Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

Dark Side (Part 4)

1405178199602

Author : Cho Haneul
Title       : Dark Side
Type      : Chaptered
Genre    : Angst, Drama, Romance

Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Oh Sehun
– Do Kyungsoo (D.O)

__________________________________________________

 

_Villa Keluarga Oh_

Jiwon terbangun dari tidurnya. Gadis itu mengernyit saat merasakan sakit pada kepalanya. Gadis itu memijat kepalanya sembari menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Sedetik kemudian Jiwon merasa ada yang aneh pada dirinya. Tubuh gadis itu menegang sempurna saat ia menyadari bahwa tubuhnya tidak terbalut sehelai benang pun. Tubuhnya benar-benar polos!

Dengan gugup Jiwon mengintip sedikit kedalam selimut yang menutupi tubuhnya. Jiwon mengigit bibir bawahnya sembari menatap nanar tubuh polosnya. Jiwon menoleh, dan mendapati Sehun yang masih tertidur pulas disebelahnya. Jemari Jiwon mengepal sempurna. Gadis itu menatap penuh amarah pada sosok kekasihnya itu. Jiwon tidak mengingat dengan jelas apa yang terjadi, namun melihat keadaannya sekarang, ia dapat memastikan apa yang telah terjadi.

“Argh.” Rintih Jiwon kala merasakan rasa sakit di daerah kewanitaannya. Air mata Jiwon menetes turun membasahi pipinya. Mahkota yang selama ini dijaganya, dalam semalam hilang begitu saja akibat namja brengsek yang menjabat sebagai kekasihnya itu. “Bangun!” Jiwon mengguncang tubuh Sehun dengan kuat. Sayangnya tidak ada pergerakan dari Sehun. Namja berwajah dingin itu masih terlihat pulas dalam alam mimpinya.

“Bangun brengsek!!!”

“BANGUN OH SEHUN!!!”

“Yak, berisik sekali!” Seru Sehun kesal. Dengan susah payah namja itu membuka kedua matanya. Ia menatap kearah Jiwon sambil merengut kesal. “Demi Tuhan, ini masih pagi Ji. Tidak bisakah kau membiarkanku tidur sebentar lagi?!”

Dengan membabi buta Jiwon memukul tubuh Sehun, membuat namja itu mengerang kesakitan. “Kau jahat! Kau brengsek! Tega sekali kau padaku!!!” Isak Jiwon histeris. Sehun bangkit dari posisi berbaringnya. Dengan sigap ia menahan pergerakan kedua tangan Jiwon. “Lepas! Aku benci kau!!!”

“DIAM!” Bentak Sehun. Kedua tangannya mencengkram kedua tangan Jiwon dengan kasar, tak peduli jika tindakannya itu menyakiti sang kekasih. Sehun menatap Jiwon datar. “Kenapa harus marah, eo? Ini adalah hal yang wajar dilakukan oleh sepasang kekasih. Kita bahkan akan segera bertunangan dan kemudian menikah. Semua akan sama saja. Toh pada akhirnya kita akan tetap melakukannya.” Nada bicara Sehun terdengar begitu santai, tanpa beban sedikitpun. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan Jiwon.

“Kau gila! Mulai detik ini kita putus!” Ujar Jiwon. Gadis itu menghentak tangan Sehun, dan kemudian bangkit berdiri. Namun, belum sempat ia beranjak pergi, tangannya telah kembali ditarik oleh Sehun. Sehun menatap Jiwon tajam. “Kau mengorbankan kedua orangtuamu? Memutuskan hubungan denganku sama dengan membiarkan kedua orangtuanmu hancur. Kau tega?” Sehun tersenyum sinis.

Jiwon mengerang frustasi. Ia benar-benar mengutuk dirinya sendiri yang dengan mudahnya masuk kedalam perangkap Oh Sehun. Jika sudah begini, dapatkah ia terlepas dari pria ini?

 

 *****

 

“Ada apa sayang? Mengapa kau menangis?” Nyonya Oh memegang kedua bahu Jiwon sembari menatap gadis itu khawatir. Jiwon menjawab sambil terisak-isak. “Sehun… dia… dia memasukkan sesuatu kedalam minumanku… saat… saat aku bangun… kami sudah tertidur diatas ranjang tanpa sehelai benang pun. Dia telah…” Jiwon tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Terlalu menyakitkan untuk diingat.

