Diposkan pada Uncategorized

Crashed (Part 6)

1404130212061

Author : Cho Haneul
Title      : Crashed
Type     : Chaptered
Genre  : Romance, Drama

SPECIAL THANKS TO MY SISTER FOR THE POSTERS :*

Cast :
– Park Boyoung
– Nam Bora
– Kris Wu
– Kim Jongin
– Oh Sehun
– Kang Seulgi

_______________________________________

 

Bora mendengus kesal. Sehun yang berdiri disebelah gadis itu menoleh sekilas dan kemudian terkekeh kecil. “Wae?” Tanya Sehun, masih dengan senyuman diwajah tampannya. Bora menatap Sehun. “Aku kesal.” Jawab Bora.

“Kai?”

“Tentu saja! Semua yang menyangkut Kai akan menjadi sangat menyebalkan untukku. Temanmu itu gila!” Ujar Bora menggebu-gebu. “Untuk apa dia menyuruhku datang kesini? Dan tempat apa ini?”

“Sebentar lagi kau akan tahu.” Jawab Sehun sok misterius, membuat wajah Bora semakin menekuk kesal. Tadi, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan kehadiran Sehun secara tiba-tiba didepan rumahnya. Pria itu berkata bahwa dia datang untuk menjemput Bora atas suruhan Kai. Bora tentu kesal dengan hal tersebut, terlebih Kai tidak menerima penolakan.

“Ini kan… tempat balapan!” Bora agak ternganga melihat jalanan kosong yang telah disulap menjadi arena balapan dadakan. Berbagai macam jenis mobil yang kebanyakan sudah dimodifikasi berada disana. Jelas sekali bahwa balapan ini termasuk illegal. “Kai ingin balapan?” Tanya Bora dengan ekspresi kaget. Sehun mengangguk. “Yah, ini salah satu hobi Kai selain dance.” Jawab Sehun.

“Aish, ini berarti tangan dan kakinya sudah sepenuhnya sembuh! Sialan, berarti selama ini aku dikerjainya!” Seru Bora kesal.

“Sebenarnya dia belum sepenuhnya pulih. Tapi kau tahu sendiri lah bagaimana seorang Kim Jongin. Apa yang sudah menjadi keinginannya tidak dapat ditolak.”

Bora mengangguk membenarkan. Selama kurang lebih 3 minggu menjadi pembantu Kim Jongin membuat gadis itu mengerti bagaimana sifat Jongin. Bora dan Sehun berjalan menuju gerombolan muda mudi yang memenuhi arena balapan. Sepertinya perlombaan akan dimulai sebentar lagi. Sehun menyapa teman-temannya disana, sedangkan Bora hanya dapat berdiri canggung berada ditengah-tengah orang-orang yang tidak dikenalnya, serta di lingkungan yang cukup asing baginya.

“Nugu?” Tanya seorang namja sambil menatap Bora penuh minat. Dandanan namja itu begitu nyentrik dengan jaket kulitnya yang berwarna merah marun, serta rambutnya yang berwarna kuning terang. Bora membuang pandangannya, memilih untuk memandang sekitar.

“Nae chingu.” Jawab Sehun singkat. Ia mengedarkan pandangannya. “Kai dimana?”

“Sedang bersama Woo Bin disana.” Tunjuk namja itu kearah dimana Kai terlihat sedang berbicara serius dengan Woo Bin.

Bora yang sedang memandang sekitar tiba-tiba membeku. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak Seulgi yang tengah menatapnya tajam, begitu penuh benci. Bora jadi serba salah dan merasa tidak nyaman. “Kau mengenal Seulgi?” Tanya Sehun tiba-tiba. Bora mendongak. “Ne, dia teman SMP ku dulu.”

“Kalian tak tampak seperti teman lama. Lebih terlihat seperti musuh bebuyutan.” Sehun memberikan pendapatnya. Bora tersenyum getir. “Dia membenciku.” Jawab Bora singkat. Gadis itu memilih untuk mengacuhkan keberadaan Seulgi. Meladeni gadis itu hanya akan membuat Bora pusing. “Jadi, dimana teman menyebalkanmu itu?”

“Ja, ayo kita kesana!” Sehun menggandeng tangan Bora sembari berjalan menuju Kai.

 

 

*****

 

 

Boyoung menatap langit malam yang tampak begitu indah dengan taburan bintang yang menyemarakkan gelapnya langit. Angin semilir menyapu helaian rambutnya yang berwarna coklat gelap. Gadis itu begitu menikmati keheningan malam yang cukup membuatnya tenang. Begitu terlarutnya ia dalam lamunannya, hingga ia tak sadar bahwa Kris tengah berdiri tepat dibelakangnya. Kedua insan itu berdiri bersisian diteras beranda lantai dua.

