Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

Dark Side (Part 1)

1405178199602

Author : Cho Haneul
Title       : Dark Side
Type      : Chaptered
Genre    : Drama, Romance

Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Oh Sehun
– Lee Sunkyu (SNSD’s Sunny)
– Kim Jonghyun

__________________________________________

 

_JEGUK HIGH SCHOOL, Kelas 3-1_

Nilai 95 tertera jelas dikertas ulangan milik seorang gadis bernama Kim Jiwon. Jika lumrahnya seseorang akan senang kala mendapatkan nilai segitu dikertas ulangan matematika mereka, namun lain halnya dengan Jiwon. Ia malah menatap kosong secarik kertas yang ada ditangannya.

“Kau dapat berapa? Wah, 95!” Pekik Sunkyu heboh yang membuat seisi kelas mengerubungi Jiwon bagai semut menemukan gula. Berbagai pujian dan decakan kagum diberikan untuk Jiwon.

“Wah, lagi-lagi kau mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Tapi sebenarnya aku tak heran. Kim Jiwon selalu menjadi nomor satu.” Puji salah seorang teman sekelas Jiwon. Jiwon tersenyum kecil. Wajah gadis itu tidak menunjukkan kebahagiaan sebagaimana mestinya. Dengan cemas Jiwon menoleh kebelakang, tepatnya ke meja yang ada dibarisan paling belakang.

DEG!

Jantung Jiwon mencelos saat tatapan matanya bertumbukan dengan sepasang mata nan dingin dan mengintimidasi milik kekasihnya, Oh Sehun. Jiwon menelan salivanya dengan susah payah. Ini gawat! Benar-benar gawat!

 

 

*****

 

 

“Bukankah aku sudah tegaskan bahwa nilaimu tidak boleh lebih dariku? Mencoba membangkang, hah?!”

Jiwon menunduk diam. Seperti yang sudah diperkirakannya, Sehun marah besar. Namja itu tidak terima jika nilai Jiwon melebihi nilainya. Namja berwajah dingin itu bahkan pernah menegaskan bahwa ia tidak suka dikalahkan oleh siapapun, apalagi Jiwon yang notaben adalah kekasihnya. Ia juga mengancam Jiwon untuk menurunkan nilainya. Awalnya Jiwon tidak terlalu peduli, akan tetapi Sehun kerap bersikap kasar kala keinginannya tidak dipenuhi. Bahkan pria itu tidak segan-segan untuk bermain tangan.

Jiwon bukannya tidak bisa melawan. Tapi ia memang tidak berusaha untuk melawan. Keadaan keluarganya yang membuat dia harus bertahan. Kedua orangtuanya bergantung hidup pada kedua orangtua Sehun. Perusahaan ayah Jiwon mengalami kerugian yang mengakibatkan mereka terlilit hutang yang besar dan terancam gulung tikar. Disaat kelam itu keluarga Sehun datang dan memberikan bantuan layaknya angin surga yang berhembus di Gurun Sahara. Sejak itu keluarga Jiwon terikat dengan keluarga Sehun. Pernah sekali Jiwon memutuskan Sehun, dan ternyata itu amat sangat berdampak bagi kedua orangtuanya yang tiba-tiba saja tidak mendapat pinjaman dari keluarga Oh. Dari situ Jiwon belajar bahwa tidak ada yang dapat dilakukannya selain diam dan mengalah.

“KENAPA DIAM?!” Sehun mengguncangkan tubuh Jiwon. Mata pria itu menyalang marah. “Apa aku kurang jelas memberitahumu, hah? Kau ingin merendahkanku didepan anak-anak kelas?  Dasar yeoja tidak tahu terima kasih!”

“Mian.” Ucap Jiwon lirih, nyaris berupa bisikan. Sehun memandangnya tajam. “Kau pacarku, dan kau harus mengikuti semua keinginanku. Terlebih kau tahukan apa yang bisa kulakukan pada keluargamu?” Pria itu tersenyum sinis, membuat jantung Jiwon semakin berdebar kencang.

