Diposkan pada Chapters

Crashed (Part 5)

1404130212061

 

Author : Cho Haneul
Title      : Crashed
Type     : Chaptered
Genre  : Romance, Drama

SPECIAL THANKS TO MY SISTER FOR THE POSTERS :*

Cast :
– Park Boyoung
– Nam Bora
– Kris Wu
– Kim Jongin
– Kang Seulgi

_______________________________________

 

Boyoung masih terpaku ditempatnya, tak sedikitpun berani bergerak. Tatapan Min Woo benar-benar menusuknya. Sekelebatan kenangan kelam dimasa lalu muncul dikepala Boyoung.

Saat itu, Boyoung dan Nara yang masih duduk dibangku sekolah menengah pertama, dicegat oleh sekawanan murid perempuan dari sekolah menengah atas. Boyoung langsung mengkeret takut karena ia tahu bahwa murid-murid itu adalah tukang bully dan anggota gang wanita. Nara yang jauh lebih pemberani berdiri didepan, melindungi sahabatnya itu.

Seperti yang sudah diduga, murid-murid wanita itu menginginkan uang mereka. Tentu saja Boyoung dan Nara berontak. Disaat keadaan yang sudah semakin kacau, salah seorang pembully mengeluarkan sebuah gunting dari dalam tas sekolahnya. Boyoung langsung terdiam. Ia panik, takut jika gunting itu akan melukai dirinya.

“Na…nara-ya…” Bisik Boyoung panik.

Salah seorang pembully menarik Nara mendekat. “Baiklah, karena kalian yang meminta maka aku tak punya pilihan lain.” Ucap si pembully sembari mengarahkan gunting itu ke rambut Nara. Nara berteriak histeris, dan Boyoung yang saat itu sudah ketakutan malah berlari pergi meninggalkan sahabatnya bersama para pembully itu.

“Boyoung-ah!!!!” Teriak Nara.

Boyoung terus berlari. Ia ingin menolong Nara, namun ia juga takut jika harus kembali kesana dan bertatap muka dengan para pembully itu. Dan semenjak kejadian itu, Nara selalu menjadi bulan-bulanan para pembully. Ia acap kali disiksa tanpa ada yang berniat membantu. Semua teman-teman Nara terlalu takut untuk ikut campur menghadapi para pembully yang terkenal nekat itu. Nara yang saat itu begitu terpukul merasa benar-benar sendirian. Bahkan Boyoung ikut menjauhinya. Karena semua beban itu, akhirnya Nara memutuskan untuk gantung diri.

“Sudah ingat apa kesalahanmu?” Nada suara Min Woo terdengar begitu tajam dan sinis. Boyoung menangis. “Mianhe oppa… jal mothaeseo…” Isak Boyoung. Rahang Min Woo mengeras. Kedua tangannya terkepal sempurna disisi tubuhnya.

“KEMBALIKAN ADIKKU BRENGSEK!” Min Woo berteriak murka sembari mengguncang-guncangkan tubuh mungil Boyoung. Mata namja itu memerah. Ia juga menangis. “Kau tahu, karenamu dan teman-teman brengsekmu itu, aku harus kehilangan adikku yang manis. Karena kematian Nara yang begitu tiba-tiba membuat ibuku menjadi stress. Kau bisa bayangkan betapa hancurnya keluargaku?!” Min Woo menatap Boyoung penuh amarah. Cengkaramannya dibahu Boyoung semakin menguat hingga membuat gadis bertubuh mungil itu meringis kesakitan.

“Cepat katakan padaku bagaimana kau akan membayar semua kesalahanmu?!”

“Nan… molla… mianhe…” Boyoung menunduk dalam, sama sekali tidak berani untuk menatap Min Woo. Min Woo tertawa sinis. Dengan sekali dorongan, tubuh mungil Boyoung sudah terjerembab ke tanah. Boyoung meringis menahan sakit, tapi tidak sedikitpun ia mengeluh. Boyoung sadar bahwa ini merupakan balasan atas segala kesalahannya dimasa lalu. Bahkan ini semua tidak sebanding dengan rasa sakit yang dulu Nara rasakan.

