Diposkan pada Chapters

Crashed (Part 4)

1404130212061

Author : Cho Haneul
Title      : Crashed
Type     : Chaptered
Genre  : Romance, Drama

SPECIAL THANKS TO MY SISTER FOR THE POSTERS :*

Cast :
– Park Boyoung
– Nam Bora
– Kris Wu
– Kim Jongin
– Oh Sehun
– Kim Suho

_________________________________

 

_Kim Jongin’s House, 7 am_

Pagi-pagi Bora sudah berdiri didepan rumah Kai. Sebenarnya gadis itu tidak sudi untuk bertemu dengan namja brengsek yang nyaris menghancurkan hidupnya. Namun semalaman ponselnya berdering dan itu semua karena seorang Kim Jongin. Lagipula Bora jadi teringat akan perkataan Sehun yang menyuruhnya untuk menuruti perkataan Kai sebelum namja itu mengamuk. Meski dengan setengah hati, namun pada akhirnya Bora telah berdiri didepan gerbang rumah Kai yang mewah.

“Jogiyo, apa kau Nam Bora?”

Sebuah suara menyadarkan Bora akan lamunannya. Gadis itu menoleh dan melihat seorang wanita paruh baya tengah berdiri didepan gerbang. Bora mengangguk sopan. “Ne, saya Nam Bora.” Jawab Bora sopan. Wanita itu tersenyum ramah. “Masuklah. Tuan muda Jongin sudah menunggu anda.”

Bora mengangguk dan dengan agak ragu melangkahkan kakinya mengikuti wanita itu masuk kedalam rumah. Rumah Kai memang mewah, sama seperti rumahnya dulu. Hanya saja rumah Kai lebih luas dengan interior gabungan dari minimalis dan sedikit sentuhan tradisional korea. Bora berjalan melewati beberapa ruangan hingga ia sampai didepan sebuah tangga menuju lantai dua. “Anda langsung naik saja keatas, dan kemudian belok ke kanan. Dari situ anda akan langsung mengenali kamar tuan muda Jongin.” Ucap pelayan wanita itu sebelum ia pergi untuk mengerjakan tugas-tugasnya kembali.

“Ne, terima kasih.” Bora membungkukkan badannya sopan. Gadis itu menatap malas kearah tangga. Helaan napas terdengar dari mulutnya. “Aku pasti sudah gila.” Rutuk Bora pada dirinya sendiri begitu ia sadar bahwa ia telah masuk dengan suka rela kedalam kandang singa.

drama-fashion_com_20130731_104317

Pelayan tadi ternyata benar. Bora dapat langsung mengenali kamar Kai begitu ia melihat tulisan “KAI” yang terpampang jelas dipintu. Dengan perlahan sembari memantapkan hatinya, Bora melangkah menuju kamar namja yang amat dibencinya itu. Tangan Bora terangkat, ingin mengetuk pintu kamar Kai. Namun tangan gadis itu kembali turun sebelum sempat ia mengetuk pintu. Bora memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam, lalu kembali mengangkat tangannya.

TOK TOK TOK

Tidak ada jawaban. Bora kembali mengetuk pintu, dan hasilnya tetap sama. Sejenak ia ragu apakah Kai benar ada didalam kamar itu. Bisa saja kan ia dibohongi oleh namja brengsek itu. Tapi pelayan tadi jelas berkata bahwa Kai memang ada didalam kamarnya. Tangan Bora meraih gagang pintu. Baru saja ia ingin membukanya, namun pintu tersebut sudah terbuka dari dalam, membuat Bora berjengit kaget.

“Aku tidak menyangka kau akan datang. Aku baru saja berencana untuk menghubungi pengacara keluargaku.” Ucap Kai datar. Matanya menatap tajam kearah Bora. Bora mendengus kesal. “Aku juga tidak menyangka kalau aku akan datang.” Gumamnya pelan, namun cukup untuk didengar Kai. Pria itu tersenyum kecil, lebih tepatnya menyeringai.

“Masuk.” Perintah Kai.

Bora mengernyit curiga. “Kau ingin menyuruhku melakukan apa?”

