Diposkan pada Chapters, KyuLa Couple (Kyuhyun Haneul)

Hoot (Part 9)

1433078949051

Author : Cho Haneul
Title      : HOOT
Type      : Chaptered
Genre    : Romance, Comedy, Friendship
Poster : @shirlyuanaaa

Cast :
– Nam Ji Hyun
– Lee Dong Hae
– Park Ji Yeon as Kim Ji Yeon
– Cho Kyu Hyun
– Byun BaekHyun
– Kim Woo Bin
– Lee Jonghyun

_______________________________________

Jihyun mendorong tubuh Baekhyun perlahan, melepaskan kontak fisik yang terjadi diantara mereka. “Maaf.” Ucap Baekhyun lirih, menyadari bahwa dirinya telah bertindak diluar batas. Jihyun menatap pria itu dengan pandangan yang sulit diartikan. “Sekarang aku semakin yakin.” Baekhyun menatap Jihyun intens, menunggu lanjutan dari ucapan gadis itu. Jihyun balas menatap Baekhyun. Tatapan matanya tampak begitu yakin. “Aku semakin yakin jika aku sudah tidak menyukaimu seperti dulu. Ciuman tadi… aku tidak merasakan apapun. Aku sadar bahwa aku hanya mencintai satu orang sekarang. Dan kurasa tanpa kuberitahupun kau sudah tahu siapa pria yang kumaksud. Kumohon, setelah ini jangan mengejarku lagi. Aku bisa terima jika kau ingin berteman denganku, tapi untuk hubungan yang lebih, mian, aku tidak bisa.” Ujar Jihyun dan kemudian gadis itu masuk kedalam rumahnya dengan berlari-lari kecil. Baekhyun terdiam. Baru kali ini ia ditolak mentah-mentah oleh seorang yeoja. Perasaannya tidak terkira.

‘Apa ini karma atas perbuatanku terdahulu?’ Batin Baekhyun.

 

*****

 

Jihyun kelabakan. Seharian ini ia tidak bisa menghubungi Donghae. Jangankan menghubungi, pria itu bahkan tidak menjemput dirinya seperti biasa. Walhasil hari ini Jihyun terlambat masuk kelas pertamanya. Jihyun tidak kesal. Justru sebaliknya, gadis itu merasa khawatir. Ia takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Donghae, apalagi kematian kakeknya belum lebih dari sebulan.

“Masih belum bisa dihubungi?” Tanya Jiyeon sembari meletakkan nampan yang berisi makanan, lalu menyerahkan sepiring spagethi kepada Jihyun. Jihyun mengalihkan pandangan dari layar ponselnya dan kemudian menggeleng sedih. “Masih tidak diangkat.” Jihyun mengaduk-aduk spagethi-nya, namun tak berapa lama kemudian gadis itu mendongak menatap Jiyeon. “Ah, bagaimana jika kau tanya pada Kyuhyun oppa atau Woo Bin oppa? Mereka pasti tahu!” Ujar Jihyun bersemangat. Secercah harapan muncul kala mengingat dua sunbaenya yang notaben adalah teman dekat Donghae.

“Ah, majayo. Coba aku telpon Woo Bin oppa dulu.” Ujar Jiyeon. Gadis itu meraih ponselnya, mencari kontak sang oppa dan kemudian menghubungi pria itu. Tak lama, panggilan tersebut dijawab oleh Woo Bin.

“Oppa, kau ada dimana sekarang?”

“Apa kau tahu dimana Donghae oppa berada? Ia tidak menjawab panggilan Jihyun sedari tadi. Jihyun khawatir.”

“… eo, begitu. Baiklah kalau begitu. Apa oppa tahu dimana kira-kira Donghae oppa berada?”

Wajah Jihyun langsung kembali muram. Mendengar perkataan Jiyeon sudah dapat memberikan asumsi bahwa Woo Bin tidak mengetahui dimana keberadaan kekasih bohongannya itu. Jiyeon mengakhiri panggilan. Gadis yang baru saja memotong rambutnya hingga sebahu itu menatap Jihyun sedih. “Oppa juga tidak tahu dimana keberadaan Donghae sunbaenim. Katanya Donghae sunbae tidak masuk kuliah hari ini.”

Jihyun menghela napas frustasi. “Tidak biasanya oppa seperti ini. Apa terjadi sesuatu? Aku takut jika… yah, kau tahu sendiri kan bagaimana kondisinya setelah kematian kakeknya. Terkadang Donghae oppa masih menyalahkan dirinya. Aku takut jika…”

“Tenang saja. Donghae oppa tidak akan melakukan hal yang bodoh. Mungkin dia sedang ada urusan. Kalau kau khawatir, bagaimana jika sepulang nanti kita mendatangi rumahnya saja? Aku bisa minta Woo Bin oppa atau Kyuhyun oppa mengantarkan kita kesana. Kurasa mereka pasti juga khawatir.”

