika ada yang melihat adegan romantis mereka sekarang.

“Gomawo Park Shin Rin. Sudah lama aku ingin mengatakannya. “Saranghae…”

“Nado.”

 

*****

 

Rachel enggan turun dari motor Young Do. Gadis itu masih betah duduk dibelakang namja itu sembari memeluk tubuh tinggi nan tegap milik Young Do. Young Do mengelus punggung tangan Rachel. “Sampai kapan kau akan terus memelukku?” Goda Young Do sambil terkekeh kecil. Rachel memukul pundak namja itu, agak jengkel dengan gurauan yang dilontarkan Young Do.

“Ya sudah kalau kau tak senang ku peluk.” Rachel beranjak turun dari motor Young Do, namun dengan cekatan namja itu menahan Rachel. “Aku tidak bilang kan kalau aku tak senang kau peluk.” Ujar namja itu.

Young Do menangkup kedua pipi Rachel dengan tangannya. Mata tajamnya menatap tepat ke manik mata Rachel. “Kau percaya kan padaku? Aku akan berusaha untuk membuat eomma mu berubah pikiran.”

Rachel menghela napas. “Tapi bagaimana?” gadis itu putus asa.

Young Do memeluk Rachel. “Kita pasti akan menemukan cara. Tuhan tidak akan membiarkan kita terlalu lama menderita.”

“Eo, aku percaya itu…”

 

*****

 

Rachel masuk kedalam mobil hitam milik Suho. Wajah namja itu terlihat amat sangat cerah. Ia terlihat bahagia. Sekitar 15 menit yang lalu, namja itu mengirim pesan pada Rachel dan meminta gadis itu untuk menemuinya didepan rumah. Suho enggan untuk masuk kedalam rumah. Ia tidak ingin bertemu dengan Esther.

“Kabar baik!” Suho berseru senang.

Rachel menatap namja itu dengan datar. Suho menggenggam kedua tangan Rachel. Wajah namja itu masih amat sumringah. “Pertunangan kita batal. Ibuku akan segera menghubungi ibumu untuk membatalkan pertunangan kita.”

“Eh? Bagaimana bisa?”

Sekali lagi Suho tersenyum cerah. “Aku sudah membawa Shin Rin untuk menemui ibuku.”

“Itu berarti kau dan dia sudah berpacaran?”

“Ne, tepat sekali!” Suho menatap Rachel dalam. “Kau juga harus berjuang, ne! Kau harus bisa meyakinkan ibumu agar membiarkanmu bersama Young Do. Meskipun ia ketus dan menyeramkan, keunde aku merasa bahwa ia adalah namja yang baik dan setia.”

“Ah, betapa aku berharap bahwa ibuku berhati lembut seperti ibumu.”

Suho menepuk-nepuk pelan punggung tangan Rachel. “Jangan menyerah seperti ini. Seperti bukan Yoo Rachel saja. Fighting Rachel-ah! Dan terima kasih atas pertolonganmu selama ini.”

 

 

*****

 

_DI CAFÉ_

Lagi-lagi Esther datang ke café ini, Lovato Café. Terakhir kali ia datang ke café ini adalah beberapa bulan yang lalu. Dan ia bertemu dengan sekretaris Yoon disitu. Esther menyesap kopinya. Mata wanita paruh baya itu menatap luas keluar jendela, melihat banyaknya pejalan kaki yang berlalu lalang di trotoar. Esther memejamkan matanya, berharap saat ia membuka mata nanti lelaki yang dipikirannya akan muncul. Esther tertawa kecil menyadari betapa bodohnya ia mengharapkan hal yang mustahil seperti itu. Kebetulan tidak akan muncul dua kali.

“Annyeong Esther.”

DEG!

“Neo…” Bibir Esther terasa kelu. Ia menatap pria yang pernah-dan sampai sekarang masih- mengisi kekosongan dihatinya. Pria yang biasa dipanggil sekretaris Yoon, atau yang juga lebih dikenal sebagai appa dari Yoon Chanyoung, menatap Esther dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Jika boleh jujur, ia agak merindukan wanita modis dan elegan yang sedang duduk dihadapannya ini. Namun ia benci mengakui jika ia merindukan wanita ini. Wanita yang telah berkali-kali menyakiti hatinya. Menarik ulur perasaannya seakan perasaannya hanyalah sebuah rasa yang tak berarti.