“Maaf…” Lagi-lagi hanya itu yang bisa ia katakana.

Sehun menghela napas kasar. “Kali ini kumaafkan. Ulangan Kimia besok… kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?” Tanya Sehun yang dibalas dengan anggukan pelan dari Jiwon. “Nan ara. Kau tidak perlu khawatir.”

 

*****

 

 

Rumah mewah itu terlihat lenggang dan begitu hampa. Seorang pria berwajah tampan tengah duduk dimeja makan seorang diri. Ia mengunyah makannya dengan malas. Jika bukan karena perutnya yang sudah berdemo ingin minta asupan makanan, pria itu lebih memilih untuk menyendiri di kamarnya, berkutat dengan setumpuk PR khas anak sekolahan.

Pria yang bernama lengkap Kim Woo Bin itu memang sudah terbiasa sendiri, tepatnya semenjak ia masih dibangku sekolah dasar. Suatu kejadian kelam seketika merubah kehidupan pria itu 360 derajat. Karena sesuatu yang bukan murni kesalahannya, Woo Bin yang saat itu masih kecil harus rela kehilangan kasih sayang kedua orangtuanya dan dijauhi oleh orang-orang. Semua orang membencinya. Semua orang menyalahkannya atas perbuatan yang tidak pernah ia lakukan. Bahkan sang ibu lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya daripada harus tinggal seatap dengan Woo Bin.

Hal-hal tersebut yang menjadikan Woo Bin sosok penyendiri yang begitu dingin dan susah untuk didekati. Tampan dan memiliki kepintaran tak lantas membuatnya mempunyai banyak teman. Namun Woo Bin tidak keberatan dengan hal itu. Ia sudah terbiasa dengan kesendiriannya itu.

Sebenarnya Woo Bin tidak tinggal sendirian di rumah itu. Ia tinggal bersama sang ayah, namun ayahnya lebih sering untuk menghabiskan waktu dengan bekerja dan bahkan jarang pulang dengan alasan pekerjaan. Tapi Woo Bin tahu bahwa itu merupakan salah satu cara sang ayah untuk menjauhinya, seperti keluarganya yang lain.

Dering ponsel membuyarkan lamunan Woo Bin. Pria itu menatap layar ponselnya yang berkedap kedip. Nama Kim Jonghyun tertera dilayar ponselnya. Jonghyun adalah namja berandalan yang kebetulan dikenal Woo Bin. Meskipun mereka kerap menghabiskan waktu bersama, namun tak satupun yang merasa bahwa mereka teman baik. Mereka hanya saling membutuhkan. Woo Bin tahu pasti bahwa Jonghyun hanya memanfaatkan kebaikannya yang acap kali meminjamkan uang pada Jonghyun, sedangkan Woo Bin memerlukan namja itu untuk bersenang-senang. Yah, Jonghyun memang sangat tahu bagaimana cara menghabiskan hidupmu dengan bersenang-senang.

“Ada apa?” Tanya Woo Bin to the point.

“Datanglah kesini. Mereka merindukanmu.” Kekeh Jonghyun. Woo Bin tersenyum getir. Yang dimaksud dengan merindukan adalah bahwa mereka merindukan uangnya. Sudah seminggu lebih Woo Bin tidak bersenang-senang dengan para kenalannya di bar. Dan itu berarti sudah seminggu lebih juga ia tidak menghaburkan uangnya demi para kenalannya itu.

“Aku sedang malas.”

“Aish, tidak asyik sekali. Ayolah…” bujuk Jonghyun.

“Mian, aku sedang tidak ingin. Bagaimana jika besok? Aku yang traktir.”

