Diposkan pada Chapters

Crashed (Part 12)

1404130212061

Author : Cho Haneul
Title      : Crashed
Type     : Chaptered
Genre  : Romance, Drama

SPECIAL THANKS TO MY SISTER FOR THE POSTERS :*

Cast :
– Park Boyoung
– Nam Bora
– Kim Jongin
– Kris Wu
– Oh Sehun
– Kim Suho

_______________________________________

 

Kai masuk kedalam kamarnya dan menemukan sang kakak, Suho, tengah duduk tegak diatas ranjangnya. Mata Kai membulat kaget begitu melihat benda-benda yang ada ditangan Suho. Obat-obatan terlarang miliknya! Dengan sigap Kai melesat maju dan merebut obat-obat itu dari tangan Suho. Suho tidak berusaha untuk menghindar. Mata pria itu menatap Kai dengan sayu. Seumur hidup tak pernah terbayang dalam benaknya bahwa ia akan menghadapi situasi seperti ini. Ia tahu jika adik tirinya memang nakal, tapi sumpah, pecandu narkoba? Itu sama sekali diluar prediksinya.

“Apa yang kau lakukan didalam kamarku? Keojyeo!” Ujar Kai penuh emosi. Rahasia yang selama ini ia simpan perlahan terkuak. Dalam hati Kai bertanya-tanya, apakah Suho sudah melaporkan hal ini kepada orang tua mereka? Atau jika belum, akankah ia melapor?

Suho menatap Kai tajam. “Seharusnya aku yang bertanya Kai. Sejak kapan kau menggunakan barang laknat itu? Aku tidak menyangka bahwa kau akan bertindak sejauh ini. Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan? Kau sedang menghancurkan dirimu! Masa depanmu sendiri!” Suho menggoyang-goyangkan bahu Kai. Pria itu begitu emosi dan kecewa melihat jalan hidup yang dipilih oleh adik tirinya.

Kai menghempaskan tangan Suho. “Jangan ikut campur urusanku. Tidak perlu berlagak peduli. Kau pikir gara-gara siapa aku begini? Ini semua karena kau dan ibumu!”

BUGH!

Satu bogem mentah mendarat dipipi Kai, menyebabkan pipi dan ujung bibir namja itu terluka. Mata Suho menyalang marah. “Jangan menjadi pengecut dan melimpahkan semua kesalahanmu kepadaku dan ibu. Selama ini kami tidak pernah mengusikmu. Aku dan ibu bahkan selalu berusaha untuk membuatmu senang. Meskipun kau bukan saudara kandungku, tapi aku sangat menyayangimu, Kai. Begitupun ibu. Ia sudah menganggapmu seperti darah dagingnya sendiri. Dan setelah semua itu, kau masih dengan teganya menghina kami dan menganggap kami seperti sampah. Kau benar-benar tidak tahu bersyukur!”

“Terserah apa katamu! Aku tidak peduli.” Ucap Kai dingin, lalu ia berjalan kearah pintu kamar dan membuka pintu itu lebar-lebar. “Naga!”

“Ya Tuhan, Kai… Aku benar-benar tidak tahu harus seperti apa lagi menghadapimu. Apa pernah kau memikirkan bagaimana perasaan ayahmu jika tahu anak satu-satunya adalah seorang pecandu?! Kau tidak sayang pada ayah?!”

Kai menatap Suho tajam. “Kurasa aku bukan anaknya lagi semenjak kau menginjakkan kakimu di rumah ini. Kita semua bisa melihat bagaimana dia sangat meng-elu-elukan dirimu. Geuui adeuleun neoya, naega aniya.”

Suho berjalan keluar dari dalam kamar Kai, namun sebelum ia benar-benar pergi, Kai memanggilnya. “Aku tidak peduli jika kau mengadu pada mereka. Jadi, tidak perlu ragu-ragu untuk melakukannya, eo?” Kai berkata sembari tersenyum sinis, sedangkan Suho hanya menatapnya datar. Ia sudah terlalu kecewa dan sakit hati pada Kai.

