Diposkan pada Chapters

Crashed (Part 10)

1404130212061

Author : Cho Haneul
Title      : Crashed
Type     : Chaptered
Genre  : Romance, Drama

SPECIAL THANKS TO MY SISTER FOR THE POSTERS :*

Cast :
– Park Boyoung
– Nam Bora
– Kim Jongin
– Kris Wu
– Oh Sehun
– Oh Haneul (OC)
– Byun Baekhyun
– Park Chanyeol

____________________________________

 

Kai kembali menginjakkan kakinya ke sekolah. Yah, si penguasa itu pada akhirnya kembali lagi ke sekolah tercinta. Meskipun Kai tidak suka sekolah, namun setidaknya ia merasa lebih baik berada di sekolah daripada di rumah. Di sekolah ia bisa bertemu teman-temannya dan tentunya mendapatkan hiburan, yah membully siswa lain merupakan hiburan tersendiri bagi pria berahang tegas itu.

tumblr_mvrfsmH6gJ1qct4u1o1_1280

Dari kejauhan Kai dapat melihat sosok mungil Boyoung yang sedang melakukan pelajaran olah raga. Tidak terlalu susah untuk menemukan gadis itu. Tubuh Boyoung yang mungil kontras sekali jika dibandingkan dengan teman-teman wanitanya yang rata-rata bertubuh tinggi. Tentu saja, mereka kan sudah duduk di kelas dua belas, sebentar lagi akan menjadi mahasiswi. Boyoung saja yang aneh karena tubuh gadis itu tetap terlihat seperti siswi sekolah menengah pertama.

“Hei hei, lihat gadis itu! Dengan tubuh pendek seperti itu aku ragu jika dia dapat memasukkan bola ke ring. Seharusnya Jeon seonsaengnim menyuruhnya itu bermain lompat tali saja hahaha…” Seperti biasa, Byun Baekhyun selalu senang menertawakan orang lain tanpa bercermin terlebih dahulu. Pria itu masih tidak sadar bahwa dirinya tidak ada bedanya dengan Boyoung. Baekhyun termasuk bertubuh pendek dan kecil untuk namja berumur 18 tahun seperti mereka. Baekhyun masih asyik tertawa sambil sesekali melaturkan ejekkannya untuk Boyoung, tidak sadar bahwa keempat temannya sudah sangat gatal ingin menjitaki kepalanya beramai-ramai.

“Ada yang belum bercemin pagi ini.” Sindir Chanyeol.

Sehun melirik sekilas kearah Kai, dan mendapati sahabatnya itu masih terfokus menatap Boyoung. Hal tersebut tak urung membuat Sehun mengernyit bingung. Sejak kapan Kai suka mengamati orang lain seperti itu? Dan lagi Park Boyoung? Bukankah setahu Sehun Kai tertarik pada Bora?

“Hei, sejak kapan kau jadi suka mengamati orang?” Tanya Sehun. Kai menoleh kearah Sehun, agak sedikit mengernyit. “Apa?”

“Neo… Park Boyoung-ssi ga joahe?”

 

 

*****

 

 

Bora menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Tanpa disadarinya ia tengah menantikan telepon dari seseorang. Seseorang yang sudah kurang lebih tiga bulan belakangan ini selalu merecoki hidupnya.

71fa92db1481850d76f7cc3c9197cdcf

“Kau jadi sering terlihat mengamati ponselmu. Seperti bukan kau saja.” Ujar Jiyoung yang duduk disebelah Bora. Jiyoung bukannya hanya asal bicara, namun Bora yang biasanya adalah Bora yang sama sekali tidak peduli dengan ponselnya. Gadis itu memang berbeda dari remaja kebanyakan yang tidak bisa jauh dari gadget.

