Diposkan pada Chapters

Crashed (Part 15 – END)

1428942970791

 

Author : Cho Haneul
Title      : Crashed
Type     : Chaptered
Genre  : Romance, Drama

SPECIAL THANKS TO MY SISTER FOR THE POSTERS :*

Cast :
– Park Boyoung
– Nam Bora
– Kim Jongin
– Kris Wu
– Oh Sehun
– Kim Suho

_______________________________________

“Kau membohongiku?!” Seru Kris penuh amarah. Boyoung menunduk takut. Sumpah, seumur hidup ia tidak pernah melihat kakak angkatnya itu semarah ini. Boyoung lebih memilih Kris yang dingin dan pelit bicara daripada menghadapi Kris yang sedang marah.

Tanpa dapat ditahan, Boyoung terisak pelan. Gadis itu memang mudah menangis jika ada yang membentaknya dan juga karena rasa bersalah yang membelenggu hatinya. Yah, ia sadar bahwa dirinya lah yang bersalah karena tidak berterus terang mengenai kondisi Kai yang sebenarnya. “Mianhe oppa…” Suara Boyoung terdengar begitu lirih. Gadis itu bahkan tak memiliki keberanian untuk menatap langsung sang oppa. Ia memilih untuk menunduk dalam, menatap kosong kearah lantai kamarnya.

Kris menggelengkan kepalanya. “Neo jinjja…” Kris mengusap wajahnya kasar, lalu ia kembali menatap Boyoung. “Mulai detik ini kau tidak boleh berhubungan dengan si pecandu itu!” Ujar Kris dengan nada yang tidak mau diganggu gugat.

Boyoung langsung mendongak, merasa bahwa keputusan sepihak Kris begitu tak adil untuknya. “Oppa tidak bisa melarangku!”

“Tentu bisa!”

“Biarpun dia adalah seorang pecandu, tapi Jongin adalah pria yang baik. Oppa tidak lupa kan jika ia pernah menyelamatkanku hingga mengorbankan dirinya sendiri? Oppa tidak lupa itu, kan?”

Rahang Kris semakin mengeras. “Aku tidak peduli. Sekali aku bilang tidak boleh itu berarti tidak boleh! Kau pikir ibu akan setuju jika tahu kau bergaul dengan pria macam itu?”

“Tapi…” Boyoung menatap Kris dengan tatapan pilu, membuat hati Kris terenyuh namun mati-matian namja itu berusaha untuk mengeraskan hatinya dan tetap berpegang teguh pada keputusannya untuk menjauhkan sang adik dari Kim Jongin, pria pecandu yang menurutnya berbahaya itu. “Aku mencintainya…” Tangis Boyoung pecah. Kali ini bukan hanya isakan kecil semata, namun gadis itu menangis pilu, persis seperti saat ia menangis didepan makam kedua orangtuanya. Tangis pilu karena kehilangan orang yang disayangi.

Kris terkesiap mendengar pengakuan langsung Boyoung. Mungkin Ia tidak akan sekaget dan semarah ini jika Boyoung mengungkapkan perasaannya beberapa jam yang lalu, saat ia belum tahu kebenaran mengenai Kai. Namun sekarang keadaannya berbeda. “Tidak boleh!” Ucap pria itu dingin. “Kau boleh mencintai siapapun asal bukan seorang pecandu narkoba.” Setelah berkata demikian Kris beranjak pergi meninggalkan Boyoung yang menangis pilu karena keputusan sepihak yang baru diambilnya.

“Oppa kumohon… Jangan begini… Aku menyayangi Jongin. Aku ingin bersamanya…” Boyoung memohon-mohon.

Kris berusaha untuk menulikan pendengarannya, mengabaikan fakta bahwa ia telah menyakiti hati seorang gadis polos yang hanya ingin bersama dengan pria yang dicintainya.

 

*****

 

_@Sungkyuwan Hospital, 12:30 PM, Seoul_

Kai siuman, dan hal pertama yang dilihatnya adalah wajah cemas sang ibu. Wanita paruh baya itu tersenyum lembut mendapati anak bungsu itu sudah sadar. Jemarinya dengan begitu lembut membelai rambut dan kemudian wajah Kai, seakan pria itu begitu rapuh. Kai belum bisa banyak bergerak karena tubuhnya yang masih lemah dan tenaganya yang belum seratus persen kembali.

“Sebentar lagi uisa-nim akan datang kesini untuk memeriksamu.” Kang Sowon, ibunda Kai, tersenyum lembut.

“Berapa lama aku tertidur?” Tanya Kai dengan suara seraknya yang terdengar begitu lemah.

“Sejak kemarin malam.” Jawab Sowon.

Kai memandang sekeliling kamarnya. Berharap bahwa sosok mungil dan penuh kehangatan itu ada disana, dalam jarak pandangnya. Ada perasaan kosong dirongga hati pria berkulit tan itu saat tak mendapati Boyoung didekatnya.

“Teman-temanmu akan kembali menjenguk sore hari nanti setelah pulang dari sekolah. Semalaman Sehun menungguimu disini. Ia bahkan nyaris bolos sekolah jika saja ibu tidak memaksanya pulang. Ia begitu cemas.”

Kai tersenyum kecil mengingat sobatnya yang satu itu. “Si babo itu memang selalu berlebihan. Seperti baru pertama kali saja melihatku begini.” Ucap Kai.

Sowon tersenyum hangat. Senang rasanya bisa duduk tenang bersama Kai layaknya keluarga normal pada umumnya. Wanita itu menggenggam tangan Kai erat namun penuh kelembutan. “Jongin-ah, ibu mau kau sembuh. Ibu tidak ingin melihatmu kesakitan lagi. Maukah kau mengikuti rehabilitasi?” Sowon bertanya pelan-pelan, takut menyinggung perasaan Kai atau membuat anak bungsunya itu kembali marah.

Kai menatap wajah sang ibu dalam diam, membuat Sowon gugup menantikan jawaban yang akan keluar dari mulut anak tirinya itu. “Aku mau sembuh…” Ucap Kai lirih. Tiga kata itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Sowon. Wanita itu begitu lega dan tanpa canggung langsung memeluk Kai. “Terima kasih, Jongin. Ibu akan selalu berada disisimu untuk membantumu sembuh. Jangan pernah merasa sendirian karena kita akan melewati rintangan ini bersama-sama.” Sowon terisak pelan dan tak urung itu juga membuat Kai mengeluarkan air matanya.

Pria itu begitu terharu mendapati perhatian dan kasih sayang begitu besar yang diberikan oleh ibu tirinya, wanita yang selama ini dibencinya setengah mati. Kai jadi merasa malu terhadap dirinya sendiri kala mengingat hal-hal apa saja yang telah ia lakukan untuk menyakiti hati sang ibu. Dengan perlahan Kai membalas pelukan sang ibu. “Maafkan aku ibu…” Ucapnya parau. Sowon tidak berkata apa-apa, namun semakin mengeratkan pelukannya dan sesekali mencium pucuk kepala Kai.

