Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

So Many Coincidences (Part 1)

1426346246975

 

Author : Cho Haneul
Title      : So Many Coincidences
Type     : Chaptered
Genre   : Romance, Comedy, 
Poster   : IG @shirlyuanaaa

Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Kim Minseok (Xiumin)
– Bang Minah
– Kang Haneul
– Jung Krystal

______________________________

“Ya Tuhan, Kim Jiwon! Kenapa kamarmu seperti kapal pecah begini, eo?” Pekik Kim Nana, ibu sang gadis sembari menatap horror sekeliling kamar yang penuh dengan baju-baju berserakan. Ada yang ditempat tidur, lantai kamar, meja belajar, bahkan ada beberapa yang tersangkut diatas televisi sehingga menutupi layar kaca yang tengah menayangkan sebuah acara music.

Jiwon terkekeh sembari memasang wajah sok imut agar sang ibu urung mengomelinya. “Aku sedang memilih baju. Ada hal spesial yang akan terjadi malam ini, makanya aku harus tampil semaksimal mungkin.” Ucapnya.

“Tapi tidak perlu mengeluarkan semua isi lemarimu dan menebarkannya disekeliling kamar, begini kan? Kau itu selalu berantakan setiap kali mengambil baju. Cukup ambil baju yang kau inginkan saja.” Gerutu sang ibu sembari mengambil beberapa potong baju yang berserakan dilantai, melipatnya dan kemudian meletakkannya didalam lemari berukuran besar yang sekarang tampak begitu kosong lantaran baju-baju didalamnya telah bertebaran segala penjuru kamar.

“Nah, itu dia masalahnya, eomma! Aku tidak tahu harus memakai baju apa.” Jiwon menghela napas berlebihan dan kemudian menatap sekeliling kamarnya. “Aku tidak punya baju yang cocok.” Ucapnya, yang kali ini sukses membangkitkan amarah sang ibu.

“Tidak ada yang cocok katamu?! Ya Tuhan! Lihat, semua ini adalah baju-bajumu. Satu lemari penuh! Mustahil jika tak ada yang cocok. Memangnya kau ingin menghadiri acara apa sih? Kenapa harus serepot ini?”

Jiwon menggaruk kepalanya. “Em, sebenarnya tidak ada acara yang khusus sih. Hanya… makan malam bersama teman.” Ujarnya malu-malu.

“Kencan maksudmu?” tembak Kim Nana, membuat Jiwon semakin salah tingkah. “Aniya! Hanya makan malam saja. Kami tidak berpacaran… untuk sekarang.” Jiwon kembali tersenyum sumringah. Kim Nana menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol putri sulungnya ini yang meskipun sudah berusia 18 tahun, namun kerap bersikap layaknya bocah 10 tahun. Sungguh kekanakan.

Tak ayal Nana merasa penasaran dengan pria yang akan berkencan dengan putrinya itu. “Jadi, siapa pria tidak beruntung, ah maksud ibu sungguh beruntung itu?” Nana meralat ucapannya begitu mendapati sorotan tajam dan kesal namun begitu menggemaskan dari Jiwon.

Dengan wajah sumringah serta ekspresi yang berbunga-bunga, Jiwon menyebutkan satu nama yang cukup terdengar familiar baginya.

“Kim Minseok.”

“Sahabatmu sejak kelas satu itu?” Wajah Nana tampak kaget. Ia memang tak asing dengan pria satu itu, sebab Jiwon sudah bersahabat dengan Minseok semenjak tahun pertamanya di sekolah menengah atas. Minseok sendiri dikenal Nana sebagai sosok pria yang baik, ramah, sopan serta berwajah begitu manis. Saking manisnya, Nana pernah iseng berharap jika Minseok lah yang menjadi anaknya, mengingat bahwa dirinya sudah lama mendamba kehadiran seorang putra. Jiwon kesal sekali setiap ia menyuarakan candaan itu. Dan sekarang Nana tahu mengapa.

“Kalian… berkencan?” Nana kembali bertanya.

Jiwon mendudukkan diri diatas tempat tidur. “Aku tidak bilang ini kencan kok. Hanya makan malam biasa.”

“Kalau begitu kenapa harus repot memikirkan baju? Seperti baru kali ini saja pergi makan bersama Minseok.”

