Diposkan pada Chapters

Crashed (Part 3)

1404130212061

Author : Cho Haneul
Title      : Crashed
Type     : Chaptered
Genre  : Romance, Drama

SPECIAL THANKS TO MY SISTER FOR THE POSTERS :*

Cast :
– Park Boyoung
– Nam Bora
– Kris Wu
– Kim Jongin
– Oh Sehun

_______________________________________________

 

“Wah, kau terlihat senang sekali. Apa ada hal menarik?” Sehun yang baru saja datang langsung duduk disamping Kai. Kai tersenyum misterius dan kemudian meminum whiskey yang ada digelasnya hingga tandas.

“Ne. Benar-benar hal yang menarik.” Ucap Kai seraya tersenyum sumringah.

Sehun ikut tersenyum. Pria yang baru saja mengganti warna rambutnya menjadi coklat gelap itu pun duduk merapat pada Kai. “Marhaebwa. Aku ingin tahu hal apa yang sudah membuat mood mu menjadi bagus seperti ini.”

exo-exok-oh-sehun-sehun-Favim.com-916363

“Gadis itu…” Kai berhenti sejenak untuk menuang whiskey kedalam gelasnya. Pria itu menoleh menatap Sehun yang masih penasaran. “Dia sedang mendapatkan pelajaran atas apa yang sudah ia lakukan padaku. Ja, setelah ini ia akan sadar bahwa mengganggu Kim Jongin merupakan sebuah kesalahan yang fatal.

Tubuh Sehun menegang mendengar perkataan Kai yang terdengar begitu licik dan sinis. Sehun menatap Kai setengah tak percaya. “Neo… kau benar-benar tega? Dia hanya seorang Wanita Kai!”

Mendengar nada bicara Sehun yang tidak bersahabat membuat Kai kesal. “Apa masalahmu, eo?! Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa aku tidak pilih kasih? Selama mereka masih bernapas maka aku takkan pernah melepaskan mereka.” Ujar Kai dengan nada dingin. Tatapan namja itu begitu mematikan, membuat siapapun akan merasa takut. Namun itu semua tidak berlaku pada Sehun. Namja jangkung itu sudah lama mengenal Kai. Ia tahu bagaimana sifat luar dalam teman sepermainannya tersebut.

Kai bangkit dari duduknya, berniat untuk pergi. Namun detik itu juga Sehun langsung menahan lengan Kai. “Apa yang kau lakukan padanya Kim Jongin?” Tanya Sehun dengan rahang mengeras. Kai hanya tersenyum sinis. “Dia sudah membuatku kehilangan kesempatan yang berharga dalam kompetisi dance, maka dia juga harus kehilangan sesuatu hal yang berharga sebagai gantinya.”

Asbk1m-CMAACpgb.png large

“Seolma…” Sehun bergidik ngeri membayangkan apa yang tengah dialami oleh Bora. “Dimana dia?” Tanya Sehun. Kai hanya diam. Entah karena ia tak ingin menjawab, atau karena ia ingin mempermainkan Sehun terlebih dahulu. “DIMANA?!” Sehun menarik kerah baru Kai. Kai agak tersentak melihat reaksi Sehun yang cukup berlebihan. “Kau benar-benar sudah gila Kai!”

Pintu ruang private terbuka, dan seorang namja muda muncul. “Kai, gadis itu sudah dibawa oleh Minho.” Ujar namja itu tanpa sadar akan situasi panas yang tengah terjadi disitu. Sehun langsung menghampiri namja itu. “Dimana Minho?”

“Ditempat biasa. Mereka sedang bersenang-senang disana. Hey, seharusnya kau___” Sehun langsung berlari pergi, meninggalkan ucapan Junhong menggantung diudara. Junhong menoleh heran. “Ya, ada apa dengannya? Buru-buru sekali. Yak! Apa jangan-jangan ia mau ikut bersenang-senang dengan Minho?” Tanya Junhong dengan polos.

