Diposkan pada Chapters, KyuYeon (Kyuhyun Jiyeon)

Hoot (Part 5)

1416410092129

Author : Cho Haneul
Title      : HOOT
Type      : Chaptered
Genre    : Romance, Comedy, Friendship

Cast :
– Nam Ji Hyun
– Lee Dong Hae
– Park Ji Yeon as Kim Ji Yeon
– Cho Kyu Hyun
– Byun BaekHyun
– Kim Woo Bin
– Kris Wu
– Seo Joo Hyun

___________________________________

 

Jiyeon duduk termenung didepan jendela, memandang kosong langit yang tengah memuntahkan berjuta-juta butir air hingga membuat suara yang sangat gaduh. Pesta pertunangan Kris memang masih akan diadakan satu minggu lagi, namun tetap saja batin Jiyeon gelisah. Gadis itu bertanya-tanya, sanggupkah ia untuk hadir? Bagaimana jika ia tidak usah hadir saja? Tapi Kris pasti akan kecewa. Jiyeon mendesah pelan. Hatinya begitu tak menentu saat ini.

“Hei.” Woo Bin menyapa sang adik sembari mengusap kepala Jiyeon penuh sayang. Jiyeon mendongak dan tersenyum manis menatap sang oppa. Segalau apapun dirinya Jiyeon tidak pernah ingin membuat orang lain tahu bagaimana perasaannya. Ia tidak ingin membuat kakak semata wayangnya itu panik.

Woo Bin mencubit-cubit pelan pipi Jiyeon yang terasa begitu mulus ditangannya. “Mau jalan-jalan?” Tawarnya.

“Tumben sekali. Ada apa?”

“Aniya. Hanya sedang bosan dan ingin menghabiskan waktu dengan adik tercinta. Apakah salah?”

Jiyeon terkekeh kecil dan kemudian berbalik untuk memeluk erat tubuh sang oppa. “Aniya.” Ucapnya dengan nada manja. “Kalau begitu aku ganti baju dulu. Chakkaman gidaryo.” Gadis berambut panjang itu berlari kecil menuju kamarnya. Woo Bin menatap sang adik dengan penuh sayang. Sungguh, ia merasa bersalah karena tidak tahu mengenai perasaan Jiyeon terhadap Kris. Selama ini ia berpikir bahwa Jiyeon tidak benar-benar menyukai Kris. Tapi jikalaupun ia tahu, apa ia bisa merubah keadaan? Sejak awal Woo Bin tahu pasti bahwa Kris selalu menunggu Sophia.

 

*****

 

 

Jihyun ada di lapangan basket. Bukan untuk bermain tentunya! Gadis itu adalah pemain yang buruk. Ia bahkan tidak bisa mendribble bola dengan benar meski hanya selama lima detik. Dan Jihyun pun sebenarnya bukan penggemar olah raga. Daripada berdesak-desakan untuk menonton basket, Jihyun lebih memilih untuk bergumul dengan kasurnya ditemani dengan novel-novel kesayangannya. Tapi sekarang, disinilah ia. Di lapangan basket indoor kampusnya guna untuk menemani sang kekasih yang sedang bertanding.

“Ayo Donghae oppa!” Seru Jihyun penuh semangat saat melihat Donghae yang tengah menguasai bola. Dengan lincah Donghae berlari melewati tim lawan, namja itu melompat dengan tinggi sembari melempar bola kedalam ring dan…. Masuk! Donghae kembali mencetak angka.

“Kyaaaa! Oppa neomu daebak!” Jihyun berseru heboh, membuat beberapa orang gadis menatapnya sebal. Yah, sebal dengan fakta bahwa Jihyun adalah kekasih dari pangeran kampus mereka. Beberapa dari gadis-gadis itu sengaja mencibir Jihyun dengan suara agak keras, berharap Jihyun akan terintimidasi. Tapi bukan Nam Jihyun namanya jika baru segitu saja ia sudah terintimidasi. Gadis itu malah semakin bersemangat untuk mendukung kekasih pura-puranya itu.

