Diposkan pada Chapters

Crashed (Part 9)

1404130212061

Author : Cho Haneul
Title      : Crashed
Type     : Chaptered
Genre  : Romance, Drama

SPECIAL THANKS TO MY SISTER FOR THE POSTERS :*

Cast :
– Park Boyoung
– Nam Bora
– Kris Wu
– Kim Jongin
– Oh Sehun

___________________________________________

“Ya Tuhan, aku lupa kalau ada janji dengan temanku!” Haneul menepuk keningnya begitu membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Gadis itu melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya, dan mendesah berat mendapati dirinya yang sudah telat setengah jam.

Kai dan Boyoung menatap Haneul, menunggu apa yang akan gadis itu lakukan selanjutnya. Haneul kemudian menoleh kearah Kai. “Mian oppa, aku tidak bisa lama-lama. Aku harus menyusul temanku.” Ucap Haneul.

“Tidak menunggu Sehun? Kau tahu kan dia menyuruhmu menunggu disini sampai ia kembali dan kau dilarang keras untuk pergi sendirian tanpa pengawasan darinya.”

Mendengar perkataan Kai membuat Haneul mendesah lemah. Biarpun kerap bersikap cuek, namun Sehun termasuk kakak laki-laki yang protektif. Terlebih semenjak kejadian dua minggu yang lalu. Saat itu Haneul dan seorang temannya diganggu oleh 3 orang preman dan preman-preman itu juga merampas uang dan barang-barang berharga milik Haneul dan teman perempuannya itu.

“Aduh, bagaimana ya?” Haneul menggigit bibir bawahnya, kebiasaan yang kerap kali ia lakukan saat sedang bingung.

Boyoung yang sembari tadi hanya menjadi pendengar akhirnya ikut buka suara. “Em, begini saja, sebentar lagi oppa ku akan datang menjemput, jadi bagaimana jika kau ikut bersama kami saja? Aku yakin oppaku takkan keberatan kok.” Boyoung tersenyum ramah sembari menatap Haneul.

“Ah, tidak usah. Nanti malah merepotkan.” Tolak Haneul sopan.

Boyoung menggeleng. “Aniya, takkan merepotkan. Memangnya kau janjian dimana dengan temanmu?”

“Di Myeondong.”

“Rumahku juga melewati Myeondong, jadi kurasa takkan ada masalah. Lagipula aku yakin bahwa Sehun-ssi takkan keberatan. Dan lagi, kau ingin segera sampai kesana, kan?”

Tawaran Boyoung benar-benar terdengar menggiurkan bagi Haneul. Namun gadis itu masih ragu. Bukan apa, tapi ia tidak ingin berada terlalu dekat dengan Kris. Bukan karena ia membenci namja itu, justru karena ia terlalu menyukai namja itu hingga membuatnya selalu gugup jika berada dalam jarak dekat dengan Kris.

Disaat Haneul masih bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba saja Boyoung menarik tangannya. “Ja, kakakku sudah didepan. Ayo kita pergi.” Boyoung kemudian menatap Kai. “Jongin-ssi, aku dan Haneul pulang dulu ya. Semoga cepat sembuh dan sampai bertemu di sekolah.” Ucap gadis itu sembari tersenyum manis. Boyoung dan Haneul kemudian meninggalkan kamar rawat Kai. Sepanjang jalan menuju lobby, tak henti-hentinya Haneul berusaha untuk mengontrol perasaan gugupnya. Ia tentunya tak ingin terlihat konyol didepan Kris, namja yang sudah lama sering ia perhatikan secara diam-diam.

Siapa sangka ternyata ia akan bisa berada dalam jarak dekat dengan namja pujaannya. Bahkan akan berada didalam mobil yang sama.

Kris agak mengernyit heran saat mendapati Boyoung yang tidak datang sendirian. Ada seorang gadis lagi yang berjalan disisi adik angkatnya itu. Kris terdiam mengamati sosok gadis yang terasa amat familiar baginya. Namja berambut pirang itu berusaha untuk memutar otak guna untuk mengingat dimana ia pernah melihat Haneul.

‘Café!’ Batin namja itu.

Tak lama pintu mobil dibuka. Boyoung duduk dikursi depan, tepat disebelah Kris, sedangkan Haneul duduk dibelakang. Haneul menunduk malu saat matanya bertatapan dengan Kris.

