Diposkan pada Chapters

Crashed (Part 11)

1404130212061

Author : Cho Haneul
Title      : Crashed
Type     : Chaptered
Genre  : Romance, Drama

SPECIAL THANKS TO MY SISTER FOR THE POSTERS :*

Cast :
– Park Boyoung
– Nam Bora
– Kim Jongin
– Kris Wu
– Oh Sehun
– Oh Haneul (OC)
– Byun Baekhyun
– Park Chanyeol

___________________________________________

 

_Kyunghee Hospital, 04:33 PM, Seoul_

Min Woo masih menatap Boyoung dalam keheningan. Dokter baru saja selesai memeriksa gadis bertubuh mungil itu. Hasil pemeriksaan menunjukkan hal yang baik bahwa tidak ada luka serius yang dialami oleh Boyoung selain dengan luka didahinya yang mendapat 3 jahitan. Gadis itu sendiri masih belum sadar, mungkin karena syok. Dengan perlahan Min Woo menyentuh gelang buatan tangan itu. Betapa dadanya terasa seperti dihantam oleh berton-ton batu, terasa begitu menyesakkan. Apa ini berarti selama ini ia telah salah menilai Boyoung? Tindakan apa yang baiknya ia lakukan sekarang?

Kedua kelopak mata itu perlahan terbuka. Si pemilik mata mengerjap sejenak, sebelum kedua mata sipit itu betul-betul terbuka lebar. Boyoung tersentak kaget saat melihat Min Woo yang tengah duduk disebelahnya sembari menatapnya begitu intens. Sejenak Boyoung lupa bahwa sebelumnya ia memang tanpa sadar mengikuti namja itu hingga ia menyelamatkan nyawa Min Woo.

“Min Woo oppa… kau baik-baik saja?” Tanya Boyoung basa-basi. Tentu saja tanpa perlu dijawab gadis itu sudah tahu apa jawabannya. Toh, Min Woo tidak akan berada disebelahnya jika saat ini namja itu sedang tidak baik-baik saja. Boyoung meremas tangannya dengan gugup, menunggu sepatah kata yang dinantinya dari mulut Min Woo. Namun pria itu tetap diam. Diam seribu bahasa.

“Oppa, apa kau sudah menghubungi keluargaku?” Tanya Boyoung lagi, berharap kali ini ia akan mendapati respon dari Min Woo. Akhirnya hal yang ditunggunya tiba. Min Woo membuka suaranya. “Aku sudah menelpon Kris. Dia pasti sedang dalam perjalanan kesini.” Jawab Min Woo. Ekspresi wajahnya yang begitu datar dan terkesan dingin membuat Boyoung sulit untuk menebak bagaimana perasaan hati namja itu saat ini.

Sebenarnya dalam hati Boyoung cukup bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya Min Woo lakukan disini? Menungguinya? Aniya, itu sulit dipercaya. Bukankah Min Woo membenci dirinya? Boyoung bahkan takkan heran jikalau ia terbangun dan ternyata dirinya masih terbaring diatas aspal.

“Kau masih memakai gelang itu…” Akhirnya kalimat bernada tanya itu muncul juga. Boyoung menunduk memandang gelang yang melingkari pergelangan tangannya itu. Gelang berinisial N. Digenggamnya gelang itu didadanya.

“Ini benda berharga.” Ucap Boyoung lirih.

Mata Min Woo berkaca-kaca. “Apa kau benar-benar menyayangi adikku?” Suaranya terdengar bergetar.