Kai tertawa. “Jangan berpikiran yang macam-macam di pagi yang indah ini. Aku hanya ingin kau melakukan tugasmu.” Ujar Kai. Pria itu membuka lebar pintu kamarnya, dan Bora hanya bisa mendelik kaget melihat kamar yang nyaris menyerupai kapal Titanic yang karam. Gadis itu menoleh menatap Kai. “Jangan bilang kalau…”

“Bereskan kamarku!” Ujar Kai dengan nada yang amat sangat otoriter.

Bora hanya bisa merutuk dalam hati. Seharusnya di minggu pagi yang indah ini ia masih berada ditempat tidurnya, bergulung didalam selimut biru langit nan lembut miliknya. Tentu saja untuk beristirahat setelah hampir setiap hari sibuk dengan urusan sekolah dan juga kerja sambilannya. Namun untuk minggu ini dan mungkin minggu-minggu selanjutnya, ia harus rela melepaskan hari minggunya yang indah dan damai.

Ini semua karena Kim Jongin!

“Apalagi yang kau tunggu? Sebuah undangan?” Kai menaikkan alisnya, menunggu Bora yang sedari tadi hanya berdiri sembari menatap kosong kearah kamarnya.

Tanpa berkata apa-apa Bora masuk kedalam kamar Kai dan ia mulai menjalankan tugasnya sebagai pembantu dari Kim Jongin. Sesekali Bora menggelengkan kepalanya saat mendapati banyak sampah di kamar Kai, bahkan diatas ranjangnya! Mulai dari sampah kertas-kertas, sampah bungkus makanan, bahkan sampah kaleng bir!

‘Ini benar-benar gila! Apa orangtuanya sebegitu sibuknya sampai tidak bisa mengurus namja tengik ini? Apa orangtuanya tahu bagaimana ia menghabiskan hari-harinya?’

Saat mengangkat bantal tidur Kai, Bora menemukan sebuah pigura foto yang berisikan foto seorang wanita, yang ia yakini sebagai ibunda Kai. Wanita difoto itu terlihat begitu anggun dan senyumnya begitu ramah. Kai menyimpan foto itu dibawah bantal kepalanya, tentu itu berarti bahwa ia sangat menyayangi ibunya. ‘Ternyata seorang Kim Jongin masih memiliki rasa sayang.’ Batin Bora sembari meletakkan pigura foto itu diatas nakas, tepat disamping ranjang Kai.

 

 

*****

 

 

Pertemuan Boyoung dan Min Woo kemarin masih meninggalkan kesan yang mendalam bagi Boyoung. Tak sedikitpun pikirannya teralihkan dari Min Woo dan Nara. Akibat dari kejadian itu, Boyoung berubah menjadi pendiam. Sungguh berbeda dari sifat gadis itu biasanya. Lena sebenarnya cukup khawatir mengenai keadaan Boyoung. Akan tetapi, wanita paruh baya itu memilih untuk diam dan menunggu Boyoung untuk bercerita padanya. Yah, mungkin ia memang sedang butuh waktu untuk sendiri.

“Kris, apa telah terjadi sesuatu pada Boyoung? Dia jadi aneh semenjak kemarin. Eomma cemas jika ia tengah menghadapi persoalan yang pelik. Mungkin ia masih belum nyaman untuk bercerita pada kita.” Ujar Lena.

Kris yang tengah sibuk dengan tugas kuliahnya menoleh menatap sang ibu. “Kalau begitu tunggu saja sampai ia bersedia untuk bercerita.” Jawaban Kris yang terdengar begitu cuek membuat Lena menghela napas. “Sampai kapan kau akan bersikap tak peduli padanya? Ia adikmu, Kris. Sudah sepantasnya kau menyayangi dan melindunginya, seperti kau memperlakukan Lauren.”

Kris hanya diam, terlalu enggan untuk membalas perkataan sang ibu yang buntutnya hanya akan menimbulkan pertengkaran.

