Diposkan pada Chapters

Crashed (Part 13)

1404130212061

Author : Cho Haneul
Title      : Crashed
Type     : Chaptered
Genre  : Romance, Drama

SPECIAL THANKS TO MY SISTER FOR THE POSTERS :*

Cast :
– Park Boyoung
– Nam Bora
– Kim Jongin
– Kris Wu
– Oh Sehun
– Kim Suho

__________________________________________

 

“Jadi begitu ceritanya…” Boyoung menunduk menatap sepasang sepatunya. Sehun baru saja menceritakan duduk permasalahan yang terjadi antara Bora dan Kai. Memang bukan masalah yang besar, namun jelas Kai terlalu sakit hati untuk dapat menerima gadis itu kembali. Boyoung mendongak menatap Sehun. Sejenak ia terlihat ragu, namun kemudian ia membulatkan tekadnya. Masih ada satu hal yang mengganjal dihatinya. “Sehun-ah, apa Jongin dan Bora saling menyukai? Kau tahu maksudku, kan?” Boyoung bertanya lirih.

Sehun tersenyum kecil. Ia tahu apa yang ada di pikiran gadis mungil ini. Sejak awal Sehun sudah merasa jika Boyoung menyimpan perasaan special terhadap sahabatnya itu. Perasaan yang begitu tulus itulah yang membuat Boyoung dengan sukarela berada disisi Kai untuk membantu pemulihannya. “Aku tidak tahu. Tapi yang jelas selama ini mereka hanya berteman, tidak lebih. Lagipula, kurasa Kai sudah tertarik dengan gadis lain.”

“Nugu?” Boyoung bertanya dengan amat penasaran sekaligus gugup.

Dengan isengnya Sehun hanya tersenyum penuh misteri dan kemudian melengos pergi. “Hei, kau belum menjawab pertanyaanku!” Seru Boyoung.

“Tanya langsung saja kepada orangnya.” Balas Sehun.

 

 

*****

 

 

_@Golden Club, 11:52 PM, Seoul_

Kris menatap hingar bingar didalam diskotik itu dengan tanpa minat. Ia memang bukan tipe namja penikmat dunia malam. Alasannya tengah berada di diskotik nomor satu di Gangnam itu pun lantaran undangan dari salah seorang teman lamanya yang tidak bisa ia tolak. Teman Kris yang bernama Himchan menepuk punggung Kris pelan. Ditangan kanannya ada segelas bir. “Tidak turun ke lantai dansa?” Tanya Himchan yang dibalas dengan gelengan oleh Kris. “Ayolah. Mereka sudah menantikanmu disana. Kau kan jarang sekali mau ikut acara kumpul-kumpul seperti ini. Lihat, Minyoung sedang menatapmu.” Tunjuk Himchan kearah seorang gadis cantik berpakaian minim yang tengah bergoyang seksi. Sesekali gadis itu akan melirik Kris. Mungkin berharap jika Kris akan terpesona olehnya.

“Kau saja yang meladeninya. Geu yeojaga naega style aniya.” Ujar Kris cuek. Himchan tertawa mendengar perkataan temannya itu. “Sifat dinginmu tidak berubah Kris. Apa kau masih belum bisa melupakan dia?”

Mendengar pertanyaan Himchan sempat membuat tubuh Kris menegang selama beberapa detik, namun dengan lihai namja itu kembali menguasai emosinya. Kris menggeleng. “Aku sudah melupakannya. Dia bagian dari masa laluku. Sudahlah, jangan membicarakan dirinya lagi.”

“Kudengar dari teman-teman sekarang kau menyukai yeoja yang lebih muda, eo. Mereka bilang pernah beberapa kali melihatmu bersama seorang gadis yang masih berseragam. Wah, seleramu memang selalu mengejutkan.”

“Jangan asal mengambil kesimpulan. Dia adik angkatku, bukan yeojachinguku.”

“Wah, apa dia cantik? Bisa kau kenalkan padaku?” Tanya Himchan bersemangat.

Kris tersenyum kecil. “Yah, dia cantik. Dan maaf, aku tidak berniat memiliki adik ipar yang urakan dan penggila pesta.” Canda Kris.

“Sialan kau!” sungut Himchan kesal, namun tak ayal ia juga ikut tertawa, menyadari bahwa deskripsi singkat Kris mengenai dirinya memang akurat.

