Diposkan pada Chapters

Crashed (Part 2)

1404130212061

Author : Cho Haneul
Title      : Crashed
Type     : Chaptered
Genre  : Romance, Drama

SPECIAL THANKS TO MY SISTER FOR THE POSTERS :*

Cast :
– Park Boyoung
– Nam Bora
– Kris Wu
– Kim Jongin
– Kim Jongdae
– Kang Jiyoung

_____________________________________________

 

“Ah, kau benar-benar tidak bisa ikut?” Jiyoung memberikan tatapan memelasnya pada Bora, berharap bahwa sahabatnya itu berubah pikiran. Namun Bora tetap menggelengkan kepalanya. Ia terlihat tidak enak dengan Jiyoung, akan tetapi ia juga tak bisa melalaikan kewajibannya untuk bekerja di café.

“Lain kali saja ya?” Bujuknya. “Lagipula sudah ada Jinri yang menemani. Aku janji lain kali aku pasti akan ikut.” Bora melirik kearah jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya. “Ja, aku harus pergi sekarang. Selamat bersenang-senang.” Bora melambaikan tangannya.

Gadis itu mendesah pelan. Jujur, ia ingin sekali ikut berkumpul dengan teman-temannya. Jalan-jalan di mall, atau hanya sekedar duduk mengobrol di café-café keren. Tapi Bora cukup sadar diri bahwa ia tidak bisa bersikap seperti teman-temannya itu. Sebab ia berbeda. Keuangan keluarga Bora yang cukup memprihatinkan pasca kebangkrutan yang dialami oleh keluarganya memaksa gadis itu mau tidak mau untuk bersikap mandiri. Yah, salah satunya dengan bekerja paruh waktu di café untuk memenuhi kebutuhannya. Ia tidak ingin terlalu membebani ayah dan ibunya.

Pada awalnya memang berat bagi Bora untuk terbiasa dengan kehidupan barunya. Dimana ia harus berusaha keras untuk mendapatkan keinginannya. Bahkan ia nyaris putus sekolah. Namun sekarang, seiring dengan berjalannya waktu, Bora sudah mulai terbiasa menjalani kehidupannya. Ia bahkan sudah mulai menikmati. Tidak sedikitpun ia mengeluh pada kedua orang tuanya.

Bora sudah sampai di café tempatnya bekerja. Sekilas gadis itu teringat akan kejadian 2 hari yang lalu saat ia tanpa sengaja menyiram seorang pria dengan air bekas pel. Bora bergidik ngeri mengingat ekspresi murka nan menyeramkan yang terpancar diwajah pria itu. Bora hanya berharap bahwa ia takkan pernah berurusan dengan namja itu lagi.

Emmm, siapa namanya?

Ah, Kai!

“Bora-ya, tolong antarkan ini di meja nomor 8 ya.” Pinta Sulli. Bora mengambil nampan yang disodorkan Sulli. Gadis itu berjalan menuju meja yang dimaksud, namun tiba-tiba gadis itu kehilangan keseimbangannya dan langsung jatuh terjerembab menghantam lantai. Bunyi yang nyaring membuatnya menjadi pusat perhatian. Bora meringis sakit dan juga merasa malu. Gadis itu buru-buru bangkit begitu sadar bahwa ada korban akibat insidennya tadi.

“Maaf saya tidak….”

“NEO?!”

Oke, jantung Bora serasa mau berhenti berdetak. Baru saja ia memohon agar tidak usah berurusan lagi dengan namja mengerikan yang bernama Kai, namun sekarang dengan mudahnya gadis itu kembali terjerat masalah dengan Kai. Kai menggeram marah. Bora hanya dapat menunduk berkali-kali sembari meminta maaf. Gadis itu memandang baju Kai yang kotor akibat terkena tumpahan Moccalatte yang tadi dibawanya.

‘Aish, Nam Bora baboya! Kenapa lagi-lagi kau menyiram namja ini, eo?!’

“Dasar yeoja sial!” Geram Jongin marah. “Waktu itu air pel, dan sekarang Moccalatte. Lalu selanjutnya apa? Sup rumput laut?!”

“Maaf saya tidak___”

“Tidak ada maaf! Mungkin kemarin aku masih berbaik hati untuk melepaskanmu. Keunde sekarang tidak akan kubiarkan kau begitu saja. Panggil manager disini!” Kai berkata dengan nada perintah yang terkesan angkuh.