“Oppa, temanku akan menumpang dengan kita sampai di Myeondong. Tidak apa-apa kan?” Pertanyaan Boyoung membuat perhatian Kris teralihkan kearah adiknya itu. Kris berdeham dan kemudian mengangguk. “Tentu saja tidak apa-apa.” Jawabnya singkat.

Setelah mendengar jawaban dari Kris, Haneul baru berani mendongak. Gadis itu tersenyum kecil menatap sosok Kris dari belakang. “Gomawo Kris-ssi.” Ucapnya disertai dengan senyum yang manis. Kris menoleh sedikit ke belakang. “Ne, gwenchana.”

 

 

*****

 

 

Kai resmi keluar dari rumah sakit. Sejak pagi kedua orang tua dan hyungnya sudah berada disana untuk menjemput Kai. Tak banyak pembicaraan yang terjadi didalam mobil mewah yang dikendarai oleh Suho itu. Suasananya begitu canggung dan dingin. Kai duduk dikursi depan, tepat disebelah Suho yang mengemudi, sedangkan kedua orangtuanya duduk dikursi belakang.

“Eomma sudah masak enak. Kau nanti makan ya.” Ucap wanita paruh baya itu, berusaha untuk menghangatkan situasi diantara mereka. Kai hanya menggumam, tak sedikitpun berniat untuk menjawab secara benar dan sopan. Tuan Kim sendiri malas untuk menegur, sebab ia tahu bahwa itu sama saja dengan menyulut api pertengkaran. Kai baru saja sembuh dan keluar dari rumah sakit, jadi tidak benar rasanya jika mereka langsung adu mulut.

Suho melirik sejenak kearah Kai yang tengah sibuk dengan ponselnya. Namja tampan berwajah lembut itu diam-diam menghela napas lelah. Ia lelah dengan kondisi keluarganya yang begitu dingin. Dan itu semua karena Kai. Jika saja Kai mau berbesar hati untuk menerima Suho dan ibunya, maka semuanya tidak akan menjadi serumit ini. Bagi Suho, Kai terlalu egois dan seenaknya sendiri.

 

 

*****

 

 

Bora meremas tangannya geram. Kim Jongin benar-benar daebak. Baru keluar dari rumah sakit, namun sudah bisa menguras emosi seseorang. Tadi gadis itu mendapat panggilan dari Kai agar ia segera datang ke rumah namja itu. Bora tentu saja dengan senang hati datang, tanpa berpikir bahwa Kai sudah menyiapkan sejuta cara untuk membuatnya kesal.

Baru datang Bora sudah disodori beberapa buah buku. Dengan seenak perutnya Kai menyuruh gadis itu untuk mengerjakan tugas namja berkulit tan itu. Tentu saja itu membuat Bora kesal, belum lagi Kai acap kali menyuruhnya ini dan itu, seperti mengambil minum, menyuapi makan, bahkan memijat kaki namja itu. Kurang ajar sekali, bukan?

Bora kembali pasrah menjadi pembantu dadakan Kim Jongin. Apalagi Kai masih bersikeras untuk memperpanjang masa jabatan gadis itu sebagai pembantu pribadinya, atau lebih tepatnya pembantu suka rela.

“Apa tugasku sudah selesai? Ck, kau ternyata lelet ya. Masa tugas semudah itu tidak bisa kau kerjakan? Katanya kau murid berprestasi. Cih, kurasa sekolahmu benar-benar kekurangan murid beprestasi hingga…”

256_00537

BRAK! “Diam Kim Jongin! Kalau mulutmu terus berkomat kamit tak jelas, maka tugas ini takkan selesai bahkan hingga kiamat sekalipun!” Bora menatap Kai tajam. Bukannya kaget atau merasa bersalah, Kai justru menyeringai menyebalkan. Benar-benar membuat Bora ingin menginjak wajah tampan namun menyebalkan itu. “Lagipula, kalau menurutmu ini gampang, kenapa tidak kau sendiri yang mengerjakannya?” Bora mendelik kesal.

“Aku lapar. Aku ingin makan ttokboki. Belikan ttokboki yang didepan minimarket!” Dengan seenaknya Kai kembali memerintah Bora. Namja itu bahkan mengabaikan pertanyaan gadis itu sebelumnya. Bora menatap Kai kesal, sebelum dengan terpaksa bangkit dari duduknya dan berjalan dengan langkah menghentak kearah pintu kamar.

“Yang pedas ya!” Teriak Kai sebelum Bora benar-benar keluar dari kamarnya. Sungguh namja bossy!