“Jiyeon lihatlah, Donghae oppa begitu keren!”

“Ne, kau beruntung sekali punya namja tampan seperti itu.” Balas Jiyeon sambil menahan tawanya. Ia dan Jihyun memang sedang memanas-manasi gadis-gadis disekitar mereka. Jiyeon menyenggol lengan Jihyun. “Lihat, Donghae oppa sedang melihat kesini. Cepat lambaikan tanganmu!”

“Oppa! Oppa!” Jihyun melambaikan tangannya.

Gadis-gadis disekitar mereka semakin membara karena emosi. Pasalnya Donghae melemparkan senyuman lembut dan charmingnya kepada Jihyun dan tak lupa disertai dengan lambaian tangan singkat. Jihyun menatap sekelilingnya dengan bangga. Yah, bangga karena berhasil mematahkan hati-hati penggemar Lee Donghae.

“Wah, neomu jaemitdda.” Ucap Jihyun sambil terkekeh geli.

 

 

*****

 

 

Donghae mengantar Jihyun pulang dengan motor besarnya, namun ditengah perjalanan hujan turun dengan derasnya, membuat para pengendara motor ataupun pejalan kaki mau tak mau harus berteduh jika tidak ingin basah kuyup dan kedinginan. Donghae menepikan motornya didepan salah satu toko. Hanya ada mereka berdua disana. Donghae menoleh sejenak kearah Jihyun, ingin memastikan keadaan hoobaenya itu.

“Ini.” Donghae menyodorkan jaketnya yang belum terlalu basah, sebab baju Jihyun ternyata sudah setengahnya basah. Mereka memang telat berteduh. Jihyun menerima jaket itu dengan senang hati. Kapan lagi ia bisa mengalami kejadiaan romantic seperti didalam novel dan drama ini? Apalagi dengan seorang Lee Donghae sebagai pemeran prianya. Ini benar-benar sempurna!

“Terima kasih oppa.”

Donghae mendongak kearah langit kota Seoul yang gelap dan kemudian melihat kearah jam tangannya. Sudah pukul 9 malam. “Sepertinya hujannya akan lama. Lebih baik kau menelpon keluargamu untuk memberi kabar.”

“Gwenchana. Aku sedang sendirian di rumah. Kedua orangtuaku bekerja di Busan, sedangkan adik laki-lakiku sedang study tour ke Jepang. Jadi tidak akan ada yang mencariku malam ini.” Jawab Jihyun sambil tersenyum kecil sembari mengeratkan jaket yang menghangatkan tubuhnya.

Malam semakin larut namun hujan malah semakin deras dan jalanan tampak semakin sepi. Kedua insan itu masih berdiri diam didepan toko yang sudah tutup. Jihyun tampak begitu kedinginan dengan bibir dan tubuh yang sudah gemetar. Ia sebenarnya tidak bisa terkena hujan dan berada ditempat dingin untuk waktu yang terlalu lama. Dibalik penampilannya yang ceria, tegar dan tampak kuat, Jihyun tetaplah seorang manusia yang memiliki kekurangan. Sosoknya memang tampak kuat, tapi nyatanya tubuhnya tidak sekuat itu. Merasa sudah tidak sanggup lebih lama menahan dingin yang semakin lama semakin menusuk tubuhnya, Jihyun akhirnya berjongkok sembari memeluk tubuhnya erat. Donghae yang melihat itu sontak menjadi panic.

Donghae ikut berjongkok untuk memeriksa keadaan Jihyun. Betapa terkejutnya pria itu mendapati wajah Jihyun yang sangat pucat seperti tak dialiri darah. Mata gadis itu juga terlihat sayu, seakan ingin segera menutup. “ya, wae geureu? Kau tampak tidak sehat.”

“Aku… kedinginan…” Jawab Jihyun terbata. “Sebenarnya… aku tidak… bisa jika ter…lalu dingin.”