Kai hanya diam. Namja itu memilih kembali duduk. Ia menghempaskan tubuhnya keatas sofa dan kemudian menarik napas dalam-dalam. Hati kecil Kai berbisik apa mungkin ia sudah melewati batas kali ini? Mau bagaimanapun Bora adalah seorang wanita. Namun sedetik kemudian Kai menulikan dirinya untuk tidak mendengarkan bisikan hati kecilnya. Kai menyambar botol whiskey yang terletak diatas meja. Tanpa perlu repot-repot untuk menuangkan isinya kedalam gelas, namja itu langsung meminun dari botol.

“Aku tidak salah. Salah yeoja itu sendiri kenapa ia dengan begitu polosnya mau datang kesini.”

 

 

*****

 

 

Sehun menggedor-gedor pintu dengan panic. Tak lama pintu terbuka, menampakkan seorang namja berambut pirang yang sebaya dengannya. “Minggir!” Sehun mendorong tubuh namja yang lebih pendek darinya itu. Mata Sehun terbelalak kaget saat melihat Bora yang berteriak dengan histeris sambil memberontak. Keadaan gadis itu cukup mengenaskan dengan wajah yang basah oleh air mata, rambut yang berantakan, serta kemeja yang beberapa kancingnya telah lepas.

“GEUMANHE!” Teriak Sehun, yang sayangnya tidak ditanggapi oleh pria-pria itu. Dengan emosi Sehun menerjang satu persatu pria-pria tersebut.

“APA-APAAN KAU SEHUN?!” Minho, pria yang bertubuh paling tinggi berseru kesal.

“Aku tidak menyangka kalau kalian sebejat ini.” Ucap Sehun dingin.

“Yak! Jaga ucapanmu! Ini semua atas suruhan Kai. Dia sendiri yang menyerahkan gadis ini pada kami. Dia bilang kami bebas untuk melakukan apapun, termasuk menikmati tubuh yeoja ini.”

Sehun menatap ketiga namja yang ada diruangan itu dengan tajam. “Aku pertegas pada kalian bahwa kalian tidak boleh mengganggu apalagi menyentuh gadis ini. Jika kalian melanggar, maka kalian akan tahu sendiri akibatnya.”

Sehun membuka jaket hitamnya, dan kemudian meletakkannya dibahu Bora. Gadis itu masih syok. Tubuhnya gemetar ketakutan dan isakan kecil masih terdengar dari bibirnya. Sehun menatap prihatin pada yeoja itu. Dalam hati tak habis-habisnya ia merutuki Kim Jongin. Bagaimana mungkin Kai bisa segitu bejatnya hingga merencanakan ini semua? Sehun akui bahwa ia tidak jauh berbeda dengan Kai. Mereka sama-sama brengsek. Tapi setidaknya dirinya takkan setega itu pada perempuan. Ia masih mengingat yeodongsaeng kesayangannya di rumah.

Sehun menuntun Bora keluar dari tempat hingar bingar tersebut. “Keluarkan aku dari sini…” Bisik Bora berkali-kali.

“Jangan takut, sekarang kau aman. Aku akan mengantarmu pulang.”

 

 

*****

 

 

Pagi-pagi Boyoung sudah terlihat segar. Gadis itu menuruni tangga rumah dan berjalan dengan langkah ringan menuju taman belakang rumah. Boyoung menghirup napas dalam-dalam, merasakan udara pagi yang segar memenuhi rongga dadanya. Senyuman indah terpatri diwajah mungil gadis itu. Boyoung kembali melangkahkankah kakinya mengitari taman belakang yang begitu luas. Mata Boyoung menangkap sesosok tubuh tinggi menjulang yang tengah berada diantara mawar-mawar yang segar nan indah. Pria itu terlihat begitu serius mengurusi mawar-mawar itu. Boyoung terdiam terpaku menatap sosok namja yang dikenalnya itu.