Min Woo berjalan perlahan menghampiri Boyoung. Dengan kasar ia menarik Boyoung hingga berdiri. “Jangan kau pikir aku akan terenyuh melihat wajah brengsekmu itu.”

“Apa yang kau lakukan pada adikku?” Sebuah suara yang terkesan dingin menginterupsi aksi Min Woo. Pria itu menoleh dan mendapati Kris yang berdiri tak jauh sembari menatapnya tajam. Dengan langkah yang lebar, Kris menghampiri kedua orang itu. Ia melepaskan tangan Min Woo yang masih mencengkram lengan Boyoung. Dibawanya Boyoung kebelakang tubuhnya. Min Woo tersenyum sinis. “Apa kau akan selalu ikut campur dalam urusanku dan gadis kecil itu?” Tanya Min Woo sinis.

“Ya, selama kau berurusan dengan adikku. Dari awal aku sudah tahu ada yang tidak beres dengan kalian. Apa yang kau inginkan?” Kris menatap Min Woo tajam.

“Hmm… yang kuinginkan?” Min Woo terlihat berpikir, dan tak lama sebuah seringaian muncul diwajahnya. Ia menatap lurus kearah Boyoung. “Balas dendam atas kematian adikku.”

“Apa maksudmu?”

Min Woo tertawa kecil. “Kau bisa menanyakannya pada adik kecilmu itu atas apa yang ia pernah lakukan pada adikku dimasa lalu.” Min Woo menghembuskan napas dengan kasar. “Baiklah, sepertinya untuk hari ini cukup sampai disini. Sampai bertemu secepatnya.” Min Woo melambaikan tangannya asal.

Kris masih menatap kepergian namja itu dengan tajam. Setelah Min Woo benar-benar pergi, ia berniat untuk meminta penjelasan pada Boyoung. Namun yang didapatinya adalah Boyoung yang benar-benar kacau. Gadis itu masih menangis sesegukan, bahkan tampak sulit bernapas. Boyoung menggelengkan kepalanya. “Jal mothaesso… Nara mianhe… jal mothaesso…” Ucapnya berulang-ulang. Tubuh Boyoung langsung beringsut jatuh. Ia pingsan. Beruntung Kris sempat menangkap tubuh mungilnya sebelum membentur tanah yang dingin.

“Boyoung-ah, ireonna!”

 

*****

 

 

“Mwo? Pesta? Naega sirheo!” Ujar Bora ketus, membuat Kai mendengus kesal.

“Kau lupa bahwa kau masih berstatus sebagai pesuruhku?” Kai menatap tajam kearah Bora. “Lagipula kau hanya perlu menemaniku. Hanya itu saja. Tidak susah kan?”

“Tapi aku tidak mengenal si penyelenggara pesta. Aku cukup tahu diri untuk tidak datang tanpa diundang.” Ujar Bora.

“Aku tidak mau tahu pokoknya jam 7 malam nanti aku akan menjemputmu. Dan kau harus sudah siap pada saat itu!” Kai berkata dengan nada tegas. Ia sama sekali tidak ingin mendengar penolakan dari Bora. Pokoknya mau tidak mau gadis itu harus ikut dengannya ke pesta nanti malam. Kai memang sengaja untuk mengajak Bora ikut serta. Ia melakukan itu untuk menghindar dari gadis-gadis yang berebut ingin pergi bersamanya. Yah, bisa dikatakan jika ia ingin memanfaatkan Bora untuk menghalau gadis-gadis itu.

Kai menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Bora. Keadaan tangannya sudah membaik, sehingga ia sudah dapat menyetir kembali. Bora sendiri berharap agar Kai segera pulih. Jadi dengan begitu masa penderitaannya akan berakhir. Kesabarannya nyaris habis dalam menghadapi tingkah pola Kai yang begitu menyebalkan.

“Jangan lupa jam 7 malam nanti!” Ujar Kai saat Bora akan keluar dari dalam mobilnya. Bora hanya berdeham mengiyakan.

“Dasar pemaksa!” Gumam Bora sebal.

