Diposkan pada Chapters

Crashed (Part 1)

1403589221652

1403970519595

Author : Cho Haneul
Title      : Crashed
Type     : Chaptered
Genre  : Romance, Drama

SPECIAL THANKS TO MY SISTER FOR THE POSTERS :*

Cast :
– Park Boyoung
– Nam Bora
– Kris Wu
– Kim Jongin
– Oh Sehun

_________________________________________

“Arrrgh!”

BRAK BRAK PRANGGG!

Suara erangan yang diikuti suara riuh terdengar dari dalam sebuah kamar bernuansa gelap itu. Kamar yang didominasi oleh warna biru gelap itu, sehingga menambah kesan suram kamar, terlihat amat sangat berantakan. Buku-buku pelajaran dan beberapa majalah serta berbagai macam benda lainnya berserakan dilantai kamar.

“Shit! Dimana! Dimana!” Dengan bibir bergetar pria berahang tegas itu bergumam tak sabaran. Tangannya sibuk mengacak-acak laci dikamarnya demi menemukan sebuah benda yang amat sangat dibutuhkannya saat ini. Sebuah benda yang dapat meringankan rasa sakit yang mulai menjalar disekujur tubuhnya. Keringat dingin sudah membanjiri Kim Jongin, atau yang biasa dipanggil Kai. Mata pria itu memerah dan berair. Tangannya bergetar hebat kala ia menemukan benda yang sedari tadi dicarinya. Dengan cepat Kai mengambil benda runcing tersebut dan menyuntikkannya dilengannya, tepat dinadinya.

Rasa nyaman dan ringan menjalari tubuh Kai. Pria itu terduduk lemas dilantai kamarnya. Nafasnya yang tadi memburu hebat perlahan sudah mulai normal. Kai menyandarkan tubuhnya dipinggiran tempat tidurnya. Matanya terpejam. Ia kelelahan. Setitik air mata jatuh membasahi wajah Kai yang pucat. Jika sudah begini ia pasti akan teringat dengan mendiang ibunya, dan seketika itu juga perasaan bersalah memenuhi hatinya, membuat dirinya merasa sesak.

“Maafkan aku bu. Ini juga bukan keinginanku. Mereka yang telah membuatku begini.” Bisik Kai lirih.

 

*****

 

“Mulai sekarang ini adalah kamarmu. Bagaimana kau suka?” Tanya Lena Wu sembari menatap gadis yang mulai hari ini resmi menjadi anaknya. Boyoung menatap takjub kamar yang didesain sangat mewah dan didominasi warna putih itu. Selama ini kamar seperti hanya ada dalam khayalannya saja, namun sekarang kamar itu nyata dan yang lebih menakjubkannya lagi, kamar itu adalah miliknya mulai dari hari ini.

Boyoung tersenyum penuh haru sembari menatap wanita yang mulai hari ini resmi menjadi ibunya. “Ne, gomawo eomma.” Boyoung tersenyum sembari memeluk wanita itu. Lena tersenyum hangat, hatinya diliputi kebahagiaan saat melihat senyuman indah dan penuh bahagia yang terpatri diwajah mungil Boyoung.

Park Boyoung, gadis berusia 18 tahun itu, tadinya hidup bersama mendiang neneknya. Sejak kecil gadis itu memang sudah ditinggal oleh orang tuanya. Ibunya meninggal saat ia masih kecil, sedangkan ayahnya pergi begitu saja tanpa kabar sehingga mengharuskan Boyoung untuk tinggal berdua saja dengan neneknya yang sudah tua. Nenek Boyoung adalah mantan kepala pelayan di rumah keluarga Wu. Maka dari itu, begitu tahu Kang Hyesung meninggal dunia Lena langsung berinisiatif untuk mengadopsi Boyoung. Lagipula Lena sudah cukup baik mengenal Boyoung. Ia menyukai pribadi Boyoung yang ceria, sopan dan juga pintar.

“Ibu senang kau mau tinggal disini. Ibu selalu kesepian jika dirumah. Suami dan anak laki-lakiku selalu sibuk dengan urusan mereka, sedangkan Lauren, semenjak menikah ia memutuskan untuk ikut suaminya tinggal di Kanada.”

“Terima kasih sudah mengajakku tinggal disini. Tadinya aku sudah takut jika aku akan hidup sendirian selepas kepergian halmonie, keunde ternyata Tuhan masih sangat menyayangiku.” Boyoung berkata dengan tulus.

Lena tersenyum sembari mengelus lembut rambut panjang Boyoung. “Ja, sekarang kau bisa langsung berbenah dan kemudian istirahat. Nanti aku akan memanggilmu untuk makan malam.” Ucap Lena sebelum ia beranjak pergi.

