Diposkan pada Chapters, KyuYeon (Kyuhyun Jiyeon)

Hoot (Part 7)

1433078949051

Author : Cho Haneul
Title      : HOOT
Type      : Chaptered
Genre    : Romance, Comedy, Friendship

Cast :
– Nam Ji Hyun
– Lee Dong Hae
– Park Ji Yeon as Kim Ji Yeon
– Cho Kyu Hyun
– Byun BaekHyun
– Kim Woo Bin
– Kris Wu
– Lee Jonghyun
– Kim Taeyeon

___________________________________________

Donghae terlihat gusar setelah kejadian tadi. Entah apa alasannya. Jihyun sama sekali tidak dapat menebak. Sejumput harapan muncul dibenaknya, berharap bahwa Donghae terlihat gusar karena pria itu cemburu melihat Baekhyun yang kembali berusaha untuk mendekati dirinya. Akan tetapi harapan itu buru-buru Jihyun hapus sebelum melambung terlalu tinggi dan nantinya hanya akan jatuh berserakan kala fakta berbanding terbalik dengan harapan.

Walhasil, gadis itu hanya diam dan membiarkan tangannya masih berada dalam genggaman Donghae. Mereka berjalan menuju lapangan parkir diiringi oleh berpasang-pasang mata yang menatap mereka berdua dengan iri. Yah, tentunya itu adalah berpasang-pasang mata milik fans dari Lee Donghae. Mereka harus pasrah menerima namja idola mereka tengah terang-terangan menggandeng tangan gadis lain.

Mereka sudah berada didalam mobil, namun Donghae tidak langsung menyalakan mesin. Alih-alih pria itu menoleh menatap intens kedua bola mata Jihyun. Sumpah, menurut Jihyun kedua bola mata coklat itu adalah kedua mata yang terindah yang pernah dilihatnya. Oke, ia mulai menjadi semakin puitis sekarang. Mungkin pengaruh novel serta drama roman yang ditontonnya.

“Jihyun-ah…” Panggil Donghae. Jihyun hanya bergumam. Bibirnya terlalu kelu untuk sekedar menjawab kecil. “Aku tidak suka melihatmu bersama si namja pendek itu. Kau tidak lupa kan bahwa kita melakukan ini semua untuk memberinya pelajaran karena sudah menyia-nyiakan dirimu?”

“Tentu saja tidak. Tadi dia sendiri yang menghampiriku. Akupun kaget mendapatinya berkata demikian. Dasar pria aneh!” Jihyun mengerucutkan bibirnya kesal. Wajah Donghae masih terlihat serius. “Kau… tidak berencana untuk berubah pikiran, kan?” Tanya pria itu pelan.

“Mwo? Tentu saja tidak! Apa yang telah ia lakukan padaku adalah dosa besar. Lagipula aku sudah hilang rasa padanya.” Ujar Jihyun.

Diam-diam Donghae menghela napas lega. Jihyun tidak tahu saja bagaimana jantungnya nyaris copot saat Baekhyun meminta kesempatan kedua pada Jihyun yang berarti bahwa pria itu mulai tertarik pada gadis yang sedang menjabat sebagai kekasih pura-puranya ini.

“Kalau begitu, jangan pernah berbicara dengannya lagi. Kalau bertemu berpura-pura saja tidak mengenalnya, ara!”

Bak kerbau dicucuk hidungnya, Jihyun mengangguk patuh. Dirinya sendiri bahkan tak mengerti mengapa ia bisa sepatuh itu dengan Lee Donghae. Padahal mereka tidak memiliki hubungan spesial apapun. Dan disatu sisi pun Donghae juga merasa heran mengapa ia harus melarang Jihyun untuk bertemu Baekhyun? Ia tak punya hak untuk melakukan hal tersebut. Jihyun bukan gadisnya. Gadis itu bebas untuk bertemu dengan namja manapun dan bahkan berpacaran dengan namja manapun.

 

*****

 

Kyuhyun terbangun dengan kepala yang berdenyut sakit. Efek demam yang tengah dideritanya.

“Sudah bangun ternyata.”

Kyuhyun terlonjak kaget mendengar suara yang begitu familiar baginya itu. “Jiyeon? Kau disini?” pertanyaan bodoh itu meluncur bebas dari bibir pucat Kyuhyun. Pria yang biasanya selalu mengeluarkan omongan pintar nan berbobot itu kini tak ada bedanya dengan orang bodoh sekalipun. Ini semua hanya karena gadis yang disukainya ada didepan mata.