Kris menenggak wine digelasnya hingga tandas. Tanpa sengaja Kris menangkap sosok gadis muda yang cukup familiar untuknya. Gadis itu Oh Haneul, adik dari Oh Sehun yang merupakan teman sekolah Boyoung. Kris agak mengernyit heran melihat gadis itu berada ditempat seperti ini. Kris pikir Haneul tipe gadis rumahan yang tidak suka dunia malam. Lagipula, bukankah gadis itu masih terlalu muda untuk masuk ketempat seperti ini? Bagaimana bisa ia masuk kesini? Berbagai macam pemikiran hinggap dikepala Kris. Namja itu pada awalnya memutuskan untuk tidak peduli, akan tetapi tubuhnya tidak bergerak sesuai hatinya. “Aku ke toilet dulu.” Pamitnya pada Himchan.

Diam-diam Kris mengamati Haneul yang tengah duduk disebuah sofa besar yang berada dipojok. Gadis itu bersama teman-temannya yang lain. Namun sekali lihat Kris langsung tahu bahwa Haneul merasa tidak nyaman dengan suasana disana. Terbukti dari seberapa seringnya ia melirik kearah jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Dan Haneul juga kedapatan berkali-kali menarik roknya agar menutupi paha mulusnya. Satu persatu teman Haneul bangkit dari duduknya. Tampaknya mereka ingin turun ke lantai dansa. Tinggallah Haneul dan dua orang namja disana. Kris jadi semakin was-was. Kris tahu apa yang ada dipikiran kedua laki-laki itu dengan seorang gadis cantik dan polos diantara mereka. Yah, bukan hal yang baik.

“Ini pertama kalinya kau kesini?”

Haneul menoleh dengan canggung. “Ne. Ini pertama kalinya. Aku… tidak suka tempat seperti ini.” Ucapnya. Salah seorang namja menggeser duduknya mendekati Haneul, membuat Haneul seketika langsung waspada. Gadis itu menggenggam tas tangannya dengan erat. “Kalian tidak ingin turun ke lantai dansa? Aku akan menjaga barang-barang kalian disini.” Ucap Haneul. Ia lebih memilih untuk sendirian daripada harus ditemani oleh dua orang namja asing yang terlihat sekali tertarik dengan dirinya. Haneul merasa risih. Dalam hati ia menyesali keputusannya untuk mengikuti kencan buta yang teman-temannya rancang. Padahal janjinya Haneul hanya akan menemani mereka, dan itupun tempatnya di restaurant, bukannya di club malam.

Salah seorang pria yang bernama TaeYoung meletakkan tangannya diatas paha Haneul. Sontak gadis itu langsung menghempaskan tangan kurang ajar namja itu. Haneul sudah tak tahan lagi. Masa bodoh dengan teman-temannya yang lain. Ia hanya ingin pulang. Dengan sigap Haneul mengambil tas tangannya yang sempat terjatuh. “Hei, kau mau kemana?” Tanya Taeyoung.

“Maaf, aku harus pulang.” Ucap Haneul.

“Kau tidak bisa pulang sendiri. Biarkan kami mengantarmu.” Namja yang bernama Jae Hwa menahan lengan Haneul dengan kuat. “Aku bisa pulang sendiri.” Haneul berusaha untuk melepaskan genggaman Jae Hwa, tetapi ia kalah kuat. Jae Hwa dan TaeYoung dapat melihat wajah Haneul yang panic. Kedua namja itu malah menikmatinya.

Taeyoung tersenyum licik. “Kau bosan, eo? Mau bersenang-senang bertiga?”

“Aku mau pulang.” Haneul masih bersikeras.

Jae Hwa menggeleng. “Kami takkan mungkin tega membiarkanmu pulang sendirian. Kami akan mengantarkanmu dengan selama. Geokjonghajima.”

“Dia akan pulang bersamaku, jadi kalian tidak perlu khawatir.”

“Kris oppa.” Gumam Haneul takjub. Ia tidak percaya bahwa Kris benar-benar berada dihadapannya. Dan apa namja itu bilang? Kris akan mengantarnya pulang? Haneul girang bukan main. Kris masih menatap tajam kearah Jae Hwa dan TaeYoung. Kris memang tidak berlaku kasar, tapi tatapan penuh intimidasinya itu secara tidak langsung telah membuat nyali Jae Hwa dan Taeyoung menciut. Dengan terpaksa Jae Hwa melepaskan genggaman tangannya dilengan Haneul. Seketika gadis itu langsung berlari kearah Kris.

