Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

Dark Side (Part 5)

1416330368437
Author : Cho Haneul
Title       : Dark Side
Type      : Chaptered
Genre    : Angst, Drama, Romance
Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Oh Sehun
___________________________________________

Woo Bin menyelimuti tubuh Jiwon dengan selimut hingga menutupi seluruh tubuh gadis itu kecuali bagian kepala. Jiwon sendiri langsung menutup matanya begitu ia merasakan empuknya kasur dan hangat tubuhnya yang ditutupi selimut tebal. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit. Woo Bin bersikeras untuk membawa Jiwon ke rumah sakit meskipun gadis itu sudah berkata bahwa ia baik-baik saja, dan luka kecil seperti itu akan sembuh dengan sendirinya, tapi pada akhirnya mereka tetap pergi ke rumah sakit.

Beruntung luka sayatan dipergelangan tangan Jiwon tidak terlalu parah. Setidaknya tidak sampai memotong nadi penting gadis itu. Woo Bin menatap gadis yang dihadapannya dengan iba. Melihat tubuh mungil itu meringkuk seperti janin dalam kandungan, membuat Woo Bin sadar betapa rapuhnya gadis ini. Tangan Woo Bin perlahan terjulur kearah kepala gadis itu dan kemudian mengelusnya lembut, seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja karena ia berada disisi Jiwon.

Air mata Jiwon terjatuh tanpa ia sempat menahannya. Perlahan, suara isakan terdengar dari mulutnya. “Hey, jangan menangis. Kau harus istirahat sekarang.” Ucap Woo Bin lembut. Mendapat perlakuan lembut seperti itu, perlakuan yang bahkan tidak ia dapatkan dari kedua orangtuanya, membuat tangisan Jiwon semakin menjadi. Pada akhirnya Woo Bin menarik gadis itu kedalam pelukan hangatnya. “Ssst, jangan menangis…” Woo Bin membelai kepala Jiwon dengan lembut.

“Aku lelah. Aku lelah dengan hidup ini… Aku bahkan tidak dapat bernapas dengan benar sangking merasa jijiknya dengan diriku sendiri.” Woo Bin diam. Ia membiarkan gadis itu kembali mengeluarkan unek-uneknya. “Kenapa semua ini terjadi padaku? Kenapa Tuhan tega, eo? Aku tidak punya siapa-siapa. Bahkan orangtuaku sendiri enggan untuk membelaku.”

“Siapa bilang kau sendiri? Kau punya aku, Ji. Aku akan menemanimu… naega yaksokhae…”

Woo Bin menatap Jiwon dengan begitu intens, dan dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah kecil Jiwon. Tatapan mereka saling mengunci satu sama lain hingga tanpa sadar bibir mereka bersentuhan. Woo Bin awalnya kaget dengan tindakan spontan yang ia lakukan. Baru saja ia ingin menjauhkan wajahnya, namun tangan Jiwon yang menahan tengkuknya seakan menjadi sinyal bahwa gadis itu tidak keberatan. Mereka berciuman dengan intens, namun tetap tidak tersulut dengan nafsu. Perasaan bahagia begitu memuncah dihati mereka masing-masing. Begitu bibir mereka terlepas, kedua insan itu saling bertatapan sebelum akhirnya gelak tawa terdengar diantara mereka.

“Jangan melakukan hal aneh ini lagi. Kau punya aku untuk berbagi.” Ucap Woo Bin sembari menunjuk pergelangan tangan Jiwon yang dibalut perban. Gadis itu menatap Woo Bin dan kemudian tersenyum kecil. “Neo do. Jangan meminum obat tidur atau obat penenang lagi. Kau punya aku untuk berbagi.” Jiwon mengikuti kata-kata Woo Bin. Woo Bin terkesiap. “Bagaimana…” “

Aku melihatnya di mobilmu tadi.” Ujar gadis itu.

Woo Bin mengecup singkat bibir Jiwon. “Ara.” Jawab namja itu diiringi dengan senyuman manisnya.

