Diposkan pada Oneshot, The Sibuna Club

The Sibuna Club (Case 3-End)

the-sibuna-club2

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title       : The Sibuna Club
Type      : Series
Genre    : Mystery, Action, Friendship, Life

INSPIRED BY DETECTIVE CONAN (but i changed some parts :D)

Cast :
– Cho Haneul
– Cho Kyuhyun
– Ana Mulvoy Ten as Amber Weasley
– BurkelyDuffield as Eddie Watson
– Jade Ramsey
– Brad Kavanagh as Brian Lewis
– Eugene Simon as Jerry Adams
– Lee Donghae as Aiden Lee

__________________________________________

 

Victoria Library, London

Jemari tangan Jade menelusuri deretan buku sejarah yang tersusun rapi di rak buku. Sesekali gadis itu menarik keluar buku-buku tersebut, membaca sekilas dan kemudian kembali meletakkannya di rak. Bosan dengan kegiatannya itu, Jade memilih untuk duduk disalah satu kursi yang disediakan di perpustakaan kota itu. Disebelahnya, Aiden tengah asyik membaca sebuah novel klasik romantis. Yah, benar-benar tipikal seorang Aiden Lee.

"All About Evil" Exclusive Cast Photo Shoot in Los Angeles on March 28, 2010

Jade mendengus. “Hey, kita kesini untuk mencari referensi bahan makalah sejarah kita, bukannya untuk membaca novel klasik bodoh itu.” Ujar Jade.

“Hey, ini bukan novel bodoh! Ini karya masterpiece yang indah, kau tahu!” Aiden tak terima novel klasik favoritnya dikatai bodoh oleh gadis yang bahkan tidak mengerti sastra.

dh-9

Haneul menggelengkan kepala melihat kedua temannya yang tengah asyik beradu argumen. “Kalian bukannya membantuku, tapi malah asyik sendiri.”

Jade menatap Haneul. “Maaf. Tapi aku benar-benar tidak tahu harus mencari buku apa. Aku benar-benar payah dalam sejarah.”

“Loh? Bukannya kau memang payah dalam semua mata pelajaran ya?” Aiden tertawa geli, namun sedetik kemudian pria keturunan Korea itu sudah meringis sakit akibat disikut oleh Jade. Untung saja perpustakaan sedang sepi, jadi tidak ada yang merasa terganggu dengan suara gaduh yang dibuat oleh Jade dan Aiden.

Haneul meletakkan buku-buku yang tadi diambilnya di meja, dan kemudian ia duduk didepan Jade dan Aiden. Gadis itu mulai larut dalam kesibukannya membaca buku-buku itu, berusaha untuk menemukan berbagai informasi penting yang berguna untuk tugas makalah sejarah mereka. Jade akhirnya ikut membantu meskipun ia tidak terlalu serius seperti Haneul.

Seorang pria berambut coklat terang dan bertubuh jangkung tengah berjalan menuju ketiga remaja itu. “Good afternoon.” Sapa pria itu dengan suara pelan. Ketiga temannya mendongak. “Ah, you’re finally here. I thought you won’t come.” Ucap Jade yang dibalas dengan cengiran oleh Jerry.

Eugene-Simon-eugene-simon-21169660-332-363

“Tadinya aku tidak ingin datang. Tapi demi pelajaran tercinta ini maka aku mengurungkan niatku.” Ucap pria itu sembari merapikan rambutnya yang agak berantakan. Keempat remaja itu memulai kesibukan mereka, membaca dan mencatat informasi penting dari buku-buku yang sudah mereka pilih.

Jerry menatap sekeliling perpustakaan yang sepi. Hanya ada mereka berempat, seorang pria tua dan juga seorang wanita paruh baya penjaga perpustakaan disitu. Mereka sedang berada dilantai 4 perpustakaan. Lantai 4 memang dikhususkan untuk buku-buku pelajaran seperti buku sejarah, buku kedokteran, fisika, kimia dan lain-lain. Sedangkan lantai yang paling banyak dikunjungi dan digemari adalah lantai 1 dan 2, yaitu tempat buku-buku hiburan seperti komik, novel dan majalah. Jadi wajar saja jika dilantai 4 sepi.