“Lama tak bertemu.” Ucap Yoon lagi.

Esther tersenyum miris. “Ne. Kau terlihat… baik.”

Chanyoung mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja. “Ne. Kau juga tampak lebih baik dari terakhir kali kita bertemu.”

Kedua pria dan wanita itu duduk dalam diam sembari menikmati kopi mereka masing-masing. Sesekali Esther mencuri pandang kearah Yoon. Wanita itu sampai sekarang masih mengagumi perawakan pria itu yang tampak begitu tenang dan tanpa beban.

“Ku dengar dari anakku kau kembali menjodohkan Rachel, eo?”

“Ne. Aku hanya berusaha untuk membuat dia bahagia.”

“Dengan cara kembali memaksanya untuk menikah dengan pria yang tidak ia cintai?” Nada bicara Yoon terdengar sinis. Pria itu tidak suka dengan sifat egois yang sangat dominan pada Esther.

Esther menatap Yoon tajam. “Cinta itu bisa muncul dengan seiring waktu berjalan. Lagipula Rachel masih muda.”

“Justru karena ia masih muda, tidak seharusnya kau membebankan ini semua padanya. Biarkanlah ia menentukan jalan hidupnya sendiri.”

“Rachel anakku. Aku berhak melakukan apapun padanya. Jangan campuri urusan keluargaku! Kau bisa berkata jika aku jahat, egois dan ibu yang tidak pengertian. Keunde, aku melakukan ini semata-mata hanya demi kebahagiaan Rachel.”

Yoon menghela napas. Ia menatap mata Esther. “Tapi kau melupakan satu hal. Uang tidak bisa menjamin kebahagiaan seseorang. Uang tidak bisa memberikan kasih sayang…”

Yoon bangkit berdiri. Pria itu kembali membuka suara sebelum ia benar-benar pergi dari tempat itu. “Ingat itu baik-baik Esther. Kau sudah pernah membuat kesalahan dimasa lalu. Aku tidak ingin kau menyesal. Sampai jumpa…”

Esther termangu mengingat perkataan Yoon. Perkataan namja itu membuatnya mengingat masa lalunya bersama Yoon. Saat dengan sepihak ia memutuskan hubungannya dengan pria itu hanya karena pria itu tak cukup mapan baginya. Tangan Esther mengepal erat. Wajahnya memerah menahan emosi yang begitu membuncah didadanya.

 

*****

 

_DI KELAS_

Heirs 07

Bona dan Eun Sang sedang asyik bercengkrama sambil diselingi dengan gelak tawa. Kedua gadis remaja itu juga sesekali berdebat mengenai DVD apa yang akan mereka tonton nanti malam untuk mengisi acara girl’s night mereka.

“Dasar Kang Ye Sol! Tiba-tiba saja ia membatalkan janji dan lebih memilih menghabiskan malam minggu dengan namja tidak jelas itu!” Gerutu Bona kesal.

“Yah, wajar saja. Ye Sol sangat menggilai namja itu.”

Bona menatap Rachel yang baru saja masuk kedalam kelas. Gadis itu tahu bahwa Rachel sedang bertengkar dengan ibunya. Bahkan Bona juga tahu jika Rachel berniat untuk keluar dari rumah mewahnya itu lantaran tidak sanggup menghadapi sang ibu.

“Yoo Rachel!” Panggil Bona tiba-tiba, membuat Rachel maupun Eun Sang menatap gadis cantik itu dengan pandangan ingin tahu. Bona berjalan menghampiri Rachel. “Aku dan Eun Sang akan mengadakan girl’s night di rumahku. Kebetulan kedua orang tuaku sedang tidak ada. Dan em… apa kau mau ikut bergabung. Akan sepi sekali jika hanya aku dan Eun Sang saja, sebab sib abo Kang Ye Sol itu lebih memilih untuk berkencan dengan namja babonya.”

Rachel menatap Bona. Gadis itu terlihat berpikir. Namun tak lama sebuah anggukan terlihat. Bona tersenyum sembari merangkul Rachel. “Kajja! Kami sedang memilih film apa yang malam ini ingin kami tonton. Apa kau ada rekomendasi film yang bagus?”

