Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

Dark Side (Part 3)

1405178199602

Author : Cho Haneul
Title       : Dark Side
Type      : Chaptered
Genre    : Angst, Drama, Romance

Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Oh Sehun
– Lee Sunkyu (SNSD’s Sunny)
– Kim Jonghyun

_________________________

 

Jiwon berjalan tak tentu arah. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, namun tak sedikitpun gadis itu berniat untuk pulang ke rumah. Untung apa, pikirnya. Toh, ibunya pasti akan kembali memarahi dirinya karena lagi-lagi telah membuat Sehun marah. Jiwon sudah muak dengan semua yang ada sangkut pautnya dengan Sehun!

Jiwon merasa ponselnya kembali bergetar. Tanpa melihat ia sudah tahu bahwa yang sedang menelpon pasti sang ibu. Jiwon kembali mengabaikan panggilan tersebut. Sebuah bis baru saja tiba, dan tanpa pikir panjang Jiwon langsung masuk kedalam bis. Ia tidak peduli kemana bis tersebut akan membawanya pergi.

Saat ini Jiwon hanya ingin pergi…

Pergi yang jauh…

 

*****

 

 

_ZEUS CLUB, Gangnam, Seoul_

Woo Bin menatap datar kearah teman-temannya yang sedang menari gila-gilaan dilantai dansa club malam tersebut. Seperti biasa, jika sedang stress Woo Bin akan menemui teman-temannya tersebut. Pria itu hanya tidak suka sendirian. Yah, walaupun pada faktanya ia tetap merasa sendirian ditempat yang begitu ramai itu. Woo Bin menenggak segelas Vodka. Tanpa menunggu teman-temannya, Woo Bin beranjak pergi.

Woo Bin berhenti disisi mobilnya saat matanya menangkap sosok gadis yang terasa familiar baginya. Woo Bin memperhatikan gadis yang tengah berjalan dengan canggung memasuki wilayah club malam. Tampak sekali bahwa gadis itu baru pertama kali menjejakkan kakinya ditempat seperti ini. Sejenak gadis itu berhenti didepan club malam, tampak ragu-ragu untuk masuk kedalam.

“Kim Jiwon…” Gumam Woo Bin pelan saat ia mengingat nama gadis yang beberapa waktu lalu pernah ditolongnya. Entah ada angin apa Woo Bin malah mengurungkan niatnya untuk pulang dan malah mengikuti Jiwon yang sudah masuk kedalam diskotik.

Di dalam, tak sedetikpun Woo Bin mengalihkan perhatiannya dari Jiwon. Bisa dibilang pria itu bersiaga untuk menjaga gadis itu jikalau ada pria-pria iseng yang menganggunya. Jiwon duduk didepan bartender. Gadis itu memesang segelas martini. Jiwon masih tidak sadar bahwa ia tengah diamati oleh Woo Bin yang duduk tak jauh darinya. Segelas martini tersaji dihadapan Jiwon. Sejenak ia tampak ragu, sebelum pada akhirnya ia menyesap martini tersebut. Jiwon mengernyit saat merasakan sensasi dari minuman beralkohol tersebut. Dengan sekali teguk, Jiwon menghabiskan isi gelasnya. Gadis itu terbatuk-batuk. Kerongkongannya tidak terbiasa menerima minuman beralkohol.

“Baru pertama kali minum?”

Jiwon menoleh dan melihat seorang pria dewasa tengah tersenyum menggoda kearahnya. Jiwon menatap pria itu datar. “Aku Siwon.” Pria itu mengulurkan tangannya, masih dengan senyum yang terpatri diwajahnya yang tampan. “Mau pesan minum lagi? Aku yang traktir.” Tawar Siwon, berharap bahwa kali ini ia akan mendapat respon dari Jiwon.

“Maaf, tapi gadis ini bersamaku.” Sebuah suara menginterupsi usaha Siwon. Jiwon menoleh dan gadis itu agak mengernyit kaget saat melihat Woo Bin berada disana. Apalagi tanpa permisi Woo Bin menarik tangan Jiwon, setelah meletakkan beberapa lembar won diatas meja bar. Jiwon pasrah saja saat Woo Bin menariknya keluar dari diskotik, dan berakhir di dalam mobil sport hitam milik Woo Bin.

Kedua insan itu masih terdiam, sampai akhirnya Woo Bin membuka suara. “Maaf karena aku menarikmu tiba-tiba.”

“Gwenchana. Aku tahu bahwa kau hanya ingin menolongku.” Jiwon menjawab pelan.