“Ayo pulang.” Kris menggenggam tangan Haneul dan membawa gadis itu pergi. Haneul berjalan disisi Kris dengan perasaan senang. Ia merasa tersanjung dengan pertolongan Kris.

Di mobil kedua insan itu tak banyak bicara. Kris tampak fokus dengan kemudinya, sedangkan Haneul menyibukkan diri dengan melihat pemandangan kota Seoul dari balik jendela. Kris menoleh kearah gadis itu. “Kakakmu tahu kau pergi ke tempat seperti itu?” Itu pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Kris selama mereka berada didalam mobil. Haneul menggeleng dengan lesu. “Tidak. Aku pun sebenarnya tidak tahu jika mereka akan membawaku ke tempat seperti itu. Niatku awalnya hanya ingin menemani teman-temanku kencan buta. Mereka bilang tempatnya di restoran, bukan di club malam. Jika kakakku tahu dia pasti akan marah.” Jawab Haneul.

“Lalu, dimana teman-temanmu itu? Kau mengenal dua laki-laki tadi?”

“Teman-temanku pergi dengan pasangan mereka masing-masing. Dan aku baru mengenal kedua namja tadi. Mereka mahasiswa di Seoul University.” Haneul menatap Kris. “Terima kasih sudah menolongku tadi. Aku sangat ingin pergi dari sana. Tempat itu tidak cocok untukku.” Ucap Haneul bersungguh-sungguh.

Kris menoleh sekilas sembari tersenyum kecil. “Tidak masalah. Aku bersyukur bisa membantumu. Dari awal aku sudah merasa aneh melihatmu berada disana. Kau terlihat tidak nyaman dengan suasana disana dan juga dengan bajumu itu. Gadis baik sepertimu memang tidak cocok berada disana.”

Haneul melirik tubuhnya. Yah, ia memang merasa risih denan baju yang ia kenakan. Terlalu minim dan mengekspos tubuhnya. “Ini baju temanku.” Jujurnya.

“Jangan pergi ke tempat seperti itu lagi tanpa orang dewasa atau kakakmu.”

 

 

*****

 

 

_@Sehun’s Apartment, 06:12 PM, Seoul_

Kai terpaku menatap wajah polos Boyoung yang sedang tertidur. Kepala gadis itu bertumpu diatas meja yang dipenuhi dengan buku-buku pelajaran miliknya. Kai duduk disamping Boyoung dan kemudian mengamati wajah gadis itu. Bagi Kai, Boyoung seperti malaikat penjaganya. Pandangan mata Kai beralih kearah tangan Boyoung yang masih terbalut perban akibat kejadian beberapa hari silam. Dengan lembut Kai meraih tangan itu, mengamati dengan seksama. Tanpa disadarinya, ia mengarahkan tangan itu ke bibirnya dan mengecupnya lembut. Kai berbisik lirih. “Terima kasih banyak. Kau benar-benar malaikat yang dikirim Tuhan untukku…”

Dibalik lemari penyekat ruangan, Bora berdiri mematung disana. Pemandangan yang beberapa detik lalu dilihatnya cukup membuat perasaan gadis itu tak enak. Bora mengakui ia memang sempat menaruh hati pada Kai, namun gadis itu tak menyangka bahwa rasa itu masih ada. Masih melekat erat dihatinya. Bora memiliki niat untuk memperbaiki hubungannya dengan Kai, tetapi ia sadar bahwa ia sudah terlambat untuk melakukan itu. Sudah ada gadis lain yang berada disisi Kai.

 

 

*****

 

 

Kai dan Boyoung berjalan bersisian melintasi trotoar yang dipenuhi oleh para pejalan kaki yang kebanyakan murid sekolah, sama seperti mereka. Tubuh Boyoung nyaris jatuh saat ada seorang pejalan kaki yang berlari dan tanpa sengaja menabraknya. Dengan sigap Kai menahan tubuh mungil itu agar tidak jatuh terjerembab ke aspal yang keras. “Gomawo.” Ucap Boyoung gugup karena Kai tidak juga melepaskan genggaman tangannya. Ia malah semakin menautkan jari-jari mereka. Boyoung tidak bertanya, dan Kai pun tidak menjelaskan mengapa ia tetap mengenggam tangan mungil itu.