“Ouch!” Sangking tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Boyoung sengaja mencubit tangannya, membuat gadis itu mengaduh dengan suara yang pelan. Namun tampaknya pendengaran Kris memang tajam sehingga namja itu dapat mendengar suara Boyoung.

995477_573379766031235_109544447_n

Kris menatap Boyoung dengan datar. Boyoung tersenyum bocah. “Ah, annyeong oppa. Udaranya sejuk ya?” Boyoung berusaha untuk memulai percakapan dengan pria berwajah dingin itu. Namun sedetik kemudian Boyoung merutuki dirinya sendiri. ‘Cuaca? Benar-benar konyol sekali!’

Kris tidak memberikan tanggapan apa-apa. Pria yang mengenakan kemeja putih itu kembali berkutat dengan kesibukannya mengurusi mawar-mawar. Boyoung memperhatikannya dengan kagum. Sungguh, ia tidak menyangka bahwa namja keren dan dingin seperti Kris suka dan dapat merawat bunga dengan telaten.

“Wah, aku tidak menyangka jika oppa menyukai bunga mawar. Mawar-mawar ini indah sekali. Kau bekerja dengan amat baik.” Puji Boyoung tulus yang sayangnya tidak begitu ditanggapi oleh Kris. Namja itu berpikir bahwa ini merupakan bagian basa basi dari adik angkatnya itu.

Tanpa menunggu reaksi dari Kris, Boyoung langsung ikut membantu namja itu menyirami mawar-mawar. Kris tadinya ingin protes, namun begitu melihat wajah Boyoung yang begitu sumringah membuat namja itu mengurungkan niatnya. Ia lebih memilih diam dan membiarkan adik angkatnya itu untuk tetap berada disana. Diam-diam Boyoung mengamati ekspresi Kris. Gadis itu mendesah lega karena Kris tidak mengusirnya ataupun menjauhinya seperti yang pada awalnya gadis itu pikirkan.

c780064f148cffaec902a4e69f2ed6e6

 

 

*****

 


Bora duduk diam didalam kamarnya dengan pandangan mata yang kosong. Masih jelas diingatannya bagaimana ia nyaris kehilangan hal yang berharga dalam dirinya. Tangan Bora mengepal penuh emosi. Kim Jongin benar-benar brengsek! Bora bersumpah bahwa ia tak ingin mengenal namja itu lagi. Ia tak sudi untuk bertemu dengan namja tak berperasaan itu.

“Jagi?” Ibu Bora masuk kedalam kamar putrinya itu. Wanita paruh baya itu tersenyum lembut. “Kau kenapa? Dari tadi tidak terlihat bersemangat. Apa ada masalah di tempat kerja?” Tanya sang ibu dengan penuh perhatian. Bora menggeleng. Ia memang tidak menceritakan mengenai kejadian naas itu pada ibunya. Ia hanya tak ingin membuat orang tuanya khawatir dan sedih. Lagipula ia tidak apa-apa.

“Nan gwenchana eomma. Hanya sedang memikirkan tugas sekolah yang begitu banyak. Jino eoddi?” Bora mengalihkan percakapan dengan menanyakan sang adik. “Dia tadi minta izin untuk menginap di rumah Seung Joon. Ingin mengerjakan tugas bersama-sama katanya.”

4259_20

Ponsel Bora berbunyi. Tadinya Bora enggan untuk menjawabnya karena ia tidak mengenal nomor tersebut. Tapi pada akhirnya gadis itu tetap menjawab telepon tak dikenal itu.

“Sehun-ssi?” Bora mengernyit bingung. Dan gadis itu semakin bingung lagi saat Sehun mengajaknya untuk bertemu.

