Diposkan pada Oneshot

Gray

gray

 

Author :  Cho Haneul
Title      : Gray
Type     : Oneshot
Genre   :  Drama, Romance, School Life

Cast :
– Kim Jiwon
– Lee Donghae
– Kang Seulgi
– Jung Soojung
– Byun Baekhyun
– Shim ChangMin

______________________________________________

 

Dengan tangan yang bergetar Jiwon menyentuh pagar besi pembatas jembatan. Air mata sudah mengenangi pelupuk matanya, dan sedetik kemudian tetes demi tetes air mata jatuh membasahi pipinya. Tangan Jiwon mencengkram pagar besi itu dengan sekuat tenaga sembari memantapkan hatinya akan keputusan yang sedang diambilnya. Mata gadis itu terpejam dan sekelebat bayangan silih berganti muncul dipikiran Jiwon. Bayangan ketika dirinya menjadi bulan-bulanan di sekolah, disiksa, dicemooh dan bahkan nyaris dilecehkan secara seksual oleh beberapa murid lelaki di sekolahnya.

479107053_640

Sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menuntut ilmu telah berubah menjadi tempat menyeramkan dan penuh dengan kekerasan. Sekolah telah menjadi satu-satunya tempat yang paling ditakuti dan dihindari oleh gadis berkuncir dua itu.

Jiwon merasa bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan segala penderitaannya adalah dengan menghilang dari muka bumi ini. Dan saat ini, hanya kematianlah yang terlintas dibenak gadis itu. Kematian adalah satu-satunya cara untuk melepaskannya dari segala permasalahan hidup yang begitu membelenggunya.

Jiwon naik keatas pagar pembatas. Kaki kanan, lalu diikuti oleh kaki kiri gadis itu. Jiwon memandang lurus kearah air yang mengalir di sungai dibawah jembatan. Matanya menatap nanar. Gadis itu menarik napas perlahan dan menghembuskannya. Yah, dia siap untuk ini.

Kaki kiri Jiwon sudah keluar dari pagar pembatas, namun tiba-tiba sebuah tarikan dari belakang membuat Jiwon jatuh terjengkang kebelakang. Gadis itu begitu kaget. Ia menoleh kebelakang, ingin melihat siapa orang yang baru saja menggagalkan rencananya itu.

“Kau baik-baik saja?” Tanya pria yang tadi menyelamatkannya. Pria berambut coklat gelap itu memiliki wajah yang cenderung kalem dan lembut, meskipun gaya berpakaiannya agak berantakan. Ia juga memakai seragam sekolah yang sama dengan Jiwon.

Jiwon menatap namja itu tajam. “Kau… kau sudah merusak rencanaku!” Histeris gadis itu. Pria itu mengernyitkan dahinya. “Bukan itu yang seharusnya kau katakan pada orang yang baru saja menyelamatkanmu.” Ucapnya.

“Kau bukan menyelamatkanku! Kau justru baru saja merusak rencanaku!”

“Kau pikir mati akan menyelesaikan semua masalahmu? Kau pikir mati adalah jalan keluar dari masalahmu?! Aku tidak tahu apa masalahmu, keunde mati bukanlah jalan keluar.” Pria itu berkata dengan nada tegas seraya menatap Jiwon dalam. Jiwon terdiam mendengar perkataan pria itu. Gadis itu menangis terisak. “Kau tidak tahu apa-apa.” Isaknya. “Mereka membenciku… semua orang membenciku… aku tidak diinginkan. Aku benci dengan hidupku…”

Pria itu tertegun mendengar ucapan Jiwon. Apalagi saat ia melihat mata Jiwon yang sarat akan rasa sedih, menderita, marah dan juga kecewa. Semuanya berkumpul menjadi satu. Tanpa berkata apa-apa lagi, Jiwon berlari pergi meninggalkan namja penyelamatnya itu yang masih termenung menatap kepergian gadis itu.

 

 

*****

 

 

Jiwon melangkah masuk kedalam rumahnya yang sederhana. Sepi. Ia tidak heran dengan keadaan itu. Ini baru jam 7 malam. Ibunya biasa pulang diatas jam 10, atau malah ibunya akan pulang keesokan harinya. Jiwon berjalan menuju kamar, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sebuah pigura foto yang diletakkan tertelungkup diatas meja. Dengan gusar gadis itu mengambil pigura tersebut dan meletakkannya kembali diposisi semula, yaitu berdiri tegak diatas meja.

Pigura itu berisi foto dirinya, ibu dan ayahnya. Air mata Jiwon kembali menetes saat ia mengamati foto itu. Betapa ia terlihat bahagia didalam foto yang diambil 2 tahun lalu itu. Keadaan keluarganya yang dulu dan sekarang amat sangat berbeda. Saat ini ayahnya berada dibalik jeruji besi karena kasus penggelapan uang perusahaan. Dan ibunya, semenjak ayahnya mendekam di penjara dan semua harta berharga mereka disita oleh perusahaan dan polisi, ibunya menjadi frustasi. Keluar malam dan mabuk-mabukan menjadi rutinitas baru ibunya. Ibunya tidak bisa menerima keadaan hidup mereka yang dalam seketika berubah 180 derajat. Maklum, sang ibu sudah terbiasa hidup dalam gelimangan harta.

Dalam hati Jiwon merutuk pria yang tadi dengan sikap sok pahlawannya telah menghancurkan rencananya. “Seharusnya aku sudah tenang sekarang…”

 

*****

 

 

Pria itu tidak dapat melupakan tatapan mata penuh luka yang diperlihatkan oleh gadis yang tadi sore ditolongnya. Melihat dari seragam gadis itu, menandakan bahwa mereka berasal dari sekolah yang sama. Namun ia merasa tidak pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya. Tiba-tiba ponsel namja itu berdering. Tanpa melihat ID caller, pria itu langsung menjawab telepon.

“Donghae-ya? Kau ada dimana? Gang Eagle menyerang tempat perkumpulan kita. Kau harus kesini!” Ujar si penelpon. Pria yang bernama Donghae itu pun langsung bergegas menyambar jaket kulit coklat miliknya dan langsung menaiki motornya.

Begitu sampai ditempat yang dituju, Donghae langsung melompat turun dari motornya dan ikut masuk kedalam perkelahian sengit yang tengah berlangsung disana. Saling pukul memukul tanpa ada alasan yang kuat, dan hanya mengatas namakan rasa setia kawan dan persahabatan, selalu terjadi diantara gang. Hanya karena satu orang yang bermasalah, kemudian yang lain akan merasa bahwa mereka harus membela teman mereka. Mereka tidak memikirkan dampak dari perbuatan mereka dan juga perasaan kedua orangtua mereka yang menanti di rumah. Jiwa muda yang selalu menggebu-gebu membuat mereka gegabah dalam mengambil tindakan.

Donghae menghajar dengan membabi buta. Diantara teman-temannya yang lain, Donghae dan Jongin yang paling mahir dalam ilmu beladiri, dan yang emosinya paling menggebu-gebu. Kedua gang itu baru berhenti ketika sirine mobil polisi terdengar. Kalang kabut mereka berusaha melarikan diri. Jongin menarik tangan Donghae yang masih asyik memukuli salah seorang musuh mereka. “Geumanhe hyung! Ayo kita pergi!” Ujar Jongin.

Dengan terpaksa Donghae melepaskan musuhnya itu. Ia melompat naik keatas motornya, diikuti oleh Jongin. Dan secepat kilat motor Donghae melesat pergi meninggalkan TKP. Sekali lagi Donghae berhasil kabur dari kejaran polisi.

*****

 

 

Pagi hari Jiwon sudah bangun. Berbeda dengan biasanya, kali ini gadis itu tetap berbaring diatas tempat tidurnya meskipun ia sudah bangun sekitar 2 jam yang lalu. Alasannya simple, Jiwon malas menjalani hidupnya. Ia tidak ingin pergi ke sekolah dimana murid-murid disana menjadikannya korban bully. Namun disatu sisi ia juga tak ingin tinggal di rumah karena akan bertatap muka dengan ibunya.

Krek!

Pintu kamar Jiwon dibuka. Kim Soyeon, ibunda gadis itu, tengah berdiri didepan pintu. “Kau tidak sekolah?” Tanya ibunya. Jiwon hanya diam, menatap kosong keatas langit-langit kamar. Soyeon mendesah, sudah terbiasa dengan sikap dingin Jiwon. “Uang sekolahmu tidak jatuh begitu saja dari langit. Ibu bersusah payah mencari uang agar kau tetap dapat melanjutkan sekolahmu di Jeguk. Hargailah kerja keras ibu.”

