Diposkan pada Chapters, KyuYeon (Kyuhyun Jiyeon)

Hoot (Part 6)

1416410092129

 

Author : Cho Haneul
Title      : HOOT
Type      : Chaptered
Genre    : Romance, Comedy, Friendship

Cast :
– Nam Ji Hyun
– Lee Dong Hae
– Park Ji Yeon as Kim Ji Yeon
– Cho Kyu Hyun
– Byun BaekHyun
– Kim Woo Bin
– Kris Wu
– Lee Jonghyun

_______________________________________

Kyuhyun mengejar Jiyeon yang tampak asyik berbincang dengan Lee Jonghyun. Semua orang tahu bagaimana giatnya pria itu berusaha untuk menarik perhatian Jiyeon. Yah, namja itu menyukai Jiyeon. Tepatnya semenjak Jiyeon resmi menjadi mahasiswi baru Ciel University.

“Jiyeon-ah!” Kyuhyun menarik tangan Jiyeon, membuat langkah gadis itu terhenti.

Jiyeon menatap Kyuhyun. “Waeyo?” Tanyanya. Kyuhyun tersenyum kecil dan kemudian dengan santainya merangkul Jiyeon, membuat Jonghyun menahan dongkol yang amat sangat dihatinya. “Ayo pulang bersama.” Ajak Kyuhyun.

“Mianhe, keunde aku dan Jonhyun sunbae harus ikut rapat klub. Oppa pulang duluan saja. Aku bisa kok pulang sendiri.” Ucap Jiyeon yang seketika mengeruhkan ekspresi Kyuhyun, namun disaat yang bersamaan mencerahkan ekspresi Jonghyun. Dalam hati Kyuhyun mengerang. Setelah Kris, lalu sekarang Jonghyun? Ah, ini benar-benar menjengkelkan!

“Kyuhyun-ssi. Kau tidak perlu khawatir. Aku bisa mengantar Jiyeon pulang dengan selamat.” Jonghyun tersenyum manis, menampakkan lesung pipinya yang sumpah demi apapun membuat Kyuhyun semakin terbakar emosi. Terlihat jelas bahwa pria satu ini memang sengaja ingin menarik perhatian Jiyeon darinya. Tapi Kyuhyun sudah bertekad. ‘Langkahi dulu mayatku jika ingin merebut gadisku!’

“Ya sudah, aku pergi dulu ya. Annyeong!” Jiyeon melambaikan tangannya dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruang klub teater yang tadi sempat tertunda.

 

 *****

 

“Eh, oppa masih disini?”

Jiyeon agak kaget saat ia keluar dari ruang klub teater dan mendapati Kyuhyun berdiri didepan ruang klub teater sembari bersandar di dinding. Sungguh, pose namja itu mengingatkan Jiyeon pada model-model tampan yang sering ia lihat di majalah. Gadis itu jadi berdebar-debar menyadari ketampanan pria yang selama ini menyukainya itu.

Kyuhyun menoleh dan tersenyum manis mendapati Jiyeon yang berjalan mendekatinya. “Sudah selesai rapatnya?” Tanyanya lembut. Jiyeon mengangguk pelan. “Ne, baru saja. Keunde, wae ajik yeogi geu jeossoyo?”Jiyeon melirik kearah jam tangannya. Ini sudah jam 7 malam. Dan jika Kyuhyun menunggunya sejak tadi, itu berarti namja ini telah menunggunya selama 4 jam! “Oppa dari tadi menungguku?” Gadis itu kembali bertanya ragu.

Kyuhyun tersenyum sembari mengangguk. “Ne, aku menunggumu. Ayo, kita pulang bersama.” Kyuhyun mengulurkan tangannya. Jiyeon menatapnya sejenak, sebelum pada akhirnya gadis itu meraih tangan Kyuhyun. Kyuhyun langsung mengenggam tangan Jiyeon dengan lembut. Baru saja mereka akan pergi, Jonghyun datang menghampiri mereka. “Jiyeon-ah, bukankah aku sudah bilang akan mengantarmu pulang?” Pria itu terlihat tak terima jika Jiyeon harus pulang bersama Kyuhyun.