Mendengar perkataan seperti itu, Bora hanya tersenyum kecil untuk menanggapinya. Jiyoung menatap Bora penasaran. “Sudah lama aku tidak mendengarmu menceritakan namja bernama Kai itu. Apa yang terjadi? Kau sudah tidak bertemu dengannya lagi?” Jiyoung berusaha memancing temannya itu untuk bercerita, karena jika menunggu Bora yang akan dengan sukarela untuk bercerita, maka kemungkinannya tipis sekali, setipis kemungkinan bahwa ujian akhir nasional ditiadakan oleh pemerintah.

“Ne. Perjanjian kami sudah selesai. Dia sudah sehat, jadi tak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal.”

“Tapi…”

“Bisakah kita tidak usah membicarakan namja itu? Bicarakan hal yang lain saja.” Pinta Bora dengan sangat, membuat Jiyoung akhirnya menyerah dengan niatannya untuk memaksa Bora bercerita.

Bora sempat melirik sekilas ponselnya, sebelum gadis itu menyimpan ponsel berwarna putih itu kedalam tasnya. Dalam hati ia tertawa miris. ‘Apalagi yang kau nantikan Nam Bora? Mulai sekarang tidak akan ada lagi namja yang selalu merecoki hidupmu dan menyuruhmu untuk melakukan ini itu. Seharusnya aku senang. Yah, seharusnya…’

 

 

 *****

 

 

Kai kembali merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya. Begitu sakit hingga namja itu tanpa sadar berteriak kesakitan. Dengan susah payah Kai berjalan menuju ke kamar mandi yang berada didalam kamarnya. Ia membuka laci tempat ia menyimpan obat-obatan terlarang itu, namun tiba-tiba obat-obatan berserta suntikan itu terampas begitu saja dari tangannya. Kai menoleh dan menatap berang kearah Sehun. “Kembalikan!” Seru Kai marah. Sehun menggelengkan kepalanya. “Kau harus berhenti Kai.”

“Berikan padaku, brengsek!” Kai melangkah maju, berusaha untuk merebut kembali obat-obatan tersebut, akan tetapi ia kalah cepat. Sehun dengan sigap melesat menuju kloset dan tanpa pikir panjang membuang serbuk-serbuk beserta suntikan yang ada ditangannya kedalam lubang kloset.

“APA YANG KAU LAKUKAN?!” Kai berteriak frustasi. Dengan tubuh yang gemetaran menahan sakit ia menerjang Sehun. Kondisi Kai yang lemah tentu saja tidak sebanding dengan Sehun, sehingga Sehun dapat dengan mudah melawan balik. Sehun menahan tubuh Kai. “Hentikan Kai! Hentikan! Benda sialan itu sudah tidak ada. Aku sudah membuangnya. Kau harus sembuh.” Gumam Sehun lirih. Kai masih memberontak dipelukan Sehun, membuat tubuh kedua namja itu akhirnya terjatuh kelantai kamar mandi yang dingin.

“Sakit… tolong aku! Berikan itu padaku. Aku membutuhkannya. Aku sakit…” Tangisan pilu itu begitu menyayat hati Sehun, namun dengan sekuat tenaga ia mengeraskan hatinya. Hanya ini satu-satunya cara agar Kai dapat berhenti. Sehun hanya ingin Kai sembuh. Ia tidak ingin sahabatnya itu menyia-nyiakan hidupnya hanya demi barang laknat itu. “Sakit!” Kai kembali berteriak kencang. Beruntung di luar sedang hujan deras sehingga Sehun tidak perlu takut jika pelayan ataupun Suho mendengar teriakan Kai, sedangkan kedua orangtua Kai sedang tidak berada di rumah.

Baju Kai basah akibat keringat dingin disekujur tubuhnya. Wajah tampan yang biasanya selalu tampak tenang itu kali ini terlihat begitu rapuh dan kesakitan. Siapapun yang melihatnya pasti akan sulit percaya bahwa namja yang tengah merintih kesakitan itu adalah Kim Jongin. Kai mencengkram tangan Sehun, dan Sehun tidak keberatan dengan hal tersebut meskipun itu terasa sakit. Namja berkulit putih itu tahu pasti bagaimana sakitnya tubuh Kai saat ini. Ia juga pernah merasakan hal yang sama setahun silam. Tak henti-hentinya Sehun membisikkan kata-kata penyemangat dan penguat agar Kai dapat melawan rasa sakitnya itu.