Woo Bin melirik kearah jam tangannya. Jam 11 malam. Ia kemudian kembali mengalihkan pandangannya kearah Jiwon. “Apa yang kau lakukan ditempat ini? Kau tidak terlihat seperti penikmat dunia malam.” Ucap Woo Bin.

“Ne, aku memang bukan penikmat dunia malam. Aku hanya ingin mencoba suasana baru. Yah, siapa tahu keramaian disini bisa menghiburku.” Jawab Jiwon sambil tersenyum getir. Woo Bin terdiam melihat itu. Lagi-lagi ia menemukan kesamaan dirinya dengan gadis yang baru dikenalnya ini. Mereka sama-sama kesepian.

“Penat dengan hidupmu?” tanya Woo Bin lagi.

Jiwon mendesah pelan. “Sangat. Sampai rasanya ingin mati.”

Woo Bin menatap intens kearah Jiwon. “Mau menghabiskan malam yang buruk ini bersama?” Ajak pria berwajah tegas itu. Jiwon menatapnya lama, dan kemudian menganggukkan kepalanya. “Bukan ide yang buruk. Ayo!”

 

*****

 

Semalaman kedua insan itu berjalan-jalan mengelilingi Seoul dengan menggunakan mobil Woo Bin. Memang tidak ada banyak percakapan diantara mereka, namun keduanya merasa nyaman dengan kehadiran satu sama lain. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk mereka.

Menjelang pagi Woo Bin mengantarkan Jiwon pulang. “Terima kasih atas semuanya. Senang bisa mengenalmu.” Ucap Jiwon.

Woo Bin tersenyum manis. Senyuman tulus yang sudah lama tidak pernah ia perlihatkan pada orang lain. “Kita masih bisa bertemu, bukan?”

Jiwon mengangguk pasti. “Tentu saja! Kau tahu kemana harus mencariku. Aku masuk dulu. Hati-hati dijalan.” Jiwon melambaikan tangannya. Woo Bin menunggu sampai gadis itu menghilang dibalik gerbang rumahnya yang mewah, baru setelah itu ia pergi.

 

*****

 

 

Beruntung bagi Jiwon karena kedua orangtuanya tidak sadar bahwa anak gadis mereka semalaman tidak pulang. Mereka terlalu sibuk memikirkan kelangsungan bisnis mereka yang tengah diambang kehancuran. Suasana dimeja makan pagi itu begitu sunyi.

Tuan Kim berdeham, membuat Jiwon menatap sang ayah. Pasti ada hal yang ingin ayahnya sampainya. “Bersiap-siaplah. Dua jam lagi keluarga Oh akan menjemputmu.” Ujar tuan Kim. Jiwon mengernyit bingung. “Untuk apa?”

“Mereka ingin mengajakmu liburan di villa mereka. Tak ada penolakan. Kau wajib ikut.”

“Tapi…”

“Jiwon, dengarkan apa yang dikatakan ayahmu!” Seru Nyonya Kim.

Jiwon menggengam erat sendok dan garpu yang ada ditangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Jiwon marah. Ia merasa tidak dihargai sebagai seorang anak. “Terserah kalian saja.” Jiwon bangkit dari duduknya dan beranjak pergi.

 

 

*****

 

 

“Ah, senang sekali karena Jiwon bersedia ikut bersama kami. Liburan ini akan menjadi sangat menyenangkan. Kita akan bersenang-senang disana. Kau pasti suka dengan villa kami.” Ujar Nyonya Oh sembari tersenyum sumringah. Jiwon duduk dibelakang bersama Nyonya Oh, sedangkan Sehun duduk dikemudi dengan Tuan Oh disebelahnya.

Meskipun Jiwon benci setengah mati pada Sehun, namun gadis itu selalu bersikap baik pada kedua orang tua Sehun. Jiwon memang tidak terlalu akrab dengan Nyonya maupun Tuan Oh, tapi sejauh ini mereka berlaku baik padanya. Selama diperjalanan Nyonya Oh tak henti-hentinya berbicara. Wanita paruh baya itu memang tipe orang yang tidak bisa diam. Ada saja yang menjadi bahan obrolannya. Entah itu soal fashion, gossip mengenai selebritis sampai pejalan kakipun bisa menjadi bahan obrolan untuknya. Posisi Jiwon pun hanya sebagai pendengar dan sesekali memjawab pertanyaan Nyonya Oh. Yah, Nyonya Oh terlalu mendominasi.