“Ya Tuhan, kenapa kau tidak bilang sejak awal?” Donghae tampak frustasi. Dengan sigap ia mendudukkan dirinya dan Jihyun dilantai toko yang dingin. Donghae tampak ragu sejenak sebelum ia akhirnya membulatkan tekat dan kemudian memeluk tubuh Jihyun erat, berusaha untuk menghangatkan tubuh kekasih bohongannya itu. Jihyun hanya diam pasrah. Tubuhnya benar-benar sudah terasa kaku. Jemarinya bahkan sudah terasa sulit untuk digerakkan.

 

 

*****

 

 

“Sunbae tinggal bersama siapa?” Tanya Jihyun sembari menatap rumah megah bergaya Korea klasik dihadapannya dengan kagum. Sudah jarang sekali Jihyun melihat langsung rumah bergaya jeoseon seperti ini, sebab sekarang orang-orang lebih senang mendesain rumahnya dengan gaya minimalis.

“Aku tinggal bersama halmonie dan haraboji.” Jawab Donghae. Pria itu kemudian membimbing Jihyun untuk masuk kedalam rumahnya.

Pada akhirnya Donghae memutuskan untuk membawa Jihyun ke rumahnya, sebab ia tidak tega membiarkan gadis itu sendirian di rumah. Apalagi dengan kondisi tubuhnya yang tidak baik. Jihyun sempat mimisan tadi. Hal tersebut yang membuat Donghae membulatkan tekadnya untuk membawa Jihyun ke rumahnya meskipun gadis itu sudah menolak dengan halus.

Mereka masuk kedalam rumah itu dan disambut dengan wanita tua yang Jihyun amat sangat yakin bahwa wanita itu adalah nenek Donghae karena kemiripan wajah mereka. Wanita itu sempat mengernyit tidak suka saat melihat Jihyun yang tengah berdiri disisi Donghae dengan tangan kanan Donghae yang melingkari bahu gadis itu.

“Halmonie, ini Nam Jihyun… kekasihku…”

Jihyun menoleh kaget kearah Donghae. Ia tidak menyangka jika Donghae juga akan berbohong didepan halmonienya. Jihyun jadi merasa tidak enak dan sekaligus agak takut membayangkan reaksi nenek Donghae. Baru melihatnya saja sang nenek sudah tidak suka, bagaimana jika tahu bahwa dirinya adalah kekasih sang cucu? Mungkin Jihyun akan segera ditendang keluar dari rumah itu. Tapi nyatanya ketakutan gadis itu tidak menjadi kenyataan. Yang terjadi justru sebaliknya.

“Omo, yeojachingu mu? Neomu yeppeo. Aigoo, kenapa kau tidak bilang bahwa akan membawa yeojachingumu hari ini? Tahu begitu halmonie akan menyiapkan banyak makanan. Dan apa kalian kehujanan? Kalau begitu Jihyun ikut halmonie ya. Kau harus segera mengganti bajumu. Kau terlihat kedinginan. Kau juga Donghae.” Ucap sang nenek panjang lebar. Jihyun melirik ragu kearah Donghae dan melihat namja itu mengangguk singkat, menyuruhnya untuk mengikuti halmonie.

Halmonie berbeda sekali dengan kesan awal Jihyun terhadap wanita tua itu. Ternyata halmonie sangat baik dan ramah. Setelah selesai mengganti baju dengan baju yang entah milik siapa, Jihyun dan Donghae berkumpul bersama nenek dan kakek Donghae di ruang keluarga. Meskipun malam sudah sangat larut, namun tampaknya sepasang suami istri itu sudah tidak bisa menunggu untuk mengintrogasi sang cucu yang tiba-tiba datang membawa yeojachingunya ke rumah. Hal yang seumur hidup tidak pernah Donghae lakukan sebelumnya.

“Kami kehujanan di jalan. Kondisi Jihyun juga sedang tidak baik, sedangkan ia sendirian di rumah. Maka dari itu aku mengajaknya untuk menginap disini. Jadi ada yang menjaga.” Jelas Donghae, sedangkan Jihyun hanya menunduk sopan.

“Aigoo Donghae-ya. Kau ini kebiasaan sekali. Bukankah halmonie pernah bilang jangan membawa gadis dengan motor? Itu berbahaya.”