“Kau pasti bisa Kai. Aku yakin kau pasti bisa.”

 

 

*****

 

 

Kai tertidur lemas diatas ranjangnya, sedangkan Sehun hanya duduk diam disisi ranjang sembari mengamati sahabatnya itu. Butuh usaha keras untuk menenangkan Kai yang tengah kecanduan. Sehun bahkan masih dapat merasakan sakit dilengan dan punggungnya akibat cakaran serta pukulan bertubi-tubi yang dilayangkan Kai untuk mengalihkan rasa sakitnya.

Namja berwajah dingin itu cukup prihatin dengan apa yang Kai alami. Setidaknya dulu saat ia berada didalam situasi yang sama, ia memiliki sang adik yang selalu menemaninya dan mendukung niatnya untuk sembuh. Sedangkan Kai, tidak ada satu orangpun dari keluarganya yang tahu mengenai keadaan namja ini. Kai sendirian. Ah ani, Kai punya dirinya. Sehun tidak akan membiarkan sahabatnya itu terlalu lama terjerumus dalam kegelapan. Ia akan menarik sahabatnya itu keluar dari kegelapan. Perlahan namun pasti, ia pasti bisa.

 

 

*****

 

_@The Book Store, 04:02 PM, Seoul_

Bora mengamati seorang gadis bertubuh mungil yang tengah menjelajahi rak kumpulan novel di toko buku tempatnya bekerja. Awalnya Bora tidak menyadari, namun tak lama ia ingat bahwa gadis itu adalah gadis yang pernah ia temui di rumah sakit saat menjenguk Kai beberapa waktu yang lalu.

‘Siapa namanya? Ah iya, Park Boyoung.’ Batin Bora, masih mengamati Boyoung.

‘Apa dia tahu bahwa Kai adalah pemakai?’

Bora menatap Boyoung yang sudah berdiri dihadapannya dengan membawa dua buah novel. Tampaknya gadis itu sudah menemukan novel yang dicarinya dan bersiap untuk membayar. Rupanya Boyoung masih belum menyadari jika dirinya pernah bertemu dengan Bora sebelumnya. Baru setelah ia menyerahkan sejumlah uang, ia menyadari bahwa dirinya pernah bertemu dengan Bora sebelumnya. Boyoung melihat nametag gadis yang menjadi kasir ini. ‘Nam Bora’ tertulis disana.

B9r5X8Hu

“Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya. Kau temannya Kim Jongin, bukan?” Ucap Boyoung.

Bora menyerahkan sejumlah uang kembalian. “Ne, kita pernah bertemu di rumah sakit, keunde aku bukan teman Kim Jongin. Hanya kebetulan mengenalnya.”

“Ah, geureyeo.” Boyoung mengambil uang kembalian tersebut dan menyimpannya kedalam dompet berwarna ungu miliknya. “Terima kasih. Senang bisa bertemu denganmu lagi.” Boyoung berkata sopan sebelum gadis itu beranjak pergi. Tanpa sadar Bora memanggil gadis mungil itu sehingga Boyoung kembali berjalan mendekati Bora. “Waeyo?” Tanya Boyoung.

“Kau teman Kim Jongin di sekolah, bukan? Itu berarti kau hampir setiap hari bertemu dengannya. Apa kau tahu jika temanmu itu seorang…” Ucapan Bora terhenti ditengah jalan. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, sadar akan kesalahan yang nyaris dibuatnya. Tidak pantas rasanya jika ia menceritakan mengenai masalah Kai kepada Boyoung. Lagipula hal yang menyangkut Kai bukan urusannya lagi. Mengingat Kai membuat gadis itu kembali merasa jijik dan kecewa.

“Seorang apa?”