“Ya sudah, kau lanjutkan tugasmu. Eomma keluar dulu.” Lena mengelus kepala Kris sebelum wanita itu keluar dari kamar sang putra. Sepeninggal Lena, Kris jadi termenung. Ia ingat bahwa kemarin Boyoung bertemu dengan seorang namja di kampusnya, dan gadis itu terlihat tidak baik-baik saja saat itu. Boyoung terkesan takut dan tidak nyaman saat bertemu pria itu, sedangkan pria itu terlihat begitu menikmati ekspresi takut dan tidak nyaman yang ditampilkan Boyoung. Dan sekarang yang menjadi tanda tanya dibenak Kris adalah… Siapa namja itu?

830941f74c3468d6894522e5aa482723

*****

 

Air mata kembali mengalir untuk yang kesekian kalinya dipipi Boyoung. Dengan cepat gadis itu menghapus air matanya. Hatinya resah. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, membuatnya merasa begitu sesak tak bisa bernapas. Boyoung meringkuk bagaikan janin didalam selimutnya.

“Nara, mianhe…” Ucap gadis itu berulang-ulang bagai kaset rusak. “Aku menyesal… aku menyesal telah meninggalkanmu…”

Lena yang secara tiba-tiba masuk kedalam kamar Boyoung sontak saja menjadi panic melihat kondisi anak angkatnya itu. “Kau kenapa sayang?” Tanya Lena lembut. Wanita itu berbaring disebelah Boyoung dan memeluk tubuh mungil Boyoung dengan penuh kasih sayang. Tangis Boyoung meledak. Ia membalikkan tubuhnya dan memeluk Lena erat. “Aku menyesal… aku menyesal eomma…”

Lena mengernyit bingung, sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Boyoung. “Kau menyesal kenapa? Apa yang telah kau perbuat sayang?” Lena bertanya dengan lembut sembari mengelus kepala Boyoung. Masih dengan sesegukan, Boyoung mendongakkan kepalanya guna untuk menatap Lena. Dengan suara yang begitu lirih dan wajah yang dibasahi oleh air mata, Boyoung berkata. “Aku… aku telah membunuh temanku…”

 

 

*****

 

 

Bora menguap. Kepalanya menoleh kearah jendela. “Sudah malam.” Gumamnya begitu melihat langit yang sudah gelap. Gadis itu melakukan sedikit gerakan perenggangan. Tubuhnya begitu lelah setelah seharian menjadi pembantu Kai. Namja itu benar-benar keterlaluan. Setelah menyuruh Bora membersihkan kamarnya yang kacau balau bagai kapal Titanic yang karam, ia kembali merepotkan gadis itu dengan timbunan tugas sekolah miliknya yang selama ini tak pernah tersentuh. Tak cukup dengan itu, Kai juga menyuruh Bora untuk menyiapkan makanan, mengambil ini itu, dan bahkan menyuapinya makan. Kesabaran Bora benar-benar telah diuji.

Hingga detik ini Bora masih berada di kamar Kai. Gadis itu sedari tadi sibuk mengerjakan tugas sekolah Kai yang begitu banyak. Beruntung sekarang tugas-tugas itu sudah selesai. Bora mendesah pelan. Hari libur berharganya benar-benar hancur berantakan. Setelah merapikan buku-buku Kai, dan menyimpannya dengan rapi dimeja belajar, Bora menoleh kearah ranjang.

“Cih, aku capek mengerjakan tugas sekolahnya, dan dia malah asyik-asyikan tidur! Menyebalkan!” Gerutu Bora sembari menatap Kai yang tengah tertidur pulas diranjangnya. Bora mengambil tas tangannya, sudah waktunya ia pulang dan beristirahat.

Dengan perlahan Bora membuka dan kemudian menutup pintu kamar Kai. Begitu keluar dari kamar Kai, gadis itu langsung bernapas lega. Selesai sudah jam kerjanya menjadi pembantu dadakan Kai. Bora berbalik menuju kearah tangga. Namun gadis itu terdiam begitu melihat seorang pria tampan yang tengah berdiri 3 langkah dihadapannya. Pria itu tampak seumuran dengannya atau mungkin lebih tua setahun atau dua tahun. Tatapan mata pria itu tampak menyelidik kearah Bora, membuat gadis itu merasa tidak enak.

‘Ah, dia pasti berpikiran yang aneh-aneh karena melihatku keluar dari kamar Kai.’ Keluh Bora dalam hati. Dengan canggung Bora membungkukkan badannya, yang kemudian dibalas oleh namja itu. Bora berjalan dengan perlahan, begitu melewati sang pria tersebut, Bora merasa tangannya ditahan.