‘Karena hari ini aku akan mengungkapkan perasaanku padanya!’ Teriak Jiwon dalam hati. Gadis itu hanya tersenyum lebar, enggan untuk menjawab pertanyaan sang ibu.

“Sudahlah, pokoknya eomma tenang saja. Kamar ini pasti akan kembali rapi seperti semula. Jadi, jangan risau, oke!”

Nana menatap putrinya sangsi. “Eomma tidak yakin. Terakhir kali kau berbicara seperti itu, ujung-ujungnya tetap eomma yang membersihkan dan menyusun kembali baju-baju ini. Kau itu kan memang hobi mengumbar janji.” Ujar Nana sembari berkacak pinggang.

“Sebenarnya aku sudah berniat untuk membereskannya kok, tapi eomma selangkah lebih cepat sih.”

Sadar bahwa pembicaraan ini takkan berujung dan membawa hasil, maka Kim Nana akhirnya memutuskan untuk pergi. Drama Korea yang sudah sebulan ini diikutinya akan mulai sepuluh menit lagi. Wanita itu tidak ingin ketinggalan sedikitpun, bahkan walaupun hanya intro. “Terserah. Pokoknya nanti kamar ini harus bersih. Jika masih seperti ini, maka ucapkan selamat tinggal pada acara belanja kita minggu depan, ara!”

“Siap nyonya besar!” Jiwon memberikan hormat dengan cengiran lebar yang terpatri diwajah cantiknya itu.

Jiwon kembali sibuk dengan kegiatannya memilih baju. “Ya Tuhan, baju apa yang harus kupakai? Baju yang akan membuatku terlihat cantik namun tidak terkesan berlebihan…” Jiwon terus menggumamkan kata-kata itu sembari mengobrak abrik baju-baju yang ada diatas ranjangnya.

“Terlalu cerah.”

“Terlalu gelap.”

“Terlalu ramai.”

“Terlalu terbuka. Aku kan mau makan malam bukannya pergi ke club malam.”

“Ini terlalu… yup, this is perfect!” Jiwon tersenyum sumringah menatap baju terusan selutut yang dari bagian atas hingga pinggangnya berwarna putih dan berwarna merah untuk bagian bawah. Jiwon mematut dirinya dicermin dengan menempelkan baju itu didepan tubuhnya. Baju ini sudah lama sekali tidak ia pakai, terakhir kali ia kenakan adalah saat menghadiri acara premiere film Criminal Designer satu tahun yang lalu.

Bertanya-tanya kenapa ia bisa berada disebuah acara bergengsi seperti itu? Itu karena ayahnya adalah seorang producer film.

“Ini akan menjadi malam yang tak terlupakan.” Jiwon bergumam dengan gembira.

 

*****

 

_@De’ Cuisine Paradise Restaurant, 07:01 PM, SEOUL_

Jiwon masuk kedalam sebuah restoran berkelas di daerah Myeondong. Inilah salah satu alasan yang membuat gadis itu bersusah payah berdandan secantik mungkin. Hari ini adalah hari ulang tahun Minseok, dan tiba-tiba saja pria itu mengajaknya makan malam. Padahal biasanya jika berulang tahun Minseok hanya akan mentraktirnya makan di café langganan mereka, atau mengajaknya nonton. Begitu tahu bahwa Minseok telah membooking tempat di salah satu restoran, tak ayal membuat Jiwon menjadi salah tingkah. Apakah Minseok sudah dapat menebak siapa pria yang dia cintai? Sehingga pria itu mengajaknya untuk makan malam karena ternyata Minseok juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

“Ada yang bisa saya bantu?”

Jiwon ditarik paksa dari angan-angannya. Gadis itu tersenyum manis kearah pelayan wanita yang tadi bertanya ramah padanya.

“Ya. Teman saya sudah memesan meja atas nama Kim Minseok.”

“Mohon tunggu sebentar.” Ucap pelayan muda itu, dan tak lama ia kembali. “Silahkan nona. Meja nomor lima.” Pelayan wanita itu mengantar Jiwon menuju meja yang telah dipesan oleh Minseok.

“Anda ingin pesan makanan sekarang?”

“Nanti saja, setelah temanku datang.”

“Baiklah kalau begitu. Saya tinggalkan buku menunya disini. Anda bisa memanggil saya jika sudah ingin memesan.” Ucap pelayan wanita itu sangat ramah disertai dengan senyuman manisnya.

