Diposkan pada Chapters, KyuYeon (Kyuhyun Jiyeon)

Hoot (Part 8)

1433078949051

 

Author : Cho Haneul
Title      : HOOT
Type      : Chaptered
Genre    : Romance, Comedy, Friendship

Cast :
– Nam Ji Hyun
– Lee Dong Hae
– Park Ji Yeon as Kim Ji Yeon
– Cho Kyu Hyun
– Byun BaekHyun
– Kim Taeyeon
– Kim Woo Bin
– Hwang Tiffany

_________________________________________

Donghae menjadi jauh lebih pendiam daripada biasanya semenjak kepergian sang kakek untuk selamanya. Pria itu hanya akan terlihat baik-baik saja didepan sang nenek, namun kala ia tak berada didepan neneknya, maka senyuman manis yang terpatri diwajahnya beberapa detik yang lalu akan hilang tak bersisa, seakan tak pernah ada senyuman diwajah itu. Terlebih jika ia dan neneknya berada di meja makan dan melihat bahwa kursi yang biasa ditempati kakeknya kosong. Dan untuk selamanya akan selalu kosong.

Keadaan Donghae tentu saja membuat Jihyun cemas bukan main. Sebisa mungkin ia selalu berada di sekitar Donghae. Setidaknya dengan begitu Donghae takkan merasa kesepian dan dirinya pun akan tenang karena Donghae berada dalam jarak pandangnya.

“Mie-nya sudah tak sabar untuk masuk kedalam mulutmu, oppa. Ayo dimakan. Nanti terlanjur dingin.” Ujar Jihyun sembari tersenyum jenaka. Donghae mendongak menatap gadis itu, dan dengan patuh memakan mie-nya. Jihyun menghela napas pelan. Betapa ia merindukan Donghae yang selalu tersenyum dan kerap bercanda dengan dirinya.

“Hey, mie-nya sudah tak sabar untuk masuk kedalam mulutmu, Nam Jihyun.” Donghae mengulang kembali kata-kata Jihyun beberapa saat yang lalu. Jihyun menatap pria itu dan seketika merasa senang kala melihat senyuman manis itu kembali terbit diwajah tampan kekasihnya. Ah, kekasih pura-pura lebih tepatnya.

“Ada apa?” Donghae bertanya penasaran kala melihat eskpresi Jihyun yang sempat mengeruh. Alis Jihyun terangkat. “Apanya?” tanyanya bingung.

“Wajahmu. Kenapa terlihat muram, begitu? Apa ada sesuatu yang menganggumu?”

Jihyun reflek menyentuh kedua pipinya. Dirinya tidak sadar jika ekspresi wajahnya sempat muram hanya karena memikirkan status kekasih pura-pura yang sekarang tengah dijalaninya bersama Donghae. Jihyun kemudian menggelengkan kepalanya. “Aniya, hanya memikirkan ujian akhir yang akan datang. Sepertinya aku belum siap.”

“Wae?”

“Em, hanya merasa belum siap.”

“Jika perlu bantuan, aku bersedia mengajarimu materi yang belum kau kuasai.” Tawar Donghae berbaik hati.

“Ne, gomawo. Aku pasti akan meminta bantuan oppa nanti hehe.” Jihyun tertawa kecil dan kemudian kembali menyuapkan mie kedalam mulutnya.

 

*****

 

“Sialan! Kenapa sih mereka menatapku seakan aku ini kriminal kelas kakap?!” Gerutu Jihyun luar biasa kesal. Jiyeon yang selalu setia berada disisi temannya itu hanya dapat mengelus punggung Jihyun, berusaha untuk memberikan ketenangan pada Jihyun yang begitu dirundung emosi.

“Gara-gara pertengkaranmu dengan Taeyeon dan Tiffany sunbaenim beberapa waktu lalu, teman-teman jadi berpikir jika kau memang berusaha untuk merebut Baekhyun dari Taeyeon sunbae. Apalagi kau dan Baekhyun sekarang berada dalam kepanitiaan yang sama, bukan? Dan hampir semua orang tahu jika kau pernah dekat dan begitu menggilai Baekhyun.”

“Ralat! Bukan menggilai, hanya tertarik.” Koreksi Jihyun. Jijik rasanya jika harus diingatkan betapa ia begitu mengejar-ngejar pria bertubuh pendek itu.

“Ya ya, terserah apa katamu lah.”

