Diposkan pada Chapters

Crashed (Part 8)

1404130212061

Author : Cho Haneul
Title      : Crashed
Type     : Chaptered
Genre  : Romance, Drama

SPECIAL THANKS TO MY SISTER FOR THE POSTERS :*

Cast :
– Park Boyoung
– Nam Bora
– Kris Wu
– Kim Jongin
– Oh Sehun

_______________________________________

 

Lay, salah seorang teman Kai, langsung menghantam Tao yang berniat kabur. Namja yang biasanya berwajah setenang air itu kali ini tampak begitu menyeramkan. Dengan bertubi-tubi dan tanpa mengenal ampun ia memukuli Tao dan bahkan menginjak perut namja itu hingga Tao memuntahkan darah segar dari mulutnya. Lay baru berhenti saat Chanyeol menariknya.

“Kita harus membawa Kai ke rumah sakit sekarang juga!” Ujar Chanyeol dengan panik.

Boyoung menangis tersedu-sedu melihat Kai yang kesakitan dan mulai tampak kehilangan kesadarannya. “Bertahanlah Kai! Jangan tutup matamu!” Isak gadis bertubuh mungil itu. Kai hanya diam sambil berusaha untuk mempertahankan kesadarannya. Namja itu menatap wajah sembab Boyoung yang perlahan namun pasti tampak mengabur di matanya. Rasa sakit terlalu mendominasi, hingga namja berahang tegas itu memilih untuk mengalah dan membiarkan kegelapan menyelimutinya.

“KAI KAI!”

 

 *****

 

 

_Santa Hospital, Seoul, 1 AM_

Boyoung menatap nanar kearah tangan dan baju seragamnya yang merah karena noda darah. Darah Kai. Gadis itu jadi merasa bersalah karena secara tidak langsung Kai menjadi seperti ini karena menyelamatkannya. Boyoung mendongak saat merasa bahunya ditepuk oleh seseorang. Seorang namja tersenyum kecil padanya. Boyoung tidak mengenal namja itu, namun ia sering melihat namja itu bersama Kai di sekolah.

“Byun Baekhyun imnida.” Pria itu memperkenalkan diri.

“Park Boyoung.” Jawab Boyoung dengan suara serak. Baekhyun duduk disebelah gadis mungil itu. “Kai akan baik-baik saja. Ia adalah namja yang kuat dan ini bukan hal baru baginya.” Baekhyun tersenyum kecil. Boyoung hanya diam. Air mata gadis itu kembali menetes. “Ne, kuharap dia akan baik-baik saja.”

“Ya, bagaimana keadaan Kai?!” Tanya Sehun dengan wajah panik. Namja itu baru sampai di rumah sakit, dan dia tidak sendiri. Haneul berdiri tepat disebelahnya. Wajah gadis itu tak kalah panic dari sang oppa. Meskipun tidak terlalu dekat dengan Kai, namun Haneul sudah menganggap pria itu seperti oppa-nya sendiri. Tentunya ia tidak ingin ada hal yang buruk terjadi pada Kai.

Chanyeol menghampiri Sehun. “Dia masih dalam pemeriksaan. Kami belum tahu bagaimana perkembangannya.”

Tangan Sehun mengepal sempurna. “Sialan si brengsek Tao!” Umpatnya geram. “Bagaimana dengan dia?” Sehun menatap Chanyeol. Namja jangkung itu menepuk bahu Sehun. “Lay sudah mengurusnya. Akan kupastikan bahwa si brengsek itu mendekam di balik jeruji besi.”  Jawab Chanyeol. Sehun mengela napas. Pandangan mata namja itu terpaku kearah ruang gawat darurat, tempat dimana sahabatnya itu tengah mendapat perawatan.

“Boyoung?”

Semua mengalihkan perhatian mereka pada suara baritone yang baru saja terdengar. Boyoung langsung bangkit dari duduknya dan berlari memeluk pria yang baru saja datang. “Kris oppa.” Air mata Boyoung kembali menetes. Perlahan kedua tangan Kris terangkat dan membalas pelukan gadis itu. Kris mengelus rambut dan punggung Boyoung dengan lembut. “Kau baik-baik saja?” Tanya namja itu.