“Ide bagus.”

Jiyeon tersenyum kecil. “Nah sekarang habiskan makananmu. Biasanya tidak sampai lima menit piringmu sudah kosong.” Goda Jiyeon, yang dihadiahi dengan cubitan kesal dari Jihyun. “Sialan kau! Aku tidak serakus itu, eo!”

Jiyeon tertawa kecil. “Ara ara. Memang tidak selalu sih, hanya terkadang hahaha…”

“Kim Jiyeon!”

tumblr_m2xnkmvfx51qbjs6xo1_500

 

*****

 

Rumah dengan arsitektur Korea itu tampak sepi tak berpenghuni. Pandangan Jihyun tanpa sadar terpaku pada kolam ikan yang ada ditaman depan rumah. Gadis itu jadi teringat dengan kakek Lee. Biasanya saat ia berkunjung kesana, ia akan mendapati sang kakek yang sedang memberi makan ikan atau hanya sekedar duduk bersantai didekat kolam. Mengingat itu membuat Jihyun merasa senang sekaligus sedih.

“Sepertinya tidak ada orang di rumah.” Ujar Kyuhyun.

Jihyun menatap pintu rumah dan kemudian membunyikan bel yang ada disana. Akan tetapi berkali-kali ia memencet bel tersebut tetap tak ada sahutan. Tampaknya rumah itu memang kosong. Jihyun jadi semakin khawatir. Apa benar-benar telah terjadi sesuatu?

“Oppa, coba hubungi temanmu yang lain. Mungkin mereka tahu dimana keberadaan Donghae oppa.” Pinta Jihyun pada Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh kearah Jihyun. “Aku bahkan sudah melakukannya terlebih dahulu. Tapi Donghae sama sekali tidak memberikan kabar apapun kepada kami. Mungkin ia sedang mengantar nenek ke makam kakek, atau mereka ada acara keluarga? Kau lihat sendiri kan jika nenek juga tidak berada di rumah.” Mau tak mau Jihyun membenarkan perkataan Kyuhyun. Bahu gadis itu tampak lunglai. Ia tidak akan bisa tenang sebelum bertemu dengan Donghae.

“Jihyun-ah.” Jiyeon mengusap bahu temannya itu sembari menatapnya lembut. “Donghae oppa pasti akan baik-baik saja. Mungkin besok ia sudah kembali ke kampus. Sekarang kita pulang saja ya.” Bujuk Jiyeon. Jihyun mengangguk pasrah. Toh, tak ada lagi yang bisa dilakukannya selain menunggu.

 

*****

 

Donghae kembali ke kampus setelah dua hari menghilang tanpa kabar. Jihyun mendapat kabar dari Jiyeon yang tentunya tahu dari Kyuhyun serta oppanya, Woo Bin. Dengan langkah semangat gadis itu melangkah menuju tempat dimana Donghae beserta teman-temannya menghabiskan jam kosong mereka. Dari kejauhan Jihyun sudah bisa melihat sosok itu. Tak dapat dipungkiri bahwa perasaannya lega seketika kala melihat bahwa namja itu baik-baik saja. Jihyun berusaha keras menahan diri agar tidak tersenyum lebar yang mana akan membuatnya tampak bodoh dan konyol.

gods-quiz-4-hae1

“Donghae oppa.” Gadis itu menyapa Donghae sembari tersenyum manis, kemudian secara bergantian juga menyapa teman-teman Donghae yang ada disana. Jihyun merasa heran melihat respon Donghae yang begitu cuek dan terkesan dingin. Persis seperti masa-masa awal mereka dulu. Tapi Jihyun berusaha menepis perasaan asing itu. “Oppa kemana saja selama dua hari ini? Kenapa tidak mengabariku?” Tanya Jihyun. Bukannya langsung menjawab, Donghae justru berdiri dari duduknya. “Ikut aku!” Ujar pria itu, lalu berjalan lebih dulu, meninggalkan Jihyun yang sempat cengo melihat perubahan sikap Donghae kepada dirinya. Gadis itu kemudian berlari-lari kecil, berusaha untuk mensejajarkan langkahnya dengan Donghae.

Pria itu membawanya kearea taman kampus yang agak sepi. Jihyun menatap Donghae penuh tanya, sedangkan pria itu menatapnya datar. “Oppa—“

44ee4fd73a94dee205e933ffc0749a63

“Aku ingin kita menghentikan sandiwara ini.” Nada suara Donghae terdengar begitu dingin, sedingin ekspresi yang tengah terpatri diwajahnya saat ini. Dada Jihyun berdenyut sakit. Ini terlalu tiba-tiba baginya. Beberapa hari yang lalu Donghae bahkan masih mengusap kepalanya penuh sayang. Apa itu hanya sandiwara belaka?