Jiwon menatap sekeliling restoran. Suasananya begitu romantis. Terlampau romantis untuk dua orang sahabat makan malam bersama. Jantung Jiwon jadi berdebar keras menantikan kedatangan Minseok. Gadis itu melirik jam tangannya dan kemudian mendesah pelan kala menyadari dirinya datang 15 menit lebih cepat dari waktu janjian. Sama sekali bukan Jiwon yang biasanya. Biasanya orang-oranglah yang harus menunggu kedatangannya. Sebenarnya sejak awal Minseok sudah menawarkan diri untuk menjemput Jiwon di rumah, namun buru-buru gadis itu menolaknya dengan alasan bahwa ia akan diantar oleh ibunya karena kebetulan ia juga harus menghadiri acara keluarga, yang mana hanya bualan belaka gadis itu. Alasan sebenarnya gampang saja, karena ia ingin memiliki lebih banyak waktu untuk merangkai kata-kata yang akan ia gunakan untuk mengutarakan perasaannya kepada Minseok.

Jiwon menatap kotak persegi berwarna biru cerah dengan pita berwarna putih yang ada didepannya. Hadiah yang sudah ia siapkan untuk Minseok. Sebuah jam tangan branded keluaran terbaru. Jangan tanya soal harganya. Gadis itu menghabiskan hampir seluruh tabungannya hanya itu benda penunjuk waktu itu.

“Wow, kau sudah datang ternyata.”

DEG!

Jantung Jiwon semakin berdebar kencang. Minseok terlihat amat sangat tampan dengan gaya kasualnya. Kemeja putih dengan lengan yang digulung serta celana jins hitam.

“Ah, ne. Aku… aku baru sampai lima menit yang lalu.”

Minseok tersenyum manis. “Sudah memesan makanan?”

“Belum. Aku menunggumu.”

“Ah, kalau begitu kita pesan makanannya dulu. Dan setelah itu baru aku akan menagih janjimu.” Pria itu memainkan alisnya sembari tersenyum jenaka. Tubuh Jiwon menegang. Yah, ia ingat sekali dengan janji itu.

Semuanya bermula dari aksi nekat seorang adik kelas Jiwon yang menyatakan cinta kepadanya secara terang-terangan di lapangan sekolah. Dengan berat hati Jiwon harus menolak adik kelasnya itu dengan beralasan bahwa ia sudah memiliki pria yang disukai. Setelah itu Minseok langsung meminta penjelasannya, sebab selama ini Jiwon sama sekali tidak pernah bercerita mengenai pria yang disukainya. Sebenarnya Jiwon bisa saja berbohong pada Minseok dan berkata bahwa ia mengatakan itu semata-mata hanya sebagai alasan untuk menolak sang adik kelas. Akan tetapi mulutnya tidak serasi dengan hati dan pikirannya. Bukannya mengelak, Jiwon malah mempertegas bahwa ia memang tengah menyukai seorang pria, bahkan berencana untuk mengungkapkan perasaannya. Minseok langsung heboh menanyakan identitas pria itu, tapi Jiwon bungkam. Karena terus didesak, akhirnya Jiwon berjanji akan memberitahukan perihal mengenai identitas pria itu dihari ulang tahun Minseok.

Dan yah, disinilah dirinya sekarang…

“Selamat ulang tahun.” Jiwon menyerahkan kadonya. Minseok tersenyum. “Terima kasih.” Pria itu membuka hadiahnya dan kembali tersenyum sumringah kala mendapati jam tangan yang begitu ia idam-idamkan berada dalam kotak itu. “Wow, ini hebat! Aku tidak menyangka kau akan memberikanku jam ini. Ini kan mahal.”

“Kenapa tidak? Kau kan teman baikku.” Ucap Jiwon.

Minseok menatap sahabatnya itu dan tersenyum tulus. “Jeongmal gomawo. Ini hadiah yang sangat bagus.”

Melihat mood Minseok yang tampak baik, Jiwon jadi berpikir untuk mengungkapkan perasaannya sekarang. ‘Sekarang atau tidak sama sekali!’

“Minseok-ah…”

“Jiwon-ah…”

Keduanya saling memanggil bersamaan membuat mereka sempat tertawa kecil. “Kau duluan.” Ujar Jiwon. Minseok menatapnya dengan begitu antusias. “Aku ada kabar gembira.” Pria itu tersenyum begitu sumringah, membuat Jiwon ikut tertular senyuman manis itu.

