Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

Dark Side (part 6)

1416330368437Author : Cho Haneul
Title       : Dark Side
Type      : Chaptered
Genre    : Angst, Drama, Romance
Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Oh Sehun

__________________________________________

 

Dugaan Jiwon tidak meleset. Begitu dirinya menapakkan kaki di Sekolah, saat itu juga masa-masa bebasnya berakhir. Sehun dan beberapa orang suruhan kedua orangtua Jiwon sudah menunggu gadis itu disana. Dengan paksaan serta ancaman, akhirnya Jiwon memilih pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang Jiwon hanya diam membisu, begitupula dengan Sehun. Namun sepertinya namja itu tidak tahan untuk lebih lama membungkam mulutnya. Sehun melirik sejenak kearah Jiwon. Seulas senyuman sinis tersungging dibibirnya. Dalam hati Sehun tertawa puas melihat Jiwon yang pada akhirnya tetap kembali dalam rengkuhannya, dalam kuasanya. Sejak awal Sehun memang sudah yakin akan hal ini.

“Aku sudah pernah bilang bukan bahwa kita ini berjodoh. Sejauh apapun kau pergi, toh pada akhirnya kau akan kembali ke sisiku.” Ucap Sehun tepat ditelinga Jiwon. Gadis itu tidak menanggapi perkataan Sehun, namun kedua tangannya mengepal dengan sempurna dipangkuannya. Wajah Jiwon tampak begitu datar dan dingin.

“Lusa adalah pesta pertunangan kita dan setelah pengumuman kelulusan, maka kau akan segera menjadi Nyonya muda Oh. Rencana yang indah, bukan? Dan kupastikan itu tak hanya sekedar menjadi rencana. Aku pasti akan mendapatkanmu seutuhnya. Ah, aku lupa! Bukankah aku memang sudah memiliki ‘seutuhnya’?” Cara Sehun menatap Jiwon sungguh merendahkan gadis itu, membuat emosi Jiwon naik ke ubun-ubun. Bukannya merasa bersalah, Sehun justru tampak menikmati ekspresi marah Jiwon. Ia tersenyum begitu sumringah, kontras sekali dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Jiwon.

 

 

*****

 

 

“Makanlah, ibu bawakan makanan kesukaanmu.” Ibunda Jiwon, Kim Nana, meletakkan nampan berisi makan malam untuk putrinya di atas meja belajar Jiwon, sementara Jiwon hanya duduk diam diatas ranjangnya dengan posisi memeluk kedua kakinya. Pandangan Nana beralih kearah sebuah gaun berwarna putih yang digantung dipintu lemari. Gaun berwarna putih dengan hiasan berwarna silver itu adalah gaun yang diperuntukkan untuk pesta pertunangan Jiwon dan Sehun yang akan diadakan lusa. “Kau sudah mencoba gaun itu? Gaun itu didesain oleh designer ternama. Kau pasti terlihat sangat cantik saat mengenakannya.”

“Kenapa kau tega melakukan ini?” Suara datar nan dingin itu terdengar. Jiwon menoleh kearah ibunya, masih dengan wajah datarnya yang ia tunjukkan sejak kakinya menapak kembali di rumah masa kecilnya itu. Ibu Jiwon menghela napas mendapati kenyataan bahwa putrinya masih bersikeras untuk menolak perjodohan itu.

“Ibu…”

“Dwaesso!” Jiwon menyela perkataan ibunya sebelum wanita paruh baya itu sempat menyelesaikan kalimatnya. “Aku sudah tahu apa jawabannya.” Sambung Jiwon. Ia lalu membaringkan tubuhnya diatas ranjang, tak lupa untuk menyelimuti dirinya dengan selimut hingga menutupi kepala. Jiwon bisa mendengar helaan napas ibunya yang terdengar begitu berat dan lirih. Gadis itu sudah tidak mau ambil pusing dengan kedua orangtuanya lagi. Sekarang yang beputar-putar dipikirannya hanya satu. Bagaimana cara agar ia dapat terbebas dari semua masalah yang menyesakkan ini. Sudah tiga hari lamanya ia mendekam di rumah mewahnya itu. Ia hanya bisa keluar untuk pergi ke sekolah demi mengikuti ujian, jika tidak karena itu, maka jangan harap Jiwon bisa merasakan angin segar musim semi yang membelai lembut wajahnya serta sinar matahari yang menghangatkan tubuhnya. Sudah tiga hari pula Jiwon tidak bisa menghubungi Woo Bin karena ponselnya yang disita oleh sang ibu.