Tentu saja begitu! Seharusnya Jihyun tidak lupa jika hubungannya dengan Donghae sebatas sandiwara dan kapan saja pria itu bisa memintanya untuk menghentikan ini semua. “Ta… tapi kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?” Bibir Jihyun tampak bergetar, sepertinya gadis itu akan menangis dalam hitungan detik. Dan benar saja, setetes air mata tampak jatuh dipipinya, namun secepat kilas dihapus oleh Jihyun.

“Bukankah sejak awal kau juga tahu dengan pasti bahwa sandiwara ini akan berakhir? Lagipula bukankah diperjanjian kita aku bebas untuk meminta sandiwara ini berakhir jika aku sudah tidak ingin? Lagipula, kau sudah memilih pilihanmu untuk bersamanya. Kurasa tak ada gunanya lagi sandiwara ini tetap dijalani.”

Dahi Jihyun mengernyit bingung mendengar perkataan Donghae. “Maksud oppa apa? Aku sama sekali tidak mengerti. Siapa ‘dia’ yang kau maksud?”

Donghae tersenyum kecil. “Tentu saja Baekhyun. Seharusnya kau jujur padaku jika kau memutuskan untuk kembali padanya. Aku tidak akan marah apalagi melarangmu.”

“Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Kau tahu kan betapa aku membencinya.”

“Kau tidak akan menerima ciumannya jika kau membencinya.”

Jihyun tersentak kaget. Ia tidak menyangka jika Donghae melihat kejadian itu. Buru-buru gadis berwajah kalem itu meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Namun Donghae seakan tak peduli. “Kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku. Hubungan kita hanya sandiwara. Kau berhak bersama siapapun, termasuk Baekhyun. Jadi mulai sekarang sandiwara ini resmi dihentikan. Sudah saatnya kita kembali pada realita dan menjalani kehidupan masing-masing.” Wajah Donghae sama sekali tidak menyiratkan keraguan atau kesedihan saat mengucapkan kalimat tersebut, membuat hati Jihyun semakin berlipat-lipat sakitnya. Secara tidak langsung namja itu tengah mengisyaratkan bahwa hubungan yang selama ini mereka jalani sama sekali tidak berarti dimatanya. Bahwa Jihyun sama sekali tidak pernah berhasil menyentuh hati pria itu. Jadi, apa selama ini Jihyun sudah terlalu terlena dengan sandiwara yang ia ciptakan sendiri? Apa selama ini semua perlakuan Donghae benar-benar hanya sekedar sandiwara?

Jihyun meringis menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta pada pria yang bahkan tidak sedikitpun mencintainya. Untuk kedua kalinya gadis ini harus mengalami patah hati. Tapi kali ini lebih sakit daripada sebelumnya.

Donghae berlalu begitu saja tanpa menunggu respon dari Jihyun. Gadis itu hanya dapat memandang pria yang secara tak sadar sudah mulai dicintainya itu dengan tatapan nanar. Betapa ingin ia menahan pria itu untuk terus berada disisinya. Betapa ingin ia berteriak mencegah Donghae pergi dan memeluk tubuh pria itu erat. Tapi Jihyun tidak bisa melakukan itu. Pria itu tidak memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, jadi satu-satunya jalan adalah Jihyun akan melepaskan pria itu. Seperti yang Donghae inginkan.

news_still06

 

*****

 

Jiyeon berjengit kaget begitu sesuatu yang terasa beku menempel dipipinya. Gadis itu sontak langsung menoleh dan kemudian tertawa kecil mendapati Jonghyun yang menempelkan minuman kaleng ke pipinya. Pantas saja terasa begitu dingin. Pria itu lalu duduk disebelah Jiyeon. Tangan kanannya terjulur guna untuk menyerahkan sekaleng minuman dingin pada Jiyeon yang langsung diterima dengan senang hati oleh gadis cantik itu. Cuaca Seoul yang sudah mulai memasuki musim panas nyatanya cukup membuat gadis itu merasa kegerahan.

“Terima kasih sudah menemaniku mencari lokasi yang cocok.” Ucap Jonghyun tulus.

“Sama-sama. Aku senang bisa membantu. Kebetulan saja sih aku tahu lokasi yang bagus untuk syuting film pendekmu. Kapan kalian akan mulai syuting?” Jiyeon menatap Jonghyun sembari meminum jus jeruk miliknya.

“Mungkin dua atau tiga hari lagi. Masih ada beberapa hal kecil yang harus dibereskan sebelum syuting dimulai.”