00284

 

*****

 

 

_AT THE PARTY_

Ini pertama kalinya bagi Bora untuk pergi ke pesta malam seperti ini. Meskipun ia sudah delapan belas tahun, namun gadis itu masih begitu awam dengan kehidupan malam. Wajar saja, mengingat Bora adalah tipe yeoja rumahan yang lebih senang duduk diam di rumah.

Pesta teman Kai diadakan disebuah club malam elit di daerah Gangnam. Bora melihat keadaan sekitar dengan perasaan tidak nyaman. Ia tidak suka berada di tempat seperti itu. Terakhir kali ia mendatangi club malam, akhirnya tidak begitu baik. Jadi Bora agak trauma dengan tempat seperti ini. Bora tampak cantik dengan dress putih berdesain simple yang bagian bawahnya berwarna hitam. Wajahnya pun hanya dipolesi make up natural, berbeda dengan kebayakan yeoja disana yang make up-nya tebal serta berpakaian minim. Namun penampilan Bora yang begitu sederhana justru menjadi daya tarik tersendiri. Sudah tak terhitung berapa pasang mata pria yang menatapnya penuh minat.

3

“Kai…” Bora memegang lengan Kai. Ia benar-benar merasa tak nyaman. Kai sepertinya sadar dengan keadaan gadis itu. Ia menggenggam tangan Bora dengan erat. “Tenang saja. Kau hanya perlu diam dan jangan jauh-jauh dariku, ara!” Ucap Kai. Bora mengangguk paham.

Kai menggandeng Bora menuju sebuah meja besar yang dipadati oleh beberapa pria dan wanita muda. Kim Woo Bin, si pemilik pesta, menyambut Kai dengan ramah.

“Aku pikir kau tidak datang. Neo yeojachingu?” Woo Bin tersenyum sembari melirik sekilas kearah Bora. Kai tertawa kecil. “Aniya. Keunde, khusus di pesta ini ia adalah pasanganku.”

Woo Bin tertawa mendengar perkataan Kai. “Ah, ingin menjauh dari yeoja-yeoja kelaparan itu, eo? Lihat mereka, begitu mengenaskan.” Ucap Woo Bin sembari menatap kearah sekumpulan yeoja yang sedang histeris karena melihat Kai datang dengan Bora. Kai menoleh sekilas kearah yeojadeul itu. Ia mendengus tidak peduli. “Kenalkan, ini Bora. Bora ini Woo Bin.”

“Annyeonghaseyo Bora imnida.” Bora mengulurkan tangannya.

“Woo Bin.” Woo Bin tersenyum ramah. “Semoga kalian bersenang-senang disini.”

Bora hanya tersenyum basa-basi. ‘Cih, mana mungkin bisa bersenang-senang ditempat pengap dan berisik seperti ini.’ Keluh Bora dalam hati.

Kai menoleh sesaat kesamping. Ia mendapati seorang gadis tengah menatapnya begitu intens. Gadis dengan wajah yang cukup cantik itu sudah lama memperhatikan Kai. Tepatnya sejak namja itu menapakkan kakinya kedalam club. Kai membuang muka, berpura-pura tidak melihat keberadaan gadis itu, atau lebih tepatnya ia memang tidak peduli. Gadis itu mengepalkan tangannya dengan begitu erat. Betapa ingin ia menghampiri Kai dan menyingkirkan gadis yang dibawa oleh namja itu.

“Seulgi-ya, wae geure?”

Gadis yang bernama Kang Seulgi itu menggeleng pelan. “Aniya. Aku ke toilet dulu.”

 

 

*****

 

 

Lena baru saja keluar dari kamar Boyoung. Sudah beberapa jam ia berada didalam sana guna untuk menjaga Boyoung yang tengah sakit. Lena mengambil tempat disebelah Kris. “Bagaimana dia?” Tanya Kris.

“Sudah jauh lebih baik.” Jawab Lena. Lena menggenggam tangan Kris. Ditatapnya sang putra dengan serius. “Apa terjadi sesuatu sebelum Boyoung pingsan?”