Tatapan mata Jerry tertuju pada seorang pria paruh baya yang baru saja masuk ke perpustakaan sembari membawa sebuah kardus berukuran sedang ditangannya. Jerry mengamati pria itu sejak pria itu menapakkan kakinya dilantai 4 hingga dia berhenti dipojok ruangan, dimana terdapat sebuah lemari. Pria itu berjongkok dan memasukkan kardus yang tadi dibawanya kedalam lemari. Ia meletakkannya di rak paling bawah. Pria itu sempat bertatapan dengan Jerry sekilas. Mereka saling melempar senyum ramah, khas orang Eropa.

“Sir, ada inspektur Wilson ingin bertemu dengan anda.”

“Polisi? Ada apa?” Pria paruh baya tadi mengernyit bingung. Pegawai wanita itu menggeleng tanda bahwa ia juga tidak tahu.

Keempat remaja yang memang peka dengan nama polisi langsung duduk tegak. Mereka saling bertukar pandang. Mereka berempat mengamati kala seorang pria paruh baya masuk kedalam ruangan mereka. Jade mengenal pria itu. “Inspektur Wilson, divisi orang hilang.” Ucap Jade.

“Ah, iya. Aku pernah bertemu dengannya saat menyelesaikan kasus sebulan yang lalu.” Ucap Aiden, masih sambil memandang pria itu.

“Kalau dia disini, itu berarti ini masalah orang hilang.” Haneul angkat suara. “Apa orang yang hilang itu merupakan pegawai disini?”

51ada73a2292347767

“Kemungkinan besar begitu.”

Aiden tersenyum kecil. “Hmm, sepertinya aku mencium bau kasus disini.”

 

 

*****

 

 

“Ah, jadi anda adalah kepala perpustakaan ini?”

“Iya, begitulah. Apa ada yang bisa saya bantu?”

“Begini tuan…”

“Troy Bolton.”

“Oke, tuan Bolton. Saya Inspektur Wilson, dan saya ingin bertanya mengenai karyawan anda yang bernama Lucas Jones.” Ujar Inspektur Wilson dengan gayanya yang berwibawa. Tuan Bolton mengernyit bingung. “Ah, dia sudah 3 hari tidak masuk kerja. Tidak ada kabar darinya. Memang apa yang telah terjadi?”

“Tuan Lucas Jones sudah menghilang selama tiga hari. Istrinya yang melapor kepada kami. Ia bilang bahwa terakhir ia berkomunikasi dengan suaminya adalah saat malam rabu yang lalu. Saat itu tuan Jones bilang bahwa ia akan lembur bersama anda. Namun setelah itu nyonya Jones hilang kontak dengan suaminya sampai dengan hari ini.” Jelas Inspektur Wilson.

Tuan Bolton mengangguk mengerti. “Kami memang sempat lembur bersama, namun kemudian saya pamit untuk pulang duluan. Lucas tetap tinggal karena masih ada yang harus dikerjakannya. Itu juga kali terakhir saya bertemu dengannya.” Ucap tuan Bolton.

“Kalau begitu, kami ingin melakukan pencarian di perpustakaan ini. Saya harap anda tidak keberatan.”

“Oh, tentu saja tidak. Silahkan lakukan tugas anda.” Tuan Bolton berkata dengan ramah.

Kurang lebih 2 jam lamanya para polisi melakukan pencarian dan penyelidikan di perpustakaan yang tidak bisa dibilang kecil itu. Keempat member Sibuna mengamati dari jauh. Tak lama para polisi undur diri dengan tidak membawa hasil apapun selama 2 jam pencarian mereka. Polisi menduga bahwa Lucas Jones diculik saat dalam perjalanan pulang, meskipun mereka tidak terlalu yakin. Sebab menurut sang istri, Lucas selalu mengabari jika ia akan pulang. Namun dihari kejadian pria itu tidak memberikan kabar, jadi ada kemungkinan bahwa ia masih didalam perpustakaan itu entah hidup atau mati.

“Kutebak pria itu masih ada disini. Dalam keadaan tak bernyawa tentunya.” Ujar Jerry. Pria itu menatap ketiga temannya. “Mau bermain-main sedikit?” Ia mengedipkan matanya sambil tersenyum kecil.