Setetes air mata jatuh dipipi Boyoung. Mendadak gadis itu menangis sesegukan, teringat akan semua kenangan manis dan pahitnya bersama Nara. “Aku menyayangi Nara. Dia sahabat terbaikku. Satu-satunya sahabat yang pernah kumiliki. Aku menyesal telah meninggalkannya. Aku menyesal telah menjadi seorang pengecut. Aku bersumpah bahwa tidak sedetikpun aku melupakan Nara. Selama ini aku hidup dalam penyesalan. Betapa ingin aku bertemu Nara dan memohon maaf padanya.” Boyoung menunduk semakin dalam. Tangisnya semakin menjadi dan terdengar begitu memilukan. Tanpa sadar air mata Min Woo ikut mengalir. Hatinya yang selama ini keras perlahan mulai mencair. Ia ternyata tidak pernah benar-benar membenci Boyoung. Ia malah sudah menganggap Boyoung seperti adiknya sendiri, sama seperti Nara.

Selama ini Min Woo hanya merasa kecewa, marah dan sedih atas kepergiaan adiknya yang begitu tiba-tiba, serta keadaan keluarganya yang mendadak hancur berantakan. Pria itu butuh pelampiasan. Ia butuh seseorang untuk disalahkan. Maka detik ketika ia bertemu Boyoung, detik itu juga ia menetapkan Boyoung sebagai orang yang patut untuk disalahkan.

“Hiks… oppa… bisakah…bisakah kau memaafkanku? Kumohon…”

Min Woo menatap nanar gadis yang ada dihadapannya ini. Permintaan maaf yang begitu tulus itu. Haruskah kembali ia tolak?

 

 

*****

 

 

Kris tiba didepan ruang rawat Boyoung bertepatan dengan Min Woo yang baru saja keluar dari sana. Kedua pria itu sempat saling bertatapan tajam selama beberapa detik, sebelum Min Woo memilih untuk beranjak pergi.

untitled_by_crazylittlelassie-d6v5qdo

“Min Woo-ssi.” Panggil Kris, menahan langkah Min Woo. Min Woo tetap berdiri memunggunggi Kris, menunggu namja berambut pirang itu melanjutkan ucapannya.

“Gomawo sudah menolong adikku. Aku tahu kau orang yang baik, Min Woo-ssi. Kuharap kebencian itu lekas pudar dari hatimu. Memupuk rasa benci hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Apa yang terjadi pada adikmu adalah kejadian yang pahit, namun itu semua adalah takdir dari Tuhan. Kau menyalahkan semua orang di dunia ini pun takkan merubah keadaan menjadi semakin membaik. Kau juga merasa begitu, bukan? Bahwa kau lelah dengan semua ini.” Perkataan Kris benar-benar menohok hati Min Woo. Tanpa kata pria itu melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Perkataan Kris berputar-putar dalam pikiran Min Woo. Tentang semua rasa benci yang hanya berujung dengan rasa lelah dan rasa sakit dihatinya sendiri.

 

 

*****

 

 

Kris masuk kedalam kamar rawat adik angkatnya itu dan mendapati gadis mungil itu tengah menangis sesegukan. Tanpa bertanya pun Kris sudah tahu apa jawabannya. Pasti karena persoalan Min Woo-Nara. Melihat kedatangan Kris, Boyoung cepat-cepat menyeka air matanya, lalu bersikap seakan dirinya baik-baik saja. Tentunya seorang Kris Wu tidak dapat dikelabui dengan begitu mudahnya, namun Kris memilih diam dan tidak menanyakan perihal masalah itu.

“Hei, bagaimana kondisimu? Apa kata dokter?” Tanya Kris sembari duduk dikursi disebelah ranjang Boyoung. Gadis itu tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja, oppa. Hanya sedikit jahitan didahi.” Boyoung menyentuh dahinya yang diperban.

Kris menghela napas. “Kau benar-benar selalu tahu cara membuat orang cemas.” Ujarnya, membuat Boyoung merasa bersalah.

“Mianhe oppa. Aku berjanji akan lebih berhati-hati lagi. Em, keunde, oppa tidak memberi tahu soal ini pada eomma dan appa, kan? Aku tidak ingin mereka cemas. Mereka kan sedang berlibur ke Rusia. Lagipula dokter bilang besok aku sudah bisa pulang kok.”

“Arasso. Aku takkan bilang. Tapi jika eomma marah itu menjadi tanggung jawabmu.”

