Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

Dark Side (Part 2)

1405178199602

Author : Cho Haneul
Title       : Dark Side
Type      : Chaptered
Genre    : Angst, Drama, Romance

Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Oh Sehun
– Lee Sunkyu (SNSD’s Sunny)
– Kim Jonghyun

___________________________________________

 

Disaat Jiwon sudah akan pasrah pada takdir yang akan membawanya pergi, sebuah tangan menarik dan menyelamatkannya dari gulungan ombak. Jiwon tidak bisa melihat dengan jelas wajah sang penyelamat itu. Namun dia yakin bahwa si penyelamatnya adalah seorang pria.

“Bangunlah! Agasshi!”

Jiwon merasa pipinya ditepuk dengan agak kuat. Sekuat tenaga ia berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya yang nyaris menghilang. “Uhuk!” Jiwon terbatuk hebat, mengeluarkan air asin yang sempat masuk kedalam mulutnya. Kepalanya pusing dan hidungnya terasa perih. “Apa ada yang terluka?” Tanya pria itu sembari menatap Jiwon cemas. Jiwon menggeleng lemah. Dengan perlahan gadis itu bangkit dari posisi berbaringnya. Ia duduk diatas pasir yang lembut. Perlahan Jiwon mendongakkan kepalanya, ingin melihat rupa orang yang telah menolongnya.

Tampan dan berwajah tegas. Itu yang langsung tergambar kala menatap wajah namja itu. Tiba-tiba pria itu menoleh kearah Jiwon. “Kau ingin ke rumah sakit?” Tanyanya yang dibalas gelengan oleh Jiwon. “Aniya, tidak perlu.” Tolak Jiwon sopan. Mereka terdiam, tidak tahu hal apa yang harus dibicarakan dalam kondisi canggung seperti ini.

“Kau tadi… ah, lupakan saja!” Ucap pria itu. Jiwon menunduk malu. Ia tahu apa yang ingin ditanyakan oleh pria itu. “Terima kasih.” Ucap Jiwon dengan suara pelan. Pria itu menatap Jiwon lama. “Seharusnya aku yang berterima kasih padamu.” Ucapnya, membuat Jiwon menoleh heran. Namja itu melanjutkan, “Karena kau menggagalkan rencana bodohku. Terima kasih.”

Jiwon tersentak kaget. Ia menyadari bahwa namja itu juga seperti dirinya. Pantas saja ia berada di pantai malam-malam begini. Sendirian pula.

“Aku Kim Woo Bin.”

“Kim Jiwon imnida.”

 

 

*****

 

 

Pagi-pagi Jiwon sudah dikejutkan dengan kedatangan Sehun. Sebenarnya ia sudah muak dan tidak ingin bertemu dengan namja itu lagi. Namun ibunya mati-matian membujuk, bahkan memaksa Jiwon untuk menemui Sehun dan berangkat ke sekolah bersamanya. Padahal Jiwon sudah berencana ingin membolos. Kejadian semalam membuat mood-nya rusak. Ia sedang tidak ingin melakukan apapun dan bertemu siapapun. Ia hanya ingin sendiri.

“Kenapa lama sekali? Kita hampir terlambat!” Gerutu Sehun. Jiwon hanya diam sembari mengikuti namja itu masuk kedalam mobil sportnya yang berwarna kuning. Disepanjang perjalanan, kedua insan itu hanya diam. Sesekali Sehun akan berbicara, namun tidak terlalu ditanggapi oleh Jiwon, dan Sehun pun tak terlalu mempermasalahkan itu.

Jiwon memandang keluar jendela. Kejadian semalam masih amat membekas diingatannya. Ia nyaris saja tak bisa melihat matahari lagi. Beruntung ada namja itu yang menolongnya.

‘Ternyata di dunia ini tak hanya aku yang bosan hidup… Namja itu juga sama…’ Dalam hati Jiwon bertanya-tanya masalah apa yang dimiliki namja yang bernama Woo Bin itu. Apa jauh lebih berat dari masalahnya?

“Nanti sore kau harus menemaniku latihan basket.” Ujar Sehun dengan nada perintah yang tak menerima penolakan. Jiwon menghela napas. Ia lelah, namun tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Sehun. “Ne.”