 

________________________________________________

 

Sehun membawa Bora ke salah satu café yang terletak didaerah perbelanjaan Myeondong. Mereka duduk diluar, menikmati keramaian kota Seoul dihari libur. Bora menunduk dalam. Gadis itu merasa agak sedikit malu atas kejadian kemarin malam yang menimpanya. Bora malu jika mengingat bagaimana kacaunya ia kemarin. Dengan wajah sembab, hidung memerah dan mata yang membengkak. Benar-benar berantakan.

“Aku tahu apa yang Kai lakukan sulit untuk dimaafkan. Aku tak memintamu untuk memaafkannya. Ia brengsek. Aku akui itu. Tapi kau harus tahu bahwa ini adalah kali pertama bagi Kai untuk berurusan dengan seorang wanita. Jadi ia tidak mengerti bagaimana harus memperlakukan wanita. Namja itu terlalu keras kepala dan angkuh. Kai melakukan itu semua tanpa pikir panjang. Ia begitu marah karena kau telah menghancurkan kesempatannya.”

Bora mengerutkan dahinya. “Maksudmu?”

images

Sehun menghela napas pelan. “Kompetisi dance. Seharusnya Kai bisa ikut kompetisi itu jika saja ia tidak cedera. Kompetisi ini merupakan hal yang penting bagi Kai. Ia sudah lama menunggu momen itu. Dan ia sudah berlatih dengan keras untuk menunjukkan penampilan terbaiknya. Tapi sekarang kesempatan itu hancur.”

“Jadi kau menyalahkanku? Ne, aku akui aku memang salah karena telah menyebabkan Kai cedera. Keunde, itu bukan berarti dia bisa seenaknya saja padaku!” Ujar Bora, agak merasa sedikit tersinggung. Gadis itu merasa bahwa Sehun seperti menyalahkannya atas kemalangan yang menimpa Kai.

shark-e08-130618-hdtv-h264-540p-kor-avi_002126793

“Aniyo. Aku sama sekali tidak menyalahkanmu. Jangan salah paham. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa Kai melakukan itu semua atas dasar emosi yang meluap-luap. Kai bukanlah orang yang pemaaf. Susah untuk menghadapi orang sepertinya. Dan jika kau mau aman, lebih baik kau menuruti semua perintahnya. Aku sudah dengar bahwa ia memintamu untuk menjadi pembantunya, keuchi? Jadi untuk sementara kau harus bersabar.”

Bora membelalakkan matanya. “Kau menyuruhku untuk bersabar pada namja yang jelas-jelas telah berusaha untuk menghancurkanku? Apa kau bisa menjamin bahwa ia tidak akan macam-macam denganku lagi, eo?” Bora menatap Sehun intens.

“Kalau soal itu kau tidak usah khawatir. Jika ia macam-macam padamu, aku sendiri yang akan menghancurkannya.” Ucap Sehun dengan nada tegas.

tumblr_m5hkq71EVf1rxjn1ko1_400

Bora menatap Sehun. Gadis itu merasa berhutang budi pada Sehun. Jika bukan karena namja jangkung ini mungkin ia sudah bukanlah Bora yang sekarang. “Kenapa kau begitu baik padaku? Bukankah kau adalah sahabat Kai?” Tanya Bora.

“Kami memang bersahabat. Keunde, kali ini Kai sudah bertindak diluar batas. Sebagai sahabat aku tidak bisa diam saja bukan? Dan lagi, aku memiliki seorang yeodongsaeng. Tentu saja aku tidak bisa membayangkan jika yeodongsaengku harus mengalami kejadian pahit seperti itu.” Ucap Sehun. Bora tersenyum kecil mendengarnya. “Kau baik Sehun-ssi.” Ucap gadis itu tulus.

 

 

*****

 

r2

Boyoung memandang sketsa wajah Kris yang baru selesai digambarnya dengan bangga. Ini merupakan kali kelima ia menorehkan wajah tampan Kris diatas kertas gambarnya. Dan itu tentu saja tanpa sepengetahuan Kris.

