Diposkan pada Chapters

I Love You For Now and Forever (Part 2)

ff

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title     : I Love You For Now and Forever
Type    : Chaptered
Genre  : Romance, Friendship, Life

Cast :
– Mario Maurer
– Aom Sucharat Manaying
– Apinya Sakuljaroensuk

 

_____________________________________________

 

Pintu rumah itu dibanting tepat dihadapan wajah Mario, membuat tubuh pria itu agak tersentak ke belakang. Helaan napas yang sarat akan rasa kecewa dan sedih terdengar dari mulutnya. Ini memang bukan pertama kalinya ia mendapat perlakuan seperti ini dari gadis itu, gadis yang pernah mengisi relung hatinya, menemani hari-harinya. Tepatnya setelah kejadian satu tahun lalu, kejadian yang membuat hubungannya dengan Name hancur. Hari kematian Shon, adik lelaki Name.

Friends-Never-Die-mario-maurer-E0-B8-A1-E0-B8-B2-E0-B8-A3-E0-B8-B4-E0-B9-82-E0-B8-AD-E0-B9-89-32470256-600-398

Dengan langkah gontai Mario meninggalkan rumah sederhana itu. Setidaknya sekarang ia tahu dimana Name tinggal. Ini lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.

Name menatap sendu kearah punggung Mario yang perlahan menghilang dari pandangannya. Tak lama kemudian suara deru mesin mobil terdengar, menandakan bahwa pria tampan itu sudah pergi. Name menghela napas sedih. Setetes air mata jatuh dipipinya. Gadis itu mencengkram dadanya yang terasa sakit. Ia sakit setiap kali harus mengacuhkan kehadiran Mario, bahkan tak jarang bersikap kasar pada pria itu. Namun rasa sakit dan sedih akibat kehilangan adik yang dicintainya begitu mendominasi perasaan gadis berambut sebahu itu.

“Sampai kapan kau akan selalu bersikap seperti itu pada Mario? Itu semua bukan kesalahannya. Bukan dia yang menyebabkan Shon berubah dan…”

“Hentikan bu! Jelas-jelas dia adalah penyebab berubahnya sikap Shon. Dia yang membuat Shon menjadi nakal dan liar hingga sampai menjadi pecandu. Dia yang membuat Shon terlibat dalam semua kehidupan gangnya yang tidak benar itu!” Seru Name dengan berapi-api. Gadis itu melenggang pergi meninggalkan sang ibu yang hanya dapat menatap putrinya prihatin.

 

 

*****

 

 

Aom berjalan sembari mendekap buku-buku komunikasi yang cukup miliknya. Sesekali gadis itu akan menunduk, berusaha menghindari kontak mata dengan mahasiswa atau mahasiswi lainnya. Aom memang tipe gadis pemalu dan agak sulit untuk beradaptasi dilingkungan baru. Ini sudah minggu keduanya menjabat sebagai mahasiswi jurusan komunikasi.

‘Panasnya…’ Keluh Aom dalam hati.

Memang, akhir-akhir ini matahari sedang semangatnya menyinari kota Bangkok, membuat siapa saja takkan tahan berlama-lama dibawah teriknya. Aom berdiri dibawah pohon yang rindang. Gadis itu melihat kearah kanan, menunggu angkutan umum yang biasa membawanya pulang ke rumah.

Terlintas dalam pikirannya mengenai pertemuannya dengan Mario hampir dua pekan silam. Setelah hari itu ia tidak berjumpa lagi dengan Mario, dan ini cukup membuatnya miris, mengingat bahwa mereka berada di universitas yang sama.

“Aom?”

Merasa namanya dipanggil, Aom pun mendongakkan kepalanya. Dan betapa kagetnya ia saat melihat Mario yang duduk dikemudi mobil sedan hitamnya, sedang menatapnya intens. Tatapan mata yang tajam khas milik Mario membuat jantung Aom berdebar kencang. Otaknya mendadak kosong dan yang dapat dilakukannya hanyalah memasang tampang polos.

“Phi…” Setelah sekian detik hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.

“Naiklah. Aku akan mengantarmu pulang.” Ajak Mario.

“Eh?”

Mario tertawa kecil melihat ekspresi lucu yang terpatri diwajah cantik Aom. “Cuaca sangat panas, kau masih betah berdiri disana?” Mario menaikkan alisnya dan kemudian tersenyum ramah, membuat darah Aom berdesir. “Ayo masuk ke mobil!”