 

 

*****

 

 

Langit sudah gelap, dan perpustakaan itu juga sudah ditutup sekitar setengah jam yang lalu.

TAP TAP TAP

Suara hentakan kaki terdengar didalam bilik-bilik toilet. Haneul, Jade, Aiden dan Jerry keluar dari bilik toilet tempat persembunyiaan mereka. Aiden melakukan sedikit perenggangan, merasa pegal akibat duduk selama satu jam lebih didalam bilik toilet. Keadaan perpustakaan sudah remang-remang. Hanya ada beberapa lampu yang dinyalakan demi penghematan.

“Sekarang kita kemana?” Tanya Haneul.

“Lantai 1. Kita telusuri satu persatu lantai.” Jawab Jerry mantap.

Mereka sudah berdiri didepan lift, bersiap untuk turun kelantai 1, namun tiba-tiba saja lift berbunyi dan bersiap untuk berhenti dilantai 4, dimana mereka tengah berada sekarang.

“Ada orang datang!” Pekik Aiden. Mereka langsung bersembunyi dibalik tembok, disudut yang gelap sembari menanti siapa yang datang disaat larut seperti ini, apalagi dengan fakta bahwa perpustakaan sudah ditutup. Aiden yang berdiri paling depan terdiam. Ia mengenal sosok yang baru saja keluar dari dalam lift tersebut. Pria itu adalah Troy Bolton, kepala perpustakaan Victoria.

‘Mau apa dia?’

Mereka mengikuti tuan Bolton dengan diam-diam. Pria itu berjalan menuju lemari yang berada disudut ruangan. Pria itu berjongkok dan kemudian mengeluarkan sebuah kardus dari rak paling bawah. Jerry mengenal kardus itu. Itu kardus yang tadi siang dibawa oleh tuan Bolton. Pria itu mengeluarkan isi kardus yang ternyata berisi buku-buku. Pria itu merobek bungkus plastic yang membalut buku-buku tersebut dan kemudian memindahkannya kedalam tas hitam miliknya. Member Sibuna tidak dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh pria itu. Mereka hanya tahu bahwa pria itu memasukkan beberapa bungkusan kedalam tas hitam miliknya. Kelakuannya sungguh mencurigakan!

“Benar-benar mencurigakan. Apa yang dia lakukan dengan buku-buku itu?” Bisik Jade.

Tuan Bolton menutup koper kecilnya. Ia tertawa puas. Tawanya menggema diruangan yang sepi itu, menimbulkan kesan seram dan sukses membuat bulu kuduk berdiri. Haneul bahkan tanpa sadar mencengkram lengan Aiden yang berdiri disebelahnya.

“Mereka memang bodoh. Dengan begitu mudahnya mereka pergi. Padahal yang dicari berada didekat mereka.” Ucap tuan Bolton. Mereka berempat langsung tahu bahwa yang dimaksud oleh tuan Bolton adalah polisi dan pria bernama Lucas Jones tersebut.

Keempat remaja itu bergegas pergi saat melihat gelagat tuan Bolton yang sepertinya sudah selesai dengan urusannya terhadap buku-buku itu. Pria itu menatap sekeliling sebelum kemudian berjalan memasuki lift yang akan mengantarkannya ke lantai satu.

“Nah, jelas sekali bahwa dia memang tahu sesuatu mengenai pria yang hilang itu.”

“Aku bertaruh bahwa dia adalah pelakunya.” Ucap Jerry. Pria itu kemudian menatap teman-temannya. “Nah, sekarang saatnya kita melakukan pencarian kita. Kalian dengar sendiri bahwa dia bilang bahwa Lucas masih ada disini. Dan…” Jerry mengeluarkan ponselnya. “Saatnya meminta bala bantuan.” Lanjut pria itu sembari tersenyum.

 

 

*****

 

 

Dalam waktu kurang dari 20 menit, keempat member Sibuna yang lain, Kyuhyun, Eddie, Amber, dan Brian sudah ikut berkumpul di perpustakaan. Mereka membagi diri dalam 3 kelompok, dan masing-masing kelompok memeriksa satu lantai.