“Mianhe, tapi sepertinya tidak bisa. Kyuhyun oppa sudah menungguku sejak tadi.” Jiyeon menjawab dengan perasaan tidak enak. Tapi perasaannya akan menjadi lebih tidak enak jika ia menerima tawaran Jonghyun untuk pulang bersama dan meninggalkan Kyuhyun yang jelas-jelas sudah mengorbankan waktu berharganya demi menunggui dirinya selesai rapat.

Jonghyun menatap Kyuhyun kesal, yang dibalas namja itu dengan seringaian usil khas seorang Cho Kyuhyun. Ia begitu puas melihat wajah kecewa Jonghyun. Jika bisa, ingin sekali rasanya Kyuhyun tertawa terbahak atas kemenangan yang baru diraihnya. Jelas-jelas Jiyeon lebih memilih untuk bersama dirinya dibandingkan dengan si gitaris band itu.

“Ja, ayo kita pulang. Annyeong Jonghyun-ssi.” Kyuhyun tersenyum sok manis seraya mengeratkan genggaman tangannya dengan tangan Jiyeon, berusaha untuk menunjukkan kedekatan dan keintiman mereka pada Jonghyun.

 

 *****

 

_@Hyundai Hotel Ballroom, 07:12 PM, SEOUL_

Hari pesta pertunangan Kris dengan gadis yang bernama Sophia akhirnya tiba. Ini kali pertama Jiyeon bertemu dengan gadis yang selama ini mengisi ruang hati Kris. Kris bahkan rela menunggu gadis ini selama bertahun-tahun. Hal tersebut membuat Jiyeon merasa iri. Ternyata Sophia sangat cantik, wajar jika Kris begitu rela menanti kembalinya gadis itu. Wajahnya tidak tampak seperti orang Korea asli. Woo Bin bilang bahwa ayah Sophia orang Jerman, sedangkan ibunya blasteran Korea dan Kanada. Jadi, bisa bayangkan secantik apa gadis itu? Parasnya begitu cantik, lembut dan terkesan elegan. Tubuhnya tinggi semampai dengan kulit putih bersih. Rambutnya berwarna coklat terang yang Jiyeon jamin seratus persen jika itu bukan hasil dari salon. Gayanya berbicara dan bersikapnya juga sangat anggun. Mau tak mau Jiyeon harus mengakui jika Sophia memang lebih unggul daripada dirinya dan… yah, ia tampak cocok bersanding dengan Kris.

“Hei, kau juga tak kalah cantik.” Bisik Kyuhyun tepat ditelinga Jiyeon, membuat tubuh gadis itu sempat menegang kaget. Darimana Kyuhyun tahu jika ia tengah membandingkan dirinya dengan Sophia?

Kyuhyun meraih tangan Jiyeon dan melingkarkan tangan gadis itu dilengannya. Senyum sumringah muncul diwajah Kyuhyun kala melihat tak adanya penolakan dari Jiyeon. Gadis itu justru tampak menikmati kedekatan mereka. “Ayo kita sapa si pangeran Cina itu beserta putrinya. Kau tak apa, kan?” Kyuhyun menatap Jiyeon penuh perhatian. Gadis itu menggeleng pelan. “Aku tak apa. Ayo kita sapa mereka.”

Jiyeon dan Kyuhyun menghampiri Kris dan Sophia yang sedang asyik bercengkrama dan sekali-kali Sophia akan tertawa sembari memukul pelan bahu Kris. Jiyeon tidak pernah melihat Kris sebebas dan seekpresif itu. Ini semua berkat Sophia. Hanya gadis itu yang bisa membuat Kris seperti ini. Kris dan Sophia menyadari kehadiran Kyuhyun dan Jiyeon.

