Diposkan pada Uncategorized

Dark Side (Part 7 – END)

1416330368437

Author : Cho Haneul
Title       : Dark Side
Type      : Chaptered
Genre    : Angst, Drama, Romance
Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Oh Sehun

_____________________________________

 

_Santa Maria Hospital, 09.55 PM, Seoul_ 

Gadis itu terbaring lemah diatas ranjang yang tengah didorong oleh beberapa orang perawat berpakaian putih. Disamping ranjang itu juga ada sepasang suami istri paruh baya, orang tua si gadis. Nana menangis tersedu-sedu melihat keadaan putrinya yang diambang maut itu. Tidak pernah terlintas dipikirannya bahwa Jiwon akan melakukan hal seperti ini. Sang suami hanya menatap kosong kearah Jiwon yang menghilang dibalik pintu bertuliskan Emergency Unit. Pria paruh baya itu bahkan nyaris lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar kala melihat keadaan putrinya.

“Uri Jiwonnie. Ottohke? Kenapa bisa menjadi begini?” Isak Nana dalam pelukan suaminya. Akan tetapi tuan Kim hanya diam, tak sedikitpun memberikan respon yang berarti, sebab dia sendiri juga tidak tahu bagaimana ini semua bisa terjadi. Bukankah putrinya itu selama ini terlihat baik-baik saja?

Tanpa mereka sadari Woo Bin juga berada disana, tentunya berdiri jauh dari sepasang suami istri itu. Namja tampan itu begitu kaget saat dia melihat sebuah ambulan keluar dari rumah Jiwon. Rasa khawatir membuat pria beralis tebal itu memutuskan untuk mengikuti ambulans tersebut hingga sampailah ia disana. Kedua tangan Woo Bin mengepal sempurna dikedua sisi tubuhnya. Ia begitu menyesal karena terlambat datang untuk menemui Jiwon. Seharusnya ia bisa bergerak lebih cepat, sehingga kejadian ini bisa dihindari.

‘Kau harus baik-baik saja, Ji, karena aku akan menepati janjiku padamu. Aku akan membawamu keluar dari kegelapan ini.’

 

*****

 

 

Sehun menatap kosong kearah ranjang dimana Jiwon tengah berbaring. Pandangan mata namja itu sulit untuk diartikan. Terkesan begitu datar dan dingin. Tadi ia tiba-tiba dibangunkan dari tidur nyenyaknya dan mendapati kabar bahwa gadis yang akan bertunangan dengannya esok tengah terbaring diranjang pesakitan. Awalnya Sehun tidak percaya, dan menganggap bahwa itu hanyalah akal-akalan Jiwon agar bisa mangkir dari pertunangan besok. Namun sekarang, dengan mata kepalanya sendiri ia melihat gadis dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.

Beruntung luka sayatan Jiwon tidak terlalu dalam, sehingga tidak sampai memutuskan urat pentingnya. Namun begitu, Jiwon masih dalam pengaruh obat bius. Dokter bilang bahwa besok gadis itu akan sadar.

“Kau benar-benar ingin menghindariku, eo?” Sehun tertawa miris sembari menatap Jiwon dalam. “Kau harus tahu Ji bahwa tindakanmu ini benar-benar bodoh. Aku takkan pernah melepaskanmu. Kau tidak akan bisa pergi dariku kecuali jika aku yang memintamu untuk pergi.”

Seusai berkata demikian Sehun beranjak pergi. Diluar sudah ada dua orang bodyguard yang dibayarnya untuk menjaga Jiwon. Menjaga agar gadis itu tidak kabur tentunya. Memang terdengar begitu berlebihan, namun begitulan cara Oh Sehun.

“Jaga dia dengan baik. Jangan sampai dia kabur dan jangan biarkan ada orang lain selain orangtua, dokter dan suster yang masuk kedalam.”

“Baik tuan muda Oh.”

 

 

 *****

 

 

“Pesta pertunangan tidak batal! Hanya ditunda.” Tegas Sehun. Sang ibu menghela napas, merasa begitu lelah dengan sifat keras kepala putra semata wayangnya itu.

“Demi Tuhan Oh Sehun! Gadis itu bahkan melakukan percobaan bunuh diri. Ini terlalu gila! Kau mau jika berita ini tersebar luas, eo? Ini akan mempermalukan keluarga kita. Terlebih dirimu! Kau akan dicap sebagai namja pemaksa dan jahat.” Seru Sujeong gusar.