Eddie, Amber dan Jade memeriksa dilantai 4. Ketiga remaja itu memeriksa dengan teliti. Tidak ada satu bagian pun yang mereka abaikan. Amber memeriksa rak-rak buku dan lemari-lemari, barangkali ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk atau mungkin tempat dimana tubuh Lucas disembunyikan. Yah, semacam ruang rahasia.

Satu persatu buku mereka keluarkan dari rak. Eddie mengernyit bingung saat melihat bahwa buku-buku dibagian sebelah masih ada ditempatnya. Padahal setahu pria itu, Amber dan Jade sedang mengosongkan bagian yang sebelah sana.

Eddie_touchs

“Hey, kenapa kalian tidak mengosongkan rak sebelah sini?”

Jade mendengus kesal. “Dimana matamu? Kau tidak lihat tumpukan buku ini?” Jade menoleh kearah tumpukan buku disamping kakinya. Eddie terdiam. Pria itu menoleh kearah rak yang masih dipenuhi buku-buku.

house-of-anubis-219-house-of-crushes-hopscotch-clip

“Ah, ini aneh! Kenapa bukunya tidak berkurang? Kupikir kau belum mengeluarkannya.” Amber angkat bicara. Gadis itu mulai menyadari keanehan yang dimaksud oleh Eddie. Jade ikut tersadar. Gadis berambut coklat gelap itu berjalan mendekati rak dan kemudian mengeluarkan beberapa buku yang ada disana. Dahinya berkerut saat ia melihat bahwa buku yang ada ditangannya tidak memiliki sampul.

“Lekas buka!” Perintah Eddie.

SREK!

Ketiga pasang mata itu terbelalak kaget. Buku itu ternyata hanyalah wadah. Wadah untuk menyimpan sebungkus obat bius. Eddie membuka bungkusan buku yang lain dan kembali mendapati obat bius didalam sana.

“Ah, jadi ini merupakan penyeludupan obat bius. Pintar sekali dia menyimpannya disini. Dilantai ini memang jarang dikunjungi oleh orang-orang sehingga ia tidak perlu khawatir akan ketahuan. Lagipula, tidak akan ada yang menyadari keanehan dari buku-buku ini.” Ucap Eddie.

“Kalau begitu berarti pria yang bernama Lucas itu tanpa sengaja menemukan ini sehingga mau tidak mau tuan Bolton harus membungkamnya dengan cara membunuh Lucas.” Amber mengeluarkan pemikirannya. Jade dan Eddie mengangguk setuju.

“Tapi yang menjadi persoalan, dimana ia menyimpan tubuh Lucas? Kita sudah mencari diseluruh bagian perpustakaan, bahkan di basement dan gudang. Polisi juga sudah mencarinya, tapi tetap saja tanpa hasil. Tidak mungkin kan tubuh itu menghilang begitu saja?”

 

 

*****

 

 

_LANTAI 2_

anubis-season-2-finale-3

“Hey, apa mungkin tubuh itu dimutilasi dan kemudian disimpan ditempat-tempat tak terduga, seperti dilaci, misalnya?” Brian menatap Haneul dan Kyuhyun. Kyuhyun langsung menggeleng. “Kurasa tidak. Jika seperti itu akan gampang sekali untuk ketahuan. Apalagi polisi sudah menggeledah tempat ini habis-habisan. Lagipula ini sudah 3 hari sejak menghilangnya tuan Lucas. Jika memang seperti yang kau katakan, mayatnya pasti sudah membusuk dan akan menimbulkan bau yang tentunya akan sangat mencolok.” Jelas Kyuhyun.

Dalam hati Brian memang membenarkan analisis Kyuhyun, namun tetap saja ia masih bingung dengan menghilangnya tubuh sang korban. Tiba-tiba pria itu tersentak. Ia merasa ada yang sedang mengamati mereka. Dengan spontan Brian menoleh kebelakang, namun ia tidak mendapati satu orang pun disana.

“What’s wrong?” Tanya Haneul seraya ikut menoleh ketempat yang sama.

“I feel like there’s someone watching us. Apa jangan-jangan tuan Bolton?” Brian agak cemas.