“Tapi seharusnya mereka tahu jika aku sedang berpacaran dengan Donghae oppa, jadi mana mungkin aku masih menyukai Baekhyun. Dilihat dari sudut manapun, Donghae oppa jauh lebih unggul daripada si kecil byuntae itu!”

“Justru karena mereka tahu jika kau sedang menjalin hubungan dengan Donghae oppa, mereka jadi berpikir jika kau bermain api dibelakang Donghae oppa. Itu semakin membuat mereka tidak suka padamu.”

Jihyun mengacak rambutnya kesal. Masa bodoh dengan tatanan rambutnya yang sekarang berantakan layaknya terkena angin kencang. “Ini semua gara-gara kedua sunbaenim gila itu! Awas saja mereka, akan kuberikan pelajaran!”

Jiyeon menatap Jihyun sangsi. “Memangnya kau berani?” Gadis cantik itu tersenyum jenaka.

“Ahh, kau juga sama menyebalkannya!” Jihyun langsung melengos pergi.

“Ya ya! Tunggu aku! Jangan merajuk! Aku kan hanya bercanda.”

 

*****

 

“Kau ingin mencari property yang kurang kan? Biar kutemani ya.” Baekhyun berlari-lari kecil guna untuk menyamai langkah Jihyun. “Tidak perlu.” Jawab Jihyun terkesan ketus.

Baekhyun tetap tidak menyerah. “Memangnya kau mau masuk kedalam pasar tradisional sendirian? Kwang Soo kan sedang izin untuk mengikuti acara seminar. Dia baru akan kembali minggu depan.” Ujar Baekhyun.

Jihyun tetap diam, dan semakin mempercepat langkahnya. Merasa tidak sabar, Baekhyun pun menarik lengan Jihyun. “Apa-apaan sih?!” Jihyun berujar kesal. Wajahnya tampak begitu tak bersahabat. “Aku ingin mengantar dan menemanimu”

“Dan aku sudah bilang bahwa aku tidak berminat! Apa kau tuli?! Lebih baik kau pergi saja dengan kekasihmu itu. Aku tidak ingin ia kembali salah paham dan menganggapku sebagai wanita perusak hubungan kalian. Tolong, jangan perumit hidupku lagi! Bukankah kau sendiri yang dulu pernah mencampakkanku seakan aku ini hanya sekedar sampah? Bukan begitu?! Lalu mengapa sekarang kau peduli padaku?”

“Karena aku mencintaimu.”

Jihyun ternganga, namun itu hanya bertahan selama lima detik, karena didetik berikutnya gadis itu sudah tertawa keras. Begitu keras sehingga menarik perhatian beberapa orang, terutama para biang gossip kampus yang sudah memasang telinga dengan begitu baik. Mulut-mulut usil itu sudah tak sabar untuk menyebarkan gossip terbaru ini, tentunya setelah mereka modifikasi semenarik mungkin.

“Cinta? Kau pikir kau percaya? Dan jikalaupun itu memang benar, maka maaf saja. Cintamu kutolak! Aku sudah memiliki Donghae oppa. Bodoh sekali jika aku melepaskan Donghae oppa hanya untuk pria sepertimu.” Setelah berkata demikian, Jihyun beranjak pergi. Kali ini Baekhyun tidak mengikuti. Pria itu hanya menatap punggung gadis itu yang perlahan menjauh dari pandangannya. Setelah Jihyun benar-benar sudah hilang dari pandangannya, Baekhyun pun berbalik. Namun seketika tubuhnya menegang kala melihat tatapan menusuk yang Taeyeon berikan padanya. Tanpa berkata apa-apa, Taeyeon memutuskan untuk pergi.

“Sial!” Baekhyun mengumpat kesal sembari mengacak rambutnya frustasi.

 

*****

 

Jihyun menyimpan beberapa property yang tadi dibelinya kedalam ruang penyimpanan. Sesaat gadis itu melirik kearah jam tangan yang melingkari tangannya dan kemudian menghela napas kala menyadari waktu yang sudah beranjak malam. “Pantas saja rasanya lelah sekali.” Gumamnya sembari memijat leher dan bahunya sendiri. Jihyun berjalan kearah pintu dan kemudian mencoba untuk membuka pintu tersebut.