Kris terdiam. Menimbang-nimbang apakah ia harus mengatakan soal pertemuan Boyoung dan Min Woo atau tidak. Pada akhirnya Kris memutuskan untuk mengatakan semua yang ia tahu. Ia yakin bahwa ini merupakan hal yang serius, dan sebenarnya ia pun cukup penasaran dengan hubungan antara Boyoung dan Min Woo. Gadis itu selalu ketakutan tiap bertemu dengan Min Woo.

“Dia bertemu dengan seorang namja. Kalau tidak salah namanya Min Woo. Dan jujur saja, aku merasa aneh dengan pria itu. Boyoung selalu terlihat ketakutan kala bertemu dengan Min Woo.”

Lena menghela napas. Wajah wanita paruh baya itu terlihat begitu sendu. “Beberapa hari yang lalu eomma menemukan Boyoung yang tengah menangis tersedu-sedu di kamarnya. Dan kau tahu,  dia bilang bahwa ia telah membunuh temannya. Awalnya ia tidak mau bercerita lebih banyak pada eomma, keunde setelah eomma membujuknya ia baru mau bercerita. Dulu, ia memiliki seorang sahabat bernama Nara. Suatu hari mereka berdua dibully oleh gang wanita SMA. Boyoung yang begitu ketakutan meninggalkan Nara sendirian disana, hingga Nara menjadi bulan-bulanan anggota gang tersebut. Setelah kejadian itu, Nara semakin sering dibully dan tidak ada satu orangpun yang menolongnya, termasuk Boyoung. Pada akhirnya, Nara memutuskan untuk bunuh diri. Boyoung merasa bahwa itu merupakan kesalahannya. Ia merasa bahwa secara tidak langsung ia sudah membunuh Nara.” Jelas Lena.

Kris terdiam mendengar cerita ibunya tersebut. “Kalau begitu, berarti adik yang dimaksud Min Woo adalah Nara.” Ujar Kris.

Lena memandang putranya. “Ya, begitulah.”

Terjawab sudah rasa keingintahuan Kris. Sekarang ia mengerti arti dari tatapan penuh benci yang selalu dilayangkan oleh Min Woo pada Boyoung, dan tatapan penuh sesal dan takut yang selalu ditunjukkan Boyoung setiap bertatapan dengan Min Woo. Kris tidak pernah menyangka bahwa Boyoung yang biasanya selalu terlihat ceria ternyata memiliki masalah sepelik ini. Ia menjadi iba pada adik angkatnya itu.

“Yang eomma takutkan, aksi Min Woo tak hanya sampai disini. Eomma takut jika ia akan mencelakai Boyoung. Bukannya menuduh, keunde menurut cerita Boyoung, Min Woo sangat menyayangi Nara dan kejadian hari ini semakin menguatkan prasangka eomma.” Ujar Lena dengan wajah cemas. Diremasnya tangan Kris yang ada digenggamannya. “Berjanjilah bahwa kau akan menjaga Boyoung. Ia sudah tidak memiliki siapapun. Ia hanya memiliki kita disisinya.”

“Ne, eomma.”

 

 *****

 

 

Malam semakin larut, namun suasana pesta malah semakin ramai. Woo Bin memang sudah menyewa bar tersebut sampai tengah malam nanti. Dan Bora, dengan amat sangat terpaksa ia harus berbohong pada orangtuanya. Bora berkata bahwa ia akan menginap di rumah Jiyoung, sahabatnya. Ia memang akan menginap di rumah Jiyoung, tapi itu semua bukan karena tugas seperti apa yang ia katakan. Bisa mengamuk ayah dan ibunya jika tahu bahwa anak gadis mereka menghabiskan malam disebuah pesta di club malam.

Bora melirik malas kearah Kai. Demi apapun, ia merasa bosan berada disana. Sedikitpun tak ada rasa nyaman seperti kebanyakan orang. Sedari tadi, hal yang dilakukan Bora hanya duduk manis disisi Kai. Kai sempat mengajaknya untuk turun ke lantai dansa, namun hal tersebut langsung ditolak oleh Bora. Walhasil, Kai tetap turun untuk dansa, dan Bora tetap duduk manis ditempatnya. Namun sebelumnya Kai telah menitipkan Bora pada salah seorang temannya, dengan ancaman jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Bora maka Kai akan membuat perhitungan pada temannya itu.