Sebenarnya Jiwon amat sangat lelah dan mengantuk. Semalaman berjalan-jalan mengelilingi Seoul bersama Woo Bin membuatnya terjaga sepanjang malam. Ngomong-ngomong soal Woo Bin, Jiwon jadi kembali mengingat malam panjang yang mereka habiskan berdua. Tanpa sadar Jiwon malah jadi tersenyum sendiri.

“Aku tidak sabar menunggu peluncuran Tiffany & CO yang baru. Ada kalung dan gelang yang sudah sangat lama aku incar. Kau juga suka Tiffany & CO?”

“Eh?” Jiwon tersadar dari lamunannya. Gadis itu tersenyum kikuk. “Ah ne, naega joa.”

“Ah, kalau begitu kita harus membeli produk baru itu.”

 

 

*****

 

 

Villa keluarga Sehun memang indah dan mewah, seperti yang dikatakan oleh Nyonya Oh sebelumnya. Jiwon bahkan langsung suka pada pandangan pertama. Villanya berada di tengah danau dan dikelilingi hutan yang indah. Bahkan dibuat jembatan khusus untuk sampai ke villa keluarga Oh yang memang terletak ditengah danau itu. Tak cukup sampai disitu, villa yang ini juga dikelilingi oleh berbagai tanaman indah dan langka. Persis seperti istana-istana dalam negeri dongeng.

Namun ekspresi kagum Jiwon langsung berganti kala ia melihat betapa kotornya isi dalam villa tersebut. Keluarga Oh yang kaya ini tak mungkin kan tidak mampu untuk sekedar membayar penjaga villa?

“Harap maklum ya Jiwon. Penjaga villa kami yang lama sudah mengundurkan diri 3 minggu yang lalu. Kami belum menemukan orang yang pas untuk menjaga villa ini. Keluarga Oh tidak pernah sembarangan memilih orang.” Ujar Nyonya Oh. Jiwon hanya tersenyum kecil menanggapi.

“Bagaimana? Kau suka villa ini?” Tanya Sehun yang berdiri tepat dibelakang Jiwon. Jiwon mengangguk. “Villamu indah.” Pujinya. Sehun tersenyum. “Villa ini juga akan menjadi milikmu nanti. Tentu saja setelah kita sudah resmi menikah.” Sehun mengelus kepala Jiwon, membuat tubuh gadis itu menegang lantaran kata ‘menikah’ yang tadi dilontarkan Sehun.

Jiwon berjalan-jalan didalam villa mewah itu. Ia mengagumi sentuhan arsitektur khas Eropa yang digunakan. Lagi asyik-asyik mengagumi villa, tiba-tiba saja Nyonya Oh memanggilnya. “Jiwon-ah, sapu dan segala macam peralatan kebersihannya ada diruangan ini.” Ucap Nyonya Oh, membuat Jiwon bingung.

Untuk apa ibu kekasihnya ini memberi tahu letak peralatan kebersihan padanya? Jangan bilang bahwa…

“Kau tidak keberatan kan membantu membersihkan villa ini? Kita tidak mungkin tinggal dalam tempat penuh kuman begini.”

“Ah, ne. Tentu saja aku tidak keberatan untuk membantu.”

“Syukurlah. Kau benar-benar menantu idaman. Kamarmu ada disebelah dapur. Kau bisa meletakkan barang-barangmu disana sebelum kau mulai berbenah.”

Jiwon membawa tas berisi bajunya menuju kamar disamping dapur. Gadis itu sempat merasa heran dengan letak kamarnya yang begitu terpencil ini, sedangkan kamar Sehun dan Kedua orangtuanya berada didepan. Namun Jiwon tidak mau terlalu ambil pusing. Gadis itu membuka pintu kamar disamping dapur. Seketika Jiwon menatap cengo. Kamar yang diperuntukkan untuknya benar-benar jauh dari kata nyaman. Kamar itu sempit dan pengap. Hanya ada satu single bed dengan seprai yang sudah lusuh serta bantal kepala yang sudah lembek dan bau apak, lalu sebuah lemari dan meja kecil yang terletak disudut kamar.

Jelas-jelas ini kamar pembantu! Apa-apaan maksud ibu Sehun memberikan kamar ini padanya? Apa jangan-jangan mereka ingin menjadikannya pembantu disini?! Yang benar saja!

Pemikiran Jiwon terbukti benar. Gadis itu memang diperlakukan layaknya pembantu. Bayangkan saja, dengan seenaknya ibu Sehun menyuruh Jiwon membersihkan seluruh lantai satu villa. Menyapu dan mengelap perabotan yang berdebu. Dan semua itu Jiwon lakukan seorang diri! Tak ada satupun yang membantu.