_dsc0259

“Ah, iya.” Dengan bergegas Aom masuk ke dalam mobil Mario. Ia duduk dikursi sebelah Mario. Gadis itu memengang buku-bukunya dengan erat. Situasi ini membuatnya canggung. Wajar saja sebenarnya, mengingat bahwa mereka sudah lama tidak bertemu. Pertemuan mereka dua minggu lalu tidak terlalu banyak membantu sebab itu hanya berlangsung tidak lebih dari 15 menit.

Meskipun diam, namun otak Aom berputar keras, mencari bahan yang dapat ia jadikan subjek pembicaraan dengan Mario.

“Kau mengambil jurusan apa?”

Pertanyaan tiba-tiba dari Mario cukup membuat Aom kaget. Gadis itu menoleh cepat dan menatap Mario yang masih fokus pada kemudinya. “Komunikasi.” Jawab gadis itu.

Mario mengangguk paham. “Yah, jurusan itu memang sedang menjadi favorit. Lalu bagaimana rasanya menjadi mahasiswi? Kau sudah lama kan menantikan masa-masa ini?”

Aom terdiam mendengar perkataan Mario, namun sedetik kemudian sebuah senyuman manis terukir dibibirnya. Hati Aom menghangat karena ternyata Mario mengingat bahwa saat mereka masih di sekolah dasar dulu, Aom berkata bahwa ia ingin segera menjadi mahasiswi karena melihat sepupunya.

“Haha, ternyata Phi masih mengingatnya. Hmm, rasanya sangat menyenangkan. Tapi tetap saja, masa-masa SMA adalah yang terbaik.” Jawab Aom sambil tersenyum sumringah.

“Yah, aku sangat setuju dengan itu.”

Mobil sport hitam itu melaju dijalanan yang sepi. Mario memang sengaja mengambil jalan yang sepi untuk menghindari macet.  Mata tajam pria tampan itu menyadari ada yang salah. Mario mengerutkan dahinya saat melihat dua buah mobil jeep mengikuti mobilnya dari belakang. Awalnya Mario tidak mengenali kedua mobil itu, namun lambat laun ia tahu bahwa kedua mobil itu milik gang Eagle, musuhnya.

“Sial!” Rutuk Mario. Ia sedang dalam kondisi yang tidak bisa melayani orang-orang itu. Dia masih cukup waras untuk tidak melibatkan Aom ke dalam persoalan antar gang ini. Mario melirik kearah gadis cantik yang duduk disebelahnya. Tampaknya Aom masih belum menyadari masalah yang sedang terjadi.

“Awas phi!” Seru Aom panic. Mario menginjak rem secara mendadak hingga membuat mobil berhenti dengan tidak mulus. Kedua tangan Mario yang memegang stir mobil terkepal sempurna saat melihat orang-orang yang berada dalam mobil itu keluar dari sana setelah memblokir jalan.

“Phi, siapa mereka?” Tanya Aom seraya menatap orang-orang itu dengan pandangan ngeri. Dilihat dari gaya dan ekspresi wajah mereka, mereka tidak datang dengan damai, melainkan ingin membuat masalah. Aom bahkan bergedik ngeri saat melihat beberapa orang diantara mereka membawa tongkat baseball yang besi. Perlu dicatat, yang besi, bukannya kayu!

Mario menggenggam tangan Aom lembut. “Maaf kau harus melihat ini semua. Aku berjanji takkan lama. Kau jangan kemana-mana ya. Cukup duduk manis disini. Ayo lekas pindah ke belakang. Dan kunci pintu mobil ini. Jangan biarkan ada yang masuk kecuali aku. Kau mengerti?”

Aom mengangguk cepat. Mario tersenyum manis. Pria itu sempat menghubungi seseorang sebelum ia turun dari mobil. Aom langsung mengunci semua pintu dan kemudian pindah di kursi penumpang bagian belakang. Gadis itu bersembunyi dibalik kursi mobil, dan sesekali akan mengintip untuk melihat keadaan Mario. Gadis itu sempat melihat Mario berbicara serius dengan orang-orang itu, namun tak lama baku hantam terjadi. Aom bersumpah bahwa menonton adegan berkelahi yang asli tidak seasyik menonton adegan berkelahi di film. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sembari meremas kedua tangannya. Tak henti-hentinya ia berdoa agar perkelahian itu segera berakhir.