Boyoung tersenyum manis. “Ne oppa.”

 

 

*****

 

 

tumblr_n9oa0o67lt1rfzr7uo2_r1_500

Kai terbangun dari tidurnya, dan mendapati dirinya yang tengah terbaring di ranjang Sehun. Namja itu tampak mulai terbiasa terbangun di ranjang milik temannya itu. Tapi tentu saja Kai sadar bahwa ia tidak bisa terus-terusan merepotkan Sehun dan bersembunyi dibalik punggung sahabat baiknya tersebut. Cepat atau lambat ia harus dapat menghadapi persoalan peliknya sendirian.

Dengan langkah terseok Kai bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Perutnya terasa mual. Begitu sampai di kamar mandi, pria berwajah pucat itu langsung memuntahkan semua isi perutnya ke kloset. Bahkan disaat perutnya sudah kosong dan tidak ada apapun yang dapat keluar dari mulutnya, rasa mual itu tetap ada, membuatnya begitu frustasi. Mata Kai berkunang-kunang disertai dengan rasa pusing yang menyerang kepala. Kai menekan tombol penyiram kloset, lalu berjalan menuju wastafel untuk berkumur-kumur dan mencuci muka. Namja itu dapat melihat bayangan dirinya yang begitu menyedihkan di cermin. Dengan wajah pucat dan kantung mata serta bibir yang kering. Sungguh, ia tampak sangat menyedihkan. Melihat itu membuat Kai tersenyum miris.

“Argh.” Erangan kecil itu keluar dari mulut Kai kala kakinya menabrak ujung meja. Sangking lemasnya tubuh Kai, pria itu langsung terjatuh. Kai amat benci dengan dirinya yang begitu lemah seperti ini. Ia merasa menjadi orang yang amat tak berguna dan menjijikkan. Dengan susah payah ia berusaha untuk bangkit dan berjalan menuju ke tempat tidur. Usahanya berhasil. Kai langsung terbaring lemah tak berdaya. Matanya menatap menerawang kearah langit-langit kamar. Entah apa yang ada dipikirannya.

Tok tok tok…

Kai menoleh sekilas kearah pintu. “Masuk saja.” Ujarnya dengan suara serak, mengira jika Haneul atau salah seorang pembantu Sehun yang akan masuk. Karena Sehun takkan pernah mau repot-repot untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun tak lama pria itu langsung menegang sempurna saat mendengar suara yang begitu familiar untuknya.

“Annyeong Jongin-ssi.”

Yah, hanya ada seorang gadis yang selalu memanggil dirinya dengan sebutan Jongin meskipun mereka sudah terbilang akrab. Park Boyoung. Kai menatap gadis itu agak horror. Ia sedang dalam kondisi yang tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa. Lagipula, darimana gadis ini tahu jika ia sedang berada di rumah Sehun? Dari Sehun? Tidak mungkin!

“Kenapa kau ada disini?” Pertanyaan dengan nada ketus itu tak terelakkan. Jika orang lain mungkin akan langsung merasa sakit hati jika diberondong dengan pertanyaan dengan nada seperti itu. Namun beruntungnya, Park Boyoung bukanlah termasuk dalam kategori orang lain tersebut. Gadis itu malah memberikan senyum terbaiknya pada Kai. Ia berjalan mendekati ranjang Kai dan berdiri tepat didepan namja itu, memandangnya sambil tersenyum.

pby01-bd0f2

“Aku ingin menemanimu dan… menolongmu, Jongin-ssi…”

Kai tertegun mendengar ucapan Boyoung. “Sehun yang memberitahumu jika aku ada disini?”

Boyoung mengangguk pelan. “Ne. Sashil, aku yang memaksanya. Aku memberitahunya jika aku tahu mengenai kau yang seorang pemakai.” Ucap Boyoung. Mendengar kata ‘pemakai’ tak ayal membuat Kai kaget bukan main. “Mwo?! Kau tahu darimana?” Tanya Kai dengan nada kaget. Ia bersumpah bahwa ia tidak pernah memberi tahu gadis itu sebelumnya.