Dijalan yang agak sepi, sebuah mobil mewah merapat kesisi trotoar. Boyoung mengerutkan keningnya, sedangkan ekspresi Kai langsung berubah dingin. Ia kenal dengan mobil mewah itu. Dari dalam mobil keluar seorang namja tampan. Suho menatap Kai dengan pandangan sendu. “Kai…”

Kai langsung menarik tangan Boyoung agar berjalan lebih cepat. “Tapi Jongin…” Boyoung menoleh kearah Suho. Gadis itu baru sadar jika namja itu adalah saudara tiri Kai. Mereka pernah bertemu di rumah sakit dulu. Suho menghadang jalan Kai. “Kai, uri yaegi jom haeyo.” Pinta Suho dengan nada memohon. Kai terlihat enggan. Ia menoleh begitu merasakan sebuah elusan lembut dilengannya. Boyoung tersenyum kecil. “Aku akan menunggu disana.” Gadis itu menunjuk kearah halte bis, dan tanpa banyak bicara ia segera berlari kecil menuju kearah halte.

“Apa maumu?” Nada suara Kai terdengar ketus.

Suho menyerahkan sebuah amplop coklat ketangan Kai. Kai mengernyit heran dan rasa penasarannya segera terjawab begitu ia mendapati berpuluh lembar won didalam sana. “Aku tidak butuh ini!” Kai mengembalikan amplop itu kepada Suho yang ditolak keras oleh namja tampan itu. “Simpan itu Kai. Eomma ingin kau menggunakannya untuk rehabilitasi. Jika kurang, kau bisa mengatakannya padaku. Dan kumohon, jangan menolaknya. Eomma selalu mencemaskanmu. Aku juga. Kami sedang mengusahakan agar kau dapat kembali ke rumah. Aku tahu bahwa kau sedang berusaha untuk menghilangkan kecanduanmu itu. Aku senang sekali mendengarnya. Aku ingin kau sembuh. Eomma titip salam untukmu. Ia bilang bahwa ia sangat menyayangimu. Na katda.” Suho menepuk pelan bahu Kai sebelum kembali masuk kedalam mobil mewahnya. Kai menatap kepergian saudara tirinya itu dengan pandangan sendu. Sudut terdalam hatinya tersentuh dengan perhatian yang diberikan oleh saudara tiri dan ibu tiri yang selama ini dibencinya. Bahkan ayah kandungnya sendiri tak sudi untuk mengurusnya lagi.

“Kau baik-baik saja?” Suara lembut itu menyapa telinga Kai, membuat pria itu menoleh dan mendapati Boyoung yang tengah menatapnya. “Aku baik-baik saja. Ayo kita pulang.” Kai kembali menggandeng  tangan Boyoung. Kai melirik sekilas jemari mereka yang bertautan. Terasa sangat pas. Kai tidak pernah menggandeng tangan seorang gadis seintens ini sebelumnya.

 

 

*****

 

 

Sehun bertanya-tanya, punyakah ia kesempatan itu? Kesempatan untuk mengambil hati Bora. Gadis yang diam-diam ia kagumi. Sehun mengamati Bora yang sedang melayani pelanggan di toko buku tempatnya bekerja. Bora memang cantik, namun bukan itu yang membuat Sehun tertarik. Sifat periang, pekerja keras, dan mudah bergaul Bora lah yang menjadi daya tarik gadis itu. Sehun selalu menyukai cara gadis itu tersenyum atau membuat orang disekitarnya tersenyum karena leluconnya.

Tatapan mereka bertumbukan. Bora tersenyum manis sembari melambaikan tangannya kearah Sehun yang berdiri didepan rak kumpulan majalah otomotif. Sehun tersenyum sembari membalas lambaian tangan Bora. See? Hanya dengan sebuah senyuman dan lambaian tangan, mood Sehun langsung mendadak menjadi amat sangat baik. Yah, Bora seperti mood maker baginya.

 

 

*****

 

 

“Bagaimana? Ramennya enakkan?” Tanya Bora riang. Sehun mengangguk sembari menyeruput kuah ramennya. “Neomu mashita.” Ujarnya.

“Ini tempat makan ramen langgananku. Aku sudah lama menjadi pelanggan tetap disini. Ahjumma yang berjualan disini adalah tetanggaku.” Cerita Bora. Sehun menggangguk paham dan kembali memakan ramennya.

“Aw!” Bora merintih menahan pedih saat tanpa sengaja kuah ramen yang pedas terciprat ke matanya. Sehun langsung berinisiatif untuk membantu. Dengan lembut ia meniup mata gadis itu. Bora agak tersentak kaget dengan jarak mereka yang begitu dekat. Bora tidak pernah berada dalam jarak sedekat dan seintim ini dengan seorang namja. “Em, sebaiknya aku mencuci muka saja di toilet.”