“Hei, aku senang kau datang.” Kris tersenyum ramah. Jiyeon balas tersenyum kepada namja itu, meski tak dapat dipungkiri bahwa hatinya sakit. “Aku takkan mungkin melewatkan hari bahagia ini. Selamat oppa.” Jiyeon memeluk Kris. Ini adalah pelukan pertama dan mungkin terakhir mereka. “Terima kasih, Jiyeon.” Bisik Kris.

Kyuhyun tidak cemburu melihat itu. Ia tahu bahwa Jiyeon butuh waktu untuk benar-benar melepaskan Kris, dan mungkin pelukan ini adalah salah satu cara Jiyeon untuk mengucapkan selamat tinggal kepada perasaannya terhadap Kris. Meskipun akan memakan waktu lama, namun Kyuhyun sudah bertekad bahwa ia akan terus setia menunggu Jiyeon. Dan jika seorang Cho Kyuhyun sudah menyukai seorang gadis, maka pria itu takkan mudah untuk berpaling.

 

 *****

 

Baekhyun melempar ponselnya dengan asal keatas ranjang. Ini sudah kedua kalinya dalam minggu ini ia berseteru dengan Taeyeon. Ada saja hal yang menjadi pemicu. Bahkan hal kecil sekalipun, seperti soal baju dan makanan. Baekhyun merasa jika semakin lama Taeyeon berubah menjadi otoriter dan terkesan suka memerintah. Mungkin efek karena gadis itu memang lebih tua tiga tahun dari dirinya. Awalnya Baekhyun masih biasa saja dalam menyingkapi hal tersebut, namun lama kelamaan dia jenuh juga. Masa nyaris disetiap pertemuan berakhir dengan pertengkaran? Yang benar saja!

Kali ini mereka kembali berseteru karena Baekhyun yang salah membeli tiket konser. Taeyeon sangat ingin menonton konser band favoritnya, Maroon 5, dan Baekhyun sudah berjanji untuk membelikan tiket konser festival A yang dekat dengan panggung untuk kekasihnya itu. Namun sialnya tiket festival A langsung ludes 1 menit setelah pemesanan tiket dibuka. Mau tak mau Baekhyun mengambil festival B. Sebenarnya masih ada satu lagi tempat strategis, kursi VIP. Akan tetapi isi dompet namja itu tidak mendukung. Untuk membeli tiket festival B saja ia sampai harus berbohong pada appanya dengan bilang bahwa uang itu untuk biaya kegiatan club. Sebab jika orangtuanya tahu bahwa ia menghambur-hamburkan uang hanya demi seorang wanita, maka tanpa segan sang appa akan menendang bokong pria bertubuh pendek itu.

Tapi bukannya bersyukur, atau setidaknya mengucapkan terima kasih, Taeyeon malah memarahinya karena gagal mendapatkan tiket festival A. Dan yah, seperti yang dapat ditebak, mereka kembali berseteru.

Baekhyun menghempaskan dirinya keatas ranjang. Siapa sangka bahwa Taeyeon yang baik, ramah serta lucu itu ternyata bisa sangat menyebalkan seperti ini. Gadis itu suka mengeluh, pencemburu dan yang paling parah dia egois! Semua sifat yang Baekhyun benci ada di diri gadis itu. Jika sudah seperti ini mau tak mau ia jadi membandingkan Taeyeon dengan Jihyun. Dulu saat ia masih dekat dengan Jihyun, mereka nyaris tak pernah berseteru. Jihyun lebih sering mengalah jika mereka sudah mulai berselisih paham. Baekhyun ingat dia pernah mengajak gadis itu nonton. Sampai di bioskop Baekhyun ingin menonton film Insurgent, sedangkan Jihyun sangat ingin menonton film Cinderella. Tapi pada akhirnya Jihyun mengalah dan memilih untuk menonton film yang bahkan tidak disukainya itu. Jihyun memang pecinta hal-hal yang berbau romantis.