“Kris oppa, kau belum tidur?” Tanya Boyoung basa basi begitu tahu bahwa Kris berada disebelahnya.

“Kau lihat sendiri bahwa aku masih disini.” Jawab Kris dengan nada agak dingin. Benar-benar menunjukkan gaya pria berpostur tubuh tinggi itu. Boyoung tersenyum kecil mendapat respon seperti itu dari kakak tirinya. Ia sudah terbiasa dengan nada dingin itu.

“Apa ada yang lucu?”

“Ah, aniya. Mianhe.”

Kris menatap adik tirinya itu, membuat Boyoung merasa agak tidak nyaman. “Oppa, terima kasih karena kau sudah membelaku dari Min Woo oppa.”

Kris mengalihkan pandangannya kearah langit malam. “Tidak perlu berterima kasih. Aku melakukan apa yang harus kulakukan.” Ucap Kris. Pria itu kemudian kembali menatap Boyoung. “Himnae Boyoung-ah.” Tangan Kris terjulur dan mengacak pelan rambut Boyoung, membuat Boyoung cukup terkesima dengan tindakan yang baru saja dilakukan oleh kakak tirinya yang biasanya begitu dingin.

 

 

*****

 

 

Suara deru mesin mobil dan decitan ban memecah keheningan malam. Orang-orang berteriak heboh memberikan semangat kepada jagoan mereka. 4 buah mobil dengan warna dan dekorasi yang berbeda tengah saling susul menyusul, saling berlomba ingin sampai terlebih dahulu di garis finish. Terlihat dua mobil yang memimpin. Mobil yang berwarna hitam yang merupakan mobil Kai, dan mobil berwarna kuning terang yang merupakan milik Tao, seorang pria berdarah Cina.

Kai menambah kecepatan mobilnya begitu menyadari bahwa jarak mobil Tao sudah menyamai mobilnya. Kata kekalahan tidak pernah ada didalam kamus Kim Jongin. Dengan penuh ambisi Jongin sudah bertekad untuk menang.

Bora berdiri disisi Sehun dengan wajah yang agak cemas. Balapan liar bukanlah sesuatu hal yang biasa dan sering ia tonton, jadi wajar jika gadis berparas lembut itu merasa khawatir. Ia berdoa dalam hati agar para peserta balap tidak mengalami kecelakaan, terutama Kai.

“Kai akan baik-baik saja. Dan kurasa ia akan kembali menjadi pemenang.” Ujar Sehun.

“Kenapa kalian begitu menggampangkan keselamatan kalian sih? Kalian bukan dewa yang memiliki banyak nyawa.” Bora berujar. Tak sekalipun tatapan mata gadis itu teralih dari arena balapan. Ia menanti kedatangan mobil Kai dengan perasaan cemas. Sehun hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan yeoja disampingnya itu.

Beberapa menit kemudian terdengar deru mesin mobil yang begitu keras, membuat semua orang mengalihkan pandangan mereka kearah asal suara. Sorakan riuh terdengar kala mobil Kai melewati gadis finish, diikuti oleh mobil berwarna biru gelap yang ternyata milik Woo Bin. Mau tak mau Bora mengakui kehebatan Kai. Bahkan dengan keadaan yang tidak sehat begitu namja itu masih dapat menang. Ternyata Sehun memang tidak asal bicara. Kim Jongin memang hebat.

“Dia hebat kan?” Tanya Sehun sambil tertawa kecil. Bora mendengus. “Tidak terlalu buruk.” Jawabnya. Gadis itu terlalu gengsi untuk mengakui kehebatan Kai. Sehun tertawa sembari menggiring Bora menuju Kai.

“Kau hebat Kai! Kau selalu bisa membuat kami terpukau.” Ujar Seulgi sumringah. Kai tidak terlalu menanggapi pujian yang dilayangkan oleh Seulgi. Ia bahkan tak sedikitpun terlihat tertarik pada Seulgi. Hal tersebut membuat Seulgi geram. Apalagi dengan santainya Kai melenggang pergi menghampiri Sehun dan Bora.

“Kurasa kau sudah tidak perlu asisten lagi.” Sindir Bora, membuat Kai tertawa kecil. “Mencoba untuk lari dari tanggung jawab, eo?”