“Tentu saja aku disini. Kalau bukan aku siapa lagi? Hantu?” Ujar Jiyeon cuek. Gadis itu duduk dipinggir ranjang Kyuhyun, kemudian memegang dahi Kyuhyun. “Masih panas.” Gumam Jiyeon. “Mau minum?” Tanyanya lagi yang dijawab dengan anggukan oleh Kyuhyun. Tenggorokannya memang terasa kering. Dengan telaten Jiyeon membantu Kyuhyun duduk dengan bersandar dikepala ranjang. Sebelah tangan gadis itu memegang gelas berisi air mineral dan meminumkannya kepada Kyuhyun dengan tak kalah lembut serta telaten.

“Terima kasih. Omong-omong, bagaimana kau bisa ada disini?”

Jiyeon menggeleng kecil. “Kau demam kan oppa, bukan amnesia? Kau lupa hari ini kau menyuruhku datang ke rumahmu karena kau mau membantuku mengerjakan tugas statistikku? Dan tadi Ahra eonni yang membukakan pintu.”

“Ah, majayo. Aku lupa. Ya sudah, kalau begitu…”

“Tidurlah. Keadaanmu tidak memungkinkan untuk mengajariku.”

“Tidak apa. Aku masih sanggup.” Kyuhyun bersikeras. Pria itu baru bungkam setelah dihadiahi tatapan tajam nan menggemaskan ala Kim Jiyeon, membuat Kyuhyun lebih ingin tertawa geli daripada ketakutan. “Aku bilang tidur, ya tidur! Jangan membantah!” Ucapnya seperti seorang yang ditaktor. Kyuhyun tersenyum samar. Diam-diam begitu menikmati perhatian yang diberikan oleh calon kekasihnya ini. Jiyeon memang tidak pernah menyuarakan secara gamblang, namun Kyuhyun tahu dan sadar jika gadis itu tengah membuka hati untuk dirinya. Terlihat dari sifat serta sikap Jiyeon yang cukup tampak perubahannya.

“Yeon…”

“Mwo?”

“Kemarilah!” Kyuhyun mengulurkan tangannya yang kemudian disambut hangat oleh Jiyeon. Kyuhyun menempatkan tangan gadis itu ke dahinya yang panas. Tangan Jiyeon terasa sejuk hingga membuat dirinya merasa nyaman. “Tanganmu dingin.” Ucap Kyuhyun.

“Aku baru mencuci tanganku tadi.” Jawab Jiyeon pelan sembari sesekali mengelus dan memijat dahi Kyuhyun. Pijatan itu berhasil agak mengurangi rasa pusing yang mendera kepala Kyuhyun. Tanpa sadar pria itu kembali jatuh tertidur nyenyak. Jiyeon tersenyum lembut kala menyadari bahwa Kyuhyun telah kembali tertidur. Sejak beberapa saat yang lalu, tepat ketika ia masuk ke kamar Kyuhyun dan menemukan pria itu sedang terlelap, sejak saat itu pula Jiyeon jatuh cinta pada wajah pulas Kyuhyun. Bahkan sebelum Kyuhyun bangun tadi, gadis itu menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk memandangi wajah Kyuhyun.

 

*****

 

Tahu hal yang lebih menyebalkan dibanding dengan kuis dadakan dari dosen?

Bagi Jihyun hal yang lebih menyebalkan daripada kuis dadakan adalah berada dikelompok panitia yang sama dengan Byun Baekhyun. Fakultas mereka akan mengadakan acara amal yang nanti hasilnya akan disumbangkan ke yayasan kanker. Sialnya, Jihyun malah mendapati dirinya berada dalam kelompok panitia yang sama dengan Baekhyun, manusia yang saat ini paling ia hindari. Sayangnya Jihyun tidak punya pilihan lain selain dengan pasrah menerimanya. Toh memang sejak awal ia yang mengajukan diri untuk menjadi panitia.

Saat rapat pengurus Jihyun dapat merasakan Baekhyun yang diam-diam mencuri pandang padanya. Meskipun merasa terganggu, tapi Jihyun memutuskan untuk tidak peduli. Biarkan saja namja itu terus menatapnya!

Rapat yang hanya berdurasi satu jam itu terasa bagaikan berjam-jam bagi Jihyun. Gadis itu sudah tak sabar untuk segera hengkang dari sana. Maka dari itu, ketika rapat resmi berakhir, Jihyun dengan sigap langsung meraih tasnya dan bergegas pergi. Hari sudah malam ketika gadis itu keluar dari ruang rapat, ditambah hujan yang sejak dua puluh menit lalu mengguyur kota Seoul. Jihyun mendesah pelan. Niatnya untuk segera pulang mendadak luntur kala melihat cuaca yang tidak bersahabat. Gadis itu sedang malas untuk berbasah-basahan menerobos hujan. Akhirnya Jihyun memutuskan untuk menunggu hujan reda dengan duduk manis di lobby gedung kampus.