Boyoung tersenyum penuh bahagia. Gadis itu kembali menatap kamarnya yang mewah itu. Dalam hati ia amat sangat bersyukur atas kebaikan keluarga Wu yang mau mengadopsinya sehingga ia tidak perlu merasakan derita kesepian. Ia beruntung. Terlebih dengan begini ia bisa selalu dekat dengan namja yang sudah lama dicintainya, Kris Wu.

 

 

*****

 

Makan malam keluarga Wu terasa lebih hangat daripada biasanya. Mungkin ini efek dari kehadiran Boyoung ditengah-tengah mereka. Alex Wu terlihat asyik berbincang-bincang dengan Boyoung. Pria itu menyukai pribadi Boyoung yang ceria dan juga cerdas, sehingga ia dapat langsung cocok kala berbincang dengan gadis muda itu. Jika Lena dan Alex Wu terlihat sangat bahagia dan antusias atas kehadiran Boyoung, hal itu berbanding terbalik dengan Kris. Pria tampan berambut pirang itu hanya diam tanpa sekalipun membuka suara.

Kris lebih memilih untuk sibuk dengan makanannya. Pria itu sempat menatap tajam kearah Boyoung, yang sukses membuat gadis bertubuh mungil tu bergidik takut. Ia merasa bahwa Kris seperti membencinya. Namun Boyoung tidak mengerti mengapa. Dia bahkan tak pernah berbicara dengan Kris. Bagaimana mungkin ia bisa membuat namja itu kesal?

Saat akan menaiki tangga menuju lantai dua, Boyoung berpapasan dengan Kris. Gadis itu membulatkan tekadnya untuk menyapa namja itu. Apalagi mulai hari ini mereka akan tinggal serumah, jadi sudah sewajarnya bukan jika mereka harus membina hubungan yang baik?

“Annyeong Kris oppa.” Sapa Boyoung gugup.

Kris hanya menoleh sekilas dan kemudian ia berjalan melewati Boyoung begitu saja tanpa membalas sapaan gadis itu. Ia bersikap seakan Boyoung tak kasat mata. Tak ayal hal tersebut membuat Boyoung terluka. Padahal ia sudah mengerahkan keberaniannya hanya untuk menyapa namja itu. Namja yang selama ini terlihat amat sangat tak tersentuh itu.

Kris menenggak air mineral dinginnya hingga tandas tak bersisa.

“Kau seharusnya bisa lebih ramah terhadap Boyoung. Mulai sekarang ia adalah bagian dari keluarga kita.” Ucap Lena sembari menatap sang putra. Kris hanya mendesah. “Ibu tahu kan aku tidak suka dengan orang baru, apalagi jika orang tersebut tinggal dirumah kita. Dan apa-apaan ibu memberikan kamar Lauren noona pada gadis itu?! Ibu bersikap seakan-akan Lauren noona takkan kembali.” Ucap Kris berang. Ia memang cukup dekat dengan kakak perempuannya itu.

Lena mengelus pipi Kris. “Untuk masalah kamar kau tidak peru khawatir. Lauren sendiri yang menyuruh ibu untuk memberikan kamarnya pada Boyoung. Lagipula ia memang takkan tinggal disini lagi, kan. Dia sudah menikah sayang. Dan kalaupun ia datang menginap, ia bisa menggunakan kamar tamu.” Lena berkata dengan sabar. Memang harus seperti ini jika tengah menghadapi seorang Kris Wu. Harus ekstra sabar dan berhati-hati.

Lena kembali berbicara. “Boyoung adalah gadis yang baik. Cobalah untuk mengenalnya lebih dekat. Ibu yakin kau akan menyukainya. Ia gadis yang manis.”

Kris berdecak. Ia takkan semudah itu menerima kehadiran Boyoung meski dibujuk seperti apapun. Baginya Boyoung tetap adalah orang asing dan ia tidak menyukai kehadiran gadis itu atau gadis manapun dirumahnya.

“Aku ingin istirahat. Selamat malam.”

 

 *****

 

Malam sudah mulai larut, namun Nam Bora masih berkutat dengan pekerjaannya sebagai pelayan disalah satu café didaerah Myeondong. Sebenarnya saat ini Bora sedang menggantikan shift salah seorang rekan kerjanya yang tidak bisa hadir lantaran sakit. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat 16 menit, namun pelanggan café seperti tidak ada habis-habisnya. Terkutuklah café yang buka 24 jam ini! Sepertinya sang pemilik tidak ingin rugi sedikitpun. Terkadang Bora bingung, memang ada ya yang ingin minum kopi ditengah malam seperti itu. Yah, paling jikalau ada pun hanya dihari libur saja.