Sepeninggal Bora pandangan Kai langsung meredup. Namja itu bergegas bangkit dari ranjangnya dan bergegas ke kamar mandi. Kai membuka laci meja wastafel dengan begitu terburu-buru. Tangannya meraba-raba bagian belakang laci, tempat ia menyembunyikan barang haram itu. Senyuman miris terpatri diwajahnya kala ia memegang benda tersebut. Sebuah suntikan. Menyuruh Bora untuk membeli ttokboki sebenarnya hanya akal-akalan Kai. Namja itu hanya ingin mengusir gadis itu secara halus. Ia tidak ingin Bora melihat keadaannya yang seperti ini. Tubuh gemetar, wajah pucat dan keringat dingin yang membasahi wajah dan tubuhnya.

tumblr_n152w2RDvK1rfzr7uo1_500

Kenikmatan langsung menjalar disekujur tubuh Kai saat cairan yang berasal dalam suntikan itu berpindak kedalam tubuhnya. Kai menyandarkan tubuhnya ke pintu toilet dengan napas yang terengah-engah. Ia berusaha bangun dari posisi duduknya, namun belum sampai namja itu sepenuhnya berdiri, tubuhnya kembali terjatuh, menciptakan bunyi dentuman yang lumayan keras karena tubuh Kai membentur pintu. Kai tidak menyadari bahwa ia tidak sendirian didalam kamar itu. Bora, yang seharusnya sudah pergi, ternyata belum benar-benar pergi. Gadis itu kembali karena ternyata ia lupa membawa dompetnya. Gadis itu terkaget mendengar bunyi dentuman sehingga ia memutuskan untuk memeriksa kamar mandi.

“Kai? Kau tidak apa-apa?!” Tanya Bora dengan nada panic. “Kai?!” Gadis itu semakin panic saat tak mendengar jawaban dari Kai. Bora mendekatkan telinganya kearah pintu. Ia tidak mendengar suara Kai, membuat Bora akhirnya mengambil pilihan nekat.

Gadis itu menggeser pintu kamar mandi Kai yang ternyata tidak dikunci, dan gadis itu langsung terbelalak kaget kala melihat Kai yang tengah terduduk lemas dilantai. Namun bukan itu satu-satunya penyebab Bora kaget. Sebuah suntikan yang tergeletak asal disebelah Kai lah penyebab terbesar kekagetan gadis berwajah lembut itu. Pandangan Bora tampak kosong. Ia tahu bahwa Kai memang namja berandalan yang kerap berbuat ulah. Ia tahu bahwa Kai adalah penggila dunia malam dan alkoholik, namun tidak pernah terlintas dipikirannya bahwa Kai adalah pecandu narkoba. Selama ia mengenal namja itu, tak pernah sekalipun ia melihat Kai menyentuh benda haram itu. Kai cukup lihai menyembunyikan hal tersebut.

Mata Kai menatap tajam kearah Bora. Tubuhnya masih agak lemas sehingga ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah gadis itu melihat keadaannya yang sekarang. Nasi telah menjadi bubur. Bora sudah melihat semuanya. Tak ada lagi yang bisa ia tutupi.

“Neo…” Suara Bora terdengar lirih. Gadis itu bahkan tak sanggup untuk melanjutkan perkataannya. Ia cukup syok dengan fakta pahit yang baru saja terkuak didepannya.

“Wae? Kaget?” Tanya Kai dengan nada datar. “Seharusnya kau sudah bisa mengira bahwa aku memang pemakai, bukan? Aku kan sudah pernah bilang bahwa aku bukan namja baik-baik. Inilah aku yang sebenarnya.”

Kai bisa melihat kekecewaan yang begitu terpancar jelas dari sepasang mata Bora. Tanpa berkata apa-apa, gadis itu berbalik pergi meninggalkannya. Bora mengambil tas tangannya dan bergegas pergi. Gadis itu sempat menoleh sekilas kearah kamar mandi sebelum ia benar-benar pergi dari sana. Sungguh, perasaannya hancur. Ia benar-benar kecewa melihat Kai yang seperti itu. Rasa sayang yang tadinya mulai tumbuh dihati gadis itu mendadak sirna. Yang miris, justru rasa kecewa dan jijik yang kini lebih mendominasi.

Dan detik itu juga Bora bersumpah bahwa ia tidak ingin terlibat jauh dalam hidup Kim Jongin.

 

 

*****

 

 

Bell yang terletak diatas pintu cafe berdering nyaring kala pintu kaca itu didorong dari luar. Kris melenggang masuk kedalam café tersebut. Namja itu terlihat tampan dengan penampilan kasualnya, kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku ditambah dengan sweater rajut tanpa lengan sebagai luaran, serta celana jins berwarna gelap. Sungguh sempurna bak penampilan super model.