“Sekarang apa? Apa memang harus menyerah begitu saja?” Gumam gadis itu lirih.

Jiwon teringat akan sesuatu. Dengan sigap gadis itu menyibakkan selimutnya dan melompat turun dari atas ranjang. Sangking terburu-burunya hingga ia nyaris saja jatuh dengan posisi tertelungkup diatas lantai. Jiwon menghampiri meja belajarnya dan kemudian mengambil laptop berwarna silver miliknya yang sudah lama sekali tak pernah ia sentuh.

Kenapa aku begitu bodoh?! Aku kan bisa mengirim email pada Woo Bin!’ Batin Jiwon girang.

Dengan semangat ia menyalakan laptopnya dan membuka akun emailnya. Yah, dengan begini masih ada harapan bagi Jiwon untuk menyelamatkan dirinya. Jari-jari kurus itu dengan lincahnya menari-nari diatas keyboard laptop, mengetikkan beberapa kata penting yang ia ingin beritahukan pada Woo Bin. Seulas senyum muncul diwajah pucat Jiwon saat melihat email tersebut telah terkirim. Sekarang gadis itu hanya berharap bahwa Woo Bin sedang kebetulan memeriksa emailnya.

‘Aku menagih janjimu, Woo Bin-ah. Kau bilang kau ingin membawaku pergi, bukan? Palli wasseo!’

 

 

*****

 

_Santa Maria Hospital, 08:32 PM, Seoul_

“Tidak perlu, kau bisa pulang sekarang.”

Woo Bin tak habis pikir dengan ayahnya. Bahkan disaat pria paruh baya itu dalam keadaan tak berdaya seperti ini, ia masih tetap ngotot untuk mendorong Woo Bin menjauh darinya. Woo Bin menatap ayahnya yang tengah terbaring lemas di ranjang rumah sakit itu. Sudah dua hari ayahnya dirawat inap di rumah sakit setelah ditemukan pingsan di ruang kerjanya. Woo Bin begitu cemas memikirkan keadaan sang ayah hingga ia rela menyampingkan permasalah Jiwon untuk sementara. Akan tetapi setelah ayahnya sadar, yang Woo Bin dapati justru tatapan dingin nan tak bersahabat itu lagi.

Seperti sekarang, sang ayah dengan tanpa perasaan menyuruh Woo Bin untuk pergi. “Apa lagi yang kau tunggu?” Pria paruh baya itu menatap Woo Bin datar.

Hati Woo Bin kembali terluka saat lagi-lagi harus mendapat perlakuan seperti itu. Pria beralis tebal itu menatap dalam kearah ayahnya. “Apa sebegitu inginnya kau membuatku menjauh?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Woo Bin.

Sang ayah hanya menatap kosong kearah langit-langit kamar. “Kurasa tanpa harus kujawab kau sudah tahu jawabannya.”

DEG!

Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Tidak bisakah ayahnya melihat ketulusan yang ada di dirinya?

Kedua tangan Woo Bin mengepal sempurna. “Begitu ternyata. Yah, kau benar, aku memang sudah dapat menebak seperti apa jawabannya. Dan ternyata benar, appa memang sudah tak sudi melihatku lagi.” Meskipun diucapkan dengan nada datar, namun Woo Bin tidak bisa menyembunyikan tatapan matanya yang penuh luka itu. Jujur, ia sangat merindukan kasih sayang dari sang ayah. Woo Bin menarik napas sejenak. “Apa kau akan baik-baik saja tanpa aku?”

“Ya. Selama ini aku memang selalu baik-baik saja, bukan. Ada ataupun tanpa dirimu.”

Woo Bin tersenyum kecil. “Bagus jika seperti itu.”

Pintu kamar rawat tuan Kim dibuka dari luar, dan tak lama masuklah seorang wanita paruh baya yang modis, adik mendiang ibu Woo Bin. Wanita itu menghentikan langkahnya dan kemudian menatap Woo Bin begitu tajam dan sinis. Woo bin tahu bahwa tatapan itu secara tak langsung mengatakan bahwa wanita itu keberatan dengan keberadaannya disana, jadi sebelum diusir secara tidak hormat, Woo Bin memilih untuk pergi terlebih dahulu.

Pria berparas tampan itu baru dapat bernapas dengan lega tanpa tekanan setelah ia berada di luar ruang rawat itu.

‘Memang sudah tak ada lagi alasan bagiku untuk tetap ada disini. Appa sudah terang-terangan menolak kehadiranku. Bukankah aku akan semakin menjadi anak durhaka jika aku tetap muncul dihadapannya? Toh, ia akan baik-baik saja tanpaku.’ Batin Woo Bin sembari menatap sendu kearah kamar rawat sang ayah.