“Tidak pulang? Padahal tadi kau terlihat sudah tidak sabar untuk keluar dari ruang rapat.” Tiba-tiba Baekhyun datang dan mengajak Jihyun mengobrol layaknya teman dekat. Jihyun mendengus, dalam hati mencibir Baekhyun. ‘Memangnya dia pikir gara-gara siapa aku tak betah berada disana?!’

“Aku tanya kenapa kau tidak pulang?” Baekhyun kembali mengulang pertanyaannya karena tak digubris oleh Jihyun. Jihyun mengisyaratkan Baekhyun untuk melihat keadaan diluar dengan menggunakan dagunya. “Hujan deras.” Jawab Jihyun singkat. Terlalu singkat bahkan.

Bukannya prihatin, Baekhyun justru tersenyum senang. “Ya sudah, bagaimana jika kau pulang denganku saja? Aku membawa mobil kok.” Ajak Baekhyun.

“Tidak perlu. Aku bisa menunggu hingga hujannya reda.”

“Meskipun harus menunggu semalaman?”

Jihyun mengangguk mantap. “Ya, meskipun harus menunggu semalaman.” Jawabnya tanpa mau diganggu gugat. Baekhyun terdiam, bingung harus bagaimana lagi untuk bisa membujuk Jihyun agar mau pulang bersamanya. Pada akhirnya namja itu tetap berdiri mematung disana seperti orang linglung. Suasana diantara mereka semakin canggung. Beruntung tidak hanya ada mereka berdua disana. Beberapa peserta rapat tadi juga ada yang menunggu hujan reda disana.

Meskipun wajah Jihyun tampak tenang dan datar, namun didalam hati gadis itu agak merasa cemas dan was-was. Ia takut jika hujan tak kunjung berhenti hingga larut malam nanti. Dan maaf saja, ia takkan sudi untuk diantar pulang oleh Baekhyun. Minta tolong adiknya, Junhong, juga percuma. Junhong tidak bisa mengendarai mobil. Sehari-hari adiknya itu menggunakan motor sebagai kendaraannya untuk berpergian. Disela-sela rasa khawatirnya, Byun Baekhyun kembali menawarkan tumpangan gratis. Dan seiring dengan malam yang semakin larut, maka tawaran Baekhyun terdengar menjadi lebih menggiurkan daripada sebelumnya. Jihyun tidak langsung menjawab. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling lobby, mencari-cari seseorang yang bisa dimintai tumpangan. Sayangnya orang-orang yang berada disana tidak terlalu dikenalinya, dan sekalinya kenal, rumah orang itu tidak searah dengannya hingga membuat Jihyun merasa tak enak jika harus meminta tolong.

“Jadi, bagaimana?” Baekhyun kembali bertanya.

Jihyun menatap hujan diluar sembari menimbang-nimbang apakah keputusan yang akan diambilnya ini sudah tepat. ‘Ah, toh aku hanya menumpang pulang. Lagipula bukan aku yang minta, tapi si babo ini yang menawarkan.’ Batin Jihyun.

“Huft, baiklah.”

Baekhyun langsung tersenyum sumringah bak baru saja memenangkan lotre. Ada rasa bangga dihatinya karena Jihyun menerima tawarannya untuk pulang bersama. Bagi Baekhyun jawaban Jihyun itu mencerminkan bahwa sebenarnya gadis itu tidak benar-benar membencinya. Masih ada kesempatan kedua baginya. Yah, tentunya itu hanya ada dibenak Baekhyun.

 

*****

 

Dan sumpah, jika Jihyun tahu jadinya akan seperti ini, maka ia lebih baik pulang dalam keadaan basah kuyup!

Taeyeon menatap Jihyun sinis, sangat sinis sehingga rasa-rasanya wajah gadisnya itu akan menyaingi wajah kejam ibu tiri. Tak ayal Jihyun meringis dalam hati. Taeyeon tidak sendirian. Ada sahabatnya, Tiffany, yang selalu mendukung dan membantu gadis itu dalam setiap hal. Termasuk dalam urusan melabrak orang.

“Ya! Kau dasar hoobae tidak tahu malu! Bagaimana mungkin kau berani menggoda kekasih sunbaemu sendiri, eo?! Gosh, people these days!” Ujar Tiffany dengan logat Koreanya yang aneh, namun dengan tambahan bahasa Inggris yang memukau siapapun yang mendengarnya. Maklum, gadis cantik itu lahir dan besar di Amerika.

