Diposkan pada Chapters

The Bodyguard (Part 8)

1425994224260

Author : Cho Haneul
Title      : The Bodyguard
Genre   : Romance, Drama
Type     : Chaptered
Poster   : @shirlyuanaaa

Cast :
– Park Jiyeon
– Kim Yura (Kim Ah Young)
– Cho Kyuhyun
– Lee Donghae

______________________________________

Jika disuruh untuk memilih, maka kembali ke kediaman orang tuanya adalah hal terakhir yang ingin Donghae lakukan di dunia ini. Bukan bermaksud durhaka atau kurang ajar, hanya saja ia tidak suka melihat ayah tirinya yang arogan, kasar dan keras kepala. Sampai sekarang saja Donghae tidak mengerti mengapa mendiang ibunya begitu mencintai pria itu, Lee Dongjun.

Donghae melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah mewah itu. Rumah dimana ia menghabiskan masa kecilnya dan tumbuh menjadi seorang pria dewasa, hingga dua tahun yang lalu, setelah ibunya meninggal, Donghae memutuskan untuk angkat kaki dari rumah tersebut. Ini kali pertamanya setelah dua tahun Donghae kembali ke rumah itu. Kakinya berhenti didepan sebuah pigura foto besar dengan ukiran-ukiran disisinya. Pigura itu berisi foto keluarga yang kira-kira diambil 7 tahun yang lalu. Donghae termenung menatap wajah ibunya yang tampak begitu cantik dan bahagia. Ia merindukan wanita yang telah melahirkannya itu.

“Tuan Lee Dongjun sudah menunggu anda di ruang kerjanya.” Ujar salah seorang kaki tangan Lee Dongjun. Donghae ingat pria itu. Kalau tidak salah bernama Kim Tan. Donghae mengangguk pelan dan langsung beranjak menunju ruangan yang dimaksud. Ia masih hafal letak ruangan-ruangan di rumah itu meskipun sudah dua tahun ia tidak pernah kesana.

Begitu masuk ke dalam ruangan yang dimaksud, Donghae langsung disambut dengan wajah angkuh ayah tirinya itu. ‘Tidak berubah sedikitpun.’ Batin Donghae.

Lee Dongjun terus menatap Donghae hingga anak tirinya itu berdiri didepan meja kerjanya. “Duduk!” Perintahnya.

Donghae duduk, lalu balas menatap Dongjun dengan dingin. Sebenarnya Donghae sendiri begitu penasaran mengapa Lee Dongjun begitu ingin bertemu dengan dirinya. Padahal selama dua tahun belakangan ini mereka benar-benar sudah lost contact. Tapi kemarin, tiba-tiba saja beberapa orang suruhan Lee Dongjun sudah berada di kantor Donghae, menyampaikan pesan bahwa Lee Dongjun ingin bertemu dengannya. Dan jika sudah seperti itu, wajib hukumnya bagi Donghae untuk menemui pria itu jika tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya ataupun perusahaannya yang masih tergolong baru.

“Lama tidak bertemu, nak.”

“Ya. Ada hal penting apa yang membuat anda repot-repot ingin bertemu dengan saya?” Tanya Donghae to the point. Ia tidak ada waktu untuk beramah tamah atau sekedar bernostalgia dengan ayah tirinya itu. Lee Dongjun tersenyum sinis. “Masih sombong seperti dulu.” Sindirnya.

“Terima kasih. Anda juga tak berubah sama sekali.”

Lee Dongjun menegakkan posisi duduknya, kemudian menyatukan kedua jemari tangannya diatas meja. Tatapannya terasa begitu mengintimidasi. Tapi Donghae sudah kebal. “Gadis bernama Park Jiyeon itu…” Jantung Donghae berdegub kencang begitu nama Jiyeon terucap dari mulut Dongjun. Seketika pria itu menjadi resah bukan main. Darimana Dongjun tahu mengenai Jiyeon? Dan kenapa pria itu mau repot-repot mencari tahu soal Jiyeon?