“Kuharap kau akan segera sadar Kai.” Ucap Suho sebelum ia benar-benar pergi dari kamar Kai, meninggalkan sang pemilik kamar yang tengah berdiri mematung. Tangan Kai meremas barang-barang haram itu. Meskipun tadi dengan lantangnya ia mengatakan bahwa ia tidak peduli jika Suho melapor pada kedua orangtuanya, tapi sebenarnya Kai berharap jika saudara tirinya itu tidak benar-benar melakukannya. Kai tahu pasti apa yang akan terjadi jika sang ayah tahu mengenai hal ini. Ia benar-benar tidak akan dianggap lagi sebagai anak dan yang pastinya ia akan ditendang ke jalanan. Memikirkan itu semua membuat Kai pusing bukan main. Sepertinya keputusannya untuk pulang ke rumah adalah keputusan yang salah.

 

 

*****

 

 

_Bioskop, 08:23 PM, Seoul_

“Bora?”

Merasa dipanggil, Bora menoleh kearah datangnya suara. Wajah gadis itu agak kaget mendapati Sehun berada dihadapannya. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir Bora bertemu dan berinteraksi dengan namja satu ini.

“Apa kabar?” Tanya Sehun sambil tersenyum.

“Baik. Neon otte?” Gadis itu balik bertanya dengan agak canggung.

“Hey, jangan canggung begitu! Kabarku baik-baik saja.”

“Kau sendirian?”

“Yah. Wae? Berharap bertemu Kai?” Sehun tersenyum jahil, membuat Bora langsung menggeleng cepat sebagai bentuk pengelakan.

“Bukan seperti itu! Jangan salah paham!”

Sehun tertawa kecil, namun tak lama tawanya berubah menjadi senyuman getir. Bora yang menyadari itu langsung merasa tak enak hati. Ini pasti ada sangkut pautnya dengan sikapnya yang menjauhi Kai dan teman-temannya. Apa Sehun marah?

“Jujur, aku agak kecewa denganmu. Kau bermasalah dengan Kai, tapi kau juga ikut menjauhiku. Uri chingu aniya? Padahal aku sudah sangat nyaman berteman denganmu. Aku tidak menyalahkan kau yang menjauh dari Kai setelah tahu rahasia kelamnya. Itu hakmu untuk memilih teman, keunde… bisakah kau tidak ikut menjauhiku?” Sehun menatap kedua bola mata hitam milik Bora. Tanpa sadar Bora mengangguk. Toh, memang sejak awal ia tidak punya masalah dengan Sehun. Lagipula, selama ini Sehun adalah dewa penyelamat Bora, jadi sudah selayaknya ia berlaku baik pada namja berkulit putih pucat ini.

Bora menunduk tak enak. “Maafkan aku. Aku…”

“Gwenchana. Yang terpenting, mulai sekarang jangan menjauhiku lagi. Arasso?” Sehun menjulurkan jari kelingkingnya, membuat Bora sempat mengerutkan kening sebelum pada akhirnya mengerti maksud namja itu. Bora tertawa kecil, namun tetap menyambut uluran kelingking Sehun. “Naega yaksokhae.” Janjinya.

“Ngomong-ngomong, kau menonton sendirian?” Tanya Sehun, sadar bahwa sedari tadi Bora hanya sendirian. Bora menggeleng. “Temanku sedang ke toilet. Film kami akan diputar 15 menit lagi. Neo?”

“Adikku juga sedang ke toilet dan tebak, kurasa kita menonton film yang sama. Focus?” Sehun menunjukkan tiket film yang nanti akan ditontonnya.

“Haha yah, aku juga akan menonton film itu. Dan kau pergi menonton bersama adik perempuanmu? Agak sedikit aneh.”

“Aneh kenapa? Kurasa tidak ada yang aneh. Apa kau tidak pernah menonton berdua saja dengan adik laki-lakimu?”

“Tidak. Adikku takut jika dikira berkencan dengan noona noona.”

Tawa Sehun meledak mendengar perkataan Bora. “Well, adikmu ada benarnya juga sih.”

“Sialan! Jadi menurutmu wajahku tua, eo?” Bora mendelik, berpura-pura kesal.

“Bora?”

Bora mendongak menatap Sehun yang jauh lebih tinggi darinya itu. Sehun tersenyum kecil seraya memegang kedua bahu Bora. “Cobalah untuk tidak berpikiran buruk terhadap Kai. Ada alasan dibalik semua perbuatan yang Kai lakukan. Dan sekedar kau tahu, sekarang Kai sedang berusaha untuk menghilangkan ketergantungannya itu. Dia butuh dukungan dari teman-temannya. Kuharap cepat atau lambat kau mau memaafkan Kai dan mau berteman lagi dengannya.”