Suho yang sedari tadi menonton adegan itu dari luar kamar kini tersenyum lega dan juga merasa terharu. Ia senang melihat Kai sudah dapat menerima kehadiran dirinya dan juga sang ibu meskipun harus memakan waktu bertahun-tahun lamanya. Namun itu tidak penting. Yang terpenting adalah ia dan ibunya takkan pernah meninggalkan Kai. Mereka akan terus berada disisi Kai untuk membantu proses penyembuhannya. Suho tahu bahwa proses penyembuhan itu akan memakan waktu cukup lama dan tentunya tidak mudah. Ia sadar bahwa dukungan keluarga sangat berpengaruh. Biarlah sang ayah yang keras hati itu tetap menolak Kai, toh ada dirinya dan sang ibu yang siap menjadi sandaran bagi adik tirinya itu.

 

*****

 

Sehun dan Bora masuk kedalam kamar rawat Kai. Sowon menyapa kedua remaja itu dengan ramah dan kemudian memutuskan untuk meninggalkan mereka bertiga disana agar dapat lebih leluasa berbincang, sementara wanita itu pergi ke kantin rumah sakit untuk mengisi perutnya.

Sehun tersenyum kecil sembari mengenggam tangan Kai dan mengguncangkannya pelan. “Senang melihatmu kembali, bung.” Ucapnya.

“Yak, kau pikir aku akan mati, eo?”

“Kau terlihat sekarat, jadi wajar jika aku berpikir kau akan mati bahkan sebelum aku bisa mengalahkanmu dalam game.” Canda Sehun.

“Sialan kau!” Umpat Kai, namun tak ayal pria itu tertawa kecil.

Yah, begitulah kedua sahabat itu jika saling berinteraksi. Meskipun terkesan cuek, namun sebenarnya mereka saling perhatian dan tidak akan segan-segan untuk mengorbankan segalanya demi kebahagiaan sang sahabat. Keadaan keluarga yang tidak begitu baik membuat mereka lebih sering saling mengandalkan.

Bora duduk disisi kiri ranjang Kai. “Bagaimana keadaanmu?” Tanya gadis itu.

“Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menjenguk.” Ucap Kai sembari tersenyum kecil. Pria itu menatap Sehun. “Kemana si bocah pendek itu? Apa dia tidak tahu jika aku disini?” Tanya Kai. Seketika ekspresi Sehun dan Bora menegang, dan Kai terlalu pintar untuk tidak menyadari bahwa terjadi sesuatu yang pastinya bukan hal baik. Wajah pria itu menjadi cemas. “Apa yang terjadi?” Tanyanya dengan nada tak sabar.

Bora memilih untuk menatap keluar jendela, membiarkan Sehun yang menjelaskan semuanya. Sehun sempat melirik kearah Bora dan kemudian menghela napas, sadar bahwa memang ia yang harus menjelaskan semuanya pada Kai. Sehun menatap Kai dengan perasaan iba sekaligus bersalah, dan demi apapun Kai sangat membenci itu.

“Kris melarang Boyoung untuk bertemu denganmu.” Ucap Sehun pada akhirnya.

Jantung Kai serasa diremas kuat, menciptakan denyut yang terasa begitu menyakitkan hingga membuatnya sulit untuk bernapas. “Karena aku seorang pecandu?” Suara Kai terdengar begitu lirih dan sarat akan rasa sedih, kecewa dan putus asa. Sehun mengangguk pelan. “Eo. Boyoung bilang Kris sangat marah setelah mengetahui hal itu. Tapi Boyoung bilang ia akan berusaha untuk menyelesaikan masalah ini, dan em… dia titip salam untukmu. Ia berharap kau cepat sembuh.” Ucap Sehun.

Kai menghela napas. ‘Bagaimana aku bisa cepat sembuh jika obatku tidak berada disini?’

 

*****

 

“Aku ke kamar duluan ya eomma.” Pamit Boyoung. Tanpa menyapa Kris yang baru saja bergabung dengan mereka, gadis itu langsung beranjak pergi. Kris melirik sekilas kearah adiknya itu, berusaha untuk tidak peduli walaupun sebenarnya ia merindukan celotehan Boyoung. Kris duduk disofa tepat diseberang ibunya.

Lena menatap putranya itu intens. Meskipun Boyoung dan Kris tidak pernah terang-terangan berseteru dihadapannya, namun Lena tahu bahwa kedua anaknya itu sedang terlibat cekcok. Entah apa permasalahannya. Sikap pendiam Boyoung sudah cukup menjadi bukti. Sadar bahwa sang ibu tengah menatapnya, Kris pun menoleh. “Waeyo eomma?” Tanya pria tampan itu.

“Kalian bertengkar?” Tanya Lena terus terang.

Kris mengedikkan bahu. “Hanya sedikit perselisihan.” Jawabnya.

“Boyoung menjadi lebih pendiam. Apa kau telah mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaannya?”

“Aniya. Aku hanya berusaha untuk melindunginya, tapi dia tidak mengerti itu. Ia menganggapku jahat dan egois.”

Lena mengernyit. “Sebenarnya ada masalah apa?”

Kris menghela napas. Sebenarnya ia tidak ingin sang ibu mengetahui perihal pertikaian mereka, namun apa boleh buat, toh ibunya itu memang sangat peka dengan keadaan anak-anaknya. Kris menatap Lena. “Ibu pasti tidak asing dengan nama Kim Jongin, kan?” Kris bertanya.

Lena berusaha mengingat-ingat. “Ah, teman sekolah Boyoung yang pernah menolongnya waktu itu, bukan? Ada apa dengannya?”

“Dia seorang pecandu narkoba. Boyoung tahu itu, namun ia masih tetap dekat dengan Jongin. Aku marah dan melarangnya untuk bertemu dan berhubungan dengan namja itu. Apa aku salah? Aku hanya ingin melindungi Boyoung. Jongin bukan pria baik-baik!” Ujar Kris.

Lena terdiam, namun tak lama kemudian wanita paruh baya itu menghela napas. “Boyoung tahu mengenai fakta itu, tapi ia tetap berteman dan dekat dengan Jongin. Itu berarti Jongin adalah namja baik. Boyoung percaya pada pria itu.”

Kris terlihat tidak senang dengan jawaban yang diberikan oleh Lena. Bukankah secara tidak langsung Lena menyetujui jika Boyoung berteman dengan Jongin? Kris mendengus gusar. “Demi Tuhan, bu! Pria itu pecandu narkoba!” Serunya dengan intonasi yang mulai agak keras.