“Selamat tinggal ayah…”

 

 

*****

 

 

Woo Bin menatap layar ponselnya, membaca email dari Jiwon untuk yang kesekian kalinya. Di email itu Jiwon memberi tahukan keadaannya dan juga mengenai pesta pertunangannya yang akan diselenggarakan esok hari. Namja beralis tebal itu mengernyitkan dahinya pertanda bahwa otaknya tengah berpikir keras. Ia harus secepatnya menemukan cara untuk membawa Jiwon pergi. Tapi ia sadar bahwa itu tidak mudah. Akan ada banyak rintangan yang menghadangnya.

Sekali lagi Woo Bin menatap layar ponselnya. Sebaris kalimat Jiwon menguatkan tekad namja itu. Yah, ia harus dan pasti bisa menolong Jiwon.

Oppa, kau pernah bertanya jika aku percaya padamu, bukan? Ya, aku percaya padamu. Aku percaya bahwa kau dapat membawaku keluar dari dunia gelap ini. Aku menunggumu oppa…

Dengan sigap Woo Bin menyambar koper berukuran sedang miliknya dan memasukkan beberapa potong pakaian serta barang-barang yang dianggapnya penting. Namja itu membuka laci tempat ia menyimpan berkas-berkas penting dan mengambil sebuah buku tabungan. Woo Bin tersenyum puas kala melihat nominal yang cukup besar tertera didalam buku tersebut. Selama ini ia selalu menabung, dan Woo Bin rasa jika sudah saatnya ia menggunakan uang tabungannya itu.

Setelah beres dengan barang-barangnya, pria itu menyambar dompetnya yang tergeletak diatas meja tv. Ia sempat menoleh sejenak, menatap setiap sudut kamar yang sudah ditempatinya semenjak ia kecil.

‘Aku pasti akan merindukan kamar ini…’

 

 

 *****

 

 

Jiwon uring-uringan. Sejak tadi tak henti-hentinya ia berjalan mondar mandir didalam kamarnya itu. Hatinya gelisah kala mengingat bahwa besok adalah hari pertunangannya. Gadis itu melirik sejenak kearah laptopnya. Tadi ia membaca email balasan dari Woo Bin. Namja itu bilang bahwa Jiwon tidak perlu khawatir karena ia akan segera menjemput gadis itu.

“Bagaimana dia bisa menjemputku?” keluh Jiwon, mengingat ada 2 orang penjaga didepan kamarnya, dan mungkin juga ada beberapa lagi yang berkeliaran di rumahnya. Entahlah, gadis itu tak tahu pasti. Yang jelas jika sudah ada campur tangan Oh Sehun maka semuanya akan terasa tidak benar dan tampak gila. Jiwon menggigiti kuku ibu jarinya karena gugup dan gelisah. “Ottohke?” gadis itu bergumam sendiri.

Pintu kamarnya terbuka, membuat perhatian Jiwon seutuhnya terfokus kesana. Dengusan napas kasar terdengar darinya melihat Sehun yang tengah menatapnya datar dan tanpa ekspresi.

‘Apa lagi yang si gila ini ingin lakukan?’ Batin Jiwon dalam hati sembari memperhatikan Sehun. Sehun berjalan mendekatinya, perlahan namun pasti. Masih dalam diam, pria itu menyusuri wajah Jiwon dengan tangannya. Belaiannya begitu lembut, namun tetap saja Jiwon tidak menyukainya. Ia sudah menetapkan hatinya untuk selamanya membenci Oh Sehun! Pria yang dengan tega menghancurkan hidupnya.

“Kau tak terlihat senang.” Suara Sehun terdengar dingin.

Lagi-lagi Jiwon mendengus. “Jangan mengharapkan hal yang mustahil, Oh Sehun! Kau kira akan ada gadis waras yang masih dapat tersenyum bahagia jika besok ia akan bertunangan dengan pria yang telah memperkosanya?” Ujar Jiwon sembari menatap Sehun tajam. Rahang Sehun mengeras. Perkataan Jiwon telah menyulut emosinya, namun pria itu memilih untuk mendiamkan gadis itu. Karena jika tidak, maka Sehun takkan bisa menjamin jika gadis yang ada dihadapannya ini akan selamat dari amukannya. Ia tentunya tidak ingin memberikan kesan buruk bagi kedua calon besannya itu.