Pertanyaan dari Boyoung menyadarkan pikiran Bora. Gadis manis itu tersenyum kecil sembari menggeleng. “Lupakan saja. Kurasa aku bukan orang yang tepat untuk mengatakannya. Akan lebih baik jika kau melihat dengan mata kepalamu sendiri siapa sebenarnya Kim Jongin itu.”

Perkataan Bora yang terdengar ambigu itu tentunya membuat Boyoung amat penasaran. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak tenang. Sepertinya hal yang dimaksud Bora itu bukanlah hal yang menyenangkan untuk diketahui. Tiba-tiba Boyoung tersentak. ‘Apa jangan-jangan dia tahu bahwa Jongin adalah pemakai narkoba?’ pikir Boyoung.

Dengan ragu gadis berambut panjang itu kembali membuka suara. “Apa yang kau maksud itu… em… mengenai Jongin yang seorang pemakai… yah kau tahu maksudku.” Suara Boyoung terdengar ragu. Bora mendelik kaget. “Kau tahu itu?!” Serunya nyaris berteriak, dan ia semakin histeris saat melihat anggukan dari Boyoung.

01968

“Aku sudah tahu lama. Di sekolah memang sering beredar rumor mengenai Jongin yang seorang pemakai, bahkan juga ada yang bilang jika ia termasuk bandar narkoba.”

“Dan dengan semua fakta mengejutkan itu kau masih berteman dengannya?”

Boyoung mengangguk tanpa ragu. “Yah, tentu saja. Jongin adalah seorang namja yang baik. Yah, disamping sisi gelapnya itu. Aku sudah bertekad dalam hatiku bahwa aku akan menerima Jongin apa adanya. Malah aku akan berusaha untuk merubahnya menjadi lebih baik. Menjauhi dan memusuhinya hanya akan membuat Jongin merasa semakin terpuruk. Pasti ada alasan mengapa Jongin rela menghancurkan dirinya seperti itu.”

Bora terdiam seribu bahasa mendengar perkataan Boyoung. Secara tak langsung perkataan Boyoung telah menohok hatinya. Boyoung benar, pasti ada alasan dibalik semua tindakan Kai. Pasti namja itu begitu terpuruk hingga ia menggunakan narkoba sebagai pelarian masalahnya itu. Dan dengan jahatnya ia menjauhi namja dan menganggap Kai sebagai makhluk hina. Tapi itu juga bukan kemauan Bora. Perasaan jijik dan kecewa itu muncul begitu saja dan menyeruak kedalam benaknya.

“Tak bisa kupungkiri jika aku amat kecewa dengan Jongin, keunde aku tetap berusaha untuk menerimanya apa adanya.” Ucap Boyoung lagi sembari tersenyum kecil.

Mendengar perkataan Boyoung, hanya ada satu pertanyaan yang melintas dibenak Bora.

“Apa kau menyukai Kai, Boyoung-ssi?”

 

 

 *****

 

 

Kai kembali tergeletak lemas tak berdaya, namun kali ini bukan diranjang miliknya melainkan diatas ranjang Sehun. Tadi Kai sempat sakaw. Ini sudah ketiga kalinya dalam minggu ini. Maklum saja, mengingat bahwa sudah beberapa hari ia tidak menyentuh barang haram itu. Kehadiran Sehun disisinya lah yang menjadi faktor utama. Tampaknya Sehun benar-benar bertekad untuk membuat Kai sembuh. Seperti saat ini, ia dengan sabar merawat dan menjaga Kai. Sehun memang membujuk Kai dengan susah payah agar mau tinggal di rumahnya untuk sementara. Setidaknya jika di rumahnya maka ia akan lebih leluasa untuk menjaga dan mengawasi Kai.