Bora terdiam mendengar perkataan Sehun. Entah ia bisa melakukan permintaan Sehun. Ini adalah pertama kalinya Bora berada dalam situasi seperti ini. Jika boleh jujur, Bora ingin sekali bisa berteman kembali dengan Kai. Sebrengsek-brengseknya seorang Kim Jongin, tapi Bora tahu bahwa Kai sebenarnya adalah pria yang baik. Seperti yang Sehun bilang, pasti ada alasan mengapa Kai mengambil jalan hidup seperti ini. Dan sebagai seorang teman yang baik, sudah seharusnya pula Bora mendukung Kai untuk sembuh.

“Apa Kai masih mau bertemu denganku?” Tanya Bora lirih. Sehun tersenyum manis mendengar pertanyaan Bora.

 

 

*****

 

_Rumah Kai, 08:26 PM, Seoul_

Suasana makan malam keluarga Kim terkesan canggung dan dingin. Tak ada satupun yang berniat untuk membuka suara, sekedar hanya menceritakan hari mereka. Bahkan nyonya Kim sendiri juga enggan untuk membuka suara. Mungkin ia sadar jika pria-pria disekitarnya ini sedang enggan untuk berbicara.

Kai sendiri sedari tadi sudah was-was. Tepatnya sejak kedua orangtuanya menapakkan kaki kembali ke rumah. Dalam hati Kai bertanya-tanya apa Suho sudah memberi tahu kedua orangtua mereka mengenai dirinya. Tapi melihat sang ayah yang masih duduk tenang sembari menikmati bibimbap kesukaannya, dan bukannya memukuli dirinya, itu berarti sejauh ini masih aman. Diam-diam Kai melirik kearah Suho yang duduk tepat disebelahnya. Kakak tirinya itu tampak setenang air.

‘Kenapa ia belum melapor?’ Batin Kai agak bingung.

 

 

*****

 

 

Tangan Suho menahan pintu dengan cepat sebelum pintu kayu itu tertutup. Kai menghela napas malas melihat Suho masuk kedalam kamarnya. Dengan pandangan tajam, pria berkulit tan itu menatap sang kakak. “Mau apa kau?” Tanya Kai ketus.

“Apa kau tidak berniat untuk melakukan rehabilitasi?”

“Bisakah untuk tidak mengurusi urusan ku?” Tanya Kai menantang. Entahlah, namja itu enggan bercerita pada sang kakak jika ia sedang dalam proses penyembuhan. Kai berpikir bahwa Suho tidak perlu tahu mengenai hal tersebut. Toh ia tidak berminat untuk membiarkan kakak tirinya itu untuk ikut berkecimpung dalam kehidupan pribadinya. Kai membenci Suho, bukan?

“Berhenti bersikap kekanakan seperti ini! Ini hal penting. Menyangkut hidupmu Kai! Kau tidak bisa menganggap remeh ini.”

“Kau tidak perlu ikut campur!”

“TAPI KAU ADALAH ADIKKU, BRENGSEK!” Kali ini kesabaran Suho sudah benar-benar habis. Ia hanya ingin menolong adiknya. Sesusah itukah? “Aku hanya ingin kau terbebas dari benda haram itu. Aku tidak bisa membiarkan hidupmu rusak hanya karena narkoba-narkoba itu!”

“Ya Tuhan, apa yang kau katakana Suho?!”

Kedua namja itu sontak menoleh kearah datangnya suara. Tepatnya didepan pintu, tampak Nyonya Kim begitu syok mendengar perkataan Suho beberapa saat yang lalu. Wanita paruh baya itu memegang dadanya. Wajahnya tampak pucat pasi dan matanya menatap Kai tidak percaya. “Itu… ti…tidak benar… kan?” suaranya terdengar begitu lirih dan lemah. Mendapati keheningan diantara mereka sudah menjadi jawaban jelas bagi nyonya Kim. Wanita itu kehilangan keseimbangannya dan jatuh terduduk dilantai.

“Eomma!” Suho melesat menghampiri sang ibu, membantu ibunya untuk kembali bangkit. Sedangkan Kai hanya menatap kosong ke lantai tempatnya berpijak. Ia sadar bahwa ini adalah awal kehancurannya. Pria itu tengah menyiapkan batinnya untuk mendapatkan amukan dan hujatan dari sang ayah.