“Dia sudah pulang. Aku lihat sendiri.” Ucap Haneul yakin.

“Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa ia kembali bukan?” Ujar Kyuhyun.

“Kembali untuk apa?” Tanya Haneul bingung.

Kyuhyun menunjukkan ponselnya yang berisi pesan yang baru saja dikirim oleh Eddie beserta sebuah foto. “Untuk ini.”

“Obat-obat bius dan narkotika.” Gumam Brian.

 

 

*****

 

 

Bolton tahu bahwa dia tidak bisa mengatasi remaja-remaja itu seorang diri. Dilihat dari aspek apapun ia tetap akan kalah melawan kedelapan remaja itu. Pria tua itu hanya dapat mengeram marah saat dengan mudahnya rahasia yang selama ini disimpannya terkuak begitu saja. Posisinya benar-benar sudah tidak aman. Satu-satunya cara adalah ia harus memanggil bala bantuan untuk melenyapkan kedelapan remaja itu.

Bolton menekan menyentuh layar ponselnya. “Hello… We have to move, now!”

Bolton menutup teleponnya. Dia hanya tinggal menunggu bala bantuan yang akan datang. Dan untuk itu ia harus memastikan bahwa tidak ada satupun dari kedelapan remaja itu yang akan meninggalkan gedung perpustakaan ini barang sejengkal pun.

Senyum licik nan menyeramkan terpatri diwajahnya. “Get ready to die kids.”

 

*****

 

 

Aiden dan Jerry sudah berkumpul dengan Haneul, Kyuhyun serta Brian. Mereka sedang menunggu kedatangan Amber, Eddie dan Jade. Lift berbunyi. Awalnya mereka berpikir bahwa itu adalah teman mereka. Tapi seketika kelima remaja itu terdiam saat melihat 4 orang pria asing dengan tubuh besar nan berotot berada dalam lift. Yang membuat mereka kaget adalah saat melihat senjata api serta pisau yang masing-masing dipegang oleh keempat pria itu.

tumblr_m59b8skoAy1qeu8qgo1_500

Kyuhyun langsung menarik tangan Haneul untuk kabur, yang kemudian diikuti oleh teman-temannya yang lain. Suara tembakan terdengar, membuat Eddie, Amber dan Jade panik. Dan saat itu juga mereka sadar bahwa mereka tidak sendirian disana. Dan siapapun orang-orang itu, sudah jelas bahwa orang-orang itu ingin melenyapkan mereka.

Aiden memekik kaget. Sedikit lagi peluru itu nyaris mengenai kepalanya. Beruntung dewi fortuna masih menyertainya. Peluru itu tidak mengenai kepalanya, melainkan mengenai pilar yang ada disebelah Aiden.

Jerry berhasil melumpuhkan seorang pria yang memegang pisau. Dengan sekuat tenaga Jerry membanting tubuh pria berpisau itu ke lantai. Pria itu terjatuh dan meringis sakit. Kesempatan itu digunakan Jerry untuk merebut pisau pria itu. Jerry membuang pisau itu jauh-jauh, ia sengaja tidak melukai pria itu. Tugasnya hanya menangkap penjahat. Biarkan polisi yang bertindak untuk selanjutnya. Namun tampaknya pria itu masih belum menyerah meskipun ia sudah tidak bersenjata. Pria itu kembali maju dan berusaha untuk memukul Jerry, namun Jerry lebih gesit. Tendangan bertubi-tubi dilayangkan di wajah dan perut namja itu. Bahkan saat pria itu sudah terkapar Jerry masih memukuli-nya, seakan takut bahwa pria itu akan kembali bangkit.

Kondisi serupa juga dialami Kyuhyun dan Brian. Mereka berdua tengah melawan seorang pria yang berpistol. Pria itu sangat tangguh. Bahkan kekuatan Kyuhyun dan Brian tidak sanggup untuk melumpuhkan pria itu. Pistol pria itu terjatuh, dan Kyuhyun berusaha untuk mengambilnya. Namun sayangnya Kyuhyun kurang cepat. Pistol itu kembali berada digenggaman sang pria bertubuh besar itu. Pria itu menarik pelatuk dan…

DOR!