Kini gantian Boyoung yang mengernyit heran. Namja yang didepannya ini hanya kecanduan narkoba kan, bukannya amnesia? Ah, apa ini mungkin salah satu efek dari ketergantungan narkoba?

“Neo angieokna? Aku kan pernah mendapati dirimu yang sedang sakaw di belakang sekolah.” Jawab Boyoung.

Kai memutar ingatannya kebeberapa saat yang lalu. Ah, dia ingat! Boyoung memang pernah memergoki dia yang tengah kesakitan dibelakang sekolah. Tapi itu bukan karena sakaw, melainkan karena penyakit lambungnya kambuh. Tapi tampaknya gadis itu memang menganggapnya tengah sakaw kala itu.

“Gieokhanayo jigeum?” Tanya Boyoung lagi.

“Ne.” Jawab Kai singkat.

Keduanya tiba-tiba menjadi canggung. Boyoung berusaha untuk mencari bahan pembicaraan yang layak, sampai akhirnya ia menyadari wajah Kai yang begitu pucat serta keringat dingin yang membasahi dahinya. Padahal kamar itu jelas-jelas bersuhu dingin karena AC yang dinyalakan. Tanpa sadar tangannya terjulur dan meraba dahi Kai. “Kau tampak tidak baik. Apa kau kesakitan?” Wajah Boyoung terlihat sangat cemas. Kai hanya menggeleng dan kemudian memilih untuk berbaring sambil menutup mata, berharap rasa pusing yang begitu mendominasi itu akan hilang. “Kepalaku sakit sekali.” Lirihnya.

“Sehun belum pulang. Apa perlu aku menelponnya?”

“Tidak perlu. Kurasa aku hanya butuh tidur.” Ucap Kai.

Boyoung menatapnya dalam diam, mengamati namja yang belakangan ini selalu hadir dalam pikirannya. “Tidak mau duduk?” Tanya Kai saat membuka mata dan mendapati Boyoung yang masih berdiri tegak disamping ranjangnya. Kai menggeser tubuhnya, memberikan tempat bagi Boyoung untuk duduk.

“Jangan melihatku seperti itu! Aku tidak suka dikasihani.”

Boyoung mengerjap pelan. “Maaf Jongin-ssi, keunde izinkan aku untuk menolongmu. Aku ingin melihatmu sembuh.” Boyoung berkata pelan sembari menunduk dalam. Kai menatap gadis itu intens. Gadis pertama yang tidak lari saat mengetahui jika dirinya seorang pecandu dan yang mau menolongnya dengan sukarela.

“Kenapa kau melakukan ini?”

“Molla. Yang ada dipikiranku hanya ingin melihatmu sembuh. Lagipula, bukankah sebagai teman sudah sewajarnya kita saling menolong? Kau sudah pernah menolongku, bahkan nyaris mengorbankan nyawamu. Kini sudah saatnya aku membalas kebaikanmu. Kuharap kau tidak menolak. Karena aku melakukan ini dengan tulus.”

Kai tahu bahwa seharusnya ia menolak keinginan Boyoung sebelum gadis itu masuk semakin jauh ke dalam kehidupan gelapnya. Gadis itu tidak cocok untuk berada didalam dunianya yang kelam, dunianya yang penuh dengan masalah. Namun alih-alih menolak, Kai justru hanya diam. Tidak menolak maupun menerima secara gamblang. Apa maksud namja itu sebenarnya?

 

 

*****

 

 

“Kau tidak pernah bercerita jika Boyoung tahu tentang kau yang seorang pecandu.” Ucap Sehun. Saat ini ia dan Kai tengah berbaring terlentang diranjang king size kamar Sehun. “Sebenarnya itu hanya kesalahpahaman. Saat itu Boyoung tanpa sengaja memergokiku yang sedang kesakitan. Ia berpikir jika saat itu aku sedang sakaw, padahal aku seperti itu karena penyakit bodohku sedang kambuh.” Jelas Kai, membuat Sehun langsung menoleh. “Mwo? Ya Tuhan, jadi gara-gara itu.”

