Diposkan pada Chapters

Crashed (Part 7)

1404130212061

Author : Cho Haneul
Title : Crashed
Type : Chaptered
Genre : Drama, Romance, School Life

Cast :
– Nam Bora
– Park Boyoung
– Kim Jongin
– Kris Wu
– Oh Sehun

_________________________________________

Bora tidak mengerti dengan pikiran Kai. Jelas-jelas bahu dan tangan namja itu sudah mulai pulih, oh bahkan sudah dapat dikatakan pulih. Ia sudah bisa bermain basket dan kembali menari seperti sedia kala. Namun gilanya, namja itu masih belum mau membebas tugaskan Bora dari pekerjaannya sebagai pesuruh. Bora sudah menyuarakan protesnya yang kemudian hanya dianggap angin lalu oleh Kai.

Bora meletakkan buku-buku dengan rapi di rak, sesuai dengan genre buku tersebut. Sudah 2 minggu ini ia bekerja sebagai penjaga toko buku di dekat rumahnya. Memang hanya toko buku kecil yang hanya memiliki dua orang karyawan, namun gaji yang ditawarkan lumayan, dan yang lebih penting bosnya sangat baik. Pemilik toko buku itu adalah seorang duda muda yang kebetulan juga adalah tetangga Bora.

“Bora-ya ponselmu berbunyi.” Ah Young datang sembari membawa ponsel Bora.

“Gomawo.” Ucap Bora sembari tersenyum. Ekspresi gadis itu langsung berubah masam saat melihat bahwa Kai yang menelponnya. “Mau apa lagi sih!” Gumamnya kesal.

“Mwo?” Sapa Bora ketus.

“Studio EXO satu jam lagi.”

“Hah?”

“Jangan terlambat!”

KLIK

Sambungan telepon langsung terputus, membuat gadis cantik bertubuh mungil itu mengerang kesal. Kai memang selalu seperti ini. Suka membuat janji secara tiba-tiba. Tidak peduli jika orang yang bersangkutan setuju atau tidak. Bora melirik jam Baby-G putih yang melingkari pergelangan tangannya. Sekarang jam 7 malam. Satu jam lagi toko buku akan tutup, namun ia sadar bahwa ia sudah harus sampai di studio EXO pukul 8 tepat. Itu berarti ia harus izin pulang terlebih dahulu.

“Aish, menyusahkan saja namja jelek itu!”

 

*****

 

 

Boyoung melangkah ringan di trotoar. Gadis itu masih menggunakan seragam sekolahnya. Ia memang belum sempat mengganti bajunya dan langsung pergi ke tempat bimbingan belajar. Biasanya ia memang tidak pernah pulang lewat dari jam 6. Hanya saja tadi ia sempat mampir ke mall didekat tempat bimbingan belajarnya, dan tentu saja, berada di mall akan membuat siapapun lupa waktu.

Sebenarnya Lena sempat menyuruh Boyoung untuk meminta bantuan Kris untuk menjemputnya, namun dengan sopan Boyoung menolaknya. Ia tidak ingin membuat kakak angkatnya itu repot. Lagipula jam segini jalanan Seoul masih ramai dengan kendaraan maupun pejalan kaki yang berlalu lalang. Jadi ia tidak takut untuk berjalan sendirian.

Boyoung merapatkan jaket pink miliknya. Seoul sudah memasuki musim dingin. Tak ayal udara malam dapat membuat tubuh menggigil kedinginan. Gadis itu berdiri di halte, menunggu bis yang akan membawanya pulang. Ada 7 orang yang berada di halte itu termasuk dirinya. Tampaknya 4 diantara mereka adalah orang kantoran, terlihat dari gaya berpakaian mereka. Boyoung agak merasa tidak nyaman karena ia merasa terus diperhatikan oleh seorang pria berjaket hitam dan memakai topi rajut yang berdiri 4 langkah darinya. Entah siapa pria itu. Sebab Boyoung tidak pernah merasa kenal atau bahkan pernah bertemu namja itu sebelumnya.

 

*****

 

_STUDIO DANCE EXO, Myeondong_

Studio dance yang bernama EXO itu tampak ramai seperti biasanya. Yah, ini memang bukan pertama kalinya Bora bertandang kesana. Ini sudah keempat kalinya ia kesana hanya untuk menemani Kai. Bora langsung menghampiri Sehun yang kebetulan tampak olehnya.

“Hai.” Sapa gadis itu sembari tersenyum ramah.