Haneul mengintip sejenak sebelum ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar sang oppa. Gadis itu meremas bahu oppanya. “Apa Kai oppa akan baik-baik saja? Sampai kapan dia harus merasakan rasa sakit itu. Aku tidak tega.” Ucap Haneul dengan suara lirih. Sehun menghela napas. Ia jauh lebih sakit melihat Kai seperti ini, apalagi ia tahu betul bagaimana sakitnya saat tubuhmu kesakitan karena membutuhkan barang haram itu. “Aku yakin Kai bisa melewati semua ini.” Sehun menatap dongsaengnya itu. “Terima kasih sudah mau ikut membantu Kai. Kau memang dongsaeng yang paling baik.” Dielusnya kepala sang adik.

“Apa teman-teman kalian yang lain seperti Chanyeol, Baekhyun, Lay dan lainnya tahu mengenai kondisi Kai? Apa mereka juga pemakai?”

“Ani, mereka tidak tahu. Mereka memang nakal, suka merokok dan juga peminum ulung, tapi mereka bukan pemakai. Aku dan Kai terjerumus saat bergaul dengan seorang bandar bernama Jae Hwa.” Jelas Sehun.

 

*****

 

 

Hari ketiga Kai tidak masuk ke sekolah. Teman-teman dekatnya mengira namja itu sengaja membolos, seperti kebiasaannya selama ini. Jadi tidak ada seorang pun yang khawatir. Berbeda dengan Boyoung. Tidak melihat Kai diantara teman-temannya selama tiga hari tak urung membuatnya cemas, apalagi dengan fakta bahwa tak ada satu pun pesan darinya yang dibalas oleh Kai. Puncaknya adalah sekarang. Dengan modal nekat Boyoung menghampiri Sehun. Hanya Sehun yang lumayan dikenalnya semenjak kejadian penculikan itu. Gadis bertubuh mungil itu sengaja menunggu saat dimana Sehun tengah sendirian, tidak dikelilingi oleh teman-teman gangnya, sebab ia merasa canggung dan tidak nyaman berada didekat teman-teman Kai yang lain, terlebih dengan namja bernama Byun Baekhyun itu. Boyoung selalu merasa jika namja itu kerap menjadikannya bahan olokan. Yah, insting gadis itu patut untuk diancungi jempol.

“Sehun-ssi.” Panggil Boyoung pelan sembari berlari kecil menghampiri Sehun.

tumblr_mr0p6bUBtd1sp0tjco1_500

“Ada apa?”

Melihat eskpresi datar ala Oh Sehun ternyata cukup menciutkan nyali Boyoung. Oh, kemana perginya semangat menggebu-gebu beberapa detik yang lalu itu? Sehun masih menanti kata perkata yang akan dikatakan gadis itu. Sadar bahwa ia tidak mungkin diam saja, akhirnya dengan susah payah Boyoung berhasil mengeluarkan suaranya. Gadis itu mendongakkan kepalanya guna untuk melihat Sehun yang ukuran tubuhnya jauh lebih tinggi itu.

“Apa Jongin baik-baik saja? Aku tidak melihat selama tiga hari ini dan dia tidak… em… membalas pesanku.” Ekspresi Boyoung terlihat malu-malu, takut jika Sehun menganggapnya seperti gadis-gadis centil kebanyakan yang suka menggoda dan mati-matian mengejar Kai. “Aku khawatir.” Lirih gadis itu.

Sehun tertegun. “Kau khawatir pada Kai?”

“Ne. Dia tidak kambuh, kan? Eh, maksudku…”

“Tunggu! Tadi kau bilang kambuh?” Ekspresi Sehun yang biasanya datar kali ini berubah agak panik. Pria itu menatap intens Boyoung. “Apa yang kau tahu soal Kai?”

“Aku tahu jika Kai seorang pemakai.” Ucap Boyoung pelan. “Aku pernah melihatnya sakaw.” Tambah Boyoung. Sehun masih terdiam sembari menatap gadis mungil itu. Boyoung memberanikan dirinya untuk balas menatap Sehun. “Kau tenang saja, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Aku juga sudah berjanji pada Jongin.”

“Kai tahu jika kau mengetahui keadaannya?” Tanya Sehun kaget sebab Kai tidak mengatakan apapun padanya.