“Aku tidak menggoda kekasih siapapun. Baekhyun yang menawarkan diri untuk mengantarku pulang.” Bela Jihyun.

Tiffany mendengus. “Dan kau menerimanya begitu saja? Padahal kau tahu dengan jelas jika Baekhyun sudah memiliki kekasih.”

“Dia memaksa. Lagipula kami hanya pulang bersama, bukannya bermalam di Hotel.” Ceplos Jihyun asal, membuat Taeyeon semakin meradang. “Aku tahu kau pasti tengah berusaha untuk merebut Baekhyun kembali, bukan?! Apa Lee Donghae masih kurang? Ah, aku tahu, kau pasti berusaha untuk balas dendam karena sudah dicampakkan oleh Baekhyun, keuchi?”

Kedua tangan Jihyun mengepal sempurna. “Mwo? Maaf sunbae, keunde itu tidak benar. Lagipula kau pikir saja. Untuk apa aku masih berusaha untuk mendekati Baekhyun jika aku telah memiliki Donghae sunbae yang betul-betul idaman semua wanita itu, eo? Kedua mataku ini masih bisa dipakai dengan amat baik. Seharusnya sunbae meminta penjelasan pada namjachingumu itu, bukannya malah marah-marah denganku begini.” Ujar Jihyun.

Taeyeon semakin menatap berang, dan ketika berbicara suaranya semakin tinggi melengking sehingga semakin menarik perhatian orang-orang disekitar. Entah itu memang sengaja dilakukannya untuk memojokkan posisi Jihyun, atau karena ia memang kelepasan emosi. “Sekarang kau malah mengatai namjachinguku?! Kau ini memang benar yeoja tak tahu diri! Kau tahu, semalam seharusnya aku dan Donghae bertemu di bioskop, tapi gara-gara kau dia membatalkan acara kami seenaknya. Karena kau yang sudah menggodanya!” Taeyeon menunjuk wajah Jihyun dengan menggunakan jari telunjuknya itu.

Jihyun menghela napas gusar. “Itu bukan urusanku, lebih baik sunbae bertanya saja pada namjachingumu itu. Maaf, saya masih ada kelas.” Jihyun melenggang pergi dengan gaya sok cool, seakan tidak terjadi apapun. Padahal dalam hati ia sudah malu sekali sampai rasanya ingin menghilang saja ditelan bumi. Yah, itu jelas lebih baik daripada menjadi pusat perhatian para mahasiswa/I di kampus dan menyandang predikat sebagai perebut pacar orang. Oh, adakah yang lebih buruk dari itu? Bahkan ketika ia sampai di kelas sekalipun, tatapan-tatapan menuduh itu masih dapat dirasakannya.

Jiyeon langsung menggenggam tangan Jihyun keras kala Jihyun mengenyakkan tubuh dikursi samping Jiyeon. Wajah Jiyeon tampak begitu serius. “Apa yang terjadi? Kenapa semua orang bilang bahwa kau adalah perusak hubungan orang, eo? Mereka bilang kau bersama dengan Baekhyun. Apa itu benar? Ah, ini gila! Mana mungkin kau sudi bersama si byuntae itu!” Sahabatnya itu berkata dengan bertubi-tubi, tidak memberikan kesempatan bagi Jihyun untuk menjawab satu pun pertanyaan. Setelah Jiyeon selesai berbicara, barulah Jihyun membuka suara.

“Oke, memang benar jika semalam aku bersama…”

“Oh Tuhan! Wae? Kau kan tahu jika…”

“Ji! Please, dengarkan aku dulu!” Ujar Jihyun diiringi tatapan memohonnya. Jiyeon langsung bungkam, mempersilahkan Jihyun untuk memulai penjelasannya, meskipun sebenarnya bibir Jiyeon sudah tak tahan untuk tidak berkomentar.

“Jadi, kau tahu kan jika aku dan Baekhyun sama-sama menjadi panitia di acara amal kampus?” tanya Jihyun yang dijawab dengan anggukan oleh Jiyeon. “Nah, semalam rapat selesai cukup larut, dan sialnya juga hujan lebat. Aku tidak bisa pulang karena hujan lebat itu. Aku cukup pintar untuk tidak hujan-hujanan ria di cuaca yang cukup ekstrem seperti itu. Aku juga tidak bisa minta tolong pada Junhong untuk menjemput karena ia hanya bisa mengendarai motor. Baekhyun tiba-tiba saja datang dan menawarkan tumpangan untuk pulang. Sumpah, aku sudah menolaknya mati-matian, tapi dasar ia namja pemaksa, ia terus membujukku. Akhirnya aku terpaksa menerima. Lagipula, saat itu hanya dia yang bisa menolongku. Toh, dia hanya mengantarku pulang. Tidak lebih.