Sehun yang semula fokus pada ponselnya mendongak dan langsung tersenyum begitu tahu bahwa Bora yang tadi menyapanya. “Panggilan dari bos?” Tanya Sehun sembari tertawa. Bora mendengus kesal. “Yah, siapa lagi orang yang paling suka memerintah disini?”

02511

“Dia ada dilantai 2. Sebentar lagi dia akan tampil.”

“Jinjja?”

Sehun mengangguk pasti. “Aku juga akan tampil bersamanya.” Sehun tersenyum. Bora baru sadar bahwa Sehun menggunakan setelan baju ala pemain basket berwarna merah, tak lupa dengan handband dilengan kanannya. Beberapa orang pria juga tampak memakai pakaian yang sama. “Wah, jinjja? Aku tak sabar ingin melihat penampilan kalian. Awas saja jika mengecewakan! Aku sudah merelakan waktuku untuk datang kesini.”

“Tenang saja, kami takkan mengecewakan kok.”

“Oppa, ini minumnya.” Seorang gadis cantik berambut hitam panjang menyerahkan sebotol minuman dingin pada Sehun. Sehun mengusap kepala gadis itu penuh sayang dan gadis itu kemudian bergelayut manja dilengan Sehun. Bora tidak pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya. Ia berasumsi bahwa gadis cantik dihadapannya ini pastilah kekasih Oh Sehun.

“Geu yeoja neun nae yeojachingu aniya, keunde nae yeodongsaengiyeyo.” Ucap Sehun, membuyarkan asumsi Bora pada awalnya. “Bora-ya, ini adikku tersayang, Oh Haneul, dan Haneul, ini adalah temanku Nam Bora.” Kedua gadis cantik itu berjabat tangan sembari saling melempar senyum.

Bora memperhatikan kedua kakak beradik itu. Mereka tampak begitu akur dan tampak seperti sepasang kekasih. Bora tertawa kecil mengingat asumsinya tadi. “Apa kau selalu menonton kakakmu tampil?” Tanya Bora. Haneul menggeleng. “Tidak sering. Lagipula oppa jarang mengajakku pergi. Dia lebih senang menyimpan adiknya di rumah.” Ujar Haneul yang sontak membuat Bora maupun Sehun tertawa.

“Yak, aku hanya tidak ingin diomeli oleh ayah jika membiarkan anak gadisnya keluyuran di malam hari.” Bela Sehun seraya mengacak rambut Haneul. Haneul memukul pelan perut oppanya. Mereka bertiga asyik bercakap-cakap, hingga akhirnya tiba giliran Sehun untuk tampil bersama teman-temannya. Saat turun dari tangga Kai sempat bertukar pandang dengan Bora. Namja itu puas karena gadis itu menuruti perintahnya untuk datang ke studio.

Musik diputar, dan keenam pria itu, dengan Kai menempati posisi ditengah, mulai menggerakkan tubuhnya seirama dengan lantunan music. Pada menit-menit pertama Bora dibuat terkesima pada aksi solo Kai. Yah, gadis itu memang harus mengakui jika Kai adalah seorang penari yang hebat. Seumur hidup ia tidak pernah terkesima saat melihat seseorang menari. Baru Kai yang bisa membuatnya seperti ini. Tidak heran jika dongsaengnya sangat mengidolakan Kai.

Ngomong-ngomong soal dongsaeng, Jino pasti akan kesal sekali jika tahu bahwa Bora menonton aksi Kai dan teman-temannya. Pasalnya dongsaengnya itu sedang dihukum oleh sang ibu dengan tidak diizinkan untuk keluar rumah kecuali untuk sekolah akibat nilai pelajarannya yang menurun drastis.

Bora juga tidak melihat batang hidung Seulgi disini. Baguslah, setidaknya ia tidak akan merasa terintimidasi oleh tatapan penuh dendam yang selalu dilayangkan Seulgi untuknya.

“Apa eonnie pacar Kai oppa?” Tanya Haneul tiba-tiba yang sontak saja membuat Bora kaget. Gadis itu langsung menggeleng cepat. “Aniya aniya. Kami bahkan tidak dapat dikatakan teman.”

“Eh? Kalau begitu, emm… jadi hubungan kalian apa?”

Mendengar itu Bora terdiam. Ia sendiri juga bingung harus menganggap hubungannya dengan Kai seperti apa. Mereka bukanlah seorang teman yang seperti orang pada umumnya. Pacar? Lebih tidak masuk akal. Musuh? Aniya, walaupun Bora sering kesal karena sikap dan perilaku Kai, tapi gadis itu tidak membenci namja itu. Jadi, ia harus menjawab apa?