“Yah, kerja keras merebut suami orang.” Ujar Jiwon sinis.

“KIM JIWON!!!” Soyeon berseru marah, sedangkan Jiwon hanya diam membisu. Gadis itu bangkit dari posisi tidurnya. “Aku tidak minta ibu untuk tetap menyekolahkanku disana. Dan asal ibu tahu, kelakuan murahan ibu telah menjadi petaka bagiku di sekolah!”

PLAK!

Pipi Jiwon terasa panas. Soyeon menatap nanar kearah putri satu-satunya itu, dan kemudian beralih kearah tangan kanannya yang juga terasa sakit. Soyeon pergi dari kamar Jiwon tanpa mengucapkan apa-apa.

“Pergi begitu saja setelah menamparku. Bagus sekali.” Gumam Jiwon lirih.

Akhirnya dengan terpaksa Jiwon memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Masa bodoh dengan teman-temannya yang akan membully-nya nanti. Mulai detik ini ia tidak akan mempedulikan siapapun, termasuk dirinya sendiri. Terserah apa yang akan dilakukan oleh teman-temannya nanti.

 

 

*****

 

 

_JEGUK HIGH SCHOOL_

Sorot mata mengejek dilayangkan teman-teman sekelasnya begitu Jiwon melangkah masuk kedalam kelas. Tapi Jiwon sudah tidak peduli. Bukankah ia sudah memantapkan hatinya untuk menutup mata dan telinga atas perlakuan tak bersahabat teman-temannya?

“Tak cukup memalukan mempunyai ayah seorang koruptor, sekarang harus menerima kenyataan bahwa ibunya adalah wanita perusak rumah tangga orang. Bagaimana mungkin ada yang bisa hidup dengan kenyataan memalukan seperti itu? Jika orangtuanya saja seperti itu, maka aku tak heran jika suatu saat anaknya akan melakukan hal yang sama.” Suara Seulgi terdengar lantang. Ia tersenyum mengejek, merasa puas karena sudah mengeluarkan kata-kata keji untuk orang yang dibencinya. Soojung, gadis yang duduk disebelah Seulgi, hanya diam membisu. Ia menatap lurus kearah Jiwon yang duduk dua bangku didepannya.

8

Jiwon sempat melihat ekspresi Soojung. Datar. Beda sekali dengan Seulgi yang selalu berapi-api saat menghinanya. Soojung justru hanya diam dan menampakkan ekspresi datar khasnya. Sebenarnya Jiwon merasa amat bersalah dan malu pada Soojung. Soojung adalah sahabatnya dulu. Mereka mulai bersahabat saat tahun pertama mereka di Jeguk. Namun persahabatan yang sudah terjalin hampir 3 tahun itu hancur berantakan saat Soojung dan Jiwon tahu bahwa ayah dan ibu mereka menjalin hubungan secara diam-diam. Yah, ibu Jiwon adalah orang ketiga dalam rumah tangga ayah dan ibu Soojung. Soojung tentu saja murka dengan kenyataan itu.

Jiwon tidak marah pada Soojung. Ia mengerti jika gadis itu membencinya sampai mati. Ia memang sudah tidak pantas menjadi teman Soojung lagi. Kesalahan ibunya sudah terlalu besar. Jiwon saja sangat murka saat mengetahui hal itu. Hal itu pula yang menjadi pemicu rusaknya hubungan ibu dan anak itu. Jiwon malu dengan kelakuan ibunya. Ia benci dengan ibunya yang tega menghianati ayahnya, dan ia benci pada ibunya yang telah tega merusak kehidupan temannya.

Seulgi masih berkoar-koar dengan segala macam umpatan pedasnya. Terkadang Jiwon tidak mengerti. Yang ada masalah dengannya itu adalah Soojung. Lalu kenapa Seulgi dan teman-teman lainnya ikut membenci dirinya dan memperlakukan dirinya layaknya seonggok sampah?

“Kaya sih boleh saja, tapi jangan mencuri uang perusahaan juga dong!” Sindir Seulgi, yang kemudian diikuti dengan tawa mengejek oleh teman-teman di kelasnya. Jiwon lebih memilih untuk mendengarkan lagu dengan headset-nya sembari membaca buku pelajarannya.

120330cinehighkick06_d2097

 

 

*****

 

 

Donghae sedang makan sendirian di kantin. Ia memang tidak memiliki teman dekat di Jeguk High School. Semua orang menghindarinya. Mungkin takut dengan predikat troublemaker yang disandangnya. Keluar masuk ruang hukuman dan selalu mendapatkan nilai terendah di sekolahnya, bukanlah hal yang patut untuk dibanggakan. Lagipula Donghae tipe namja pendiam. Ia hanya akan bereaksi jika ada yang mengganggu ketenangannya.

Alasan Donghae masih berada di Jeguk pun sangat klise, yaitu karena orangtuanya cukup berpengaruh disana. Orangtuanya sering memberikan suntikan dana untuk sekolah. Bahkan sekarang sedang dibangun sebuah lapangan basket indoor yang merupakan bantuan dari orangtua Donghae.

Dan lagi, mendiang kakak laki-laki Donghae, Lee Dongwook, merupakan alumni yang sangat dihormati di sekolah itu karena prestasinya yang telah mengharumkan nama sekolah. Dan itu juga yang selalu membebani Donghae. Ia acap kali dibanding-bandingkan dengan mendiang kakaknya itu.

“Yak apa kau juga buta sekarang?! Kau tidak lihat bajuku jadi kotor?!”

Perhatian seluruh orang di kantin tertuju pada asal suara tersebut, tak terkecuali Donghae. Tepat di meja sebelahnya, 3 orang siswi tengah memaki seseorang. Donghae tidak bisa melihat dengan jelas siswi yang tengah menjadi bulan-bulanan itu karena terhalang oleh ketiga yeoja itu.

640448457

“Maaf.” Suara datar itu terdengar. Donghae merasa seperti pernah mendengar suara itu.

“Hanya maaf? Dasar yeoja babo!”

BRAK!

Kali ini semua mata tertuju pada Donghae. Pria itu baru saja membanting sendok dan garpunya keatas meja sehingga menimbulkan suara yang cukup gaduh. Ketiga gadis itu menatap agak takut kearah Donghae. Siapa murid Jeguk High School yang tak tahu catatan kelam pria berwajah lembut itu?

“Bisakah kalian diam? Aku mencoba untuk makan dengan tenang disini.” Ujar Donghae dengan nada sedingin es. Matanya menatap tajam kearah ketiga gadis itu. Tanpa berkata apa-apa, ketiga siswi itu bergegas pergi. Mereka tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan troublemaker sekelas Donghae. Donghae agak kaget saat mengetahui bahwa gadis yang tadi dicaci maki oleh ketiga siswi itu adalah gadis yang ditolongnya kemarin.

Jiwon pun tak kalah kaget dengan Donghae. Ia baru ingat jika mereka berasal dari sekolah yang sama, namun Jiwon tak menyangka bahwa secepat ini mereka akan kembali bertemu. Perasaan malu dan kesal bercampur dalam hati Jiwon. Gadis itu menatap datar kearah Donghae yang juga dibalas dengan tatapan datar oleh pria itu. Pada akhirnya Jiwon memilih pergi meninggalkan kantin. Hilang sudah selera makannya. Donghae hanya menatap kepergian gadis itu dalam diam.

 

 

*****

 

 

Hari ini tugas Jiwon untuk membersihkan kelas. Gadis itu menunggu sampai kelas kosong, baru kemudian ia akan membersihkan kelasnya. Saat Jiwon sedang mengatur bangku-bangku dan meja-meja yang berantakan, Byun Baekhyun, salah seorang teman sekelas Jiwon masuk kedalam kelas. Pria yang juga dikenal sebagai salah seorang pembully di Jeguk High School ini menatap Jiwon dari bawah hingga atas, membuat gadis itu merasa risih.

“Hari ini tugasmu piket kan?” Tanyanya.

“Ne.”

large

Baekhyun tersenyum sok manis. “Kalau begitu kau harus membantuku menukar meja dan bangku ini.” Baekhyun menunjuk bangku dan meja miliknya. “Si babo Oh Sehun merusak bangku ku dan mencoret mejaku. Aku bisa dapat masalah jika guru Kang melihat ini.”