“Ne, mian. Memang salahku.”

Haraboji menatap Jihyun dan Donghae bergantian. “Sudah berapa lama kalian berkencan?” Tanyanya lembut. Dibandingkan halmonie, haraboji justru memiliki pribadi yang lebih tenang.

“Baru dua minggu.” Jawab Donghae.

“Mwoya? Dua minggu kau bilang baru? Itu sudah lama Donghae! Keterlaluan sekali baru mengenalkan yeojamu sekarang. Kau bahkan tidak pernah bercerita jika sedang memiliki kekasih. Kalau bukan karena hujan, kau pasti takkan membawa dan mengenalkan yeojachingumu pada kami. Kebiasaan sekali!”

“Mianhe halmonie. Yang terpenting kan aku sudah membawa kekasihku kesini.”

“Sudahlah, jangan memarahi Donghae seperti itu. Tidak lihat jika kau sudah membuat Jihyun ketakutan?” Haraboji tertawa kecil. Pria yang rambutnya sudah memutih itu kemudian bangkit dari duduknya. “Sudah malam. Kalian beristirahatlah. Kita lanjutkan mengobrolnya besok pagi.” Ucapnya.

“Ah keuge, penghangat ruangan yang di kamar tamu sedang rusak. Jihyun tidak mungkin tidur disana. Em… bagaimana jika kalian tidur berdua saja?” Saran halmonie yang sontak membuat Donghae dan Jihyun kaget setengah mati.

Donghae langsung menolak. “Sirheo! Halmonie, bagaimana mungkin kau menyuruhku tidur dengan seorang gadis, eo?”

PLAK!

Satu jitakan mendarat dikepala Donghae. “Jangan berpikir yang tidak-tidak cucuku sayang. Kalian memang akan berbagi ruangan tapi tidak satu ranjang, ara! Kau bisa mengambil kasur tambahan di kamar tamu.” Ujar halmonie. Donghae menoleh kearah Jihyun, merasa tidak enak dengan keadaan yang terjadi. “Apa kau keberatan?” Tanya Donghae pelan.

Jihyun tergagap. “A…aniya. Tidak masalah.” Jawabnya malu-malu. Ia merasa telah menjadi gadis yang agresif sekali.

Halmonie tersenyum puas. “Johta. Kalau begitu selamat malam, Donghae, Jihyun.”

Sepeninggal halmonie dan haraboji, kedua sejoli itu masih berdiri mematung. Donghae kemudian berdeham untuk mencairkan suasana yang amat canggung itu. “Em, ayo kita ke kamar.”

Ajakan Donghae itu justru membuat suasana semakin canggung. Dengan gerakan bagai robot, Jihyun mengikuti Donghae berjalan menuju kamar sang namja. Ini akan menjadi pengalaman tergila dalam hidup Nam Jihyun. Bahkan lebih gila daripada saat ia memohon-mohon agar Donghae menjadi kekasihnya.

 

*****

Kamar Donghae tampak rapi. Berbeda sekali dengan kamar adik laki-laki Jihyun yang selalu tampak seperti kapal karam. Wangi parfum Donghae menguar dipenjuru ruangan dan Jihyun sangat menyukai itu. Dia sangat menyukai harum parfum yang selalu Donghae pakai, membuat gadis itu betah menghirupnya bermenit-menit hingga berjam-jam. Tak lama Donghae ikut masuk kedalam kamar dengan membawa kasur berukuran sedang yang cukup untuk ditiduri satu orang. Donghae meletakkan kasur tambahan itu di sebelah ranjangnya, karena hanya disitu ruang yang cukup untuk kasurnya.

“Kau tidurlah diatas. Biar aku tidur dibawah.” Ucap Donghae.

Jihyun menurut. Gadis itu naik keatas tempat tidur dengan canggung. Donghae memperhatikan gerak gerik gadis itu. Tanpa sadar tangan Donghae terjulur kearah dahi Jihyun, membuat gadis itu urung untuk berbaring. Jihyun malah menatap Donghae dengan wajah bodohnya tanpa berkedip sedikitpun. “Tubuhmu semakin hangat. Aku ambilkan obat penurun panas dulu.”