Wajah Sehun mengeras. Ia menatap sang ibu tajam. “Aku tidak peduli! Terserah mereka mau bilang apa!”

“Sehun! Dengarkan ibumu! Ini semua demi kebaikan mu dan juga nama baik keluarga kita. Aku tidak ingin punya menantu yang bahkan mencoba untuk bunuh diri. Memalukan!” Tuan Oh Won Bin angkat bicara. Sehun terdiam mendapati bahwa sang ayah juga mendukung keputusan sang ibu agar ia membatalkan pertunangannya dengan Jiwon. Kedua tangan pria berkulit pucat itu mengepal dengan sempurna hingga buku-buku jarinya memutih. Dengan pandangan yang begitu dingin, ia menatap kedua orangtuanya, sedikitpun tak merasa gentar.

“Kalian tidak memikirkanku. Kalian hanya memikirkan nama baik kalian dan perusahaan. Kalian egois!” Seru Sehun dan kemudian ia berlalu meninggalkan kediaman mewahnya itu. Berada disana hanya akan membuat emosinya semakin tersulut. Sepasang suami istri itu lagi-lagi hanya dapat menghela napas tanpa dapat melakukan sesuatu yang berarti untuk membatalkan putranya. Watak Sehun yang sangat keras cukup membuat mereka kewalahan dan sakit kepala. Sejak kecil Sehun sudah dibiasakan untuk selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, jadi wajar saja jika ia tumbuh egois dan keras kepala seperti sekarang ini.

Won Bin menoleh kearah istrinya. “Lihat, akibat kebiasaanmu yang selalu memanjakan dia. Sehun menjadi anak pembangkang dan kurang ajar seperti itu. kau benar-benar ibu yang buruk.” Won Bin berkata dengan nada sinis. Perkataannya benar-benar menyulut emosi Sujeong.

“Mwo? Kau menyalahkanku?! Seharusnya kau sadar bahwa dirimu juga bukanlah ayah yang baik. Kau tidak pernah berada disamping Sehun. Kau terlalu sibuk dengan duniamu sendiri. Kau benar-benar ayah yang buruk!”

“NEO…”

Begitulah, sepasang suami istri itu kembali bersitegang untuk yang kesekian kalinya. Suara teriakan dan lemparan barang terdengar dari ruangan mewah berdesain minimalis itu.

 

 

*****

 

Kedua mata Jiwon perlahan terbuka. Ia terdiam menatap langit-langit rumah sakit yang berwarna putih bersih. Terang sekaligus menyejukkan mata kala memandang. Helaan napas lemah terdengar dari bibir pucatnya. Perlahan ia menolehkan kepalanya kearah pergelangan tangannya yang sebelah kiri, dan mendapati lengannya tersebut diperban.

‘Memang belum saatnya aku pergi.’ Batinnya sembari menatap lengan kirinya itu. Jiwon mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan dan mendapati ruang kamarnya itu tengah sepi. Dalam hati Jiwon merasa agak kecewa. Bukannya ia ingin disambut oleh Oh Sehun ataupun kedua orangtuanya. Ia hanya berharap bahwa begitu sadar Woo Bin ada disisinya, seperti permintaannya.

Tiba-tiba pintu kamar rawat Jiwon dibuka dari luar. Secepat kilat gadis itu memejamkan matanya, berpura-pura masih belum sadar. Ia hanya tidak ingin bertemu dan berbicara dengan siapapun saat ini, apalagi dengan Sehun. Jiwon mengenal aroma parfum ini. Tanpa harus membuka mata gadis itu tahu siapa orang yang tengah berdiri disisi ranjangnya itu. Oh Sehun.

“Kau benar-benar mengecewakanku. Gara-gara tingkah bodohmu ini pertunangan kita terancam batal. Keunde, geokjonghajima, karena apapun yang terjadi pertunangan ini tetap akan berjalan. Kau adalah milikku Ji.” Ucap Sehun pada Jiwon yang dikiranya masih tidur. Jiwon benar-benar menahan diri untuk tidak bangun dan menampar wajah dingin nan sombong milik Sehun. Gadis itu kemudian merasa tangannya tengah digenggam lembut.

“Cepatlah sembuh agar kita dapat melanjutkan pesta pertunangan kita.”

