Diposkan pada Chapters

I Love You Now and Forever (Part 3)

1416577094665

Author : Cho Haneul (Kyula88)
Title     : I Love You For Now and Forever
Type    : Chaptered
Genre  : Romance, Friendship, Life

Cast :
– Mario Maurer
– Aom Sucharat Manaying
– Apinya Sakuljaroensuk
– Kris Wu

_______________________________________

 

Mario sudah tidak bisa tinggal diam. Pasalnya dalam sebulan sudah ada tiga orang pria yang menyatakan perasaannya pada Aom. Yah, hal yang cukup membanggakan bagi seorang perempuan karena itu membuktikan bahwa dirinya diminati oleh banyak pria. Namun Aom justru merasa tidak nyaman akan semua hal tersebut. Gadis berparas cantik itu selalu merasa jahat saat harus menolak cinta dari pria-pria itu.

6

“Aom, kau pulang denganku saja.” Mario tiba-tiba datang dan menarik Aom kesisinya, membuat seorang pria yang baru saja hendak mengajak Aom pulang bersama terpaksa mengalah daripada ia harus berurusan dengan Mario, pria yang paling ditakuti di kampusnya itu. Tanpa suara pria itu pergi, membuat Aom sempat kebingungan.

“Eh, tapi dia…”

“Dia sudah pergi. Kau pulang denganku saja.” Ujar Mario. Aom mengangguk setuju. Meskipun dari luar ia tampak biasa saja, namun sebenarnya Aom sedang mati-matiaan menahan rasa gembira yang begitu meluap-luap karena akan diantar pulang oleh phi favoritnya itu.

“Kau sudah makan?” Tanya Mario sembari melirik kearah Aom sekilas, sebelum ia kembali fokus pada kemudi. Aom menggeleng. “Belum phi.” Jawab gadis itu. Mario tersenyum kecil. “Bagaimana jika kita makan siang bersama? Ada tempat makan baru yang sangat enak. Aku yang traktir.” Ujar Mario.

“Sounds great!”

 

 

*****

 

 

Name menyantap makanan yang tersaji dihadapannya dengan begitu lahap. Sejak pagi lambung gadis berambut sebahu itu belum mendapatkan asupan makanan. Ia hanya minum segelas susu pagi tadi. Pin yang duduk didepan temannya itu hanya dapat tertawa geli. “Makan pelan-pelan Name. Tom yam nya tidak akan menghilang kok.”

“Sejak pagi aku belum makan. Terlebih tadi aku disuruh membersihkan ruang seni oleh ibu guru Ra. Kau bayangkan betapa tersiksanya aku.” Ucap Name, lalu gadis itu kembali menyantap tom yam yang ada dihadapannya. Name meraih gelas minumnya yang berisi jus jeruk untuk menyegarkan kerongkongannya, namun tanpa sengaja matanya tertuju pada seorang pria yang baru saja masuk ke dalam restoran itu. Nafsu makan Name yang tadinya menggebu-gebu langsung hilang tak bersisa begitu melihat Mario yang sepertinya belum menyadari keberadaannya.

“Ada apa Name?” Tanya Pin kala menyadari perubahan ekspresi yang terjadi pada temannya itu.

“Si brengsek itu!” Ujar Name ketus. Pin langsung tahu bahwa yang Name maksud adalah Mario sebab Name tidak pernah menjuluki orang lain selain Mario dengan julukan tidak sopan seperti itu. Pin langsung menoleh kebelakang dan mendapati Mario bersama seorang gadis yang tidak dikenalnya sedang mencari tempat duduk.

“Apa dia sedang bersama kekasihnya? Selama ini aku tidak pernah melihat Mario dekat dengan gadis manapun selain dengan…” Pin langsung menghentikan ucapannya begitu melihat wajah tak bersahabat yang ditunjukkan oleh Name.

Name meletakkan sendok dan garpu yang tadi dipegangnya. “Aku sudah kenyang. Apa kau sudah selesai? Aku ingin pulang sekarang.” Wajah Name begitu dingin. Pin mengangguk dan kemudian membereskan barang-barangnya. “Ayo Name!” Ajak gadis berwajah blasteran itu.