Respon Nyonya Oh sangat berbeda dari prediksi Jiwon. Wanita paruh baya itu menatap Jiwon dengan dahi yang berkerut. “Lalu? Ada yang salah dengan itu?”

Jiwon tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Seenteng itu Nyonya Oh menanggapi kesalahan besar yang telah dilakukan oleh putranya. Keluarga ini benar-benar gila!

“Tidak ada yang salah dengan melakukan itu. Toh kalian akan bertunangan, lalu menikah. Kalian akan tetap melakukannya cepat atau lambat. Justru kupikir kalian sudah sering melakukannya. Kalian kan sudah setahun berpacaran.” Nyonya Oh menepuk pipi Jiwon pelan. “Jangan terlalu histeris seperti ini, santai saja ya.”

Setelah berkata demikian, Nyonya Oh melenggang pergi, meninggalkan Jiwon yang masih terpaku ditempatnya. Gadis itu tersenyum miris meratapi nasibnya yang begitu sial karena harus terlibat dalam keluarga Oh. Sudah cukup! Jiwon sudah muak dengan ini semua. Ia ingin bebas. Ia ingin lepas dari belenggu Oh Sehun.

 

 

*****

 

_11 AM, Woo Bin’s House, Seoul, South Korea_

Helaan napas terdengar dari mulut Woo Bin. Sedikit perasaan kecewa muncul dihati namja itu saat ia masih dapat membuka mata dan menghirup oksigen pagi ini. Jika orang lain akan bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk hidup, hal berbeda terjadi pada Woo Bin. Ia merasa mati akan lebih baik daripada hidup tapi dibenci oleh semua orang.

Woo Bin melirik jam kecil yang ada di meja disamping tempat tidurnya. Pukul 11 siang. Tampaknya obat tidur itu bekerja dengan baik. Ya, hampir setiap hari Woo Bin akan mengonsumsi obat tidur dan obat penenang. Hanya kedua benda itu yang dapat diandalkannya saat ia kalut dan resah. Ia tidak memiliki seorangpun untuk temannya berbagi.

 

*****

 

_10 PM, Seoul, South Korea_

Woo Bin mengendarai mobilnya tanpa tujuan yang jelas. Dia sedang malas bergabung bersama teman-temannya di bar. Terlalu monoton baginya. Tiba-tiba tercetus keinginan untuk bertemu Jiwon. Sudah lama ia tidak mendengar kabar dari gadis cantik itu. Dengan sebuah senyuman yang tersungging diwajah tampannya, Woo Bin memutar balik mobilnya, menuju arah rumah Jiwon.

 

*****

_10 PM, Jiwon’s House, Seoul, South Korea_

Jiwon menunduk diam mendengarkan ocehan dari ibunya. Ia sudah menceritakan semua perbuatan Sehun dan keluarga pria itu terhadap dirinya. Akan tetapi, berbeda dari prediksi awalnya, sang ibu justru tidak memberikan tanggapan yang berarti. Hal ini membuat Jiwon seakan tidak berarti dimata kedua orangtuanya. Ayahnya bahkan diam-diam sudah menetapkan tanggal pertunangannya dengan Sehun.

Sungguh gila!

Jiwon menggenggam pergelangan tangan kirinya dengan kuat. Gadis itu dapat merasakan bagian pergelangan tangannya basah dan terasa perih. Jiwon sedikit menunduk untuk melihat kondisi tangannya. Warna merah darah menembus kemeja merah muda yang dikenakannya. Tampaknya luka dipergelangan tangan gadis itu kembali basah. Akhir-akhir ini Jiwon jadi semakin hobi menyayat pergelangan tangannya. Ia terlalu gusar dengan keadaannya yang begitu menyedihkan.

“Kalian menjualku?” Pertanyaan lirih dan sarat akan kesedihan itu terlontar dari bibir Jiwon. Ia menatap kedua orangtuanya dengan pilu. “Aku ini anak kalian yang memiliki perasaan. Aku bukan boneka.”

“Jiwon, kami melakukan ini semua untuk kebaikanmu.”