*****

Sehun tampak begitu berang. Seharian namja berwajah dingin itu tidak dapat menghubungi Jiwon. Ia bahkan sudah mau repot-repot menyambangi kediaman gadis itu hanya untuk mendapati bahwa gadis yang masih diklaim sebagai miliknya itu bahkan tidak pulang semalaman. Sehun yakin bahwa Jiwon sedang bersama namja yang bernama Woo Bin. Namja yang ia yakini sebagai selingkuhan kekasihnya itu. Mengingat itu membuat Sehun menggeram penuh amarah. ‘Ia bahkan akan bertunangan denganku minggu depan dan dia masih bisa bersama namja lain?! Brengsek!’ Batin Sehun.

Sehun mengambil ponsel yang berada disakunya begitu merasa bahwa benda itu bergetar. Senyumnya sedikit mengembang begitu melihat isi pesan yang ditampilkan. Salah seorang temannya baru saja mengiriminya alamat lengkap Kim Woo Bin. Jangan heran dengan betapa mudahnya Sehun mendapatkan itu. Hanya dengan beberapa lembar won, maka beberapa kenalan Woo Bin yang ditemuinya di Bar langsung memberi tahu perihal mengenai namja itu.

Sekarang Sehun sudah tahu kemana ia harus menuju. Dengan langkah lebar-lebar namja itu bergegas ke halaman parkir sekolah, tempat ia memarkir mobil mewah miliknya.

*****

“Dimana Jiwon?!”

Datang-datang Sehun langsung menodong Woo Bin dengan pertanyaannya. Woo Bin sempat terkejut ketika membuka pintu dan mendapati Sehun didepan pintu rumahnya. Woo Bin menatap Sehun tajam. Betapa ingin ia menghajar namja sombong dan keji ini habis-habisan setelah apa yang ia perbuat pada Jiwon, pada gadisnya.

“Lepaskan dia untukku. Kau tidak pantas bersama gadis sebaik dirinya.” Kalimat Woo Bin begitu menyulut emosi Sehun. Namja itu langsung mencengkram kerah kaus yang dipakai Woo Bin. “Brengsek kau! Ia milikku! Kami akan bertunangan minggu depan.”

“Akan kupastikan pertunangan itu takkan terjadi. Kau tidak mencintainya. Kau hanya terobsesi untuk memilikinya. Ia tidak bahagia bersamamu. Sudah sewajarnya kau melepaskan Jiwon. Ah, dan satu lagi, menggunakan kedua orangtuanya sebagai ancaman adalah tindakan yang sangat kekanakan.” Ujar Woo Bin sembari menatap Sehun remeh. Woo Bin melepaskan cengkaram tangan Sehun dikerah bajunya, dan kemudian ingin menutup pintu rumahnya.

Namun Sehun dengan segera melayangkan pukulannya hingga membuat Woo Bin sempat sedikit terhuyung kebelakang. Woo Bin yang tidak terima, jelas langsung membalas perlakuan kasar Sehun. Emosi namja itu menjadi semakin tersulut ketika mengingat Jiwon, mengingat bagaimana frustasi dan menderitanya gadis itu. “Brengsek kau Oh Sehun! Orang sepertimu tak pantas untuk hidup! Kau bejat!” Umpatan yang disertai dengan pukulan bertubi-tubi itu dilayangkan oleh Woo Bin. Woo Bin tampak mendominasi perkelahian itu. Wajar saja, mengingat bahwa namja itu adalah pemegang sabuk hitam Taekwondo.

Woo Bin baru berhenti ketika ia melihat Sehun yang sudah tergeletak tak berdaya dilantai. Ia tentunya tidak ingin mendapat masalah karena menghilangkan nyawa seseorang, meskipun orang tersebut sangat brengsek seperti Oh Sehun.

Dengan pandangan mata yang tajam dan suara yang terdengar begitu ketus, Woo Bin mengusir Sehun. “Pergi sebelum aku benar-benar menghabisimu!”