Boyoung mengangguk. “Tapi temanku…”

“Sssh, dia akan baik-baik saja.” Kris berusaha untuk menenangkan adik angkatnya itu.

Kris berjalan menghampiri teman-teman Kai. Namja itu menunduk sopan. “Terima kasih sudah menolong adikku. Ku harap teman kalian akan baik-baik saja.” Ucap Kris.

Sehun tersenyum kecil. “Ne. Kami, atas nama Kai juga ingin minta maaf karena telah menyeret Boyoung dalam masalah kami. Ini semua karena kesalahpahaman.”

Kris mengangguk. Ia memang sudah tahu cerita singkatnya dari Boyoung saat ditelepon tadi. Tanpa sengaja Kris menoleh kearah Haneul yang berdiri disebelah Sehun. Tatapan mereka bertemu, membuat Haneul menunduk karena malu. Kris menatap gadis itu intens, merasa tidak asing akan wajah cantik yang ada dihadapannya ini. Sementara itu, Haneul berdoa dalam hati agar Kris tidak menyadari bahwa dirinya adalah gadis yang selalu datang dan duduk ditempat yang sama di café Bon Apetite. Café yang selalu di kunjungi Kris.

Suara pintu yang terbuka dan sosok dokter yang keluar dari unit gawat darurat membuat perhatian mereka semua kembali teralihkan. “Bagaimana kondisi teman kami?” Tanya Kyungsoo. Dokter pria paruh baya itu tersenyum. “Dia tidak apa-apa. Beruntung luka tusukannya tidak terlalu dalam. Ia hanya perlu beristirahat dan kondisinya akan kembali normal. Ah, apa kalian sudah menghubungi keluarganya?” Tanya dokter itu. Mereka saling bertukar pandang. Bagaimana mereka bisa menghubungi keluarga Kai jika mereka tidak tahu apapun mengenai keluarga namja itu, bahkan Sehun sekalipun yang notabennya sangat dekat dengan Kai tidak tahu terlalu banyak soal keluarga Kai.

“Ne. Kami sudah menghubungi mereka. Mereka sedang dalam perjalanan kesini.” Sehun terpaksa berbohong. Dokter itu mengangguk paham dan kemudian undur diri.

Baekhyun menepuk keningnya. “Aish, bagaimana mungkin kita lupa menghubungi keluarganya?!” Desis namja itu.

 

 

*****

 

 

Perlahan, kedua mata Kai terbuka. Samar-samar ia dapat melihat sekelilingnya yang didominasi oleh warna putih dan biru langit. Kai memejamkan matanya lagi. Tanpa bertanya ia sudah dapat memastikan bahwa dirinya tengah terbaring di ranjang rumah sakit. Ia masih ingat kejadian terakhir saat Tao menusukkan sebilah pisau lipat ke perutnya. Kai bahkan masih ingat bagaimana rasa sakitnya.

“Ya Tuhan, syukurlah kau sudah sadar, sayang.” Suara lembut seorang wanita mengalihkan perhatian Kai. Ekspresi namja itu langsung berubah dingin kala melihat sosok ibu tirinya yang tengah tersenyum manis kearahnya. Disamping wanita paruh baya itu, berdiri seorang laki-laki yang umurnya tidak terpaut jauh dari Kai. Pria itu Suho, kakak tiri Kai.

Kai mengumpat dalam hati. Kedua orang yang tengah berdiri dihadapannya kini adalah orang-orang yang paling ia hindari di muka bumi ini. Ia bahkan lebih memilih untuk bertatap muka dengan Huang Zi Tao yang notaben adalah musuh bebuyutannya, daripada harus bertatap muka dengan ibu dan kakak tirinya.

“Ayah akan datang kesini nanti malam.” Ujar Suho.