Aom sangsi jika Mario akan menang melawan orang-orang yang begitu banyak dan tanpa memegang senjata apapun. Namun dugaan gadis itu salah total.

“Ya Tuhan!”

Aom nyaris tak dapat mengatupkan bibirnya saat melihat betapa handalnya Mario menangkis serangan dari lawan-lawannya. Bahkan sudah ada beberapa orang yang tumbang. Detik itu juga Aom merasa bahwa ia memang sudah tidak mengenal Mario lagi. Gadis itu tidak pernah tahu bahwa phi kesayangannya itu sangat mahir dalam ilmu bela diri. Disaat Mario sudah mulai kewalahan, beberapa orang dengan dikendarai motor datang membantu. Tampaknya mereka adalah orang-orang yang dihubungi Mario tadi. Aom hanya dapat menonton dari jauh. Sesekali gadis itu akan memekik ketakutan. Daripada mati ketakutan, Aom memilih untuk menutup matanya.

TUK TUK TUK

“Kyaaa!” Aom memekik kaget dan langsung menoleh. Ia menghela napas lega saat melihat Mario yang mengetuk kaca mobil. Gadis itu segera membuka kunci dan pindah ke kursi depan. Kedua mobil jeep tadi sudah tak tampak. Yang ada hanyalah pemuda-pemuda yang tadi datang dengan motor. Mereka teman-teman Mario.

“Maaf kau jadi harus melihat kejadian tadi.” Ucap Mario menyesal. Aom menggeleng. “Tidak apa-apa. Tapi, phi baik-baik saja kan?” Aom menatap Mario cemas. Gadis itu dapat melihat sudut bibir Mario yang berdarah dan juga memar dipipinya.

“Tidak apa-apa. Hanya luka kecil.”

Pintu mobil dari sisi Aom dibuka dari luar. “Wah, ada gadis cantik. Siapa dia?”

“Aom, kenalkan itu temanku Tong. Tong, ini Aom.” Tong tampak begitu tertarik dengan Aom. Yah, wajar saja mengingat pria itu memang tidak pernah tahan melihat gadis cantik. Dan menurutnya Aom adalah gadis tercantik yang pernah ia temui. Aom agak kurang nyaman dengan tatapan Tong yang terasa begitu menelanjanginya. Mario yang tampaknya sadar langsung mengambil sikap. “Jangan membuatnya takut Tong! Dan jangan pernah berpikir untuk mengencaninya karena dia gadisku.”

Aom langsung menoleh kaget kearah Mario. Apa ia tidak salah dengan tadi? Mario mengatakan bahwa dirinya adalah gadis pria itu. Apa maksudnya ini?

Tong mengangkat tangan menyerah. “Yah yah, aku tidak akan macam-macam. Aku masih tahu diri untuk tidak merebut gadis temanku sendiri.”

“Hey hey, kami juga mau berkenalan.” Teman-teman Mario yang lain juga tidak mau ketinggalan.

“Teman-teman, gadis ini adalah Aom. Dan Aom, mereka teman-temanku. Itu Tong, Kla, Gun, Can, Nick, Arm dan Champ.” Mario menunjuk temannya satu persatu. Aom tersenyum manis pada mereka semua. “Aku akan menemui kalian di tempat biasa. Aku harus mengantar Aom pulang dulu.”

 

 

*****

 

 

“Phi, siapa orang-orang tadi? Kenapa kalian berkelahi?” Tanya Aom takut-takut. Gadis itu menoleh kearah Mario. Pria itu menghela napas. “Ceritanya panjang Aom. Ada beberapa hal yang rumit dan kau takkan mengerti meskipun aku ceritakan.”

Aom menunduk kecewa. “Tampaknya ada banyak hal yang sudah aku lewatkan. Kapan terakhir kali kita berbincang? 6 tahun lalu?”

Mario melirik kearah Aom. Dia tahu bahwa Aom kecewa padanya. Kecewa karena dulu ia yang pertama kali membuat jurang pemisah antara dirinya dan Aom. Alasannya klise, karena ia tidak ingin digoda oleh keluarga dan teman-temannya karena selalu bersama Aom. Dan sekarang, ada rasa sedikit rasa sesal didalam relung hatinya. Andai saja dulu ia tidak menjauhi Aom. Tapi biarlah. Menyesal pun tidak akan mengembalikan keadaan menjadi seperti semula. Sekarang, disaat ia kembali lagi bertemu Aom, saat itu juga Mario merasa bahwa ini adalah kesempatan keduanya untuk memperbaiki hubungan mereka.