“Apa kau teman Kai?” Tanya pria itu sembari menatap Bora.

Bora mengangguk kaku. “Ne.”

“Kalian dari tadi didalam kamar?” Tanya pria itu dengan hati-hati.

Lagi-lagi Bora mengangguk kaku. “Ne. Keunde, kami tidak melakukan hal yang aneh. Kami tadi belajar bersama. Aku membantu Kai mengerjakan tugas sekolahnya.” Bora buru-buru menjelaskan sebelum pria yang dihadapannya ini semakin salah sangka. Pria itu tersenyum ramah. “Mian, aku tidak bermaksud untuk curiga pada kalian. Hanya saja ini pertama kalinya Kai membawa teman wanitanya ke rumah ini. Dan apa katamu tadi? Mengerjakan tugas sekolah?” Pria itu mengernyitkan dahinya. “Wah, ini merupakan hal yang langka.” Ucapnya lagi.

Bora tersenyum kecil. Dalam hati ia mendengus. ‘Bukannya langka, keunde memang takkan terjadi. Seorang namja seperti Kim Jongin mana mau repot-repot mengerjakan tugas sekolahnya meski besok kiamat.’

“Ah, aku Suho, saudara laki-laki Kai.”

“Aku Nam Bora.” Bora menjabat tangan Suho. Tanpa sengaja ia melihat sekilas kearah jam tangannya. Gadis itu jadi teringat akan tujuan awalnya, yaitu pulang ke rumah. “Aku harus pulang sekarang. Selamat malam.”

“Selamat malam. Hati-hati dijalan.”

Sembari menuruni tangga, Bora jadi kembali mengingat akan pertemuannya dengan Suho beberapa saat yang lalu. Gadis itu merasa tidak percaya bahwa pria tampan dan sopan yang ditemuinya tadi adalah saudara laki-laki Kai. Wajar saja ia kaget jika mengingat betapa berbedanya sifat kedua namja itu. Yang satu bersifat barbar, sedangkan yang satunya begitu sopan layaknya pangeran berkuda putih.

“Benar-benar aneh.” Bora menggeleng-geleng tak habis pikir.

 

 

*****

 

 

_PARAN HIGH SCHOOL_

Kedua tangan Boyoung penuh dengan tumpukan buku-buku miliknya dan juga teman-teman sekelasnya. Salahkan niat baik Boyoung yang awalnya ingin membantu Seohyun, salah seorang teman sekelasnya, yang kemudian malah jadi dimanfaatkan oleh teman-temannya yang lain. Padahal niat awal Boyoung adalah ingin membantu Seohyun yang kebetulan sedang piket untuk mengembalikan buku-buku paket itu ke perpustakaan. Namun dengan santainya Seohyun malah menyerahkan sepenuhnya tugas itu pada Boyoung.

“Kau saja yang membawa buku-buku ini. Aku harus ke ruang klub music sekarang juga. Terima kasih ya.”

Dan Boyoung hanya bisa melongo melihat Seohyun yang berjalan riang menghampiri Naeun dan Sulli. Alasan itulah yang membuat Boyoung akhirnya terpaksa membawa buku-buku itu sendiri. Tidak ada satupun yang menawarkan bantuan. Boyoung memang tidak memiliki teman akrab di sekolah barunya itu, meskipun ia sudah dua bulan bersekolah disana.

“Haha, liat saja wajah culunnya itu. Aku tidak kuat membayangkannya. Aku rasa ia akan mati ketakutan jika saja security babo itu tidak muncul.”

“Uri Kai memang benar-benar daebak!”

“AWAS KAI!”

BRUK!

Tubuh mungil Boyoung terhempas begitu saja membentur ubin yang keras dan dingin. Gadis itu merintih kesakitan. Posisi jatuhnya yang cukpu keras itu membuat pergelangan tangannya sakit. Sepertinya itu terjadi karena ia menahan beban tubuhnya.