“Oh, begitu. Jika butuh pemain wanita jangan sungkan-sungkan untuk memanggilku.” Canda Jiyeon, membuat Jonghyun tertawa menampakkan lesung pipinya. Wajah pria itu tampak begitu sumringah. Wajar saja, mengingat seharian ini ia dapat menghabiskan waktunya bersama Jiyeon. Yah, meskipun notabennya gadis itu hanya menunjukkan lokasi-lokasi yang cocok untuk tugas syutingnya, namun bagi Jonghyun ini adalah sebuah kencan. Yah, kencan romantis hanya dia dan Jiyeon. Tanpa si pengganggu Cho Kyuhyun. Jonghyun tertawa kecil. Pria itu yakin jika Kyuhyun pasti akan kebakaran jenggot jika tahu dirinya tengah bersama dengan Jiyeon.

“Ada yang lucu?” Tanya Jiyeon dengan wajah bingung, yang sungguh demi apapun terlihat sangat imut dan menggemaskan diwajah Jonghyun.

Pria itu menatap sekitarnya. Mereka tengah berada disebuah taman yang kebetulan sepi karena ini merupakan hari kerja. Pria itu kemudian menoleh kearah Jiyeon. Batinnya bergejolak. ‘Ini waktu yang tepat! Jika tidak sekarang, maka aku tidak tahu lagi kapan kesempatan emas seperti ini akan datang.’

“Jiyeon-ah…”

“Ya?”

Jonghyun menghembuskan napasnya berkali-kali. Tampak sekali jika gitaris band itu sedang begitu gugup. Jonghyun bahkan tidak segugup ini saat harus tampil didepan ratusan orang, tapi mengapa ia merasa segugup ini disaat yang memandangnya hanya sepasang mata meneduhkan milik Jiyeon? Oh, dia benar-benar jatuh cinta pada gadis ini.

“Aku menyukaimu. Sudah lama. Tapi… aku selalu ragu untuk mengungkapkannya karena kau selalu dikelilingi oleh oppamu dan juga Cho Kyuhyun. Aku hanya ingin tahu apa kau juga memiliki perasaan yang sama denganku. Aku ingin agar kau menjadi kekasihku.” Akhirnya kata-kata keramat itu terucap dari bibir Jonghyun. Berkali-kali ia berniat untuk mengungkapkan perasaannya pada Jiyeon, namun berkali-kali itu juga ia selalu gagal. Ada saja hal yang merintanginya. Salah satunya kehadiran Cho Kyuhyun yang bak seorang bodyguard.

Jiyeon termangu. Matanya fokus menatap kaleng jus jeruk yang masih menyisakan setengah isinya. Suasana diantara mereka mendadak menjadi amat canggung, layaknya dua orang yang tak saling mengenal namun harus duduk bersama dibangku taman itu. Jonghyun berharap-harap cemas sembari tak henti-hentinya mencuri pandang kearah Jiyeon. Sedangkan Jiyeon? Gadis itu bahkan tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari kaleng minuman ditangannya.

“Jiyeon?”

“Terima kasih sebelumnya. Aku sangat menghargai perasaan yang sunbae miliki padaku. Sunbae adalah namja yang baik. Tapi… aku tidak bisa. Aku sudah menyukai namja lain.” Jawab Jiyeon dengan suara lirih. Jonghyun tersenyum masam. “Kyuhyun?” Tanyanya berusaha sebisa mungkin agar tidak terdengar ketus ditelinga Jiyeon. Jiyeon masih menunduk, namun perlahan kepalanya mengangguk disertai dengan jawaban langsung dari bibir pink-nya itu. “Ne, aku memang menyukai Kyuhyun.”

“Apa lebihnya dia dibandingkan aku?”

“Tidak ada. Bahkan dalam beberapa hal sunbae jauh lebih baik darinya. Namun meskipun begitu, aku hanya merasa sangat nyaman saat berada disisinya. Ia memang kerap menyebalkan dengan sifat usil, egois serta cuek yang dimilikinya. Tapi entahlah, aku justru menyukai semua sifatnya itu. Mungkin karena aku terbiasa dengan kehadirannya disekitarku.”

Jiyeon menatap Jonghyun dengan merasa bersalah. Jonghyun sudah sangat baik padanya, tapi apa mau dikata, hatinya sudah terkait pada Kyuhyun, pria yang tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya untuk dijadikan kekasih. Masa depan memang selalu menjadi misteri. Tidak pernah tertebak. Masa depan bisa menjadi 180 derajat berbeda dari bayangan kita.

“Mianhe sunbae…”

Jonghyun tersenyum kecil, berusaha untuk memendam rasa sakit yang mendera hatinya agar tidak terlalu tampak. “Gwenchana. Setidaknya aku sudah mengungkapkan perasaanku dan kau juga tahu bagaimana isi hatiku. Soal diterima atau tidak, itu tidak terlalu penting. Terima kasih sudah mau berkata jujur.” Ucap Jonghyun masih dengan senyuman miris yang terpatri diwajah tampannya. Pria itu kemudian menenggak isi kaleng soda yang sejak tadi digenggamnya. Seketika rasa dingin menjalari kerongkongannya. Ah, bahkan soda yang sekarang diminumnya terasa pahit. Sepahit perasaannya saat ini. Pria itu menatap jauh kearah langit sore yang begitu cerah. Suka atau tidak ia harus menerima kekalahannya.