“Ku mohon___”

“PANGGIL SEKARANG JUGA!” Lagi-lagi Kai berteriak padanya membuat nyali Bora menciut. Dengan pasrah gadis itu beranjak untuk memanggil sang atasan. Namun ternyata sang atasan yang bernama Lee Jong Kook itu sudah terlebih dahulu disana. Mungkin ia mendengar ribut-ribut yang disebabkan oleh Kai.

“Maaf, ada apa ini?” Tanya pria berusia 30 tahun itu sopan.

Kai mendengus angkuh. “Apa kau manager disini?”

“Ne, saya manager disini. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Jong Kook Sopan. Ia melirik kearah Bora yang sedang menunduk dalam.

“Kau lihat bajuku?” Kau menunjuk bajunya yang terkena noda Moccalatte, lalu ia menunjuk kearah Bora. “Ini semua gara-gara dia. Dan ini bukan yang pertama kalinya.  2 hari yang lalu ia bahkan menyiramku dengan air pel. Pelayanan macam apa ini?!” Kai berkata dengan nada ketus.

Jong Kook menoleh kearah Bora, memandang kesal kearah pegawainya itu. Bora baru 2 bulan bekerja ditempatnya dan sudah membuat ngamuk pelanggan mereka. Jong Kook rasa ia harus memberi pelajaran pada Bora, yah setidaknya sanksi atas ketidakdisiplinannya itu.

“Aku benar-benar minta maaf atas insiden ini. Kami berjanji bahwa hal seperti ini takkan terulangi. Ah, sebagai permintaan maaf kami, anda tidak perlu membayar pesanan anda.”

Kai menyeringai. “Aku tak perlu itu!  Aku bisa membayar makananku sendiri. Aku hanya ingin gadis ini dapat balasan yang setimpal.”

“Ne?”

“Pecat dia!”

“MWO?!” Bora mendelik marah. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin namja itu bisa seenaknya menyuruh sang manager untuk memecatnya. Ia bahkan baru kali ini melakukan kesalahan dan itu semua adalah kesalahan yang sama sekali tidak ia sengaja. Bora menatap Jong Kook, berusaha mencari belas kasihan pada sang manager. Bora tahu, meskipun Jong Kook adalah pria yang tegas dan disiplin, namun ia juga adalah orang yang baik dan dermawan.

“Baiklah.”

“Mwo?!” Bora menatap tak percaya kearah Jong Kook yang baru saja ia puji sebagai orang yang baik hati dan dermawan. Oke, Bora rasa ia harus menarik kembali pujiannya itu.

Saat Bora merasa dunianya nyaris runtuh, Kai justru merasa puas. Ia tersenyum mengejek kearah Bora yang sedang menunduk menahan tangis. Yah, ini semua memang setimpal. ‘Setidaknya aku tidak mengirim mu ke rumah sakit, nona babo.’

 

 

 

*****

 

 

Bora berjalan lunglai menelusuri trotoar. Setelah melakukan perundingan yang panjang dan memakan waktu layaknya perundingan yang dilakukan pejabat Negara, akhirnya Bora tidak jadi dipecat. Jong Kook bilang ia akan memberikan satu kali lagi kesempatan bagi gadis bertubuh mungil itu untuk bekerja. Namun sebagai gantinya gaji Bora dipotong. Yah, setidaknya itu masih lebih baik daripada tidak punya pekerjaan. Apalagi Bora memang tengah menabung untuk bekalnya masuk ke universitas nanti.

Dalam hati Bora benar-benar mengutuk namja bernama Kai itu. Bora yakin bahwa namja itu sengaja ingin mengerjainya. Belakangan Bora baru ingat bahwa sesaat sebelum ia jatuh, ia merasa bahwa ada yang mencegal kakinya. Dan saat itu orang terdekatnya adalah Kai. Yah, pasti dia yang melakukannya. Bora yakin.

GREP!

“AKH!”

Bora tersentak kaget saat ada yang dengan kasar menarik tangannya. Bora langsung mendengus kesal saat melihat bahwa Kai lah orang yang menarik tangannya. Demi Tuhan, ia membenci namja urakan ini!

“Mau apa kau?!” Tanya Bora ketus.

Kai menyeringai. “Ah, begini sikap mu pada orang yang telah kau rugikan?”