5568b5a4a6967b742e4b6ba171041c5c

Rachel menatap Bona dan Eun Sang secara bergantian. Kedua gadis itu nampak sangat semangat dan mereka menerima kehadiran Rachel dengan amat baik, seakan tak pernah terjadi hal yang buruk diantara mereka sebelumnya. Bona dan Eun Sang memang sudah bertekad untuk melupakan semua kejadian buruk dimasa lalu. Mereka ingin menjalin hubungan baik dengan Rachel. Mereka tahu pasti bahwa Rachel adalah gadis yang baik. Ia hanya kekurangan kasih sayang dan perhatian hingga membuatnya menjadi gadis yang kaku nan dingin seperti es.

Looking-Forward-to-Romance-5

Hati Rachel menghangat kala mendapat perlakuan yang begitu baik dari Bona dan Eun Sang. Seumur hidup Rachel tidak pernah memiliki teman dekat perempuan. Rachel memang tidak terlalu pandai bergaul. Lagipula, kebanyakan yeoja teman sekelasnya memang menghindari Rachel. Mereka merasa bahwa Rachel bukanlah yeoja yang cocok untuk berteman dengan mereka mengingat sikap dingin dan ketus yang kerap gadis itu tampakkan.

“Ah, malam ini akan menyenangkan!” Ujar Bona sumringah.

“Kita juga bisa masak makan malam kita sendiri. Aku baru mempelajari resep baru dari ibuku.” Tambah Eun Sang.

“Aku bisa membantu.” Ucap Rachel tiba-tiba yang sukses membuat perhatian Eun Sang dan Bona bertumpu padanya. Eun Sang dan Bona tersenyum senang melihat sikap Rachel yang sudah mulai mencair. Ini merupakan awal yang baik bagi mereka.

“Mohon bantuannya Yoo Rachel.” Eun Sang tersenyum ramah.

 

 

*****

 

Young Do melangkahkan gontai memasuki studio Myungsoo. Wajahnya terlihat muram dan pandangannya menerawang. Langkah Young Do berhenti tepat ketika ia menuruni anak tangga terakhir. Matanya menatap lurus kearah Kim Tan. Kim Tan membalas tatapan Young Do.

“Myungsoo sedang membeli cemilan.” Ucapnya tanpa ditanya. Young Do hanya mengangguk dan kemudian duduk di sofa.

Kim Tan mengamati wajah Young Do. Pria itu merasa iba pada Young Do. Kenapa lagi-lagi takdir seperti tidak memihak pada Young Do? Disaat namja itu berhasil mendapatkan gadis yang dicintai, namun hubungan mereka terancam berakhir hanya karena ibu sang gadis yang tidak menyukai Young Do. Terkadang takdir memang begitu kejam.

“Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Kau dan Rachel saling mencintai. Aku yakin kalian akan bisa melewati semua ini.”

Young Do menoleh menatap Kim Tan. Perlahan, sebuah senyuman tulus muncul diwajah Young Do. “Terima kasih.” Ucapnya pelan. Kim Tan tersenyum sebagai balasan.

11020312196_4b630159f3_b

Yah, sepertinya setelah ini mereka akan kembali pada diri mereka yang dulu. Choi Young Do dan Kim Tan yang saling bersahabat. Namun bedanya kali ini mereka tidak akan bekerja sama untuk membully murid-murid lagi. Pengalaman dan beraneka kejadian dalam hidup mereka telah merubah kedua namja itu menjadi pribadi yang lebih baik.

 

*****

 

Rachel melangkah dengan gontai. Ada banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya hingga ia tidak sadar bahwa ada seorang pria yang tengah memperhatikannya dengan intens.

“Rachel!”

Rachel mendongak guna untuk menatap si pemanggil tersebut. Bola mata gadis itu membesar saat ia mendapati namja yang amat sangat ia rindukan tengah berdiri sembari tersenyum hangat padanya. Pria itu melambaikan tangan pada Rachel. Dengan berlari-lari kecil, Rachel menghampiri pria tersebut dan memeluknya erat. Mata gadis itu berkaca-kaca.