Sekali, dua kali hingga yang kelima kalinya Jihyun berusaha untuk membuka pintu tersebut. Bahkan gadis itu mulai mengedor dan menendang pintu tersebut, berharap bahwa dengan caranya itu pintu akan segera terbuka. Akan tetapi pintu itu tetap bergeming. Jihyun mulai panik kala menyadari bahwa dirinya terkunci didalam ruang penyimpanan yang letakkannya jauh dari keramaian kampus. Maklum, letak ruang penyimpanan ini begitu jauh dibagian belakang gedung dan terletak dipojokan. Dijam-jam sibuk saja tempat ini nyaris tak terjamah orang, apalagi disaat jam aktivitas kampus sudah berakhir seperti ini. Bisa dipastikan takkan ada yang mengetahui jika dirinya tengah terkunci didalam sana.

“Ya Tuhan! Tolong! Siapa saja tolong aku!” Jihyun berteriak sembari menggedor-gedor pintu dengan menggunakan kedua tangannya. Gadis itu tidak peduli kala kedua tangannya mulai memerah. Ia hanya ingin keluar dari tempat itu sebelum malam menjadi semakin larut. Ia tak sudi untuk menginap didalam sana.

Jihyun ingat akan ponselnya. Buru-buru ia mengambil ponsel dan menghubungi temannya yang ia pikir masih berada di kampus.

“Sial!” Umpatnya begitu tak mendapati sinyal disana.

Jihyun semakin gusar. Ia sudah kehabisan akal untuk keluar dari dalam gudang itu. Berteriak, menggedor dan bahkan sampai menendang pintu, sudah ia lakukan. Namun seperti prediksi awal, tak ada satu orang pun yang mendengarkan.

“Bagaimana ini?!”

 

*****

 

“Kau bilang tidak takut, tapi sepanjang film tadi yang kudengar adalah teriakanmu. Bahkan suara teriakanmu mengalahkan suara di film. Daebak!” Canda Kyuhyun, membuat Jiyeon bersemu malu. Gadis itu memukul lengan Kyuhyun. “Aku tidak takut! Hanya kaget mendengar suara-suara itu.” Jiyeon membela diri. Tak sudi rasanya dianggap lemah dan penakut oleh Kyuhyun. Lagipula ia sama sekali tidak takut kok dengan setan-setan yang muncul didalam film itu. Hanya saja adegannya yang tiba-tiba disertai suara yang menggelegar membuatnya kaget. Kaget dan takut itu kan beda jauh? Bukankah begitu?

Kyuhyun masih tertawa. “Ya ya, Park Jiyeon memang pemberani. Ya, aku percaya itu.” Ujarnya dengan nada mengejek. Bibir Jiyeon mengerucut kesal. Sudah dibilang bahwa ia tidak takut! Baru saja Jiyeon berencana untuk melayangkan aksi mengamuknya terhadap Kyuhyun, suara sapaan seorang wanita mengurungkan niatnya.

“Kyuhyun!” Panggil wanita bertubuh mungil itu sembari melambaikan tangan. Jiyeon melirik kearah Kyuhyun, mengira-ngira siapa wanita yang tengah melambaikan tangan itu. Wanita itu tidak sendirian. Ada seorang bocah lelaki kecil yang digandengnya.

‘Hei, apa mungkin yeoja ini mantan kekasih Kyuhyun?’ Batin Jiyeon.

“Hyewon noona.” Kyuhyun tersenyum sumringah.

“Wah, tidak menyangka akan bertemu disini. Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?”

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Hanya berdua saja? Jung Soo hyung tidak ikut?”

“Dia sedang dinas di Daegu, jadinya kami hanya berdua.” Wanita bernama Hyewon itu tersenyum manis, kemudian pandangannya beralih kearah Jiyeon. Kyuhyun langsung mengerti arti tatapan Hyewon, maka dari itu ia langsung memperkenalkan Jiyeon. “Noona, perkenalkan ini Park Jiyeon.” Ujar Kyuhyun. Jiyeon tersenyum sembari mengulurkan tangannya. “Park Jiyeon imnida.”

“Jung Hyewon imnida.” Wanita itu menoleh kearah Kyuhyun. “Jadi ini yeoja yang kau ceritakan padaku dulu?” goda Hyewon yang sukses membuat Kyuhyun salah tingkah, sedangkan Jiyeon hanya menatap keduanya dengan dahi yang mengerut, merasa tidak mengerti topik yang tengah dibicarakan.

Kyuhyun terkekeh kecil. “Ya, begitulah.” Jawabnya.