“Woah! Aku tak tahu bahwa kau bisa menggambar sebagus ini!”

“Eonnie!” Pekik Boyoung kaget. Ia langsung menutup buku gambarnya sebelum Lauren melihat lebih jauh. Lauren tertawa kecil melihat reaksi Boyoung yang menurutnya berlebihan itu.

“Aigoo, tidak usah sepanik itu. Kau seperti orang yang ketahuan sedang menggambar pria pujaannya saja sampai malu seperti ini.” Ucap Lauren seraya mengambil tempat tepat disebelah Boyoung. “Atau jangan-jangan… kau…” Lauren tersenyum menggoda, membuat Boyoung mengalihkan pandangannya pada rimbunan mawar yang indah. “Kau menyukai Kris ya?”

“Aniyo!”

“Iya, kau menyukainya. Haha, aku tahu itu! Kau tidak bisa mengelak lagi!”

Boyoung  gelagapan. “Aniyo eonnie. Jebal, jangan menggodaku seperti ini.”

Lauren tertawa geli. “Ya ampun, wajahmu sampai bersemu merah seperti ini.”

Boyoung menggenggam buku gambarnya dengan erat. Rasanya mau mengelak seperti apapun takkan membawa perubahan. Dalam hati Boyoung merutuki kecerobohannya sehingga Lauren sampai tahu isi hatinya.

“Jangan malu. Aku malah senang.” Ucap Lauren sembari menatap Boyoung intens. “Kris sudah terlalu lama terperangkap dalam masa lalu. Sudah saatnya ada orang yang mencairkan hatinya dan mengisinya dengan cinta dan kebahagiaan. Kurasa kau orang yang tepat.”

Boyoung tersenyum lemah. “Keunde, dia membenciku…” Lirihnya.

“Aniya. Dia tidak membencimu, hanya saja seperti yang eonnie pernah bilang, dia susah untuk menerima kehadiran orang baru. Tapi jangan khawatir, seiring dengan berjalannya waktu semua akan baik-baik saja. Berusahalah untuk mengambil hati Kris.”

 

 

*****

 

 

Boyoung memandang sekelilingnya dengan agak bingung. Gadis itu tengah berada di kampus Kris. Tadi tiba-tiba saja Kris menelpon ke rumah dan menyuruh sang supir untuk mengantarkan tugas kuliahnya yang tertinggal. Mendengar itu Boyoung berinisiatif untuk mengantarkan tugas itu sendiri. Yah, bisa dibilang ini salah satu caranya untuk mengambil hati Kris.

Kris mengambil jurusan bisnis, dan Boyoung sudah berada di departemen itu. Namun ia bingung dimana letak kelas Kris. Salahkan saja ia yang tidak bertanya lebih dahulu pada Kris. Boyoung meremas tangannya, pertanda bahwa ia gugup. Gadis bertubuh pendek itu memang selalu merasa gugup dan canggung jika berada di tempat yang baru dikenalnya. Terlebih tatapan mata gadis-gadis disana terasa sangat mengintimidasi. Kampus Kris memang dikenal dengan mahasiswa/mahasiswi yang amat sangat mementingkan penampilan, apalagi di jurusan bisnis.

Boyoung menjadi minder melihat betapa gadis-gadis yang ada disana menatapnya aneh, seakan-akan ia tersesat dan berada ditempat yang tidak seharusnya. Samar-samar Boyoung mendengar bisikan. “Eh, apa yang dilakukan oleh anak SMA disini?”

“SMA? Kupikir dia terlihat seperti anak SMP.”

‘MWO?! SMP??! Yang benar saja! Tubuhku memang pendek, namun aku tidak sebocah itu!’ Boyoung mendengus kesal. Bisa-bisanya ada yang menganggapnya anak SMP. Padahal Boyoung sudah berusaha untuk tampil dewasa, namun ternyata ia gagal total. ‘Cih, bukan salahku kan jika aku imut!’