“Yah, dia tahu itu. Sekarang, bisakah kau memberitahuku apa yang terjadi pada Jongin? Aku bersedia membantunya. Kumohon…” Ucap Boyoung memelas. Sehun melirik kiri dan kanan, memastikan bahwa keadaan cukup ama dan tidak akan ada yang mencuri dengar percakapan mereka, lalu Sehun menarik Boyoung ke tempat yang sepi.

“Kai ada di rumahku. Sudah beberapa hari ini aku mengawasinya agar ia tidak menggunakan barang haram itu lagi. Dan alasan Kai tidak masuk itu karena dia…sakaw. Tubuhnya terus meminta barang haram itu. Bahkan dia nyaris menyayat tangannya sendiri, dan untungnya aku sempat mencegahnya sebelum ia melakukan tindakan bodoh itu.”

DSC03904%5B1%5D

Boyoung terdiam membisu mendengar perkataan Sehun. Tepat seperti dugaannya, keadaan Kai memang tidak baik-baik saja, bahkan lebih buruk dari pikirannya semula. “Apa tidak sebaiknya Jongin dibawa ke tempat rehabilitasi? Itu akan lebih baik karena mereka pasti tahu apa yang harus dilakukan untuk Jongin.”

Sehun mendesah pelan. “Kai menolak.”

“Lalu sampai kapan Jongin akan seperti ini?” Tanya Boyoung.

“Entahlah. Sekarang semuanya tergantung Kai. Jika ia memang berniat untuk sembuh maka semuanya akan lebih mudah. Tapi sayangnya aku belum melihat niat itu dalam diri Kai. Ia belum mendapatkan motivasi untuk sembuh.”

“Bagaimana dengan keluarganya?” Boyoung menatap Sehun penasaran. Sehun menggeleng. “Bukan ide yang baik. Kai tidak terlalu dekat dengan keluarganya. Malah jika ayahnya sampai tahu maka semuanya akan semakin runyam. Mungkin Kai akan diusir detik itu juga dari rumahnya. Ayahnya tipe temperamental.”

Boyoung jadi semakin bersimpati pada Kai. Rasa ingin menolong namja itu semakin kuat. Tanpa ragu ia menatap Sehun dan berkata, “Izinkan aku untuk ikut membantu Jongin. Aku ingin melihatnya sembuh.”

Sehun cukup terpana melihat itu. Ini kali pertama dalam hidupnya ia bertemu dengan yeoja seperti Boyoung. Kebanyakan yeoja baik-baik pasti akan langsung mundur teratur saat mengetahui sisi gelap Kai. Ia dapat berkata demikian karena ia pernah mengalaminya dulu, saat ia masih menjadi seorang pecandu. Ia sudah sangat menyukai gadis itu, namun gadis itu langsung mundur teratur dan beralih membenci dirinya saat tahu bahwa Sehun adalah seorang pemakai. Dan tidak usah jauh-jauh, Bora juga meninggalkan Kai saat tahu sisi gelap temannya itu, bukan?

large

“Kau yakin, Boyoung-ssi? Ini tidak semudah yang kau pikirkan.”

Tanpa ragu Boyoung mengangguk. “Aku yakin seyakin-yakinnya.”

 

 

*****

 

Boyoung berjalan menyusuri trotoar. Sekarang ia sudah berani berpergian sendirian dengan menggunakan kendaraan umum, meskipun supir keluarga Wu selalu bersedia mengantarnya kemana saja selama 24 jam. Saat melewati sebuah café Boyoung sempat tertegun dan mendadak ketakutan saat melihat Min Woo yang baru saja keluar dari dalam café dengan sebuah gelas plastik berisi kopi ditangannya. Pria itu hendak menyebrang jalan. Boyoung memilih langkah cerdas, yaitu dengan bersembunyi dan berpura-pura tidak melihat Min Woo.