“Jangan bilang ini demi kebaikanku! Aku tahu pasti ini semua demi kebaikan kalian sendiri. Kalian terlalu egois. Kalian tega mengorbankan anak gadis kalian sendiri!” Seru Jiwon geram. Gadis itu bangkit dari kursinya hingga menyebabkan kursi yang didudukinya tadi terseret kebelakang, menimbulkan suara derik yang cukup memekakkan telinga. Jiwon meninggalkan ruang makan dengan langkah yang besar-besar. Gadis itu muak berada terlalu lama ditengah keluarganya sendiri.

 

 

****

 

 

Woo Bin yang tadinya berniat untuk menyambangi rumah Jiwon malah bertemu dengan gadis itu dijalan menuju rumahnya. Segera saja Woo Bin menghentikan mobilnya tepat disebelah Jiwon, membuat gadis itu menoleh. Entah mengapa perasaannya langsung lega saat mendapati Woo Bin yang sedang menatapnya dari dalam mobil. Tanpa berbicara, gadis itu langsung masuk kedalam mobil. Tanpa bertanya apapun, Woo Bin segera menjalankan mobilnya. Sekali lihat saja pria itu dapat mengambil kesimpulan bahwa Jiwon sedang tidak baik-baik saja.

Hanya keheningan yang menemani mereka selama dalam perjalanan. Jiwon menyandarkan kepalanya ke jendela, memandangi rintik hujan yang perlahan membasahi kaca jendela mobil.

“Apa kau pernah merasa seperti tidak dihargai di dunia ini? Diperlakukan seakan kau adalah boneka yang tak bernyawa?” Suara lirih Jiwon memecah keheningan yang tercipta. Woo Bin agak tersentak mendengar pertanyaan random gadis itu. Woo Bin melirik sekilas kearah Jiwon kala gadis itu tertawa miris. “Lupakan saja! Kau takkan mengerti bagaimana rasanya.”

Woo Bin menggenggam erat kemudinya. “Kau salah.” Wajah Woo Bin terlihat kelam. Tak jauh berbeda dengan ekspresi wajah Jiwon. Woo Bin menarik napas sebelum melanjutkan perkataannya. “Aku sangat mengerti. Aku bahkan bukan hanya tak dihargai, keunde aku juga tak diinginkan… oleh orangtua ku sendiri…”

Jiwon menoleh pelan kearah Woo Bin. Gadis itu diam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa atas ucapan Woo Bin. “Kedua orangtuaku menuduhku telah mencelakai adikku hingga meninggal. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak berniat seperti itu! Itu semua kecelakaan. Aku terlalu bodoh dan penakut untuk sekedar menolong adikku yang tenggelam. Mereka menyalahkanku bahkan ibuku memutuskan untuk bunuh diri karena dia tidak sanggup hidup bersama denganku. Aku…”

“Geumanhe! Jangan berbicara lagi.” Jiwon menggenggam tangan Woo Bin dengan erat, berusaha memberikan dukungan moril pada namja yang terlihat begitu rapuh ini. Setetes air mata yang mati-matian ditahan oleh Woo Bin akhirnya terjatuh juga. Dengan sigap namja itu menghapusnya, enggan terlihat lemah dihadapan orang lain.

“Maaf, tidak seharusnya aku menceritakan ini.”

Jiwon menepuk pelan punggung tangan Woo Bin. “Aniya, gwenchana. Aku tidak keberatan sama sekali.”

Woo Bin tersenyum kecil, namun senyum namja itu perlahan memudar dan digantikan oleh rasa panic saat melihat pergelangan Jiwon yang mengeluarkan darah. “Tanganmu!” Jiwon langsung menarik tangannya, namun ia kalah cepat. Woo Bin sudah lebih dulu menarik tangan Jiwon. Napas namja itu tercekat saat ia mendapati banyak luka sayatan dipergelangan tangan Jiwon. “Kau…”

“Kau percaya kan bahwa semua orang memiliki sisi gelap? Ini adalah sisi gelapku.”

 

 

*****

 

_Ruang Osis, Seoul, South Korea_

PLAK!

“Geu namja nuguya?!” Sehun menatap berang kearah Jiwon, sedangkan gadis itu hanya menunduk sembari memegang pipinya yang mulai tampak memerah akibat dari tamparan Sehun.