“Yah. Gara-gara kesalahpahaman itu seorang gadis polos sudah masuk kedalam kehidupan gelap Kim Jongin.” Nada suara Kai terdengar lirih, membuat Sehun iba, sebab selama ini ia jarang sekali melihat sahabatnya itu dalam kondisi sedih. Kai selalu apik menyembunyikan rasa sedihnya. Sehun menatap Kai. “Bukan salahmu, Kai. Tapi itu sudah menjadi keinginannya sendiri. Ia sendiri yang mendatangiku dan meminta izin untuk ikut merawatmu.”

“Dia terlalu polos.”

“Aniya, dia hanya terlalu baik Kai. Dia berbeda dengan yeoja kebanyakan. Kau juga merasakannya, bukan?” Goda Sehun. Kai mendengus pelan, dan memilih untuk memunggungi Sehun. “Ya ya, kenapa berbalik? Aku benar, kan? Kau memang menyukai Park Boyoung.” Sehun tertawa puas karena sudah berhasil menggoda Kai, sedangkan Kai memilih untuk berpura-pura tidur.

“Yak Kim Jongin sudah jatuh pada pesona polos Park Boyoung.”

“Diam kau cadel!” Ujar Kai ketus, namun itu malah membuat tawa Sehun semakin meledak-ledak parah. Yah, terlihat sekali jika Kai memang sedang salah tingkah. Setelah tawa konyol Sehun mereda, pria berambut coklat gelap itu berbicara dengan nada serius. Dan diam-diam Kai mendengarkannya dengan seksama.

“Tapi dia memang berbeda Kai. Jujur saja, aku sempat kaget saat ia mengatakan ingin ikut merawatmu. Aku sudah memberitahunya bahwa ini bukan hal mudah, keunde ia begitu bersungguh-sungguh dan tulus. Aku bisa melihatnya dari tatapan mata Boyoung. Boyoung bilang bahwa keinginan terbesarnya saat ini adalah untuk melihatmu sembuh. Aku terharu melihat kesungguhannya itu. Selama ini, semua yeoja baik-baik pasti akan langsung menjauh begitu tahu sisi gelap kita, tapi dia justru malah semakin ingin dekat dan ingin membantu untuk berubah. Dan sekedar kau tahu, aku setuju seratus persen jika kau bersamanya.”

Sehun-EXO-K-kpop-33964542-500-350

Perkataan Sehun cukup membuat Kai terusik hingga namja yang punya hobi tidur itu, bahkan tidak dapat memejamkan matanya. Bayangan Boyoung begitu mengusik dirinya. Dari bagaimana cara gadis itu bersikap, berbicara, tersenyum, tertawa, bahkan dari cara gadis itu memperlakukan dirinya. Jujur, Kai merasa nyaman dengan semua itu. Hal yang juga ia rasakan saat bersama Bora. Ngomong-ngomong soal Bora, sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan gadis pemarah itu. Bagaimana kabarnya?

 

 

*****

 

 

_Paran High School, 02:05 PM, Seoul_

01467

Bora tak henti-hentinya merutuki dirinya yang dengan begitu bodohnya berakhir didepan sekolah menengah atas Paran, atau lebh jelasnya, ini adalah sekolah Kim Jongin. Pria pemarah dan pemaksa yang beberapa bulan lalu memporak-porandakan hidupnya. Sedari tadi beberapa murid Paran menatapnya dengan agak aneh dan penasaran. Wajar saja, seragam mereka yang berbeda menjadi pemicu utama. Apalagi sekolah Bora hanyalah sekolah negeri biasa yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Paran High School yang semuanya serba ‘wah’.