Sehun memang pergi, namun itu tidak berarti bahwa ia merasa kalah ataupun menyerah. Tidak ada hal seperti itu didalam kamus hidup Oh Sehun. Yah, ia yakin bahwa ia pasti akan segera menemukan cara untuk membawa Jiwon kembali padanya dan jika saat itu datang, maka ia takkan membuang waktu untuk segera meresmikan hubungan mereka. Jiwon harus menjadi miliknya!

*****

_04.25 PM, CIEL HOTEL, SEOUL_

“Hakgyo e an kallae?” Suara maskulin itu terdengar di telinga Jiwon. Gadis yang tadinya sedang asyik menatap jalanan Seoul dari jendela kamar itu pun menoleh, dan kemudian menggeleng pelan. “Ne, an kallae.” Jawabnya. Woo Bin duduk disebelah Jiwon, ikut memandang pemandangan kota Seoul yang cukup padat. “Wae? Ujian akhir sebentar lagi tiba. Kau tidak ingin lulus sekolah?”

Jiwon mendesah pelan dan kembali menggeleng, membuat Woo Bin mengeryit heran melihat jawaban gadis itu. Jiwon menyandarkan kepalanya dibahu Woo Bin. Gadis itu merasa tenang dan terlindungi kala ia bersama Woo Bin. Ini aneh sebenarnya, mengingat bahwa mereka termasuk baru mengenal, namun sudah merasa sangat nyaman satu sama lain.

“Lulus sama dengan menikah dengan Oh Sehun.” Suara lirih Jiwon kembali terdengar.

Woo Bin terdiam mendengar perkataan Jiwon. Namja tampan itu baru ingat bahwa gadis yang disebelahnya ini sudah terikat semacam perjanjian dengan keluarga Oh. Mengingat Oh Sehun membuat rahang Woo Bin mengeras. Betapa ingin ia menendang jauh Oh Sehun dari kehidupan gadisnya.

“Kajja.” Woo Bin menarik pelan tangan Jiwon hingga gadis itu berdiri. Jiwon menatap Woo Bin bingung. “Kita jalan-jalan.” Ucap Woo Bin.

“Tapi…”

“Wae? Memangnya kau tidak bosan dua hari terkurung disini? Lagipula kurasa kita harus membeli beberapa helai pakaian baru untukmu. Aroma mu mulai terasa tak sedap, kau tahu?” Woo Bin terkekeh geli. Jiwon memukul dada namjanya itu. “Sialan kau!” desisnya kesal, namun tak urung gadis itu turut tersenyum.

“Baiklah, ayo! Dan setelah itu kau harus mentraktirku makan enak.” Ujar Jiwon.

*****

_NAMSAN TOWER, 07.45 PM, SEOUL_

“Namsan Tower?” Jiwon menatap Woo Bin. Woo Bin tersenyum manis. “Eo. Kau takut berkeliaran di mall atau hanya sekedar nongkrong di café karena berpotensi bertemu dengan Sehun, bukan? Makanya aku mengajakmu kesini. Aku yakin namja model Sehun tidak akan suka berada di tempat seperti ini.” Ucap Woo Bin.

Jiwon mengangguk membenarkan. Selama berkencan dengan Sehun, namja itu tidak pernah mengajaknya ke Namsan Tower. Mereka hanya pernah sekali pergi kesana, itu juga karena ingin menonton penampilan dance teman-teman Sehun, bukannya untuk berkencan.

Gadis berambut panjang itu mengeratkan jaketnya. Udara malam Seoul, terlebih di Namsan Tower yang terletak diatas gunung, memang sedang dingin-dinginnya. Maklum saja, musim dingin memang akan segera tiba. Kedua muda mudi itu berjalan memasuki kereta gantung yang akan membawa mereka sampai ke Namsan Tower.

“Apa kau pernah makan ttokboki disini? Sangat enak.” Ujar Woo Bin.

“Ah, yang didekat tangga kan? Tentu saja pernah. Itu ttokboki terenak yang pernah kumakan. Kira-kira apa jam segini mereka masih berjualan ya? Aku selalu mengunjungi saat siang atau sore hari.”

“Masih. Mereka buka sampai malam hari.”