“Dia adalah cucu kandung dari Park Jinyoung. Apa kau tahu itu?”

Sekali lagi jantung Donghae terasa berjumpalitan. “Cucu Park Jinyoung? Anda jangan mengada-ada! Jiyeon bukan cucu Park Jinyoung. Ia hanya seorang gadis biasa, bukan cucu rivalmu itu.”

Dongjun tertawa mengejek. “Bagaimana mungkin kau tidak tahu apa-apa mengenai gadis yang kau kencani? Park Jinyoung memang sangat apik menyembunyikan keberadaan cucu aslinya dan menyodorkan kepada publik cucu palsunya. Tapi jangan panggil aku Lee Dongjun jika aku tak tahu rencana tololnya itu.” Ujar Dongjun.

Donghae menjadi was-was. “Lalu apa maksudmu memanggiku kesini dan menceritakan hal ini? Kurasa aku tak ada sangkut pautnya dengan urusanmu serta Park Jinyoung.”

“Oh, jelas ada. Bagaimana pun kau adalah anakku. Dan posisimu sekarang jelas-jelas akan mendatangkan keuntungan untukku. Kurasa kau cukup pintar untuk mengerti apa keinginanku, bukan?”

“Jangan harap aku sudi untuk mengikuti rencanamu! Aku tidak ingin ikut campur dalam urusanmu dan Park Jinyoung. Aku mencintai Jiyeon. Sedikitpun aku tidak pernah berniat untuk mencelakainya. Dan kau, meskipun kau ayah tiriku, tapi jangan harap aku akan diam saja jika kau menyakiti Jiyeon. Camkan itu!” Donghae berkata dengan nada berang. Ia langsung bangkit dari duduknya dan berencana untuk segera pergi dari sana, namun Dongjun kembali buka suara, membuat langkah Donghae terhenti.

“Kau pikir Park Jinyoung akan diam saja jika tahu kau dekat dengan cucunya? Dan kau pikir gadis itu juga masih akan sudi untuk dekat denganmu jika ia tahu siapa kau sebenarnya? Donghae, Donghae, kau itu hidup di zaman modern, dimana semua hal menggunakan logika, bukan sekedar perasaan.”

Donghae mengabaikan perkataan Dongjun. Persetan dengan pria itu! Sampai matipun ia takkan rela menyakiti Jiyeon hanya demi memuaskan nafsu Dongjun untuk menghancurkan Park Jinyoung. Ini gawat! Donghae tahu pasti jika Dongjun akan melakukan apapun untuk bisa memuluskan rencananya. Termasuk menyakiti Jiyeon sebagai bentuk balas dendamnya pada Park Jinyoung. Ia harus melindungi Jiyeon! Harus!

 

*****

 

Panti asuhan yang menjadi tujuan Ah Young dan Kyuhyun terletak dikawasan pegunungan. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua jam dari kota Seoul, mereka disuguhi pemandangan alam yang indah. Setidaknya itu cukup menghibur perasaan Ah Young.

“Apa oppa memang selalu mengantarkan donasi-donasi yang kakek berikan secara langsung seperti ini?” Tanya Ah Young penasaran. Ia pikir pekerjaan seperti ini cukup sepele untuk dilakukan oleh seseorang seperti Kyuhyun.

“Tidak. Biasanya ada orang lain yang bertugas untuk itu, tapi panti asuhan ini pengecualian. Memang aku yang minta agar menyerahkan donasi secara langsung.”

“Wae?”

“Karena panti asuhan itu adalah rumahku.”

Ah Young terdiam. Ia cukup tahu apa maksud Kyuhyun. Wajar saja jika Kyuhyun ingin mengantarkan donasi itu secara langsung. Panti asuhan itu adalah tempatnya dirawat sejak bayi sampai pada akhirnya tuan Park mengadopsi Kyuhyun sebagai cucunya belasan tahun silam. Ah Young jadi penasaran seperti apa tempat tinggal Kyuhyun dulu.