Bora menghela napas. “Oke, aku memang salah telah menyiram mu dengan air pel. Keunde, sumpah! Aku tidak sengaja. Aku tidak tahu kau akan lewat dibawah sana. Keunde, aku tidak terima dengan sikapmu yang mengerjaiku. Aku tahu tadi itu ulahmu sendiri yang mencegal kakiku sehingga aku jatuh. Tapi sayangnya malah Moccalatte itu tumpah ke bajumu. Berarti bukan salahku, kan!” Ujar Bora panjang lebar.

Kai hanya diam sembari menatap gadis itu tajam. Bora menjadi agak was was. “Sudah bicaranya? Sekarang kau ikut aku!” Kai kembali menarik tangan Bora dengan kasar. Bora jelas menolak. Ia berusaha lepas dari cengkraman Kai, namun kekuatannya yang tidak sebanding itu membuatnya kewalahan. Bora mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong Kai.

“LEPAS!”

Bora mendorong tubuh Kai. Kai menjadi kehilangan keseimbangan saat tanpa sengaja ia menginjak sebuah batu dan dorongan dari Bora langsung membuat namja itu terjatuh dengan posisi bahu kanan terlebih dahulu.

“ARGH!”

Bora sadar bahwa ia lagi-lagi melakukan kesalahan fatal, malah kali ini amat sangat fatal. Melihat Kai yang merintih kesakitan membuat ia sadar bahwa namja itu sedang merasa sakit yang luar biasa.

“Yak yak, mianhe. Apa benar-benar sakit?” Bora menjadi panic. Kai masih meringis, tidak sanggup untuk sekedar berbicara. “Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan?!” Bora mengacak rambutnya frustasi.

 

 

*****

 

 

“Eomma benar, kau memang manis sekali.” Puji Lauren pada Boyoung. Boyoung tersenyum sumringah. “Terima kasih unnie.” Ucapnya sopan.

Lauren tersenyum. “Senang rasanya ada yang memanggil eonnie. Aku tidak punya saudara perempuan. Adik dan sepupuku semuanya namja. Ah, ini akan sangat menyenangkan. Sudah lama aku bermimpi mempunyai yeodongsaeng. Nanti kita jalan-jalan bersama ya. Girl’s time.”

“Ne!” Boyoung terlihat bersemangat.

Lauren sedang berkunjung ke Korea. Kebetulan suaminya juga ada keperluan di Korea. Lena memang sudah banyak menceritakan tentang Boyoung padanya. Dan ternyata sang ibu benar. Boyoung memang anak manis yang menyenangkan. Buktinya Lauren dapat dengan cepat akrab dengannya walaupun mereka baru bertemu beberapa jam yang lalu.

Lena juga tak lupa menceritakan tentang sikap dingin dan ketus Kris pada anak perempuannya itu. Lauren menatap Boyoung yang tengah antusias membuka oleh-oleh yang dibawanya dari Kanada.

“Wah, ini bagus sekali!” Boyoung mengagumi pajangan Kristal yang diberikan oleh Lauren.

“Boyoung-ah…”

“Ne?”

“Mengenai sikap Kris. Jangan terlalu dimasukkan ke hati ya. Dia memang begitu. Dia susah menerima kehadiran orang baru.”

Boyoung tersenyum kecil. “Gwenchana, aku mengerti kok. Lagian Kris oppa juga selalu baik padaku. Ia tidak pernah kasar.”

Lauren menghela napas. “Sebenarnya dulu Kris tidak sedingin ini. Keunde, suatu kejadian merubahnya.”

Boyoung mendengar seksama cerita Lauren mengenai Kris. Ia juga penasaran dengan sikap Kris yang dingin seperti itu. “Memangnya dia kenapa?”

“Dulu Kris pernah punya kekasih. Gadis itu adalah cinta pertama Kris, dan juga satu-satunya gadis yang dekat dengan Kris. Kebetulan mereka memang sudah kenal lama, sejak sekolah menengah pertama tepatnya. Namun sikap Hana berubah semenjak mereka memasuki sekolah menengah atas. Gadis itu mendadak menjadi nakal. Ia bahkan menjadi pengguna obat-obatan. Kris sudah berusaha untuk mengembalikan Hana menjadi seperti dulu, tapi justru itu membuat Hana semakin menjadi dan ia malah membenci Kris. Kris benar-benar terluka atas sikap Hana tersebut. Hana juga memutuskan hubungan mereka secara sepihak dan malah menjalin hubungan dengan salah satu pengedar.”

Boyoung tertegun mendengar cerita Lauren. Sekarang ia mengerti kenapa Kris menjadi sedingin es dan seakan tak tersentuh. Rupanya namja itu sudah terlalu sakit.