Name segera bangkit dari duduknya. Gadis itu tak henti-hentinya mengumpat dalam hati karena lagi-lagi dia harus bertemu dengan Mario. Ia merasa Bangkok menjadi sangat amat kecil. Namun tiba-tiba gadis itu tersentak kaget saat ada sebuah tangan yang menahan pergelangan tangannya. Sontak saja Name menoleh dan ia mendapati Mario yang tengah menatapnya dengan begitu intens, membuat perasaan Name tidak karuan.

“Name…”

“Lepas!” Suara Name terdengar begitu ketus, namun itu tidak menyurutkan niat Mario untuk terus berusaha agar dapat berbicara baik-baik dengan gadis berambut sebahu itu.

“Name, bisakah kau dengarkan aku sekali saja? Aku ingin kita berbicara baik-baik. Kau harus memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.” Ujar Mario panjang lebar. Name menatapnya tajam. “Apa lagi yang perlu dibicarakan? Bukankah semuanya sudah jelas? Dan aku sudah tegaskan bahwa aku tidak sudi untuk melihat wajahmu lagi. Kau tahu, melihat wajahmu selalu membuat rasa sakit itu kembali datang. Rasa sakit karena kehilangan seorang saudara. Kau tidak mengerti itu! Kau tidak akan pernah mengerti!” Air mata Name meluncur bebas dari matanya. Dengan cepat Name menghapus air matanya. Ia tidak ingin terlihat lemah didepan siapapun, apalagi di depan Mario.

Mario tak bisa menyangkal bahwa hatinya berdenyut sakit mendengar perkataan Name. Pria itu sungguh merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Shon. Jika saja waktu bisa diputar kembali maka ia akan dengan sekuat tenaga melindungi Shon dan membantu pria itu agar dapat terbebas dari jeratan narkoba ataupun kehidupan gang yang selama ini digelutinya. Mario dan Shon memang dekat, namun Mario berani bersumpah bahwa ia tidak pernah tahu jika Shon pemakai narkoba. Shon menutupi itu semua dengan sangat apik.

Mario tersadar dari lamunannya saat merasa ada sentuhan hangat dipunggungnya. Pria itu menoleh dan melihat Aom yang tengah menatapnya lembut. Mario baru sadar jika Name dan Pin sudah tak ada dihadapannya.

200px-Aom_Sucharat_Manaying

“Phi baik-baik saja?” Tanya Aom cemas.

Mario tersenyum kecil dan kemudian mengangguk. “Apa kau sudah memesan makanan?”

 

 

*****

 

_Aom’s Room, 10:48 PM, Bangkok_

Sejak setengah jam yang lalu Aom hanya berguling-guling tidak jelas diatas ranjangnya. Gadis itu sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memejamkan matanya, namun hingga sekarang belum membuahkan hasil. Gadis itu teringat akan ekspresi sedih yang terpatri diwajah Mario atas penolakan yang dilakukan oleh gadis yang bernama Name itu. Batin Aom jadi berkecamuk.

“Siapa gadis itu? Apa dia mantan pacar phi Mario?” Aom bergumam sembari memandangi tempelan bintang-bintang yang ditempel dilangit-langit kamarnya. Sebenarnya Aom ingin bertanya pada Mario, namun gadis itu mengurungkan niatnya karena ia merasa tidak nyaman jika harus bertanya hal pribadi seperti itu. Apalagi dengan fakta bahwa ia dan Mario tidak sedekat dulu.

“Siapapun gadis itu, kuharap phi Mario tidak mencintainya.”

 

 

*****

 

 

Aom menikmati sarapan bersama kedua orang tuanya. Ibu Aom menatap kearah putri semata wayangnya itu. “Aom, ibu dan ayah pernah bilang kan bahwa ada kemungkinan jika ayahmu dipindah tugaskan?”

Aom mengangguk sembari mengunyah makanannya. “Lalu?” tanya gadis itu.

Kali ini ayah Aom yang angkat bicara. “Surat pemindahan ayah sudah keluar. Bulan depan ayah resmi dipindah tugaskan ke Chiang Mai.”

Aom diam menyimak perkataan kedua orangtuanya. “Kalau begitu aku akan sendirian disini. Toh aku tidak mungkin ikut pindah, kan?” Aom menatap kedua orangtuanya silih berganti. Ibu Aom mengangguk dengan terpaksa. Sungguh, ia tidak tega meninggalkan putri semata wayangnya seorang diri saja di Bangkok. Meskipun Aom anak yang baik dan penurut, namun tetap saja hatinya tidak tenang. Ia takut terjadi sesuatu pada Aom.