 

 

*****

 

 

Boyoung berjalan cepat menyusuri trotoar yang sepi. Ia memang sudah semakin dekat dengan rumahnya, namun sayangnya perumahan ini hampir selalu sepi oleh pejalan kaki. Maklum saja, mengingat bahwa ia tinggal di kawasan perumahan elit yang hampir seluruh penghuninya menggunakan kendaraan pribadi masing-masing.

Perasaan Boyoung semakin tak nyaman saat ia merasa bahwa ada yang sedang mengikutinya. Langkah gadis itu pun menjadi lebih cepat, bahkan nyaris berlari.

“KYAAA LEPAS!” Boyoung meronta-ronta saat seseorang menarik tubuhnya dan menahan tangannya. Sebuah mobil berhenti tepat disebelah Boyoung dan namja yang menahan tubuhnya itu. Dua orang pria lainnya turun dari dalam mobil, dan ketiga pria itu mendorong tubuh kecil Boyoung secara kasar ke dalam mobil. Suasana yang sepi benar-benar menguntungkan namja-namja itu. Boyoung masih berusaha meronta dan berteriak keras, namun tak lama gadis itu kehilangan kesadarannya seiring dengan aroma ammonia yang terhirup olehnya.

“Bos, kami sudah mendapatkan gadisnya. Kami akan segera membawanya ke tempatmu.”

Namja itu menutup telponnya, kemudian menatap temannya yang duduk dibelakang melalui kaca spion. “Kau yakin kan bahwa kita sudah menculik gadis yang benar? Masalahnya kita sama sekali tidak tahu bagaimana wajah gadis itu.”

Pria yang duduk dibelakang, tepat disamping Boyoung yang tengah tak sadarkan diri, mengangguk walaupun wajahnya juga tampak agak ragu. “Seharusnya ini memang gadis yang dimaksud itu. Aku sudah mengamati dan tadi siang aku melihatnya bersama Kai di sekolah. Kai tidak pernah terlihat dekat dengan gadis manapun di sekolah selain denga yeoja ini.”

 

 

*****

 

 

Penampilan Kai dan teman-temannya mendapat begitu banyak pujian. Semua orang tampak sangat puas dan menikmati tarian yang ditampilkan. Sungguh keren! Kai berdiri dihadapan Bora. Pria itu sudah mengganti kostum tampilnya dengan celana jeans yang dipadukan dengan kaos hitam dan hoodie biru gelap serta jaket hitam, mengingat udara malam Seoul semakin menusuk kulit.

b0dd89f1a4e29bc10ad689012e5341a4

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Kai sambil tersenyum kecil. Bora mengancungkan kedua jempolnya. Yah, gadis itu memang patut jujur, bukan. “Tidak rugi aku meluangkan waktu berhargaku.” Ucap Bora. Kai tertawa kecil. Beberapa orang teman Kai menghampiri namja itu, memberikan pujian atas penampilan hebat yang tadi ia tampilkan. “Sulit dipercaya bahwa kau baru saja sembuh dari cedera. Kau sama sekali tidak terlihat seperti itu.” Teman Kai menepuk bahu Kai dengan rasa bangga.

479f2d8fe40d492bb97051442a5fa451_20121106010026

Bora tersenyum mengamati interaksi Kai dengan teman-temannya. Meskipun suka seenaknya dan acap kali bersikap kurang ajar, ternyata Kai memiliki banyak teman. Kai memang terkenal mudah bergaul dan dia juga disukai oleh banyak orang, namja maupun yeoja. Semua orang ingin menjadi teman dari seorang Kim Jongin. Tapi anehnya, selama 2 kurang lebih bulan menjadi pesuruh Kai, tidak sekalipun Bora mendengar Kai bercerita soal keluarga, atau setidaknya tampak bersama kakak lelakinya yang Bora tahu bernama Suho. Pria berahang tegas itu lebih sering terlihat bersama teman-temannya.

Kai meraba saku hoodienya, dan mengeluarkan ponselnya yang bergetar karena ada panggilan masuk. Setelah berpamitan dengan teman-temannya serta Bora, Kai berjalan menjauhi keramaian guna untuk menerima telepon yang masuk. Bora menatap punggung Kai dalam diam.

“Halo?”

“Hai Kim Jongin, ah atau yang biasa dikenal sebagai dancing machine Kai.”

“Siapa kau?”