“Lalu sekarang kalian ini…”

“Teman tapi mesra. Bukan begitu, Yeon?” Kyuhyun mengedipkan matanya. Jiyeon melotot kesal karena malu sembari mencubit lengan Kyuhyun. Hyewon tertawa kecil melihat pasangan muda yang masih malu-malu ini. Bukannya berhenti, Kyuhyun kembali membuka suara. “Aku sedang berusaha untuk menjadikan hubungan ini ke jenjang yang lebih tinggi. Doakan saja ya noona agar impianku tercapai.”

“Kyuhyun!” Pekik Jiyeon malu.

“Hahaha, pasti kudoakan. Lagipula kalian terlihat serasi. Ya sudah kalau begitu, aku dan Jino harus pulang sekarang. Selamat melanjutkan kencan kalian. Sampai bertemu lagi Kyu, dan senang berkenalan denganmu, Jiyeon-ssi.”

“Ah, ne. Sampai jumpa.” Begitu Hyewon sudah berlalu, Jiyeon langsung memukul lengan Kyuhyun dengan cukup keras. “Apa-apaan tadi itu?! Menyebalkan!” Jiyeon bersungut kesal. Kyuhyun malah tertawa geli. “Loh, kita kan memang teman tapi mesra.” Ucap pria itu seraya menarik Jiyeon dalam rangkulannya.

“Yak yak! Lepaskan!”

“Sirheo!”

“Aish, menyebalkan!”

Jiyeon bisa saja berkata ia kesal dan sebagainya, namun faktanya gadis itu tidak melepaskan rangkulan Kyuhyun. Ia malah membiarkan pria itu merangkulannya semakin erat hingga tubuh mereka begitu dekat dan semakin terkesan intim. Nah, apa masih bisa dikatakan jika gadis itu merasa kesal? Tampak begitu meragukan.

 

*****

 

“Fany-ah, apa tidak apa-apa jika kita meninggalkan gadis itu disini? Ini sudah malam. Aku tidak ingin terjadi hal yang buruk pada gadis itu. Tujuan kita kan hanya untuk memberinya pelajaran, bukannya mencelakainya. Aku tidak ingin mendapat masalah hanya karena persoalan bodoh seperti ini.”

“Hei, kita ini sedang memberikannya pelajaran. Sudah selayaknya ia mendapatkan ini. Kau tidak perlu khawatir. Kita kan hanya mengurungnya di gudang, bukannya menenggalamkannya di kolam. Just relax, okay!” Tiffany merangkul Taeyeon. Taeyeon masih merasa ragu. Berkali-kali ia menoleh ke belakang, tepatnya kearah pintu gudang dimana Jihyun terkurung didalamnya.

Tiffany mendengus. “Kau itu terlalu baik, makanya mereka jadi semena-mena. Aku akan menyuruh satpam untuk membuka pintu itu nanti. Untuk sekarang, biarkan dulu gadis itu disana. Biar dia bisa merenungkan semua kesalahannya. Ja!”

Kedua gadis itu membeku kala melihat Baekhyun yang tengah menatap tajam kearah mereka, terutama kearah Taeyeon. Jantung Taeyeon berdebar begitu keras. Ia tahu apa arti tatapan itu. Baekhyun hanya akan melayangkan tatapan tajam dan sinis seperti itu kepada orang yang dibencinya. Apa sekarang dirinya adalah salah seorang dalam kategori itu? Membayangkan itu membuat perasaan Taeyeon gelisah. Tanpa disadarinya Baekhyun sudah berdiri tegap tepat dihadapan mereka.

“Kalian… berikan kunci gudang padaku!” Seru Baekhyun geram.

“Mwo? Kami…”

“Jangan mengelak! Aku dengar pembicaraan kalian tadi. Aku tak menyangka kau bisa melakukan hal serendah ini. Kau seperti bukan Taeyeon yang ku kenal dulu.” Nada suara Baekhyun terdengar begitu sarat akan rasa kecewa. Taeyeon menunduk malu. “Baekhyun-ah…”

“Jika sudah seperti ini, sepertinya memang tidak ada yang bisa dipertahankan lagi. Lebih baik kita berpisah.”

Taeyeon tersentak kaget, begitu pun dengan Tiffany yang detik itu langsung merasa bersalah pada sahabatnya karena berkat idenya semua menjadi seperti ini. “Mana kuncinya?” Baekhyun kembali mengulang pertanyaannya. Kali ini dengan nada suara yang begitu dingin. Tiffany melirik kearah Taeyeon, dan dengan tidak rela menyerahkan kunci gudang ke tangan Baekhyun. Pria itu langsung bergegas menuju gudang setelah mendapatkan kuncinya, namun suara Taeyeon yang bergetar seketika menghentikan langkahnya.