Kejadiannya begitu cepat. Tiba-tiba seorang namja datang dan melayangkan pukulan pada Kai. Entah apa masalah Kai dengan pria itu. Kai yang terlanjur emosi tentu saja tidak tinggal diam. Baku hantam terjadi disana. Ternyata namja itu tidak datang sendiri. Ia turut membawa teman-temannya. Tampaknya ini permasalahan antar geng. Bora yang seumur hidup tidak pernah berada di situasi yang seperti ini jelas begitu ketakutan. Gadis itu melihat kiri kanannya yang penuh dengan adegan kekerasan.

Bora berteriak kencang kala seseorang membekapnya dari belakang. Gadis bertubuh mungil itu meronta-ronta. Namun bekapan orang tersebut begitu kuat, membuatnya sesak dan sulit bernapas. Bora diseret masuk kedalam sebuah mini van.

“KAI! KAI! TOLONG AKU!” Teriak Bora histeris. Entah mengapa justru nama Kai yang disebutnya, bukan Sehun, namja yang jelas-jelas lebih sering menolongnya.

Konsentrasi Kai terpecah begitu ia mendengar suara teriakan yang terasa familiar untuknya. Segera ia melayangkan pandangannya. “Brengsek!” Umpatnya begitu melihat Bora yang diseret paksa masuk kedalam mobil. Kai mematahkan kekuatan lawan dengan melakukan tendangan memutar. Namja yang ditendang Kai langsung terkapar di aspal. Bak orang kesetanan, Kai melesat menuju mobil dimana Bora diseret masuk.

BRAK BRAK BRAK!

Kai menggedor-gedor pintu mobil. “BUKA BRENGSEK!” Teriaknya kalap.

Tak sabar, Kai mengambil batu berukuran besar yang tampak olehnya, dan dengan sekali lempar kaca mobil mini van itu hancur. Kai menarik pria yang tadi menyekap Bora lewat jendela. Tampak sekali rasa takut tengah menyelubungi namja bertubuh tambun itu. “Ampuuun…” Mohonnya.

Tapi bukan Kim Jongin namanya jika ia dapat memaafkan orang semudah itu. Alih-alih melepaskan, Kai justru membenturkan kepala namja bertubuh tambun itu ke jendela mobil yang masih utuh. Namja itu meringis kesakitan sebelum perlahan ia kehilangan kesadarannya.

Kai langsung bergegas kesisi mobil dan membuka pintu mobil. Bora langsung menghambur kearah Kai. Gadis itu tengah menangis sesegukan. Kai meraih tubuh gemetar Bora kedalam pelukannya. Dielusnya kepala gadis itu dengan lembut. “Kau sudah aman.” Bisiknya lirih. Melihat keadaan Bora yang seperti ini telah membuatnya mengingat perbuatan buruk yang dulu pernah ia lakukan pada Bora. Kai jadi merasa amat bersalah. Untung dulu Sehun menggagalkan rencana bejatnya. Jika tidak, maka ia akan menjadi namja paling bejat dan tentunya ia akan semakin membuat ibunya yang sudah di alam sana menjadi kecewa.

“Maafkan aku…”

 

 

*****

 

 

Boyoung keluar dari perkarangan sekolahnya. Gadis itu menghela napas pelan sembari menatap lurus ke depan. Sekolah sudah bubar 30 menit yang lalu. Namun Boyoung lebih memilih untuk tetap tinggal di dalam kelas dan mengerjakan tugas sekolahnya.

Tanpa memiliki firasat buruk, Boyoung melangkahkan kakinya menyusuri trotoar. Jalanan sekitar sekolahnya juga tidak terlalu ramai, mengingat bahwa sekolahnya tidak berlokasi didekat jalan raya. Boyoung berjalan sambil bersenandung kecil. Angin semilir yang menerpa dedaunan menciptakan irama tersendiri yang begitu menenangkan hati.

Boyoung sudah bersiap akan menyebrang. Ia sudah memastikan bahwa mobil yang akan lewat masih berjarak lumayan jauh darinya. Namun entah mengapa saat Boyoung menyebrang mobil itu malah menambah kecepatannya, begitu tampak disengaja.

“Awas!” Teriak seseorang.

Beruntung Boyoung sempat mengelak dari mobil tersebut meskipun ia harus mendapatkan luka kecil akibat jatuh membentur trotoar dan aspal. Boyoung meringis kesakitan. “Sakit…” rintih gadis itu sembari melihat tangan dan kakinya yang perlahan mengucurkan cairan segar berwarna merah.

“Lukamu tidak terlalu parah. Kuantar ke klinik terdekat.”