Soal makanan juga begitu. Baekhyun mengajak Jihyun untuk makan sushi, namun gadis itu menolak karena ia tidak suka sushi. Tapi memang dasar Baekhyun adalah seorang yang pemaksa dan cukup egois, ia tetap memaksa Jihyun untuk makan di restoran sushi. Dengan sabar dan baiknya Jihyun akhirnya menerima tawaran itu, mengesampingkan fakta bahwa ia anti dengan makanan mentah tersebut.

“Aish, aku pasti sudah gila!” Baekhyun mengacak rambutnya kasar.

Jihyun memang suka bersikap seperti bocah dan kadang bisa sangat berisik mengalahkan temannya yang bernama Seho, namun dibalik itu semua, Jihyun adalah gadis yang baik, penyabar dan pengertian. Dan sialnya Baekhyun baru menyadari itu sekarang! Dan yang lebih sialnya lagi, ia jadi merindukan gadis itu!

 

 *****

 

“Masukkan jamurnya setelah warna kuahnya menjadi agak coklat.”

“Ah, ne.”

Nenek Lee tersenyum kecil melihat betapa antusiasnya Jihyun membantunya memasak. Nyatanya semenjak malam Jihyun menginap di rumahnya, mereka tetap menjalin komunikasi entah itu sekedar telepon ataupun pesan singkat. Yah, wanita tua itu sudah terlanjur menyukai Jihyun. Apalagi Donghae tampak lebih bahagia akhir-akhir ini. Nenek Lee sudah berkali-kali mengundang Jihyun untuk kembali datang ke rumahnya dan bahkan menginap, namun gadis itu baru punya kesempatan untuk menerima tawaran itu hari ini, sebab ia sedang libur dan tidak memiliki banyak tugas. Ibunya saja sempat heran saat pagi-pagi anak gadisnya itu sudah bersiap-siap pergi, karena biasanya jika hari libur maka Jihyun akan memilih untuk berhibernasi di kamar tercintanya sembari menonton film-film dan drama Korea, atau membaca novel kesayangannya yang tentunya bergenre romantis.

“Apa apinya sudah bisa dimatikan?” Jihyun menunjukkan sop ayam yang sudah mendidih.

“Ne, kau sudah bisa mematikannya.” Nenek Lee mencium aroma sop ayam itu. “Wah, harumnya sungguh menggugah selera. Ini pasti enak.” Pujinya yang sukses membuat pipi Jihyun bersemu merah. Ia jadi merasa seperti menantu yang tengah mendapat pujian dari mertuanya.

Kedua wanita berbeda usia itu terlihat asyik menata meja makan sembari mengobrol ringan. Selalu saja ada hal yang bisa menjadi topik obrolan mereka. Usia yang terpaut jauh pun tidak menjadi alasan munculnya kecanggungan diantara mereka. Justru mereka tampak sangat akrab seperti cucu dan nenek kandung. Yah, Nam Jihyun memang tipe gadis supel yang mudah akrab dengan semua orang, bahkan yang jauh lebih tua sekalipun. Sifat periang dan sopan santunnya menjadikan diri gadis itu mudah disukai oleh para orangtua.

“Nenek Lee melirik kearah jam dinding yang digantung di dinding ruang makan. “Sebentar lagi kedua namja itu akan pulang. Mereka pasti senang melihat ada banyak makanan. Kau tahu, kegiatan yang membosankan seperti memancing pun ternyata dapat membuat mereka kelaparan seperti baru saja melakukan pekerjaan yang berat.” Nenek Lee tertawa kecil.

“Yah, para namja memang selalu kelaparan. Appa dan adik laki-lakiku juga begitu.” Jihyun tertawa kecil mengingat ayah dan adik laki-lakinya yang jika sudah bertemu makanan akan langsung lupa diri dan situasi.