“Kemarin ibu bertemu dengan bibi Nam dan ibu menceritakan mengenai pemindahan ayahmu ke Chiang Mai, dan bibi Nam menawarkan agar kau tinggal bersama dengannya selama ayah dan ibu di Chiang Mai. Ibu sendiri merasa bahwa itu adalah ide yang baik. Setidaknya jika disana kau ada teman. Ada Mario, bibi Nam serta pembantu rumah tangganya. Tapi semua keputusan tetap ditanganmu sayang.”

Dalam hati Aom melompat kegirangan. Jika ia tinggal bersama Mario maka itu akan semakin memudahkannya untuk memperbaiki hubungan mereka. Apalagi ia memang akrab dengan bibi Nam, ibunda Mario, sehingga tidak akan ada kesan canggung yang akan menyelimutinya nanti.

Aom menatap piringnya lama, sebelum akhirnya gadis itu mendongak menatap kedua orangtuanya dan dengan semangat berkata, “Aku setuju!” Aom tersenyum manis.

 

*****

 

 

_Mario’s Home, 07:12 AM, Bangkok_

“Ayah Aom dipindah tugaskan ke Chiang Mai, maka dari itu mulai minggu depan Aom akan tinggal bersama kita.”

Mario langsung mendongak menatap sang ibu begitu mendengar kabar mengejutkan itu. Nam tersenyum kecil melihat ekspresi kaget sang putra. “Bukankah ini bagus? Dengan begitu kalian bisa seperti dulu lagi.” Ucap Nam disertai dengan tatapan usilnya yang tanpa sadar membuat Mario tersipu malu. Pria tampan itu tahu persis apa maksud ibunya tersebut.

“Ah, dan dia akan menempati kamar tamu yang ada disebelah kamarmu. Ide bagus, kan?”

 

 

*****

 

Aom membelai lembut foto masa kecilnya bersama Mario. Mereka berdua tampak amat bahagia kala itu, sebelum waktu merubah semuanya. Namun sekarang Aom sudah tidak terlalu sedih karena gadis itu yakin bahwa perlahan namun pasti hubungannya dan Mario bisa kembali menjadi seperti dulu. Apalagi dengan kenyataan bahwa minggu depan gadis itu mulai tinggal di rumah Mario. Intensitas pertemuan mereka tentunya akan semakin banyak.

Aom mencium dan memeluk pigura foto berwarna coklat itu dengan penuh sayang, seakan-akan pigura itu adalah benda hidup, atau lebih tepatnya seakan-akan pigura tersebut adalah Mario.

“Apa phi akan senang jika tahu aku akan tinggal di rumahnya?” Gumam Aom. Tiba-tiba gadis itu cemas jika ternyata Mario tidak suka kalau ia tinggal disana. Pasti suasananya akan sangat canggung dan aneh. Bisa-bisa hubungannya dengan Mario malah akan semakin rusak, bukannya membaik.

Tiba-tiba ponsel Aom berdering, menandakan ada chat masuk. Gadis itu menyentuh ikon Line yang ada dilayar ponselnya dan mendapati chat dari Mario. Sejenak Aom merasa gugup, takut jika ternyata chat tersebut berisi penolakan Mario atas dirinya yang akan tinggal di rumah pria itu. Aom menarik napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan sebelum ia membulatkan tekadnya untuk membukan chat tersebut.

Butuh bantuan untuk mengangkut barang-barang? 😀

Aom langsung tersenyum sumringah begitu membaca chat masuk dari Mario. Ternyata pria itu tidak keberatan, ia malah menawarkan diri untuk membantu Aom pindahan. Dengan semangat Aom langsung membalas pesan Mario.

Itu akan sangat membantu. Ayah dan Ibu terlalu sibuk mengurus kepindahan mereka. Aku senang jika phi bersedia membantu.

Baiklah, besok aku akan datang ke rumahmu. Sampai bertemu besok~

“Kyaaaa~ phi Mariooooo…” Gadis itu berguling-guling tak karuan diatas ranjangnya. Begitu besarnya dampak Mario bagi seorang Aom.