“Nae chingu.”

Sehun mendengus kesal. “Chingu?! Mana ada teman yang menghabiskan malam bersama. Kau ini kekasihku! Aku tidak suka kau dekat dengan namja lain, apalagi menghabiskan malam bersama. Jangan mencoba-coba untuk menjadi jalang!”

“Terserah kau mau mengatakan apa. Aku tidak berbohong, dia memang temanku.”

“Persetan! Mulai detik ini kau tidak boleh bertemu dengannya lagi.” Ujar Sehun dengan gaya yang begitu otoriter. Jiwon menatap kekasihnya itu sinis. “Apa hakmu? Kau hanya kekasihku, bukan kedua orangtuaku. Hakku ingin berteman dengan siapa saja.”

“Dasar jalang!” Satu tamparan kembali mendarat dipipi Jiwon. Kali ini gadis itu tidak meringis sakit. Mungkin syaraf-syaraf diwajahnya sudah mati rasa. Bahkan tidak tampak setetes pun air mata mengenangi mata bulatnya itu. Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Jiwon, hingga napas mereka saling bertubrukan. “Jauhi namja itu, atau aku akan membuat namja itu tidak dapat menghirup oksigen lagi.” Ancam Sehun. Jiwon terkesiap. “Jangan menganggu Woo Bin! Dia tidak ada kaitannya dengan persoalan kita.”

“Ah, jadi namanya Woo Bin?” Sehun mencengkram bahu Jiwon. Tatapan mata namja itu begitu menusuk dan sarat akan ancaman. Mau tak mau Jiwon harus mengakui bahwa nyalinya agak menciut menghadapi namjachingunya ini. “Aku tahu ini pasti bukan pertama kalinya kau menghabiskan malam bersama pria itu. Apa saja yang sudah kalian lakukan? Kau sudah tidur dengan si brengsek itu?!”

“CUKUP OH SEHUN!” Jiwon sudah tidak sanggup mendengar hinaan yang ditujukan pada dirinya. Gadis itu menatap berang pada Sehun. Kedua tangan Jiwon mengepal sempurna dikedua sisi tubuhnya. “Berhenti melecehkanku! Aku tidak pernah melakukan hal sebejat itu. bukannya justru dirimu yang dengan bejatnya meniduriku disaat aku tidak sadar?!”

Tangan Sehun kembali terangkat, ingin melayangkan tamparan ke wajah Jiwon, namun sayangnya kedatangan salah seorang teman Sehun membuat pria itu mengurungkan niatnya. Tentunya ia tidak ingin menjatuhkan image sempurnanya di depan siapapun.

Kyungsoo menatap kedua muda mudi yang berdiri tegang dihadapannya dengan tatapan curiga. “Hey, apa yang sedang kalian lakukan di ruang osis ini hanya berdua? Jangan-jangan kalian ingin… berbuat mesum ya! Hahaha…” Kyungsoo tertawa bocah. Sehun pura-pura tertawa dan kemudian menjitak kepala Kyungsoo yang tingginya jauh lebih pendek dibanding dirinya. “Dasar otak mesum! Kami hanya membahas soal ujian umum mendatang.”

Kyungsoo mencibir kala mendengar jawaban Sehun. “Cih, dasar pasangan pintar. Bahkan disaat berdua pun yang dibicarakan adalah pelajaran.” Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Jiwon memanfaatkan keadaan itu untuk kabur dari Sehun. Gadis itu muak berada lama-lama di ruangan yang sama dengan Sehun.

Jiwon berjalan cepat di koridor sekolahnya. Gadis itu mengecek ponselnya kala merasa getaran yang bersumber dari ponsel putih miliknya.

Urusan kita belum selesai!

Tanpa melihat nama pengirim pun Jiwon sudah tahu bahwa pesan tersebut berasal dari Sehun. Gadis itu menghela napas, merasa begitu lelah dengan semua yang dihadapinya. Masalah keluarga, sekolah dan sekarang Oh Sehun, masalah terbesarnya.

 

*****

 

“Hey!”

BUGH!