Kai hanya diam. Sedikitpun ia tidak menunjukkan reaksi apapun, membuat sang ibu hanya dapat menghela napas sedih. Ia tidak tahu sampai kapan Kai akan terus bersikap memusuhinya seperti ini. Padahal ini sudah 4 tahun lamanya.

Wanita itu membenarkan letak selimut Kai yang sebenarnya masih rapi. “Istirahatlah. Eomma akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu.” Wanita itu tersenyum lembut sebelum ia beranjak keluar dari kamar rawat Kai. Tinggal Suho dan Kai disana. Kedua namja itu saling diam.

“Sampai kapan kau akan terus membuat masalah Kai? Ini bukan pertama kalinya kau seperti ini. Bisakah kau berhenti? Apa kau tidak kasihan pada eomma dan appa? Mereka mencemaskanmu.” Suho berkata sembari menatap Kai.

Mendengar hal tersebut membuat emosi Kai tersulut. Namja itu paling anti jika ada orang yang mengkritik kelakuannya. “Aku tidak meminta mereka untuk mencemaskanku. Dan kupikir ini bukan urusanmu. Kau tidak berhak untuk mengkritikku!”

“Tentu saja aku berhak! Aku hyungmu!”

“Kakak tiri lebih tepatnya!” Kai menatap Suho tajam. “Dengar, aku tidak pernah meminta mereka untuk mengurusiku. Lagipula aku tidak pernah menganggap diriku sebagai bagian dari keluarga ini lagi semenjak kau dan ibumu menginjakkan kaki di rumah ku.”

Kedua tangan Suho mengepal. Jika ia tidak ingat kondisi Kai yang masih lemah, ia pasti sudah melayangkan bogem mentah kepada adik tirinya itu. Suho cukup tersinggung mendengar perkataan Kai. Selama ini pria itu sudah cukup bersabar menghadapi sikap tidak bersahabat Kai. Akan tetapi setiap kesabaran pasti ada batasnya, bukan?

“Kau… benar-benar anak tidak tahu diri Kim Jongin! Kasihan sekali appa karena mempunyai putra sepertimu.” Ucap Suho. Setelah berkata demikian namja itu pergi dari kamar rawat Kai. Berlama-lama didalam sana akan membuat emosinya semakin tersulut dan kehilangan kendali.

Kai tertawa miris mendengar perkataan terakhir Suho. “Yah, aku memang anak sialan. Memang sejak awal aku tidak pantas ada di dunia ini.”

 

 *****

 

Bora berjalan di lorong rumah sakit dengan panik. Ia baru mendapat kabar dari Sehun jika Kai masuk rumah sakit. ‘Bisakah kau tidak selalu membuat orang lain cemas babo?’ Batin Bora. Gadis itu berhenti melangkah didepan kamar rawat Kai. Dengan ragu ia menyentuh gagang pintu dan dengan perlahan ia membuka pintu tersebut. Gadis itu termangu didepan pintu kala melihat Kai yang sedang berbincang dengan seorang gadis yang tidak dikenalnya. Bora merasa ia tidak pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya. Siapa gadis itu?

“Hei, sedang apa kau berdiri disitu?”

Suara Kai menyadarkan gadis itu akan lamunannya. “Annyeong.” Gadis itu tersenyum kecil dan kemudian menunduk sopan pada gadis yang duduk disisi ranjang Kai. Bora meletakkan sekeranjang buah-buahan diatas nakas yang terletak disebelah ranjang Kai. “Aku mendapat kabar dari Sehun bahwa kau masuk rumah sakit. Jadi, em… disinilah aku. Mengunjungimu.” Bora berusaha untuk menutupi rasa gugupnya dengan bersikap seperti biasa.

“Gomawo. Aku tidak menyangka kau akan sudi menjengukku. Bukankah kau membenciku?”

“Mwo?”

Kai tertawa kecil. “Aku hanya bercanda. Terima kasih banyak. Duduklah.”