“Kai… katakan pada ibu. Apa kau benar-benar pemakai? Kumohon jawab ibu!”

Kai menatap datar kearah ibu tirinya itu. “Ne. Itu benar.”

 

 

*****

 

 

“Sehun-ah, seharusnya kau tidak perlu menjemputku. Ini akan merepotkan dirimu. Rumah kita bahkan tak searah.” Ujar Bora sembari mengancingkan helmnya.

“Gwenchana. Aku sekalian ingin mentraktirmu untuk makan malam.”

“Wae? Apa hari ini kau berulang tahun?”

Sehun tertawa seraya menyalakan mesin motor. “Apa harus ulang tahun dulu baru bisa mentraktir mu?”

“Ya… tidak begitu juga sih. Hanya saja aneh kau tiba-tiba ingin mentraktirku.”

“Aku sedang ingin mengobrol denganmu. Kau tidak sibuk, kan?” Tanya Sehun.

“Aniya. Selama kau yang mentraktir, maka aku takkan keberatan.” Jawab Bora yang kemudian diakhiri dengan gelak tawa khasnya yang diam-diam juga membuat Sehun tersenyum. Motor besar berwarna hitam itu melesat cepat membelah jalanan Seoul yang malam itu tidak terlalu ramai. Kedua tangan Bora tanpa diperintah melingkari pinggang Sehun kala namja itu memacu motornya lebih cepat. Sehun sempat melirik sejenak kearah pinggangnya, dan sebuah senyuman kecil terlukis diwajah tampannya itu.

 

 

*****

 

 

BUGH! Pukulan keras itu mendarat diwajah Kai. Suho dan sang ibunda hanya diam membisu kala menyaksikan itu. Mereka tidak berani untuk ikut campur dalam urusan ayah dan anak ini. Apalagi ekspresi murka yang terpatri jelas di wajah tuan Kim, membuat siapa saja yang melihatnya akan bergidik ngeri dan memilih untuk jauh-jauh dari pria paruh baya itu agar tidak terkena amukannya.

BUGH! Pukulan lainnya kembali mendarat diperut Kai, dan kali ini membuatnya jatuh tertelungkup sembari memegangi perutnya.

“ANAK TAK TAHU DIRI! DASAR BRENGSEK! MENYESAL AKU PERNAH MEMILIKI ANAK SEPERTIMU! KAU TIDAK BERGUNA! SELALU MENYUSAHKAN!” teriakan penuh emosi itu dilayangkan bertubi-tubi pada Kai. Tuan Kim benar-benar sudah kehilangan kendali. Pria itu memang termasuk pribadi yang gampang terbakar emosi, dan tentunya berita mengejutkan tentang Kai benar-benar membuat akal sehatnya pergi.

Dengan tanpa perasaan, tuan Kim menarik rambut Kai yang agak panjang, dan berniat untuk kembali melayangkan bogem mentahnya. Namun sebelum itu terjadi, nyonya Kim sudah terlebih dahulu menahan tangan sang suami. Meskipun marah dan kecewa kepada Kai, tapi ia tidak sanggup jika harus melihat putranya itu tersakiti.

“Cukup. Kita bisa bicarakan ini baik-baik.”

“TIDAK BISA! ANAK INI SUDAH MENCORENG NAMA BAIK KELUARGA KITA. JIKA MEDIA SAMPAI TAHU INI MAKA SEMUANYA AKAN HANCUR! REPUTASIKU AKAN HANCUR!” Seru tuan Kim penuh emosi. Pria paruh baya itu sedang dalam masa pencalonan sebagai anggota dewan perwakilan rakyat. Hal seperti ini tentunya akan membuat jalannya terhambat.

Kai sendiri sedari tadi hanya diam. Tidak membela diri ataupun sekedar melindungi diri. Ia menerima semua makian dan pukulan dari sang ayah. Yah, setidaknya dengan begini ia jadi memiliki alasan lebih untuk membenci ayahnya.

Tuan Kim beralih menatap Kai yang masih terduduk dilantai. “Pergi kau dari sini! Mulai hari ini, detik ini, kau bukan lagi anakku. Aku tidak butuh anak pembangkang dan pecandu narkoba seperti dirimu. Enyah kau dari hadapanku!”