Jiwon membawa kursi Baekhyun, sedangkan namja itu membawa mejanya. Mereka berdua berjalan menuju tempat penyimpanan bangku dan kursi yang berada di ruang paling pojok di lantai satu, dekat dengan tangga menuju atap. Suasana sekolah sudah sepi. Bahkan sudah tak tampak satu murid pun di koridor itu.

Jiwon meletakkan bangku lama Baekhyun ditumpukkan bangku yang lain, lalu mengambil bangku lain yang masih bagus untuk dibawa ke kelas. Bunyi pintu yang ditutup membuat Jiwon menoleh. Didapatinya Baekhyun yang tengah tersenyum menggoda kearahnya. Jiwon tahu bahwa ia sedang berada dalam bahaya. Alih-alih berteriak, gadis itu hanya diam sembari menatap Baekhyun datar.

“Wae? Mau berteriak?” tantang Baekhyun. Jiwon mendengus seraya beranjak pergi. Baekhyun langsung menarik tangan Jiwon begitu gadis itu melewati dirinya. “Lepas!” Ujar Jiwon tajam. Baekhyun menyeringai. Genggamannya semakin mengerat. Dengan kasar ia menarik tubuh Jiwon hingga gadis itu jatuh kepelukannya, lalu diciumnya Jiwon dengan penuh nafsu. Bibirnya melumat bibir Jiwon dengan kasar dan penuh nafsu. Jiwon meronta-ronta. Beberapa pukulan dilayangkan gadis itu kedada dan wajah Baekhyun, namun itu tak menyurutkan aksi bejat namja itu.

“Lepas brengsek!” Teriak Jiwon marah.

PLAK

Satu tamparan mendarat dipipi Jiwon. “Diam kau! Tidak usah sok suci! Aku tahu kau juga menginginkan ini. Anak seorang pelacur sepertimu tak pantas untuk bersikap sok suci.”

Jiwon begitu marah mendengar Baekhyun melecehkan ibunya. Gadis itu menatap nyalang kearah Baekhyun. Baekhyun malah tertawa melihat itu, seakan itu merupakan hal yang lucu. “Wae? Tidak terima aku menyebut ibumu begitu? Apa kau lebih suka jika aku menyebut ibumu sebagai wanita simpanan? Ah, atau wanita penggoda suami orang?” Baekhyun tertawa mengejek.

“BRENGSEK KAU!” Amuk Jiwon.

Baekhyun menarik jas sekolah Jiwon hingga terbuka dan menyisakan kemeja putih berlengan panjang dengan lambang Jeguk High School didada dan lengannya. Satu tangan Baekhyun menahan kedua tangan Jiwon, sedangkan tangan lainnya berusaha membuka kancing baju Jiwon dengan kasar.

BRAK BRAK BRAK!

Tiba-tiba saja pintu gudang digedor dari luar, membuat Baekhyun mau tak mau harus menghentikan aksinya. Pria itu mengumpat kesal karena aktivitasnya diganggu. Sedangkan Jiwon merasa lega karena merasa akan ada yang menolongnya. “Tolong aku!” Teriak gadis itu.

“Diam kau!” Ancam Baekhyun. Namun Jiwon tak peduli. Gadis itu tetap berteriak minta tolong dan gedoran pintu itu semakin mengeras. Baekhyun membuka pintu itu dan mendapati Donghae berdiri disana sembari menatapnya tajam. “Lepaskan gadis itu! Apa kau sebegitu bodohnya sampai ingin melakukan hal bejat itu di sekolah? Kemana otakmu?”

original

“Jangan campuri urusanku. Lebih baik kau pergi selagi masih ada kesempatan.”

Donghae tertawa kecil. “Nyalimu patut kuancungi jempol.”

BUGH!

Kepalan tangan Donghae melayang dengan bebasnya dan kemudian mendarat diwajah Baekhyun. Bau anyir darah yang berasal dari hidung Baekhyun menguar diudara. “Brengsek kau!” Baekhyun berusaha untuk memukul Donghae, namun sayangnya Donghae jauh lebih gesit dalam menghindar. Malah Baekhyun harus kembali merasakan kerasnya kepalan tangan Donghae yang kembali mendarat diwajahnya. Tak lama Baekhyun ambruk dilantai yang dingin. Setelah dirasa bahwa Baekhyun benar-benar sudah tidak berdaya, Donghae menghampiri Jiwon yang masih berdiri mematung ditempat semula. Donghae mengambil jas sekolah gadis itu yang teronggok dilantai, dan kemudian memakaikannya dibahu Jiwon.

“Gwenchana?” Tanya Donghae dengan nada lembut. Nada yang amat jarang dan nyaris tak pernah ia gunakan ketika berbicara. Jiwon hanya diam. Ia masih menatap Donghae dengan mata yang berair. Donghae tahu bahwa gadis ini sedang mati-matian menahan tangisnya. Tangan Donghae terangkat. Dengan agak ragu ia menepuk pelan punggung Jiwon. “Menangislah.”

Satu kata itu membuat pertahanan Jiwon jebol. Dalam hitungan detik gadis itu sudah menangis sesegukan. Suaranya terdengar cukup memilukan. Donghae menatap iba gadis itu, gadis yang sebelumnya sudah pernah ia tolong. Entah mengapa Donghae merasa bahwa Tuhan sengaja mempertemukannya dengan gadis ini agar ia dapat melindungi gadis ini. Gadis yang sampai detik ini tidak ia ketahui namanya ini, terlihat begitu rapuh dan amat memerlukan perlindungan.

Detik itu juga Donghae berikrar pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjaga dan melindungi gadis ini.

 

 

*****

 

 

Donghae mendesah lesu begitu melihat hasil midtest-nya. Hampir dalam semua mata pelajaran ia dinyatakan tidak lulus. Hanya dalam pelajaran Olahraga, Bahasa Jepang dan Komputer saja yang ia dinyatakan lulus. Bahkan untuk pelajaran Sastra Korea nilainya betul-betul memalukan. Salahkan sendiri kata-katanya yang begitu romantis dan puitis sehingga membuat Donghae mual tiap kali membacanya.

That’s not my style!

Itu yang selalu Donghae katakan saat ia dipaksa untuk belajar dan mengerjakan tugas Sastra Korea. Donghae meremas kertas berisi nilai-nilainya. Ia yakin seratus persen bahwa pihak sekolah telah menelpon orangtuanya, entah ayahnya atau ibunya. Jeguk High School memang selalu menaruh perhatian lebih pada anak yang nilai akademisnya rendah. Mereka selalu memantau murid-murid itu. Sangat memuakkan menurut Donghae.

Donghae lebih memilih untuk tidak pulang dan berniat untuk bermalam di rumah Jongin. Namun baru saja rencana itu terlintas dipikirannya, ponsel Donghae berdering. Donghae menghela napas secara berlebihan saat mengetahui bahwa ibunya yang menelpon. Dengan terpaksa ia mengangkat telepon tersebut.

“Pulang sekarang Donghae! Dan jangan coba-coba kabur!” suara datar itu terdengar. Donghae hanya berdeham mengiyakan. “Jawab yang benar!”

“Ne, eomma. Aku akan pulang sekarang.”

Donghae menatap layar ponselnya. Wajahnya terlihat begitu kusut layaknya baju yang belum disetrika. Dengan amat sangat terpaksa ia mengurungkan niatnya untuk kabur ke rumah Jongin dan memilih untuk pulang ke rumahnya. Bukannya takut dengan gertakan ibunya. Hanya saja terkadang ibunya suka berlebihan. Terakhir kali ia kabur, kartu atm-nya di blockir oleh sang ibu. Tak cukup sampai disitu, ibunya juga menyuruh beberapa pria berseragam hitam untuk menyeretnya pulang ke rumah. Sok dramatis!

Saat di parkiran Donghae kembali  bertemu dengan Jiwon. Ia melihat gadis itu yang sedang berjalan sendirian menuju gerbang sekolah. Jiwon berjalan sambil menundukkan kepalanya. Donghae mengamati gadis yang dua hari lalu ditolongnya itu. Tidak ada interaksi yang kembali terjadi sejak mereka berkenalan dan Donghae mengantar Jiwon pulang ke rumahnya. Kelas mereka tidak terlalu dekat, jadi mereka jarang berpapasan. Lagipula sepertinya Jiwon bukan tipe gadis yang suka berkeliaran di gedung sekolah, tidak seperti anak pada umumnya.

BRUK!