Bora duduk di kursi disisi kanan ranjang Kai, sedangkan gadis itu duduk disisi kiri ranjang Kai. Suasana mendadak canggung. Kai menatap kedua gadis itu bergantian. “Ah, kalian belum berkenalan. Bora, ini teman sekolahku, Park Boyoung. Dan Boyoung, ini Nam Bora, temanku.”

Kedua gadis itu berjabat tangan. Boyoung kemudian melirik jam tangannya. “Jongin-ssi, aku harus pulang sekarang. Semoga cepat sembuh.” Boyoung tersenyum manis. Senyuman yang membuat siapa saja yang melihatnya ingin ikut tersenyum, termasuk Kai. Namja itu tersenyum, hal yang sangat jarang ia lakukan. Bora mengamati ekspresi Kai dan mendadak muncul rasa iri dihati gadis itu. Selama ini ia tidak pernah melihat Kai dekat dengan yeoja manapun, selain dirinya, namun kini, ia mendapati fakta bahwa ada gadis lain yang mempunyai posisi yang sama dengan dirinya. Atau malah lebih dekat? Mengingat bahwa gadis itu juga bersekolah di tempat yang sama dengan Kai.

“Bora-ssi, aku permisi. Senang berkenalan denganmu.” Ucap Boyoung ramah. Gadis bertubuh mungil itu berlalu meninggalkan kamar rawat Kai. Bora menoleh kearah Kai dan memergoki namja itu yang tengah menatap intens kearah Boyoung, bahkan sampai tubuh gadis itu menghilang dibalik pintu.

“Pacarmu?” Tanya Bora iseng.

Kai melirik kearahnya. “Bukan urusanmu.” Jawab namja itu singkat. Bora menggerutu kesal. Betapa ingin ia melempari Kai dengan buah-buahan yang tadi dibelinya.

“Jangan berpikir untuk melakukan tindak kekerasan padaku. Aku ini masih berstatus pasien.” Ujar Kai seakan ia dapat membaca pikiran Bora. Gadis itu tersentak kaget. Ia menatap Kai kaget. “Bagaimana…”

“Aku sudah tahu bagaimana tabiatmu, Nam Bora.” Kai menyeringai. “Ah, dan satu lagi. Berhubung aku kembali sakit, maka masa kerjamu kutambah.” Putus Kai seenaknya. Bora langsung menjerit tak terima. “Yak Kim Jongin! Makin lama kau makin kurang ajar! Dasar namja tidak tahu diri! Suka seenaknya!”

“Yak yak! Ini rumah sakit. Jangan berteriak seakan-akan kau sedang di terminal!”

 

*****

 

Dari balkon kamarnya Boyoung dapat menatap Kris yang sedang berenang dengan leluasa. Gadis itu memegang dadanya. Ada yang aneh. Kenapa semakin hari ia semakin biasa saja jika berhadapan dengan Kris? Kemana perginya semua sensasi aneh jika ia melihat Kris?

Boyoung mengacak rambutnya frustasi. “Aish, aku bisa gila!” Gumamnya gusar. Kenapa disaat Kris sudah dapat bersikap baik padanya ia malah kehilangan rasa pada namja itu?

 

 

*****

 

_WU’s Family House, 11 AM_

Jam menunjukkan pukul 11 pagi. Boyoung tampak sibuk meletakkan makanan kedalam kotak bekalnya yang berwarna hijau muda. Lena yang mendapati anak gadisnya yang sedang sibuk di dapur pun menjadi penasaran. “Kau ingin pergi kemana, sayang?” Tanya wanita itu lembut. Boyoung menoleh dan kemudian tersenyum. “Menjenguk Jongin.” Jawabnya.

Lena mengerutkan dahinya. “Lagi?” Tanya wanita itu. Kemudian pandangannya beralih kearah kotak bekal yang sudah terisi oleh makanan. “Kau memasak? Untuk Jongin?”