“Siapa aku bukanlah yang penting untukmu. Ada hal yang jauh lebih penting dari itu. Gadismu sedang ada disini bersama kami. Ia akan baik-baik saja selama kau menuruti keinginanku.”

Kai mengerutkan dahinya. “Tunggu! Gadisku? Kau gila? Aku tidak…”

“Yak lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?! Aku mau pulang!”

Teriakan yang sarat akan rasa takut itu membuat Kai terdiam. Ia seperti mengenal suara itu. Dan tadi mereka menyebut gadis itu sebagai gadisnya?

“Hei, tampaknya kekasih mungil mu itu sudah tidak sabar menunggumu menjemputnya. Jangan biarkan dia menunggu lama, Kai. Aku tunggu di gudang Dotta jam 11 malam ini. Jika kau tidak datang maka aku anggap bahwa kau menyerahkan gadis ini pada kami. Dan satu lagi, tidak perlu membawa teman se-gangmu!”

BIP

“Halo? Shit!” Kai memukul dinding yang ada dihadapannya dengan geram. Pria itu punya firasat bahwa gadis yang dimaksud itu adalah Park Boyoung. Yah, hanya dia satu-satunya gadis yang terlintas dalam pikiran Kai. Selama ini ia tidak pernah dekat dengan yeoja manapun kecuali Bora. Tapi sekarang Bora ada disini bersamanya. Bisa saja orang-orang itu salah sasaran. Dan tadi mereka menyebut mungil? Yah, itu semakin membuatnya yakin bahwa Boyoung sedang berada ditangan namja-namja bejat itu.

806018919

Kai baru saja akan beranjak pergi, namun cekalan tangan Bora menahannya. “Kau mau kemana? Apa terjadi sesuatu yang buruk?” Tanya Bora. Ia menjadi agak cemas karena melihat ekspresi Kai yang mendadak serius serta marah. Kai memandang sekitar, dan ketika menemukan Sehun, pria itu langsung memanggilnya.

“Sehun-ah!” Panggil Kai dengan suara keras.

Sehun berlari kecil menghampiri Kai. “Wae?”

Kai membisikkan sesuatu ke telinga sobatnya itu. “Ingat Huang Zi Tao?”

“Pria Cina itu?” Tanya Sehun, yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh Kai. Pria itu kembali berbisik. “Tampaknya ia ingin menyelesaikan masalah kami yang masih mengambang ini. Dia bahkan menculik Park Boyoung dari kelas 3B karena mengira bahwa gadis itu adalah kekasihku. Aku akan menyelesaikan ini semua. Kau antar Bora pulang dengan selamat. Ara?”

Sehun mengangguk cepat. “Keunde, bagaimana denganmu? Kau tidak akan sebodoh itu dengan pergi seorang diri, kan?”

“Kau kira ini adalah drama? Tentu saja tidak! Aku akan menghubungi teman-teman yang lain. Na katda!”

“Dimana?” Tanya Sehun sebelum Kai benar-benar pergi.

“Gedung Dotta.”

02302

Bora menatap kepergian Kai dengan bingung. Tampaknya memang telah terjadi sesuatu yang buruk hingga membuat Kai tampak begitu gusar. “Ayo kita pulang. Aku akan mengantarmu.” Ucap Sehun. Bora menatap pria itu dengan penasaran. “Ada apa dengan Kai? Kenapa dia tampak begitu gusar? Dan kemana dia pergi?”

“Woah woah, satu persatu nona manis.” Sehun tertawa kecil. “Kai ada urusan mendadak. Ia menyuruhku untuk mengantarmu pulang. Setelah itu aku juga akan menyusulnya.”

Bora masih tidak terlalu percaya dengan jawaban Sehun, namun gadis itu tidak bertanya lebih lanjut. Ia memilih untuk bungkam dan membiarkan Sehun untuk mengantarnya pulang ke rumah. Toh, apa yang terjadi pada Kai bukan urusannya. Begitu perjanjiannya dengan Kai selesai, maka saat itu juga hubungan mereka akan berakhir.

 

 

*****

 

 

_Rumah Keluarga Wu_

Lena cemas bukan main. Berkali-kali ia berusaha untuk menghubungi Boyoung, namun sampai detik ini belum mendapat balasan dari gadis itu. Wanita paruh baya itu meremas tangannya. Hatinya jadi tidak tenang. Bukan kebiasaan Boyoung untuk pulang larut malam dan tanpa kabar. Selarut apapun ia pulang, ia pasti akan minta izin terlebih dahulu.

tumblr_mnyxsfPmqS1rd3ql1o1_400

“Eomma!” Kris masuk kedalam ruang tamu. Pria itu tertegun melihat wajah ibunya yang begitu pucat dan terlihat cemas. Dari situ Kris dapat menebak bahwa adik angkatnya sampa detik ini belum ada kabar.