‘Nam Bora, kau begitu bodoh!’ Lagi-lagi Bora mengumpat dalam hati. Baru saja gadis itu hendak pergi, namun seruan seorang namja yang memanggil namanya, mengurungkan niat gadis itu. Alih-alih pergi, Bora justru membalikkan badannya. Disana ia melihat Baekhyun dan Chanyeol. Meskipun tidak terlalu akrab, tapi Bora cukup mengenal mereka. Tentu saja, mengingat ia menghabiskan 2 bulan berharganya untuk menjadi pesuruh Kai.

“Hei, lama tidak bertemu sobat! Dan wah, kau memotong rambutmu. Kau terlihat keren dengan rambut pendek itu.” Sapa Baekhyun sok akrab. Bora tidak melihat Kai ataupun Sehun diantara mereka. Dalam hati ia jadi bertanya-tanya mengenai keberadaan kedua pria itu.

“Mencari Kai?” Tebak Chanyeol asal. Bora sontak langsung mengelak. “Tidak. Aku…. em… mencari temanku yang bernama Park Boyoung.” Ujar Bora asal.

“Wah, kau mengenal Boyoung ternyata.” Baekhyun tersenyum bocah.

“Wae? Ada yang salah dengan itu.”

Baekhyun menggeleng. “Aniya, geunyang, tadinya aku berpikir kau tengah mencari Kai atau Sehun. Mereka sudah pulang terlebih dahulu tadi. Sepertinya ada hal yang penting. Em, kau mau kami mengantarmu untuk mencari Boyoung?” Tawar Baekhyun yang langsung ditolak oleh Bora. Tentu saja, sebab niat awalnya memang bukan untuk bertemu Boyoung. Dan lagi, sejak kapan ia berteman dengan Boyoung? Bertemu saja baru dua kali.

“Tidak perlu. Aku akan menelponnya saja. Annyeong.” Bora langsung berlari pergi.

“Aneh.” Ucap Chanyeol sembari memperhatikan Bora yang tengah berlari-lari kecil.

 

 

*****

 

 

“Akhir-akhir ini kau jadi sering berkunjung ke rumah Oh Haneul. Padahal setahuku dia bukan teman sekolahmu, kan. Kenapa kalian tiba-tiba bisa menjadi dekat?” Tanya Kris yang tengah mengemudi. Boyoung berpikir sejenak untuk mencari jawaban yang tepat dan masuk akal. Ia tidak mungkin kan menceritakan alasan yang sebenarnya kepada Kris, yaitu karena ingin merawat Kai. Kris pasti akan semakin bertanya-tanya. Dan jika dia tahu yang sebenarnya, maka detik itu akan menjadi yang terakhir kalinya bagi Boyoung bisa bertemu dengan Kai. Apalagi Boyoung tahu pasti jika Kris amat sangat membenci pecandu, mengingat mantan kekasihnya yang sudah meninggal itu juga seorang pecandu.

“Dia gadis yang baik dan em… dia juga tertarik pada seni lukis. Hari ini dia memintaku untuk melukisnya.” Bohong Boyoung. Kris mengangguk paham. Mata pria itu masih terfokus kearah jalan. Diam-diam Boyoung mengamati wajah tampan kakak tirinya itu. Ada banyak kejadian yang sudah terjadi dan tanpa sadar kejadian-kejadian itu mendekatkannya dengan Kris. Sekarang Kris telah menjelma menjadi sosok kakak yang baik dan begitu perhatian. Ternyata Laura benar, Kris memang namja penyayang.

Mobil Kris berhenti didepan rumah keluarga Oh. Bertepatan dengan saat itu, Haneul baru saja akan masuk kedalam rumah. Tampaknya ia juga baru tiba di rumah. Gadis berparas cantik itu langsung tersenyum sumringah kala melihat mobil Kris. Ia kemudian berjalan mendekati mobil, menyapa Kris yang masih duduk dikemudi.

“Annyeong haseyo. Lama tidak bertemu.” Sapa Haneul. Padahal baru minggu lalu ia bertemu dengan Kris. Kris tersenyum kecil. “Annyeong.”