Mata Kai terpejam sejenak, meresapi kata-kata kejam nan menusuk itu kedalam sanubarinya. Tak bisa dipungkiri bahwa perasaan sakit dan sedih itu ada dihatinya. Walau bagaimanapun Kim Jongin tetaplah seorang remaja yang masih butuh kasih sayang dari orangtuanya. Dan sekarang, dengan kejamnya sang ayah mengusirnya. Kai merasa semakin terpuruk dan tersisih. Tak cukupkah selama ini sang ayah selalu membandingkannya dengan Suho? Dan bahkan terang-terangan menunjukkan perbedaan kasih sayang diantara mereka?

Kadang Kai bertanya-tanya, apakah benar ia anak kandung dari ayahnya? Kenapa seakan-akan ia hanyalah anak yang tak diinginkan?

“Geure, dengan senang hati aku akan pergi. Aku juga sudah muak berada disini. Diantara kalian semua! Dan jangan pernah berharap jika aku akan kembali.”

“Kai jangan seperti ini!” Nyonya Kim menahan tangan Kai, berharap anak tirinya itu tidak benar-benar akan pergi. “Lepaskan anak sialan itu! Biarkan dia pergi! Aku tak sudi menampung pecandu narkoba disini.” Tuan Kim melepaskan tangan sang istri yang tengah memegang lengan Kai. Tanpa menunggu lama, Kai bergegas pergi dari kediaman mewahnya itu hanya dengan membawa baju yang tengah dipakainya, sedikit uang dan juga ponsel yang memang dibelinya dari uang hasil memenangkan lomba dance.

Suho sempat menahan Kai, namun itu tak lama karena Kai memang sudah bertekad untuk pergi. “Lepas!” Ucap Kai tegas.

“Kau akan kemana Kai?”

“Pergi. Seperti keinginan kalian semua.”

“Itu tidak…”

“Sekarang kau bisa senang karena bisa menjadi putra tunggal dikeluarga ini. Selamat Kim Suho.” Kai tersenyum sinis, sebelum kemudian berjalan dengan langkah pasti meninggalkan kediaman mewahnya itu. Sebelum benar-benar pergi dari rumahnya itu, Kai sempat menoleh ke belakang, menatap rumah megah yang menjadi saksi bisu riwayat hidupnya dari ia lahir hingga sekarang untuk yang terakhir kalinya. Rumah yang didalamnya terdapat banyak kenangan indah bersama mendiang ibunda tercinta. Dan tanpa pria tampan itu sadari, setetes air mata jatuh begitu saja dipipinya. Ia sakit. Hatinya begitu sakit.

 

 

*****

 

 

Sehun mendapati Kai tengah berdiri didepan rumahnya, dan yang mengherankan, Sehun sama sekali tidak melihat mobil atau motor besar yang biasa dikendarai oleh sahabatnya itu. Sungguh pemandangan yang tak lazim, menurutnya. Sehun membuka kaca helmnya. Pria itu masih duduk diatas motornya.

“Kai, sedang apa kau disini? Kenapa tidak langsung masuk saja? Dan… dengan apa kau datang?”

“Aku baru saja sampai. Dengan taksi. Aku sudah ditendang keluar dari rumah itu.”

Sehun membulatkan matanya, begitu kaget mendengar ucapan Kai. Jika Kai sampai diusir dari rumahnya, itu berarti… “Ayahmu tahu soal obat-obatan itu?” Tebak Sehun yakin yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Kai. Meskipun berusaha untuk tampak baik-baik saja dan tak peduli, akan tetapi Sehun bisa melihat jelas kesedihan yang terpancar dari sorot mata Kai. Bahkan menurutnya sahabatnya ini tampak agak berantakan. Jelas sekali ia terpukul dengan ini semua.

“Ayo, naiklah.” Ajak Sehun. Kai menurut, dan duduk dibelakang Sehun. “Kau darimana?” Tanya Kai.

“Makan malam dengan Bora.” Jawab Sehun jujur, yang langsung membuat Kai terdiam.

“Ah, geu yeojaneun. Kalian kembali berteman?”

“Yah, begitulah.”

Kai tertawa kecil. “Aku tidak menyangka kau akan sanggup berteman dengan gadis cerewet dan menyebalkan seperti itu.”

“Dia gadis yang baik. Dan em… ngomong-ngomong, dia titip salam untukmu. Bora bilang bahwa ia menyesal telah menjauhimu hanya karena kau seorang pemakai. Dia berharap masih bisa berteman lagi denganmu.”