 

 

*****

 

 

Hingar bingar musik terdengar dari tempat remang-remang itu. Mario bersama teman-temannya ada disana, duduk disalah satu meja dekat bar. Ada 3 buah botol minuman yang menemani mereka.

large

“Tong, jangan terlalu banyak minum.” Mario mengingatkan. Tong hanya mengangguk acuh, dan malah kembali menuangkan minuman kedalam gelasnya. Tong memang sangat keras kepala dibanding teman Mario yang lain. Maklum, Tong berasal dari keluarga kelas menengah bawah. Pria itu selalu hidup dengan kekerasan, sehingga membuatnya menjadi seperti sekarang.

Gun menepuk bahu Mario. “Sudah bertemu dengan Name?” Tanyanya. Mario mengangguk pelan. Wajahnya berubah sendu. “Dia masih membenciku.”

Gun menatap temannya prihatin. “Kau masih mencintainya?”

Tanpa ragu Mario menggeleng. “Tidak. Tapi aku masih menyayanginya selayaknya saudara. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Aku ingin kami dapat bersahabat kembali.” Jawab Mario. Gun tersenyum kecil. “Pasti bisa. Kau hanya perlu bersabar sedikit lagi. Hmm, ngomong-ngomong, gadis yang bernama Aom itu cantik. Dia…”

Gun langsung menghentikan kalimatnya saat melihat mata Mario yang menatapnya tajam. Oh, demi apapun, sampai sekarang nyali Gun masih sering menciut hanya karena sepasang mata elang itu. Dengan polosnya Gun tersenyum bocah sembari menunjukkan tanda peace. “Aku hanya bercanda Gun. Aku tidak akan menganggu gadismu.”

“Ayo kelantai dansa. Kita tidak datang untuk menghabiskan waktu hanya dengan duduk dan minum saja, kan.” Ajak Kla. Pria berbadan tinggi dan tegap itu langsung melenggang ke lantai dansa, diikuti oleh Arm, Nick dan Can.

Dari sudut matanya Mario melihat dua orang pria berbadan besar memanggil Nick. Wajah Nick yang tadinya dihiasi senyum sumringah mendadak langsung berubah mendung. Dengan terpaksa Nick menghampiri kedua pria itu. Mario melihat Nick menyerahkan sesuatu kepada kedua pria itu. Mario lantas menghampiri temannya itu.

“Ada apa? Siapa mereka?” Tanyanya.

Nick menghela napas kesal. “Mereka preman di dekat rumahku. Mereka selalu merampas uang dan rokokku. Sialan!” Gerutu Nick.

Mario menatap tajam kedua orang itu. Tanpa berkata-kata ia melangkah pergi, mengikuti kedua pria tersebut.

Begitu menemukan kedua targetnya di dalam toilet, tanpa babibu Mario langsung melayangkan tendangan dan pukulannya. Dalam hitungan detik kedua pria itu roboh.

“Siapa kau brengsek?!” Teriak salah seorang preman itu marah.

Mario menatapnya tajam sembari mencengkram kerah bajunya. “Jangan pernah mengganggu temanku lagi, atau kalian akan menyesal! Cepat kembalikan uang dan rokok yang tadi kalian rampas!”

Begitulah Mario. Ia takkan segan-segan turun tangan untuk membela teman-temannya. Selama ini semua orang mengira bahwa ia adalah pembuat masalah dan ketua gang yang kejam. Namun mereka salah. Mario hanya ingin melindungi teman-temannya sekuat tenaga. Karena bagi pria itu, teman-temannya adalah hartanya yang paling berharga, selain kedua orangtuanya, dan… Aom?

 

*****

 

 

Apinya dan Aom asyik mengobrol di taman kampus. Mereka berdua tidak terlalu mempedulikan tatapan memuja yang sedari tadi dilayangkan pria-pria kepada mereka. Hal yang biasa terjadi jika kedua gadis cantik itu sudah berkumpul. Pria mana yang akan menolak kecantikan kedua gadis ini. Apalagi mereka juga sangat ramah dan yang paling penting adalah mereka gadis baik-baik yang tidak terlalu familiar dengan dunia malam. Hal yang cukup langka dikalangan mahasiswa masa kini.