“Pecandu narkoba bukan berarti orang jahat Kris. Kau tidak bisa menyamakan semua orang seperti itu!”

Kris langsung bangkit dari duduknya. “Oh, jadi ibu rela melihat Boyoung berteman dengan seorang pecandu? Bagaimana jika pria itu hanya akan memberikan pengaruh negatif bagi Boyoung? Aku hanya ingin melindungi adikku, dan sekarang aku malah menjadi peran jahatnya? Ini konyol!” Ujar Kris kesal dan kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang keluarga. Lena lagi-lagi menghela napas pelan, sadar bahwa ia malah membuat keadaan semakin bertambah runyam.

 

*****

 

Boyoung membenamkan kepalanya dibantal yang sejak tadi sudah basah oleh air matanya. Gadis itu tidak ingin bersikap dingin seperti ini terhadap Kris, namun ia juga tidak bisa membohongi perasaannya yang begitu sakit akibat keputusan sepihak Kris yang menurutnya sangat egois itu. Sekarang Kris bahkan selalu menjemputnya di sekolah tepat waktu, seakan pria itu takut jikalau Boyoung akan mengambil kesempatan sekecil apapun untuk pergi menemui Kai. Ini sudah seminggu, dan keadaan masih sama. Kris tetap pada pendirian awalnya. Selama seminggu ini Boyoung hanya bisa mengetahui kabar Kai melalui Sehun ataupun diam-diam mengirim pesan singkat pada Kai.

Dari Sehun pula Boyoung tahu bahwa hari ini adalah jadwal Kai untuk pulang ke rumah. Empat hari lagi namja itu akan masuk kedalam panti rehabilitasi. Boyoung senang dan lega mengetahui fakta itu. Ia berharap Kai bisa segera sembuh. Ia tidak sanggup melihat namja itu hidup dalam kesakitan untuk waktu yang lebih lama lagi. Menurut Boyoung, Kai pantas untuk mendapatkan kehidupan yang baik.

‘Aku merindukanmu Jongin…’

 

*****

 

_@Han River, 08:38 PM, Seoul_

“Duduk disini saja.” Ucap Sehun sembari menggandeng tangan Bora dan mengajaknya untuk duduk dibangku taman yang tepat menghadap sungai Han. Langit malam tampak cerah bertabur bintang dan tentunya suasana sungai Han semakin tampak semarak dengan adanya beraneka warna lampu yang menghiasi taman disana.

“Aku senang Kai memutuskan untuk ikut rehabilitasi.” Bora membuka percakapan diantara mereka. Sehun menoleh dan kemudian tersenyum kecil. “Ne. Dia pantas untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sudah sejak dulu aku membujuknya agar mau ikut rehabilitasi, tapi dia tidak pernah menanggapinya. Aku bahkan sempat berpikir bahwa si bodoh itu akan mati karena overdosis.”

Bora tertawa kecil. “Untungnya ia tidak sebodoh itu. Dan…” Bora tersenyum kecil, ada sedikit kesedihan terpancar dimatanya. “Itu semua karena Boyoung. Gadis itu bagaikan penyelamat untuk Kai.” Lanjutnya.

Sehun mengamati wajah gadis yang ia sukai itu. “Kau sedih?”

“Sedikit. Tapi aku yakin ini takkan bertahan lama.”

“Waeyo?” Dahi Sehun agak berkerut.

Bora menoleh kearah Sehun, menatap kedua manik mata namja itu dan tersenyum manis. “Karena kau akan selalu ada disisiku untuk menghiburku, bukankah begitu?”

Sehun tersenyum senang. “Ne, tentu saja!” Ujarnya tanpa bisa menyembunyikan kegembiraannya. Jemari panjang namja itu mengacak pelan rambut Bora. Jika biasanya gadis itu akan cemberut marah karena rambutnya diusik, namun kali ini Bora justru tertawa kecil. Hal tersebut membuat Sehun semakin bahagia. Menurutnya ucapan Bora tadi secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa gadis itu ingin memberikan kesempatan baginya, bukankah begitu?

Ah, tunggu! Itu berarti Bora tahu perasaannya?! Ia bahwa belum mengungkapkannya secara langsung.

Sehun menatap gadis itu. “Bora-ya…” panggilnya dengan agak ragu. Bora menoleh dan tersenyum. “Wae?” Tanya gadis itu lembut.

“Hokshi… neo ara? Eum… nae maeumi…”

Bora sedikit memiringkan kepalanya. “Hah? Aku tidak mengerti.”

Sehun berperang dalam hatinya. Haruskah ia mengungkapkan perasaannya sekarang? Apa ini saat yang baik? Apa ini memang sudah waktunya?

“Aku menyukaimu…”

Seperti tidak sinkron dengan hatinya, otaknya secara sepihak memerintahkan mulutnya untuk mengucapkan kata-kata sakral itu. Sehun sendiri bahkan kaget dengan ucapan yang beberapa detik lalu ia lontarkan itu. Pria itu menatap wajah Bora dengan cemas, apalagi melihat wajah gadis itu yang tampak tenang bak air di kolam.

“Kau… tidak kaget?” Sehun bertanya hati-hati.

Bora menggeleng dan kemudian menunjukkan senyuman manisnya. “Terima kasih Oh Sehun. Kau namja yang baik.”

“Lalu… bagaimana?”

“Bagaimana apanya?” Tanya Bora sembari mati-matian berusaha untuk menahan tawa. Sehun yang gugup seperti ini tampak sangat lucu dan sekaligus menggemaskan. Jarang-jarang ia bisa melihat namja keren dan popular macam Oh Sehun tampak gugup dan salah tingkah. Sebenarnya Bora sudah tahu mengenai perasaan Sehun padanya. Oh, jangan berpikir bahwa ia adalah cenayang! Kai yang memberitahunya saat di rumah namja itu tadi, ketika Sehun sedang ke toilet. Awalnya Bora sempat tidak yakin, namun ekspresi serius Kai telah meyakinkan gadis itu bahwa perkataan pria itu bukanlah bualan semata.

Sehun menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Pria itu mendesah frustasi, merasa tengah bertingkah sangat bodoh dan konyol didepan gadis yang disukainya. “Em… maksudku… kita ini bagaimana? Ah ani ani, maksudku… Ya Tuhan, kenapa susah sekali!” Rutuk Sehun.

Kali ini Bora tidak dapat menahan tawanya. Gadis itu terkikik geli. “Kau mengajakku untuk berpacaran, eo?”

“Ya! Tentu saja!” Seru Sehun antusias. Bahkan terlalu antusias.

Bora menatap Sehun serius. “Kau tahukan bagaimana hatiku saat ini? Apa kau tidak keberatan untuk menunggu?” Tanya Bora pelan. Tangan Sehun menggenggam jemari Bora lembut. “Kau tahu pasti bahwa aku takkan keberatan. Bukankah aku akan selalu disampingmu? Asal kau memberikanku kesempatan.”