Jiyeon menganggukkan keplanya. “Tapi sepertinya bukan itu yang ada dibenak Taeyeon.”

“Terserah dia mau berpikir seperti apa. Aku tidak peduli!”

 

*****

 

“Kau pulang bersama Baekhyun?” Tanya Donghae layaknya sedang mewawancarai narasumber. Jihyun mengangguk pelan. “Aku tidak punya pilihan lain.” Jawabnya pelan.

Donghae menghela napas sembari menatap Jihyun intens. “Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa kau bisa meminta bantuanku kapan saja? Dan aku benar-benar serius saat mengatakannya.” Ucapnya tegas.

“Mian, aku hanya tak ingin merepotkan oppa. Lagipula Baekhyun terus memaksaku.”

“Apapun itu, mulai saat ini jangan berhubungan lagi dengannya! Jika butuh sesuatu kau bisa minta tolong padaku kapan saja, ara? Aku tidak suka mendengar kekasihku digosipkan dengan namja lain apalagi dijuluki gadis perusak hubungan orang.”

“Keunde uri…” Jihyun langsung menutup mulutnya rapat-rapat, nyaris saja ia mempertanyakan kejelasan hubungan mereka. Hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Alih-alih menyuarakan pikirannya, Jihyun memilih untuk mengangguk patuh. “Arasso oppa. Hal ini takkan terjadi lagi.” Jawab Jihyun, membuat Donghae tersenyum puas. Jemari pria itu terjulur dan mengusap kepala Jihyun lembut.

“Ja, kalau begitu ayo kita makan siang sekarang. Nan jeongmal baegoppa jigeum.”

 

*****

 

Langkah kaki Kyuhyun begitu lebar. Pria itu berjalan cepat, bahkan nyaris berlari menyusuri lorong demi lorong hanya untuk sampai ke ruang klub Jiyeon. Ada alasan jelas mengapa Kyuhyun tampak seperti orang kebakaran jenggot seperti ini. Tadi saat ia menjemput Jiyeon di kelas gadis itu, Jihyun bilang padanya jika Jiyeon sudah pergi bersama Jonghyun. Yah, gitaris band kampus itu memang begitu giat mengejar Jiyeon, dan tampaknya sekarang pria itu sudah selangkah lebih maju dari dirinya. Kyuhyun tidak menyangka jika absen dirinya selama dua hari bisa membawa petaka seperti ini.

Dengan wajah mengeras dan sikap masa bodoh andalannya, Kyuhyun melenggang masuk kedalam ruang club. Kedatangan Kyuhyun sontak membuat dua orang yang tengah asyik mengerjakan tugas itu melayangkan pandangan kearahnya.

“Kyuhyun oppa, apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya Jiyeon heran, sedangkan Jonghyun hanya diam sembari menatap Kyuhyun tajam, dalam hati berandai-andai jika saja ia memiliki mata yang mengeluarkan sinar laser maka sudah dapat dipastikan tubuh pria pengganggu alias Kyuhyun akan bolong-bolong akibat hujaman sinar lasernya. Oh, abaikan pemikiran Jonghyun yang mulai aneh!

“Tentu saja menjemputmu. Kau lupa jika hari ini orang tuamu akan kembali dari Itali?”

“Aniya, tentu saja tidak.”

“Kalau begitu apa lagi yang kau tunggu? Ayo kita ke bandara sekarang!” Ajak Kyuhyun.

“Woo Bin oppa yang akan menjemput mereka. Aku masih ada tugas disini.” Jawab Jiyeon. Wajah Kyuhyun mengeruh laksana air rendaman pakaian kotor. Jiyeon tersadar. Kyuhyun seperti ini pasti karena pria itu tidak suka melihatnya berduaan saja dengan Jonghyun. Yah, Jiyeon nyaris lupa jika Cho Kyuhyun adalah pria dengan kadar kecemburuan tingkat tinggi.

Gadis itu menarik kursi kosong kesebelahnya. “Duduklah disini. Aku takkan lama. Mungkin hanya…” Jiyeon melirik jam tangannya. “30 menit. Dan setelah itu kita pulang.” Ucapnya. Kyuhyun tersenyum dan kemudian dengan patuh duduk disebelah Jiyeon. Selama kurang lebih 30 menit pria itu hanya duduk diam sembari menatap Jiyeon dan terkadang melirik tajam kearah Jonghyun jika dirasanya pria itu sudah mulai terlalu dekat dengan gadisnya.