“Kau tahu Krystal?”

Jiwon mengernyit, sembari mengingat-ingat nama Krystal yang terasa tak asing baginya. “Krystal Jung yang kakaknya designer terkenal itu?” Jiwon bertanya untuk memastikan.

“Ya.” Minseok mengangguk begitu semangat.

“Aku tidak akrab dengannya, keunde kami pernah terlibat dalam beberapa kegiatan bersama. Ada apa memangnya?”

“Kami sudah resmi berpacaran. Aku dan Krystal.”

Wajah Minseok begitu sumringah dan bahagia, sedangkan Jiwon? Gadis itu pucat pasi. Minseok menatap Jiwon bingung. “Hei, kau kenapa?”

Jiwon menggeleng. “Aniya. Hanya… kaget. Kau tidak pernah bercerita padaku bahwa kau… kau menyukai Krystal.” Volume suara Jiwon mendadak melemah. Minseok agak merasa bersalah. Ia merasa jika Jiwon pasti sedih karena ia tidak menceritakan perasaannya pada Krystal sejak awal.

Oh, terkutuklah Kim Minseok yang begitu polos!

“Maaf sudah merahasiakannya darimu. Kau tahu, em… pria tidak menceritakan hal seperti itu. Agak memalukan bagi kami.” Minseok menelisik eskpresi Jiwon. “Kau… tidak marah padaku, kan?” Tanyanya cemas karena sejak beberapa saat yang lalu Jiwon hanya menunduk diam.

“Ji… kumohon…”

Perlahan Jiwon mendongak. Wajahnya tersenyum lebar, membuat perasaan Minseok lega seketika. “Mana mungkin aku marah mendengar kabar bahagia ini. Sahabatku yang sudah bertahun-tahun jomblo ini akhirnya laku juga. Chukkae Minseok-ah!”

“Yak! Kau sendiri juga jomblo kan! Berhenti menghinaku seperti itu. Kesannya aku ini seperti perjaka tua yang tidak laku-laku saja. Nah, sekarang giliranmu! Beritahu aku siapa pria yang kau sukai itu!”

“Mwo?!”

“Aish, kau tidak akan mengingkari janjimu dengan berpura-pura lupa, bukan? Ayo katakan siapa pria yang sudah bertahun-tahun kau sukai itu. Aku janji tidak akan mengatakannya pada siapapun. Kau tahu aku kan. Ayolah…” Bujuk Minseok persis seperti anak kecil yang tengah merayu ibunya agar diizinkan mengemil coklat ditengah malam.

Jiwon kelabakan. Jelas saja ia panik. Bagaimana bisa ia mengutarakan perasaannya sekarang pada Minseok? Semuanya telah berakhir tanpa ia pernah berkesempatan untuk memulai. Minseok takkan pernah tahu bagaimana perasaannya dan Jiwon rasa itu adalah yang terbaik. Jiwon tidak ingin Minseok menjadi canggung dengannya jika tahu bahwa orang yang ia cintai adalah diri pria itu sendiri. Lalu, apa yang harus ia jawab sekarang? Ia tidak bisa menghindar lagi.

“Itu… pria yang aku sukai adalah… adalah…”

“Adalah?”

“adalah… Kim Woo Bin.” Jiwon menyebut asal nama salah seorang teman di sekolahnya. Gadis itu berharap Minseok takkan bertanya lebih banyak, apalagi sampai berusaha untuk mendekatkannya dengan pria bernama Woo Bin itu. Karena sungguh, bukan pria itulah yang berada didalam hatinya.

 

*****

 

“Woo Bin oppa!” Gadis berambut coklat gelap itu melambaikan tangan dengan riang kearah Woo Bin.

“Sial.” Rutuk Woo Bin, namun tak ayal turut membalas lambaian tangan gadis itu. Kang Haneul yang duduk disebelah pria itu terkekeh kecil sembari menggelengkan kepalanya. “Apa aku harus menyingkir?” tanyanya yang dibalas dengan tatapan tajam oleh Woo Bin. Pertanyaan cukup bodoh.