Woo Bin memegang sudut bibirnya yang berdarah. Pria berwajah tegas itu menoleh guna untuk menatap orang yang baru saja melayangkan bogem mentah padanya. Woo Bin mengernyit heran, merasa tidak mengenal atau setidaknya pernah bertemu dengan pria yang dihadapannya ini sebelumnya.

“Apa mau mu?” Tanya Woo Bin tenang, sama sekali tidak menunjukkan sedikitpun emosi di wajahnya.

“Jauhi Jiwon! Aku adalah kekasihnya, dan sebentar lagi akan menjadi tunangannya. Jika kau masih ingin untuk hidup tenang, maka jauhi gadisku!”

Woo Bin tersenyum kecil mendengar ancaman tersebut. Terlalu kekanakan menurutnya. Senyuman yang tersungging dibibir Woo Bin membuat Sehun menjadi semakin emosi. “Ada yang lucu?” Tanya Sehun tajam.

“Sekarang aku mengerti kenapa Jiwon sangat ingin lepas darimu. Malang sekali gadis itu memiliki kekasih yang kekanakan seperti ini.”

“Mwo?! Brengsek kau!” Sehun kembali melayangkan pukulannya, namun kali ini dengan mudah dapat ditangkis oleh Woo Bin, dan sebagai gantinya namja itu melayangkan pukulan ke perut Sehun. Tidak terlalu kuat, namun cukup untuk membuat Sehun meringis sakit. Sehun menatap punggung Woo Bin yang perlahan menjauhinya dengan penuh dendam.

‘Baiklah, jangan salahkan aku jika aku akan menghancurkanmu…’

 

*****

 

 

_10.20 PM, Apartemen Sehun, Seoul_

Mimpi buruk seakan enggan pergi dari hidup Jiwon. Untuk kedua kalinya gadis itu kembali harus rela menjadi pemuas nafsu Sehun. Jiwon bangkit dari posisi berbaringnya. Gadis itu menatap Sehun yang tengah tertidur pulas dengan tatapan penuh benci. Rasa sesak memenuhi relung hati Jiwon, membuat gadis itu ingin berteriak untuk meluapkan emosinya. Gadis itu melihat pantulan dirinya di cermin. Ia merasa jijik melihat tubuhnya yang hanya ditutupi selembar selimut dan juga dipenuhi dengan kissmark.

Jiwon keluar dari apartemen Sehun diam-diam. Begitu sampai di luar, Jiwon menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Gadis itu menatap menerawang kearah jalanan Seoul yang malam ini cukup padat oleh kendaraan maupun pejalan kaki. Ia merapatkan mantel hitamnya dan dengan perlahan berjalan di trotoar, berbaur dengan pejalan kaki lainnya. Tubuh gadis itu bergetar. Tetes demi tetes air mata jatuh dipipinya.

Perasaan sesak itu semakin menjadi. Jiwon meronggoh saku mantelnya begitu merasakan getaran yang berasal dari ponselnya. Ternyata Woo Bin yang menelponnya. Jiwon berjalan menuju tempat yang agak sepi. Disana ia menerima panggilan dari Woo Bin.

“Hai.” Sapa Woo Bin.

Tanpa dapat ditahan, tangis Jiwon pecah. “Hey, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?!” Suara Woo Bin terdengar panic.

“Woo Bin-ah, tolong aku… aku merasa akan mati…”

 

 

*****

 

_11 PM, Ciel Hotel, Seoul_

Woo Bin mengenyakkan tubuhnya di sofa. Tatapan mata pria itu menatap lurus kearah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Suara gemercik air terdengar dari dalam sana. Woo Bin mengusap wajahnya seraya menghela napas. Keadaan Jiwon sungguh tampak tidak baik. Gadis itu terlihat hancur. Jiwon enggan menjawab saat Woo Bin menanyakan hal yang telah terjadi padanya.

Namja itu mendesah pelan. “Apa yang terjadi padamu?” Gumamnya.

____________________________________________

 

Dibawah guyuran air shower, Jiwon duduk di lantai sembari menggosok tubuhnya dengan kuat hingga kulit putihnya tampak memerah, berharap bahwa dengan begitu ia bisa menghilangkan bekas-bekas Sehun ditubuhnya.