Kedua insan itu duduk berdampingan disalah satu bangku panjang yang ada disana. Keduanya tampak asyik dengan mangkuk ttokboki hangat yang ada ditangan mereka masing-masing. Udara yang dingin memang selalu membuat orang merasa mudah lapar. Jiwon menatap sekelilingnya yang kebanyakan pasangan kekasih. Gadis itu kemudian melirik namja yang disebelahnya, dan tak dapat menyembunyikan senyum sumringahnya saat menyadari bahwa ia juga salah satu dari orang-orang itu. Woo Bin memang tidak pernah memintanya untuk menjadi kekasih namja itu, namun sebuah ciuman cukup untuk mewakili perasaan hati mereka. Mereka saling tertarik, saling suka dan lebih tepatnya saling mencintai.

Bagaimana dengan Oh Sehun?

Persetan dengan namja brengsek itu!’

Rasa cinta yang dulu pernah ada untuk namja itu sudah benar-benar mati. Tidak bersisa sedikitpun. Yang ada sekarang hanyalah rasa benci yang begitu sangat sampai ke urat nadi. Ponsel Woo Bin tiba-tiba berdering. Jiwon menoleh sekilas kearah namja itu. Gadis itu mendengar Woo Bin yang baru saja menolak ajakan berkumpul temannya dengan alasan sibuk. Gadis itu jadi merasa tidak enak karena jelas sekali Woo Bin menolak ajakan temannya karena namja itu memilih untuk menemani dirinya disini.

Woo Bin kembali meletakkan ponselnya kedalam jaket hitam tebal yang dikenakannya. “Temanmu?” Tanya Jiwon.

“Eo. Mereka mengajak untuk bertemu.”

“Dan kau menolaknya karena aku. Mianhe. Seharusnya kau pergi saja bersama mereka. Lagipula kau sudah dua hari penuh selalu menemaniku.”

Woo Bin tersenyum kecil. “Sebenarnya mereka bukan teman-temanku. Naega chingu opseoyo.” Suara Woo Bin mendadak menjadi lirih. Jiwon menjadi tertarik untuk mendengar kelanjutan cerita Woo Bin. “Mereka hanya sekelompok orang haus harta yang menamakan diri mereka sebagai teman. Mereka tidak sungguh-sungguh ingin berteman denganku. Mereka memerlukanku untuk membayar minuman mereka, untuk membayar hutang-hutang mereka dan bahkan untuk meminjam barang-barangku.”

Jiwon menatap Woo Bin dalam. “Dan kau tetap berteman dengan mereka setelah fakta itu terkuak jelas dihadapanmu?” Jiwon bertanya dengan nada bingung.

Woo Bin menghela napas pelan. Meskipun suasana remang-remang, namun Jiwon dapat melihat kesedihan yang terpancar diwajah namja tampan itu. “Aku tidak punya pilihan lain. Aku… kesepian…”

Tangan Jiwon tergerak untuk menggenggam tangan Woo Bin erat, menyalurkan kekuatan pada namja yang perlahan namun pasti mulai dicintainya itu. “Neo honja anya. Nan yogi isso.” Bisik Jiwon lembut dan kemudian ia mengecup pipi Woo Bin dengan lembut.

*****

Sejak terbangun dari tidurnya, tak bosan-bosannya Jiwon memandangi wajah polos nan damai Woo Bin yang masih melalang buana dalam alam mimpinya. Sudah tiga hari ini Jiwon selalu dapat tidur dengan tenang. Bagaimana tidak, disaat ia bergerak gelisah dalam tidurnya karena mimpi buruk, maka akan selalu ada tangan hangat yang memeluknya, mengusap pelan punggung dan kepalanya, dan mengecup lembut dahinya. Yah, Woo Bin selalu bisa menenangkan Jiwon.