Terdengar suara riuh disana, sepertinya Jonghyun sudah memberitahu mereka bahwa Woo Bin akan mentraktir mereka esok malam. Dalam hati Woo Bin mencibir orang-orang itu. Hanya sekumpulan orang tak berotak yang gila uang. Itu julukan Woo Bin untuk para kenalannya itu. Mereka akan menempel bak lintah saat kau sedang memiliki banyak uang, dan mereka akan langsung hilang seperti ditelan bumi saat kau kesulitan. Tipikal manusia zaman sekarang.

“Baiklah. Kami pegang janjimu, ara! Sampai bertemu besok nae chingu!”

Woo Bin menatap layar ponselnya dengan senyum dingin yang terpatri diwajah tampannya. “Chingu? Cih, kau pasti bercanda.”

 

*****

 

 

“Kumpulkan kertas ulangan kalian!”

Semua murid sibuk memeriksa dan menjawab soal-soal mereka sebelum mengumpulkannya ke meja guru, tak terkecuali dengan Jiwon. Gadis itu sudah menyalahkan 4 soal dari 15 soal yang diuji. Ia yakin bahwa nilainya akan lebih rendah dari Sehun. Sedari tadi Jiwon tahu bahwa Sehun mengawasi gerak geriknya. Pria itu bahkan sempat mengancam sesaat sebelum mereka memasuki kelas.

Jiwon mengumpulkan tugasnya dengan perasaan sedih. Rasanya menyesakkan saat kau tahu jawaban yang benar, tapi dipaksa untuk menjawab jawaban yang salah.

“Bagaimana tadi?” Tanya Sehun sok perhatian. Pria itu mengelus kepala Jiwon, membuat gadis-gadis yang berada disana menatap iri ke pasangan kekasih yang paling popular di Jeguk High School itu. Jiwon tersenyum kecil. “Baik-baik saja.”

Sehun menggenggam jemari Jiwon. “Hari ini aku ingin mengajakmu makan malam bersama. Kau harus mau. Aku tak terima penolakan.” Seperti biasa, dalam sekejap nada bicara Sehun berubah menjadi dingin dan sarat akan perintah. Jiwon mengangguk. “Arasso.” Jawab gadis itu dengan lesu. Sehun tersenyum puas. Dengan bergandengan tangan, kedua insan itu meninggalkan pelantara sekolah diiringin dengan tatapan iri dari sebagian siswa/siswi disana.

 

*****

 

Jam sudah menunjukkan pukul 6.35, dan menurut janji mereka, Sehun akan datang sekitar 20 menit lagi. Jiwon sudah siap sejak setengah jam yang lalu, mengingat bahwa Sehun adalah tipikal namja yang tidak suka menunggu. Bel rumah Jiwon berbunyi, dengan cepat ia menyambar tas tangannya dan bergegas menuju pintu utama.

“Lee Jongsuk?” Jiwon kaget melihat kedatangan teman SMP-nya itu. Sudah lama ia tidak mendengar kabar dari Jongsuk dan sekarang secara tiba-tiba ia mucul didepan pintu rumah Jiwon. Pria yang bernama Jongsuk itu  tersenyum malu-malu. Sudah menjadi rahasia umum kalau namja ini menyukai Jiwon. Mereka bahkan sempat dekat sebelum akhirnya Jiwon terjatuh dalam pesona Oh Sehun.

“Ah, silahkan masuk.”

Jongsuk melihat penampilan Jiwon yang sudah rapi. “Apa kau mau pergi? Maaf aku datang tiba-tiba.” Ucap Jongsuk tidak enak. Jiwon tersenyum tipis. “Aniya, aku masih ada waktu sekitar 20 menit kok.”