“Oppa tidak masuk kedalam?”

“Aniya. Aku hanya mengantar Boyoung. Aku masih ada urusan lain.”

“Oh, begitu.” Wajah Haneul mendadak lesu, tampak kecewa dengan penolakan Kris. Padahal ia sangat berharap bisa sedikit lebih lama berbincang dengan pangeran pujaannya itu. Boyoung yang memang peka langsung dapat menyadari perasaan teman barunya itu. Diam-diam Boyoung tersenyum kecil. Sebenarnya sudah sejak awal ia curiga jika Haneul menyukai Kris dikarenakan Haneul yang selalu menanyakan soal Kris pada dirinya. Haneul bahkan akan terlihat sangat senang meskipun hanya bertegur sapa singkat dengan Kris. Mungkin dulu Boyoung akan merasa cemburu dengan ini, namun sekarang ia justru merasa senang. Boyoung pikir Kris dan Haneul terlihat serasi.

Kedua gadis itu masuk kedalam rumah keluarga Oh yang selalu sepi. “Sampai kapan Jongin akan disini?” Tanya Boyoung.

“Kudengar besok Kai oppa akan kembali ke rumahnya karena orangtuanya akan kembali dari Eropa. Mereka bisa marah jika tidak menemukan Kai oppa dirumah.” Ucap Haneul.

Boyoung jadi terlihat agak cemas. “Bagaimana jika ia kambuh disana? Pasti semuanya akan ketahuan.”

Haneul menghela napas, tak urung juga merasa khawatir. “Semoga saja Kai oppa bisa mengendalikan dirinya. Yang paling aku takutkan, dia akan kembali menyentuh barang laknat itu. Jika sudah kambuh ia pasti tidak dapat berpikir jernih.”

Langkah kedua gadis itu terhenti didepan kolam renang. Tepatnya di kursi berjemur yang ada dipinggir kolam, mereka mendapati Kai yang tengah berbaring dengan nyamannya. Namja itu tampak sedang tertidur pulas selayaknya bayi. Tanpa sadar Boyoung tersenyum kecil melihat itu. Ia selalu berpikir jika wajah tidur Kai terlihat sangat mempesona. Begitu mempesonanya hingga ia tak sadar jika Haneul sudah tidak berada disana. Adik Oh Sehun itu sudah pergi ke kamarnya, sedangkan Sehun sendiri tak tampak batang hidungnya. Mungkin sedang di kamar tidur atau kamar mandi.

011

Boyoung duduk dikursi berjemur kosong yang ada disebelah Kai. Ia tidak melakukan apapun selain menatap lama wajah pulas Kai. Angin sepoi-sepoi yang berhembus menyapu helaian rambut Kai yang sudah mulai memanjang. Tangan Boyoung sudah gatal ingin menyentuh dan mengelus rambut hitam legam Kai. Ia mengira-ngira bagaimana lembutnya rambut Kim Jongin, sang penguasa sekolah.

 

 

 *****

 

Tangan Suho bergetar hebat hingga butiran pil serta suntikan itu terjatuh begitu saja dari tangannya. Matanya menatap kosong benda-benda yang tak begitu asing baginya, namun sampai matipun ia takkan sudi untuk menggunakannya. Jantung Suho berdebar keras mendapati fakta bahwa adik tirinya adalah seorang pecandu narkoba.

Sekarang Suho jadi amat cemas memikirkan Kai yang sudah seminggu lebih tidak pulang ke rumah. Salah seorang pembantu memang mengatakan padanya jika adiknya itu menginap dirumah temannya. Namun setelah fakta mengagetkan ini terkuat dihadapannya, ia jadi cemas bukan kepalang. Bagaimana jika Kai berbuat hal-hal yang hanya akan membahayakan dirinya sendiri? Bagaimana jika Kai membuat kericuhan? Tapi yang paling parah adalah… bagaimana jika kedua orang tua mereka mengetahui hal ini? Apa yang akan terjadi pada Kai?

 

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s