Ditanya seperti itu membuat Boyoung tersipu malu. Gadis itu menunduk, pura-pura sibuk dengan kotak bekalnya. “Ne. Jongin bilang bahwa makanan di rumah sakit tidak enak. Jadi… aku memasak makanan ini. Yah, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasihku.” Jawab Boyoung. Gadis itu memasukkan kotak bekalnya kedalam tas karton. “Aku pergi dulu, eomma.”

“Tidak diantar oleh Kris?”

“Aniya. Kris oppa sedang pergi bersama Jongdae oppa. Eomma jangan khawatir, aku pergi bersama supir Byun. Kalau begitu aku pergi dulu.”

“Ne. Hati-hati sayang.” Lena mengecup pipi putrinya itu.

 

 

*****

 

 

Kai mengotak atik ponselnya, namun semenit kemudian namja itu meletakkan ponselnya dengan kasar keatas meja. Bosan. Yah, Kai benar-benar bosan harus mendekam di rumah sakit. Dokter bilang 4 hari lagi dia baru bisa keluar dari rumah sakit. Mau tak mau Kai memang harus pasrah untuk tinggal lebih lama di rumah sakit.

Kai menoleh kearah pintu begitu mendengar suara pintu yang dibuka. Hal yang pertama dilihatnya adalah senyuman polos ala seorang Park Boyoung. Gadis itu melambaikan tangan sembari tersenyum pada Kai. “Annyeong. Aku datang lagi.”

Kai tersenyum kecil. “Jika kau tidak membawa apa-apa untukku maka kau kupersilahkan untuk kembali pergi dari ruangan ini.” Gurau Kai.

Boyoung menunjukkan tas karton berukuran sedang yang dipegangnya. “Tenang saja, aku tidak datang dengan tangan kosong kok.” Boyoung meletakkan tas tersebut keatas meja berukuran sedang yang ada di sudut kamar rawat Kai. Gadis itu mengeluarkan dua buah kotak makanan. Boyoung mengambil meja kecil yang biasa digunakan Kai untuk makan dan meletakkan dua buah kotak makannya diatas sana. “Ta-da! Bento ala Park Boyoung dan juga ada puding buah. Kau bilang bahwa kau bosan dengan makanan di rumah sakit, bukan? Jadi, aku memasak ini untukmu. Semoga kau suka. Tenang saja, aku sudah mencobanya dan rasanya tidak buruk. Kau tidak akan keracunan, kok.” Canda gadis itu.

Kai menatap makanan yang ada dihadapannya dengan penuh minat. Namja itu menoleh kearah Boyoung. “Kau memasak?” tanyanya. Boyoung mengangguk dengan semangat. “Ne.”

Gadis itu menyerahkan sepasang sumpit pada Kai. Kai menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya. Ia mengunyah makanannya dan tak lama namja itu terdiam. Melihat reaksi Kai, membuat Boyoung perasaan ketar-ketir. “Wae? Wae? Apa ada yang aneh? Rasanya tidak enak ya? Padahal aku yakin rasanya layak kok. Tapi…”

“Ini enak.” Potong Kai. Namja itu tersenyum tulus kearah Boyoung. “Mengingatkanku pada masakan mendiang ibuku. Dulu, ia selalu membuatkan bento jika aku akan pergi ke sekolah. Terima kasih.” Ucap namja itu tulus. Jantung Boyoung berdebar dengan kencang. Ini pertama kalinya ia melihat senyum tulus Kai dan ini juga pertama kalinya ia mendengar namja itu mengucapkan terima kasih. Sebuah kata yang cukup keramat bagi Kim Jongin.

“Ne, cheonmaneyo.” Balas gadis itu seraya tersenyum manis.

 

 

*****

 

 

_Kang Jiyoung’s House, 2 PM_

“Apa kita pakai warna biru langit saja ya? Bora? Yak Nam Bora!”

“Eh?” Bora menoleh kearah Jiyoung yang tengah mengerucutkan bibirnya. “Kau tidak mendengarkanku. Menyebalkan!”