Bora sudah selesai mengepel lantai 2 café. Gadis itu melakukan perenggangan. “Hah, pinggangku mau patah.” Gerutunya dengan suara pelan. Bora mengelap peluh yang membasahi wajah lembutnya itu dengan tangan. Bora menatap air kotor bekas pel yang ada didalam ember hitam, dan kemudian tatapan teralih kearah jendela. Sebuah ide gila muncul diotaknya.

‘Daripada harus capek turun kebawah hanya untuk membuang air kotor ini kenapa aku tidak… haha, ide bagus Nam Bora!’

Kebetulan dilantai dua sedang kosong sebab para pelanggan lebih memilih untuk duduk dilantai satu. Sembari melirik kiri-kanan dan memastikan bahwa keadaan aman, Bora mengangkat ember berukuran sedang tersebut dan dalam sekejap semua air didalam ember itu tumpah ruah ke luar jendela. Gadis itu sudah terlalu lelah hanya untuk berpikir bahwa perbuatannya itu bisa berakibat fatal bagi kelangsungan hidupnya.

“BRENGSEK! SIAPA YANG MENYIRAM AIR BAU INI?!”

DEG!

Bora membeku ditempatnya kala mendengar suara makian yang sarat akan kemarahan itu. Sedetik kemudian Bora menyadari kebodohannya. Seharusnya ia bisa memprediksi bahwa hal seperti ini akan terjadi. Bora menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar sangat gugup sampai rasanya ingin pingsan ditempat. Ia ingin minta maaf, namun mendengar suara namja yang penuh emosi itu telah melunturkan semua keberaniannya.

“Ah, jadi kau yang telah menyiramku dengan air keparat itu?!”

Oke, sekarang jantung Bora benar-benar akan copot. Dengan perlahan gadis itu membalikkan tubuhnya. Ia bergidik ngeri melihat seorang namja tinggi berkulit agak gelap tengah berdiri dihadapannya dengan tubuh yang basah kuyup. Yah, namja itu pasti adalah korban dari tingkah bodohnya tadi.

“Mi…mianhe. Jeongmal mianhe. Aku tidak tahu bahwa kau ada dibawah sana. Aku menyesal.” Ucap Bora penuh sesal. Ia berharap bahwa namja itu akan memaafkannya dan kemudian mereka akan bersama-sama melupakan kejadian ini. Namun tampaknya namja itu tidak sebaik yang Bora pikirkan. Namja itu masih menatapnya dengan bengis, seakan ingin meremukkan tubuh gadis itu detik ini juga.

“Kau pikir dengan maafmu bajuku bisa kembali kering?!” Namja itu bertanya dengan nada sedingin es.

“Aku benar-benar minta maaf.” Bora menunduk takut.

“AKU TIDAK BUTUH MAAFMU!” Bentak pria itu. Ia melangkah mendekati Bora. Tangan kekarnya mencengkram kerah seragam Bora. “Dasar brengsek!”

BRUK

Tubuh Bora terhempas begitu saja sesaat setelah dengan kasar namja itu mendorongnya. Gadis itu meringis sakit lantaran tubuhnya membentur meja.

“Kai apa yang kau lakukan?!” Seorang pria berambut warna warni menarik tangan pria yang dipanggil Kai itu.

“Hanya memberikan pelajaran bagi nona kecil ini. Kau lihat apa yang sudah dilakukannya padaku?”

“Iya, aku tahu. Tapi tidak begini. Ayo kita pergi! Jangan membuat keributan disini. Kau bisa mandi dan ganti baju ditempatku. Kajja!”

“Aish!” Kai mengacak rambutnya geram. Tanpa berkata apa-apa namja itu melengos pergi. Teman namja itu menghela napas lega. Setidaknya Kai tidak memperpanjang masalah ini lagi. Pria itu menoleh kearah Bora yang masih terduduk dilantai. Ia mengulurkan tangannya. Bora menatap dengan ragu, namun senyum tulus namja berambut warni-warni itu menghilangkan keraguannya.

“Terima kasih.” Ucap Bora.

“Aku Sehun, dan temanku yang tadi adalah Kai. Maafkan dia ya. Suasana hatinya sedang tidak baik.”

“Ah ne. Sebenarnya ini juga kesalahanku. Seandainya aku lebih berhati-hati pasti takkan menjadi begini.”

“Baiklah, kalau begitu aku permisi. Lain kali berhati-hati ya.” Sehun tersenyum singkat sebelum namja itu melangkah pergi. Bora mendesah lega. Gadis itu mengelus dadanya yang dari tadi berdegup dengan kencang sehingga menimbulkan sedikit rasa sakit.