 

 

*****

 

_JEGUK HIGH SCHOOL, Biology Lab_

“Tolong ambilkan pisau bedah!” Pinta Sunkyu. Gadis bersifat kekanakan itu mengernyit saat tak mendapatkan respon dari Jiwon. Ia pun menoleh dan semakin terheran kala mendapati Jiwon yang tengah menatap kosong ke luar jendela.

“Jiwon?” Panggil Sunkyu seraya mencolek tangan Jiwon yang diletakkan diatas meja. Jiwon terkaget. “Wae?” Tanyanya.

“Kau melamun? Aku tadi memintamu untuk mengambil pisau bedah.”

“Ini.” Jiwon menyerahkan pisau bedah yang diminta Sunkyu. Ia tersenyum kecil. “Aku hanya sedikit mengantuk. Tidurku tak nyenyak semalam.” Bohongnya. Sunkyu hanya tersenyum kecil. “Kupikir sesuatu yang buruk telah terjadi. Kau terlihat begitu tak semangat hari ini.”

Jiwon tersenyum getir mendengar perkataan Sunkyu. Memang telah terjadi sesuatu dengan dirinya. Salahkah ia jika ia mulai merasa jenuh dengan hidupnya yang penuh aturan serta paksaan?

 

 

*****

 

 

Woo Bin berdiri didepan gedung kantor ayahnya. Ditangannya ada sebuah map berwana biru milik ayahnya. Tujuannya bertandang ke kantor sang ayah adalah untuk mengantarkan map tersebut. Tadi saat ia baru pulang dari sekolah, ia melihat bibi Jung, pembantu di rumahnya, sedang tergesa-gesa mencari berkas penting milik ayahnya yang tertinggal di rumah. Saat bibi Jung akan pergi mengantar berkas itu, Woo Bin menawarkan diri untuk mengantar berkas itu sendiri. Dan disinilah ia sekarang. Di depan gedung megah Zeus Corporation, perusahaan milik ayahnya.

Woo Bin memasuki lobby perusahaan yang terlihat mewah dengan desain minimalis. Ia disambut ramah oleh resepsionis, “Ada yang bisa saya bantu?” Tanya resepsionis yang bernama Choi Sooyoung itu dengan ramah. Meskipun ia anak dari pemilik perusahaan tersebut, namun Woo Bin amat jarang berkunjung kesana. Terakhir kali ia datang ke perusahaan ayahnya adalah 2 tahun yang lalu. Jadi wajar saja jika karyawan disana tidak ada yang mengenal dirinya.

“Ne, aku Kim Woo Bin, anak dari Kim Heung Soo. Ayahku memintaku untuk membawa berkasnya yang tertinggal di rumah.” Jawab Woo Bin sembari menunjukkan map biru yang ada ditangannya. Sooyoung agak kaget. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan Woo Bin sejak ia bekerja disana. “Ah, chakkaman gidaryo, saya akan menghubungi sekretaris tuan Kim terlebih dahulu.”

Sooyoung terlibat perbincangan singkat dengan sekretaris Kim Heung Soo. Setelah menutup telepon, Sooyoung menoleh menatap Woo Bin. Ia tersenyum manis. “Anda bisa langsung naik ke ruangan ayah anda.” Ucapnya.

Woo Bin menunduk sedikit. “Terima kasih.”

Woo Bin berjalan menuju lift sembari melihat-lihat keadaan sekitar. Ia cukup merasa asing dengan suasana disana. Salahkan ayahnya yang tak pernah mengajaknya berkunjung. Padahal nanti ia yang akan melanjutkan perjuangan sang ayah untuk memimpin perusahaan. Meskipun dapat dihitung dengan jari kapan ia berkunjung kesana, tapi Woo Bin cukup hafal dimana letak ruangan sang ayah.

“Ah, Woo Bin-ah, lama tidak bertemu.” Sapa Kwon Yuri, sekretaris ayahnya. Woo Bin menunduk sopan. “Apa ayah ada didalam? Aku ingin menyerahkan langsung berkas ini padanya.” Ujar Woo Bin.

“Ne, beliau ada didalam. Bahkan ahjumma mu juga ada didalam sana.”