Bora mengecup pipi Sehun. Itu hanya sebuah kecupan singkat, namun telah sukses membuat pria tampan yang biasa digandrungi wanita itu merasa senang luar biasa dan serasa ingin jumpalitan. Kedua muda mudi itu saling bertatapan sembari saling melemparkan senyuman. Yah, Bora memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Sehun, namja yang selama ini selalu menolongnya dan membantunya bahkan tanpa gadis itu minta. Masih segar diingatan Bora pertemuan pertamanya dengan Sehun ketika pria itu menolongnya dari amukan Kai saat di café, dan juga kejadian di diskotik yang nyaris menghancurkan hidupnya. Yah, Bora yakin bahwa tidak akan sulit baginya untuk menyukai Sehun. Namja itu adalah tipe namja yang mudah disukai.

 

*****

 

Bulir air yang berasal dari gelas plastik Americano ice milik Kris membasahi meja café yang ditempatinya. Pria itu mengangkat gelas plastik berlogo nama café tempatnya berada dan menyeruput minuman dingin nan menyegarkan itu sembari menatap fokus layar laptopnya. Sesekali dahi pria tampan itu akan mengernyit kala menemukan kendala atau kesalahan dilaporan tugas miliknya. Suara kursi yang digeser mengalihkan pandangan Kris dari layar laptopnya. Pria tampan itu mendongak dan mendapati Haneul tengah duduk manis dihadapannya.

“Annyeong oppa.” Gadis itu tersenyum manis.

“Annyeong. Lama tidak bertemu.” Balas Kris sopan sembari tersenyum kecil.

“Tidak keberatan kan jika aku duduk disini?”

“Sama sekali tidak.”

Kedua tangan Haneul saling bertautan. Kedua manik matanya fokus menatap Kris. “Kai bukan namja jahat.” Haneul berkata pelan. Kris langsung memfokuskan pandangannya kearah gadis itu. Moodnya langsung berubah jelek begitu topik mengenai Kai dibawa. “Oppa tidak sepatutnya melarang Boyoung eonnie untuk bertemu dengan Kai. Mereka…”

“Kai seorang pecandu narkoba, dan aku hanya berusaha untuk menjauhkan keluargaku dari segala macam bahaya dan pengaruh buruk. Apa aku salah?” Nada bicara Kris menjadi agak ketus.

Haneul menatap Kris dengan pandangan kecewa. Selama ini ia melihat dan mengenal Kris sebagai sosok pria dewasa, bertanggung jawab serta bijaksana. Namun kali ini pandangannya mengenai namja itu berubah.

“Kai memang pecandu narkoba, tapi dia bukan penjahat yang harus dibenci dan dijauhi. Dia namja baik. Dia hanya salah mengambil pilihan yang menyebabkannya terjerumus. Tapi dia sedang berusaha untuk berhenti.” Haneul tetap membela Kai, membuat Kris mendengus kesal. “Terserah apa katamu. Boyoung adalah adikku dan aku berhak melarangnya untuk bertemu dengan Kai atau Jongin atau apapun nama namja itu! Dan kau tidak berhak untuk ikut campur.” Tegas Kris sembari menatap Haneul tajam.

Tak dapat dipungkiri bahwa hati gadis itu sakit kala mendapat tatapan dan perlakuan dingin dari Kris, namja yang selama ini begitu ia kagumi. “Kumohon dengarkan aku kali ini saja, setelah itu aku akan pergi.” Haneul menatap Kris dengan pandangan memohon. Kris hanya diam, dan Haneul mengartikannya sebagai kesediaan Kris untuk mendengarkannya.

“Kai oppa memang seorang pecandu narkoba. Aku akui ia memang nakal dan kerap membuat onar. Ia melakukan itu karena masalah dengan keluarganya. Ia hanya butuh pelampiasan. Tapi aku jamin bahwa Kai oppa adalah namja yang baik. Aku sudah lama mengenalnya. Tidak penting apakah ia seorang pecandu atau bukan, yang terpenting adalah apakah ia mau berubah untuk menjadi lebih baik atau tidak. Dan Kai oppa sedang berusaha untuk berubah. Dan kau tahu siapa yang memotivasinya? Boyoung eonnie…” Haneul berkata lirih. “Boyoung eonnie dengan ketulusan dan kesabarannya mau menerima Kai oppa apa adanya. Disaat orang-orang menjauhinya karena dirinya yang seorang pecandu, namun Boyoung eonnie tanpa ragu tetap berada disampingnya, menemaninya dan bersedia membantu Kai untuk berubah menjadi lebih baik.”

“Orang-orang seperti Kai oppa butuh dukungan, bukannya malah dikecam dan dijauhi. Mereka memang pecandu narkoba, tapi mereka bukan penjahat. Saat ini, kehadiran Boyoung eonnie sangat diperlukan oleh Kai oppa. Boyoung eonnie adalah penyemangatnya dan alasan terbesar Kai oppa mengapa ia ingin sembuh. Aku bisa berbicara seperti ini karena aku juga pernah mengalami hal yang serupa. Kakakku, Oh Sehun, juga pernah menjadi pecandu narkoba. Sekarang ia sudah sembuh dan menjalani aktivitas normal seperti orang biasa. Bahkan ia telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Semua itu dapat terwujud karena adanya dukungan moril dari orang-orang terdekatnya dan juga adanya kesempatan kedua. Setiap orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua.”

Kris masih bungkam, namun batinnya kembali bergejolak. Haneul bukan orang pertama yang menentang keputusannya itu. Ayah dan Ibunya sudah terlebih dahulu melakukan hal tersebut. Namun kenangan masa lalu masih membekas dibenak Kris. Bagaimana benda laknat itu telah mengubah gadis yang dicintainya hingga menjadi sosok lain yang tak dikenalnya, dan benda laknat itu pula yang telah membawa gadis itu pergi jauh darinya.

“Aku yakin bahwa oppa tahu jika Boyoung menyukai Kai oppa. Dan asal oppa tahu jika Kai juga sangat menyukai Boyoung. Boyoung adalah gadis pertama yang bisa memberikan pengaruh besar pada Kai. Apa oppa tega memisahkan mereka?”

 

*****

 

Boyoung berpapasan dengan Kris di dapur, akan tetapi gadis itu memilih untuk mengabaikan Kris dan buru-buru pergi dari dapur.

“Berhenti bersikap seperti ini.” Suara yang sarat akan nada dingin itu menghentikan langkah Boyoung. Gadis itu menoleh kebelakang, menatap langsung kearah Kris yang berjarak tiga langkah darinya. Kris berjalan mendekati Boyoung. Sulit sekali untuk menelisik air wajahnya yang selalu sulit untuk dibaca. “Apa alasanmu menyukai pria itu?”