“Kris. Bagaimana nasib Boyoung sekarang? Ponselnya aktif tapi tidak diangkat. Tidak biasanya adikmu seperti ini.”

Kris terdiam. Tiba-tiba ia jadi teringat dengan Min Woo. ‘Apa kali ini ada sangkut pautnya dengan namja itu?’ Batin Kris. Dalam hati ia yakin bahwa ini memang ada hubungannya dengan Min Woo, mengingat kejadian terakhir saat namja itu sengaja ingin menabrak Boyoung. Jantung Kris berdetak lebih cepat. Jika memang ada hubungannya dengan Min Woo, berarti Boyoung sudah pasti sedang dalam bahaya.

“Aku akan kembali mencarinya!” Kris berlari pergi, meninggalkan sang ibu yang tidak dapat berkata apa-apa selain duduk diam menanti kepulangan putri angkatnya itu.

 

*****

 

 

Kai berjalan dengan langkah yang lebar-lebar. Pria itu sudah sampai didepan gudang Dotta. Kai sudah menghubungi teman-temannya dan mereka akan bersembunyi terlebih dahulu sebelum akhirnya akan turun tangan jika keadaan gawat. Dengan berani Kai masuk kedalam gudang yang sudah lama kosong itu. Suasana yang remang-remang menambah kesan yang menegangkan dan menyeramkan, akan tetapi Kai tidak gentar. Ia malah sudah tidak sabar untuk menghajar orang-orang yang sudah menantangnya.

Begitu sampai dibagian inti gudang, Kai dapat melihat beberapa orang pria sudah menunggunya disana. Beberapa orang pria itu terlihat sedang mengerubungi sesuatu atau lebih tepatnya seseorang. Awalnya Kai tidak dapat melihat orang yang diikat dikursi itu dengan jelas, namun tak lama namja itu menghembuskan napas gusar begitu tahu bahwa dugaannya tepat. Gadis yang disandera itu memang Boyoung.

“Keluar kau Huang Zi Tao!” Suara Kai terdengar begitu menggelegar dan menggema di gudang itu. Beberapa pria tadi menatap Kai dengan waspada seraya bersiap-siap untuk melancarkan serangan. Kai menatap orang-orang itu dengan tajam. “Mana Huang Zi Tao? Aku kesini ingin menyelesaikan masalah kami dan kalian bisa melepaskan gadis itu. Dia bukan pacarku.”

“Wah wah, senang bertemu denganmu lagi, Bung! Sudah aku duga kau akan langsung datang begitu tahu bahwa gadismu ada disini.” Tao tersenyum mengejek, membuat Kai sudah tak sabar ingin melayangkan pukulannya ke wajah menyebalkan Tao.

Boyoung seperti mendapat angin surga saat melihat Kai datang. Gadis itu meronta-ronta berusaha untuk melepaskan ikatan ditubuhnya. Mulut gadis itu diberi lakban sehingga ia tidak bisa berteriak minta tolong. Boyoung sangat panic saat sadar dari pingsannya dan menemukan dirinya telah terikat dikursi dengan dikelilingi oleh pria-pria menyeramkan yang tak pernah ia temui sebelumnya. Gadis itu bahkan sampai menangis tersedu-sedu, membuat ia sempat menjadi bahan tertawaan bagi para namjadeul disana.

Kai menatap Boyoung tepat dimanik mata gadis itu dengan begitu intense. Matanya seakan mengatakan agar Boyoung bersabar.

“Apa maumu? Cepat selesaikan urusan tidak penting ini dan biarkan aku dan gadis itu pergi.” Ujar Kai ketus.

Salah seorang teman Tao menyerahkan sebuah tongkat kayu panjang ke tangan Tao. “Mau ku…” Tao memainkan tongkat kayu tersebut, dan kemudian menatap Kai tajam. “Menghabisimu!”

BRAK

Pukulan tongkat kayu itu meleset dan mengenai sebuah kursi kayu hingga kursi kayu tersebut hancur. Boyoung memekik ngeri melihatnya. Nyaris saja kepala Kai hancur karena terkena pukulan tongkat kayu Tao. Tao memang sangat mahir dalam martial arts.