Susah payah Jiyeon menyembunyikan tawanya kala melihat kelakuan lucu kedua namja disamping kiri dan kanannya itu. Bukannya Jiyeon senang diperebutkan oleh dua namja tampan, hanya saja kedua namja itu kerap melakukan hal yang konyol hanya untuk mendapatkan perhatian dari dirinya.

 

*****

 

Donghae keluar dari dalam ruang rawat dengan pandangan kosong dan langkah yang gontai. Sayup-sayup terdengar suara isakan tangis yang memilukan dari dalam ruang rawat tersebut. Mati-matian pria itu berusaha untuk menulikan pendengarannya dan mematikan hatinya agar ia tidak perlu mendengar kenyataan yang pahit dan merasakan sakit yang teramat sangat karena rasa kehilangan yang begitu kentara terasa. Donghae terduduk lemas dikursi ruang tunggu yang berada di koridor. Sebelah tangannya yang bergetar meronggoh saku jaketnya. Hanya ada satu nama yang terlintas dalam benaknya saat ini. Ia butuh gadis itu untuk berada disisinya. Ia butuh gadis itu untuk menguatkannya. Perlahan Donghae mengarahkan ponsel tersebut ke telinganya. Dalam hitungan detik suara menenangkan itu terdengar ditelinganya.

“Yoboseyo oppa?”

“Jihyun-ah…” Hening sejenak. “Apa yang harus kulakukan? Kakek… dia sudah tidak ada…”

“Ya Tuhan! Apa yang terjadi?! Oppa kau…”

“Bisakah kau datang kesini? Jigeum niga piryeohae.” Suara Donghae terdengar begitu lirih dan juga bergetar, membuat hati Jihyun seakan teriris. Rasanya ia juga ikut merasakan kesakitan dan kesedihan yang dialami oleh Donghae. Meskipun pada dasarnya ia tidak pernah mengalami kehilangan yang seperti itu. Tanpa pikir panjang Jihyun langsung mengiyakan. Gadis itu menutup telepon setelah sebelumnya menanyakan nama rumah sakit dan ruang dimana jenazah akan dibawa. Secepat kilat Jihyun mengganti baju dan bergegas pergi ke rumah sakit.

Donghae menghela napas perlahan, berharap jika ia melakukan demikian maka rasa sakit dan sesuatu yang terasa begitu mengganjal tenggorokan dan hatinya akan menguap. Namun sayangnya rasa sakit dan kehilangan itu begitu nyata. Tak ayal pria berparas lembut itu menitikkan air mata, namun dengan segera ia mengusapnya. Tidak! Ia tidak boleh menangis! Masih ada nenek yang harus ia beri kekuatan dan ia jaga dengan sepenuh hati. Jika ia terlihat hancur dan lemah, maka siapa yang akan menopang sang nenek? Dengan langkah berat Donghae kembali masuk kedalam ruang rawat. Matanya seketika kembali memanas kala menatap sosok kakeknya yang tengah terbujur kaku. Sosok pria yang selama ini selalu menjadi panutan, pelindung serta ayah dan sahabat bagi dirinya.

“Relakan kakek pergi halmonie. Ia sudah tenang disana.” Donghae mengusap bahu neneknya dan kemudian memeluk tubuh ringkih itu untuk menenangkan serta memberikan kekuatan kepadanya. Sang nenek balas memeluk Donghae dengan begitu erat. Dirinya masih sulit untuk menerima jika pria yang selama puluhan tahun telah menemani dirinya dipanggil terlebih dahulu oleh yang maha kuasa. Padahal baru semalam dirinya tidur dalam pelukan sang suami.

 

*****

 

Satu persatu pelayat datang memberi penghormatan terakhir kepada kakek sekaligus mengucapkan belasungkawa kepada Donghae dan halmonie. Halmonie sudah tidak menangis histeris seperti beberapa jam yang lalu, namun kesedihan masih tampak begitu jelas diwajahnya yang telah menua dan keriput. Wanita tua itu hanya bisa tersenyum kecil saat meladeni para pelayat yang datang. Donghae sendiri juga tak bisa dibilang berada dalam kondisi yang baik. Pria yang mengenakan setelan jas hitam itu sejak sampai di rumah duka hanya diam dan sesekali berbicara jika para pelayat mengucapkan bela sungkawa. Donghae duduk disamping jenazah sang kakek sembari menatap tubuh itu dengan pandangan nanar. Genggaman hangat ditangannya membuat Donghae menoleh, dan mendapati jemarinya yang tengah digenggam oleh tangan Jihyun.