Gila. Oh Sehun memang sudah benar-benar gila.

Dan detik itu juga Jiwon memutuskan untuk tetap berpura-pura masih belum sadar, bahkan didepan kedua orangtuanya sendiri. Ia khawatir jika mereka tahu ia sudah sadar dan keadaannya baik-baik saja, maka detik itu juga ia akan diseret ke pesta pertunangannya. Melihat keadaan keluarganya dan keluarga Sehun yang sudah tak waras, maka itu tidak terdengar mustahil bagi Jiwon.

 

 

*****

 

Merasa tidak mungkin terus menerus menjalankan aksi pura-pura pingsannya, maka Jiwon pun mengganti rencananya dengan berpura-pura histeris. Ini sudah kali kedua suster terpaksa menyuntikan cairan penenang ke tubuh kurus Jiwon. Kedua orang tua Jiwon menatap putri tunggal mereka dengan prihatin. Hanya pandangan prihatin, tanpa ada niatan untuk membatalkan perjodohan yang menjadi awal dari semua masalah ini.

Sehun sendiri bahkan semakin menggila. Namja itu malah meminta agar pernikahan mereka dipercepat. Hal itulah yang membuat Jiwon memutuskan untuk melakukan rencana gilanya itu. Sudah tiga hari dan gadis itu masih belum mendapatkan kabar dari Woo Bin. Ini membuat Jiwon cemas. Dalam hati ia bertanya-tanya dimana keberadaan namja itu sekarang. Apakah namja itu sudah menyerah atas dirinya?

Jiwon tidak tahu bahwa selama tiga hari ini Woo Bin berada tak jauh darinya. Namja itu memang tidak bisa masuk kedalam kamar rawat Jiwon akibat adanya dua orang penjaga bayaran Sehun disana. Tapi meskipun begitu, itu tidak menjadi alasan bagi Woo Bin untuk meninggalkan Jiwon dan menyerah atas gadis itu. Ia sudah bertekad akan membawa gadis itu pergi bersamanya. Tinggal menunggu waktu yang tepat.

Waktu yang ditunggu-tunggu itupun akhirnya tiba. Dengan modal nekat Woo Bin menyelinap masuk kedalam ruang kerja salah seorang dokter yang tidak dikunci. Pria itu mengambil jas putih kebanggaan para dokter itu. Beruntung jas itu terasa begitu pas ditubuh tingginya. Ditambah dengan kacamata dan kumis tipis, Woo Bin benar-benar tampak seperi orang lain. Woo Bin melirik sejenak penampilannya melalui cermin. Cukup meyakinkan menurutnya. Dengan jas putih milik dokter yang bernama Shim Changmin, Woo Bin berjalan dengan penuh rasa percaya diri.

Sesampai didepan kamar rawat Jiwon, kedua orang penjaga itu sudah mencegatnya. Mereka mengamati Woo Bin dengan begitu seksama, merasa asing dengan wajah dokter satu ini. Tentu saja, sebab wajah ini berbeda dengan dokter yang biasa menangani Jiwon.

“Maaf, saya harus masuk untuk memeriksa keadaan saudari Jiwon. Ah, perkenalkan nama saya Shim Changmin. Saya ditugaskan untuk menggantikan dokter Kang JinWoo dikarenakan beliau sedang dalam ruang operasi.” Ucap Woo Bin dengan begitu meyakinkan. Kedua pria itu sempat saling bertukar pandang sebelum pada akhirnya mereka mengizinkan Woo Bin untuk masuk.

Kesalahan terbesar Oh Sehun, ia tidak pernah menunjukkan wajah Woo Bin kepada kedua penjaganya.

Woo Bin masuk kedalam kamar rawat itu, dan melihat Jiwon yang masih terbaring akibat pengaruh obat penenang. Jemari panjang namja itu menyusuri rambut Jiwon, lalu turun kewajah pucat gadis itu. Jiwon terlihat begitu lemah dan rapuh. Berbeda sekali dengan saat terakhir kali ia bertemu dengan gadis itu. Keinginan untuk membawa Jiwon pergi semakin menjadi. Ia tidak akan pernah rela melihat gadis yang disayanginya itu menderita hanya karena keegoisan orang-orang itu.