Donghae tersentak saat melihat dua orang siswi sengaja menyenggol Jiwon dengan keras hingga gadis itu jatuh. Siswi yang lainnya tertawa melihat hal itu. Tak ada satupun yang berniat untuk menolong Jiwon. Jiwon sendiri hanya diam tak melawan. Gadis itu bangkit dari posisi jatuhnya, membersihkan pakaiannya yang sedikit kotor dan kemudian kembali berjalan seakan tidak terjadi apa-apa. Donghae heran melihat hal tak lazim itu.

“Yak Donghae-ya!” Changmin menepuk bahu Donghae,membuat namja itu tersentak. Donghae menatap Changmin datar, sedangkan namja jangkung itu hanya tersenyum bocah. “Mau pulang sekarang?” Tanya Changmin.

“Tentu saja. Ibuku sudah menyiapkan seribu makian untukku.” Jawab Donghae asal.

Changmin mengernyitkan dahinya. “Nilai jelek lagi?” Tebaknya.

“Ya, seperti biasa.” Donghae memakai helm-nya. Pandangan mata pria itu kembali beralih pada Jiwon yang sedang berjalan keluar gerbang. “Hey, kau tahu gadis itu?”

Changmin mengernyit bingung. “Gadis mana? Ada terlalu banyak gadis disini.”

“Kim Jiwon.”

“Ah, geu yeojaya. Aku tidak mengenalnya, keunde aku tahu tentangnya. Gadis itu sering menjadi sasaran bully di sekolah ini. Eh, tapi kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?” Changmin menatap Donghae penuh selidik, namun tak terlalu ditanggapi oleh Donghae. Ia lebih tertarik dengan pembicaraan mengenai Jiwon.

“Sasaran bully? Wae?”

“Neo molla? Ayahnya adalah Kim Jae Hwa, terpidana kasus korupsi yang beberapa bulan lalu hangat-hangatnya dibicarakan. Sedangkan ibunya, kudengar semenjak ayahnya masuk penjara dan semua harta mereka disita, ibunya menjadi wanita malam. Entah benar atau tidak, aku juga tidak terlalu tahu mengenai hal tersebut.” Ujar Changmin. Donghae terdiam membisu. Ia jadi makin prihatin dengan kondisi gadis itu. Changmin kemudian menambahkan. “Sebenarnya pihak sekolah ingin mengeluarkannya karena kasus ayahnya itu, keunde guru Song dan wakil kepala sekolah Cho mati-matian membela gadis itu. Kurasa karena ia cukup berprestasi.”

“Benar-benar tipikal sekolah elit. Membuang murid yang berprestasi hanya karena kasus orangtuanya yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan diri sang murid, keunde mereka malah mempertahankan murid yang sama sekali tidak berprestasi hanya karena kedua orangtuanya sering memberikan suntikan dana.”

 

 

*****

 

 

“Duduk!” Suara dengan nada perintah itu terdengar di kediaman keluarga Lee. Lee Hee Jun, ayah Donghae, menatap anaknya itu dengan murka. Donghae sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia memilih diam dan mengikuti perintah ayahnya. Sang ibu yang duduk disebelah ayahnya juga menatapnya tak kalah murka.

“Pihak sekolah sudah memberitahu kami perihal nilai midtest mu. Kau benar-benar membuat kami malu! Apa-apaan dengan nilaimu itu, hah? Apa ini caramu membalas kebaikan kedua orangtuamu yang telah bersusah payah membesarkanmu, hah?! Begini caramu?!” Bentak tuan Lee geram. “Hentikan main-mainmu. Tinggalkan dunia gang dan balapan liarmu. Semua itu tidak berguna!”

“Kalau begini bagaimana bisa kau masuk ke sekolah kedokteran? Hah, kapan kau akan membuat kami bangga seperti Dongwook? Mengapa kau berbeda sekali dengan mendiang kakakmu yang begitu penurut dan berprestasi, eo?!”

“KARENA AKU BUKAN HYUNG!” Bentak Donghae. “Berhenti menyamakanku dengan hyung! Hyung sudah meninggal, yang ada hanya aku disini.”

PLAK!

Tuan Lee begitu marah hingga ia hilang kendali dan memukuli Donghae dengan membabi buta. Donghae hanya diam menerima pukulan-pukulan yang dilayangkan oleh ayahnya. Ia memang sudah terbiasa dengan ini semua. Nyonya Lee berteriak histeris, berusaha untuk menghentikan aksi suaminya. Mau bagaimanapun Donghae adalah anaknya. Sudah sejatinya bagi seorang ibu untuk melindungi anaknya.

“Geumanhe yeobo! Jangan pukul Donghae lagi!” Teriak Nayeon sembari menahan tangan Hee Jun. “Pergi Donghae-ya!” Ujar Nayeon. Donghae pergi menuruti kehendak ibunya. Biarkan ibunya menenangkan sang ayah terlebih dahulu. Yah, sepertinya malam ini ia memang akan menginap di rumah Jongin.

 

*****

 

 

Donghae menghentikan laju motornya didepan sebuah mini market. Namja itu masuk kedalam mini market untuk membeli ramyeon dan sebotol minuman dingin. Perutnya kosong sedari tadi siang. Donghae memilih untuk duduk diluar mini market, ingin menikmati udara malam yang dapat menyegarkan pikirannya. Donghae meringis menahan sakit saat ia menyuapkan ramyeon panas itu kedalam mulutnya. Tangan Donghae terjulur untuk menyentuh bagian bibirnya yang terasa perih. Setitik darah terlihat dijarinya. “Pantas perih.” Gumam Donghae.

“Lee Donghae?”

Donghae mendongak kala mendengar namanya dipanggil. Ia agak kaget saat mendapati Jiwon tengah berdiri dihadapannya sembari menatapnya cemas. “Kau baik-baik saja?” Tanya Jiwon lagi.

478070078_1280x720

Donghae tersenyum kecil, menampakkan sisi lembut dan ramahnya. “Aku baik-baik saja. Hanya terjadi hal kecil di rumah.” Ucapnya. Donghae menunjuk kursi yang terletak dihadapannya. “Duduklah, temani aku makan.” Pinta Donghae. Jiwon agak ragu, namun kemudian gadis itu menarik kursi dihadapan Donghae dan duduk disana. Sebuah senyuman kembali terbit diwajah Donghae.

“Sudut bibirmu terluka dan pipimu agak sedikit merah. Apa kau habis berkelahi?” Tanya Jiwon dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan Donghae. Donghae menggeleng. Ia menelan ramyeonnya dan kemudian menyeruput sedikit kuah ramyeomnya. “Appaku mengamuk karena nilaiku jelek. Jadi beginilah.” Ucap Donghae cuek, seakan apa yang terjadi dengannya bukanlah hal yang besar.

“Tunggu disini sebentar.” Jiwon bangkit dari duduknya. Gadis itu masuk kedalam mini market dan tak lama kemudian ia kembali dengan sebuah salep dan perban. Donghae mengamati Jiwon sampai gadis itu kembali duduk dihadapannya. Jiwon menyerahkan salep dan perban yang tadi ia beli. “Untuk lukamu.” Ucapnya pelan.

“Terima kasih.” Donghae tersenyum lembut kearah Jiwon. Ini pertama kalinya ada yang begitu perhatian dengan Donghae selain ibu dan mendiang kakaknya. Donghae cukup terharu dengan ini. “Kenapa malam-malam begini kau berkeliaran, eo?” tanya Donghae.

Jiwon mengangkat plastik putih yang ada ditangannya. “Belanja.” Jawab gadis itu singkat. Setelah itu tak ada perbincangan diantara mereka. Keduanya hanya duduk diam sembari memperhatikan keadaan sekitar yang masih lumayan ramai. Angin malam yang dingin menerpa Jiwon, membuat tubuh mungilnya agak menggigil. Melihat itu Donghae berinisiatif untuk menawari jaketnya, tapi ditolak dengan sopan oleh Jiwon. “Aku tidak apa-apa.” Ujarnya singkat.

“Ja, ayo pulang. Aku akan mengantarkanmu.”

Kali ini Jiwon tidak menolak. Toh, ia merasa nyaman dan aman saat bersama Donghae, meskipun mereka baru kenal. Jiwon duduk diatas motor Donghae. “Peluk pinggangku. Kalau tidak kau bisa jatuh.”

Jiwon merasa agak enggan, namun begitu Donghae meng-gas motornya hingga melaju cukup cepat, mau tak mau Jiwon memeluk pinggangnya erat. Donghae tersenyum dibalik helm hitamnya. Ada sensasi tersendiri saat tangan mungil itu melingkari pinggangnya.