Jihyun menatap Donghae dalam diam namun sarat akan makna. Sejak tadi Jihyun memang tak pernah jauh dari Donghae. Gadis itu sebenarnya khawatir dengan Donghae. Saat ia sampai di rumah sakit hingga sekarang, ia sama sekali belum melihat Donghae menangis. Ini aneh baginya, mengingat betapa dekatnya Donghae dan kakek. Jihyun hanya takut jika Donghae terlalu menahan perasaannya. Woo Bin, Kris, Kyuhyun, Jiyeon serta beberapa teman Donghae yang lainnya juga turut tampak disana. Sama halnya seperti Jihyun, mereka juga turut merasa khawatir.

“Kuatkan Donghae ya. Aku tahu dia pasti sedang merasa sangat hancur sekarang, namun ia mati-matian menahan luapan emosinya.” Bisik Woo Bin pada Jihyun. Jihyun mengangguk pelan sebagai jawaban. Gadis itu menoleh kearah Donghae yang sedang menuntun sang nenek untuk duduk dikursi terdekat.

“Ngomong-ngomong, apa orangtua Donghae sudah datang?” Tanya Kyuhyun.

Kris dan Woo Bin tampak menggeleng. “Tadi aku sempat bertanya pada Donghae. Katanya mereka masih dalam perjalanan, hmm… mungkin.” Ujar Woo Bin.

“Mungkin?” Tanya Jihyun dan Jiyeon serentak ditambah dengan ekspresi bingung yang terpatri jelas dikedua wajah cantik itu.

“Ayah dan Ibu Donghae sudah lama bercerai. Tepatnya semenjak Donghae masih di sekolah dasar. Dan sejak saat itu juga Donghae tinggal bersama kakek dan neneknya. Kedua orangtuanya tidak terlalu akur. Setiap bertemu selalu akan diakhiri dengan percekcokan. Maka dari itu, kalaupun datang, mungkin hanya ayahnya Donghae saja selaku anak kandung dari kakek Lee.” Jelas Woo Bin.

Jihyun dan Jiyeon mengangguk paham. Sekarang Jihyun mengerti mengapa Donghae selalu enggan jika ia bertanya mengenai kedua orangtuanya. Pria itu bahkan tidak pernah mengungkit keadaan orangtuanya ataupun sekedar menceritakan kenangan dirinya bersama sang ayah dan ibu.

Tepat seperti dugaan Woo Bin, hanya ayah Donghae yang tiba sebelum pemakaman. Donghae tidak terlalu pusing dengan fakta bahwa sang ibu tidak berada disana. Bagi pria itu kehadiran sang ibu pun takkan membawa perubahan yang berarti baginya. Donghae dan ayahnya, Lee Dongwook, tampak sangat canggung satu dan yang lainnya. Tidak ada pelukan hangat antara ayah dan anak. Mereka malah lebih tampak seperti orang asing yang baru bertemu.

Donghae mengantar sang nenek sampai ke kamarnya, membantu tubuh ringkih itu untuk berbaring di ranjang dan kemudian menyelimutinya. “Selamat malam nek. Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu.” Ucap Donghae yang dibalas dengan anggukan lemah oleh wanita tua itu. Wanita yang biasanya begitu cerewet dan ceria itu kini tampak begitu diam. Sebelum keluar dari kamar Donghae sempat melirik kearah foto kakek dan dirinya yang ditempatkan di rak buku dekat pintu. Dadanya Donghae terasa begitu ngilu dan gumpalan menyesakkan itu semakin tak terbendung. Dirinya diselimuti oleh penyesalan. Ia menyesal karena tidak berada disamping sang kakek saat pria itu pergi. Dengan begitu perlahan Donghae menutup pintu dibelakangnya. Kepalanya masih tertunduk. Begitu ia mendongak, ia mendapati wajah cemas Jihyun yang tengah menatapnya intens. Selama beberapa saat kedua insan itu saling bertatapan.

“Ayo, aku antar kau pulang.” Donghae berusaha untuk memberikan senyumannya. Jihyun masih diam. “Ayo.” Ajak Donghae lagi.

“Aku bisa menginap disini. Aku tinggal menghubungi adikku saja.” Ujar Jihyun.

“Bisakah? Tapi, apa takkan merepotkan?”

“Tidak. Aku malah senang jika bisa tinggal.”

“Terima kasih sudah menemaniku seharian ini. Itu sangat membantu.” Donghae tersenyum kecil. Senyum yang begitu dipaksakan, dan Jihyun tahu itu.