Gadis itu berdeham. “Hmm… kalau aku boleh tahu, sejak kapan oppa diadopsi oleh kakek?” Tanyanya.

“Sejak umur 11 tahun.” Jawab Kyuhyun sembari membelokkan setir ke kanan. Mobil mereka memasuki halaman rumah yang begitu teduh dan rimbun karena ditanami berbagai macam pohon, bunga dan tumbuhan lainnya. Ada papan besar didepan rumah besar itu yang bertuliskan Panti Asuhan Kasih Bunda. Beberapa orang anak tampak asyik bermain ditaman. Ah Young berasumsi jika umur anak-anak itu berkisar antara 6 sampai 10 tahun.

“Kita sudah sampai.” Ucap Kyuhyun. Pria itu mematikan mesin mobil dan langsung keluar dari dalam mobil. Ia menuju kearah bagasi. Ada berbagai macam barang didalam sana, mulai dari buku-buku, makanan, mainan hingga pakaian. Ah Young membantu Kyuhyun mengangkat dua buah plastic besar yang berisi makanan, sedangkan Kyuhyun membawa sekardus buku-buku. Anak-anak panti tampak begitu senang dengan kehadiran Kyuhyun. Mereka langsung berhamburan berlari kearah Kyuhyun sembari meneriakkan nama pria itu dengan begitu gembiranya. Beberapa anak yang berumur lebih tua keluar dari dalam rumah. Mungkin karena mendengar keributan yang dibuat oleh adik-adiknya. Mereka tak kalah senangnya kala melihat Kyuhyun.

“Hyung apa kabar?!” Salah seorang anak laki-laki berumur 14 tahun menghampiri Kyuhyun.

“Aku baik-baik saja, Seung Ho-ya. Oh ya, bisa tolong kau dan teman-teman membantuku membawa barang-barang yang ada dibagasi?”

“Tentu saja, Hyung! Ayo!” Seung Ho dan dua orang anak laki-laki lainnya bergegas menuju mobil Kyuhyun.

Ah Young dan Kyuhyun masuk ke dalam panti. Kyuhyun meletakkan kardus yang tadi dibawanya di lantai kemudian menatap sekeliling, seperti tengah mencari seseorang. Ah Young meletakkan plastik makanan keatas meja. Gadis itu menyukai suasana panti yang terkesan hangat dan menyenangkan. Tidak terlalu banyak barang didalam ruangan itu. Hanya ada satu set sofa berwarna coklat, sebuah meja, sebuah rak berisi pajangan dan piala-piala yang didapatkan oleh anak-anak panti, dan sebuah lemari berukuran sedang yang Ah Young sendiri tak tahu apa isinya. Dinding panti berwarna putih bersih dan ditempeli dengan foto-foto anak panti, piagam serta lukisan-lukisan anak-anak yang Ah Young yakin merupakan karya anak panti disini.

“Kyuhyun-ah!”

Ah Young menoleh, dan mendapati seorang wanita paruh baya baru saja keluar dari salah satu ruangan. Wanita itu tersenyum ramah kepada mereka, terutama pada Kyuhyun. Ia langsung memeluk Kyuhyun erat, mengusap kepala dan punggung pria itu. “Apa kabar, Kyu? Sudah beberapa bulan ini kau tidak pernah berkunjung kesini. Kau sibuk sekali tampaknya. Adik-adik merindukanmu.” Ucap wanita paruh baya itu.

Kyuhyun tersenyum lembut. “Mianhe eomma. Aku memang sangat sibuk akhir-akhir ini, jadi baru bisa datang hari ini untuk menemui kalian. Ah, aku membawakan beberapa hadiah kecil untuk adik-adik dan juga donasi dari tuan Park.” Kyuhyun menyerahkan sebuah amplop yang diterima dengan penuh rasa syukur oleh wanita itu.