Boyoung sudah bersiap untuk menelpon Kris. Yah, lebih baik memang seperti itu. Namun seseorang menahan tangan Boyoung. Seketika Boyoung panic saat melihat bahwa namja yang menahan tangannya adalah Min Woo, seseorang dalam hidupnya yang amat sangat ingin ia hindari. Min Woo tersenyum sinis, membuat nyali Boyoung menciut.

“Ah, jadi kau melarikan diri ke Seoul, eo? Dasar pengecut!” Ucap Min Woo sinis. Dengan susah payah Boyoung menelan salivanya. Ia tidak menyangka bahwa akan bertemu dengan Min Woo di Seoul. Gadis itu belum siap. Dan ia takkan pernah siap. Min Woo masih menatap menelisik pada Boyoung, sedangkan gadis itu hanya menunduk takut.

“Kau berharap bisa melupakan semua kesalahanmu, eo? Kau pikir dengan pindah ke Seoul kau bisa melupakan Nara dan semua dosamu padanya?!” Nada bicara Min Woo mulai naik. Orang-orang yang berlalu lalang disana mulai menaruh perhatian pada mereka. Namun tampaknya Min Woo tidak peduli. Ia masih ingin mencerca Boyoung sampai ia puas.

“Nan… aku tidak berusaha untuk melarikan diri…” Suara Boyoung terdengar serak. “Aku… aku minta maaf…” Ucapnya lagi.

Min Woo meminimalisir jarak diantara mereka. Dengan rahang yang mengeras, serta gigi yang bergemelutuk, Min Woo berbisik ditelinga Boyoung. “Aku tidak butuh maafmu, pembunuh!”

DEG!

fullsizephoto256917

Jantung Boyoung seakan diremas kuat. Kata itu lagi. Pembunuh. Sudah lama ia tidak mendengarnya, dan sekarang ia kembali harus menabahkan dirinya kala mendengar kata laknat itu kembali ditujukan pada dirinya. Air mata Boyoung menetes tanpa bisa dicegah. Min Woo terlihat puas karena ia sudah berhasil mencerca Boyoung. Namun itu belum cukup, dan takkan pernah cukup.

“Ada apa ini?” Tanya sebuah suara dingin. Boyoung mendongak dan melihat Kris sudah ada disampingnya. Dalam hati ia merasa agak tenang dan lega. Kris menatap Min Woo datar. “Apa yang kau lakukan padanya?” Tanya Kris lagi.

kris-wu

Min Woo tersenyum mengejek. “Ah, pangeranmu sudah datang rupanya.” Ia kemudian menoleh menatap Kris. “Mian, aku tidak bermaksud untuk membuat gadis kecilmu ini menangis. Aku hanya berusaha untuk mengingatkan masa lalu padanya agar ia tidak lupa meskipun ia sudah berada jauh dari kampung halamannya.” Min Woo tersenyum kecil, dan tanpa berkata apa-apa lagi namja itu berjalan pergi.

Kris menatap Boyoung, yang masih saja menunduk. “Sedang apa kau disini?” Tanya Kris datar. Boyoung menyodorkan map biru kepada Kris. “Ini tugas oppa yang tertinggal di rumah.”

Kris mengambil map tersebut. Matanya masih terpaku pada Boyoung. Ia bisa melihat tubuh gadis itu yang gemetaran. Hal tersebut membuat Kris agak iba dan merasa penasaran dengan hubungan Boyoung dan Min Woo. Boyoung terlihat begitu takut pada Min Woo. Dan ini pertama kalinya Kris melihat adik angkatnya ketakutan, dan bahkan sampai menangis seperti ini.

“Kau datang dengan siapa?” Tanya Kris.

“Dengan supir Byun.”