Motor besar Donghae berhenti didepan sebuah rumah mungil yang cukup sederhana. Jiwon melompat turun dari motor Donghae, lalu menyerahkan helm berwarna hitam yang tadi dipakainya. “Terima kasih Donghae-ssi.” Jiwon menunduk sopan.

“Tak usah se-formal itu. Cukup panggil aku Donghae saja. Masuklah, aku akan menunggu disini sampai kau masuk kedalam.”

Jiwon mengangguk pelan. Gadis itu melangkah memasuki pagar rumahnya. Jiwon sempat menoleh kebelakang sebelum ia benar-benar masuk kedalam rumah. Donghae masih berdiri didepan pagar seperti perkataannya tadi. Melihat itu hati Jiwon terasa hangat. Ia tersenyum manis pada Donghae sebelum masuk kedalam rumah.

Jiwon mendesah pelan kala melihat stoking dan sepatu ibunya diletakkan sembarangan didepan pintu masuk. Gadis itu mengernyit heran saat melihat ada sepatu asing yang tak dikenalnya. Sepatu seorang pria. Emosi Jiwon mendadak muncul. Dengan langkah yang lebar-lebar ia masuk kedalam ruang tamu. Seketika plastik ditangannya jatuh ke lantai saat dengan mata kepalanya sendiri ia melihat ibunya yang sedang bercumbu dengan pria lain. Ia kenal dengan pria itu. Ayah Soojung.

“Ah, kau sudah pulang sayang?” Tanpa ada perasaan bersalah Soyeon menyambut kepulangan Jiwon. Melihat dari wajahnya, sepertinya Soyeon tengah mabuk. Sedangkan pria paruh baya itu buru-buru merapikan bajunya yang tadi berantakan.

“Kalian benar-benar menjijikkan!” Geram Jiwon. Gadis itu langsung berlari ke luar rumah, mengabaikan teriakan Soyeon.

“Donghae-ya!”  Seru Jiwon pada Donghae yang sudah akan melajukan motornya. Donghae mengernyit heran saat Jiwon langsung naik keatas motornya. “Cepat pergi dari sini!” Ujar Jiwon.

“Wae?”

“Palli!” Pekik gadis itu. Donghae terdiam saat melihat setetes air mata jatuh dipipi Jiwon. Tanpa banyak bertanya Donghae pun melajukan motornya. Samar-samar pria itu bisa mendengar isakan tangis dari belakang tubuhnya. Jiwon tengah menangis sesegukan. Donghae hanya diam, sengaja membiarkan gadis itu menangis dipunggungnya. Meskipun penasaran dengan penyebab menangisnya Jiwon, namun Donghae memilih untuk diam sampai Jiwon sendiri yang akan bercerita.

 

*****

 

 

Donghae menyodorkan sekaleng minuman dingin pada Jiwon. Gadis itu mengambilnya, “Terima kasih.” Ucapnya dengan suara lirih. Mereka berdua sedang ada di sungai Han. Malam sudah larut, namun suasana di Sungai Han masih cukup ramai, terutama dengan pasangan-pasangan muda yang menghabiskan malam minggu mereka. Donghae duduk diundakan tangga, tepat disamping Jiwon. Pria itu masih bungkam. Ia menunggu Jiwon sendiri yang akan bercerita.

“Aku benci hidupku…” Lirih Jiwon sembari memandang nanar kearah sungai. Donghae menatap Jiwon intens, menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya. “Aku malu. Kau pasti sudah tahu gossip mengenai keluargaku, kan?”

“Hmm, aku tahu mengenai ayahmu.” Ucap Donghae agak merasa tak enak hati.

“Ayahku memang salah, aku akui itu. Tapi ayahku bukan orang jahat. Ia hanya khilaf. Tapi mereka memperlakukanku seakan aku dan keluargaku begitu menjijikkan. Aku lelah dengan semua ini.”

“Apa karena itu kau berniat untuk bunuh diri?” Tanya Donghae pelan. Jiwon diam, kemudian ia mengangguk pelan. “Maaf karena aku sudah membentakmu padahal kau sudah begitu baik mau menolongku. Kalau bukan karenamu, aku takkan berada disini sekarang.”

DonghaeEp7-02

Donghae tersenyum lembut. “Aku senang bisa menolongmu. Sekarang kau tidak sendirian. Kau punya aku disisimu.” Perkataan Donghae terdengar begitu tulus, membuat Jiwon merasa terharu atas kebaikan yang diberikan oleh namja yang baru dikenalnya itu.

“Mulai sekarang, jika ada yang menganggumu, kau cukup bilang padaku. Biar aku yang mengurusnya.”

Jiwon tersenyum kecil. Mereka berdua duduk sembari berbincang-bincang. Masing-masing berusaha untuk melupakan sejenak masalah yang membebani hati mereka.  “Apa tidak apa-apa kau belum pulang jam segini? Apa orangtuamu tak marah?” Tanya Jiwon saat sadar bahwa malam sudah semakin larut. Donghae tertawa kecil. “Aku takkan pulang malam ini. Aku sudah bilang kan bahwa aku sedang ada masalah dengan ayahku. Aku tak mungkin pulang sekarang.”

“Kalau begitu kau akan menginap dimana malam ini?”

“Di rumah temanku.” Donghae melirik kearah jam tangannya. Sudah jam 11.20 malam. Pria itu manatap sekeliling yang sudah mulai sepi. “Ayo, aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah amat larut.” Ajak Donghae. Tubuh Jiwon menegang. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin pulang ke rumah dan bertatap muka dengan ibunya setelah apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. “Kau tetap harus pulang Jiwon-ah.” Bujuk Donghae.

Merasa tak punya pilihan lain, Jiwon memilih mengalah dan mengikuti saran Donghae untuk pulang ke rumah. Entah sejak kapan ia mulai menjadi gadis penurut. Jiwon sendiripun merasa bingung.

 

 

*****

 

 

_JEGUK HIGH SCHOOL_

Kang Seulgi mengepalkan tangannya penuh emosi saat ia melihat Jiwon dan Donghae yang sedang berjalan bersisian. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Seulgi sudah lama menaruh hati pada Donghae. Namun sikap Donghae yang dingin dan nyaris tak tersentuh membuat gadis itu sulit mendekatinya. Sekarang, dengan mata kepalanya sendiri ia melihat gadis yang dengan sepenuh hati dibencinya tengah berjalan berdampingan dengan namja yang sepenuh hati dicintainya. Yang membuat Seulgi semakin sakit hati, Jiwon dan Donghae tampak sangat akrab. Sesekali perbincangan mereka diselingi oleh canda tawa.

“Brengsek kau!” Geram Seulgi sembari menatap tajam kearah Jiwon.

 

 

*****

 

 

Seperti binatang. Hampir semua teman sekelas Jiwon memperlakukannya seperti binatang. Yang perempuan akan menjambaki dan berkali-kali menampar pipinya. Mereka juga menyumpal makanan kedalam mulut Jiwon. Sama sekali tidak peduli jika gadis itu akan tersedak. Sedangkan yang laki-laki hanya akan menonton dan merekam aksi teman-teman perempuan mereka. Kadang sesekali mereka akan menyentuh Jiwon, berusaha menggoda gadis itu.

“Ja, ayo tangkap ini!” Joohyun melempar sebuah tulang plastik yang biasa digunakan untuk mainan anjing. Jiwon tidak menangkapnya. Hal tersebut membuat Joohyun marah. Gadis itu meloncat turun dari meja yang tadi didudukinya. “Argh!” Pekik Jiwon saat rambutnya ditarik oleh Joohyun. “Kenapa tidak kau tangkap jalang?!” Serunya marah. PLAK! Satu tamparan kembali melayang dipipi Jiwon.

“Geumanhe!” Seru Soojung. Joohyun menatap teman se-gangnya dengan ekspresi tak percaya. “Kau masih membela si jalang kecil ini setelah apa yang ibunya lakukan pada keluargamu?” Joohyun berusaha memancing kembali kemarahan Soojung. Soojung terdiam. Jemari gadis itu mengepal sempurna. “Aniya, aku…”

3457020_d11ed35a-aa9d-11e3-a983-a6a34908a8c2

“Soo Man seonsaengnim datang!” Seru Tao, siswa berdarah Cina dengan kantung mata hitam dibawah matanya. Dalam sekejap murid-murid sudah duduk rapi ditempat mereka masing-masing, kecuali Jiwon yang posisinya memang agak jauh dari bangkunya yang terletak dipojok belakang. Awalnya Jiwon duduk didepan, namun suatu hari saat istirahat siang, gadis itu mendapati tas dan semua bukunya telah dipindahkan ke bangku paling belakang. Tujuannya hanya satu, agar mereka tetap bisa membully gadis itu bahkan disaat jam pelajaran berlangsung.