Ia baru bisa menghembuskan napas lega saat melihat Min Woo yang sudah berjalan menjauhinya. Gadis itu menatap punggung Min Woo yang perlahan semakin menjauh. Dulu Min Woo adalah sosok yang begitu dikagumi oleh Boyoung karena dia adalah gambaran seorang kakak laki-laki yang begitu diidam-idamkan oleh gadis itu. Boyoung menghela napas sedih. Andaikan ada sesuatu yang dapat ia lakukan untuk menebus kesalahannya, pasti tanpa ragu akan ia lakukan. Tatapan mata gadis itu masih terkunci kearah Min Woo dan tanpa sadar ia malah berjalan mengikuti pria muda itu.

Mata Boyoung tiba-tiba terbelalak kaget saat melihat Min Woo yang nyaris tertabrak mobil. Dengan cepat Boyoung berlari kearah Min Woo dan mendorong namja itu dari belakang. Min Woo yang tidak sadar akan situasi jelas saja sangat kaget.

BRUK!

Mereka berdua jatuh diatas aspal yang keras. Pengemudi mobil itu malah semakin memacu laju mobilnya dengan kecepatan tinggi, mengabaikan kedua orang yang telah menjadi korbannya itu.

“HEI BERHENTI KAU!”  Teriak Min Woo marah. Pria itu masih belum menyadari bahwa gadis yang berusan menolongnya adalah Boyoung, gadis yang mati-matian ingin dilenyapkannya dari dunia ini. Min Woo menoleh kearah sang penyelamatnya itu dengan panik. “Agasshi kau tidak apa-apa?” Min Woo membalikkan tubuh Boyoung dan seketika namja itu terbelalak kaget melihat Boyoung yang sudah tidak sadarkan diri dengan darah segar yang mengalir dipelipisnya akibat terbentur beton pembatas jalan.

Muncul keinginan dihati Min Woo untuk meninggalkan Boyoung disana sendirian. Yah, sebagai bentuk balas dendam karena gadis ini juga pernah meninggalkan adiknya sendirian. Impas bukan?

“Ya Tuhan, kalian baik-baik saja? Gadis itu tampak terluka. Ayo bawa dia ke rumah sakit. Aku bisa mengantar kalian kesana.” Ujar seorang pria paruh baya, menawarkan bantuan yang dengan otomatis membatalkan niat buruk Min Woo. Mau tak mau Min Woo menggendong tubuh Boyoung dan membawa gadis itu masuk kedalam mobil. Kepala Boyoung diletakkannya diatas pangkuannya. Berbagai macam perasaan berkecamuk dihatinya. Boyoung memang telah menolongnya, tapi itu tetap tidak bisa menghapus semua kesalahan Boyoung terhadap Nara.

‘Ini tidak akan merubah apapun!’ Min Woo berusaha untuk mengeraskan hatinya.

Tanpa sengaja namja itu melihat gelang buatan tangan yang melingkar dipergelangan tangan Boyoung. Napas Min Woo tercekat. Dia tahu betul gelang itu.

“Oppa, bagus tidak? Aku membuatnya untukku Boyoung. Ini adalah bukti persahabatan kami. Gelang persahabatan. Manis sekali, bukan? Selama gelang ini masih melingkari pergelangan tangan kami, itu artinya kami akan selalu bersahabat.”

Pandangan mata Min Woo jadi mengabur karena air mata. Dengan tangan gemetar disentuhnya gelang berwarna merah muda itu. Ada inisial N disana, yang berarti Nara. Sebab Min Woo ingat jika adiknya memakai gelang yang berinisal B, yang berarti Boyoung. Perasaan Min Woo menjadi semakin tak karuan. Kenapa ia baru menyadari bahwa gelang yang selama ini dipakai Boyoung adalah gelang persahabatan yang Nara buat? Sebelumnya ia memang selalu melihat Boyoung memakai gelang itu, namun awalnya ia berpikir bahwa gelang itu hanya mirip. Lagipula ia terlanjur emosi acap kali bertemu Boyoung.

‘Apa selama ini kau tidak pernah sekalipun melupakan Nara?’

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

2 tanggapan untuk “Crashed (Part 10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s