Tubuh Woo Bin menegang saat mendengar bahwa adik ibunya itu juga berada didalam sana. Cha Eun Soo, adik mendiang ibunya itu begitu membenci dirinya. Eun Soo selalu menyalahkan Woo Bin atas kematian ibu dan adik perempuannya. Woo Bin juga tahu pasti betapa bencinya Eun Soo pada dirinya. Sejenak Woo Bin menjadi ragu. Akan lebih baik jika ia menyerahkan map tersebut pada Yuri dan kemudian langsung pulang. Dengan begitu ia akan terhindar dari tatapan penuh benci yang sudah pasti akan dilayangkan oleh Eun Soo padanya.

“Kau tidak ingin masuk?” Yuri agak heran melihat Woo Bin yang masih berdiri tegak dihadapannya.

Woo Bin langsung tersadar. “Ah ne. Aku akan masuk sekarang.” Ucapnya pelan. Dengan langkah berat Woo Bin masuk kedalam ruang kerja ayahnya yang mewah. Namun langkahnya langsung terhenti dibalik rak buku saat ia mendengar perbincangan yang terjadi diantara ayah dan bibinya. Woo Bin nyaris menahan napas kala namanya disebut-sebut dalam perbincangan tersebut.

“Kau masih mau mengurus anak pembawa sial itu?” Nada bicara Eun Soo terdengar begitu sinis. Wanita berumur 40 tahun itu menatap tajam kearah Heung Soo.

“Jaga bicaramu Eun Soo-ya. Walau bagaimanapun ia adalah anakku, anak mendiang kakakmu dan juga keponakanmu.”

Eun Soo berdecak kesal. “Aku tak sudi mengakui anak itu keponakanku. Oppa tak lupa kan dengan apa yang telah ia lakukan pada istri dan putrimu? Ia membiarkan Ah Ra mati tenggelam, dan karena dia eonnie memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.”

Heung Soo menunduk dalam mendengar perkataan adik iparnya itu. Tak bisa dipungkirinya bahwa ia sebenarnya juga menyalahkan Woo Bin atas apa yang terjadi pada Ah Ra dan Hana. Semua bermula saat Heung Soo dan Hana harus pergi menghadiri sebuah acara, sehingga dengan terpaksa meninggalkan Woo Bin dan Ah Ra hanya berdua di rumah. Pembantu mereka sedang pulang kampung. Tadinya Hana tidak ingin meninggalkan kedua anaknya di rumah. Wanita itu tahu bahwa kedua anaknya itu tidak akur. Perbedaan usia yang hanya setahun justru tak membuat keduanya mempunyai hubungan yang dekat. Woo Bin acap kali cemburu dengan sikap kedua orangtuanya yang terkesan terlalu menganak emaskan Ah Ra.

Merasa tidak memiliki pilihan lain, dengan amat terpaksa Hana meninggalkan kedua anaknya berdua di rumah. Berkali-kali ia mengingatkan Woo Bin agar tidak menganggu Ah Ra dan menjaga adiknya itu dengan baik. Saat itu Woo Bin hanya mengangguk mengiyakan, meskipun ia terlihat amat terpaksa. Ditinggalnya kedua anak itu di rumah. Namun hari itu menjadi hari yang penuh penyesalan bagi Heung Soo dan terutama Hana.

Ah Ra ditemukan mengambang tak bernyawa di kolam renang. Anak perempuan mereka itu memang tak mahir berenang. Kejadian itu merupakan sebuah pukulan berat bagi Heung Soo dan Hana. Apalagi ketika mereka tahu bahwa saat kejadian tersebut Woo Bin juga berada disana. Mereka melihat sisi tv yang diletakkan ditaman, menghadap kolam. Disitu terlihat jelas Woo Bin dan Ah Ra yang tampaknya sedang bertengkar. Ah Ra mengambi mobil remote control kesukaan Woo Bin dan berniat untuk menyembunyikannya. Woo Bin marah dan berusaha untuk merebut mainannya kembali. Terjadilah adegan tarik-menarik mobil mainan ditepi kolam renang. Woo Bin yang sudah terlanjur kesal lantas mendorong sang adik tanpa memikirkan akibat dari tindakannya itu.

Tubuh Ah Ra langsung terlempar ke dalam kolam renang yang cukup dalam untuk ukuran anak berumur 10 tahun. Gadis kecil itu menggapai-gapai berusaha untuk meminta pertolongan. Woo Bin yang kala itu berumur 11 tahun hanya menatap kosong kearah adiknya itu. Bukannya ia sengaja ingin mencelakai adiknya. Woo Bin terlalu kaget dengan situasi yang tengah terjadi. Ia ingin sekali menolong adiknya, namun kakinya seakan dipaku diubin yang dingin. Dan lagi saat itu Woo Bin belum terlalu mahir berenang. Ia bisa saja juga ikut tenggelam. Pada akhirnya Woo Bin tetap diam ditepi kolam sampai tangan Ah Ra yang tadinya menggapai-gapai sudah tidak terlihat.