Sebentar saja Jiwon dan Jongsuk sudah terlarut dalam obrolan mereka. Mereka berdua memang memiliki banyak kesamaan yang membuat mereka jarang kehabisan bahan obrolan. Sayangnya, Jiwon tidak menyadari langkah kaki Sehun yang memasuki rumahnya. Sehun berdiri diam menatap dengan tajam yeojachingunya yang sedang asyik mengobrol dengan lelaki yang tak dikenalnya. Emosi Sehun langsung naik ke ubun-ubun, terlebih saat melihat tangan Jongsuk yang menggenggam tangan gadisnya. Tanpa meminta penjelasan, Sehun langsung menarik kerah baju Jongsuk dan melayangkan sebuah tinju kewajah pria itu. Jongsuk yang tidak ada persiapan jelas saja langsung jatuh tersungkur.

“HENTIKAN SEHUN!” Pekik Jiwon panic. Sehun tidak peduli. Ia kembali menarik kerah Jongsuk dan kembali bersiap melayangkan tinjunya yang kedua. Namun Jiwon tidak tinggal diam. Gadis itu menahan tangan Sehun. Dengan panic Jiwon menyuruh Jongsuk untuk meninggalkan rumahnya, setelah sebelumnya ia meminta maaf. “Mianhe. Keunde, kau harus pulang sekarang.” Pinta Jiwon.

Jongsuk memilih untuk mengikuti keinginan Jiwon, meskipun secara pribadi ia tidak terima telah diperlakukan semena-mena oleh Sehun.

“HEY BRENGSEK! JANGAN LARI KAU!”

“Sehun geumanhe!”

Sehun menghempaskan tangan Jiwon. Matanya menatap gadis bertubuh mungil itu dengan penuh emosi. “Berani kau berselingkuh dengan namja lain disaat kau memiliki janji denganku?! Brengsek!”

PRANG!

Vas bunga milik ibu Jiwon hancur berkeping-keping tepat disamping kaki Jiwon. Gadis itu memejamkan matanya. Ia tidak berusaha menjelaskan. Toh tampakkan Sehun sudah terlanjut dibalut emosi. Penjelasan seperti apapun takkan bisa diterima oleh namja itu.

“Ya Tuhan, ada apa ini?!” Seru Kim Nana panic. Wanita paruh baya itu menatap kaget kearah Sehun dan kemudian berganti ke Jiwon. Jiwon langsung berlari kepelukan ibunya. Gadis itu terisak-isak dipelukan ibunya. “Aku takut pada Sehun. Ibu lihat apa yang telah dilakukannya.” Isak Jiwon. Nana menatap agak takut ke Sehun, sedangkan Sehun membuang muka, tampak tak peduli dengan kekacauan yang telah dibuatnya.

“Sehun-ah, ada apa, eo?” Tanya Nana penuh kelembutan. Bahkan ia tak pernah bertanya dengan nada begitu pada Jiwon. Sehun mendegus. Ia menatap tajam kearah Jiwon yang masih berada dipelukan Nana. “Jiwon selingkuh dengan namja lain.”

“Aniya eomma! Jongsuk adalah teman lamaku. Eomma juga kenal dia, keucchi?”

Nana membelai kepala Jiwon. “Ini semua salahmu, Jiwon. Wajar jika Sehun marah. Ia kecewa padamu. Kalian kan sebentar lagi akan bertunangan, itu berarti kau sudah tidak boleh seenaknya dekat dengan namja lain. Hargai Sehun. Ja, selesaikan masalah kalian baik-baik. Eomma masuk dulu.”

Rasanya dada Jiwon begitu sesak, seakan tidak mendapat pasokan oksigen. Bagaimana mungkin ibunya malah menyalahkan dirinya dan membela namja yang sudah jelas-jelas bersikap kasar pada sang putri? Jiwon tak habis pikir dengan sikap ibunya. Hanya demi perusahaan ia rela mengorbankan putri satu-satunya. Jiwon merasa seakan-akan ia dijual oleh kedua orangtuanya sendiri.

Sehun melihat jam tangannya. “Masih ada waktu. Ayo kita pergi, aku sudah menyiapkan makan malam. Jangan sampai moodku semakin hancur.”