Soo Man, guru pelajaran fisika masuk kedalam kelas. Ia agak mengernyit heran melihat penampilan Jiwon yang berantakan. Akan tetapi ia sama sekali tidak bertanya lebih lanjut. Inilah kekurangan Jeguk High School. Guru-guru di sekolah ini kurang peduli dengan keadaan siswa/siswinya. Selama nilai mereka bagus dan orangtua mereka mampu memberikan dana kepada sekolah, maka guru-guru tersebut tak peduli dengan apa yang mereka lakukan, entah itu baik ataupun buruk.

“Silahkan buka buku paket kalian dibab 6.”

 

 

*****

 

 

Sabtu pagi, sesuai dengan jadwalnya, yaitu pelajaran olahraga, semua murid dikelas Jiwon berkumpul di lapangan. Permainan mereka kali ini adalah dodge ball, permainan melempar bola kearah lawan. Kesempatan ini sungguh tak disia-siakan oleh Seulgi dan teman-temannya. Mereka sudah menyusun rencana agar Jiwon dimasukkan ke tim yang diserang sehingga mereka bisa sepuas hati melempari gadis itu dengan bola. Seulgi menyerahkan bola berukuran sedang itu pada Soojung. “Lempar kearahnya.” Bisik Seulgi. “Ingat dengan apa yang sudah ibunya lakukan pada keluargamu.” Bisik Seulgi lagi.

Soojung menatap Jiwon tajam, dan dengan sekuat tenaga ia melempar bola itu. BUGH! Bola mengenai kepala Jiwon dengan sukses, membuat gadis itu langsung terpelanting jatuh. Jiwon memegang kepalanya yang dirasa sangat pusing. Mata gadis itu berkunang-kunang. Tidak ada satupun yang berniat menolongnya. Mereka malah kembali melempari Jiwon dengan bola. Jiwon sudah pasrah, sampai dirasanya ada seseorang yang menopang tubuhnya dan membantunya untuk berdiri.

“Donghae-ya…”

“Aku akan antar kau ke UKS.” Ucap Donghae. Pria itu menatap dengan penuh emosi kearah gadis-gadis yang sekarang tengah mengkeret takut. Seulgi yang tadinya begitu percaya diri, bahkan sekarang sudah bersembunyi dibalik punggung Soojung.

 

 

*****

 

 

Donghae menangkup pipi Jiwon dengan kedua tangannya. “Wajahmu lebam.”

Jiwon menunduk. Menutupi pipinya dengan rambut panjangnya yang berwarna coklat gelap. “Tidak apa-apa. Aku akan mengobatinya saat pulang nanti.” Jawabnya pelan.

Donghae mengangkat dagu Jiwon, hingga memperlihatkan wajah muram gadis itu. Dengan lembut ditariknya gadis itu kedalam rengkuhannya. Donghae mengelus rambut Jiwon, dan perlahan turun ke punggung gadis itu. Jiwon merasa aman berada dalam pelukan Donghae. Tanpa disadarinya, tangannya ikut terangkat dan membalas pelukan Donghae tak kalah erat. Ia menyembunyikan wajahnya didada Donghae.

“Terima kasih karena kau selalu ada untuk menolongku.”

“Bukankah aku sudah pernah berjanji bahwa aku akan melindungimu?”

 

 

*****

 

 

PRANG!

Nyaris sedikit lagi botol kaca itu akan menghantam kepala Donghae. Beruntung namja itu memiliki gerak refleks yang bagus sehingga ia dapat menghindar dengan mudah. Donghae melompat, dan dengan gerakan memutar ia menendang namja yang tadi melemparinya dengan botol. Dalam hitungan detik namja itu langsung terkapar ditanah yang becek.

Bukan Lee Donghae namanya jika tidak terlibat dalam perkelahian. Dan bukan Donghae namanya jika ia kalah dalam perkelahian tersebut. Namun kali ini dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya. Donghae beserta teman-temannya, dan juga musuh-musuh mereka, berhasil diringkus polisi setempat. Donghae sudah tidak bisa melarikan diri lagi saat beberapa orang polisi memborgolnya dan menggiringnya ke mobil patroli.

Donghae dan teman-temannya dimasukkan kedalam sel yang sama, sedangkan musuh-musuh mereka dimasukkan kedalam sel yang lainnya. Donghae duduk dalam diam dipojok sel. Polisi telah menghubungi orang tua mereka masing-masing untuk menjemput anak-anak mereka. Donghae sudah bisa membayangkan ekspresi kecewa ibunya dan juga wajah murka sang ayah. Donghae akan menerima itu dengan lapang dada.

140119_donghae

“Lee Donghae, kau sudah boleh keluar. Orangtuamu sudah menunggu didepan.” Ujar seorang polisi. Dengan lesu Donghae bangkit dari duduknya. Ia menatap teman-temannya yang masih berada didalam sel. “Aku duluan.” Pamit Donghae. Teman-temannya mengangguk.

“Hati-hati.” Ucap Jongin sebelum Donghae benar-benar keluar dari dalam sel yang dingin.

Lee Hee Jun menatap putranya dengan berang. Jika ia sedang tidak berada di kantor polisi, dengan senang hati ia akan menghajar putra bungsunya itu. Donghae menunduk saat Hee Jun menghampirinya. “Ayo pulang!” Ujar Hee Jun dengan dingin. Matanya masih menatap tajam kearah Donghae.

 

 

*****

 

 

PLAK!

“ANAK BRENGSEK! TAK TAHU DIUNTUNG! KAU MEMBUATKU MALU!” Teriak Hee Jun penuh emosi. Pria itu membuka ikat pinggangnya dan dengan brutal memukul Donghae dengan ikat pinggangnya itu. Nayeon berteriak histeris, berusaha untuk menghentikan tindakan brutal suaminya itu. Hee Jun memang acap kali kehilangan kendali. Jika sudah seperti ini akan sangat sulit untuk menenangkannya. “Geumanhe!” Nayeon memohon-mohon pada suaminya, namun sayangnya hanya dianggap angin lalu oleh Hee Jun yang sudah terbakar emosi.

Wanita paruh baya itu menahan tangan Hee Jun yang sudah akan kembali melayangkan ikat pinggangnya ke tubuh Donghae. Tanpa sengaja Hee Jun mendorong istrinya sehingga tubuh Nayeon terhempas menabrak dinding. Wanita itu meringis sakit, memegangi dadanya yang terasa seperti ditusuk-tusuk.

“Eomma!” Donghae berlari menghampiri ibunya yang sudah terduduk lemas dilantai, masih memegangi dadanya yang sakit. Sadar dengan tindakannya yang sudah mencelakai sang istri, Hee Jun ikut berlari menghampiri Nayeon.

“Nayeon!”

 

*****

 

 

Donghae terduduk lesu didepan kamar rawat ibunya. Kata dokter Nayeon terkena serangan jantung. Donghae tidak pernah tahu bahwa ibunya memiliki penyakit parah itu. Sekarang perasaan bersalah menyelimuti benak Donghae.

“Sudah puas membuat ibumu seperti ini?” Suara Hee Jun terdengar begitu dingin dan tajam. Donghae menatap ayahnya. “Kenapa kau tidak pernah bilang bahwa ibu sakit, eo?”

“Apa kau peduli?! Kerjaanmu hanya berkelahi dan bersenang-senang. Apa sekarang kau sudah puas? Lihat apa yang telah kau lakukan pada ibumu!”

“Ini bukan kesalahanku!” Seru Donghae.

Hee Jun menatapnya tajam. “Ini jelas kesalahanmu! Pergi kau! Aku tak ingin melihat wajahmu lagi!”

“Sirheo! Aku ingin menemani ibu.”

“Nayeon tidak perlu ditemani oleh orang macam kau! Pergi sebelum aku menyuruh satpam untuk menyeretmu keluar!”

Donghae benar-benar tidak percaya bahwa ayahnya tega mengusirnya dikeadaan yang seperti ini. Tak ingin membuat kekacauan, Donghae pun akhirnya mengalah dan memilih untuk pergi. Donghae mengendarai motornya tanpa tujuan dan arah yang jelas. Ia seperti kehilangan arah hidupnya. Meskipun tidak terlalu dekat dengan ibunya, tapi jelas Donghae tidak ingin kehilangan ibunya. Sudah cukup ia kehilangan Dongwook akibat kecelakaan dua tahun silam. Disaat seperti ini, hanya ada satu nama yang terlintas dipikiran Donghae. Jiwon. Ia ingin bertemu dengan gadis itu.