“Lalu, apa yang terjadi dengan Hana sekarang?”

Lauren menghela napas. Wajahnya menyiratkan kesedihan. “Ia meninggal karena overdosis.” Lirihnya yang sukses membuat Boyoung membeku selama beberapa detik.

“Dia… meninggal?”

“Maka dari itu Boyoung-ah, kuharap kau mengerti kondisi Kris. Aku yakin Kris bukannya membencimu, keunde ia hanya belum terbiasa dengan kehadiranmu. Ia itu orang yang sulit bersosialisasi. Temannya bahkan bisa dihitung dengan jari.”

Boyoung tersenyum kecil. “Eonnie tenang saja. Aku tidak pernah marah pada Kris oppa kok. Aku malah jadi ingin menjadi akrab dengannya. Apa menurut eonnie bisa?”

Lauren mengangguk sembari tersenyum ramah. “Sure, why not?!”

 

 

*****

 

 

_SEOUL INTERNATIONAL HOSPITAL_

Oke, sekali lagi Nam Bora merutuki dirinya yang begitu ceroboh sehingga membuat orang lain cedera. Dan parahnya lagi, korban gadis itu lagi-lagi namja yang sama. Bora duduk lemas begitu mendengar sendiri dari dokter bahwa bahu Kai retak sehingga namja itu harus bed rest selama beberapa hari dan ia tidak boleh melakukan aktivitas apapun yang dapat menghambat kesembuhan bahunya.

Kai tentu saja meradang saat tahu mengenai hal itu. Ia menatap penuh benci kearah Bora. Gadis itu hanya bisa menunduk pasrah. Toh, itu memang kesalahannya. Ia terlalu kuat mendorong Kai.

BRUK!

Kai mendorong Bora hingga punggung gadis itu menabrak dinding rumah sakit. Mereka tengah berada di lorong rumah sakit yang sepi. Tangan Kai masih menahan tubuh Bora. Pria itu mendesis penuh amarah tepat ditelinga Bora, membuat gadis itu merinding. “Sakit?” Tanya Kai. Bora mengangguk. “Tidak sesakit apa yang kurasakan.” Sambung Kai yang begitu menohok hati Bora.

“Kau ini benar-benar pembawa sial rupanya. Kau benar-benar cari mati, eo? Kau tahu, aku dapat melakukan apa saja untuk menghancurkan hidupmu. Dan aku serius.”

Bora nyaris mati kehabisan napas. Gadis itu begitu takut akan ancaman Kai. Ia bisa merasa bahwa namja itu bersungguh-sungguh dengan perkataannya.

“A…aku akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahanmu.” Ucap Bora pelan. Kai tersenyum sinis. “Apa saja?” Tanya namja itu. Bora mengangguk ragu. Gadis itu berharap bahwa Kai tidak akan memintanya untuk melakukan hal yang aneh-aneh. Seperti… ah sudah, lupakan!

“Neo…” Kai menatap Bora tajam dan sarat akan kebencian. “Harus mau jadi pembantuku. Kau harus menuruti apa yang kuinginkan tanpa terkecuali!”

“Mwo?!”

“Wae? Kau keberatan? Arasso…”

Bora melihat gelagat tidak baik dari Kai. Sepertinya namja itu sudah merancang sebuah rencana kejam jika ia menolak permintaan Kai. Bora jadi bergidik ngeri membayangkan nasibnya ditangan Kai, namja urakan dan pemarah. Akhirnya dengan amat terpaksa Bora mengangguk setuju atas permintaan Kai.

‘Toh, aku hanya akan jadi pembantu kan? Tidak ada yang salah dengan itu.’

 

 

*****

 

 

Kris berjalan cepat menuruni tangga rumahnya yang megah. Begitu melewati ruang keluarga, dimana keluarganya tengah berkumpul disana, Kris mendengus melihat betapa keluarganya sangat memuja Boyoung. Bahkan noona dan suami noonanya juga ikut-ikutan bercanda ria dengan gadis asing itu.

“Kris, kau mau pergi sekarang? Bukannya pestanya masih lama?” Tanya Lauren pada adiknya.

“Ne, aku ingin pergi sekarang. Aku harus mampir menjemput Jongdae terlebih dahulu.” Jawab Kris.

“Kenapa tidak ajak Boyoung ikut juga?” Lena berkata. Boyoung langsung menggelengkan kepalanya. Ia tahu Kris takkan senang dengan usulan itu. Dan benar saja, Kris langsung menolak keras. Namun Lena masih tetap berusaha untuk mengubah keputusan Kris.