‘Dasar bajingan beruntung kau, Cho Kyuhyun.’

 

*****

 

WE3vARZG

“Donghae oppa mengakhiri hubungan kalian?”

Jihyun menelungkupkan kepalanya diatas meja. “Hubungan sandiwara, Yeon.” Gumamnya tidak jelas. Jiyeon menatap sahabatnya itu iba. Dia tahu dan sadar benar bagaimana perasaan Jihyun pada Donghae, dan sepenglihatan Jiyeon, Donghae juga menunjukkan gelagat yang sama. Meskipun ramah dan lembut, tapi Donghae bukan tipe namja yang mudah dekat dengan wanita. Dengan dirinya saja yang notaben adik Woo Bin, membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk mereka menjadi dekat seperti sekarang. Padahal jelas-jelas pria itu hampir setiap hari bertandang ke rumahnya.

“Kau sudah mencoba untuk menjelaskan sekali lagi kepada Donghae oppa bahwa ciuman itu sama sekali tidak berarti? Kau hanya ingin memastikan perasaanmu pada Baekhyun.”

“Dwaesseo. Tidak ada gunanya aku menjelaskan itu pada Donghae oppa. Toh, dia memang tidak pernah mencintaiku. Semuanya hanya sandiwara. Sandiwara.”

Jiyeon berdecak kesal. Dengan paksa ditariknya tangan Jihyun sehingga membuat gadis berambut panjang itu mau tak mau berdiri. “Apa-apaan sih?” gerutu Jihyun kesal karena aksi galaunya diinterupsi oleh Jiyeon. “Yak! Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Duduk diam disini sembari meratapi nasib takkan membawa Donghae oppa kembali kepadamu. Setidaknya kau harus mengungkapkan perasaanmu. Bagaimana jika seandainya ia juga menyukaimu? Hanya saja ia berpikir jika kau masih belum bisa melepas Baekhyun.”

Jihyun menatap Jiyeon dengan matanya yang berkaca-kaca. “Bagaimana aku bisa menjelaskan padanya jika ia saja sudah tidak pernah mengangkat telepon atau membalas pesan singkatku lagi. Bahkan ia selalu menghindar jika berpapasan denganku di kampus. Aku harus bagaimana, Yeon?” Nada suara Jihyun terdengar begitu putus asa. Jiyeon seakan mengalami flashback beberapa bulan yang lalu, saat Baekhyun dengan brengseknya mencampakkan temannya ini. Apa kejadian yang sama tengah kembali terulang? Aniya! Jiyeon yakin bahwa Donghae tidak akan sebrengsek itu. Jiyeon bertekad untuk menolong Jihyun. Yah, sepertinya ia harus langsung turun tangan kali ini.

 

*****

 

Jiyeon mendengus kesal tanpa sadar, membuat Kyuhyun yang tengah mengemudi disebelahnya sempat melirik bingung kearah gadis itu. Tapi Kyuhyun tidak mengatakan apapun. Pria itu kembali fokus pada jalanan Seoul yang sore ini lumayan padat.

Jiyeon melirik Kyuhyun kesal, kemudian kembali menoleh kearah jendela disebelahnya yang menampakkan pemandangan kota Seoul. Wajah gadis itu tak tampak ceria seperti biasanya. Pikiran Jiyeon tengah melanglang buana memikirkan Kyuhyun yang sudah dua minggu belakangan ini tidak pernah memintanya menjadi kekasih pria itu lagi. Jiyeon jadi was-was. Apa jangan-jangan Kyuhyun sudah mulai menyerah padanya?

Ironis memang. Dulu, disaat Kyuhyun mati-matian selalu mengejar cintanya setiap hari, Jiyeon justru menghindar karena merasa lebih nyaman dengan status mereka sebagai teman, tapi sekarang, gadis itu justru uring-uringan karena Kyuhyun tidak pernah memintanya untuk menjadi kekasih pria itu lagi. Jiyeon menoleh kearah Kyuhyun. “Oppa…”

“Hm?”

“Apa… permintaanmu yang waktu itu masih berlaku?” tanya Jiyeon dengan suara yang begitu pelan.

Kyuhyun mengernyit. “Permintaan? Yang mana ya? Memangnya aku pernah meminta sesuatu kepadamu?”

Bibir Jiyeon maju beberapa centi. Ia tampak begitu kesal pada Kyuhyun yang dengan seenak perutnya melupakan pernyataan cinta namja itu sendiri. Cih, bagaimana bisa ia melabuhkan hatinya pada pria sebodoh ini?!