Dikecupnya dahi Jiwon dengan penuh kelembutan. “Aku datang menepati janjiku…”

 

 

*****

 

“Maaf, anda ingin membawa nona Jiwon kemana? Selama ini semua pemeriksaan dilakukan didalam kamar ini. Dokter Jinwoo tidak pernah membawa nona Jiwon kemana-mana.” Ujar salah seorang penjaga, merasa heran karena kekasih tuan mudanya akan dibawa pergi dengan menggunakan kursi roda. Apalagi Jiwon masih belum sadar dari pengaruh obat penenang yang beberapa saat lalu disuntikkan ketubuhnya.

Woo Bin menatap kedua penjaga itu dengan ekspresi datar. “Jiwon-ssi harus dibawa ke ruang terapi untuk memeriksa psikisnya. Ini semua atas permintaan kedua orangtua pasien. Lagipula nama Jiwon-ssi sudah terdaftar dari kemarin. Ini sudah tiba gilirannya.”

“Tapi nona Jiwon masih belum sadar.”

“Dia akan sadar sebentar lagi. Bisakah kalian tidak menghambat pekerjaanku? Pasienku tidak hanya nona muda kalian ini. Aku juga memiliki pasien lain yang harus aku periksa. Jadi mohon jangan menghambat pekerjaanku.” Woo Bin menatap mereka dengan pandangan tajam, membuat kedua penjaga itu merasa begitu terintimidasi. Akhirnya mereka memilih menyerah dan mengizinkan Woo Bin untuk membawa Jiwon.

“Terima kasih.” Ucap Woo Bin sembari mendorong kursi roda Jiwon.

 

 

*****

 

Sehun murka kala mendapati ranjang Jiwon kosong. “Aku membayar kalian untuk menjaga gadisku!” Bentaknya. Kedua penjaga itu tertunduk, menyesali kebodohan mereka yang membiarkan namja berkedok dokter itu membawa kekasih bos mereka.

“Sekarang aku tidak mau tahu. Kalian harus menemukan Jiwon!” Ujar Sehun, lalu ia beranjak meninggalkan kamar rawat Jiwon. Rahangnya mengeras sempurna. Ia dapat menebak dalang dalam masalah ini. Siapa lagi kalau bukan Kim Woo Bin. Jika pria itu bertindak, maka Sehun tidak bisa berlama-lama. Ia juga harus mengambil tindakan sebelum Jiwon dibawa terlalu jauh.

“Brengsek!” umpat Sehun.

 

 

*****

 

Jiwon dapat merasakan semilir angin yang menerpa wajahnya. Terasa begitu sejuk dan nyaman hingga membuat ia enggan untuk membuka kedua matanya. Namun tak lama Jiwon mengernyit bingung. Gadis itu merasa sedang tidak berada diranjang rumah sakit. Ini seperti di… kereta api. Suara mesin yang begitu bising begitu terdengar ditelinganya. Sekuat tenaga Jiwon berusaha untuk membuka mata. Cahaya matahari langsung menyambut kedua indera penglihatannya.

“Selamat pagi putri tidur.”

Jiwon tersentak mendengar suara baritone yang amat dirindukannya itu. Saat itu juga Jiwon baru sadar jika sedari tadi ia tengah bersandar dibahu pria itu. Dengan perlahan ia mendongak. “Woo Bin-ah…” Ucapnya lirih. Woo Bin tersenyum manis menyambut gadisnya yang baru saja membuka mata itu.

Jiwon melihat keseliling kereta. Gerbong yang ia tempati tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang didalam sana. “Bagaimana aku bisa ada disini? Seingatku aku masih di rumah sakit.”

“Aku menepati janjiku untuk membawamu pergi. Tidak usah dipikirkan bagaimana aku bisa mengeluarkanmu dari sana. Yang terpenting kau sudah bebas sekarang. Kita akan membuka lembaran baru di tempat yang baru juga.” Woo Bin membelai kepala Jiwon dengan penuh sayang.

“Tempat yang baru? Dimana?” Tanya Jiwon. Woo Bin mengedikkan dagunya kearah tv kereta yang sedang menayangkan iklan keindahan kota Gyeongju. Jiwon tertawa kecil sembari mengeratkan pelukannya pada lengan Woo Bin. “Gyeongju, eo?”

“Ne. Kau pernah bilang jika kau ingin tinggal disana, kan? Maka aku memutuskan untuk membawamu kesana. Kita akan membuka lembaran baru. Hanya kau dan aku.”