“Kami pulang!” Suara Kakek Lee terdengar. Tak lama pria tua itu muncul bersama Donghae. Donghae agak kaget melihat Jihyun berada di rumahnya, sedangkan Jihyun hanya tersenyum manis sembari melambaikan tangannya kepada Donghae.

“Kau tidak bilang bahwa akan berkunjung.”

“Aku bilang kok. Oppa tidak melihat pesan diponselmu?”

“Ah, aku meninggalkan ponselku di mobil tadi. Kau sudah lama disini?”

“Jihyun sudah sejak pagi disini, menemani nenek sekaligus membantu memasak makan siang.” Nenek Lee lebih dahulu menjawab. Jihyun menganggukkan kepalanya, membenarnya jawaban sang nenek.

Donghae tersenyum kecil. “Kau memasak? Wah, aku tidak pernah tahu jika kau bisa memasak.” Ucapnya.

Jihyun tertawa, membuat wajahnya tampak lebih manis. “Memang tidak. Nenek banyak membantuku. Jika tidak ada nenek, maka makanan dan dapur ini akan hancur berantakan.” Ujar Jihyun mengundang tawa Donghae. Pria itu berdiri dibelakang tubuh Jihyun dan kemudian memegang kedua bahu gadis itu dari belakang. “Ayo kita makan. Aku jadi tidak sabar ingin mencoba hasil masakan Nam Chef.”

Jihyun menoleh. “Nam Chef?” Gadis itu mengernyit bingung.

Donghae mengangguk sembari tersenyum manis. “Yup, mulai hari ini itu adalah panggilan khususku untukmu. Otte?” Donghae mengedipkan matanya. Jihyun bersumpah bahwa Donghae tampak sangat menawan. Sangking menawannya hingga ia ingin sekali melemparkan dirinya kepelukan pria itu. Untungnya Jihyun masih memakai akal sehatnya untuk tidak melakukan hal gila tersebut.

‘Nam Chef? Kyaaa!!!!’ >.<

Makan siang keluarga Lee kali itu tampak lebih semarak daripada biasanya. Tentunya itu semua karena kehadiran Jihyun. Donghae diam-diam memperhatikan gerak-gerik Jihyun dan cara gadis itu bercengkrama dengan kakek dan neneknya. Padahal ini baru pertemuan kedua mereka, namun Jihyun tampak akrab dengan kakek dan neneknya layaknya seperti sudah mengenal lama. Hati Donghae tiba-tiba menghangat karena melihat pemandangan itu. Dan tatkala ia mengingat bahwa dirinya dan Jihyun hanya berstatus pura-pura, rasa tak rela itu menyelubungi hatinya.

 

 *****

 

Makan siang sudah selesai, meninggalkan Jihyun dan Donghae dengan setumpuk piring kotor yang harus mereka cuci. Oh, jangan berpikir bahwa ini adalah kerja paksa, sebab Jihyun sendiri yang menawarkan diri. Mencuci piring sudah menjadi tugas mutlaknya di rumah, jadi ia sama sekali tidak keberatan untuk melakukan hal tersebut. Jihyun malah menyuruh nenek Lee agar beristirahat sembari menonton drama. Donghae turut membantu gadis itu untuk mengelap piring yang basah dan menyimpannya kedalam rak.

“Aku kaget melihat betapa akrabnya kau dan nenek. Padahal ini baru pertemuan kedua kalian.” Ucap Donghae.

“Sebenarnya kami sering berkomunikasi lewat pesan. Nenek sudah beberapa kali menyuruhku untuk berkunjung, keunde aku baru ada waktu sekarang. Em… aku harap oppa tidak keberatan dengan kedatanganku ini.” Jihyun melirik wajah Donghae, ingin tahu bagaimana ekspresi namja tampan itu. Donghae tersenyum manis. “Aniya. Aku justru senang. Sudah lama sekali suasana rumah tidak semarak tadi. Kau… membawa aura positif ke rumah ini.” Donghae menatap Jihyun intens. “Gomawo.” Ucapnya pelan dan terkesan… emm… romantis. Jihyun nyaris histeris mendapat tatapan begitu intens dari sunbae-nya ini.