Namja itu langsung berjalan menuju meja pemesanan. Dan seperti biasa pula ia selalu memesan Coffee latte dan croissant sebagai makanan pendamping. Setelah membayar pesanan, Kris membawa pesanannya menuju meja yang biasa ia duduki, namun tampaknya kali ini Kris harus bersedia mencari meja lain karena meja incarannya telah diisi oleh orang lain. Kris mengedarkan pandangannya ke sekeliling café, mencari meja kosong yang bisa ia tempati. Mata Kris tertuju pada meja yang berada dekat pintu masuk. Tanpa menunggu lebih lama Kris langsung bergegas ke meja tersebut.

Kris langsung mendongak ketika ada tangan lain yang meletakkan segelas milkshake vanilla diatas meja tersebut. Orang itu tampak kaget ketika melihat Kris.

“Kris-ssi…” ucap gadis itu gugup.

“Kau temannya Boyoung, kan?”

Gadis berambut panjang itu mengangguk. “Ne, naneun Oh Haneul imnida.” Ucapnya. Gadis itu kemudian mengambil kembali gelas milkshake yang tadi diletakkannya diatas meja. “Kau bisa menempati meja ini, biar aku cari meja yang lain.” Ucap Haneul sembari tersenyum kecil. Kris melihat ke sekeliling café dan mendapati semua meja telah penuh terisi. Namja itu kemudian menatap Haneul. “Aku tidak keberatan untuk berbagi meja. Lagipula meja lain sudah penuh terisi.”

Haneul mengerjapkan matanya. “Apa tidak apa-apa?” Gadis itu memastikan.

“Tentu saja tidak apa-apa. Jika kau mau kau bisa pindah saat nanti ada meja yang kosong.” Ucap Kris lagi. Haneul tampak termenung sejenak, sebelum pada akhirnya gadis itu kembali meletakkan gelasnya diatas meja dan menyeret kursi dengan malu-malu. “Gomawo Kris-ssi.” Haneul berkata dengan sopan.

Haneul benar-benar gugup. Gadis itu bahkan tidak berani menatap Kris  terlalu lama, sedangkan Kris tampak tak menyadari kegugupan yang tengah mendera gadis dihadapannya itu. Haneul memang selalu datang ke café ini untuk melihat Kris dari jauh. CATAT, DARI JAUH! Maka dari itu, tak pernah terlintas dipikirannya bahwa ia akan dapat duduk berdua dalam jarak yang begitu dekat dengan namja pujaannya ini.

“Kau bersekolah di Jeguk juga?” Tanya Kris, membuka pembicaraan diantara mereka. Tampaknya namja itu menyadari situasi canggung yang tercipta diantara mereka. Haneul sempat terkaget mendengar suara baritone Kris yang menurut gadis remaja itu seksi.

“A…aniya, aku bersekolah di sekolah khusus putri, di Paran School.” Jawab Haneul.

Kris mengangguk paham. Setelah itu suasana kembali hening. Diam-diam Kris menatap Haneul cukup lama. Tanpa sengaja tatapan mata mereka bertumbukan, dan Haneul yang akhirnya sadar bahwa Kris tengah menatapnya lama menjadi sangat gugup dan salah tingkah.

“Wae?” Tanya gadis itu dengan wajah yang nyaris merona.

“Aku sering melihatmu disini.” Ujar Kris.

Perkataan namja itu membuat jantung Haneul berdebar keras. Gadis itu khawatir jika Kris akhirnya akan menyadari jika gadis itu selalu mencuri pandang kearahnya. Haneul menatap Kris dengan ekspresi gugup. “Ah, itu… aku memang sering kesini. Disini nyaman dan… eum milkshake-nya sangat nikmat!” Haneul tersenyum sembari mengangkat gelas plastiknya. Kris tersenyum kecil, membuat Haneul merasa terpesona sekaligus merasa telah bersikap konyol didepan namja pujaannya itu.

kris-wallpaper-1-4-s-307x512

‘Oh Haneul, kau benar-benar telah memalukan dirimu sendiri!’ Rutuk gadis berwajah manis itu kesal.