“Terima kasih banyak. Sampaikan salam eomma untuk tuan Park.” Ucapnya. Wanita itu melihat barang-barang yang dibawa Kyuhyun. “Banyak sekali, Kyu. Jangan menghabiskan uangmu hanya untuk ini. Baru beberapa bulan yang lalu kau membelikan mereka semua pakaian dan mainan. Lebih baik uangnya kau tabung saja untuk masa depanmu.” Nasihatnya.

“Gwenchana. Aku senang bisa membelikan ini semua untuk mereka. Eomma tidak perlu khawatirkan aku. Aku baik-baik saja.” Kyuhyun berkata dengan lembut. Ah Young sampai terkesima dibuatnya. Tadinya Ah Young pikir barang-barang itu juga berasal dari sang kakek, tapi ternyata dari Kyuhyun. Semakin bertambah point plus Kyuhyun dimata Ah Young. Gadis itu menjadi semakin kagum pada Kyuhyun. Meskipun Kyuhyun sudah lama meninggalkan panti, tapi tak sedikitpun ia melupakan orang-orang disana. Kyuhyun bukan tipe orang yang seperti kacang lupa pada kulitnya.

Wanita itu menepuk bahu Kyuhyun pelan, penuh rasa bangga. Matanya menatap Ah Young. Ah Young tersenyum sopan sambil membungkuk. “Siapa gadis cantik ini, Kyu? Pacarmu ya?”

Wajah Ah Young langsung memerah. Gadis itu menunduk malu.

“Bukan. Dia temanku, eomma.” Jawab Kyuhyun.

“Annyeong haseyo, Kim Ah Young imnida. Senang berkenalan dengan anda.” Ah Young memperkenalkan diri. Wanita itu membalas jabatan tangan Ah Young. “Annyeong. Han Saeron imnida. Aku adalah pemilik sekaligus pengurus panti asuhan ini. Kau bisa memanggilku eomma seperti Kyuhyun memanggilku.” Ujar wanita bernama Saeron itu ramah.

“Aku pikir kau kekasih Kyuhyun sebab ini pertama kalinya Kyuhyun membawa seseorang kesini.” Saeron tertawa kecil mengingat tebakan awalnya tadi saat pertama kali melihat Ah Young. Wanita itu kemudian mengedikkan kepalanya kearah anak-anak panti yang sepertinya sudah tidak sabar ingin mengambil hadiah yang dibawa oleh Kyuhyun. “Lihat! Sepertinya mereka sudah tidak sabar untuk menyerbu hadiah-hadiah ini.” Ujar Saeron sambil tertawa kecil. Kyuhyun menoleh dan tersenyum kecil melihat ekspresi lucu adik-adiknya.

“Ja, siapa yang mau hadiah?” Tanya Kyuhyun yang langsung disambut dengan suara riuh dari anak-anak panti.

“Aku aku!”

“Aku hyung!”

“Aku mau boneka beruang oppa!”

 

*****

 

“Wah, gambarnya bagus sekali! Setelah ini gambarkan Pororo ya, eonnie!” Pinta gadis cilik bernama A Yeon. Sejak tadi ia sudah begitu lengket dengan Ah Young. Terlebih setelah ia melihat kemahiran Ah Young dalam hal menggambar.

“Ne. Setelah ini eonnie akan menggambar Pororo dan teman-temannya.” Jawab Ah Young sembari tersenyum senang. Ia senang sekali melihat A Yeon dan beberapa gadis kecil lainnya yang terlihat begitu mengagumi gambarnya. Ah Young jadi merasa bersyukur sekali karena telah diperikan kepiawan dalam menggambar.

Seo Eun Ha, gadis cilik berambut panjang dengan pita merah besar dikepalanya, menatap Ah Young dengan penuh kagum. Baginya Ah Young tampak seperti seorang tuan putri dalam wujud nyata. Cantik, tinggi, punya badan bagus, rambutnya panjang dan halus, baik dan pintar menggambar lagi! Gadis cilik itu berharap jika sudah besar ia bisa seperti Ah Young.