Kai hanya diam tak berniat untuk memberikan komentar apapun terhadap pernyataan Sehun. Dan Sehun pun tidak memaksa Kai untuk memberikan tanggapan mengenai Bora saat itu juga. Sehun sadar bahwa butuh waktu bagi Kai untuk kembali membangun kepercayaan terhadap Bora. Sahabatnya itu adalah tipe orang yang sulit untuk percaya terhadap orang lain.

 

*****

 

 

Badan Kai kembali bergetar dan dibasahi peluh. Tubuhnya kembali membutuhkan barang haram itu. Boyoung yang ada disana terlihat begitu panic. Apalagi saat ini hanya ada dia dan Kai didalam apartemen itu. Yah, pada akhirnya Kai memutuskan untuk tinggal sementara di apartemen Sehun yang kebetulan sedang kosong. Ia hanya merasa tidak nyaman jika harus tinggal di rumah keluarga Oh.

“Jongin-ah bertahanlah. Kau namja yang kuat. Kau pasti bisa melawan rasa sakit ini.” Boyoung berbisik ditelinga namja itu sembari memeluk tubuh Kai erat, karena jika tidak, maka Kai tidak akan segan-segan untuk melukai tubuhnya sendiri, seperti menyayat-nyayat pergelangan tangannya.

Seperti orang kesetanan, Kai berteriak kesakitan. Tubuhnya benar-benar terasa sakit dan ia tidak sanggup lagi untuk menghadapi rasa sakit ini. “Aku mau mati…” Lirih Kai.

“Andwae! Jangan berbicara seperti itu! Kau pasti bisa sembuh.” Isak Boyoung.

Gadis itu terus memeluk tubuh Kai dengan kuat, berusaha untuk menghentikan aksi berontak Kai. Namun apa daya, ukuran tubuh yang tak seimbang membuat pelukan Boyoung akhirnya terlepas dan sialnya tubuh mungil gadis itu terdorong hingga menabrak sudut meja. Bisa bayangkan betapa sakitnya itu? Tapi hebatnya, tidak terdengar sedikitpun keluhan dari mulut gadis itu. Boyoung justru lebih memikirkan kondisi Kai.

Kai berlari kearah laci, dan dengan ganas mengobrak-abrik laci tersebut hingga ia menemukan sebuah pisau lipat yang entah bagaimana ada disana. Boyoung memekik ngeri kala melihat Kai yang berniat untuk menggoreskan benda tajam itu ke lengannya. Dengan sigap Boyoung menahan tangan Kai. Sambil menangis, ia memohon-mohon agar Kai menjatuhkan pisau itu.

“Jebal Jongin-ah, jangan begini… kumohon…” Boyoung berusaha untuk merebut pisau yang digenggam erat oleh Kai. Sangat sulit untuk mengambil alih benda tajam tersebut, mengingat kekuatan Kai yang patut diancungi jempol. Sialnya, saat aksi merebut pisau itu, tanpa sengaja Kai melukai tangan Boyoung. Gadis itu memekik kaget dan seketika langsung melepaskan pegangannya terhadap Kai. Boyoung meringis ngeri melihat darah segar mulai mengucur dari tangannya yang terluka. Bahkan tak urung hal tersebut membuat Kai langsung terdiam. Melihat gadis itu terluka karena dirinya, meskipun itu tidak disengaja, telah membuat namja itu diselimuti oleh perasaan bersalah.

“Maaf… aku…” Kai menjadi linglung. Pisau yang dipegangnya terlepas begitu saja. Ia berjalan mundur hingga tubuhnya membentur tembok, lalu langsung terduduk lemas sembari memeluk tubuhnya yang kesakitan. Ia merasa sungguh kacau. “Maaf…maaf… aku tidak bermaksud…” racau Kai.

Melihat itu, Boyoung langsung menghampiri Kai. “Gwenchana… aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Ini bukan salahmu.” Boyoung berkata dengan lembut sembari mengelus-elus lengan Kai. Namun begitu, Kai masih saja meracau tidak jelas, membuat Boyoung kembali berinisiatif untuk memeluk tubuh lemah itu lagi. “Ireohke hajima. Aku tidak menyalahkanmu. Ini ketidaksengajaan. Aku tahu bahwa kau tidak bermaksud untuk melukaiku. Jangan merasa bersalah lagi…” Boyoung mengelus rambut Kai dengan penuh kelembutan, layaknya seorang ibu yang tengah meninabobokan putra kecilnya. Kai merasa nyaman mendapat perlakuan seperi itu. Sudah lama sekali sejak terakhir kalinya ada orang yang memeluknya hangat serta mengelus rambutnya dengan lembut seperti itu. Tepatnya sejak sang ibu meninggal dunia.