“Kyuhyun!” Haneul berteriak panik saat melihat peluru itu menembus lengan Kyuhyun. Seketika darah mengucur dari lengan Kyuhyun, membuat pria itu meringis kesakitan sembari memegang lukanya. Brian tidak tinggal diam melihat sahabatnya disakiti. Tanpa mengenal takut Brian kembali menerjang si penjahat. Terjadi perebutan pistol. Posisi Brian benar-benar tersudut. Pria bertubuh besar itu berada diatas tubuh Brian, menahan pergerakan Brian.

BRUK!

Sebuah tabung pemadam kebakaran menimpa kepala si penjahat. Penjahat itu langsung tak berkutik. Darah mulai mengucur dari kepalanya, dan dengan sekali tendangan, Aiden berhasil melumpuhkan pria itu.

“Thanks Bro!” Ucap Brian saat Aiden membantunya untuk berdiri. Wajah Brian memar-memar dan hidup mancung pria itu berdarah. Namun begitu, kondisinya masih jauh lebih baik daripada Kyuhyun yang sudah mulai kehilangan kesadarannya akibat kehabisan darah.

Haneul sudah menangis terisak. Ia tidak tega melihat kondisi kekasihnya itu. “Kyuhyun, bertahanlah. Kita akan segera keluar dari sini.”

Kyuhyun hanya diam. Pria itu tidak sanggup untuk berkata-kata akibat timah panas yang tengah bersarang dilengannya.

“Kyu, bertahanlah!” Ujar Aiden. Pria itu memapah Kyuhyun, dibantu dengan Brian. Baru beberapa langkah, mereka kembali dihadang oleh seorang penjahat. Kali ini pria itu memegang pisau ditangannya. Aiden maju, dan tanpa banyak bicara ia menghajar pria itu. Tak lama Brian ikut campur tangan, meskipun ia terluka, tapi ia masih sanggup untuk melawan.

 

 

*****

 

 

_LANTAI 4_

Bolton tengah sibuk mengambil semua obat bius yang disimpannya di lantai 4. Ia akan segera memindahkan semua barang-barangnya sebelum polisi datang. Pria itu yakin seratus persen bahwa kedelapan remaja itu sudah menghubungi polisi. Tapi ia tidak begitu khawatir. Keempat orang suruhannya itu pasti sudah membunuh remaja-remaja itu. Sebab mendengar dari banyaknya suara tembakan, Bolton yakin bahwa remaja-remaja itu takkan bisa lolos.

Pria itu sudah selesai berkemas, ia membawa sebuah kardus besar yang berisi obat bius beserta narkotika yang selama ini disimpannya. Pria itu membalikkan badannya, namun seketika ia kaget saat mendapati Eddie dan Jerry dihadapannya.

“Berniat kabur pak tua?” Eddie tersenyum mengejek.

Retouched by Boris Kravchenko www.boriskravchenko.com 347-341-9477

“Tak segampang itu!”

SREK!

Jerry menerjang tuan Bolton dan memelintir tangannya. Pria tua itu merintih kesakitan. Jerry mengeram marah. “Kau pikir orang-orang bodohmu itu bisa menyingkirkan kami? Cih, mimpi saja kau! Mereka itu hanya pria-pria bertubuh besar dengan otak yang sangat kecil.”

Sementara itu, Amber dan Jade memungut bungkus obat bius beserta narkotika yang berserakan dilantai. “Kami akan simpan barang bukti ini. Dan kau tenang saja pak tua, sebentar lagi polisi akan datang untuk menjemputmu dan juga teman-teman bodohmu itu.” Ujar Jade.

Suara mobil sirine polisi terdengar, semakin lama semakin dekat. Amber melihat ke jendela dan ia tersenyum puas. “Look who just arrived!” Gadis itu berseru senang. Tuan Bolton tertunduk lemas. Habis sudah dirinya. Kali ini ia benar-benar akan dijebloskan kedalam penjara.

“Dimana kau menyembunyikan mayat Lucas?” Tanya Jerry dengan nada tajam. Bukannya memberikan jawaban, Tuan Bolton malah tertawa sinis. “Kalian takkan menemukannya. Ia berada ditempat yang tersembunyi.”