“Kai, apa kita masih akan lama disini?” Tanya Bora.

“Wae? Bukankah kau akan menginap di rumah Jiyoung?” Namja itu menatap Bora.

“Iya. Keunde, tetap saja rasanya tidak sopan jika aku datang terlalu malam.”

“Kita bisa booking kamar di hotel.” Ujar Kai seenaknya. Bora memukul kepalanya lumayan keras. “Bersihkan otakmu dari hal-hal nista seperti itu. Dasar namja brengsek!”

“Terserah kau saja!”

Bora mendengus kesal. Gadis itu mengambil tas tangannya. “Aku mau ke toilet.” Ucapnya pada Kai.

“Perlu diantar nona muda?”

“Tidak perlu. Aku bisa sendiri!” Ketus Bora. Ia berjalan menuju toilet, namun kemudian ia merasakan tangannya digenggam oleh seseorang. Kai berjalan disisi Bora sembari menggenggam tangan gadis itu erat. Beberapa pasang mata, terutama gadis-gadis menatap mereka dengan perasaan iri. Bahkan tak ayal gadis-gadis itu mengutuk Bora karena sudah dengan lancangnya bergandengan tangan dengan Kai.

“Aku tunggu disini. Jangan lama-lama! Setelah itu kita pulang.” Ujar Kai sesaat sebelum Bora masuk kedalam toilet wanita.

Toilet dalam keadaan kosong, dan Bora bersyukur akan hal itu. Ia sudah lelah dengan tatapan penuh benci yang sedari tadi dilayangkan pada dirinya. Kim Jongin benar-benar merupakan malapetaka untuknya!

Saat sedang  mencuci tangan, bilik yang ada dibelakang Bora terbuka. Bora melihat sosok yang baru keluar itu melalui cermin. Seketika gadis itu tersentak kaget. Ia langsung menoleh ke belakang. “Kang Seulgi?” Tanyanya untuk memastikan.

Seulgi menatap Bora dingin. “Oraemaniyeyo.” Ucapnya dengan nada datar. Tatapannya begitu menusuk, membuat Bora agak merasa tak nyaman.

Bora mengenal Seulgi karena gadis itu merupakan teman sekelasnya saat di Junior High School. Hubungan keduanya memang tidak bisa dikatakan cukup baik. Seulgi selalu menganggap Bora adalah saingan terbesarnya. Mulai dari urusan pelajaran sampai mendapatkan namja. Seulgi semakin membenci Bora saat Bora mendapatkan juara umum dan dinobatkan menjadi queen untuk sekolah mereka. Terlebih namja yang disukai Seulgi malah menyukai Bora dan sempat berpacaran dengan Bora.

“Kau tidak berubah sedikitpun. Tetap cantik.” Ucap Bora ramah. Setidaknya ia berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka yang tak terlalu baik.

Seulgi tersenyum sinis. “Neo ddo. Tetap selalu merebut apapun yang kuinginkan.”

Perkataan Seulgi membuat Bora tersentak. Gadis itu mengerjab tak mengerti. Sebelum ia sempat bertanya, Seulgi sudah berjalan keluar dari toilet wanita, meninggalkan Bora yan berdiri kebingungan. “Apa sih maksudnya?” Gumam Bora seraya mengacak rambutnya sebal.

Kai-HIGH-CUT-exo-k-29743899-1181-1747

Kai masih berdiri didepan toilet, dan itu cukup membuat Bora terkesan. Ia tidak berharap akan menemukan Kai masih menunggunya, mengingat sifat namja itu yang begitu cuek dan angkuh. Kai kembali menggandeng tangan Bora. Gadis itu mendongak untuk menatap Kai yang jauh lebih tinggi daripada dirinya. Ekspresi Kai datar dan rahangnya begitu tegas. Diam-diam Bora mengagumi wajah namja yang dibencinya itu.

“Wae?” Tanya Kai, merasa tengah diamati.

Bora nyaris tergagap. “Tidak ada apa-apa.”