Kai bersikeras untuk mengobati luka ditangan Boyoung yang terjadi akibat dirinya. Dengan telaten namja itu melilitkan perban ke tangan Boyoung yang terluka. “Kau yakin kita tidak perlu ke rumah sakit. Sepertinya lukanya cukup lebar.” Ucap Kai. Boyoung menggeleng. “Tidak perlu. Begini juga sudah cukup.” Gadis itu menunjukkan senyum manisnya. Begitu manisnya hingga membuat Kai sangat ingin menyentuh kedua pipi chubby Boyoung dan mencubitnya gemas.

Kai menatap Boyoung intense. “Kau tidak takut padaku? Aku sudah melukaimu.”

“Kau tidak bermaksud seperti itu. Itu adalah ketidaksengajaan. Jangan merasa bersalah seperti itu. Seperti bukan Kim Jongin saja.” Canda Boyoung sambil tertawa kecil.

“Terima kasih…” Ucap Kai dengan suara kecil. Boyoung berpura-pura tak mendengarnya. Ia hanya tak ingin membuat Kai merasa berhutang budi kepadanya, sebab dirinya benar-benar tulus menolong namja itu.

“Ah, aku lapar. Apa kau lapar? Aku masakkan sesuatu ya.” Dengan gesit gadis bertubuh mungil itu melesat ke dapur. Tak berapa lama Boyoung terlihat asyik dengan berbagai macam peralatan masak. Gadis itu terlihat cekatan dan benar-benar tahu apa yang bisa dimasaknya dengan bahan makanan yang ada. Terlihat sekali jika Boyoung sering menghabiskan waktunya dengan berkutat di dapur. Diam-diam Kai malah asyik memperhatikan gadis itu.

 

 

*****

 

 

“Chakkaman!” Bora menahan lengan Sehun. Wajahnya tampak ragu dan gelisah. “Kau yakin tidak apa-apa? Apa menurutmu Kai tidak akan keberatan jika aku datang?”

“Gwenchana. Lagipula itu apartemenku. Dia tidak berhak untuk mengusirmu. Ayo ayo, tunggu apa lagi.” Sehun mendorong tubuh Bora masuk kedalam apartemennya.

Apartemen tampak sepi, dan itu malah semakin membuat Bora gugup. Tahu bahwa gadis disebelahnya ini gugup, Sehun semakin mengeratkan genggaman tangannya. “Yah, kau seperti bukan Nam Bora saja. Kemana perginya Nam Bora yang pemberani itu, eo?” Bisik Sehun.

“Ketinggalan di rumah.” Jawab Bora asal, membuat Sehun tertawa kecil. Pria itu membimbing Bora menuju ruang makan kala mendengar suara percakapan disana. Sepertinya Boyoung dan Kai sedang menikmati makan malam mereka. Dan benar saja, Sehun mendapati kedua temannya itu tengah mengobrol ringan sambil menikmati makan malam. Boyoung yang kemudian mendapati keberadaan Sehun, langsung menyapa namja itu.

“Annyeong Sehun-ah. Kebetulan sekali kau sudah pulang. Uri katchi mokgo.” Ajak Boyoung.

Kai menoleh kearah Sehun, hendak menyapa. Namun mulutnya langsung terkatup saat melihat yeoja yang tengah berdiri canggung disebelah Sehun. Kai menatap Bora datar, membuat gadis itu semakin salah tingkah. “A…annyeong Kai…”

Kai tersenyum sinis. “Ku pikir kau sudah tidak sudi untuk bertemu dengan si pecandu ini. Ada angin apa yang membawamu kesini?”

“Kai jangan begitu!” Sehun berujar kesal. Namun Kai tidak peduli. Namja itu malah meninggalkan meja makan meskipun makanan dipiringnya masih bersisa banyak. Mendapati reaksi seperti itu membuat wajah Bora murung. Padahal ia sudah memprediksi hal seperti ini akan terjadi, tapi tetap saja, pada kenyataannya ia merasa sakit.

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s