Jiwon melirik tangan Woo Bin yang memeluk erat pinggangnya. Hal tersebut membuat gadis itu tersenyum kecil, merasa nyaman dan aman dalam rengkuhan Woo Bin. Ia bisa merasakan napas Woo Bin yang teratur menerpa wajahnya. Mereka memang tidur disatu ranjang yang sama, namun sama sekali tidak terjadi hal-hal yang lain. Setiap malam mereka hanya akan tidur sambil berpelukan. Tidak lebih! Woo Bin begitu menghargai Jiwon. Sedikitpun namja itu tidak pernah menyentuh Jiwon melebihi batas, walaupun pada kenyataannya memang tidak ada lagi yang perlu Jiwon jaga pada dirinya karena Oh Sehun telah merenggut hal paling berharga pada dirinya. Tadinya Jiwon berpikir bahwa Woo Bin akan memandang rendah dirinya setelah namja itu tahu bahwa ia sudah tidak perawan lagi, seperti namja kebanyakan yang justru akan memanfaatkan kesempatan itu. Namun Woo Bin memang namja yang berbeda. Alih-alih berlaku tidak sopan, namja itu justru jadi sangat menjaga dan melindungi Jiwon.

Jemari Jiwon terjulur kearah wajah Woo Bin. Dengan penuh kelembutan ia membelai wajah penyelamatnya itu. Sekarang Jiwon mengerti kenapa Tuhan mempertemukannya dengan Woo Bin. Itu karena mereka senasib. Akan lebih mudah bagi kita untuk bersama dengan orang yang senasib karena itu berarti orang tersebut benar-benar bisa merasakan perasaan yang dialami kita alami, bukannya hanya mengira-ngira atau sok turut merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka rasakan.

Gadis itu menatap kosong kearah langit-langit kamar. Ini sudah hari ketiga masa pelariannya. Ia sadar betul bahwa ia tidak bisa terus seperti ini. Cepat atau lambat ia memang harus menghadapi masalahnya. Dan Woo Bin benar. Jiwon harus masuk ke sekolah. Ujian akhir tinggal menghitung hari. Ia tidak mungkin merelakan tiga tahun masa sekolahnya terbuang dengan sia-sia.

‘Tapi jika begitu aku akan bertemu dengan Sehun. Aku tidak ingin!’

*****

_Kim’s Family House, 09.15 AM, Seoul_

“Tidak ada seorang pun teman Jiwon yang tahu dimana keberadaannya. Apa yang harus kita lakukan yeobo?” Ibunda Jiwon meremas tangannya resah. Ia mengkhawatirkan keberadaan sang putri, dan terutama mengenai pesta pertunangan Jiwon dan Sehun yang akan dilaksanakan dalam hitungan hari. Keluarga Oh telah berhasil memaksa Tuan dan Nyonya Kim untuk mempercepat pesta pertunangan.

Aliran dana juga sudah mengalir lancar ke perusahaan mereka, sehingga tak ada alasan bagi sepasang suami istri itu untuk menolak permintaan calon besannya itu.

Tuan Kim duduk termangu menatap cangkir berisi kopi miliknya yang mengepulkan asap. “Tenang sayang, aku sudah mengerahkan anak buahku untuk mencari Jiwon. Mereka pasti akan segera menemukannya, atau malah Jiwon sendiri yang akan dengan sukarela pulang jika ia kehabisan uang. Putri kita itu kan tidak pernah bisa terlalu lama jauh dari kedua orangtuanya.” Tuan Kim berusaha untuk memberikan pemikiran positif pada istrinya, meskipun jauh didalam lubuk hatinya ia agak merasa sangsi.

Jiwon, putri mereka, sudah semakin banyak berubah tanpa mereka sadari. Gadis yang dulunya akan selalu menuruti perkataan kedua orangtuanya itu, sekarang sudah lebih berani untuk memberontak, dan kali ini adalah aksi ternekatnya, yaitu kabur dari rumah.

Memikirkan itu semua membuat kepala Tuan Kim berdenyut pusing. Pria paruh baya itu hanya dapat mengurut pelipisnya, berharap bahwa sang putri akan segera pulang sehingga pesta pertunangan tak terancam batal.