Dengan gayanya yang santai Sehun melenggang keluar dari kediaman Jiwon, sama sekali tidak peduli dengan gadis itu yang masih terisak.

“Berhenti menangis! Aku benci tangisan!” Ucap Sehun dengan nada sedingin es. Jiwon langsung menghentikan tangisnya. Selama diperjalanan gadis itu mengatupkan bibirnya, enggan bersuara. Ia takut kembali dimarahi oleh Sehun.

“Ini terakhir kalinya aku melihatmu dekat dengan namja lain. Mulai detik ini kau tidak boleh dekat dengan orang lain selain diriku, termasuk dengan teman-teman bodohmu itu.”

Jiwon menatap Sehun geram. Gadis itu sudah tidak sanggup lagi bersabar dalam menghadapi Sehun. “Aku tidak suka kau menghina teman-temanku.” Ucap Jiwon dingin.

“Mereka memang sekumpulan yeojadeul bodoh. Mereka tidak pantas untuk berada disekitarmu. Apalagi mereka bukan berasal dari keluarga terhormat seperti kita. Dan___”

“Geumanhe Oh Sehun!” Nada suara Jiwon meninggi. Gadis itu menatap penuh emosi kearah Sehun. “Aku sudah cukup bersabar dengan sikap egois mu selama ini. Kau selalu mengatur hidupku sesukamu tanpa memikirkan bagaimana perasaanku. Aku ini pacarmu, bukan budakmu!”

CKKITT!

Sehun menginjak rem mobilnya dengan ganas. Beruntung jalanan sepi sehingga tidak menganggu lalu lintas. “Kau memang pacarku, maka dari itu aku bebas mengaturmu. Toh sebentar lagi kita akan bertunangan dan kemudian menikah.”

Jiwon menatap memelas kearah kekasihnya itu. “Aku sudah tidak sanggup lagi. Lepaskan aku…” Pinta Jiwon lirih. Sehun jengkel. Pria itu mencengkram bahu Jiwon dengan begitu erat, hingga membuat Jiwon meringis sakit. “Apa kau sudah tidak menyayangi kedua orangtua mu, eo? Kau tahu kan jika kau nekat tetap ingin putus dariku aku bisa langsung meminta ayah untuk menghentikan aliran dana untuk perusahaan ayahmu. Lalu ayahmu akan kembali dikejar-kejar oleh penagih hutang dan bahkan ada kemungkinan besar ia akan mendekam dibalik jeruji besi jika tidak sanggup membayar.”

Jiwon lagi-lagi kalah telak begitu mendengar perkataan Sehun. Gadis itu memang selalu tidak bisa berkutik jika Sehun sudah membawa nama kedua orangtuanya. Sebab Jiwon sadar bahwa saat ini, hidup dan mati perusahaan kedua orangtuanya ada ditangan Sehun dan kedua orangtuanya.

“Turun kau! Moodku sudah hancur berantakan. Makan malam dibatalkan!” Ucap Sehun ketus. Tatapan mata pria itu terarah lurus kedepan, menghadap jalan. Jiwon menghela napas. Tanpa protes ia langsung keluar dari mobil Sehun, dan sedetik setelah pintu mobil tertutup, Sehun langsung menjalankan mobil dengan kecepatan yang patut diancungi jempol. Jiwon menatap lirih pada mobil Sehun yang perlahan hilang dari pandangannya.

Angin yang berhembus kencang membuat Jiwon sadar dengan keadaan sekitarnya. Begitu sepi dan gelap. Seketika ia tersadar bahwa ia telah diturunkan ditempat yang begitu jauh dari rumahnya, sepertinya ini dipinggiran kota Seoul, mengingat ia bisa mendengar deru ombak yang menyapu pesisir pantai. Bukannya menuju arah pulang, gadis itu justru berjalan menuju suara deburan ombak. Ke pantai.