Boyoung terdiam membisu saat Kai dengan lembut membantunya berdiri. “Jongin-ssi…” Boyoung tidak bisa berkata apa-apa. Gadis itu terlalu kaget. “Ada apa?” Tanya Kai sembari menatap Boyoung intens. Tatapan mata Kai yang tajam membuat Boyoung gugup. Gadis mungil itu menggeleng cepat. “Aniya… terima kasih karena sudah menolong.” Ucap Boyoung.

“Mobil tadi terlihat begitu disengaja. Ia menambahkan kecepatan mobilnya padahal sudah jelas-jelas kau sedang menyebrang. Orang itu sepertinya memang ingin mencelakaimu.”

Perkataan Kai membuat tubuh Boyoung menegang. Gadis itu menatap kosong jalanan yang tadi dilalui mobil tersebut. ‘Apa jangan-jangan itu Min Woo oppa?’ Batin Boyoung agak ragu. Gadis itu menggelengkan kepalanya, berusaha menepis asumsi yang melintas diotaknya.

“Apa kau mempunyai bayangan siapa oran tersebut?” Tanya Kai.

Boyoung menggeleng pelan. “Aku tidak tahu.”

Kai mendesah pelan. “Baiklah. Kau tunggu disini, aku akan mengambil mobilku sebentar, lalu kita akan ke clinik terdekat.”

Boyoung menatap punggung Kai yang perlahan menjauh. Seulas senyum terbit diwajah mungil Boyoung. Ternyata Kai tidak seburuk yang selama ini ia kira. Jauh didalam hatinya, Kai masih memiliki kebaikan. Yah, sejatinya memang tidak ada orang yang benar-benar jahat di dunia ini, bukan?

 

 

*****

 

 

“Apa pelakunya Min Woo?” Tanya Kris sembari menatap Boyoung intens. Gadis bertubuh mungil itu menggeleng pelan, meskipun ada sedikit dibenaknya yang juga menuduh Min Woo sebagai orang yang nyaris menabraknya tadi.

Kris mendengus. Pria itu duduk di kursi meja belajar Boyoung, sedangkan gadis itu duduk dipinggiran ranjang. “Hanya dia satu-satunya orang yang terlintas dibenakku. Lagipula kau sendiri bilang bahwa itu terlihat amat disengaja, kan?”

“Tapi bukan berarti bahwa Min Woo oppa pelakunya.”

Kris menatap Boyoung tajam. “Jangan terlalu naif! Kau hidup di dunia nyata, bukan di negeri dongeng. Tidak ada orang yang benar- benar baik di dunia ini. Bahkan orang yang kau percaya sekalipun.” Nada suara Kris terdengar dingin. Boyoung terdiam mendengarnya. Tampaknya masa lalu benar-benar telah membekukan hati Kris. Membuat pria itu menyangkal adanya rasa tulus dari orang-orang disekitarnya.

Kris beranjak dari duduknya, membuat Boyoung spontan mendongak. “Mau kemana oppa?” Tanya gadis itu.

“Menemui seseorang. Aku pergi.”

 

 

*****

 

 

BUGH!

Min Woo langsung terpelanting begitu membuka pintu dan menerima bogem mentah dari Kris. Dengan segera Min Woo bangkit. Ia menatap Kris penuh amarah yang dibalas Kris dengan tatapan dingin nan menusuk khas miliknya. Min Woo mengusap ujung bibirnya yang berdarah. “Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?!”

Kris menatap Min Woo dingin. “Bukankah aku sudah pernah memperingatkanmu untuk tidak menganggu Boyoung? Tapi tampaknya kau tidak mengindahkan peringatanku. Jangan salahkan aku jika aku menggunakan kekerasan.”

Min Woo tertawa mengejek. “Kau mengancamku? Dan kau pikir aku akan takut? Tidak akan! Urusanku hanya pada adik kecilmu itu. Tapi jika kau memaksa, maka aku akan dengan senang hati meladenimu. Camkan itu!”

“Kau sedang tidak dalam posisi yang dapat mengancamku. Kau pikir aku tidak tahu dengan apa yang kau lakukan pada Boyoung siang ini? Kau nyaris menabraknya dengan mobilmu.”