Sehun kembali membelai wajah Jiwon, namun tak lama belaian itu berubah menjadi cengkraman kasar yang Jiwon bersumpah bahwa membuat pipinya terasa sangat sakit. “Jangan berharap bahwa kau bisa pergi dengan si brengsek itu, karena akan kupastikan jika si brengsek itu pergi ke neraka sebelum ia sempat membawamu pergi.” Sehun berbisik tepat ditelinga Jiwon, membuat tubuh gadis itu meremang.

Jujur saja, mendengar perkataan Sehun yang seperti itu membuatnya cemas. Ia takut membayangkan kemungkinan buruk yang terjadi pada pria yang dicintainya jika Sehun benar-benar merealisasikan ancamannya tersebut.

Tanpa disadarinya air mata kembali bergulir diwajah mulus Jiwon. Gadis itu berjalan masuk kedalam kamar mandi dan membasuh wajahnya berkali-kali. Jiwon memandang pantulan dirinya di cermin. Ia terlihat amat menyedihkan. Yah, hidupnya memang sangat menyedihkan. Tangan Jiwon meraba laci yang ada dihadapannya. Matanya menatap kosong isi dalam laci tersebut. Sebuah silet.

“Jangan melakukan hal bodoh ini lagi! Kau punya aku untuk berbagi.”

Jiwon mengurungkan niatnya untuk mengambil silet itu kala suara Woo Bin terngiang dibenaknya. Pria itu pasti akan kecewa dan marah jika ia kembali melakukan hal bodoh ini. Tapi… hanya cara ini yang dapat meredakan rasa sakitnya untuk saat ini. Dan lagi, jika ia masuk rumah sakit, maka otomatis pesta pertunangan akan ditunda. Membulatkan tekad, Jiwon pun meraih silet tersebut. Gadis itu berjalan keluar dari kamar mandi dan duduk didepan laptopnya. Jemari lentiknya mengetikkan beberapa baris kata yang diperuntukkan untuk namja yang begitu ia cintai, satu-satunya orang yang mengetahui sisi gelapnya dan yang ia percaya dapat membawanya keluar dari sisi gelapnya itu, Kim Woo Bin.

Maaf karena aku terpaksa untuk kembali melakukannya. Aku tak punya pilihan lain. Jika aku terbangun nanti, aku benar-benar berharap bahwa aku berada didekapanmu seperti waktu itu. Kau pernah menyelamatkanku waktu itu, jadi aku percaya bahwa kau pasti akan menyelamatkanku lagi kali ini.

Aku mencintaimu…

 

 

 *****

 

 

_Sehun’s Room, 10.02 PM, Seoul_

Sehun menghempaskan tubuhnya keatas ranjang nyaman miliknya, tak menghiraukan keberadaan sang ibu yang tengah menatap putra semata wayangnya itu dengan intens. Wanita berumur akhir empat puluhan itu duduk disisi ranjang Sehun yang kosong. Merasa ada bobot lain yang berada diatas ranjangnya, Sehun membuka matanya dan kemudian menoleh kearah sang ibu.

“Apa kau yakin dengan pertunangan dan juga rencana pernikahan ini?” Wanita paruh baya itu merasa agak ragu dengan keputusan yang diambil putranya. Menurutnya Sehun terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Sehun bahkan belum benar-benar lulus sekolah menengah atas, walaupun Sujeong begitu yakin jika putra kesayangannya itu pasti akan lulus dengan nilai yang memuaskan.

Dahi Sehun mengerut mendengar perkataan sang ibu. Ia selalu merasa tidak suka jika ada yang meragukannya, apalagi menyangkut hal penting seperti ini. “Tentu saja aku yakin! Apa ibu pikir aku hanya bermain-main saja? Aku hanya ingin Jiwon!” Tegas Sehun.

Sujeong menghela napas. Belum apa-apa ia sudah merasa kalah berdebat dengan Sehun. “Tapi kalian masih terlalu muda. Siapa tahu dengan seiring berjalannya waktu kau akan menemukan yang lebih baik. Lagipula kau tahu sendiri kan bagaimana kondisi keluarga gadis itu. Jiwon sendiri bahkan sudah terang-terangan menolak pertunangan ini. Apa kau yakin dia mau menikah denganmu?”

“Ia pasti mau karena…”

“Terlepas dari rasa hutang budi dan ancaman kita padanya.” Sujeong memotong perkataan Sehun. Wanita itu menatap putranya dengan tatapan serius. “Kau jangan mengelak bahwa kita memang mengancamnya secara halus dengan menggunakan kedua orangtuanya.”