“Kau mencintai gadis itu, bukan?”

Baekhyun memejamkan matanya, menarik napas panjang dan dengan satu kata yang begitu pendek, ia berhasil semakin memporak-porandakan perasaan Taeyeon.

“Ya.”

 

*****

 

Jihyun nyaris bertapa dalam gudang ketika tiba-tiba pintu tersebut terbuka dari luar. Sontak gadis itu berdiri dari duduknya dan langsung bergegas kearah pintu. Wajah sumringahnya mendadak muram begitu melihat Baekhyun yang tersenyum sok polos dihadapannya. Pria itu masih menggenggam kunci gudang ditangannya. “Kau tidak apa-apa?” Baekhyun bertanya cemas seraya menyentuh kedua pipi Jihyun. Gadis itu mundur teratur, mengisyaratkan bahwa ia tidak nyaman atas perlakuan Baekhyun.

“Aku tidak apa-apa. Hmm… terima kasih.”

Baekhyun tersenyum. Pria itu kemudian melepas jaketnya dan memakaikannya ke bahu Jihyun. “Pakailah. Kau sudah menggigil.” Ucapnya kala menerima penolakan dari Jihyun. Gadis itu bungkam dan memilih membiarkan jaket itu membalut tubuhnya guna menghalau cuaca dingin. Jihyun tidak bisa menutupi rasa penasarannya karena mendapati Baekhyun baru saja menolongnya. Bagaimana mungkin namja itu tahu bahwa dirinya berada didalam sana?

“Bagaimana kau tahu aku ada didalam sana? Apa kau tahu siapa yang sudah mengunciku didalam sana?” Tanya Jihyun.

Baekhyun tampak agak ragu sebelum pada akhirnya pria itu memutuskan untuk menjawab dengan jujur. “Aku minta maaf. Kau berada didalam sana karena diriku. Hmm, Taeyeon. Dia yang melakukannya. Aku tidak sengaja mendengar pembicaraannya dengan Tiffany.”

“Ah, seharusnya aku tidak perlu bertanya-tanya. Tentu saja dia yang melakukannya.” Gumam Jihyun, namun cukup keras hingga dapat didengar oleh Baekhyun. Pria itu semakin merasa tidak enak hati.

“Dan kau sekarang disini. Ini akan semakin memperkeruh keadaan. Taeyeon sunbae akan semakin membenciku.”

“Kau jangan khawatir. Akan kupastikan bahwa dia takkan bisa mengganggumu lagi. Aku bersumpah mulai saat ini akan melindungimu dan…”

“Geumanhe! Kau tidak seharusnya menolongku. Taeyeon adalah yeojachingumu. Sudah selayaknya kau berada dipihaknya. Ia seperti ini karena ia cemburu kepadaku. Ia takut aku akan merebutmu dari sisinya.” Jihyun menghentikan langkahnya tepat dihadapan Baekhyun dan kemudian menatap pria itu intens. “Terima kasih banyak karena kau sudah menolongku, tapi sebaiknya kau jangan mendekatiku lagi. Aku tidak ingin Taeyeon semakin salah paham dan orang-orang akan semakin menjulukiku sebagai perebut kekasih orang lain. Aku tidak ingin seperti itu.” Ujar Jihyun.

Baekhyun menghela napas pelan. “Tidak perlu khawatirkan soal itu. Aku dan Taeyeon sudah berpisah, jadi sekarang aku bebas untuk dekat dengan siapa saja.”

Jujur saja Jihyun merasa amat sangat kaget dengan berita yang dibawa Baekhyun. Jika saja berita ini didengarnya tiga bulan yang lalu, dapat dipastikan ia akan menjadi orang yang pertama untuk merayakannya. Tapi sekarang keadaan telah berbeda. Ia tidak merasakan perasaan apapun, apalagi senang kala mendengar berita tersebut. Yah, perasaannya pada Baekhyun memang terbukti telah hilang. Jihyun tidak memberikan tanggapan apapun atas perkataan Donghae. Bukannya merasa terlalu percaya diri, namun gadis itu cukup cerdas dan peka untuk tahu bahwa dirinyalah penyebab berakhirnya hubungan Baekhyun dan Taeyeon.

‘Ah, ini justru akan semakin memperburuk keadaan.’ Batin Jihyun.