 

******

 

 

Sebenarnya Boyoung belum diizinkan untuk masuk sekolah, mengingat kondisinya yang belum terlalu pulih. Namun Boyoung tetap bersikeras untuk berangkat ke sekolah. Ada ulangan harian yang wajib ia ikuti. Kris menatap Boyoung sekilas dan kemudian kembali berkonsentrasi dibalik kemudinya. Boyoung menatap kosong keluar jendela mobil.

A_Werewolf_Boy Park Bo Young

Kris menghentikan mobilnya didepan sekolah. “Terima kasih oppa.” Ucap Boyoung sembari tersenyum kecil. Terlihat begitu dipaksakan.

“Berhenti untuk menyalahkan dirimu sendiri. Sudah saatnya kau berdamai dengan dirimu sendiri.”

86438828gw1dx3fklc6h8j

Boyoung terdiam membisu mendengar ucapan Kris. Gadis itu lalu menoleh menatap kakak tirinya itu, sedangkan Kris menatap lurus kedepan. Tanpa berkata apa-apa, Boyoung langsung keluar dari dalam mobil. Perkataan Kris menjadi bahan renungan untuk Boyoung. Bukannya tidak ingin untuk berdamai dengan dirinya sendiri, namun Boyoung merasa dirinya memang patut untuk disalahkan. Andai saja ia tidak meninggalkan dan menjauhi Nara, maka sekarang Nara pasti masih berada didunia ini. Boyoung begitu terlarut dalam pikirannya hingga ia tidak menyadari ada orang yang berjalan berlawanan arah dengannya.

BUK

“Ah, jeseonghamnida!” Seru Boyoung panic.

“Kau lagi! Jangan-jangan kau memang sengaja melakukan ini.” Kai menatap Boyoung kesal, membuat gadis bertubuh mungil itu ketar-ketir. Boyoung membungkuk. “Mianhamnida Jongin-ssi. Aku benar-benar tidak sengaja.”

Kai hanya menatap Boyoung dingin dan kemudian namja itu melengos pergi. Boyoung menghembuskan napas lega sembari mengelus dadanya. “Nyaris saja.” Gumam Boyoung.

 

 

*****

 

 

tumblr_m47uvssU151qj3bjeo1_1280

“Min Woo-ssi!” Panggil Kris. Min Woo menoleh, dan ekspresinya langsung berubah dingin begitu tahu bahwa yang memanggilnya adalah Kris. “Kita perlu bicara.” Nada bicara Kris begitu serius, seserius wajahnya yang tengah menatap tajam kearah Min Woo.

“Soal adik kecilmu itu?”

“Aku minta kau berhenti mengganggu Boyoung. Kematian adikmu bukan kesalahan Boyoung.”

Min Woo berdecak kesal. “Lantas kesalahan siapa? Jika saja adikmu tidak meninggalkan Nara sendirian, maka Nara tak mungkin nekat untuk bunuh diri. Karena dia keluargaku jadi hancur. Aku bersumpah akan membuat gadis itu merasakan rasa sakit yang sama seperti rasa sakit keluargaku saat kehilangan Nara!” Ujar Min Woo.

Kris mencengkram kerah baju Min Woo. “Coba saja, dan kau akan menyesal!”

*****

 

 

Kai mengerang kesakitan. Keringat sudah membasahi tubuhnya. Ia kini terduduk lemah dengan bersandar di dinding gedung belakang sekolah. Tidak ada siapapun disana. Tubuh Kai menggigil hebat, giginya bergemeletuk, dan tangannya mencengkram perutnya dengan kuat. Kai tidak sedang sakaw, melainkan ia sedang mengalami masalah dalam pencernaan. Sejak kecil pencernaan Kai memang lemah. Perutnya akan terasa sangat sakit jika ia telat makan atau jika ia terlalu kenyang. Tidak ada yang tahu mengenai hal tersebut, bahkan ayahnya sendiri maupun Sehun yang notabennya dekat dengan Kai. Hanya mendiang ibunya yang tahu mengenai penyakit Kai tersebut.

“Argh!”