Kris dapat melihat tubuh Min Woo yang agak menegang. Kris sudah tidak terkejut. Dari awal ia memang punya firasat bahwa Min Woo lah pelakunya. Secepat kilat Min Woo merubah ekspresinya menjadi datar. “Apa kau punya bukti?” Tanyanya skeptic, membuat Kris diam. Dia memang tidak memiliki bukti nyata bahwa Min Woo adalah pelakunya. Diamnya Kris membuat Min Woo tersenyum mengejek. “Sudah malam. Kau masih cukup tahu diri kan untuk tidak menganggu waktu istirahat orang, bukan?” Tanpa menunggu respon Kris, Min Woo membanting pintu rumahnya, meninggalkan Kris yang masih berdiri mematung.

“Sial!” umpatnya kesal.

 

*****

 

 

Kai sedang menghabiskan waktu jam pelajaran matematikanya di halaman belakang sekolah. Yah, tempat yang sempurna untuk membolos sambil merokok. Kai hanya sendirian disana, tanpa Sehun. Ia memang sedang ingin sendiri.

Pria berkulit agak gelap itu mengambil sebatang rokok dan kemudian meremas bungkus rokok yang sudah kosong, lalu melemparnya asal.

“Aduh!” Pekik seseorang, membuat Kai menoleh.

“Kau lagi.” Beda seperti biasanya, kali ini nada suara Kai tidak terdengar kesal. Boyoung menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Gadis itu hanya grogi. “Annyeong Jongin-ssi.” Sapa Boyoung ramah. Kai tidak menjawab. Pria itu menyalakan pemantiknya dan tak lama kepulan asap keluar dari mulutnya. Boyoung melihat dengan prihatin. Ingin menasehati, namun ia sadar dengan posisinya yang bukan siapa-siapa. Bisa-bisa ia terkena amukan Kai.

“Aku tidak menyangka bahwa yeoja sepertimu bisa membolos.” Ucap Kai.

“Aniya. Aku tidak sedang membolos. Sebenarnya aku dari toilet, keunde tanpa sengaja aku melihatmu disini dari jendela itu.” Boyoung menunjuk jendela yang berada dikoridor menuju toilet. “Aku ingin mengucapkan terima atas pertolonganmu kemarin.” Ucap Boyoung.

Kai mengangguk kecil. “Biasa saja. Kebetulan aku ada disana.”

Tiba-tiba terdengar suara percakapan dua orang pria. Jongin hafal pemilik suara tersebut. Suara itu milik guru olahraga dan guru konseling sekolahnya. Dengan spontan Jongin mematikan api rokoknya dan membuang puntung rokoknya tersebut dibalik semak-semak, bermaksud untuk menghilangkan jejak. Jongin menarik Boyoung untuk sembunyi di balik gudang. “Eh, kenapa kita harus bersembunyi?” Tanya gadis bertubuh mungil itu polos.

“Diam! Jika tidak sonsaengnim bisa menemukan kita.”

Suara berat Kai terdengar begitu dekat ditelinga Boyoung. Wajar saja, mengingat bahwa namja itu berdiri tepat dibelakang Boyoung. Jarak mereka begitu dekat. Menyadari hal tersebut, tiba-tiba saja wajah Boyoung menjadi merona. Dia jadi gugup. Seumur hidup ia tidak pernah berada sedekat ini dengan seorang namja. Apalagi dalam posisi yang bisa dikatakan intim.

“Jongin-ssi aku…” Boyoung tidak sempat menyelesaikan perkataannya sebab tangan Kai sudah terlebih dahulu membekap mulutnya. Hal tersebut justru membuat tubuh keduanya menjadi semakin dekat tak berjarak. Perasaan Boyoung sudah tidak karuan. Mati-matian ia menahan degupan jantungnya yang terasa seperti akan meledak.

‘Aku bisa cepat mati jika sering-sering seperti ini.’ keluhnya dalam hati.

 

 

*****

 

 

“Jadi tugas kami adalah untuk menculik kekasih Kai?” Tanya seorang namja yang tangannya dipenuhi tattoo.

“Ya. Kurasa gadis itu adalah kelemahan Kai. Ingat saat kejadian di arena balapan? Si bangsat itu langsung kehilangan fokus saat gadisnya diculik.”

“Arasso. Kami akan segera menjalankan rencana. Siapkan saja uangnya.”

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

7 tanggapan untuk “Crashed (Part 6)

  1. Org pertama yg berkomentar yee… 😜

    aduh itu ntar Kai akhirnya sama siapa sih?? Bora atau Boyoung ? 😠

    Aku Penasaran😤…

    D tunggu next chap nya.. 😀 semangat author ✊

  2. Ntar boyoung suka lagi sama kai -.-
    Boyoung sama kriss aja thor ^.^
    Biar bora sama kai 😀
    Next chap ddong thor . Jgn lama” 😀
    Tetap semangat ne ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s