‘Ya Tuhan, bisakah hubungan ini terus berlanjut?’ Harap Jihyun.

Tanpa Jihyun sadari ia sudah terlalu dalam memerani perannya sebagai kekasih pura-pura Donghae. Kedekatan serta kemesraan yang selama ini mereka rencanakan semata-mata hanya untuk balas dendam terhadap Byun Baekhyun kini berubah seakan menjadi hal yang wajar dan lazim untuk dilakukan. Yah, terkadang kedua insan itu melupakan fakta bahwa ini semua hanyalah sandiwara belaka.

 

 *****

 

Jiyeon berbaring disebelah Jihyun yang tengah asyik bergumul dengan novel roman terbarunya. “Kalian sudah seperti pasangan kekasih sungguhan.” Jiyeon berujar sembari melirik kearah Jihyun, sedangkan Jihyun masih enggan untuk menoleh dari novel yang dari kemarin sibuk ingin ia tamatkan itu.

“Masa sih? Biasa saja.” Jawabnya.

Jiyeon menghela napas. “Biasa apanya. Donghae oppa selalu mengantarmu pulang dan kau bahkan jadi dekat sekali dengan kakek dan neneknya. Pasangan pura-pura takkan seperti itu.” Ujar Jiyeon. Jihyun masih diam. Sebenarnya diam-diam gadis itu sedang memikirkan perkataan Jiyeon. Yah, sobatnya itu benar. Semakin lama hubungannya dengan Donghae malah begitu alami, layaknya pasangan kekasih pada umumnya. Namun begitu Jihyun enggan mengakui.

“Kau sendiri juga begitu. Akhir-akhir ini kau dan Kyuhyun sunbae terlihat sangat dekat. Apa kau sudah berubah haluan, eo?” Jihyun menatap Jiyeon. Jiyeon mengedikkan bahunya dan kemudian memeluk boneka panda didadanya dengan erat. “Aku hanya berusaha untuk memberikannya kesempatan. Jatuh cinta sepihak itu sangat menyakitkan. Setidaknya aku tidak ingin menjadi yeoja jahat yang bahkan tidak memberikan satu kalipun kesempatan pada pria yang selalu ada untuk membantunya. Lagipula kurasa Kyuhyun sunbae tidak buruk. Dia… tampan, pintar dan baik.”

Jihyun menganggukkan kepala tanda setuju. “Yah, dia kan salah satu namja popular yang sangat dipuja oleh para yeoja.”

“Jihyun-ah?”

“Ne?”

Jiyeon kembali menatap Jihyun intens. “Kau yakin jika hubungan kalian hanya sebatas sandiwara? Tidakkah kau ingin menjadikannya serius?” Tanya Jiyeon. Pertanyaan Jiyeon memang sederhana, namun sebaris pertanyaan itu sukses membuat Jihyun pusing tujuh keliling. Gadis itu bingung dengan perasaannya sendiri. Ia sadar bahwa ada saatnya hubungan sandiwara ini akan berakhir. Tapi apakah ia rela jika hubungannya dengan Donghae berakhir begitu saja? Ia sudah sangat nyaman dengan kehadiran sunbaenya itu. Donghae benar-benar namja pujaan. Benar-benar masuk dalam kriterianya.

 

 *****

 

_@Ciel’s University Backyard, 03:12 PM, SEOUL_

Jihyun membalikkan lembar halaman majalah fashion yang tengah dibacanya dengan bosan. Seharusnya ia tidak akan bosan seperti ini jika saja Kyuhyun tidak tiba-tiba datang dan dengan seenaknya membawa pergi Jiyeon. Sialnya, Jiyeon sama sekali tidak menolak. Gadis itu pergi bersama Kyuhyun tanpa adanya perlawan. Berbeda sekali daripada biasanya sampai-sampai Jihyun sukses dibuat cengo oleh pemandangan yang langka itu.