“Ne… gomawo.” Ucap Jihyun dengan suara kecil, nyaris tak terdengar.

Selepas Donghae keluar dari kamar, Jihyun langsung menghela napas lega. Gadis itu memegang dadanya. “Ya Tuhan, jantungku…” gumamnya.

 

 

*****

 

 

Jihyun dan Donghae sudah berbaring nyaman di ranjang mereka masing-masing. “Donghae oppa?”

“Hm?” gumam Donghae.

“Kenapa kau bilang bahwa aku adalah kekasihmu pada halmonie dan haraboji? Aku jadi merasa tidak enak karena sudah membohongi mereka. Mereka sangat baik padaku.”

“Mian jika sudah membuatmu merasa tidak nyaman, tapi mau tak mau aku harus melakukannya. Halmonie sangat protektif padaku karena aku cucu satu-satunya. Jika kau bukan pacarku, maka jangan harap halmonie akan tersenyum ramah padamu. Ia pasti tidak akan mengizinkanmu untuk menginap. Makanya aku berbohong dengan bilang bahwa kau adalah kekasihku.” Jelas Donghae.

“Jadi begitu. Terima kasih, oppa.” Ucap Jihyun tulus. “Apa oppa hanya tinggal bersama halmonie dan haraboji? Orangtuamu tinggal dimana?”

Berbeda dengan sebelumnya. Kali ini Donghae membutuhkan waktu yang lama untuk menjawab hingga Jihyun sempat berpikir jika Donghae sudah tertidur pulas.

“Orangtuaku sudah bercerai. Mereka tinggal di luar kota.” Jawab Donghae pada akhirnya.

Jihyun jadi merasa tak enak kala mendengar suara Donghae yang sarat akan kesedihan. Gadis itu menatap kebawah, kearah Donghae. “Selamat malam oppa. Mimpi yang indah.” Ucap Jihyun sembari tersenyum manis.

 

 

*****

 

 

_@Ciel University, 03:47 PM, SEOUL_

Jiyeon uring-uringan. Berkali-kali gadis itu melirik kearah ponselnya guna untuk melihat jam dan juga melihat adanya pesan masuk atau tidak. Dan berkali-kali juga gadis itu menghela napas kesal kala tak mendapati pesan masuk maupun telepon serta melihat jam yang perlahan namun pasti menunjukkan perubahan waktu.

‘CUKUP!’ gusar Jiyeon dalam hati. Gadis itu bersumpah akan langsung memaki Kyuhyun jika namja itu muncul sekarang. Padahal jelas-jelas Kyuhyun sendiri yang menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, tapi sekarang namja itu justru tak terlihat batang hidungnya, membuat kekesalan Jiyeon semakin menjadi. Gadis itu memutuskan untuk pulang tanpa Kyuhyun. Dengan wajah kusut Jiyeon melangkahkan kakinya mengintari halaman kampus guna untuk sampai ke depan gerbang. Akan tetapi di tempat parkir ia melihat Kyuhyun sedang bersama Seohyun. Kegusaran Jiyeon makin menjadi.

“Sialan! Aku lama menunggu dan disini dia, asyik mengobrol bersama gadis lain. Cih, dasar namja kurang ajar!” Gumam Jiyeon kesal. Bukannya pergi, Jiyeon justru menghampiri kedua sejoli itu dengan langkah yang lebar khas Kim Jiyeon jika sedang kesal.

“Oppa, kenapa lama sekali, eo? Aku kelelahan menunggumu!”

Kyuhyun langsung menoleh begitu mendengar suara yang sangat familiar baginya itu. Kyuhyun menatap Jiyeon intens dan kemudian melirik cepat kearah Seohyun, berusaha memberi kode kepada Jiyeon. Jiyeon langsung menangkap maksud Kyuhyun. Ternyata Seohyun lah yang menghambat Kyuhyun. Dalam hati Jiyeon mencibir Seohyun karena begitu bebalnya hingga mengabaikan fakta bahwa ia sudah ditolak secara halus oleh Kyuhyun. Padahal menurut Jiyeon, Seohyun termasuk gadis yang manis. Takkan sulit baginya untuk menggait namja.