Boyoung terkesiap mendengar pertanyaan yang sama sekali tidak diprediksinya itu. Sadar bahwa Kris tengah menanti jawabannya, dengan gugup Boyoung pun menjawab, “Aku pun tidak mengerti mengapa aku bisa menyukai Jongin. Aku bahkan dulu sempat sangat takut padanya dan merasa bahwa aku harus menjauhinya. Keunde, semakin lama aku justru malah merasa nyaman berada didekatnya. Apalagi semenjak aku lebih mengenalnya. Aku yakin bahwa Jongin adalah namja yang baik. Aku sangat ingin mengubahnya menjadi pribadi yang lebih baik. Aku ingin ia bisa terlepas dari kecanduannya itu. Aku… aku ingin bersamanya…” Suara Boyoung terdengar amat sangat lirih dan begitu menyayat hati. Kedua mata sipitnya bahkan sudah berkaca-kaca.

Kris menatap wajah adik angkatnya itu. Cukup lama mereka berdua diam membisu.

“Apa kau sangat ingin bersamanya?” Tanya Kris.

“Ne.” Jawab Boyoung lirih.

Kris menghela napas pelan. “Pastikan jika dia memang bersungguh-sungguh ingin sembuh. Aku tidak ingin adikku berpacaran dengan seorang pecandu narkoba.”

Boyoung menatap Kris kaget dan juga haru. “Apa itu berarti oppa… oppa mengizinkanku untuk bertemu Jongin?” Tanya Boyoung pelan.

“Bantu dia untuk sembuh. Kurasa dia membutuhkanmu.”

Boyoung tersenyum haru. Setetes air mata jatuh dipipinya. Gadis itu spontan langsung memeluk Kris erat sembari berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada kakaknya itu. “Gomawo oppa… jeongmal gomawo…” Bisik Boyoung. Kris balas memeluk gadis itu sembari memejamkan matanya. Mungkin untuk sekarang ia memang belum bisa sepenuhnya untuk menerima Jongin, namun ia tidak ingin menjadi namja jahat yang tega menghancurkan hati adiknya. Sebisa mungkin ia akan berusaha untuk menerima bahwa adiknya mencintai seorang pecandu narkoba.

 

*****

 

Kai menatap koper berukuran besar yang diletakkan disudut kamarnya, dekat dengan pintu. Helaan napas terdengar dari mulutnya seraya ia membaringkan tubuhnya yang terasa begitu lelah dan lemas diatas ranjang. Pandangan matanya fokus menatap langit-langit kamar apartemen yang disewa oleh ibunya untuk mereka tinggali selama beberapa hari ini. Mereka terpaksa menyewa sebuah apartemen dikarenakan tuan Kim yang masih teguh pada pendiriannya untuk mendepak Kai dari rumah dan menghapus namanya dari daftar keluarga.

Mulai besok Kai akan menjalani kehidupan barunya didalam pusat rehabilitasi. Entah berapa lama ia akan berada disana. Kai berharap secepatnya ia bisa pergi. Ia bahkan sudah merasa tidak betah sebelum menginjakkan kakinya disana. Membayangkan bahwa ia akan terpisah dari teman dan keluarganya untuk beberapa waktu serta terperangkap bersama orang-orang yang senasib dengannya membuat namja itu merasa tidak nyaman. Terlebih karena hubungannya dengan Boyoung yang sampai detik ini belum jelas. Kai mencintai gadis itu. Tuhan tahu itu. Namun kondisi sekarang benar-benar tidak memungkinkan namja itu untuk mengungkapkan perasaannya. Ia bahkan tak tahu kapan dan harus bagaimana ia mengungkapkan perasaannya. Ia memang selalu digandrungi wanita, tapi sungguh, seumur hidup ia tidak berpacaran serius dengan seorang gadis. Bisa dibilang jika Boyoung adalah gadis pertama.

Rasa kantuk dan lelah mulai menyelimuti namja itu. Perlahan namun pasti matanya terpejam, dan dalam hitungan detik pria berkulit tan itu sudah tertidur nyenyak.

*****

Belaian lembut terasa dikepalanya, membuat tidur Kai agak sedikit terusik, namun ia tetap melanjutkan tidurnya. “Beri aku beberapa menit lagi bu. Aku masih mengantuk dan tubuhku lemas sekali.” Ucap Kai dengan suara parau khas orang baru bangun tidur.

“Jongin-ah, ayo bangun. Dua jam lagi kau harus berangkat.”

Kai tersentak begitu mendengar suara gadis yang sudah seminggu lebih ini tidak dapat ia temui. Dengan susah payah kedua matanya yang semula terpejam, kini terbuka lebar begitu mendapati Boyoung yang tengah tersenyum manis padanya. Saking kagetnya, Kai bahkan sempat berpikir jika ia sedang berada didalam mimpi. Bagaimana mungkin gadis ini bisa ada di kamarnya, dihadapannya?

“Kau… disini?” Hanya kalimat itu yang mampu dilontarkan oleh bibir Kai.

Boyoung tersenyum. “Ne, seperti yang kau lihat. Aku disini sekarang.”

“Kris?”

“Dia bilang kau harus sembuh jika masih ingin menemuiku.”

Senyum Kai perlahan merekah. “Jadi, dia sudah tidak marah lagi? Dia mengizinkan kita untuk bertemu?”

“Aku takkan ada disini jika ia masih marah.” Boyoung tertawa kecil. “Berjanjilah bahwa kau akan melakukan yang terbaik untuk sembuh.”

“Asal kau disisiku.” Ucap Kai serius. Mendadak aura diantara mereka berubah agak canggung. Boyoung bangkit dari duduknya. “Ja, kau harus bersiap-siap. Yang lainnya sudah menunggu dibawah untuk sarapan bersama.” Ujarnya, namun Kai cepat-cepat menahan pergelangan tangan Boyoung sebelum gadis itu sempat beranjak pergi.

Ada banyak hal yang ingin dia ungkapkan, namun terasa begitu sulit. Lidahnya begitu kelu. Terkadang Kai merasa miris pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dirinya yang biasanya selalu tenang, bahkan disaat berhadapan dengan geng sekolah lain yang membawa senjata tajam, namun kali ini menjadi risau dan gugup luar biasa hanya karena seorang gadis mungil yang bahkan tingginya tidak lebih dari bahunya. Ini gila!

Boyoung kembali duduk di pinggir ranjang karena Kai tidak juga membuka suara ataupun melepas genggaman tangannya. “Waeyo?” Tanya gadis itu dengan wajah gugup.

‘Masa bodoh soal waktu dan saat yang tepat! Sekarang atau tidak sama sekali!’ Batin Kai.