“Menjijikkan!” Jiwon terisak, masih sambil menggosok tubuhnya. Gadis itu menangis tersedu-sedu, menarik rambutnya dengan keras, berusaha untuk mengenyahkan bayangan-bayangan yang menjijikkan saat dengan kejamnya Sehun kembali merenggut harta yang paling berharga dari dirinya. “Aku membencimu Oh Sehun! Sampai mati aku membencimu!”

 

____________________________________________

 

Woo Bin berdiri didepan pintu kamar mandir dengan agak cemas. Sudah satu jam Jiwon berada didalam kamar mandi dan sampai sekarang ia masih berada disana. Woo Bin mengetuk pintu kamar mandi, ingin memastikan jika gadis itu baik-baik saja. “Jiwon?” Panggilnya. Tidak ada respon dari Jiwon. Woo Bin kembali mengetuk pintu. Kali ini lebih keras. “Kenapa lama sekali? Kau baik-baik saja?”

Namja bertubuh tinggi semampai itu menempelkan daun telinganya di pintu. Ia tidak mendengarkan apapun selain suara gemericik air. Seketika perasaan panic menghampirinya. “Jiwon!” Panggil Woo Bin dengan suara keras. Pria itu memutar gagang pintu, namun sayangnya terkunci dari dalam.

Woo Bin tidak memiliki pilihan lain selain mendobrak pintu kamar mandi itu.

“Ya Tuhan Jiwon!” Pekik Woo Bin kaget. Bagaimana tidak, begitu pintu terbuka, pria itu mendapati Jiwon yang duduk dibawah guyuran shower sambil menyayat-nyayat lengan kirinya. Genangan air disekitar gadis itu berubah warna menjadi merah. Mata Jiwon menatap sayu kearah Woo Bin. Woo Bin menghampiri Jiwon, mematikan air shower dan kemudian memeluk tubuh gemetar gadis itu yang hanya menggenakan handuk putih yang membalut tubuhnya. “Geumanhe. Berhentilah menyakiti dirimu sendiri.” Bisik Woo Bin lirih ditelinga Jiwon. Jiwon hanya diam. Tatapan gadis itu kosong. Bibirnya yang mulai membiru bergetar dan mengeluarkan suara lirih yang cukup menyayat hati.

“Ini terlalu menyakitkan… aku tidak sanggup lagi…” Isak Jiwon. Woo Bin mengeratkan pelukannya. “Kau tidak sendiri. Ada aku disini…”

Jiwon menatap Woo Bin dengan mata yang basah. “Dia… dia sudah merenggut kehidupanku. Tubuh ini…” Jiwon menatap tubuhnya nanar. “Aku jijik dengan tubuh ini.”

Woo Bin terkesiap. Sekarang namja itu mengerti, ia mengerti apa yang menyebabkan Jiwon menjadi seperti ini. Entah mengapa perasaannya sakit. Rasa benci yang mendalam muncul terhadap namja yang bernama Oh Sehun. Woo Bin menatap Jiwon yang berada dipelukannya dengan pandangan yang sulit diartikan.

 

 

-To Be Continued-

Aku tulis di sela-sela belajar buat midtest xD Mohon feedbacknya. At least show me that you’re really here 🙂 Makasih buat semua yang selaluu baca dan komen ^^

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

9 tanggapan untuk “Dark Side (Part 4)

  1. Waahh ceritanya makin seruuu.. penasaran kelanjutan cerita woobin sama jiwon bakal kayak apa.. ditunggu chapter selanjutnya yaaa.. makasihh.. ^^

  2. aigoo kasihan baget jiwon.. oh sehun bneran keterlaluan.. apa dia dan keluargannya tak akan dapat karma?? semoga saja … penasaran ama kisah mereka berdua jiwon ama woobin ?? akan berakir bahagia kah ?? next^^

  3. Selalu nunggu di ff dipost…
    Bagus bangetceritanya thor…
    Lebih bagus lagi kalo post nya agak cepetan…
    Keburuu penasaran sama endingnya
    Lanjutnya jangan lama2 pliss thoe

    1. Hihi, makasih chingu ^^
      Maunya juga bisa nge post cepet. kalo bs tiap hari malah. Tapi berhubung inspirasi susah sama tugas kuliah susah diajak kompromi, jdnya ngga bs deh huhu T__T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s