Itulah kesalahan terbesar Woo Bin…

Eun Soo menatap Heung Soo. “Tak perlu mengelak lagi. Soljikhi marhaebwa, kau juga menyalahkan Woo Bin atas semua ini, kan? Kau juga membencinya kan?” Pancing Eun Soo. Tatapan mata Heung Soo menjadi nanar. Pria paruh baya itu menyatukan kedua tangannya dan menggenggamnya erat. “Aku membencinya yang telah membiarkan uri Ah Ra tenggelam… dan aku membencinya karena telah membuat Hana nekat bunuh diri.” Suara Heung Soo terdengar begitu lirih. Pria itu merasakan sakit yang begitu sangat didadanya saat dengan amat terpaksa ia harus mengakui bahwa ia memang menyimpan kebencian pada Woo Bin. Jika bisa memilih, ingin sekali ia melupakan semua sejarah kelam keluarganya, dan kemudian memulai lembaran baru berdua dengan Woo Bin. Namun sayangnya, setiap ia melihat Woo Bin, maka kenangan kelam itu akan kembali menghantuinya. Inilah alasan kenapa ia selalu menghindari Woo Bin. Ia tidak ingin semakin membenci putranya itu.

Di sisi lain, Woo Bin juga ikut merasakan sakit yang teramat sangat didadanya. Hancur hatinya kala mendengar sendiri dari mulut sang ayah bahwa sang ayah juga membencinya dan turut menyalahkannya atas apa yang telah terjadi. Dada Woo Bin naik turun. Emosinya begitu meledak-ledak saat ini. Akhirnya ia lebih memilih untuk pergi sesegera mungkin dari ruangan ayahnya. Ia takkan sanggup lagi untuk mendengarkan pengakuan lain dari sang ayah yang mungkin akan semakin menghancurkan hatinya. Berkas yang menjadi alasannya datang ia berikan pada Yuri.

“Loh, kenapa tidak jadi?” Tanya Yuri heran kala melihat berkas itu masih ada ditangan Woo Bin.

“Appa sepertinya sedang berbicara serius dengan ahjumma. Aku tidak ingin menganggu mereka, jadi aku titipkan saja disini. Lagipula aku tak bisa berlama-lama.”

Woo Bin menyandarkan punggungnya di jok mobil. Jemarinya menggenggam kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pria itu memejamkan matanya dengan erat. “Itu semua bukan salahku… aku menyayangi Ah Ra… Aku tidak berniat untuk membiarkannya begitu saja…” Suara lirih itu terdengar dari mulut Woo Bin. Guratan kesedihan terlihat begitu jelas diwajahnya. Ia merutuk sikap pengecutnya yang membuatnya hanya diam terpaku tanpa bisa menolong Ah Ra. Sekarang semua orang menyalahkannya serta membencinya. Bahkan ibunya memilih untuk bunuh diri karena tidak sanggup tinggal seatap dengannya.

“Ya Tuhan, kenapa kau membuat hidupku seperti ini?!”

 

 *****

 

 

Jiwon berlari memasuki kamarnya sembari menangis sesegukan. Begitu sampai di kamar, gadis itu langsung mengunci pintu kamarnya. Tubuhnya jatuh terduduk di lantai kamar yang dingin. Kedua tangannya terkepal sempurna dikedua sisi tubuhnya. Dengan kasar Jiwon mengusap-usap bibirnya, berusaha untuk menghilangkan jejak bibir Sehun dibibirnya. Kali ini Sehun sudah melewati batas. Pria itu tak segan-segan melakukan pelecehan terhadap Jiwon. Tadi saat mereka selesai makan malam bersama, tiba-tiba saja Sehun memberhentikan mobil mewahnya didepan sebuah hotel ternama. Hal tersebut tentu saja membuat Jiwon heran. Namun rasa heran gadis itu langsung berubah menjadi amukan kala ia tahu apa niat Sehun mengajaknya kesana.

Tentu saja untuk melakukan hal ‘itu’.