“Jangan coba-coba pergi.” Ancam Woo Bin, yang lagi-lagi sukses mengundang tawa Haneul. Minah, nama gadis itu, menarik kursi disamping Woo Bin dan kemudian duduk disana. Belum sampai semenit, gadis itu sudah bergelayutan manja dilengan Woo Bin, membuat pria itu risih. Oh tidak, ia takkan risih jika seandainya ia belum tahu mengenai perasaan spesial yang gadis itu rasakan untuk dirinya. Masalahnya ia sudah menganggap Bang Minah seperti adiknya sendiri. Takkan mungkin ia bisa mengubahnya menjadi perasaan cinta layaknya pria yang tengah kasmaran. Dan Woo Bin terlalu baik untuk menolak gadis itu terang-terangan karena ia takut menyakiti hatinya dan merusak pertemanan mereka.

“Minah-ah, ireohke hajima.” Akhirnya ia berhasil mengeluarkan larangan itu dari mulutnya. Wajah Minah langsung cemberut. “Wae? Takut jika gadis yang kau sukai itu cemburu? Dia bahkan tidak tahu jika kau suka padanya. Lagipula, siapa sih gadis itu?”

Sampai detik ini Minah masih belum bisa menerima jika Woo Bin menyukai gadis lain dan bukan dirinya. Pria itu bilang ia tak bisa menerima perasaan Minah karena ia tengah menyukai seorang gadis di sekolah mereka. Gadis yang sampai detik ini tidak diketahui identitasnya itu. Minah sudah lelah untuk mengira-ngira siapa gerangan gadis yang dimaksud oleh sunbae sekaligus pria yang begitu disukainya itu.

Minah menatap Woo Bin tajam. “Katakan siapa gadis itu, atau kuanggap oppa hanya membual!” Ujarnya tegas.

Woo Bin gelagapan. Pria itu melirik sejenak kearah sepupunya, Kang Haneul. Haneul hanya mengedikkan bahu, secara tak langsung mengatakan jika ia enggan untuk ikut campur dalam permasalah itu. Dengan cueknya Haneul malah memilih untuk menghabiskan spagethi yang ada dipiringnya. Woo Bin mendesah pelan. Ia merasa pusing. Bagaimana ia bisa mengatakan siapa gadis yang ia sukai jika sebenarnya gadis itu tak ada. Kan sudah dikatakan jika Woo Bin terlalu baik untuk tak menolak Minah secara terang-terangan. Yah, pria itu menggunakan alasan klise, “Kau adalah gadis yang baik dan menyenangkan, keunde mianhe, aku sudah menyukai yeoja lain.” Woo Bin mengingat alasan klise yang spontan terlontar dari mulutnya.

Minah masih menatapnya intens. Dan Woo Bin tahu arti tatapan itu. Gadis itu takkan menyerah sampai Woo Bin mengatakan siapa gadis yang disukainya. Ah, bahkan kalau bisa mengenalkan dirinya pada gadis itu.

Pandangan Woo Bin mengedar menatap seisi kantin yang siang itu cukup ramai. Murid-murid berlalu lalang dengan membawa berbagai macam makanan atau minuman ditangan mereka. Diantara semua orang-orang itu, ada satu gadis yang menarik perhatian Woo Bin. Gadis berambut panjang dengan poni yang menutupi dahinya.

“Ja, bisa kusimpulkan jika oppa hanya membual. Oppa pasti berkata begitu karena…”

“Itu dia.” Woo Bin mengedikkan dagunya. “Eh?” Dahi Minah mengernyit bingung, namun ia tetap menoleh kearah yang Woo Bin tunjuk. “Siapa?”

“Kim Jiwon dari kelas 3-2. Dia gadis yang kumaksud.” Ujar Woo Bin sembari menatap Minah. Kali ini Minah terdiam. Ia merasa cukup kaget. Dan ternyata tak hanya Minah, Haneul juga tak kalah kagetnya dengan jawaban Woo Bin. Pria itu kemudian menggelengkan kepalanya, merasa kasihan dengan sang sepupu yang kembali harus berbohong hanya demi menghindari fans beratnya ini.

Woo Bin melirik kearah dimana Jiwon duduk. Entah takdir atau apa, secara tiba-tiba Jiwon menoleh tepat kearah Woo Bin sehingga tatapan mereka saling bertumbukan. Woo Bin dapat melihat ekspresi gadis itu yang mendadak salah tingkah dan buru-buru memutuskan kontak mata mereka. Aneh.