Apinya-Sakuljaroensuk--photo-8

“Jadi, kau berhasil kembali dekat dengan pangeranmu itu?” Apinya mengerlingkan matanya. Aom tertawa kecil. “Aku tidak tahu apa kami sudah dapat dikatakan kembali dekat. Tapi yah semoga saja.” Harap gadis berambut coklat terang itu.

Apinya menganggukkan kepalanya. “Tapi sungguh, aku sangat kaget saat tahu bahwa pangeranmu itu adalah Phi Mario. Dia sangat terkenal di kampus ini. Selain karena ketampanan, kepintaran dan juga kekayaan. Dia juga cukup disegani karena yang kudengar dia adalah ketua gang.” Ujar Apinya.

Aom menggeleng. “Bukan ketua gang. Mereka sering kumpul bersama. Beda dengan gangster yang di televisi.” Aom mengoreksi. Apinya tertawa kecil. “Terus saja bela pangeran mu itu.”

3ffe50efjw1dk6akxkgtkj

 

 

*****

 

 

Aom berjalan cepat sembari membawa buku-bukunya. Gadis itu ingin segera sampai di rumah. Cuaca cukup panas sehingga membuat moodnya tidak terlalu bagus.

“Hai.”

Aom menatap pria yang ada dihadapannya dengan wajah datar. Ia tidak mengenal pria ini. Bahkan ini baru pertama kalinya mereka bertemu. “Ya, ada apa?” Tanya gadis itu sopan sambil tersenyum kecil.

Pria itu mengulurkan tangannya. “Aku Kris.”

Aom menatap tangan pria itu yang terjulur dan kemudian menyambutnya. “Aku Aom.”

“Aku tahu.” Ucap pria itu, dan kemudian ia tersenyum manis. “Aku tertarik denganmu. Mau berkencan?”

Aom melongo menatap wajah Kris yang kini tengah tersenyum sumringah. Ceplas ceplos sekali pria ini. Tanpa basa basi ia mengajak Aom berkencan. Aom akui bahwa pria ini cukup manis dan keren, namun sikapnya yang blak-blaknya sama sekali bukan tipe Aom. Ia lebih suka dengan pria bersifat tenang dan pendiam seperti…

“Aom?”

“Phi Mario.” Gadis itu berseru senang. Mario berdiri disisinya sambil menatap tajam kearah Kris. Aom memperhatikan kedua pria itu. Mereka saling bertatapan tajam, seakan ingin terang-terangan menunjukkan rasa saling tak suka mereka.

“Aku ingin mengajakku pulang bersama.” Mario kembali mengalihkan perhatiannya pada Aom. Aom tersenyum manis, namun Kris menyekal tangannya. “Kau belum menjawab pertanyaanku.” Ujar pria itu.

“Maaf. Tapi aku tidak bisa.”Jawab Aom tidak enak. Gadis itu selalu merasa jahat dan buruk setiap kali ia dengan terpaksa harus menolak cinta dari pria yang menyukainya. Kris tersenyum kecil, berusaha untuk menutupi kekecewaannya. “Tidak apa. Aku mengerti.” Ucap Kris, dan kemudian melangkah pergi. Namun dalam hati pria itu tetap bertekad bahwa dia akan menjadikan Aom gadisnya.

“Apa yang dia minta?” Mario menatap Aom penasaran.

“Berkencan.”

Mario agak tersentak kaget mendengar jawaban gadis itu. Yah, seharusnya ia tidak perlu kaget. Dari awal ia sudah menduga bahwa akan ada banyak pria yang tertarik pada Aom. Apakah ini artinya ia harus bergerak cepat?

 

 

-To Be Continued-

Chapter pertama aku publish tahun lalu. Udh setahun lebih FF ini nganggur. Aku ngga tahu ada yang bakalan minat atau ngga. Cuma tiba-tiba aja kemarin aku jadi kangen sama FF ini dan pengen nerusin. Mungkin karena efek nonton ulang film film phi Mario xD Aku ngga berharap kalian bakalan muji atau gimana. Cuma please, jangan jadi sider. At least tunjukin kalo kalian ada. Makasih teman! ^^

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

Satu tanggapan untuk “I Love You For Now and Forever (Part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s