 

 

*****

 

 

Sehun menatap Kai yang sedang asyik menghisap rokoknya. Rumah Sehun memang sedang sepi, sehingga mereka tidak perlu merasa sungkan untuk merokok. “Jadi Bora sudah tahu jika kau pemakai?” Sehun kembali bertanya sekedar untuk memastikan. Kai mengangguk tenang. Sama sekali tak tampak tertekan dengan hal tersebut. Sehun menggelengkan kepalanya menanggapi Kai yang terlewat santai. “Dan kau duduk tenang sambil merokok disini?”

Kai mengernyitkan dahinya begitu mendengar pertanyaan Sehun. Namja berkulit tan itu menghembuskan asap rokok dari mulutnya. “Lalu aku harus apa? Berusaha mengelak? Gadis itu tidak bodoh dan aku memang seorang pemakai.” Tegas Kai.

EXO-6

“Lalu bagaimana dengan hubungan kalian?”

“Hubungan apa? Gadis itu sudah memutuskan untuk pergi dan yah, ia berhak pergi. Lagipula sebenarnya perjanjian kami sudah selesai beberapa waktu yang lalu. Jadi sudah tak ada masalah.”

“Kupikir kau tertarik dengan Bora.” Ucap Sehun sembari mengamati ekspresi wajah Kai yang setenang air itu. Kai tersenyum kecil, atau lebih tepatnya menyeringai. Namun meskipun begitu, Sehun dapat menangkap secercah kesedihan dibalik ekspresi tenang itu. “Kuakui aku memang sempat tertarik dengannya. Ia cukup menarik. Tapi untuk apa menyukai orang yang tidak dapat menerima kita apa adanya. Membuang waktu saja!” desis Kai.

Sehun menghela napas. “Wajar jika dia begini Kai, dia pasti kecewa padamu.”

“Bukan kecewa, lebih tepatnya jijik. Sudahlah, hentikan pembicaraan konyol ini! Mulai detik ini tidak ada Nam Bora dalam kehidupan Kim Jongin. Perjanjian kami telah berakhir, begitu pula dengan hubungan kami.”

Sehun hanya dapat diam mendengar nada suara Kai yang begitu menegaskan bahwa ia tak ingin berurusan dengan Bora. Sekarang Sehun mengerti kenapa Bora tak pernah lagi membalas pesan-pesannya atau chatnya. Itu semua karena gadis itu tidak ingin lagi berurusan dengan mereka, atau lebih tepatnya dengan Kai. Cukup disayangkan sebenarnya, mengingat bahwa Sehun sendiri cukup merasa nyaman dengan keberadaan gadis itu disekitarnya dan Kai. Tapi apa boleh buat, gadis itu berhak untuk mengambil keputusan apapun menyangkut dirinya sendiri.

“Jadi, kapan kau akan kembali ke sekolah?”

Kai tersenyum kecil. “Besok.”

 

 

*****

 

 

Bora berbaring terlentang sembari menatap langit-langit kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 4 dini hari, namun gadis itu masih sibuk dengan pikirannya hingga ia tidak dapat tidur meski matanya sudah ingin tertutup. Pikiran gadis itu beralih ke hari dimana ia menemukan Kai yang sedang memakai benda haram itu. Bora benar-benar tidak menyangka jika Kai ternyata seorang pemakai. Selama ini yang ia tahu Kai suka berkelahi, minum, ke diskotik, merokok dan kerap bolos sekolah. Hanya sebatas kenakalan remaja seperti itu.

Tidak dapat ia pungkiri bahwa ia merasa amat kecewa pada Kai. Keputusan untuk menjauh dari Kai dan Sehun semata-mata ia lakukan demi kebaikan dirinya sendiri. Bora tidak ingin ikut terjerumus dalam jurang penuh dosa seperti itu. Akan tetapi tak ayal ia juga merindukan kebersamaannya dengan Sehun dan terlebih dengan Kai. Ia menyukai namja itu, tapi ia sadar bahwa mereka tak mungkin bersama. Bora tak mungkin bisa bersama dengan seorang pecandu narkoba seperti Kai. Ia hanya ingin memiliki namja baik-baik.

Gadis itu mengacak rambutnya frustasi. “Bantu aku untuk mengenyahkan Kim Jongin dari otakku, Tuhan!” Lirihnya frustasi.

 

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

Satu tanggapan untuk “Crashed (Part 9)

  1. Aduhh.. kenapa setiap baca FF ini trus setiap ada moment Kai-Bora nya aku jadi ikut kbawa suasana ya?? Kdang tegang, kdang sedih kadang bsa ikutan nangis… huhh. Daebbak lah pokoknya buat FF ini 😊
    D tunggu part 10 nya…& jangan lama-lama lhoo😆..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s