“Pemintaan bahwa kau ingin menjadi… ah, dwaesseo! Anggap saja aku tidak pernah bertanya apapun!” Jiyeon melipat kedua tangannya didepan dada. Wajahnya semakin masam. Dalam hati bertubi-tubi kata makian sudah gadis itu lontarkan khusus ditujukan untuk Kyuhyun. Tiba-tiba Kyuhyun menghentikan mobilnya dipinggir jalan yang sepi. Sepanjang jalanan itu ditumbuhi pohon yang begitu rindang hingga sinar matahari yang terik tidak terlalu menerpa mereka. Jiyeon hanya diam, meskipun ia penasaran setengah mati kenapa Kyuhyun memberhentikan mobil disana. Tempat tujuan mereka bahkan masih berkilo-kilo meter jauhnya.

“Hei, tatap aku!” Pinta Kyuhyun lembut sembari menarik dagu Jiyeon pelan kearahnya. Mau tak mau Jiyeon menatap kedua mata Kyuhyun yang kata orang-orang begitu indah itu. “Jangan merajuk. Aku tidak lupa, Ji. Hanya ingin menggodamu saja. Tidak mungkin aku setolol itu melupakan permintaan yang paling kuharapkan jawabannya darimu. Permintaan itu masih berlaku sampai kapanpun. Waeyo?” Kyuhyun mengusap-usap pipi Jiyeon lembut yang tak ayal membuat wajah gadis itu bersemu merah. “Aku… aku ingin kau meminta itu lagi…” Gadis itu berkata malu-malu. Wajah Kyuhyun langsung sumringah. Ia tahu apa artinya ini.

Dengan kedua mata yang berbinar, pria itu menatap gadis pujaannya. “Kim Jiyeon, apa kau mau menjadi kekasihku?” tanya Kyuhyun to the point. Tak ada lagi basa-basi atau sekedar kalimat pembuka. Ia sudah tak sabar menantikan jawaban gadis itu.

“Aku mau.”

Dua kata itu cukup membuat jantung Kyuhyun berdebar-debar. Dua kata itu juga yang telah membayar penantiannya selama tiga tahun belakangan ini. Dan dua kata itu juga yang telah mengubah hidup seorang Cho Kyuhyun dimulai dari detik ini.

 

*****

 

“Sayang, apa yang kau inginkan sebagai hadiah ulang tahunmu?”

Jihyun menatap ibunya cengo, namun sesaat kemudian gadis itu menepuk dahinya. Ia melupakan hari ulang tahunnya besok! Adik laki-laki Jihyun tertawa melihat ekspresi bodoh kakaknya. “Noona pasti lupa ya?”

“Aku benar-benar lupa!” Seru Jihyun. Sang ibu tersenyum sembari mengusap kepala anak gadisnya itu. “Lalu, hadiah apa yang kau inginkan?” Tanya ibunya lagi. Jihyun mengedikkan bahu. Ia sedang tidak menginginkan apapun saat ini. Ah ada! Ia ingin Donghae kembali padanya. Apa ibunya bisa memberikan itu?

“Jam tangan baru? Ponsel baru? Ah, tiket konser?” Ayah Jihyun mengira-ngira apa yang ada dipikiran Jihyun. Jihyun menghela napas. “Terserah saja. Keunde, aku ingin kita sekeluarga makan malam di luar. Sudah lama kan kita tidak melakukannya. Otte?”

“Ide yang bagus.”

“Kita ke restoran yang didekat pantai saja, bu. Aku ingin makan seafood.” Junhong berkata sembari bergelayut manja dilengan ibunya. Kebiasaan pria berusia 18 tahun itu jika ingin merayu ibu tercintanya. Ibunya mencubit pipi Junhong gemas. “Kau selalu pandai merayu. Tanyakan saja pada noonamu. Kan dia yang berulang tahun, jadi dia yang berhak memilih tempat.”

Junhong menoleh kearah Jihyun. Dengan mata berkedap-kedip ia mencoba merayu kakaknya. Jihyun mengernyit dan berlagak seperti akan muntah. “Ya ya, kita akan makan di restoran itu. Kumohon hentikan ekspresi menjijikkan itu! Kau membuatku merinding.” Seru Jihyun.

Gadis itu beranjak dari sofa ruang keluarga dan kemudian kembali ke kamarnya setelah berpamitan kepada ayah dan ibu. Begitu membuka pintu kamar, Jihyun langsung disambut dengan deringan ponselnya yang mengalunkan lagu Too Many Beautiful Girls dari Super Junior. Setengah berlari, Jihyun menuju keranjangnya dan bergegas menjawab panggilan tersebut.

“Halo?”

“Yak, kenapa lama sekali?!”

“Aku habis makan malam, Yeon Yeon. Wae geure?”

“Temani aku di rumah malam ini. Woo Bin oppa akan menginap di rumah temannya. Ada tugas katanya. Aku tidak ingin sendirian di rumah dimalam yang indah ini.”