“Maaf sayang, aku ada sedikit urusan dengan Seohyun.” Ucap Kyuhyun dengan nada lembut.

Jiyeon melangkah mendekati namja itu dan kemudian merangkul lengannya manja. “Sudah selesai kan? Palli kayo!” Ajaknya ditambah dengan muka aegyo andalan Kim Jiyeon. Kyuhyun harus mati-matian menahan diri agar tidak mencubiti pipi gadis itu dan menciumi wajahnya sangking gemasnya. Merasa diabaikan, Seohyun mendengus keras. Gadis bersifat lemah lembut itu nyaris kehilangan kesabaran. Ingin sekali rasanya ia menendang Jiyeon menjauh dari namja pujaannya.

Kyuhyun menatap Seohyun tanpa minat. “Aku harus pulang sekarang. Kau bisa meminta tolong pada Suho atau Changmin. Mereka tak kalah pintar dariku.” Ucap Kyuhyun dan tanpa berkata apa-apa lagi ia masuk kedalam mobilnya diikuti oleh Jiyeon yang diam-diam tersenyum puas melihat Seohyun yang kembali ditolak secara halus oleh Kyuhyun.

“Wae usneun?” Tanya Kyuhyun sembari mengernyit heran melihat Jiyeon yang tersenyum.

Cepat-cepat Jiyeon merubah ekspresinya menjadi biasa. Gadis itu menoleh kesal kearah Kyuhyun. “Sudah syukur aku tersenyum setelah menunggu selama 20 menit. Waktuku itu amat berharga, tahu!” Ujarnya kesal.

“Mianhe. Kau kan tahu sendiri aku dicegat oleh Seohyun.”

Jiyeon mendengus kesal. “Terserah.” Ucapnya tak peduli seraya sibuk memainkan ponselnya. Namun ujung-ujungnya Jiyeon tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya. “Ngomong-ngomong, apa lagi yang diinginkan oleh putri manis itu?”

Kyuhyun tersenyum kecil, merasa puas mengetahui bahwa sebenarnya Jiyeon peduli padanya. “Dia memintaku untuk membantunya dalam pelajaran kualitatif, keunde aku menolaknya. Aku tahu itu hanya akal-akalan Seohyun. Dia itu gadis yang cerdas, jadi mana mungkin dia ada masalah dengan kualititatifnya. Kecuali jika gadis itu kau, maka aku akan percaya 100 persen.” Kyuhyun terkekeh kecil.

“Yak! Apa maksudnya itu! Kau menghinaku, eo?!”

“Tidak menghina sayang, aku hanya bicara fakta. Ku dengar dari Woo Bin bahwa kau tidak lulus dalam pelajaran statistic. Jika kau mau, aku sangat bersedia menjadi tutormu. Kau cukup membayarku dengan menerima cintaku saja.” Goda Kyuhyun.

“Dasar sinting! Mimpi saja sana!”

 

 

*****

 

 

Donghae memainkan perannya sebagai kekasih Nam Jihyun dengan baik, seperti mengantar jemput gadis itu, makan siang bersama, bahkan kadang membantu gadis itu mengerjakan tugas kuliahnya. Dan sekarang Donghae juga lebih sering memakai mobilnya ketimbang mengendarai motor sport kebanggaannya semenjak ia tahu mengenai kelemahan Jihyun terhadap hujan. Yah, ia tidak ingin kejadian tempo hari kembali terulang.

Terkadang Donghae bingung sendiri atas perlakuannya. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan semua ini dengan sukarela hanya demi seorang gadis? Gadis yang bahkan bukan benar-benar kekasihnya.