“Berhenti tersenyum dan mencoba untuk keliatan baik-baik saja disaat kenyataannya tidak seperti itu! Aku mengerti jika tadi oppa berusaha untuk menahan semuanya demi nenek, tapi sekarang tidak ada alasan lagi bagi oppa untuk menahan semuanya. Menangislah jika kau ingin. Kumohon, jadi siksa perasaanmu sendiri.”

“Aku baik-baik saja.”

“Geotjimal! Aku tahu oppa tidak baik-baik saja. Bisakah oppa jujur padaku? Hatiku sakit melihatmu seperti ini.” Ujar Jihyun. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca.

“Geure, bisakah… aku meminjam bahumu?”

 

*****

 

“Kau tahu, sulit rasanya menerima bahwa kakek sudah tidak berada ditengah-tengah kita lagi. Baru tadi pagi dia membangunkanku dan mengajakku untuk berolah raga pagi. Tapi tololnya aku malah mengabaikan kakek dan memilih untuk melanjutkkan tidurku. Seandainya saja aku tidak setolol itu, aku pasti bisa menolong kakek lebih cepat. Kau tahu, jantungku seakan nyaris berhenti berdetak saat aku melihat tubuh kakek terbaring diatas aspal. Serangan jantung bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Seharusnya aku tak membiarkannya sendirian. Seharusnya…”

“Shhh…” Jihyun mengeratkan pelukannya ditubuh Donghae. “Semuanya sudah menjadi takdir Tuhan. Kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kumohon jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kakek pasti akan sangat sedih jika ia tahu kau merasa bersalah.”

Donghae hanya diam. Pria itu semakin membenamkan wajahnya dileher Jihyun. Jihyun bisa merasakan jika leher dan bahu gadis itu basah oleh air mata Donghae. Air mata yang sejak beberapa jam lalu ditahan mati-matian oleh pria itu kini mengalir bebas di pipinya. Tidak ada isak tangis ataupun raungan terdengar, namun demikian Jihyun tahu bahwa pria didalam pelukannya ini begitu sedih dan hancur. Tanpa dapat ditahan, air mata Jihyun juga turut menetes. Dengan lembut dibelainya kepala dan punggung Donghae. Kecupan lembut pun mendarat dikepala pria itu.

“Gwenchana, gwenchana… nan yeogi isseoyo…”

 

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

16 tanggapan untuk “Hoot (Part 7)

  1. waaah riliis eaaa donghae mulai protect sama jihyun, dan baekhyyn makin gencar jg deketin jihyun lagi.
    apa gara2 kejadian dimana kakeknya hae meninggal mereka bakal ngeresmiiin hubungannya ditunggu ya confirmnya hahaha
    buat kyuyeon mereka bener2 lucu apalagi pas kyu rebutan nyari perhatian sama si jonghyun haha
    ditunggu ya kelanjutannya ^^

    1. Hehe, makasih banyak udh baca dan komen 😀 Donghae mulai ga bs jauh2 dari Jihyun tuh hehe dan Kyuhyun jg mulai ada harapan untuk jadian ama Jiyeon. ditunggu aja ya lanjutannya ❤

  2. aduuhh hae udah keliatan itu perasaanya jiyeon juga udah buka hati gara2 fokus nunggu bodyguard ampe lupa ini wkk

  3. Muehehehehe.. Aku senyum nista dari awal cerita lol. Tapi pas bagian kakeknya Donghae meninggal, langsung hikseu-hikseu gimanaaaa gitu.. Seneng banget liat progress hubungan Donghae sama Jihyun, padahal awalnya aku baca karena ada KyuYeon 😆 keren keren bel, ditunggu lanjutannya😁

  4. jihyun hae so sweet ih yaa wlupun mereka pacar bohongan wkwk tpi kek nya mereka nganggep pacaran beneran yaa..
    jiyeon kyu udaah kalian jadian aja laah hoho
    update blog ini lama yaa aku penasaran sampe bulak balik tiap hari ke blog ini >.<

    1. Haha, iyaaa 😀 mereka terlalu mendalami peran. Jd terperangkap dlm sandiwara sendiri deh. Makasih banyak udh baca ^^ Maaf ya, aku updatenya emg lama. Soalnya kalo nulis tergantung mood gitu

  5. Wuah keren banget. Kyuhyun dan d0nghae emang tipekal pria berkadar tinggi akan cemburu. Haha. Jihyun keren bnget, bisa jd s0s0k penguat buat d0nghae. Di tunggu part selanjut nya. Maaf th0r, kemaren2 lupa terus buat k0men. Karna suasana tdak mendukung. Hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s