Jihyun terkekeh mendengar bahasa sok puitis Jiyeon. “Memangnya namjachingumu yang tampan itu kemana, eo?”

“Dia ada acara keluarga. Dan hei, apa kau sudah tidak mau menginap di rumahku lagi, eo? Tega sekali!”

Jihyun kembali terkekeh membayangkan wajah cemberut Jiyeon dan bibir gadis itu yang pasti sekarang sedang maju beberapa senti. “Ara ara! Aku akan meminta Junhong untuk mengantarkanku kesana. Tunggu aku ya.”

“Oke!”

Telepon ditutup. Jihyun langsung mengambil tas kecil diatas lemari, memasukkan dua pasang baju ganti, peralatan mandi serta beberapa alat riasnya. Beruntung Junhong sedang dalam mood baik, sehingga tanpa repot-repot merayu adiknya itu bersedia mengantarnya ke rumah Jiyeon.

 

*****

 

Girl’s night, hah?” Jihyun tersenyum sumringah melihat sekotak pizza berukuran large, dua kaleng soda, kentang goreng, pop corn, serta ada beberapa cemilan lainnya. Tak lupa pula beberapa keping DVD tersusun rapi diatas meja. Jiyeon mengangguk semangat. “Ya! Sekaligus untuk merayakan ulang tahunmu 4 jam lagi.” Ujar Jiyeon. Gadis itu terlihat imut dengan piyama pickacu kuningnya disertai dengan tudung kepala. Jiyeon mengambil sebuah bungkusan diatas meja dan menyerahkannya kepada Jihyun. “Hadiah ulang tahunmu.” Ucapnya.

Jihyun tertawa geli melihat isi kado Jiyeon. Sebuah piyama kostum lucu berbentuk Stitch, juga dilengkapi dengan tudung kepalanya. “Gomawo. Ini imut sekali.”

“Cepat sana ganti!” Ujar Jiyeon. “Oh iya, kau mau menonton film apa?”

“Apa kau sudah membeli kaset ‘A Long Way Down’?”

“Ya, aku sudah membelinya. Mau menonton itu dulu?”

“Yup! Kalau begitu aku ganti baju dulu.”

 

*****

 

Layar TV menunjukkan credit details, pertanda bahwa film telah berakhir. Jiyeon beranjak dari duduknya dan berjalan kearah TV. Dikeluarkannya DVD yang berada dalam DVD player, memasukkan DVD kembali kedalam kotak, lalu meletakkannya diatas meja, ditumpukkan paling atas. ‘John Wick’ adalah film kedua yang telah kedua gadis itu tonton malam ini. Jiyeon melirik jam di dinding 12:01 AM.

“Saengil chukkae, Jihyun-ah!” Jiyeon berkata seraya memeluk temannya itu. Jihyun tertawa kecil sembari membalas pelukan Jiyeon. “Gomawo, Yeon Yeon. Kau orang pertama yang mengucapkannya.”

“Haha, tentu saja. Aku kan memang selalu menjadi yang pertama.” Jiyeon membuat ekspresi seimut mungkin. “Dan kau tahu apa? Di kulkas ada Strawberry Shortcake yang sejak tadi menanti kita.” Bisik Jiyeon sok misterius. Jihyun terbelalak. Wow, malam ini dirinya benar-benar berpesta ria. Sepertinya besok ia harus mulai menyiapkan waktu untuk berolah raga mengingat sudah begitu banyak makanan yang masuk kedalam perutnya hanya dalam kurun waktu lebih kurang dari 4 jam. “Wow, ini baru yang namanya pesta!” Ujar Jihyun antusias.

Namun rasa antusias gadis itu berubah menjadi agak panik kala lampu tiba-tiba padam. Jihyun benci gelap meskipun ia tidak memiliki phobia terhadap suasana gelap.

“Aish sialan! Sepertinya ada masalah dengan sekring-nya. Aku sudah menyuruh Woo Bin oppa agar memanggil teknisi. Kemarin juga lampunya padam tiba-tiba seperti ini. Ja, biar aku periksa kedepan.”

Jihyun bisa merasa jika sofa yang didudukinya bergerak dan kemudian menjadi lebih ringan. Buru-buru ia mencoba menggapai tangan Jiyeon ditengah kegelapan yang melingkupi. “Ayo pergi bersama! Aku tidak mau ditinggal dalam gelap sendirian.” Ucap Jihyun, namun Jiyeon justru melepas tangannya.

“Kau tunggu disini saja. Tidak lama kok. Sebentar ya.” Tanpa menunggu jawaban Jihyun, Jiyeon justru beranjak pergi. “Jiyeon-ah!” Panggil Jihyun namun tak mendapat respon dari temannya itu. Akhirnya Jihyun menyerah dan memilih untuk duduk tenang ditempatnya meskipun sebenarnya ia merasa begitu tidak nyaman. Wajah gadis itu cemberut. “Awas kau Jiyeon!” gerutunya kesal.