Bora memeluk temannya itu. “Maaf baby Young. Memang tadi kau menanyakan apa sih?”

Jiyoung mendengus kesal. “Ini. Aku tanya apa tidak sebaiknya kita memakai warna biru saja? Kurasa biru tampak lebih bagus.” Bora mengangguk. “Yah, pakai warna itu saja.”

Bora dan Jiyoung sedang mengerjakan tugas kesenian mereka, yaitu menyulam. Namun sedari tadi pikiran Bora malah melalang buana. Gadis itu sebenarnya saat ingin mengunjungi Kai di rumah sakit, tapi apa daya, tugas yang deadlinenya hanya tinggal satu hari itu benar-benar tidak bisa diabaikan. Dengan terpaksa Bora mengurungkan niatnya untuk menjenguk Kai di rumah sakit.

Jiyoung yang menyadari bahwa sedari tadi pikiran temannya itu tengah berkelana ke negeri antah berantah itu pun akhirnya bukan suara. “Kau memikirkan namja yang bernama Kim Jongin itu?” Tanya Jiyoung.

“Aniya!” bantah Bora. “Untuk apa aku memikirkannya. Aku hanya sedang kesal. Masa dengan seenaknya ia memperpanjang masa penyiksaannya padaku?! Dasar namja sialan!” Rutuk Bora kesal. Jiyoung menatap sangsi. “Yakin jika kau sebal? Bukannya kau malah senang karena dengan begitu waktumu bersama Kai menjadi lebih panjang?” Jiyoung tersenyum jahil yang langsung dihadiahi jitakan oleh Bora.

“Jangan sembarang bicara! Hanya orang aneh yang senang dijadikan pembantu. Apalagi pembantu Kim Jongin!” Seru Bora kesal.

“Ah, aku tahu! Kau lebih ingin menjadi pacarnya, kan?!”

“Yak Kang Jiyoung!”

 

 *****

 

Min Woo menatap ibunya miris. Wanita paruh baya itu tampak duduk diam di teras rumah dengan pandangan yang menerawang. Ditangannya terdapat sebuah bingkai foto berukuran sedang. Foto Nara, mendiang putrinya. Mata Min Woo berkaca-kaca melihat pemandangan memilukan itu. Begitulah keadaan ibunya semenjak kepergian Nara. Ibunya akan menghabiskan waktunya hanya dengan duduk diam sembari memeluk foto Nara. Tidak ada lagi tawa dan senyum bahagia yang terpatri di wajah ibunya. Semuanya hilang tak berbekas.

Kedua tangan Min Woo mengepal sempurna. ‘Park Boyoung, kau harus membayar kemalangan yang terjadi pada keluargaku!’ Batin Min Woo.

Namja itu begitu kalut dan sedih. Kepergian sang adik yang begitu tiba-tiba, kondisi kejiwaan sang ibu yang menurun, hingga ayahnya yang lebih sering berpergian untuk menghindari kondisi keluarganya yang kelam. Semua itu membuat hati Min Woo dirasuki rasa dendam. Min Woo sudah membereskan beberapa orang dari gang yang telah melukai adiknya. Tidak, Min Woo tidak membunuh mereka. Ia hanya memberikan pelajaran dan membuat ketiga gadis itu mendekam di penjara remaja.

Sedangkan Boyoung, Min Woo punya rencana tersendiri. Min Woo merasa kematian Nara sebagian besar adalah kesalahan Boyoung. Andaikan saja Boyoung tidak meninggalkan Nara sendirian, Nara pasti akan kuat menghadapi semuanya karena ia memiliki seorang sahabat disisinya. Akan tetapi, dengan teganya Boyoung meninggalkan adik semata wayangnya itu sendirian dalam situasi yang sulit.

Min Woo bersumpah bahwa ia tidak akan semudah itu memaafkan Boyoung. Ah, ia bahkan tidak berencana untuk memberikan sedikitpun maaf pada mantan sahabat adiknya itu.

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

4 tanggapan untuk “Crashed (Part 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s