“Ah, ide yang bagus.” Balas Sehun agak canggung. Sepertinya ia menyadari bahwa tindakannya barusan agak membuat Bora menjadi tidak nyaman atau lebih tepatnya canggung. Selepas gadis itu pergi, Sehun mengacak rambutnya gusar. Pria itu meminum air mineralnya hingga tandas. Sehun merasa begitu bodoh dan ceroboh. Bagaimana jika Bora risih dan tidak mau lagi dekat-dekat dengan dirinya?

“Aish jinjja!”

 

 

*****

 

 

Mata Kai yang semula terpejam rapat, perlahan terbuka. Kai merenggangkan otot-otot tubuhnya sejenak sebelum bangkit dari posisi berbaringnya. Kai melihat layar ponselnya berkedap-kedip. Ia meraih ponselnya dari atas nakas dan mendapati ada banyak ucapan selamat ulang tahun yang ditunjukkan kepadanya. Kai sempat termenung sejenak. Lupa dengan fakta bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Hari dimana ia dilahirkan 19 tahun yang lalu. Diantara begitu banyak ucapan selamat ulang tahun yang diterimanya, ada satu pesan yang berasal dari ibu tirinya. Kai tadinya berniat untuk langsung menghapus pesan itu tanpa melihatnya, namun ia mengurungkan niatnya dan akhirnya memilih untuk membaca pesan yang dikirim tepat pukul 12 malam itu.

Pesan itu berisi doa-doa dan harapan yang dipanjatkan sang ibu untuk dirinya. Dipesan itu sang ibu juga memberikan dukungan agar Kai bisa sembuh dan dapat kembali ke rumah. Ibu tirinya itu juga meminta maaf karena tidak bisa berbuat banyak untuk menolong Kai dari amukan sang suami. Ia berharap Kai sudi untuk memaafkannya. Dan pesan singkat itu pun diakhiri dengan ungkapan kasihnya sebagai seorang ibu.

Kai menghela napas pelan. Hatinya kembali merasa tersentuh dengan perhatian yang diberikan ibu tirinya itu terhadap dirinya. Tanpa terasa mata Kai berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak, penuh dengan berbagai macam rasa yang membelenggu dirinya. Selama ini Kai selalu menyimpan isi hatinya rapat-rapat. Tak pernah membiarkan seorang pun tahu bagaimana keadaan hatinya. Bahkan Sehun yang amat dekat dengannya pun tidak pernah tahu curahan hatinya.

Kai kembali menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Sebelah lengannya menutup kedua matanya. Tetesan air mata jatuh melewati celah-celah lengannya. Pria itu menangis tanpa suara. Hal yang selama ini diam-diam dilakukannya jika hatinya sudah terlalu sesak.

 

 

 *****

 

 

Boyoung menatap puas kearah sup rumput laut hasil masakannya. Ia ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Kai. Boyoung pernah tanpa sengaja melihat kartu pelajar namja itu dimana tertera tanggal lahir Kai disana. Dengan riang ia berjalan menyusuri trotoar. Udara pagi hari sangat sayang untuk dilewatkan, maka dari itu Boyoung selalu menolak untuk pergi dengan menggunakan mobil keluarga Wu. Ia lebih senang berjalan kaki.

Boyoung sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Kai dan menyerahkan hasil masakannya itu. Ia berharap Kai akan suka masakannya kali ini seperti tempo dulu. Namun langkah riang gadis itu terhenti ketika sesosok namja yang begitu dikenalnya keluar dari dalam mobil. Jantung Boyoung berdebar keras. Sudah cukup lama rasanya semenjak terakhir kalinya ia bertemu dengan Min Woo.

Min Woo menatap Boyoung datar, tanpa ekspresi yang jelas. Hal tersebut semakin membuat Boyoung ketar-ketir memikirkan tindakan seperti apa yang akan Min Woo lakukan padanya. Apa Min Woo masih berambisi untuk melukai dirinya? Pikir Boyoung panik.

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

6 tanggapan untuk “Crashed (Part 13)

  1. Ahhh thor ceritanya makin seru…. keep writing thor. Aku tiap hari buka blog berhrp udah update.. akhirnya bisa baca lanjutannya.

  2. aaaaa aku nunggu ff ini lama bangetttt !! pas udh ada bacanya nyesek bora sama kai ga dkt lg… pdahal aku masih ngarep bora sama kai,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s