“Aku merindukanmu, appa…”

 

___________________________________

_DI RESTORAN_

Yoo Joongki, pria paruh baya itu menatap putrinya dengan penuh rindu. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia bertemu dengan putri satu-satunya ini. Esther melakukan segala cara untuk memisahkannya dengan Rachel, apalagi hak asuh Rachel memang jatuh ketangan Esther. Joongki sendiri selama ini bukannya tidak berusaha untuk menemui Rachel. Pria itu hanya butuh waktu untuk kembali bangkit dari keterpurukannya akibat perceraian dan perusahaannya yang gulung tikar. Hal kedua itulah yang menjadi penyebab perceraiannya dengan Esther.

“Mian, appa baru bisa menemuimu sekarang. Sebenarnya sebelum appa pindah ke Busan, appa sudah berusaha untuk menemuimu. Keunde… yah, kau tahu sendiri bagaimana ibumu.” Ucap Joongki pelan. Rachel mengangguk pelan. Ia tahu betul tabiat ibunya itu.

“Bagaimana kabar appa? Dan bagaimana perkembangan bisnis appa di Busan?” Tanya Rachel sembari menatap wajah sang ayah.

Joongki tersenyum. “Bisnis baru appa berjalan dengan lancar. Memang belum terlalu pesat, tapi appa yakin appa bisa kembali seperti dulu.”

“Ne, aku yakin appa pasti bisa.” Rachel tersenyum. “Sampai kapan appa akan berada di Seoul?”

“Sekitar 3 bulan. Ada urusan pekerjaan yang harus appa selesaikan disini.” Jawab Joongki.

Rachel menatap appanya. Ia ingin mengungkapkan permintaannya, namun ia merasa agak ragu. Ia takut appanya menolak. Akan tetapi Rachel membulatkan tekadnya. Gadis itu menatap lurus kearah sang appa. “Appa… bolehkah aku tinggal bersamamu?”

Joongki agak kaget mendengar permintaan Rachel. Pria paruh baya itu tersenyum hangat. “Tentu saja boleh, sayang. Appa sangat senang jika kau mau tinggal bersama appa. Keunde, bagaimana dengan ibumu? Appa yakin ia takkan setuju.”

“Aku tidak peduli. Lagipula, aku sudah 19 tahun sekarang. Secara hukum, aku sudah dewasa dan bebas untuk menentukan pilihanku sendiri. Tak ada yang bisa menghalangiku, bahkan eomma sekalipun.”

Joongki menatap putrinya. Ia tahu apa yang selama beberapa bulan ini dialami oleh putrinya. Meskipun ia tidak pernah berhubungan secara langsung dengan Rachel, namun ia tetap memantau perkembangan putrinya itu dari jauh melalui orang-orang kepercayaannya.

“Jangan membenci ibumu, Rachel…”

Rachel tersentak. Ia sontak menatap ayahnya. Ayahnya seperti tahu apa yang ada dipikirannya. Rachel menunduk dalam. “Aku tidak bermaksud untuk membencinya. Aku hanya tidak suka dengan caranya yang selalu memaksakan kehendaknya padaku. Aku memang anaknya, keunde aku juga manusia yang punya perasaan. Ia tidak bisa terus menerus memaksakan ambisinya padaku. Naega neomu himdeuro.” Rachel mencurahkan semua keluh kesahnya pada sang appa. Seumur hidup, Rachel tidak pernah merasa sedekat ini dengan ayahnya. Dulu ia memang tidak terlalu dekat dengan ayahnya yang notaben adalah seorang pebisnis yang super sibuk.

Namun setidaknya, sang ayah tak pernah memperlakukannya seperti boneka yang tak bernyawa dan berperasaan. Tidak seperti ibunya…

“Kapan kau mau pindah?”

“Hari ini juga.”

 

*****

 

Esther menatap panic kearah Rachel yang sedang sibuk membenahi barang-barangnya dan memasukkan baju-bajunya kedalam koper.

“Apa yang akan kau lakukan?!”

“Mulai hari ini aku akan keluar dari rumah ini dan tinggal bersama appa.” Jawab Rachel dingin sembari masih sibuk membenahi barang-barangnya. Ia bahkan tak mau repot-repot untuk menatap sang ibu. Esther menggeram marah. Dengan sekali tarikan, ia menarik tangan Rachel dan menghempaskan tubuh putrinya keatas ranjang.