“Ayo Kim Jongin, sampai kapan kau akan terus menghindar?” Tao tertawa mengejek. Pria itu terus menerus mengayunkan tongkat kayunya kearah Kai, membuat Kai lama-kelamaan cukup merasa kewalahan. Melihat tidak adanya celah baginya untuk memukul Kai, Tao pun melancarkan rencana keduanya, yaitu membuat konsentrasi Kai terpecah.

Pria berdarah Cina itu memberikan kode kepada teman-temannya yang masih berdiri menonton perkelahiannya dan Kai. Mengerti dengan kode yang diberikan, 3 dari 7 namja itu mendekati Boyoung. Salah satu dari mereka membuka lakban dimulut Boyoung dengan kasar, hingga membuat bibir gadis itu berdarah, sedangkan yang seorang lagi membuka kancing baju Boyoung dengan tak kalah kasar. Boyoung sontak langsung berteriak histeris.

“BERHENTI BRENGSEK!” Amuk Kai saat melihat teman sekolahnya itu sedang dilecehkan oleh 3 orang pria. Merasa bahwa konsentrasi Kai agak terpecah, Tao pun memanfaatkannya. Dengan cepat ia melayangkan tongkatnya kearah perut dan kaki Kai, membuat Kai langsung jatuh terduduk. Kai mengerang sembari memegang perutnya yang terasa amat sakit. Belum sempat ia bangkit, tongkat itu sudah kembali kearah tubuhnya.

“Argh! Brengsek!” Umpat Kai sembari menahan sakit.

Konsentrasi Kai benar-benar sudah terpecah, antara harus meladeni Tao dan menyelamatkan Boyoung. Dengan sisa tenaganya Kai bangkit dan berlari kearah pria-pria yang masih mengerubungi Boyoung. Sebelum ia sampai ditempat Boyoung, empat orang pria sudah menghadangnya, namun dengan mudah dapat dilawan oleh Kai.

“Aku bilang berhenti!”

BUGH!

27399522

Pukulan demi pukulan Kai layangkan pada namjadeul dihadapannya. Namun satu banding 8 bukanlah hal yang sepele. Sekuat apapun dan semahir apapun Kai dalam bela diri, ia pasti akan kalah karena kehabisan tenaga. Disaat stamina Kai nyaris terkuras habis, bala bantuan pun datang. Teman-teman yang tadi Kai telepon berhamburan memasuki gudang. Tanpa membuang waktu mereka langsung menghajar teman-teman Tao. Baku hantam yang begitu sengit pun terjadi.

“Chanyeol, kau tolong gadis itu! Sementara aku akan membereskan si brengsek Huang Zi Tao dulu.”

“Membawa teman-temanmu, eo? Dasar pengecut!” Tao berkata dengan sinis.

“Bukan pengecut, tapi aku memakai otakku dengan baik. Aku sudah tahu bahwa kau juga  akan mendatangkan teman-temanmu. Kau pikir aku orang bodoh yang akan dengan suka rela datang untuk dibantai? Cih, kau salah jika berpikir seperti itu!”

BUGH!

Satu pukulan mendarat di perut Tao, membuat pria itu sempat terhuyung kebelakang. Tao mengambil tongkat kayunya, namun dengan sigap tongkat itu ditendang jauh oleh Kai. “Bisakah tidak usah memakai senjata? Manja sekali untuk ukuran orang sepertimu.” Kai tersenyum mengejek.

Kubu Kai tampak memimpin keadaan, terlihat dari banyaknya orang-orang Tao yang sudah terkapar tak berdaya. Sekarang yang tersisa hanya tinggal Tao dan kedua orang temannya. Kondisi Tao sendiri juga sudah tak jauh berbeda dari teman-temannya yang lain. Babak belur dibuat Kai.

“Jangan sekali-kali mencoba untuk mengancamku! Apalagi dengan menggunakan teman-temanku sebagai alat!” Kai memukuli wajah Tao yang berada dibawahnya, sedangkan Kai duduk diatas perut namja itu. Sadar bahwa keadaan sudah tidak mengguntungkan baginya, Tao pun mengeluarkan senjata terakhirnya. Sebuah pisau lipat. Sayangnya Kai tidak menyadari bahwa benda tajam itu sudah berada ditangan Tao. Senyuman sinis terukir dibibir Tao saat dengan cepat ia menancapkan pisau lipat tersebut ke perut Kai.

JLEB!

“Argh!”

“Ya Tuhan, KAI!!!”

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

4 tanggapan untuk “Crashed (Part 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s