Jiwon menatap Woo Bin ragu. “Tapi… bagaimana dengan keluargamu. Apa mereka…”

“Mulai sekarang aku hanya punya dirimu. Mereka tidak menginginkan kehadiranku. Berada disana hanya membuatku semakin sakit. Aku tidak ingin hidup dalam gelap lagi. Aku lelah. Dan mengenai kedua orangtuamu, suatu saat nanti, saat keadaan sudah membaik, kita pasti akan kembali untuk menemui mereka. Setidaknya kau harus meminta maaf untuk kejadian ini.”

Jiwon mengangguk pelan. Gadis itu menoleh kearah jendela kereta yang menampakkan pemandangan desa yang begitu indah dan asri. Tampak begitu nyaman dipandang mata. Sebenarnya jauh didalam hati Jiwon, ia tidak tega meninggalkan kedua orangtuanya begitu saja. Apalagi ia tahu bahwa Sehun pasti akan melakukan sesuatu kepada perusahaan kedua orangtuanya sebagai balasan atas perbuatannya saat ini. Namun Jiwon juga ingin hidup bahagia melakukan hal yang ia inginkan, bukannya malah terperangkap dalam paksaan Sehun beserta kedua orangtuanya. Yah, Jiwon rasa kedua orangtuanya harus belajar untuk menghilangkan sifat egois mereka. Dan ia berharap agar kelak saat ia kembali, kedua orangtuanya sudah berubah menjadi lebih baik dan yang terpenting mereka sudah mendapatkan pelajaran yang berharga.

Woo Bin berkata lembut ditelinga Jiwon. “Mungkin ini akan sulit. Aku tidak dapat menjanjikan kehidupan mewah seperti yang selama ini kau dapatkan, keunde aku akan berusaha untuk selalu membuatmu bahagia dan menghilangkan semua rasa sakit yang kau rasakan.”

“Geokjonghajima. Aku sudah muak dengan semua kemewahan itu. Yang kuinginkan sekarang hanyalah bebas. Bebas untuk memilih jalan hidupku. Dan aku yakin bersamamu adalah pilihanku yang paling tepat. Terima kasih sudah mengeluarkanku dari kegelapan itu.” Ucap Jiwon tulus.

Ada jeda cukup lama diantara mereka. Masing-masing tengah sibuk dengan pikirannya, memikirkan kehidupan baru macam apa yang sedang menanti mereka didepan sana. Woo Bin diam-diam melirik kearah Jiwon. Ia sudah menetapkan hatinya kepada Jiwon, dan ia yakin jika Jiwon juga sudah mengetahui bagaimana perasaannya. Akan tetapi selama ini ia belum pernah mengungkapkan perasaannya secara gamblang pada Jiwon. Woo Bin sadar bahwa ia memang harus mengatakan kalimat sakral itu. Tentunya setiap gadis ingin mendengar pernyataan secara langsung, bukan?

“Ji…” Panggil Woo Bin. Namja itu mendekatkan bibirnya kearah telinga Jiwon. Ia berbisik dengan lembut, membuat wajah gadis itu bersemu malu. “Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu….”

 

 

 

-The End-

Yaaay, finally the end! Maaf bgt buat endingnya yg kurang gregetan. Sebenarnya dari awal aku emang udh pengen bikin endingnya kyk gini. Yah, meskipun aku tahu bakalan banyak yg protes haha… But i really don’t care xD Mohon last commentnya bukan FF ini. Kritik juga sangat diperbolehkan, asal menggunakan kalimat yang sopan dan enak dibaca ya 😀 Makasih banyak buat readers yang selama ini selalu ngikutin FF ini. Saranghaeyo~ ❤

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

10 tanggapan untuk “Dark Side (Part 7 – END)

  1. Aaa akhirnya nyampe ending juga walaupun kurang greget but it’s okay.. Aku tetep hargain usaha eonni. Aku suka bgt sm ff ini. Ngikutin dr awal jg. Soalnya fans berat kim woo bin. Hehe 😀
    Anyway, buat ff yg kim woo bin jd main cast doong eonni. Plis plisss.. Aku penggemar setia blog ini.. 😦

  2. aihh akhirnya mereka bahagia >< ya meski bakalan ada bayang" masa lalu gitu *uhuk
    huaa pengen lafi ada ff kim ji won sama kim woo bin
    tapi versi romance ya jangan isi angst" kkkk ~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s