 

 

*****

 

 

120923cinebeautifulyou09-c5498

Jiwon kaget mendapati Donghae berdiri didepan rumahnya dini hari. Wajah pria itu pucat dan ia begitu berantakan, membuat Jiwon iba melihatnya. Gadis itu mempersilahkan Donghae masuk ke rumahnya. Ia sudah percaya pada namja itu. “Ibuku tidak ada.” Ucap Jiwon.

Gadis itu menyuguhi secangkir teh hangat. Ia duduk disebelah Donghae. “Wae geure? Kau ada masalah?”

“Ibuku masuk rumah sakit. Serangan jantung.” Suara Donghae terdengar begitu lirih dan bergetar. Jiwon mengenggam tangan pria itu. “Aku turut bersedih. Aku harap ibumu cepat sembuh.” Ucapnya tulus.

Setetes air mata jatuh dipipi Donghae, membuat Jiwon terkesiap. Ini kali pertama ia melihat seorang namja menangis. Dan namja itu adalah Lee Donghae, si troublemaker yang begitu ditakuti di Jeguk High School.

“Aku takut kehilangan ibuku. Rasanya begitu sakit saat kau kehilangan seseorang. Aku tak ingin merasakannya lagi.” Donghae menunduk dalam. “Selama ini aku memberontak karena aku lelah dengan sikap otoriter kedua orangtuaku. Sedari dulu mereka selalu membanding-bandingkanku dengan Dongwook hyung. Bahkan setelah Dongwook hyung tiada, mereka mulai memaksaku untuk berubah menjadi seperti Dongwook hyung. Mereka memaksaku untuk masuk ke sekolah kedokteran. Padahal itu sama sekali bukan bidangku. Aku… aku hanya ingin mereka menerimaku apa adanya. Aku Lee Donghae, putra mereka juga. Keunde, setiap aku berusaha untuk meyakinkan kedua orangtuaku bahwa aku akan dapat membuat mereka bangga tanpa harus menjadi Dongwook hyung, mereka akan marah dan menganggapku membangkang. Itu yang membuatku menjadi seperti ini. Sebenarnya aku juga lelah dengan hidupku.” Tatapan Donghae begitu sendu, membuat hati Jiwon terenyuh. “Aku juga pernah ingin mengakhiri hidupku…”

“Mian, selama ini aku berpura-pura tegar dan kuat. Padahal aku tak lebih dari seorang namja pengecut yang lari dari kenyataan.”

Jiwon memeluk Donghae. “Aniya, kau bukan namja pengecut. Aku tahu bahwa hidupmu begitu berat. Aku juga dapat merasakan rasa sesak yang membelenggu hatimu.” Gumam Jiwon sembari mengusap punggung Donghae dengan lembut.

Semalaman Jiwon menemani Donghae hingga pagi menjelang dan namja itu pamit, ingin kembali melihat ibunya di rumah sakit.

 

*****

 

 

Suasana Jeguk High School menjadi gaduh karena menyebarnya video Jiwon saat sedang mengganti bajunya di ruang ganti olahraga. Video yang berdurasi 2 menit itu mempertontonkan tubuh Jiwon yang hanya menggunakan pakaian dalamnya saja. Video itu dikirim secara masal ke seluruh murid Jeguk High School. Pihak sekolah sama sekali tidak tahu mengenai hal ini. Murid-murid Jeguk High School terlalu lihai dalam menutupi hal tersebut.

Video itu mereka gunakan sebagai ajang untuk membully Jiwon. Mereka mengancam akan menyebarkan video tersebut ke luar sekolah dan juga kepada guru-guru jika gadis itu tidak mau menuruti permintaan mereka yang semakin hari semakin keterlaluan.

rumors

Donghae, dibantu dengan Changmin, berusaha mati-matian mencari dalang dibalik penyebaran dan perekaman video tersebut. Donghae yakin bahwa pelakunya tidak hanya satu orang, tapi ada sekelompok orang.

Semenjak video tersebut beredar, yakni sudah 2 hari, Donghae tidak bisa menemukan Jiwon dimanapun. Gadis itu seperti menghilang ditelan bumi. Donghae bahkan sudah menyambangi rumah gadis itu, namun nihil. Tak ada seorangpun disana. Menurut tetangga Jiwon, gadis itu setiap pagi selalu pergi dari rumah dengan menggunakan seragam sekolah. Namun yang pasti gadis itu tak pernah menginjakkan kakinya di sekolah semenjak 2 hari yang lalu.

Donghae menatap kosong kearah jendela kelas. Semangatnya menjadi luntur semenjak menghilangnya Jiwon. Donghae benar-benar mengutuk siapapun oknum yang ada dibalik masalah ini. Beruntung pihak sekolah belum ada yang tahu, jadi untuk sementara posisi Jiwon sebagai murid Jeguk akan aman.

“Omo, dada gadis itu ternyata besar juga. Ah, aku jadi ingin bercinta dengannya.” Ujar salah seorang namja di kelas Donghae sambil tertawa mesum.

Melihat itu emosi Donghae langsung naik ke ubun-ubun. Pria itu meloncat dari atas mejanya. Ia mencengkram kerah namja mesum tadi. Tindakan kasar Donghae membuat suasana kelas yang tadinya gaduh menjadi hening. Namja yang berada dalam cengkraman Donghae berhasil kabur. Namja itu berlari sekuat tenaga untuk menghindari Donghae yang tengah mengamuk. Dengan melompati beberapa meja, Donghae berusaha untuk mengejar namja yang bernama Taeyoung itu. Mereka berkejar-kejaran di koridor sekolah, sampai akhirnya Donghae berhasil membekuk Taeyeong di lab biologi yang kosong.

“Kau harus minta maaf pada Jiwon!” Amuk Donghae.

“Untuk apa aku minta maaf pada gadis murahan itu.”

ec868cebacb81

“BRENGSEK KAU!” Donghae mencengkram kerah baju Taeyoun dan dengan membabi buta ia melayangkan pukulannya pada Taeyoung. Donghae begitu emosi, bahkan disaat Taeyoung sudah memohon ampun pun, ia tidak melepaskan namja itu. “Siapa yang membuat video laknat itu?! NUGUYA?!”

“A…aku…tidak tahu…uhuk…”

Donghae mencekik leher Taeyoung. “NUGUYA?!” Ia menghentak-hentakkan kepala Taeyoung.

“Baek…Baekhyun dan Seulgi…”

Begitu mendapatkan nama yang dicari-carinya, Donghae kemudian meninggal Taeyoung yang sudah terkapar begitu saja. Sekarang tujuan Donghae adalah menemui namja yang bernama Byun Baekhyun. Ia masih ingat dengan pria itu. Pria yang dulu nyaris memperkosa Jiwon.

“Kali ini kau benar-benar mati Byun Baekhyun.” Donghae menggeram marah sembari mengepalkan kedua tangannya. Ia sudah tak sabar ingin memberikan pelajaran pada Baekhyun. Donghae mencari Baekhyun ke seluruh penjuru sekolah. Ia baru menemukan pria itu 20 menit kemudian di lapangan basket. Dengan penuh emosi Donghae melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju Baekhyun yang kebetulan sedang sendirian. Tanpa mengatakan apa-apa Donghae langsung menghantam Baekhyun hingga ia jatuh tersungkur.

“Neo micheosso?!” Pekik Baekhyun marah. Ia mengelap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah.

Donghae menatapnya tajam. “Apa benar kau yang menyebarkan video itu?”

Baekhyun tertawa mengejek. “Ah, video nyaris bugil gadis itu? Wae? Kau mau yang full version-nya?”

“BRENGSEK KAU!” Donghae menghajar Baekhyun dengan begitu membabi buta. Baekhyun benar-benar tak sempat melawan, sebab Donghae benar-benar tak sedikitpun memberikan celah padanya.

“HENTIKAN LEE DONGHAE!”

Beberapa orang guru laki-laki datang dan langsung menghentikan aksi brutal Donghae. Donghae memberontak. Ia masih belum puas untuk memberi pelajaran pada Baekhyun. Baekhyun langsung dilarikan ke rumah sakit oleh 2 orang guru, sedangkan guru Joon dan guru Nam membawa Donghae ke ruang guru. Aksi Donghae tadi sempat ditonton oleh murid-murid Jeguk dan bahkan beberapa orang sempat merekamnya.