“Memangnya kau tidak malu pergi tanpa pasangan? Itu kan pesta pertunangan. Teman-temanmu yang lain pasti membawa pasangan mereka. Bahkan Jongdae juga akan bersama dengan Sohee sepanjang acara.” Yah, Lena tahu betul bahwa sahabat Kris itu sudah memiliki seorang kekasih, dan pastinya Jongdae akan terus bersama sang kekasih meskipun ia pergi bersama Kris.

“Ayo Boyoung lekas bersiap-siap!” Ujar Lena. Dan jika sudah seperti ini berarti Kris kalah telak. Apalagi Lauren dengan semangat langsung menawarkan diri untuk mendandani Boyoung. Kris hanya dapat menghela napas pasrah. Namja berambut pirang itu lebih memilih untuk duduk disamping Michael, suami sang noona.

Michael tersenyum sembari menepuk pundak Kris. “Hey, she’s cute, you know. You supposed to be happy being accompanied by a cute girl like her.”

“I don’t like cute girl, I prefer sexy girl.” Jawab Kris asal yang ditanggapi dengan kekehan geli oleh Michael.

Lauren memang patut untuk diancungi jempol. Hanya dalam kurun waktu kurang dari 20 menit, Boyoung sudah menjelma menjadi gadis yang rupawan. Gadis itu mengenakan dress berwarna soft pink yang memamerkan bahunya yang putih mulus. Lauren memberikan sentuhan make up natural pada wajah Boyoung sehingga tidak menghilangkan kesan pure dan innocent gadis itu. High heels dengan aksen pita berwarna pink menghiasi kaki Boyoung. Untuk rambut, Lauren sengaja membiarkan rambut panjang nan hitam milik Boyoung digerai natural.

Yup, Boyoung telah siap untuk menemani Kris.

“Tada! Cantik kan?”

“Wah, cantik sekali uri Boyoungie!”

“Wow, you look adorable dongsaeng!”

Berbagai pujian ditujukan untuk Boyoung, membuat gadis itu tersipu malu. Namun begitu, Kris tetap dingin. Ia memang mengakui bahwa Boyoung terlihat cantik. Namun baginya tidak ada yang special. Toh, ini bukan pertama kalinya ia melihat gadis cantik. Sudah terlalu sering sampai ia bosan.

“Pangeran, tuan putri siap. Ja, kalian bisa pergi sekarang.” Lauren melingkarkan tangan Boyoung ke lengan Kris. Saking senangnya, Lena bahkan sedari tadi sibuk mengabadikan momen indah tersebut dengan kamera ponsel miliknya. Wanita paruh baya itu tersenyum senang.

“Omo, mereka terlihat begitu serasi. Manis sekali.” Bisik Lena pada sang suami.

 

 

*****

 

 

_AT THE PARTY_

Jongdae mengamati punggung Boyoung dan Sohee yang perlahan menjauh dari tempatnya berdiri. Kedua gadis itu baru saja pamit ingin ke toilet. Jongdae tersenyum tipis mendapati kedua gadis itu yang begitu mudah akrab. Namja berambut coklat gelap itu kemudian menoleh kearah sahabatnya yang jauh lebih tinggi daripada dirinya hingga membuat Jongdae dengan terpaksa harus mendongak.

“Dia terlihat baik dan polos.” Ucap Jongdae memberikan pendapatnya mengenai Boyoung. Kris menyesap wine-nya. Ia tidak terlalu peduli dengan perkataan Jongdae. Ia sudah menutup hatinya untuk wanita manapun.

Jongdae menghela napas. Dalam hati ia mengutuk Hana yang sudah menyebabkan sahabatnya menjadi namja berhati es seperti ini. “Ia adik angkatmu. Bersikap baiklah padanya.”

Kris berdecak kesal. “Kenapa kau jadi seperti eomma dan noonaku sih? Kalian menyebalkan.” Ucap Kris dingin.

“Jangan samakan semua wanita dengannya. Kau harus belajar untuk kembali percaya dan membuka hatimu untuk wanita. Toh kau tidak berencana untuk terus menjadi single sampai akhir hayatmu, bukan?” Jongdae menatap Kris.

“Kenapa tidak? Kurasa bukan hal buruk.”

“Yak! Neo baboya?! Hati-hati dengan ucapanmu itu, bro!”

 

 

 

*****

 

 

‘Mati kau Kai! Mati kau Kai!’