Kai, pria yang tadi bertabrakan dengan Boyoung, menatap gadis itu dengan datar. Pandangannya beralih kearah buku-buku paket yang berserakan disamping Boyoung. Boyoung mendongak, dan seketika nyalinya menciut saat mendapati Kai berserta teman-temannya tengah menatap dirinya. Boyoung tahu bagaimana reputasi Kai disekolah. Mencari masalah dengan Kai sama dengan mencari mati. Gadis itu menunduk. “Mianhe…” Ucapnya begitu pelan, nyaris seperti bisikan.

“Ceroboh.” Ucap Kai dengan nada sedingin es. Sehun memunguti buku-buku yang berserakan dilantai. “Seharusnya kau tidak membawa buku-buku ini sendirian. Ini terlalu berat.” Ujar Sehun. Boyoung hanya diam sembari menerima buku-buku yang disodorkan oleh Sehun. “Terima kasih… emm Sehun-ssi” Boyoung membaca nametag didada Sehun.

Dengan terburu-buru Boyoung beranjak pergi, namun tak lama gadis itu kembali menghadap Kai. “Sekali lagi aku minta maaf.” Gadis itu membungkuk sopan sebelum kemudian ia benar-benar pergi dengan terburu-buru. Kai tidak terlalu mengambil pusing. Yah, setidaknya ia tidak disiram dengan air pel atau dengan secangkir kopi.

“Mungil sekali gadis itu. Kalian yakin dia tidak salah tempat?” Gurau Baekhyun sembari tertawa keras, seakan perkataannya tadi begitu lucu. Sedangkan Kai, Sehun dan Taemin hanya diam tak merespon. “Kau pikir kau cukup tinggi untuk ukuran anak SMA?” Suara Kai terdengar begitu datar dan dingin. Baekhyun terdiam, sedangkan Sehun dan Taemin sudah cengar cengir akibat perkataan Kai yang begitu menohok Baekhyun.

 

 

*****

 

 

Kris meronggoh saku jaketnya begitu merasa sakunya bergetar. Ternyata sang ibu yang menelponnya.

“Halo?”

“Kris, neo eodiya? Kau tidak lupa kan bahwa kita harus ke rumah bibi Jung?”

“Aniya, aku tidak lupa. Aku baru selesai kelas dan akan langsung ke rumah bibi Jung.”

“Arasso. Kalau begitu kau sekalian jemput Boyoung ya. Supir Byun harus mengantar ibu ke toko kue dulu.”

“Ne, arasso. Aku akan menjemput Boyoung sekarang.”

Kris kembali menyimpan ponselnya disaku jaket hitamnya, dan kemudian ia berjalan menuju parkiran mobilnya. Kris tidak sadar bahwa sedari tadi ia tengah dimata-matai oleh seseorang. Orang itu mengikuti laju mobil Kris, sebab ia yakin bahwa Kris akan membawanya menuju orang yang selama ini dicarinya.

Mobil Kris berhenti didepan gerbang Paran High School. Senyuman sinis tersungging dibibir pria itu begitu ia melihat sesosok gadis bertubuh mungil yang sedang berlari-lari kecil menghampiri mobil Kris.

“Got you, Park Boyoung!”

 

 

*****

 

 

“Noona, kemarin aku melihat seorang namja menjemputmu. Sayang aku tidak dapat melihat wajahnya. Siapa namja itu? Neo namjachingu?” Tanya Jino dengan pandangan yang begitu menyelidik. Bora langsung membantah. “Pacar apanya. Dia itu namja yang paling menyebalkan yang pernah kutemui selama aku hidup.” Ujar Bora dengan berapi-api. Jino tersenyum mengejek. “Kalau sebal kenapa kau mau pergi dengannya? Sudahlah, mengaku saja jika ia memang namjachingumu. Aku takkan bilang apa-apa pada eomma ataupun appa.”

Bora mengacak rambut Jino. “Dasar tuan sok tahu! Sudah, jangan sok menjadi detektif lagi! Urusi saja urusanmu sendiri, ara!” Bora mencubit gemas pipi Jino, membuat sang adik mengerang sebal karena diperlakukan seperti bocah berusia 5 tahun.

“Oh iya, kudengar dari eomma sekarang kau ikut klub dance ya? Sejak kapan kau menggemari dunia tari, eo?”