Gadis berambut panjang itu melirik kearah ponselnya. “Kenapa Donghae oppa belum menghubungiku? Masa kelasnya belum selesai? Kyuhyun sunbae saja sudah kabur membawa Jiyeon.” Gumam Jihyun sembari memandangi layar ponselnya yang tidak menunjukkan notifikasi apapun. Jihyun baru saja berniat untuk menelpon Donghae sebelum aura tak enak melingkupinya. Gadis itu langsung membuang napas kasar begitu tahu bahwa aura negatif itu berasal dari namja yang tengah berdiri dihadapannya sambil tersenyum sok manis.

“Angin apa yang membawamu kemari Byun Baekhyun?” Jihyun bertanya sinis.

Gadis itu semakin menahan kesal tatkala dengan santainya Baekhyun duduk dikursi kosong yang ada dihadapannya. Semakin rusaklah mood gadis bermarga Nam ini. Jihyun menatap Baekhyun datar. “Aku tanya sedang apa kau disini? Masih banyak meja yang kosong.” Gadis itu menunjuk kebeberapa meja di taman yang masih kosong, dengan harapan bahwa namja ini segera enyah dari hadapannya. Tapi Baekhyun tetaplah namja yang bebal. Sekeras apapun Jihyun menunjukkan ketidaksukaannya pada namja itu, Baekhyun tetap akan bersikap biasa.

“Aku ingin duduk disini.” Ucapnya kemudian.

Jihyun mendengus. “Geure, kalau begitu aku yang akan pindah.” Jihyun mengambil majalah dan ponselnya, berniat untuk pergi, akan tetapi tiba-tiba saja Baekhyun menahan tangan gadis itu. Ia menggenggamnya dengan erat. “Lepas!” Seru Jihyun dengan nada tajam, namun Baekhyun tetap diam. Malah semakin mengeratkan pegangannya.

“Sial!” Rutuk Jihyun kemudian terpaksa kembali duduk di kursinya.

Baekhyun tersenyum senang mendapati Jihyun yang kembali duduk. Jika dulu senyuman Baekhyun dapat menggetarkan hati Jihyun dan membuat gadis itu berbunga-bunga, namun kini senyuman itu justru membuat Jihyun muak dan terbakar emosi.

“Kau terlihat bahagia dengan Donghae sunbae.”

Jihyun menatap Baekhyun sengit. Agak heran juga mengapa tiba-tiba namja satu ini malah membahas soal hubungannya dengan Donghae. Jihyun menyibukkan diri dengan ponselnya. “Tentu saja. Dia adalah namja yang baik. Sangat menghargai wanita. Dan yang terpenting, kami saling mencintai. Apa kau masih berpikir jika hubungan kami sandiwara? Kau sinting jika masih berpikir begitu.”

Baekhyun tertawa kecil. Entah apa yang menurutnya lucu. “Dulu aku memang sempat berpikir begitu. Rasanya mustahil saja jika namja popular dan keren seperti Donghae sunbae yang sudah menolak berlusin yeoja cantik malah menjalin hubungan denganmu.”

“Mwo?! Apa maksudmu?! Apa kau ingin mengatakan jika aku jelek dan tidak pantas bersama Donghae oppa? Yak jugeosseo?!” Seru Jihyun emosi. Baekhyun malah semakin tertawa lebar. “Kau tetap tidak berubah.  Kau tahu, kau semakin terlihat menggemaskan saat marah.”

Perkataan Baekhyun benar-benar membuat Jihyun cengo. Ada angin apa hingga Byun Baekhyun bisa berkata seperti itu? Dia tidak kesurupan kan?