“Terima kasih. Kau bisa pulang sekarang.” Kris langsung pergi tanpa menunggu jawaban ataupun respon dari Boyoung. Dengan perlahan Boyoung melangkah meninggalkan halaman kampus Kris diiringi dengan tatapan penuh rasa penasaran dari mahasiswi disana. Itu semua karena Kris. Gadis-gadis itu amat penasaran dengan hubungan Boyoung dan Kris. Mereka menerka-nerka ada hubungan apa diantara Boyoung dan namja yang paling diminati di departemen bisnis itu. Jika tadi Boyoung akan merasa amat terganggu dengan semua lirikan dan bisikan yang ditujukan padanya, namun kali ini gadis itu tampak tak peduli. Pikirannya sudah terlalu penuh dengan pertemuannya dengan Min Woo beberapa menit yang lalu. Dan sekilas, sekelebatan ingatan muncul silih berganti dikepala Boyoung.

“Boyoung-ah, tolong aku…”

“Kita teman, bukan? Kenapa kau meninggalkanku?”

“KAU JAHAT!”

“Aku ingin mati saja…”

“Nara… mianhe…” Gumam Boyoung lirih.

 

 

*****

 

 

Kai pulang ke rumah dalam kondisi yang setengah sadar akibat pengaruh alcohol. Keadaan rumah sudah gelap, pertanda bahwa para penghuni yang lain sudah terlelap dialam mimpi mereka masing-masing. Dengan tertatih-tatih Kai menaiki tangga rumahnya.

“Kai!”

Kai menoleh mendengar namanya dipanggil. “Ah, si anak pintar Suho. Bukankah seharusnya jam segini kau sudah tidur? Mencoba menjadi anak nakal eo?” Kai meracau tidak jelas. Lelaki yang dipanggil Suho itu adalah saudara tiri Kai. Pria itu hanya dapat menahan emosi kala berbicara dengan Kai.

“Mabuk lagi? Kau tidak tahu eomma cemas memikirkanmu?”

Kai tertawa sinis. “Eomma? Aku tidak punya eomma. Eommaku sudah meninggal. Minggir kau!” Kai mendorong tubuh Suho. Suho menatap punggung Kai dalam diam. Ia menyayangkan sikap buruk yang selalu Kai berikan padanya maupun sang ibu. Ia memang hanya saudara tiri, tapi ia sudah menganggap Kai seperti adik kandungnya sendiri. Sayangnya Kai tidak berpikir demikian.

BRUK!

Kai membanting tubuhnya keatas ranjang, kemudian ia memijat dahinya dengan keras, berusaha untuk mengenyahkan rasa pusing yang menghantam kepalanya. Pikiran Kai melayang menuju percakapannya dengan Sehun beberapa jam lalu. Sehun mencaci maki Kai atas perbuatannya terhadap gadis yang bernama Bora. Ini pertama kalinya Sehun bersikap sekeras itu. Ini membuat Kai mau tidak mau jadi memikirkan tindakannya. Apa ia benar telah membuat kesalahan yang amat fatal?

“Coba kau bayangkan seandainya hal tersebut terjadi pada adik perempuanmu, eo?” Mata Sehun terlihat menyalang karena marah.

“Aku tidak punya adik perempuan.”

“Ara. Bayangkan jika ibumu yang hampir dilecehkan. Bagaimana perasaamu?”

Kai terdiam membisu. Tidak pernah sedikitpun hal tersebut terlintas dipikirannya. Sehun tampak puas. “See? Kau tidak bisa menjawab kan? Lain kali pergunakan otakmu sebelum bertindak.”

“Nam Bora…” Kai bergumam sebelum ia tertidur pulas.

 

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

2 tanggapan untuk “Crashed (Part 3)

  1. wahh penasaran dng hubungan boyoung-nara-minwoo di masa lalu ?
    knpa minwoo sampai sebenci itu sama boyoung ?

    semoga next chapter semuanya bisa jelas ..dan kai mulai insyaf juga baik sama bora,kan kasian boranya …
    update soon yaa ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s