Bora tak henti-hentinya merutuk dalam hati. Meskipun gadis itu biasanya bersikap tenang, dewasa dan feminine, tapi jika ia sudah marah maka semua sifat baiknya itu akan lenyap dalam seketika. Toh, memang tidak ada manusia yang sempurna, bukan?

Kai benar-benar menikmati perannya sebagai majikan Bora. Namja itu benar-benar menjengkelkan. Baru sehari, namun Bora merasa seperti sudah berhari-hari lamanya ia menjadi pembantu namja itu. Kai selalu berhasil membuatnya kesal dengan berbagai macam tingkah kurang ajar namja itu. Dan sekarang, disaat Bora seharusnya tengah merasakan kehangatan dibawah selimut merah mudanya, namun gadis itu malah tengah berdiri bingung didalam sebuah club malam. Bayangkan, CLUB MALAM! Sumpah, seumur hidup Bora tidak pernah masuk ketempat hingar bingar ini. Terpikir pun tidak. Namun akibat Kai, gadis itu sekarang tengah berada ditempat laknat itu. Entah bagaimana reaksi yang akan diberikan oleh kedua orangtuanya jika mereka mengetahui ini. Bora bahkan terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa ia akan mengerjakan tugas hingga larut malam dirumah Jiyoung, sahabatnya.

Bora memperhatikan sekelilingnya dengan risih. Ia tidak suka dengan tempat itu dan juga orang-orang didalamnya. Gadis itu bahkan bergidik ngeri kala melihat beberapa pasangan yang tengah bercumbu mesra tanpa peduli dengan keadaan disekitar mereka.

Bora menoleh panic ketika ia merasa ada yang menarik lengannya. Gadis itu berusaha memberontak. Namja yang menariknya itu berbicara dengan suara lantang, berusaha untuk mengalahkan deru music. “AKU DIUTUS KAI UNTUK MENGANTARMU KETEMPATNYA.” Seru namja itu.

Bora akhirnya bersedia mengikuti namja itu. Toh namja ini mengenal Kai. Namja yang tidak dikenalnya itu mengiring Bora menuju lantai dua. Bora mengikuti dalam diam tepat dibelakang namja itu. Ia melewati lorong remang-remang yang terdapat banyak pintu disana. Gadis itu menebak bahwa ruangan-ruangan itu merupakan private room, seperti ruang karaoke yang kedap suara seperti yang biasa ia lihat di televisi.

Langkah kaki mereka berhenti didepan sebuah pintu. Namja itu mempersilahkan Bora untuk masuk terlebih dahulu. Gadis itu masuk dengan ragu. Tanpa ia sadari, namja yang tadi bersamanya mengunci pintu ruangan tersebut. Meskipun ruangan agak gelap, namun Bora bisa melihat dengan jelas namjadeul yang berada disana. Ada 2 orang namja  yang tengah duduk disofa sambil minum minuman yang Bora yakin adalah alcohol. Yah, tidak mungkin kan jika mereka sedang minum milkshake stroberi ditempat seperti ini?

Namun tak lama kemudian Bora mengernyit heran. Gadis itu tidak menemukan Kai disana. Ia membalikkan badannya, dan seketika jantungnya nyaris berhenti saat melihat seringai aneh yang tersungging diwajah namja yang bersamanya tadi. Perasaan Bora langsung tidak enak. Ia melihat gelagat tidak baik dari ketiga namja yang berada di ruangan itu.

“Ah, yeoja cantik kita sudah datang.” Salah satu namja yang tadi duduk melangkah menuju Bora. Gadis itu berniat segera kabur, namun lengannya ditahan oleh namja yang bersamanya tadi. Bora meronta. “Lepaskan!”

“Mencoba untuk jual mahal rupanya.” Salah satu namja terkekeh geli.

Bora berusaha menggapai kenop pintu, dan berhasil! Namun wajah gadis itu semakin panic saat ia menyadari bahwa pintu itu dikunci.

“KYAAAAA!”

Bora berteriak panic saat tubuhnya dibopong dan kemudian dihempaskan disofa. Tatapan mata ketiga namja itu menatap tubuhnya liar. Bora menelan salivanya dengan susah payah.

‘Ini kah akhir dari hidupku?’

 

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

4 tanggapan untuk “Crashed (Part 2)

  1. kris mau dijodohi keluarganya sama boyoung keknya hahaha…..

    wahh boraa mau di apain tuhh …jgn blg ini rencana kaiiii >,<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s