Jino tersenyum sumringah. “Semenjak aku melihat seorang namja yang menari dengan begitu indah dan energik. Sejak saat itu aku jadi tertarik untuk menari. Namja itu benar-benar telah memberikanku inspirasi. Noona harus melihat tariannya. Kau pasti juga akan terhipnotis.” Ujar Jino yakin.

“Apa dia anggota tari ditempatmu?” Tanya Bora. Jino mengangguk. “Iya. Klub dance itu milik temannya, dan Kai sunbae memang sering latihan disana. Ia juga terkadang mengajari kami.”

Bora tersentak saat mendengar nama Kai disebut oleh adiknya. “Chakkaman! Kau tadi menyebut Kai? Kau mengenal Kai?” Tanya gadis itu kaget. Jino mengangguk polos. “Ne. Dia adalah orang yang tadi kumaksud. Aku tidak tahu nama aslinya, keunde semua orang di klub memanggilnya Kai. Dia keren sekali!”

Bora mendengus kala mendengar betapa sang dongsaeng begitu memuja Kai. Jino tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh sang idola pada kakak perempuannya itu. Jino menoleh kearah Bora. “Wae? Noona juga mengenalnya? Yak, jangan-jangan noona adalah fans Kai sunbae.”

“Sembarangan kau! Aku memang mengenalnya, keunde aku bukan fansnya. Sampai matipun aku takkan sudi menjadi fans dari namja gila itu.”

“Mwo? Gila?” Jino mengernyit bingung.

Bora merangkul bahu sang adik. “Dwaeseo! Ayo cepat, sepertinya sebentar lagi akan hujan!”

 

*****

 

 

Kai menghirup serbuk putih yang menyerupai tepung. Namja itu terbatuk-batuk kecil saat serbuk-serbuk itu mulai memasuki indera penciumannya. Tubuh Kai terasa melayang dan ringan. Beban yang ada ditubuhnya seakan hilang tak berbekas. Tak ada kesedihan, tak ada kehampaan yang melanda dirinya. Yang ada hanyalah kebahagiaan dan kepuasan.

tumblr_inline_msv6gbRIuN1qz4rgp

Sehun yang baru masuk kedalam ruangan itu hanya dapat menatap prihatin kearah sahabatnya itu. Dulu Sehun juga sempat memakai narkoba. Namun ia berhenti memakai benda haram itu sebelum menjadi pecandu berat. Sehun bahkan sempat masuk ke pusat rehabilitasi narkoba. Dan sekarang, meskipun ia masih senang dengan dunia malam dan sering terlibat perkelahian, tapi Sehun sangat anti dengan narkoba. Ia selalu ingat perkataan ibunya untuk menjauhi benda laknat itu. Sehun sudah mencoba untuk membuat Kai berhenti, namun sampai sekarang usahanya tidak membuahkan hasil. Semua nasihatnya hanya dianggap angin lalu oleh Kai.

Kai melirik sekilas kearah Sehun. Kai tidak berharap akan bertemu dengan Sehun disaat seperti ini. Ia tidak ingin mendengar petuah dan nasihat dari Sehun. Membuang-buang waktu.

“Tenang saja, aku takkan berkomentar.” Ucap Sehun dingin. “Kupikir kau tidak akan kemari untuk sementara waktu.”

“Hanya karena aku sedang tidak bisa menari, bukan berarti aku tidak bisa datang kesini, bukan? Lagipula aku hanya ingin melihat mereka latihan menari.” Ucap Kai. Sehun mengangguk paham. Mata Kai teralih ke jemari tangan Sehun yang dibaluti dengan perban berwarna pink. Warna yang terlalu feminine untuk namja model Oh Sehun. Sehun menoleh kearah jemarinya yang tengah diperhatikan Kai.