“Apa kau gila?! Kau tidak bisa tinggal bersamanya! Kau berada dibawah asuhanku.”

Rachel tersenyum sinis. “Itu berlaku sampai 2 bulan yang lalu. Sekarang aku sudah 19 tahun, dan menurut hukum aku bebas untuk memilih tinggal bersama siapa. Dan aku memilih untuk tinggal bersama appa.”

Esther menatap tidak percaya kearah Rachel. “Neo… lebih memilih untuk tinggal bersama pria gagal itu, eo?!”

“Pria gagal yang kau maksud itu adalah appa kandungku. Setidaknya ia jauh lebih baik daripada seorang wanita sukses tapi selalu menyengsarakan anaknya.”

JLEB!

Kata-kata Rachel begitu menusuk hati Esther. Apalagi ditambah dengan pandangan dingin yang tak bersahabat yang ditujukan Rachel padanya. Dada Esther terasa sesak.

“Apa kau mau hidup pas-pasan bersamanya dan meninggalkan semua kemewahan ini? Kau tahu bukan jika kau pergi dari rumah ini maka kau harus siap untuk menanggalkan semua kemewahan ini?” Esther masih berusaha keras untuk merubah niat Rachel. Sumpah, demi apapun, ia tak ingin kehilangan putri satu-satunya ini.

Rachel tersenyum sinis. “Nan arayo… Keunde, kau juga harus tahu bahwa semua kemewahan ini bukanlah segalanya. Harta dan tahta takkan bisa menjamin kebahagiaan seseorang. Semua hartamu takkan pernah bisa memberikan kasih sayang yang selama ini kubutuhkan.”

Esther termangu mendengar perkataan putrinya yang sama persis dengan perkataan Yoon tempo hari. Rachel menyeret kopernya dan menenteng sebuah tas lain yang juga berisi barang-barang pribadinya. Ia berjalan kearah Esther. Gadis itu mengambil tangan ibunya dan kemudian ia meletakkan dompetnya yang berisi uang dan kartu kredit  miliknya ke tangan Esther. “Simpan ini. Aku tidak membutuhkannya.” Ucap gadis itu dan kemudian ia beranjak pergi.

Esther terdiam, tanpa bisa mencegah kepergian putri tercintanya. Ia hanya dapat menatap nanar kearah dompet Rachel yang berada ditangannya.

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

13 tanggapan untuk “It’s Our Turn (Part 9)

  1. YEAAAH, Esther di skak mat sampe gk berkutik sama aksinya Rachel. Wkwkwk
    Udah Rachel tinggal sama appanya aja. Pasti hidupnya bakal adem-ayem-tentram-damai dan yang paling penting dapet lampu ijo buat pacaran sama Young Do. Haha
    Ditunggu part selanjutnyaaa 😀

    1. Hahaha, ide yg bagus! biar aja Esther menderita sebatang kara wkwkwkw 😀 gomawo udh baca dan nyempetin komen. Ditunggu next chapternya aja yaa 🙂 Makasih

  2. Author mian, tapi aku mau tanya apakah tidak ada persaingan antar young do dan hyo sin sunbae untuk memperebutkan Rachel?

  3. aigoo .. mereka saling megutkan untuk mendapatkan restu keke 🙂
    apakah mereka akan bersam hoho 🙂
    sepertinya iya..
    gmana ya reaksi lee hyo shin kalo tahu yong do dan rachel jadian penasaran keke ..

  4. gimana inihhhh udh chap 9 huwaaaa kgk ikhls hehe…young do ayoooo fightingggggg perjuangkn cintamuuuu ne ^^ …mau jg meluk young do di motor gtu kkkk #plakkk kkkkk sumpah kshn bngt ma rachel pngen lihat rachel bahagia dan itu dg young do ^^ …nexttttt chap akhir ne???huhuhu T T

  5. Woaahh rachel daebak! Memilih tinggal bersama ayahnya dan meninggalkan semua kemewahan yg diberikan ibunya. Esther knp keras kepala bgt sihh? Tuh kan skrg hidup sendiri.kasihan sih sbnrnya. Kan tinggal ksh restu ke youngdo dan rachel. Lagian gak capek apa perang trus sm anak sendiri 😑😑

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s