*****

Seharian ini Jiwon dan Woo Bin hanya bergelung nyaman didalam selimut mereka. Kedua insan itu terlalu malas untuk melakukan apapun, jadi mereka memutuskan untuk tetap tinggal di hotel sambil menonton acara TV. Woo Bin duduk menyandar di kepala ranjang, sedangkan Jiwon menyandarkan kepalanya didada Woo Bin dengan posisi setengah berbaring.

“Tidurku sangat nyenyak dan tubuhku terasa lebih segar.” Ucap Woo Bin.

Jiwon terkekeh kecil dan kemudian mengecup pipi pria tampan itu. “Tentu saja, kan ada aku dipelukanmu, dan lagi sudah beberapa hari ini kau tidak mengonsumsi obat penenang ataupun obat tidur. Itu membuat tubuhmu menjadi lebih baik.” Jawab Jiwon.

Woo Bin merebahkan tubuhnya, yang kemudian juga diikuti oleh Jiwon. Mereka berdua saling bertatapan, dan kemudian tertawa kecil tanpa alasan yang jelas.

“Kenapa tertawa?” Tanya Woo Bin disela-sela tawanya.

Jiwon mengedikkan bahu. “Entahlah. Aku tahu memang tidak ada yang lucu. Aku hanya merasa ingin tertawa saja. Kau?” Gadis itu menatap Woo Bin.

“Aku juga tidak tahu.”

Jiwon kembali tertawa, namun tak lama ekspresinya berubah. Gadis itu lalu menghela napas pelan. “Aku akan kembali ke sekolah untuk ikut ujian.” Ucap gadis itu.

“Keputusan yang bagus.”

Jiwon menatap Woo Bin sendu. “Tapi itu berarti kita takkan bisa bertemu lagi. Sekali aku kembali, maka mereka tidak akan melepaskanku lagi. Bahkan mungkin aku akan langsung ditunangkan dengan Sehun.” Mata Jiwon berkaca-kaca. Suara gadis itu juga terdengar bergetar karena menahan tangis.

Woo Bin menangkup wajah cantik Jiwon dengan kedua tangannya. Mata tajamnya menatap tepat dimanik mata Jiwon. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, sayang.”

“Tapi…”

“Kau percaya padaku, kan?”

Jiwon mengangguk pelan, membuat Woo Bin tersenyum lembut. “Kalau begitu, maukah kau pergi bersamaku?”

-To Be Continued-

Aduh, akhirnya selesai juga part 5nya. Please jangan protes soal panjang pendek chapternya karena aku udh pernah blg bahwa aku ngga bs nulis panjang-panjang. Selain ngga punya byk waktu, minimnya ide jg sering bikin aku stuck. Daripada bikin kalian kelamaan nunggu mending aku langsung ngepost. Lagian kalo panjang2 ntr pada bosen lagi hehe 😀

Jujur aja, ide FF ini muncul dadakan dan dengan polosnya aku langsung tulis dan post disini tanpa mikirin kelanjutan dan ending cerita *nangisdipojokan* Maka dari itu, maaf banget kalo ceritanya terkesan boring, bertele-tele dan hal2 aneh lainnya. Itu karena keadaan otakku yang labil ini T__T 

Doain aja ya semoga ide FF ini terus lancar. Makasih banyak buat yang support dan selalu ninggalin jejak. Love you guys! ❤

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

9 tanggapan untuk “Dark Side (Part 5)

  1. waah akhirnya part 5 keluar juga.. aku selalu nunggu2 kapan keluar part berikutnya dan akhirnya keluar juga.. seru dan penasaran sama part 6.. thank you sudah post… 🙂

      1. minn.. bikin part 6-nya doong.. aku pembaca setia ff kamu khususnya ‘dark side’ ini.. pengen tau kelanjutannya.. pleasee.. ^^

  2. akirnnya di post juga keke 🙂
    berharap mereka dapat main drama bareng lagi kekke 🙂
    cerita yg semakin menarik.. 🙂
    mereka sama2 bahagia???
    apa sehun akan bisa mendapatkan jiwong??
    won bin pasti akan mempertahankannya kekke 🙂 next^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s