“Aku nyaris tinggal nama…”

 

 

*****

 

 

Kai baru saja selesai membersihkan dirinya di kamar mandi Sehun. Namja itu mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Kai masih tidak dapat melupakan begitu saja insiden satu jam yang lalu itu. Berbagai macam rencana bejat sudah berseliweran didalam kepala namja itu. Yah, ia takkan tenang sebelum dapat membalas dendam pada yeoja kurang ajar yang sudah menyiramnya dengan air pel. Ia akan membuat yeoja itu menyesal karena sudah bersikap kurang aja pada seorang Kim Jongin.

“Yak, kau sedang tidak merencanakan sesuatu yang jahat pada gadis itu kan? Dia tidak sengaja menyirammu. Tidak bisakah kau melepaskannya?” Sehun menatap Kai yang masih sibuk mengeringkan rambutnya.

Dari awal Sehun sudah mendapat firasat bahwa Kai tidak akan semudah itu melepaskan yeoja di café tadi. Dalam hati Sehun cuma berharap bahwa Kai tidak akan setega itu dengan gadis tadi. Selama ini Kai memang tidak pernah melepaskan orang-orang yang sudah membuat masalah dengannya, baik itu yang disengaja maupun tidak. Dan semua orang-orang tak beruntung itu adalah namja yang ujung-ujungnya akan berakhir di rumah sakit atau malah rumah sakit jiwa. Yah, Kai memang bengis dan tidak pilih kasih saat balas dendam.

Namun yang menjadi masalahnya, kali ini target Kai adalah seorang yeoja, dan percaya atau tidak, gadis itu adalah yeoja pertama yang berani berurusan dengan seorang Kim Jongin. Sehun mengurut pelipisnya. “Jawab aku Kai!”

Kai menoleh. Ia menyeringai saat membayangkan rencana yang tengah tersusun diotaknya. “Kau sudah tahu kan aku bukan tipe pemaaf? Dan jelas, gadis itu adalah mainan baru yang sangat menyenangkan.” Ucap Kai yang kali ini sukses membuat Sehun bergidik ngeri.

“Tapi dia yeoja Kai! Apa kau tega?!”

Kai menatap Sehun tajam. “Kurasa ini bukan urusanmu. Dan satu lagi, aku tidak pilih kasih dalam urusan ini. Semua sama rata dihadapanku selama mereka masih bernapas.”

*****

 

Suasana didalam mobil mewah itu begitu kaku dan dingin. Boyoung bahkan sampai harus berhati-hati saat bernapas agar suara helaan napasnya tidak sampai ke telinga Kris. Pagi tadi Lena kembali membuat perintah yang pastinya membuat Boyoung gugup, dan membuat Kris semakin membenci yeoja bertubuh mungil itu.

Lena menyuruh Kris untuk mengantar Boyoung ke sekolah di mulai dari hari ini. Lena beralasan bahwa sekolah Boyoung searah dengan kampus Kris sehingga takkan ada masalah jika Kris mengantar Boyoung terlebih dahulu sebelum kemudian berangkat ke kampusnya. Namun bagi Kris yang anti perempuan, tentu itu merupakan masalah besar baginya.

“Maaf sudah merepotkanmu oppa.” Ucap Boyoung pelan. Gadis itu melirik Kris diam-diam. Namja itu masih dengan sikap dinginnya, sama sekali tidak mengubris Boyoung. “Oppa bisa menurunkan ku disini. Aku bisa pergi sendiri.” Boyoung kembali berkata dengan nada lirih.

“Dan membuatku kena amukan eomma?” Kris berkata dengan nada sinis.

“Aku tidak akan mengadu pada eomma. Oppa tenang saja.”

“Lebih baik kau diam. Biarkan aku konsentrasi dengan kemudiku ini. Dan satu lagi, aku adalah pria yang bertanggung jawab. Pantang bagiku untuk melalaikan tugasku. Jika kau tidak ingin aku antar kau bisa bilang pada eomma.”

Boyoung terdiam mendengar perkataan Kris. Dalam hati gadis itu bertanya-tanya, bagaimana bisa ada orang sedingin dan secuek Kris? Seumur hidup baru kali ini ia bertemu dengan tipe orang macam Kris. Dan yang paling menyesakkan adalah bahwa ia telah jatuh cinta pada namja dingin itu.

 

 

*****

 

 

Senyuman sinis itu tersungging dibibir namja tampan itu. “Ah, jadi namanya adalah Nam Bora…”

‘Tunggu kejutan dariku yeoja brengsek!’

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

5 tanggapan untuk “Crashed (Part 1)

  1. kris boyoung I love this couple …..^^
    kris dingin amat ya sama boyoung, bo young fighting
    nah yg satunya evil nih , duh kai jangan jahat” kan kasian boranyaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s