Gadis itu bahkan sekarang tengah sendirian di villa lantaran Sehun dan kedua orangtuanya pergi.

“Kami pergi membeli makanan dulu ya. Kau ingin pesan apa?” tanya ibu Sehun.

“Apa saja tidak masalah.” Jawab Jiwon sopan.

“Ah, arasso. Kalau begitu kau lanjutkan bersih-bersihnya. Aku ingin saat pulang semua ini sudah bersih. Dan jangan panic, kau hanya perlu membersihkan lantai satu saja. Tidak banyak, kan? Ya sudah, kami pergi dulu.”

“Kalian semua pergi?” Tanya Jiwon bingung. Bukankah jika hanya untuk membeli makanan bisa dilakukan oleh satu orang saja? Mengapa mereka semua harus pergi?

Nyonya Oh menatap Jiwon. “Wae? Kau tidak takut ditinggal sendiri, kan?”

“Tentu saja tidak.”

“Oke, kalau begitu kami pergi.”

Dan Jiwon hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah abnormal keluarga Sehun. “Sekarang aku tahu darimana Sehun mendapatkan sifat gila dan sadis itu.” Gumam Jiwon kesal.

 

 

*****

 

 

_WOO BIN’s House, 3 AM_

Woo Bin terbangun dengan peluh yang membasahi wajahnya. Napas pria itu terengah layaknya orang yang habis berlari-lari. Ini bukan pertama kalinya Woo Bin mengalami hal seperti ini. Mimpi buruk itu selalu datang padanya, membawa berjuta kenangan buruk yang terjadi beberapa tahun silam.

Dengan lunglai Woo Bin berjalan menuju dapur. Segelas air dingin mungkin dapat menjernihkan pikirannya. Langkah Woo Bin terhenti saat ia melihat ayahnya yang sedang duduk dimeja makan. Pria paruh baya itu berniat beranjak pergi kala melihat Woo Bin.

“Sebenci itukah kau padaku?” Nada lirih itu memecah keheningan malam. Ayah Woo Bin berdiri membatu. Perlahan, ia mendongak menatap wajah sang putra. Ia dapat melihat kesakitan dan rasa kesepian disana. Tapi batin pria paruh baya itu berusaha untuk kembali mengacuhkan putra satu-satunya itu.

Woo Bin langsung menggenggam lengan ayahnya, yang dengan reflek langsung dihentak oleh tuan Kim. Hati Woo Bin berdenyut sakit menerima penolakan terang-terangan dari sang ayah. Ia menatap ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Bukan aku yang membunuh Ah Ra! Aku memang tidak akur dengannya, tapi demi Tuhan, sedikitpun tak pernah terlintas dibenakku untuk menyakiti Ah Ra. Aku menyayanginya. Dia adikku. Tidak bisakah kalian mempercayaiku?!” Emosi Woo Bin meluap-luap.

Ayahnya diam. Sedikitpun tak mengeluarkan suara. “Appa, lihat aku! Kenapa kalian tega melakukan ini semua padaku?! Toh, aku juga anakmu, bukan? Aku anak kandungmu. Aku bagian dari kalian!”

“Tapi kau telah menghancurkan keluarga ini… kau telah membuatku kehilangan seorang anak perempuan dan seorang istri yang sangat kucintai…” Tuan Kim berkata dengan pelan, namun cukup untuk didengar Woo Bin. Tangan Woo Bin mengepal sempurna. Tidak perlu ditanya lagi bagaimana suasana hati pria ini. Benar-benar kelabu.

Tuan Kim pergi tanpa melihat Woo Bin, meninggalkan sang putra yang masih terpaku disana.

 

 

*****

 

 

Kesabaran Jiwon nyaris habis. Sejak kemarin gadis itu diperlakukan layaknya pembantu. Ia bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya keluar dari villa hanya sekedar untuk berjalan-jalan menikmati pemandangan. Tidak cukup hanya membersihkan rumah, Nyonya Oh juga menyuruh Jiwon untuk menjadi tukang kebun dadakan.  Yang membuat Jiwon semakin jengkel, Sehun hanya diam dan tidak berinisiatif untuk menolongnya. Yah, Jiwon memang terlalu berharap banyak akan menerima pertolongan dari Sehun. Bukankah namja itu senang menyiksa dirinya?

Kemarin Jiwon nyaris pingsan karena kelaparan. Ingat bahwa keluarga Oh pergi untuk membeli makan siang? Mereka kembali ke villa saat malam hari. Keterlaluan!