“Diatas atap lift. Bukan begitu tuan Bolton?” Aiden berjalan mendekati pria tua itu seraya tersenyum kalem.

Melihat dari ekspresi tuan Bolton yang mendadak memucat, member Sibuna yang lain tahu bahwa Aiden telah benar-benar menemukan mayat Lucas. Polisi datang dan membekuk Bolton berserta anak buahnya. Barang bukti berupa sekardus obat bius dan juga narkotika disita sebagai barang bukti. Dan tampaknya tuan Bolton akan mendekam lebih lama didalam jeruji besi nan dingin itu atas perbuatannya membunuh Lucas Jones.

Member Sibuna melihat evakuasi mayat Lucas Jones yang ternyata memang disimpan diatas atap lift. Tampaknya sebelum dilempar keatas atap lift, leher pria itu terlebih dahulu dijerat dengan tali hingga dia kehabisan napas. Terlihat dari tali yang masih melingkari leher korban.

“Darimana kau tahu bahwa mayatnya dibuang diatap lift?” Tanya Amber pada Aiden.

“Semua bermula saat kita menaiki lift. Lift ini berkapasitas 8 orang, dan tadi siang saat kita menaiki lift ini, lift ini sempat kelebihan kapasitas, kan? Awalnya aku tidak menyadari, namun belakangan aku menyadari bahwa ada keanehan dengan lift ini. Tadi memang ada 10 orang didalam lift, namun sadarkah kalian bahwa 3 dari 10 penumpang lift adalah anak kecil? Jelas-jelas berat mereka berbeda dari orang dewasa. Dan seharusnya lift ini tidak kelebihan kapasitas meskipun ada mereka didalam. Dan aku semakin yakin kalau lift ini aneh saat kita menaikinya tadi. Kita pas berdelapan, namun lift kembali kelebihan kapasitas. Dari situ aku berasumsi bahwa kemungkinan ada penumpang lain di lift ini, dan ternyata dugaanku benar.” Aiden mengakhiri penjelasannya dengan senyum bangga.

Eddie menepuk bahu Aiden. “Way to go bro! You solved the mystery.”

“Eh, ngomong-ngomong, apa Kyuhyun baik-baik saja? Ia terkena tembakan peluru, kan?” Jade bertanya dengan nada cemas.

Bria merangkul gadis itu. “Don’t worry, he’s fine now. Tim Medis sudah memberikan pertolongan pertama. Beruntung peluru itu hanya mengenai lengannya, bukan bagian vital yang lain. Sekarang ia pasti dalam perjalanan menuju rumah sakit.”

“Ah, syukurlah kalau begitu.”

Inspektur Wilson menatap member Sibuna. “Kerja yang bagus. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Bolton menyembunyikan mayat Lucas diatap lift. Sama sekali tidak pernah terlintas dipikiran kami untuk memeriksa atap lift.” Inspektur Wilson menjabat tangan member Sibuna. “Sepertinya mulai sekarang kami harus lebih teliti untuk memeriksa TKP. Tak ada tempat yang mustahil. Semua tempat bisa menjadi TKP, bukan begitu?”

“Yah, benar sekali inspektur.” Aiden membenarkan. “Justru tempat yang terkesan mustahil adalah tempat yang paling sempurna untuk menjadi TKP.” Sambung pria itu sembari tersenyum.

“Oke, lebih baik sekarang kita menyusul ke rumah sakit!” Ajak Amber pada teman-temannya. Mereka berjalan meninggalkan perpustakaan. Amber menggeleng-gelengkan kepalanya. “Huft, bahkan saat ke perpustakaan pun kita menemui kasus. Kejahatan memang tidak memandang tempat dan waktu.” Ucap gadis berambut pirang itu.

Another case is solved by Sibuna. What’s next? 🙂

 

CASE CLOSED!

 

Setahun aku hiatus nulis FF yang bergenre misteri ini, dan tepatnya 2 hari yang lalu aku mutusin buat kembali nulis. haha, i’m such a fool! xD I got inspired by Detective Conan. Well, aku tahu betapa hancur leburnya FF misteri yang gak berasa misteri ini. but still, maybe you would like to shout your opinion? ;D

See you on the next case! Byee~

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s