“Lebih baik kau pergi sebelum yeojachingumu melihat kita disini. Aku tidak ingin dia salah paham.” Ujar Jihyun. Ekspresi wajah Baekhyun mendadak berubah menjadi serius. “Jihyun-ah…” Baekhyun menatap kedua manik mata Jihyun. “Saat kubilang bahwa sikapmu tidak berubah, aku jadi ingin tahu apakah sifat pemaafmu juga tidak berubah. Apakah mungkin… em… ada kesempatan kedua untukku?”

“Tidak akan pernah ada kesempatan kedua untukmu.” Donghae tiba-tiba datang. Pria itu menatap Baekhyun tajam. “Lagipula, pantaskah kau meminta itu kepada gadis yang telah kau sakiti dan kau permalukan? Terlebih gadis itu sudah memiliki namjachingu.” Ucap Donghae tajam. Perasaan kesal menyelubungi dirinya kala mendengar permintaan Baekhyun kepada Jihyun. Ia tidak suka melihat hoobae-nya itu dekat dengan gadis yang sedang berperan sebagai kekasihnya itu. Membuatnya sakit mata dan juga emosi!

Tanpa mendengar penjelasan Baekhyun, yang Donghae juga yakin bahwa namja itu tidak dapat menjawabnya, ia menarik Jihyun untuk pergi bersamanya. Sebelum pergi, Donghae sempat menatap Baekhyun tajam, amat tajam hingga membuat Baekhyun tanpa sadar bergidik ngeri. “Kuharap ini yang terakhir kalinya aku melihatmu mendekati yeojaku. Kau tidak lupa kan dengan ucapanmu bahwa kau tidak akan menyukainya? Atau kau malah mau menjilat ludahmu sendiri, eo?” Setelah berkata demikian Donghae beranjak pergi dengan menggandeng tangan Jihyun, meninggalkan Baekhyun yang berdiri terpaku menatap kepergian mereka dengan pandangan kosong.

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

18 tanggapan untuk “Hoot (Part 6)

    1. Haha, si Baekhyun lg hidup dalam penyesalan skrg xD tenang tenang, Jiyeon udh mulai kena pesonanya si evilKyu. udh sadar dia kalo nolak Kyuhyun sama dengan nolak duit sekarung XD anyway, jeongmal gomawo udh baca FF ini. ditunggu komennya di part selanjutnya ^^

  1. huawa sepertinnya kan ada cinta segitiga yg lain kyu jiyoen jonghun ??
    kasihan jonghyun 😦
    donghae dan jihyun semakin mesra kurasa benih2 cinta akan mucul diantara keduannya penasaran kekk 🙂 ups lipa woo bin ma cpa ya???

    1. Ga segitiga chingu, tp segi empat. soalnya kan ada aku yg istri sahnya Kyuhyun #plak xD Woo Bin kyknya bakalan jomblo terus deh sepanjang cerita wkwkwk… tp kalo kamu mau sih silahkan diambil hehe… makasih banyak udh baca ^^

  2. aeww hae heroik gitu yah muncul tiba2 zhing…wkwk jiyeon cemburu dong unn perlihatkan betapa tampan nya kyu wkwwkw xD *alur cerita milik author

  3. Aduh beeeel seneng banget porsi kyuyeon nya banyakan muahahaha! Daaaan seneng banget liat baekhyun di slay sama donghae😆 udah mulai keliatan perasaan masing2 + konfliknya juga. Aigoooo! Ditunggu lah ch 7 nya muehehe mangat bella😏

  4. sukuuuriiiin baekhyun diomelin donghae lagian sih udah nyampakin jihyun sekarang dengan entengnya bilang kayak gitu ckckck
    donghae bener2 penyelamat buat jihyun dan dikit lagi bakal jadi pangerannya jihyun nih ahaaiiii
    lanjutin ya thor aku penasaran sama kisah selanjutnya :))

  5. ommo ommo ommo donghae kereeeennn….mmmhhh si byuntae udah dapat karma eoh…hehehe….yeess kyuyeon jg makin lengket….Yeeaaahhh….aseeekkk aseeekkk….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s