Lima menit…

Enam menit…

Tujuh menit…

Delapan, Sembilan, sepuluh…

Hingga dimenit yang ke 16, namun lampu tak kunjung menyala. Jihyun bahkan tidak mendengar suara apapun. Gadis itu jadi merasa was-was. Mengapa Jiyeon lama sekali? Bukankah ia hanya memeriksa sekring listrik? Tanpa sadar Jihyun memeluk tubuhnya. Udara menjadi lebih dingin, membuat tubuh gadis itu agak menggigil. Jantung Jihyun berdebar. Haruskah ia menyusul Jiyeon? Atau lebih bijak jika ia tetap duduk manis disana?

BRAK!

Suara pintu terhempas cukup membuat Jihyun berjengit kaget. Gadis itu bahkan sudah hampir menangis saking kaget bercampur takut.

“Jiyeon? Kau kah itu?” Tanya Jihyun dengan suara gemetar. Sekali dengar orang pasti bisa berasumsi jika gadis itu sedang ketakutan. Suasana menjadi hening. Sama sekali tidak ada balasan dari Jiyeon. “Jiyeon-ah? Hei, ini tidak lucu, oke! Kau membuatku takut!” Seru Jihyun. Gadis itu memeluk bantal sofa dengan begitu erat didadanya. Ia tidak sadar bahwa ada beberapa pasang kaki yang tengah berjalan pelan dibelakangnyaa. Dan beberapa detik kemudian Jihyun meronta kaget saat ada sebuah tangan yang membekap mulutnya. Ia ketakutan. Siapa orang ini? Apa maunya?

 

 

 

-To Be Continued-

Pagi teman-teman sekalian! 😀

Akhirnya setelah sebulan aku kembali dengan membawa part 9 ini. Bukannya bermaksud untuk lepas tanggung jawab atau sebagainya. Cuma aku lagi ngidap writer’s block nih 😦 Jd walaupun ide mengalir deras, rasanya males bgt buat nulis. Terlebih kmrn2 aku lai fokus sama ff oneshoot aku yg ‘Because I Love You’ udh ada yg baca kah? hehe 😀

Well, please jangan protes2 soal panjang pendek chapter! itu bikin mood aku jelek bgt. Suer deh! Kalo mau kritik isi ff sih aku fine-fine aja, tp please jgn soal pendeknya chapter. Oh iya, ff ini bakalan segera tamat loh, jd mohon bersabar ya ^^

Makasih banyak buat yg selalu support dan nungguin ff ini. I Love You Guys! ❤

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

16 tanggapan untuk “Hoot (Part 9)

  1. Y’ampun knpa donghae gak dngerin penjelasan jihyun dlu sh , udh tau jihyun dh gak suka lgi sma baekhyun ,,
    Happy b’day yya buat jihyun and itu siapa yg bekep jihyun ? Apa jngn” donghae yya buat surprise ke jihyun , hhehehehe penasaran jdi’a .. Smangat buat author yaa .. 🙂

  2. yaab donghae ngambek gara2 jihyun dicium baekhyun tp ga mau nerima penjelasan baekhyun. padahal mereka berdua udah sama2 saling suka tapi masih rada gengsi huhuhu dan jonghyun berani juga nyatain perasaannya walaupun tau kalo jiyi pasti milih kyu hahaha
    aaa kasian jihyun harus patah hati lagi, siapa ya yg bekap jihyun apa jihyun lg dikerjain sama jiyi? omoo ga sabar sama kelanjutannya ditunggu banget yaa
    oia mianhae kalo komen aku pernah bikin kamu unmood *deep bow*

  3. bagaimana kelanjutan hub jihyun dan donghae,,,
    aigoo poor jonghyun ditolak kekek 🙂
    kyu akirnnya bisa mendapatkan cintannya …
    apa itu pesta kejutan buat jihyun ??
    apa donghae akan datang 🙂 next^^

    1. Haha, Jiyeon udh keburu nyantol ama Kyuhyun sih. pdhl kasian juga si Jonghyun. udh ngarep bgt ama Jiyeon. Hmm, ditunggu aja ya next chapnya. Makasih udh baca ^^

  4. mungkin itu kejutan,cider akhirnya kyuhyun diterima juga udah 3 tahun mendam rasa cinta,berarti. cinta kyu kuat ya,tetap gak berubah..

  5. huuwaaa pasti itu lee donghae yg mluk jihyun….mudah2an…kkk…ooyyeee kyuyeon udah jadian…tinggal haehyun….yg jadian beneran gak pura2 lgi yah….hehehe….lnjuuuuttt author niiiiiim semangat semangat figthing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s