“Eonnie, aku juga ingin bisa menggambar sebagus itu. Tapi… gambarku jelek sekali.” Keluh Eun Ha sembari menunduk menatap gambar pemandangan yang menurutnya jelek itu. Ah Young mengusap kepala dan pipi chubby Eun Ha. “Gambarmu bagus kok! sama sekali tidak jelek!” Pujinya. “Jika kau ingin bisa menggambar dengan baik, maka teruslah berlatih dan jangan putus asa. Eonnie yakin jika sudah besar nanti gambarmu pasti akan sangat bagus. Bahkan lebih bagus dari gambar eonnie.”

“Benarkah?” Tanya Eun Ha dengan mata yang berbinar, membuat gadis cilik itu terlihat berkali-kali lipat lebih imut dari sebelumnya. Ah Young mencubit pelan pipi Eun Ha sambil tertawa kecil. “Iya sayang, eonnie serius.”

“Apa aku juga bisa?” Soo Jung bertanya, tidak mau kalah dari temannya itu.

“Aku aku?” Kali ini A Yeon ikut bertanya dengan semangat.

“Iya, kalian semua bisa. Asalkan seperti yang eonnie katakan tadi. Harus rajin berlatih.”

Anak-anak itu tersenyum senang. Masing-masing anak menjadi lebih optimis daripada sebelumnya. Bahkan Eun Ha mulai melanjutkan gambar pemandangannya tadi sembari bernyanyi riang. Ah Young melihat gambar-gambar yang dibuat oleh anak-anak. Sesekali ia akan memuji gambar mereka dan menjawab dengan sabar beberapa pertanyaan yang anak-anak itu lontarkan seputar menggambar, seperti pemilihan cat yang bagus, objek gambar yang mudah, hingga cara mencampur warna agar serasi. Ah Young menoleh kearah Kyuhyun yang duduk tak jauh dari dirinya dipojok taman. Pria itu juga tampak sibuk mengajari anak-anak pelajaran matematika. Gadis itu tersenyum melihat bagaimana Kyuhyun dengan sabar mengajari anak-anak itu. Mulai dari yang paling kecil, hingga yang paling besar yang kira-kira berumur 15 tahun.

“Eonnie ke toilet sebentar ya. Lanjutkan gambarnya.”

“Ne!”

Ah Young keluar dari toilet, matanya tanpa sadar terpaku pada meja panjang yang memajang foto-foto anak-anak panti. Letak meja itu persis didepan pintu toilet. Ah Young melangkah mendekati meja itu. Tubuhnya sedikit dibungkukkan agar bisa melihat foto-foto itu dengan lebih jelas. Kehadiran ibu panti mengalihkan perhatian Ah Young dari foto-foto itu. Ah Young tersenyum manis kepada ibu panti. “Anak-anak ini sangat lucu dan menggemaskan.” Ucapnya. Mata Ah Young kembali teralih kesebuah pigura foto. Ia merasa familiar dengan wajah bocah kecil disana. “Anak ini mirip Kyuhyun.”

Saeron berdiri disebelah Ah Young, ikut mengamati foto yang dimaksud Ah Young. Wanita itu kemudian tertawa kecil. “Itu memang Kyuhyun.” Jawabnya.

“Oh ya?” Ah Young kaget.

“Ne. Itu saat umurnya 6 tahun. Hari pertamanya masuk sekolah dasar.” Ujar Saeron sembari tersenyum hangat. Ia mengenang masa-masa dulu saat Kyuhyun masih menjadi salah satu penghuni di panti asuhan itu. “Ah, apa kau mau melihat foto-foto Kyuhyun lainnya? Seperti saat dia bayi, mungkin?” tawar Saeron yang sontak membuat Ah Young bersemangat. “Apakah ada?”

“Tentu saja. Ayo ikut aku!” Saeron mengajak Ah Young ke ruangan kerja wanita itu. Ia menarik salah satu album dari dalam rak. Ada tulisan didepannya yang Ah Young tidak sempat baca, namun sekilas gadis itu melihat tulisan tahun 1988 di cover depan album.