Liburan bersama? Cih, lebih tepatnya hanya keluarga Oh yang liburan, sedangkan dirinya hanya sebagai pesuruh.

“Jiwon, tolong bantu ahjussi mencuci mobil ya?” Pinta tuan Oh sambil tersenyum.

Jiwon mendesah dalam hati. Yah, ia sudah tahu bahwa pada akhirnya ia yang akan mencuci mobil itu sendirian. Dengan terpaksa Jiwon mengangguk. “Ne, ahjussi.”

Dan benar saja, tuan Oh hanya membantu Jiwon pada 15 menit pertama, namun setelah itu… BLASS! Pria paruh baya itu menghilang. Ia beralasan ingin ke toilet. Tapi memangnya ada ya orang yang ketoilet 30 menit lamanya? Yah, kecuali jika tuan Oh sedang diare. Itu lain cerita. Usut punya usut, ternyata pria paruh baya itu tengah duduk diberanda belakang sembari meminum kopi hangat.

“Kau lelah sayang?” Sehun merapikan tatanan rambut Jiwon yang berantakan. “Menurutmu?” Jiwon menatap Sehun tajam. Sehun tertawa kecil, seakan itu merupakan hal yang lucu. Jiwon merasa bahwa kekasihnya itu memang gila. Oh ya, tak lupa juga kedua orangtua namja itu. Mereka semua gila!

“Ikut aku!”

Sehun membawa Jiwon berkeliling disekitar villa. Setidaknya itu membuat kebosanan Jiwon agak pudar, walaupun tak sepenuhnya hilang. Tangan mereka bertautan. Sesekali Sehun bersenandung kecil sambil menikmati semilir angin yang menyapa mereka. “Kau adalah yeoja pertama yang aku ajak berlibur bersama keluargaku. Kau orang yang special Ji.”  Ucap Sehun.

Jiwon mendengus dalam hati. ‘Yah, benar-benar special!’ batinnya kesal.

Kegelapan datang menyelimuti langit. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Jiwon baru saja selesai dari tugasnya mencuci piring. Gadis itu berjalan menuju kamarnya yang berada disebelah dapur. Baru saja ia akan membuka pintu, Sehun datang dan langsung menyeret Jiwon menuju kamarnya. Jiwon panic.

“Mau apa kau?!” Tanyanya. Sehun hanya diam. Pria itu melempar Jiwon ke ranjangnya dan dengan cepat mengunci pintu kamar. Kunci itu kemudian ia kantungi, dengan tujuan agar Jiwon tidak bisa mengambilnya.

“Sehun!”

“Wae? Aku hanya ingin meminta hakku.” Jawab Sehun santai. Seakan yang dimintanya adalah hal yang begitu sepele. Jiwon menggeleng tidak percaya. “Kau gila! Biarkan aku pergi!”

Sehun tertawa keras. Wajahnya sampai memerah. “Maaf maaf, aku hanya bercanda. Aku hanya ingin minum coklat panas bersamamu. Jarang-jarang aku berbaik hati membuatkan orang lain coklat panas.” Sehun mengambil dua buah mug dari atas meja. “Minumlah.” Ia memberikan mug yang berwarna biru pada Jiwon, sedangkan ia mengambil mug yang berwarna hitam.

Jiwon menatap Sehun bingung. Pria itu tertawa kecil sembari mengacak rambut Jiwon. “Aku tidak akan melakukan hal yang aneh. Sungguh, aku hanya ingin minum coklat panas bersamamu.” Ujar Sehun dan kemudian meminum coklat panas miliknya.

Dengan perlahan Jiwon meminum coklat panas itu. Satu kata, enak. Sehun memang pandai meracik minuman. Melihat Sehun yang seperti ini membuat Jiwon teringat pada masa-masa awal mereka berpacaran. Sehun yang baik dan lembut, yang rela melakukan apapun untuk membuat Jiwon senang.

“Senang melihatmu kembali…” Bisiknya.

Sehun tersenyum puas melihat isi gelas Jiwon tandas tak bersisa. Sekarang namja itu tinggal menunggu. Menunggu efek dari minuman yang tadi ia suguhi pada kekasihnya itu.

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

9 tanggapan untuk “Dark Side (Part 3)

  1. Maaf baru coment di chapter ini yh thor ^.^
    Itu sehun dan keluarga kok jahat gitu sih .. -.-
    Jgn sampai sehun berbuat macam” sama jiwon ..
    Next chapter jgn lama” ne thor ^.^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s