Dengan penuh kesungguhan, kedua mata namja itu menatap Boyoung intens. “Kau tahu, aku takkan bisa pergi dengan tenang sebelum mengatakan hal ini padamu. Kurasa kita sama-sama tahu bagaimana perasaan kita satu dan yang lainnya. Meskipun begitu, aku ingin memulainya dengan cara yang tepat.” Kai berhenti sejenak, lalu menarik napas dalam, berusaha untuk menenangkan dirinya. “Saranghae. Aku tahu bahwa aku terkesan tidak tahu diri karena telah mencintaimu. Kau, gadis baik-baik, sedangkan aku… semua orang pasti akan bilang bahwa kita tidak cocok. Kau terlalu baik untukku. Tapi… aku hanya ingin kau. Sungguh, aku sudah berusaha untuk mengabaikan perasaan ini. Aku tak ingin menarikmu semakin jauh dalam kehidupan gelapku, namun aku tak bisa. Aku sadar bahwa kehadiranmu-lah yang sangat kuinginkan. Jadi, izinkanlah aku untuk kembali bersikap egois… Maukah kau… menjadi kekasihku?”

“Jongin-ah…” Boyoung menatap Kai penuh haru. Itu adalah kalimat termanis dan teromantis yang pernah seorang namja ucapkan padanya. Kai agak meremas kedua tangan Boyoung yang berada didalam genggamannya. Dia butuh jawaban gadis itu sekarang juga untuk membuat hatinya yang sesak menjadi lega.

“Jadi… bagaimana?” Tanya Kai.

Boyoung mengangguk sembari tersipu malu. Dan sebuah anggukan itu sukses membuat hati Kai yang semula sesak menjadi lega dan lapang. Kai tersenyum, yang sumpah demi apapun terlihat sangat menawan. Pria itu mengelus kepala Boyoung dengan penuh sayang. Lega dengan fakta bahwa gadis yang dicintainya itu mulai detik ini telah resmi menjadi miliknya. Kai mendekatkan bibirnya ke dahi gadis itu, dan sebuah kecupan lembut mendarat disana. “Terima kasih.” Bisik Kai.

 

*****

 

6 Months Later

_@Wu’s Family House, 08:56 PM, Seoul_

Pintu kayu nan kokoh itu terbuka, menampakkan sesosok namja tampan bertubuh tinggi.

“Annyeong hyung.”

“Ah, kau. Masuklah Boyoung sudah menunggu didalam.” Kris mempersilahkan Kai untuk masuk kedalam rumahnya.

“Neo wasseo!” Ujar Boyoung gembira dan kemudian gadis itu berlari kecil menghampiri Kai. Kai mengusap kepala Boyoung penuh sayang dan mengelus pipi gadis itu singkat. “Apa kau sudah siap? Mana kopermu?” Tanya pria itu.

“Dia bahkan sudah siap sejak subuh tadi.” Celetuk Kris. Boyoung mendelik kesal kearah oppanya itu, agak malu karena ketahuan jika ia sangat menanti acara liburan mereka. Kai terkekeh kecil dan lagi-lagi kedua tangannya tanpa bisa ditahan kembali mengusap kepala Boyoung.

“Aku sudah siap. Koperku ada disana.” tunjuk Boyoung kearah kopernya yang diletakkan didekat sofa. “Tadi Bora mengirimkan pesan bahwa ia dan Sehun sedang dalam perjalanan menuju Bandara. Kurasa lebih baik kita juga berangkat sekarang.”

Kai menyeret koper kecil Boyoung dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menggenggam jemari mungil gadisnya itu.

“Kami pergi dulu oppa.” Ujar Boyoung dan kemudian mengecup pipi Kris yang dibalas dengan usapan lembut dikepala gadis itu. Sepertinya semua orang sangat suka mengelus kepala Boyoung. Kris mengikuti sepasang kekasih itu sampai keluar. “Selamat bersenang-senang.” Pria itu melambaikan tangan. “Dan Kai!” Panggilnya yang membuat Kai menoleh. “Jangan berbuat macam-macam pada adikku, ara! Atau kau akan tahu akibatnya.” Ancamnya. Kai tersenyum seraya mengancungkan ibu jarinya. “Jangan khawatir, hyung. Kau bisa membunuhku jika itu terjadi.”

“Baiklah, kami pergi. Sampai bertemu lima hari lagi, hyung!”

 

*****

 

_@Jeju Island, 05:00 AM_

“Ini bahkan masih gelap, Sehun. Kenapa kau mengajakku kesini? Aku masih sangat mengantuk.” Ujar Bora agak kesal sembari mengucek matanya yang sebenarnya masih ingin terpejam. Sehun tersenyum kecil melihat tingkah sang kekasih yang menurutnya menggemaskan itu. Sehun mengeratkan genggaman tangannya. “Kau pernah bilang jika ingin melihat matahari terbit, kan? Kudengar matahari terbit di pantai ini sangat indah. Kau pasti suka.” Ucapnya.

Seketika perasaan kesal Bora menguap entah kemana berganti dengan rasa senang atas perhatian kecil yang ditunjukkan Sehun kepadanya. Bora sadar bahwa ia sudah mengambil keputusan yang tepat untuk menerima Sehun sebagai kekasihnya. Selama enam bulan menjalin kasih, tidak ada hari tanpa kebahagian, kasih sayang serta perhatian yang Sehun berikan kepadanya. Sehun benar-benar tahu bagaimana cara membuat dirinya jatuh kepelukan namja itu.

“Gomawo.” Ucap Bora tulus.

Sehun menggeleng. “Sunrise-nya bahkan belum muncul.” Pria itu berkata sambil tersenyum.

Mereka berdua duduk diatas pasir yang lembut sembari menatap laut yang tampak tenang. Jemari mereka masih saling bertautan. Tidak ada satupun yang mau melepaskannya. Sesekali Sehun akan mencuri pandang kearah Bora. Bahkan disaat baru bangun tidur dan tanpa riasan sedikitpun, Bora masih tetap terlihat cantik. Dan Sehun berbangga hati kala sadar bahwa gadis cantik itu adalah kekasihnya.

“Wae miso?” Bora menatap Sehun penasaran. Sehun menggeleng. “Aniya. Hanya sedang mengingat suatu hal yang membahagiakan.” Jawabnya. Bora masih ingin bertanya, namun mengurungkan niatnya begitu Sehun dengan sumringah menunjuk kearah laut.

“Lihat, sunrise-nya muncul!” Seru Sehun.

Bora langsung menoleh dan seketika gadis itu terkesima. Sehun benar. Sunrise-nya tampak begitu indah. Gadis itu berdecak kagum dalam hati. Cahaya matahari yang berwarna keemasan perlahan namun pasti bersinar menyambut pagi. Cahaya-nya yang lembut dan menghangatkan menyapa kedua muda mudi itu. Sehun menoleh dan mendapati Bora sedang tersenyum manis. Sinar matahari yang tidak terlalu benderang itu menyinari wajah cantiknya. “Jeongmal yeppeo.” Puji Sehun.