“Hei, kau terlihat makin romantis setiap harinya. Ah, manis sekali.” Ucap Kyuhyun dengan gaya mencibir andalannya. Pria itu melakukannya setelah tahu bahwa Donghae sengaja datang ke kampus, dimana hari itu tidak ada jadwal kelasnya, hanya demi Nam Jihyun yang ternyata sedang sakit. Jihyun terpaksa masuk karena ia ada ujian, dan Donghae dengan sukarela menunggui gadis itu. Donghae hanya diam sambil terus sibuk mengetik makalah tugas kuliahnya.

“Dulu aku sempat berpikir jika hubunganmu dengan Jihyun adalah hubungan pura-pura, keunde sekarang aku yakin jika kalian saling menyukai. Ah, atau lebih tepatnya kau yang begitu menyukainya.” Ucap Kyuhyun, lalu tertawa kecil.

Tubuh Donghae sempat menegang. Pria itu kemudian mencoba untuk menelusuri hatinya. Dia tidak bisa bilang bahwa ia menyukai Jihyun. Mungkin lebih tepat dikatakan jika ia peduli terhadap gadis manis itu. Dua minggu lebih bersama Jihyun membuat Donghae mendapati banyak sisi positif gadis itu yang selama ini tidak dilihatnya. Sifat Jihyun yang periang, humoris, penyayang serta perhatian membuat Donghae begitu menikmati saat-saatnya berada disisi gadis itu setelah sekian lama tidak pernah menjalin hubungan spesial dengan seorang gadis. Bahkan tak ayal jika terkadang Donghae lupa bahwa ia dan Jihyun hanya pacar pura-pura.

Dikala lamunannya itu, ponsel Donghae bergetar. Ia langsung mengangkatnya setelah melihat nama Jihyun tertera dilayar.

“Yoboseyo?”

“Yoboseyo oppa. Ujianku baru saja selesai. Oppa dimana? Haruskah aku menghampirimu? Atau…”

“Biar aku yang menjemputmu. Tunggu disana, aku akan segera sampai.”

Donghae menutup teleponnya dan selekas mungkin membereskan barang-barangnya. “Aku harus pergi. Sampai bertemu besok.” Ujar Donghae. Kyuhyun melambai sekilas. Pria itu mengamati tubuh Donghae yang perlahan menghilang dari pandangannya. “Dasar namja yang baru jatuh cinta.” Gumamnya.

Kyuhyun kemudian menoleh kearah jendela cafe dan tanpa sengaja mata Kyuhyun menangkap sosok Jiyeon. Mata pria itu membulat begitu melihat siapa namja yang tengah berjalan disisi gadis yang disukainya itu. “Oh shit!” Kyuhyun segera beranjak dari duduknya.

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

18 tanggapan untuk “Hoot (Part 5)

  1. Sorry, chingu. Aku baru komen d part ini. Baru baca ff ini lgs jatuh cinta. Bagus cerita nya. D tunggu lanjutannya. Penasaran ama jiyeon kyuhyun.

  2. Aigoo, tadi aku udah ngetik panjang krn jaringan error jadi gak ke post, kayaknya. Heol… Btw disini lebih banyak jihyunxdonghae ya /dikeplak/ /yaiyalah kan mereka main pair nya gimana sih/ lol. Tapi kyuyeonnya tetep ajib dan bikin greget as usual kekekek. Ditunggu chapter selanjutnya😁

  3. donghae sama jihyun kemajuannya pesat banget kayaknya beneran ini mah dongjaenya udah suka sama jihyun cuma blm berani ngungkapin aja wkwkwk
    punya kakak kaya woobin enak kali ya adenya sedih langsung diajak jalan :’)
    apa kyu punya saingan sekarang? aaah pasti seru kalo punya saingan setelah kris tersingkir wkwkwk

  4. mwooo siapa itu yg bersama jiyi….aigooo donghyun udah semakin lengket eoh…jangan jangan benar yg dikatakan kyu…hehe…

  5. Eccciiieee ada yang mulai jatuh ke permainannnya sendiri…. jihyun dan hae oppa sama2 mulai jatuh cinta…. tapi konflik mereka koq kayanya belom meruncing yaaa jadi belom ada gregetnya gitu lohh… mungkin di next part konfliknya lebih serrruuu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s