 

 

*****

 

 

Tak terasa seminggu sudah Aom tinggal di rumah Mario bersama ibu pria itu dan seorang pembantu rumah tangga. Selama seminggu pula Aom selalu pergi dan pulang ke kampus bersama Mario hingga tak ayal menimbulkan kehebohan tersendiri bagi para mahasiswa ataupun mahasiswi disana, khususnya bagi penggemar Mario dan Aom. Hampir semua orang menduga jika mereka berdua tengah menjalin kasih. Baik Aom maupun Mario tak mau repot-repot untuk menampiknya. Toh mereka merasa jika gossip itu tidak memberikan dampak buruk bagi mereka berdua.

Apinya menggelengkan kepalanya begitu melihat tatapan sinis yang dilontarkan gadis-gadis di kampusnya pada Aom. “Lihat mereka, benar-benar sudah termakan api cemburu. Hebat sekali phi Mario bisa membuat fans-fansnya patah hati seperti itu.” Ucap Apinya. Aom hanya mengedikkan bahunya tak peduli. Gadis itu tidak ambil pusing dengan cibiran ataupun tatapan sinis yang dilontarkan oleh gadis-gadis penggemar Mario selama itu tidak merugikannya.

“Mereka saja yang terlalu berlebihan. Lagipula phi Mario berhak untuk dekat dengan siapa saja.”

“Ah, kau bisa berkata seperti itu karena kaulah gadis beruntung itu. Jika tidak, ku yakin kau tidak akan jauh berbeda dengan mereka.” Ujar Apinya sembari tertawa kecil, berniat menggoda temannya itu.

Aom melotot kesal. “Enak saja! Aku lebih waras daripada mereka. Aku ini fans yang baik, kau tahu!”

Apinya tertawa lepas, merasa puas karena sudah berhasil menggoda temannya yang biasanya selalu bersikap tenang itu. Tawa gadis itu berhenti ketika muncul seorang pria tampan dihadapan mereka. Sangking tampannya hingga Apinya tidak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah pria tersebut. Gadis itu bahkan lupa menutup mulutnya jika saja pinggangnya tidak disikut oleh Aom.

“Hai phi Kris.” Sapa Aom ramah. Pria yang bernama Kris itu balas tersenyum, menambah kadar ketampanannya yang menyaingi artis-artis Thailand.

tumblr_static_tumblr_mjhquhdjyi1ry4wuwo1_500

“Kau tidak lupa kan jika kita ada rapat klub hari ini?”

“Haha, tentu tidak phi. Sebentar lagi aku akan kesana.”

Kris kembali tersenyum. “Baiklah kalau begitu. Sampai bertemu di ruang rapat.” Pria bertubuh tinggi itu melambaikan tangannya sebelum berbalik pergi.

Apinya meremas lengan Aom. “Ya Tuhan, kau tidak pernah bilang jika kau kenal dengan pria tampan seperti itu!” Gadis itu berseru heboh. Aom tertawa melihat reaksi berlebihan temannya ini. “Kau tidak pernah bertanya.” Jawabnya santai.

Apinya menatap Aom dengan penuh minat. “Tadi dia bilang rapat klub? Dia anggota klub fotografi juga?” Tanya gadis berambut hitam itu.

“Lebih tepatnya ketua klub.” Aom mengoreksi. Gadis itu mengernyitkan dahinya begitu melihat senyum tak biasa dari Apinya. “Hei, jangan bilang jika kau…”

“Kalian masih menerima anggota baru?”

1409914643

 

 

*****

 

 

Aom menutup laptopnya. Sudah jam satu malam dan ia baru selesai mengerjakan tugasnya yang akan dikumpulkan besok. Kebiasaan buruk Aom adalah menumpuk tugas yang diberikan dosennya, hingga pada akhirnya gadis itu akan kelabakan sendiri saat harus menyelesaikannya sebelum deadline. Aom menguap untuk yang kesekian kalinya. Ia benar-benar mengantuk. Namun sebelum bergelung kedalam selimut dan memulai mimpi indahnya, gadis itu merasa harus menyegarkan tenggorokannya terlebih dahulu. Dengan perlahan Aom berjalan menuju dapur. Suasana rumah sudah sepi mengingat jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.

‘Apa phi Mario sudah pulang?’ Batinnya.