Hari itu juga Donghae resmi dikeluarkan dari sekolah. Lee Hee Jun sudah tidak mau mengurusi segala macam masalah yang ditimbulkan oleh Donghae. Kali ini Donghae memang sudah keterlaluan. Taeyoung dan Baekhyun mengalami luka yang cukup serius dan harus dirawat intensif di rumah sakit. Beruntung pihak sekolah berhasil mengurungkan niat orangtua kedua murid itu yang ingin menuntut sekolah dan juga Donghae. Lee Hee Jun juga memberikan nominal uang yang besar sebagai biaya ganti rugi. Dan lagi, Baekhyun memang terbukti salah karena telah membuat dan menyebarkan video tersebut, sehingga kedua orangtuanya tidak banyak bersuara.

 

 

*****

 

 

maxresdefault

“Kenapa kau melakukan itu?” Jiwon menatap sedih kearah Donghae. Ia begitu sedih saat tahu bahwa Donghae dikeluarkan dari sekolah karena membela dirinya. Donghae tersenyum kecil. Tangannya terangkat mengelus rambut Jiwon, hal yang biasa dilakukannya. “Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa aku akan melindungimu?”

“Tapi tidak seperti ini. Aku tak ingin kau dikeluarkan.”

“Aku tidak menyesali perbuatanku. Dan hey, Jeguk bukan satu-satunya sekolah di Seoul. Aku masih bisa masuk ke sekolah lain.” Donghae tersenyum kecil sembari mengusap pipi Jiwon. “Kapan kau akan kembali ke sekolah? Kau sudah membolos cukup lama.”

Jiwon menunduk. “Nan molla… aku malu untuk menampakkan wajahku di sekolah. Lagipula pihak sekolah sudah tahu mengenai video itu. Ini hanya masalah waktu sebelum aku juga dikeluarkan dari sana.” Ucap Jiwon. Donghae menggeleng. “Kau tidak usah khawatir. Mereka tidak akan mengeluarkanmu. Aku sudah mengurus segalanya. Dan bahkan, mulai saat ini takkan ada yang berani mengganggumu lagi. Mereka sudah tahu mereka akan berhadapan dengan siapa jika masih berani menganggumu.”

“Jeongmal gomawo Donghae-ya…”

“Aku menyayangimu Jiwon-ah…”

478788625_640

 

 

*****

 

“Aku menyayangimu Jiwon-ah…”

Jiwon tersenyum bahagia mengingat perkataan Donghae beberapa jam yang lalu. Ini pertama kalinya ada seorang namja yang begitu tulus menyayanginya. Jiwon memegang dadanya yang bergemuruh. Jantungnya berdetang cepat. “Aku juga menyayangimu Donghae-ya…” gumamnya pelan.

 

*****

 

Donghae baru pulang dari mengantar Jiwon. Dijalan pulang, tiba-tiba motornya dicegat oleh beberapa kawanan bersepeda motor. Donghae mengenal wajah-wajah yang ditutupi helm itu. Mereka adalah musuh-musuh Donghae yang beberapa waktu lalu dihajarnya habis-habisnya.

Keadaan sungguh sangat tak menguntungkan Donghae. Mereka ada bertujuh, sedangkan ia hanya sendiri. Donghae berusaha sebisa mungkin untuk membela diri. Ia cukup kewalahan menghadapi ketujuh orang ini, apalagi mereka membawa tongkat baseball ditangan mereka masing-masing, sedangkan Donghae bertangan kosong.

Donghae membalikkan tubuhnya, bermaksud untuk menghajar namja dibelakangnya. Namun sayang, begitu Donghae membalikkan tubuhnya, sebuah tongkat baseball langsung menghantam kepalanya. Donghae seketika langsung ambruk. Tak cukup sampai disitu, dengan berbondong-bondong ketujuh pemuda itu memukuli Donghae dengan tongkat baseball mereka. Darah berceceran, mengotori jalanan aspal yang saat itu sedang sepi.

Donghae sudah berlumuran darah, dan tarikan napasnya sudah sangat lemah. Ia sekarat. Samar-samar Donghae melihat wajah Jiwon yang sedang tersenyum kearahnya. Layaknya sebuah film, kenangan Donghae bersama gadis itu muncul dikepalanya. Donghae berusaha mengingat baik-baik senyuman Jiwon. Setetes air mata jatuh dari mata Donghae.

‘Aku mencintaimu Jiwon-ah…’

 

 

*****

 

 

Hari ini Jiwon memutuskan untuk kembali ke sekolah, seperti yang Donghae minta. Donghae sudah meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Namun entah mengapa, perasaan Jiwon tidak enak. Sejak bangun pagi ia sudah merasakan perasaan yang aneh. Ia merasa gelisah dan tidak tenang.

“Semua akan baik-baik saja Jiwon-ah.” Ucap Jiwon pada dirinya sendiri, mengikuti ucapan Donghae semalam. Gadis itu menarik napas dan menghembuskannya, berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya yang gelisah.

Jiwon menapakkan kakinya kedalam gedung sekolah. Gadis itu menatap sekitar. Semua orang terlihat sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tidak ada yang menghiraukannya. Ternyata Donghae benar. Mulai hari ini semua akan baik-baik saja. Jiwon tersenyum kecil dan ia kembali melangkahkan kakinya menuju kelas. Baru saja ia akan menaiki tangga, sebuah kabar menghantamnya dan seketika merenggut semua kebahagiannya.

“Donghae ditemukan tewas dijalan. Ia korban pengeroyokan.”

 

*****

 

 

2 minggu sudah Donghae meninggalkan dunia ini. Satu-satunya kebahagiaan Jiwon sudah direnggut paksa darinya. Ia kembali sendirian. Satu-satunya orang yang mengerti dan memahami dirinya telah pergi. Tak cukup buruk dengan itu, keadaan di kelasnya kembali seperti sedia kala. Teman-temannya kembali membully dirinya, apalagi Baekhyun yang 4 hari lalu baru kembali ke sekolah.

Jiwon benar-benar sudah tidak kuat dengan keadaan ini. Gadis itu berjalan menyusuri jembatan tempat pertama kalinya ia bertemu dengan Donghae. Jiwon berdiri sembari menatap menerawang jauh keatas langit. “Apa kau bisa melihatku Donghae-ya?” Bisiknya pilu. “Kenapa kau pergi begitu saja?” Jiwon terisak hebat. Selama 2 minggu ini ia menahan perasaannya yang begitu sakit. Dan hari ini puncaknya. Ia sudah tidak sanggup lagi. “DONGHAE-YA!!” Teriak Jiwon kalap. “KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB! KAU HARUS MEMBAWAKU BERSAMAMU!” Tangis Jiwon.

Dengan tangan yang gemetar Jiwon menyentuh pagar besi jembatan. Kejadian ini persis seperti beberapa bulan yang lalu. Namun Jiwon tahu bahwa kali ini berbeda. Tidak ada Donghae yang akan menyelamatkannya seperti dulu. Ia sendirian…

“Maafkan aku Donghae-ya…”

BYUR!

 

 

-The End-

 

Ini Fanfic Video untuk FF ini 😀

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

13 tanggapan untuk “Gray

  1. apa gak ada rencana untuk buat sequel ff ini??? trus gmana nasib jiwon setelah donghae meninggal?? ikut bunuh diri?? seperti kisah romeo dan juliet. berharap banget sih klo ff ini bakalan ada kenjutan yg menceritakan kehidupan bahagia jiwon dengan pria yg sudah diberikan tugas untuk menjadi pengganti donghae jika ia meninggal. pengenya sih kyak gtu… 🙂

  2. aigoo knpa ceritannya jadi sad ending begini 😦 jadi pengeen nangsis.. author request pairinnya kim jiwon dan kang ha nuel keke:) # plak berhapbaget hehe 🙂 eh vidionnya keren hoho 🙂 next^^ untuk FF selanjutnnya

    1. Huhu~ aku sendiri juga ngga tahu kenapa tiba-tiba jd galau gini TT__TT padahal awalnya udh rencana bikin happy ending, eh tiba-tiba ditengah cerita lgsg berubah jd sad 😥 haha, makassiiih makasiii… lgi iseng aja makanya bikin video itu. Sumpah, gk pernah kepikiran buat masangin Jiwon ama Donghae hehe..

  3. Nyesek bgt baca akhirannya thor 😦
    Kirai bakalan happy ending.. ternyata sad ending -.-
    Tp gpp kok thor ^^
    Ttep bagus ceritanya 😀 ditunggu ff lainnya ne ^.^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s