“Haneul yang memakaikannya. Ia begitu panic saat melihat tanganku berlumuran darah.” Sehun tersenyum kecil mengingat ekspresi panic adik perempuannya itu. Kai terdiam. Terkadang ia iri setengah mati dengan sobatnya ini. Meskipun Sehun tidak tinggal bersama dengan ibunya, karena kedua orangtuanya telah bercerai, namun Sehun tidak pernah kekurangan kasih sayang seorang ibu. Dan lagi, Sehun mempunyai seorang adik perempuan yang selalu bersedia mengobati luka-lukanya. Adiknya bahkan tak pernah melaporkan kenakalan Sehun pada sang ayah yang notabennya berwatak keras dan selalu sibuk bekerja. Intinya Sehun mempunyai orang-orang yang menyayangi dan selalu bersedia untuk melindunginya. Sedangkan Kai? Ia selalu sendiri. Semenjak ibunya meninggal, ia sudah tidak mengenal yang namanya kasih sayang.

“Seperti apa rasanya memiliki seorang adik?”  Tanya Kai tiba-tiba. Mata pria itu menatap kosong kearah lantai yang dipijaknya. Sehun terdiam. Ini pertama kalinya Kai menanyakan hal itu padanya.

“Hmm, cukup menyenangkan. Haneul bukan tipe adik perempuan yang cerewet dan manja. Itu merupakan sebuah keuntungan.” Jawab Sehun. “Wae?” Tanyanya kemudian. Kai menyandarkan punggungnya kesofa. “Aniya. Hanya… ingin tahu.”

 

 

*****

 

 

Paran High School sudah sepi. Wajar saja, mengingat bahwa bel pulang sudah berbunyi setengah jam yang lalu. Boyoung yang kebetulan piket, lagi-lagi harus rela kebaikannya disalah gunakan oleh teman-temannya yang memiliki jadwal piket yang sama dengannya. Dengan beraneka ragam alasan,  teman-teman Boyoung yang seharusnya ikut piket membantunya, malah pergi dengan meninggalkan setumpuk pekerjaan pada Boyoung. Walhasil, Boyoung membersihkan ruang kelas seorang diri. Menyapu, mengangkat bangku, dan membersihkan papan tulis hingga mengelap jendela.

Meskipun Paran High School merupakan sekolah elit dengan taraf internasional, namun mereka tetap mewajibkan murid-muridnya untuk melakukan tugas piket, dengan tujuan agar para murid belajar untuk bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan lingkungan kelas masing-masing.

“Akhirnya selesai!” Pekik Boyoung girang.

Gadis itu menyambar tas sekolahnya dan bergegas pulang ke rumah. Hari ini ia harus pulang sendiri karena supir Byun tengah mengantar ibu dan ayah angkatnya ke bandara. Ibu dan Ayah angkatnya akan pergi ke Kanada demi urusan bisnis. Dan Kris juga tidak bisa menjemput karena namja itu ada seminar di kampusnya.

Boyoung berjalan menyusuri jalan menuju gerbang sekolahnya. Namun tiba-tiba langkah gadis itu terhenti. Tubuhnya menegang begitu melihat seseorang yang tengah berdiri tegak dihadapannya. Pria itu menatap Boyoung datar.

Bo Young

“Min Woo oppa…” Gumam Boyoung lirih.

Min Woo tersenyum sinis. “Senang bisa bertemu denganmu lagi. Sepertinya aku memang sudah ditakdirkan untuk membalas kematian adikku…” Nada bicara Min Woo begitu dingin, membuat Boyoung bergidik ngeri. Tidak ada lagi Min Woo yang ramah dan murah senyum. Yang ada hanyalah Min Woo yang penuh dendam dan kemarahan. Min Woo yang mati-matian ingin balas dendam atas kematian adik yang begitu ia sayangi.

 

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

7 tanggapan untuk “Crashed (Part 4)

  1. langsng ketawa di bagian : “Kau pikir kau cukup tinggi untuk ukuran anak SMA?” Suara Kai terdengar begitu datar dan dingin. Baekhyun terdiam, ggapsong 😛

    Ini lebih bagus, gak terlalu membosankan hihiiii d tunggu dech lanjutannya… semangat 😀

  2. wahh udah ada lanjutannya … 😀

    kirain si nara pacarnya minwoo , adiknya toh
    boyoung mau diapain tuhh .? kris please save her >,<

    si Kai jdi pecandu narkoba 😦
    itu si kai pengen punya adik keknya …..

    updatenya jgn lama" yaa authornim
    I love ur story ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s