 

*****

 

“Aku sedang dalam perjalanan ke rumah Jihyun. Eo, tenang saja, aku akan tetap ikut bergabung kok. Aku hanya ingin mengembalikan buku Jihyun, mumpung searah. Ah oke, sampai bertemu nanti.”

Layar ponsel Donghae mati begitu panggilan telepon diakhiri oleh Woo Bin. Donghae membelokkan stir mobilnya kearah rumah Jihyun. Pria itu berharap bahwa sang gadis berada di rumah, sebab sudah sejak tadi ia mencoba untuk menghubungi ponsel Jihyun namun ponsel gadis itu sulit sekali untuk dihubungi. Rumah Jihyun sudah tampak dari posisinya sekarang. Rumah yang halaman depannya dipenuhi bunga itu tampak sepi. Wajar saja, mengingat Jihyun hanya tinggal berdua saja bersama adik laki-lakinya lantaran ayah dan ibunya yang bekerja di luar kota.

Donghae mengernyit heran begitu mendapati Jihyun dan Baekhyun yang tampak sedang terlibat dalam sebuah percakapan serius. Pria itu ingin sekali menghampiri Jihyun dan mengusir Baekhyun jauh-jauh dari pacar bohongannya itu, tapi ada sesuatu yang menahan Donghae untuk tetap berada didalam mobilnya, duduk diam mengamati kedua muda mudi itu. Tak lama kemudian kedua mata Donghae terbelalak sempurna menatap pemandangan tak mengenakkan dihadapannya itu. Baekhyun dan Jihyun berciuman. Oh, lebih tepatnya Baekhyun mencium Jihyun. Namun yang membuat perasaan Donghae semakin tak karuan adalah karena Jihyun tak tampak menolak ciuman tersebut.

Apa jangan-jangan Jihyun sudah kembali berpaling kepada Baekhyun? Itu tidak terdengar mustahil jika mengingat bahwa gadis itu pernah sangat menyukai namja bermarga Byun itu.

Kedua tangan Donghae mencengkram kemudi dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ada perasaan sakit dihatinya. Perasaan marah dan kecewa layaknya orang yang dihianati. Tapi tunggu! Dia dan Jihyun tidak memiliki hubungan apapun selain pacar pura-pura. Kenapa ia harus merasa terhianati? Jihyun berhak untuk berciuman dengan siapa saja. Toh kenyataannya dirinya bukanlah kekasih Jihyun. Ia tidak berhak marah. Ia tidak berhak cemburu. Dan yang jelas, ia tidak seharusnya merasa dihianati.

“Sial!” Umpat Donghae seraya memutar arah mobilnya. Ia memutuskan pergi dari sana.

‘Apa ini berarti bahwa sandiwara ini akan segera berakhir?’

 

 

-To Be Continued-

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

14 tanggapan untuk “Hoot (Part 8)

  1. Akhirnya stlah skian lama update juga kkk
    Taeyeon kena batunya gara2 ngikutin ide tiffany skrg dia putus sm baekhyun haha
    Itu asli mereka ciuman? Duuuuh kasian hae 😞
    Aku nunggu kelanjutan ff ff mu thor ^^

  2. yeyeye part 8 keluar iish baekhyun nyebelin banget naril ulur semaunya udah gitu jihyun sengsara gara2 dia huh
    bagus banget baekhyun ga dapetin dua2nya tapiii tapiii dia bisa2nya nyium jihyun daan di depan hae oppa lagi emang ya lama kelamaan perasaan itu bisa berubah malah berubah total kayak gitu daebaak lah
    jiyeon sama kyu kemajuannya kecil nih wkwkwk
    tapi tetep ditunggu loh kelanjutannya aku suka sama ceritanya soalnya disini jiyi bukan musuh cast utamanya wkkk
    ditunggu kelanjutannya ‘-‘)b

  3. Kyaaaa kyuyeon movie date nih yeeee😆 btw suka bangeeeet pas Baekhyun dapet karma. Heee, Donghae gak perlu khawatir, kalo Jihyun ninggalin kamu, aku siap sedia nampung kok /digorok/ lol semangat bel lanjutin ceritanya, bakal selalu ditunggu kokkk😉

  4. Aduhhh kasiah donghae oppa….coba jujur ajha sama perasaannya….hahahahha karna terbawa suasana ff eonni yg daebak!!bngt,aku yg selalu ngeutamain kyu oppa kini berpaling kee donghae oppa wkwkwkbecanda….
    Semangat eonni salam sukses..
    Gomawo udah bikin ff keren..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s