 

 

*****

 

Deru mesin mobil sedan berwarna hitam itu memecah keheningan malam disepanjang jalan Incheon. Woo Bin menatap kosong jalanan yang ada dihadapannya. Pria itu merasa kehampaan hati yang begitu mendalam. Tadinya ia berpikir bahwa menghabiskan waktu dengan para kenalannya di bar akan membuatnya lebih baikan. Namun ia salah. Menghabiskan waktu selama berjam-jam di bar ternyata sama sekali tidak berhasil mengisi kekosongan di hatinya. Ia tetap merasa kosong.

Ia teringat bagaimana pertemuannya dengan sang ayah pagi tadi. Setelah tidak bertemu selama 2 minggu, ayahnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kerinduan padanya. Mereka hanya bertemu saat sarapan pagi. Itu juga tanpa adanya percakapan layaknya seorang ayah dan anak. Mereka lebih banyak diam. Padahal Woo Bin sangat ingin ayahnya menanyakan bagaimana keadaan dirinya. Bagaimana sekolahnya, dan bagaimana nilai-nilainya. Namun itu bagaikan mimpi baginya.

Setelah makan pagi yang terasa begitu dingin dan kaku itu, sang ayah malah kembali pamit untuk menghabiskan akhir pekan di Busan. Padahal belum ada 24 jam mereka bertemu.

Woo Bin menghembuskan napas. Betapa ingin ia melepaskan rasa penat yang membelenggu dirinya. Pria itu menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Kepalanya bertumpu di stir mobil. Hatinya sakit. Ia merasa sendiri. Oh, bukan merasa, tapi ia memang sendiri. Selalu sendiri. Woo Bin menoleh kesamping. Meskipun langit gelap, tapi ia masih dapat melihat lautan luas yang terbentang.

Tanpa sadar pria itu sudah keluar dari mobilnya dan melangkahkan kakinya perlahan namun pasti kearah pantai. Tatapan matanya kosong, seperti tak ada jiwa disana. Semakin dekat kearah bibir pantai membuat Woo Bin semakin lega. Dengan mata yang terpejam dan tangan yang mengepal, pria itu kembali melangkah. Ia baru berhenti kala kakinya basah diterjang ombak pantai. Sejenak terbesit keraguan di benak Woo Bin. Sanggupkah ia untuk terus melangkah? Haruskah ia berhenti?

Tapi suara dalam dirinya juga menginterupsi.

Tak ada alasan bagiku untuk berhenti…

Tak ada yang menghendaki kehadiranku di dunia ini…

Jadi, untuk apa aku masih disini?

Semakin lama Woo Bin semakin berjalan jauh kedalam air. Tidak dipedulikannya rasa dingin yang menggigit kulit. ‘Kita tidak akan pernah bisa mengatur hidup dan mati seseorang. Selama Tuhan masih menginginkan orang tersebut untuk hidup, maka sekeras apapun usahanya, ia takkan bisa mati. Sekarang aku ingin tahu apakah Tuhan masih menginginkanku disini apa tidak.’

 

 

*****

 

 

Air sudah mencapai leher Jiwon. Gadis itu mulai dirundung kecemasan, namun ia tetap menguatkan hatinya untuk terus melangkah. Semakin lama ia semakin jauh terseret arus, hingga akhirnya ia merasakannya. Rasa sesak dan panic disaat yang bersamaan. Jiwon ingin kembali, namun sudah terlambat baginya untuk kembali. Ia sudah terseret terlalu jauh dari bibir pantai.

“To…tolong!” Teriak Jiwon, berharap akan ada yang mendengarnya meskipun itu terdengar mustahil. Ia sedang berada dipantai kosong yang gelap, yang juga jauh dari keramaian.

Jiwon semakin panic saat dirasa tubuhnya mulai melemas. “Tolong!!! To..long! Jebal!” Teriaknya putus asa.

‘Apa ini akhir dari hidupku?’

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

8 tanggapan untuk “Dark Side (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s