Baru saja ia akan kembali naik ke lantai dua, tiba-tiba Aom mendengar suara pintu rumah yang dibuka diiringi dengan suara ribut beberapa orang lelaki. Dihinggapi rasa penasaran sehingga membuat Aom mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar dan malag berbalik menghampiri asal datangnya suara.

“Hei, si cantik ada disini!” Seru suara seorang pria yang Aom tidak ingat siapa namanya. Yang jelas pria bertubuh kurus dan berambut panjang itu adalah salah seorang teman Mario yang pernah bertemu dengannya dijalan beberapa waktu silam. Mario menatap Aom. “Ini sudah larut, kenapa belum tidur?” Tanya pria tampan itu dengan nada yang lembut, membuat teman-temannya usil menggoda. “Diamlah!” Ujar Mario sembari melirik kesal kearah teman-temannya.

“Pantas kau jadi lebih betah di rumah. Jika di rumahku juga ada gadis cantik maka aku juga takkan sudi keluar rumah.” Celetuk salah seorang teman Mario yang lain.

Aom jadi salah tingkah mendengar godaan-godaan yang dilemparkan padanya.

“Kau masih ingat teman-temanku, kan? Yang waktu itu bertemu di jalan.” Tanya Mario, yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Aom. “Mereka akan menginap disini malam ini. Dan kau tenang saja, takkan kubiarkan mereka menggangumu. Sekarang, tidurlah dengan tenang. Jangan lupa kunci pintu kamarmu.” Ucap Mario. Lagi-lagi Aom mengangguk. “Baiklah. Selamat malam phi.”

Tong menatap Mario yang juga tengah menatapnya datar. “Apa? Dengan begini tidak ada alasan berpindah tempat tak sengaja karena berjalan dalam tidur.” Ujar Mario yang sudah begitu hafal diluar kepala akal bulus Tong. Pria itu pasti sudah menyiapkan banyak rencana untuk menggoda Aom. Mario menatap Tong. “Kembali kutegaskan, jangan ganggu gadisku, mengerti?”

Tong memberi hormat pada Mario. “Ya, saya mengerti tuan!” Pria itu tersenyum bocah dan kemudian dengan santainya melenggang masuk ke dapur, seakan dirinya sang pemilik rumah. Gun menepuk bahu Mario. “Wah, kau benar-benar serius ternyata. Tapi aku setuju. Kalian terlihat cocok.”

Tanpa sadar seulas senyum terbit diwaja Mario kala mendengar perkataan Gun bahwa dirinya terlihat cocok bersanding dengan Aom. Pria itu menoleh menatap cermin yang tergantung disebelahnya. Ia mengamati bayangannya sejenak sebelum pada akhirnya berjalan menyusul teman-temannya.

image

‘Yah, kurasa kita memang serasi, Aom… Tidakkah menurutmu demikian?’

 

 

*****

 

 

Suasana lapangan basket yang tadinya tenang kini berganti ricuh akibat dialih fungsikan menjadi arena perkelahian. Suara pukulan, geraman marah dan rintihan kesakitan terdengar dari lapangan yang terletak jauh dari keramaian itu sehingga semakin melancarkan aksi sekelompok pria-pria tersebut.

Jika sudah berhadapan dengan musuhnya, atau orang yang telah menganggu dirinya, maka tak ada lagi Mario yang ramah dan lembut. Meskipun dengan napas yang terengah-engah, namun Mario tetap tidak menyerah untuk melumpuhkan musuhnya.

“Brengsek kau!” Umpat pria yang tadi dipukul oleh Mario. Wajah pria itu sudah lebam-lebam dan bahkan dibeberapa tempat sudah mengucurkan darah segar. Mario menatap lawannya itu dengan pandangan datar, tak terlalu berniat untuk meladeni umpatan pria berkulit coklat tersebut.

“Aku minta kau dan temanmu meninggalkan tempat ini. Dan jangan pernah coba-coba untuk mengusik kami lagi.” Mario berkata dengan nada dingin, masih dengan tatapan datarnya. Merasa tak ada pilihan lain, sang musuh pun mundur teratur setelah tentunya melayangkan berbagai macam umpatan nista untuk Mario dan teman-temannya.

“Argh! Kenapa kau biarkan si bodoh itu pergi begitu saja?! Setidaknya kita harus mematahkan tangan atau jari-jarinya untuk kenang-kenangan.” Seru Tong, merasa tak puas karena telah membiarkna musuh mereka pergi begitu saja.