Bora mengangguk. “Ne, sunrise-nya begitu indah.” Ucap gadis itu.

“Aniya, aku bukan berbicara tentang sunrise-nya, tapi tentangmu.”

Perkataan Sehun membuat Bora sontak langsung menoleh kearah namja itu. Sehun tersenyum menawan. “Jeongmal yeppeo… neo.” Ia kembali mengulangi pujiannya tadi. Jantung Bora berdebar dengan kencang. Apalagi ketika dengan perlahan Sehun menyentuh lehernya dan kemudian mendekatkan wajah mereka. Jantung gadis itu semakin bergemuruh kencang dan perutnya terasa geli, seperti ada jutaan kupu-kupu berterbangan. Dan anehnya, Bora menyukai sensasi yang tidak biasa itu.

Bibir Sehun dengan lembut menekan bibir Bora. Pria itu sempat mendiamkan bibirnya selama beberapa detik, sebelum dengan perlahan mulai melumat bibir tipis Bora. Tanpa diperintah Bora memejamkan matanya. Tangan gadis itu menyentuh rahang Sehun, merasakan rahang tegas itu bergerak perlahan seiring dengan lumatan yang dilakukan Sehun. Pria itu baru menjauhkan wajahnya kala merasa membutuhkan pasokan oksigen. Bibir mereka memang tidak lagi bersentuhan, namun wajah keduanya masih sangat dekat dengan dahi yang saling bersentuhan. Seulas senyum tersungging dibibir Bora kala menyadari bahwa ia baru saja melakukan ciuman pertamanya ditemani oleh sunrise yang begitu indah. Ini sungguh romantis.

“Saranghae…” Bisik Sehun.

“Nado.” Balas Bora sembari tersenyum manis.

 

*****

 

Sehun dan Kai berbaring santai dengan ditimbuni pasir pantai hingga menutupi seluruh badan mereka kecuali kepala. Sedangkan oknum pelaku, Bora dan Boyoung, sedari tadi sibuk mengambil foto kekasih mereka sembari tertawa cekikikan.

Dengan isengnya Bora menyematkan sekuntum bunga yang tadi ia petik ke telinga Sehun. Seketika tawa kedua gadis itu kembali meledak. “Kau tampak imut sekali.” Ujar Boyoung. Gadis itupun tidak mau kalah. Ia melepas jepitan bunga berwarna merah menyala yang semula menjepit rambutnya dan kemudian memakaikannya di rambut Kai. “Nah, sekarang kau juga tidak kalah imutnya dari Sehun.”

Kai dan Sehun pasrah menerima kejahilan kekasih mereka. Toh, sebenarnya diam-diam kedua namja itu sangat menikmati momen kebersamaan seperti ini.

“Sudah puas menjahiliku nona kecil?” Tanya Kai pada Boyoung yang masih asyik mengambil gambar dirinya dengan kamera polaroid. Boyoung menggeleng disertai senyuman jahilnya. “Belum. Ini belum seberapa.”

“Lakukanlah apapun yang kau inginkan. Hari ini aku sedang berbaik hati.” Ujar Kai.

“Dengan senang hati tuan Kim.”

Kai tertawa kecil. Dirinya begitu menantikan liburan mereka ini. Terkurung selama enam bulan didalam panti rehabilitasi yang membuatnya jauh dari dunia luar bukanlah hal yang menyenangkan. Dua minggu yang lalu dirinya resmi dinyatakan sembuh dan boleh keluar dari panti. Dengan semangat ia langsung merencanakan untuk menghabiskan liburan bersama ketiga orang yang dikasihinya ini. Sekarang Kai benar-benar sudah terbebas dari jeratan benda laknat itu. Hasil yang setimpal dengan kesakitan dan penderitaan yang ia alami semasa proses penyembuhan. Dirinya yang sudah cukup lama mengonsumsi barang haram itu, menjadi kendala yang cukup besar dalam proses penyembuhan. Tidak sekali dua kali pikiran untuk menyerah terlintas dibenak namja itu.

Akan tetapi kehadiran Boyoung dan dukungan dari sahabat serta keluarganya menguatkan dirinya. Boyoung juga cukup rutin mengunjunginya. Gadis itu menepati janjinya untuk terus berada disisi Kai dan tidak meninggalkannya. Disaat ia nyaris menyerah karena rasa sakit yang membelenggu dirinya, Boyoung akan datang dan memberikan pelukan hangatnya. Semua perhatian tulus gadis itu menjadi obat tersendiri untuk Kai.

 

*****

 

Jemari tangan Boyoung membelai helaian rambut Kai dengan lembut. Gadis itu bisa merasakan tekstur halus rambut Kai ditangannya, membuatnya betah berlama-lama memainkan rambut pria itu. Kai tampak berbaring nyaman dengan paha Boyoung sebagai bantal kepala namja itu.

“Kau ini bagaimana sih, liburan malah sakit.” Ucap Boyoung.

“Ini sudah takdir Tuhan.” Jawab Kai asal. Matanya masih terpaku ke layar televisi yang tengah menayangkan sebuah acara komedi.

Sehun dan Bora pergi ke pameran seni yang diadakan di lapangan dekat hotel mereka menginap, meninggalkan Boyoung dan Kai di hotel. Pada awalnya Kai dan Boyoung juga sudah berencana untuk turut serta, namun apa mau dikata. Menjelang malam tadi, tepatnya setelah mereka pulang dari pantai, tubuh Kai tiba-tiba terasa panas. Namja itu juga mengeluh pusing sehingga Sehun dan Bora terpaksa hanya pergi berdua, meninggalkan Boyoung dan Kai didalam kamar hotel yang layaknya apartemen mini itu.

“Masih pusing?” Tanya Boyoung perhatian.

“Tidak terlalu. Sepertinya obatnya manjur.” Jawab Kai. Pria itu tiba-tiba mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang sehingga kedua manik matanya langsung bertatapan dengan kedua manik mata Boyoung. Kai sempat terdiam sejenak, menikmati wajah gadis yang begitu berarti baginya itu. Sesaat kemudian Kai bangun dari posisi berbaringnya. “Mau kemana?” Tanya Boyoung begitu Kai berdiri.

“Mengambil sesuatu.” Jawab Kai, kemudian berlalu menuju kamarnya dan Sehun diiringi dengan tatapan penasaran Boyoung. Tak lama pria itu kembali. Bukannya duduk disamping Boyoung, Kai justru bersimpuh didepan gadis itu, membuat Boyoung kaget. “Wae ire? Ayo duduk disini.” Gadis itu menarik tangan Kai, namun pria itu tetap diposisi awalnya. Boyoung semakin kaget ketika Kai menyodorkan sebuah kotak kecil beludru berwarna navy kepadanya. Tanpa bertanya pun Boyoung bisa menebak jika itu adalah kotak cincin. Tapi, kenapa Kai membawa-bawa benda seperti itu?