Kai langsung mendongak begitu mendengar suara langkah kaki seseorang. Pria itu panic. Ia sedang tidak ingin bertemu siapapun dalam kondisi yang lemah dan memalukan seperti ini. Yah, bagi Kai ini merupakan suatu aib baginya. Bagaimana tanggapan teman-temannya jika mereka tahu bahwa seorang Kim Jongin memiliki penyakit pencernaan?

“Omo!” Seru suara seorang gadis begitu ia melihat Kai yang tengah terduduk lemah.

“Shit! Kau lagi!” Umpat Kai begitu melihat bahwa gadis yang datang adalah gadis yang sudah dua kali menabraknya, Park Boyoung. Boyoung terlihat begitu kaget. Ia sama sekali tidak berharap akan bertemu dengan Kai disana. Padahal ia ingin menenangkan diri dengan pergi ke taman belakang sekolah, namun ia malah jadi semakin stress karena bertemu dengan Kim Jongin, the biggest troublemaker in school.

Boyoung sudah berniat untuk pergi secepatnya, enggan berurusan terlalu lama dengan Kai. Akan tetapi suara erangan Kai membatalkan niatnya. Boyoung menjadi iba melihat kondisi Kai yang lemah seperti itu. Alih-alih pergi, Boyoung justru menghampiri Kai.

“Kau kesakitan. Ayo, aku antarkan ke UKS.” Boyoung menawarkan bantuan. Kai menggeleng pelan. “Tidak perlu. Aku bisa mengatasi ini.” Ucapnya terengah-engah. Wajah Kai sudah pucat pasi, terlihat begitu menderita. Boyoung agak terkesiap begitu memegang tangan namja itu yang begitu dingin. Jelas Kai harus dapat pertolongan secepatnya. “Tapi kau….”

“Bisakah kau diam?!” Tanya Kai dengan nada tajam yang langsung membuat nyali Boyoung menciut. Kai memejamkan matanya, menahan sakit yang amat sangat dibagian perutnya, seperti ditusuk-tusuk oleh benda tajam. Boyoung menatap namja itu dalam diam. Sebenarnya ia ingin pergi, namun hati kecilnya tidak tega untuk membiarkan Kai begitu saja. Ia merasa tidak benar jika harus meninggalkan Kai. Boyoung menghela napas. Akhirnya ia memutuskan untuk menemani Kai disana. Gadis itu menatap Kai cemas. “Apa yang bisa kulakukan?” Tanya Boyoung.

“Kau benar-benar ingin menolongku?” Boyoung mengangguk mantap. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Kai langsung merebahkan kepalanya dipaha Boyoung. Gadis itu kaget dengan tindakan tiba-tiba Kai. “Ya, apa yang sedang kau lakukan?!” Pekik Boyoung.

“Aku lelah, biarkan aku tidur.”

Mendengar suara Kai yang begitu lemah dan lirih membuat Boyoung iba. Dengan terpaksa ia merelakan pahanya menjadi alas kepala Kai. Diam-diam Boyoung mengamati wajah pucat Kai. Ini pertama kalinya ia menatap wajah Kai secara dekat seperti ini. Boyoung membayangkan reaksi fans perempuan Kai jika melihat mereka dalam posisi seperti ini. Pasti akan heboh dan akan menimbulkan kesalahpahaman.

‘Semoga tidak akan ada yang melihat kami.’ Harap Boyoung.

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

9 tanggapan untuk “Crashed (Part 5)

  1. aigoo apakah akan terjadi cerita cinta seigi empat tau apa??
    kai ama buyong tau bora?? aku lira tadi yg lahat bora ternyata salah keke 🙂
    blm baca ceritannya dari awal sepertinnya menarik keke 🙂
    di tunggu kisah selanjutnnya..

  2. Iih ak gregetan sama ff ini..

    Apalagi sama kisah Kai-Bora.. bikin ak makin penasaran sama kisah mereka d part” slanjutnya… 😤

    Jebal part selanjutnya jangan kelamaa di update ya.. kabari aku kalau part 6 sudah keluar.. 😰(kesannya maksa 😛)

    Ah 😮 yg terakhir.. banyakin moment Kai-Bora nya dunkkk author.. plisss 🙏

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s