 

*****

 

‘Mati aku! Kenapa dia melihatku?! Jangan-jangan… ah ani ani! Mana mungkin dia tahu.’

“Hei, dia melirik kesini tadi.”

Jiwon mendongak menatap Minseok yang menarik sebuah kursi dan kemudian duduk tepat dihadapannya. Pria berwajah manis itu tersenyum bocah, berniat menggoda Jiwon yang barusan kedapatan tengah bertukar pandang dengan pria pujaannya, Kim Woo Bin. Minseok tidak tahu saja jika Jiwon justru panik, bukannya merasa senang atau deg-degan khas orang kasmaran.

“Perlu aku bantu? Aku cukup kenal dekat dengan sepupunya yang bernama Kang Haneul. Aku bisa men…”

“Tidak perlu!” Seru Jiwon buru-buru. Dahi Minseok berkerut. “Wae?”

Jiwon mengaduk-aduk ramyeonnya. Nafsu makannya hilang seketika. “Aku… aku malu.” Dustanya. Minseok tersenyum geli. “Yak! kau ini seperti bukan Kim Jiwon saja. Masa baru segitu sudah ingin menyerah.”

“Siapa bilang aku ingin menyerah? Aku hanya… hanya… yah, biarkan saja semua mengalir apa adanya.” Ucap Jiwon sok bijak.

Minseok mengedikkan bahunya. “Terserah kalau begitu, keunde, jika kau butuh bantuanku jangan sungkan untuk meminta. Oke?” Minseok menjulurkan tangannya yang langsung digapai oleh Jiwon. Kedua tangan mereka yang saling bertautan itu digoyangkan kekiri dan kekanan. Minseok melirik jam tangannya. “Aku harus pergi sekarang.” Ujar pria itu seraya bangkit dari duduknya.

“Eoddi?”

“Bertemu dengan Krystal.”

“Ah, begitu…” Jiwon tersenyum kecut. Ia nyaris melupakan fakta bahwa Minseok sudah memiliki kekasih yang berarti pria itu tidak akan bisa available 24 jam untuknya seperti biasa. Sekarang sudah ada Krystal yang menjadi prioritas utama Minseok.

Minseok menatap Jiwon. “Kau tak apakan aku tinggal?”

“Gwenchana. Aku juga sebentar lagi akan kembali ke kelas.” Gadis itu tersenyum lebar. Padahal dalam hati ia tidak rela melihat Minseok pergi. Sisi egois dalam dirinya ingin sekali menahan pria itu, akan tetapi ia sadar bahwa itu tak mungkin. Maka dengan berat hati Jiwon merelakan Minseok pergi.

‘Huft, dari awal aku sudah tahu bahwa suka dengan sahabat adalah hal yang salah.’

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

17 tanggapan untuk “So Many Coincidences (Part 1)

  1. Anyeong eonie akhirnya ff ini muncul jga.sdh lama aku nunggu ff ini soalnya main cast nya my bias hehehe.gak sia sia aku ngecek blog ini.keren ceritanya eon aku ska karakter jiwon disini.ditunggu next chapnya jgn lama lama ya eon.
    Fighting

  2. Akhirnya pasangan favorit aku muncul. Jjinja daebak eonni! Suka sama jalan ceritanya bener-bener fresh hehe. Ditunggu next chaptnya 😀

  3. Ada juga nih ff couple ini 👍 sbnernya udh baca dr dua hari yg lalu klu ga salah, tp bru smpet komen skrg hehe
    Wkwk bisa gt ya jiwon blg suka kim wobin karna kepepet, wobin juga sama kek gtu duuuh
    Ditunggu next part nya thor moga bs cepet 😁😉

  4. Aaaaaakkk kalo kata Jessie J mah “I really really really really like you” hihi
    Thankyouuuu author yg superb bgt udah masangin 2 bias akuu dsni hehe
    Smoga slalu dpet inspirasi dan ada waktu luang biar bs update kilat heheu *maunyaa ^^

    1. Halo Elsa. Maaf bikin kamu lama nunggu. FF ini masih dalam proses pengetikan nih. lagi agak stuck 😦 doain aja semoga cepet dpt ilham haha.. makasih udh nungguin ff ini ^^

  5. Annyeong aq reader baru salam kenal,,, wah baru chapter awal aja udah seru ceritanya, koq bisa kebetulan gitu y. Pasti mereka jodoh. Next chapter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s