‘Ya Tuhan, apa ia ingin melamarku dan mengajakku menikah sekarang?!’ Batin Boyoung histeris. Ia memang mencintai Kai, namun untuk melangkah ke jenjang pernikahan sama sekali belum terlintas dipikirannya. Ia bahkan baru saja duduk dibangku perkuliahan. Menikah jelas bukan menjadi tujuan hidupnya untuk saat ini.

Sadar bahwa ia tengah membuat gadisnya nyaris terkena serangan jantung, Kai tersenyum sembari mengusap pipi Boyoung lembut. “Hei, jangan memasang wajah panik seperti itu. Ini memang cincin, tapi bukan berarti aku akan mengajakmu menikah dalam waktu dekat ini. Aku masih harus menyelesaikan tahun terakhir SMA-ku yang sempat terbengkalai.” Ujar Kai, kemudian membuka kotak cincin tersebut dan mengeluarkan sebuah cincin berdesain sederhana namun tetap terlihat bagus dan mewah. Pria itu mengambil tangan Boyoung dan menyematkan cincin tersebut di jari manis sang gadis. “Ini sebagai tanda bahwa kau adalah milikku.” Ucapnya sembari menatap Boyoung penuh cinta.

Boyoung tersenyum penuh haru. “Gomawo. Cincinnya sangat indah.”

Kai menatap Boyoung intens. “Boyoung-ah, berjanjilah bahwa kau akan selalu bersamaku apapun yang terjadi dan kelak kau harus menikah denganku.” Pinta Kai. “Ah, dan aku hanya menerima kata ‘ya’ atau ‘bersedia’.” Tambahnya lagi, membuat Boyoung tertawa kecil. “Dasar namja pemaksa.”

“Yah, kau mengenalku dengan sangat baik. Jadi, bagaimana?”

“Kurasa tanpa perlu kujawab kau sudah tahu apa jawabanku, bukan begitu tuan muda Kim?”

Kai tertawa seraya menarik tubuh Boyoung kedalam pelukannya. “Kau sudah kutawan selamanya, jadi kau tidak bisa pergi.” Gumamnya ditelinga Boyoung. Boyoung mengusap punggung Kai penuh sayang. “Aku tidak pernah berniat untuk pergi.”

Senyum Kai semakin sumringah. “Gadis pintar.” Ucapnya dan kemudian ia mencium bibir Boyoung, agak sedikit melumat bibir mungil gadis itu. Masih dengan bibir yang bertautan, Kai beranjak duduk diatas sofa, lalu menarik Boyoung untuk duduk dipangkuannya. Kedua tangan gadis itu secara otomatis melingkari leher Kai, sedangkan kedua tangan Kai melingkari pinggang Boyoung guna untuk menjaga agar tubuh gadis itu tidak terjatuh. Ciuman mereka semakin dalam seiring dengan bunyi kecapan yang terdengar. Ciuman yang sarat akan rasa cinta itu menghantarkan kehangatan ke seluruh tubuh serta memberikan sensasi yang tentunya sangat menyenangkan.

“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.” Bisik Kai penuh cinta disela-sela ciuman mereka.

“Aku juga sangat mencintamu, Jongin-ah… Sangat…”

 

 

-The End-

Finally it comes to the end 🙂 Setelah hampir sebulan (atau malah mungkin udah sebulan :p) aku berhasil menyelesaikan chapter terakhir ini. Aku baca komen-komen kalian yang mostly protes soal couple di FF ini. Bukannya ga mau ngabulin request kalian yg pengen Kai sm Bora, tapi emang dari awal aku udh bikin ceritanya kalo Kai sama Boyoung. Mungkin kalian semua terlanjur suka Kai sama Bora krn emg diawal-awal banyak bgt momen mereka. Tapi kalo diperhatiin lagi, sejak awal Kai memang ga pernah suka sama Bora. Dia emg sempat tertarik sama Bora, tapi itu cuma sebatas teman. Dan itu karena Bora adalah satu-satunya cewek yang pernah nyari masalah sama dia makanya Kai jadi penasaran gitu.

Yah, pokoknya endingnya seperti ini. Mau suka atau ga, itu adalah hak kalian sebagai pembaca. Makasih banyak udh selalu baca dan komen di ff ini. Maaf juga kalo selama ini udh bikin kalian jamuran lantaran nunggu ff gaje ini dipost. Semoga kalian ga bosen baca karya-karya aku yang selanjutnya. Oh iya, bagi reader yg juga ngikutin cerita Dark Side, aku mau ngasih tau kalo FF itu juga bakalan tamat di next chapternya. Sekali lagi makasih banyak atas dukungan kalian.

See you soon~

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

3 tanggapan untuk “Crashed (Part 15 – END)

  1. Dear all of my readers,
    aku punya kabar buruk 😦 aku ga bisa log in ke akun ini lagi lantaran aku ga nerima SMS verification code dari wordpress. aku udh ga tau lg harus gimana. Ini udah berlangsung selama 4 hari 😦 Sumpah, ini suck bgt! aku memulai akun ini udh dari 6 tahun lalu, dan tiba2 kehilangan akses gitu aja. pas minta bantuan dari team wordpress, mereka cuma kasi form pengaduan yg ga guna bgt!!! Skrg aku cuma berharap kalo ini ga permanent dan segera mungkin aku bisa akses akun ini lg. Jd untuk jaga2 aku bakalan posting ff di akun wattpad aja.

    https://www.wattpad.com/user/Kyula88

    Feel free to visit krn kalo akun WP ini ttp ga bisa diakses, aku bakalan posting lanjutan ff di wattpad aja. Mohon doanya supaya akun ku bs balik 😥

  2. Dear all of my readers,
    aku punya kabar buruk 😦 aku ga bisa log in ke akun ini lagi lantaran aku ga nerima SMS verification code dari wordpress. aku udh ga tau lg harus gimana. Ini udah berlangsung selama 4 hari 😦 Sumpah, ini suck bgt! aku memulai akun ini udh dari 6 tahun lalu, dan tiba2 kehilangan akses gitu aja. pas minta bantuan dari team wordpress, mereka cuma kasi form pengaduan yg ga guna bgt!!! Skrg aku cuma berharap kalo ini ga permanent dan segera mungkin aku bisa akses akun ini lg. Jd untuk jaga2 aku bakalan posting ff di akun wattpad aja.

    https://www.wattpad.com/user/Kyula88

    Feel free to visit krn kalo akun WP ini ttp ga bisa diakses, aku bakalan posting lanjutan ff di wattpad aja. Mohon doanya supaya akun ku bs balik 😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s