“Kenapa tiba-tiba eomma seperti ini, eo? Seharusnya eomma mendukung ku!” Ujar Sehun kesal.

Sujeong mendesah pelan. “Tadinya eomma juga tidak terlalu memikirkannya, keunde lambat laun hal tersebut menjadi beban tersendiri bagi eomma. Eomma hanya tidak ingin kau tersakiti dan menyesal. Semua orang tua pasti ingin yang terbaik bagi anaknya. Ingin melihat anaknya memiliki kehidupan rumah tangga yang harmonis. Setidaknya si anak tidak melakukan kesalahan seperti orang tuanya…” Nada bicara Sujeong mendadak menjadi lirih. Sehun terdiam membisu. Ia tahu benar apa maksud ibunya. Ya, ayah dan ibunya juga adalah korban dari perjodohan, dan kehidupan rumah tangga mereka selalu dihiasi dengan percekcokan hingga Sehun tak ingat kapan terakhir kali ia melihat kedua orangtuanya melakukan hal yang romantis selayaknya pasangan suami istri yang normal.

“Aku tidak peduli bagaimana akhirnya, yang terpenting aku ingin Jiwon menjadi pasanganku. Hanya Jiwon!” Tegas Sehun tanpa mau diganggu gugat.

 

 

*****

 

 

Nana mengetuk pintu kamar Jiwon dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang sepasang sepatu mewah berwarna putih dengan taburan manik-manik mirip berlian kecil diatasnya. Wanita itu ingin memberikan sepatu itu pada Jiwon karena merasa bahwa sepatu itu lebih cocok dengan gaun yang besok akan dipakai oleh Jiwon. Namun sudah sedari tadi ia mengetuk pintu, pintu itu tetap tidak terbuka.

“Jiwon, apa kau sudah tidur? Ini eomma. Eomma ingin memberikan sesuatu untuk mu.” Ujar Kim Nana, namun masih tidak ada jawaban dari Jiwon. Wanita paruh baya itu menatap kedua penjaga yang berdiri disisi kanan dan kiri pintu kamar Jiwon. “Apa dia didalam?” Tiba-tiba Nana jadi cemas jika Jiwon kembali kabur.

Kedua penjaga itu mengangguk mantap. “Ya, kami yakin nyonya. Mungkin nona Jiwon sedang tidur atau ia sedang berada di kamar mandi.” Jawab salah seorang penjaga. Meskipun begitu, namun Nana tetap merasa tidak tenang. Ada sesuatu yang membuatnya gelisah dan ia merasa harus memastikan keadaan putrinya itu.

“Ambil kunci serep!” perintahnya.

Tak berapa lama si penjaga kembali dengan membawa kunci serep ditangannya. Sayangnya pintu itu tetap tidak bisa dibuka karena kuncinya tidak dapat masuk kedalam lubang kunci.

“Tampaknya masih ada kunci didalam lubang sehingga kunci ini tidak dapat masuk. Apa yang harus kita lakukan nyonya?” Si penjaga itu menoleh kearah Nana. Nana terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia memberikan perintah. “Dobrak saja pintunya.” Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus segera memastika keadaan putrinya itu.

BRAK!

Pintu kamar Jiwon terbuka lebar setelah terkena hantaman badan si penjaga sebanyak dua kali. Nana langsung melangkah masuk, dan detik itu juga ia terpaku saat melihat Jiwon yang tertidur dimeja belajarnya. Bukan, bukan itu yang membuatnya terpaku, namun tetesan darah segar yang jatuh dilantai kamar lah yang membuat wanita paruh baya itu mematung, sebelum akhirnya sebuah teriakan panik terdengar.

“YA TUHAN, JIWON!!! SIAPA SAJA TOLONG!!!” Teriak Nana histeris. Wanita itu meringis melihat sebuah luka sayatan yang cukup dalam dipergelangan tangan sang putri. Dan yang membuatnya semakin histeris karena ia juga menemukan banyak luka sayatan lain dipergelangan tangan Jiwon. Beberapa masih terlihat baru dan sebagian hanya tinggal bekasnya saja.

‘Apa ini?! Kenapa aku tidak pernah tahu soal ini?!’

 

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

8 tanggapan untuk “Dark Side (part 6)

  1. Aaa akhirnya keluar jg part 6.. Aku udah nunggu2 banget.. Makin seru.. Penasaran apa woobin berhasil bawa jiwon kabur? Waah.. Makasih ya admin.. Ditunggu part selanjutnya yaa.. 😊😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s