Kla menepuk bahu Tong. “Sudahlah, kau seperti tidak tahu Mario saja. Lagipula tak ada gunanya mematahkan tangan atau jari si bodoh itu. Mematahkan lehernya atau mencabut pita suaranya jauh lebih baik.”

Nick mendesah pelan. Pria satu ini sebenarnya anti dengan kekerasan. Namun apa daya, ruang lingkup hidupnya memang tak pernah jauh dari kekerasan. Ia terpaksa melakukan kekerasan untuk melindungi diri, bukannya untuk menjadi jagoan dengan bersikap heroik. “Aku penasaran dengan daya tarik kita sehingga membuat mereka tak bosan-bosannya untuk terus mencari masalah dengan kita.” Ucap Nick dengan bosan sembari menggelengkan kepalanya.

 

*****

 

Picture6

Aom menghela napas pelan. Gadis itu sudah dapat menebak jika Mario baru saja terlibat perkelahian. Ujung bibirnya yang membiru serta pipinya yang memar cukup menjadi bukti konkrit bagi gadis itu. Dengan agak ragu Aom berjalan menghampiri Mario yang tengah duduk di kursi meja makan. Pria itu tampak kelelahan. Sekilas Aom melirik jam yang tergantung tak jauh dari tempatnya berdiri. Pukul 11.56 malam. Setidaknya Mario pulang lebih cepat malam ini.

Tak usah heran melihat keadaan yang seperti ini. Nam, ibu Mario telah kembali disibukkan dengan bisnisnya di Singapore dan Hongkong, sehingga pria itu tak perlu takut untuk terkena amukan ibunya. Dan Aom yakin seyakin-yakinnya jika sang pembantu dan satpam yang ada didepan rumah juga sudah disuap oleh pria tampan itu agar tidak melapor ke ibundanya tercinta.

“Kenapa belum tidur?”

Aom tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Mario yang selalu sama jika pria itu mendapati dirinya yang masih terjaga saat hari sudah larut. “Phi baru pulang?” Aom bertanya tanpa menjawab pertanyaan Mario.

“Ya.” Jawab pria itu singkat.

Aom meremas pinggiran meja seraya menatap ragu kearah Mario. “Apa phi habis berkelahi lagi?” Tanya gadis itu lirih. Mario menatap gadis itu sejenak sebelum pada akhirnya mengangguk. Toh tak ada gunanya untuk menyangkal sesuatu yang memang terjadi.

“Kenapa phi selalu berkelahi? Apa permasalahannya tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik?” Suara Aom terdengar cemas, dan tak urung hal tersebut membuat hati Mario menghangat, merasa senang karena masih ada yang peduli dan mengkhawatirkannya. Sang ibu terlalu sibuk dengan bisnisnya. Bahkan saat di rumah pun, obrolan ibunya tak jauh dari seputar hal-hal mengenai bisnis, membuat Mario terkadang merasa amat jenuh.

“Seharusnya kau tanyakan itu kepada musuh-musuhku, kenapa mereka selalu mencari masalah dengan kami.”

Aom menunduk diam, memandangi lantai tempatnya berpijak. Dengan perlahan gadis itu mendongak menatap Mario. “Phi, berjanjilah padaku bahwa kau akan selalu baik-baik saja…”

Mario terpana mendengar perkataan gadis itu yang sarat akan rasa cemas dan khawatir. Gadis kecilnya begitu memperhatikan dirinya. Seulas senyum terbit diwajah tampan itu. “Aku tidak bisa menjanjikan hal itu, Aom. Tapi, aku akan selalu berusaha untuk tetap baik-baik saja. Jangan khawatir, oke!”

Aom mengangguk pelan. Sebenarnya ia tidak cukup puas dengan jawaban Mario. Tapi setidaknya pria itu telah berkata bahwa ia akan selalu berusaha untuk baik-baik saja dan Aom yakin Mario bisa melakukannya. Gadis itu membalikkan badannya, berniat untuk kembali ke kamar, namun suara Mario menghentikan langkahnya.

“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Aom…”

Mario-Maurer-in-Suddenly-Its-Magic_2

 

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

Satu tanggapan untuk “I Love You Now and Forever (Part 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s