Jiwon yang menolak langsung mendapat tamparan dari Sehun. Namun Jiwon tidak menyerah begitu saja. Ia tetap berontak dan berusaha untuk melindungi dirinya. Pada akhirnya Jiwon berhasil kabur dari cengkraman Sehun. Akan tetapi Jiwon yakin bahwa semuanya tidak akan berakhir sampai disitu.

“Brengsek kau Oh Sehun!” Geram Jiwon, masih sembari mengusap kasar bibir serta lehernya yang ada bekas kissmark dari Sehun. Tangisan Jiwon semakin menjadi-jadi saat ibunya datang dan menggedor pintu kamarnya.

“Buka Jiwon!” Seru ibunya khawatir. Jiwon tetap ditempatnya, tak sedikitpun bergerak. Gedoran dipintu semakin menjadi. “Buka! Atau ibu akan mendobraknya sekarang!”

Jiwon beringsut dari tempatnya dan kemudian membuka pintu kamar. Ibunya langsung masuk dan memeriksa keadaan putri semata wayangnya itu. “Kau kenapa? Kenapa menangis seperti ini? Apa kau terluka?” Tanya ibu Jiwon panic.

Jiwon menatap ibunya dengan pandangan penuh luka. “Sehun, eomma…” Jiwon terisak. “Dia membawaku ke hotel dan dia ingin… melakukan hal itu padaku.” Adu Jiwon.

“Dia… ingin bercinta denganmu?” Ibu Jiwon menatap putrinya dengan intens yang dibalas dengan anggukan lemah oleh Jiwon.

“Lalu kau menolak?”

Jiwon agak sedikit mengernyit kala mendengar nada bicara ibunya yang terkesan tidak suka atas tindakannya itu. Ah, ia pasti hanya salah mendengar, kan?

“Jiwon-ah, bercinta merupakan hal yang wajar bagi sepasang kekasih. Apalagi kalian akan bertunangan dan kemudian menikah. Tak ada salahnya kan melakukan itu untuk membuat Sehun senang?”

Kali ini Jiwon benar-benar ternganga mendengar perkataan ibunya. Ia nyaris merasa bahwa ia sedang bermimpi mendengar ibunya berkata demikian. Mana ada seorang ibu yang setuju jika anak gadisny melakukan hubungan seks sebelum menikah! Ah, ada! Ibunya, Kim Nana. Jiwon menatap ibunya dengan pandangan nanar. Suaranya tercekat dan bibirnya begitu kelu untuk sekedar berkata-kata. Sudah jelas baginya bahwa kedua orangtuanya memang menjual dirinya pada keluarga Sehun hanya demi menyelamatkan perusahaan mereka.

Hancur! Hati Jiwon benar-benar hancur berkeping-keping.

 

 

*****

 

 

Dibawah guyuran air yang dingin, Woo Bin duduk dalam diam. Darah segar mengalir dari pergelangan tangannya yang terkena luka sayatan. Di dunia ini, setiap orang memiliki sisi gelapnya masing-masing. Dan inilah sisi gelap Woo Bin. Jika sedang frustasi dan stress, pria itu akan menyayat-nyayat tangannya untuk menyalurkan rasa frustasi dan sakit yang mendera hatinya. Woo Bin tidak memiliki teman dekat ataupun orang yang dipercaya untuk ia berbagi keluh kesah. Selama ini ia selalu menyimpan semuanya dalam hati, sehingga semakin lama semakin membuatnya merasa lelah dan jenuh pada hidupnya.

“Mianhe Ah Ra-ya… Oppa tidak bermaksud untuk mencelakaimu. Mianhe…”

Pria itu menangis tersedu-sedu. Potongan demi potongan kejadian yang menimpa Ah Ra dan ibunya muncul dalam pikiran Woo Bin. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat adiknya mati tenggelam dan ibunya yang mati akibat gantung diri. Semua itu membuat batin Woo Bin terguncang.

“AAAARGGGH!!!” Woo Bin berteriak frustasi.

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

8 tanggapan untuk “Dark Side (Part 2)

  1. halo aku reder baru .. mohon ijin untuk baca FF nya..
    ceritannya menarik.. kedua orang itu memiliki latar belakang yg sama.. woo bin ama jiwon.. tak mendapatkan kebahagian 🙂 apakah mereka akan bersatu untuk sebuah kebahagiaan.. next^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s