Ah Young duduk bersisian dengan Saeron disofa kecil yang ada disana. Saeron membuka lembar per lembar album foto itu.

“Ini saat Kyuhyun masih bayi. Foto ini diambil sehari setelah aku menemukannya didepan panti.” Saeron berkata sembari mengelus foto itu penuh sayang. Sekali lihat Ah Young bisa menebak betapa sayangnya Saeron pada Kyuhyun dan pada anak-anak asuhannya di panti itu.

“Dia imut sekali. Pipinya tembam.” Ujar Ah Young sembari terkekeh kecil. Ia pikir Kyuhyun kecil juga akan punya aura intimidasi seperti sekarang. Tapi nyatanya ia salah. Kyuhyun kecil begitu imut, lucu dan menggemaskan. Mungkin jika Kyuhyun kecil ada dihadapannya saat ini, maka Ah Young akan memeluk dan menciumi pipi tembamnya sampai puas. Memikirkan itu tak ayal membuat Ah Young kembali terkekeh geli. Han Saeron menjelaskan setiap foto Kyuhyun yang ada di album itu. Ah Young salut dengan ingatan wanita paruh baya itu yang masih begitu kuat, seakan semua foto-foto itu baru diambil kemarin.

“Lee Cheonsa…” Gumam Ah Young membaca tulisan dibawah foto Kyuhyun kecil dan seorang gadis kecil yang sepertinya beberapa tahun dibawah Kyuhyun. Gadis itu berwajah lembut dengan rambut hitam legam sebahunya. Kulitnya putih pucat. Persis seperti boneka. Tapi ia sepertinya gadis yang pemalu dan pemurung. Terlihat dari ekspresinya di foto.

“Ah, Lee Cheonsa… gadis cilik ini dulu sangat dekat dengan Kyuhyun. Dimana ada Kyuhyun, maka disitu akan ada Cheonsa. Gadis ini dititipkan di panti oleh seseorang yang menemukannya di stasiun. Saat itu Cheonsa begitu pemalu, pemurung serta sangat tertutup. Ia tidak mau berbicara dan bermain dengan anak-anak lain. Hal itu yang membuat anak-anak panti lainnya tidak menyukainya karena mereka pikir Cheonsa sombong. Ia jadi sering dijahili. Tapi Kyuhyun selalu ada untung membelanya. Kyuhyun seperti seorang kakak yang begitu menyayangi dan melindungi adiknya.” Kenang Saeron.

“Dimana Cheonsa sekarang?”

Saeron menutup album foto tersebut dan meletakkannya diatas meja. “Cheonsa telah diadopsi oleh sepasang suami istri dari Seoul. Itu terjadi setelah empat tahun ia tinggal disini. Dan kabar terakhir yang ku dengar, Cheonsa dibawa oleh keluarga barunya tinggal di luar negeri. Kalau tidak salah di Singapura. Semenjak itu aku tidak pernah mendengar kabar darinya lagi. Kyuhyun sempat murung saat kepergian Cheonsa, tapi dua bulan setelah itu ia diadopsi oleh tuan Park. Aku sangat senang karena dengan begitu kehidupan Kyuhyun akan lebih terjamin. Dan semuanya terbukti sekarang. Kyuhyun telah menjadi pria yang sukses dan mapan. Aku sangat bangga padanya. Sekarang yang kuharapkan dari Kyuhyun cuma satu, agar ia segera mendapatkan pasangan.” Ujar Saeron sembari menatap Ah Young, yang lagi-lagi sukses membuat gadis itu salah tingkah. “Seperti yang kukatakan tadi, Kyuhyun tidak pernah membawa seorang pun kesini. Kau adalah gadis pertama. Selama ini Kyuhyun tidak pernah berkencan ataupun dekat dengan wanita. Apa kalian benar-benar tidak memiliki hubungan apapun? Menurutku kalian serasi loh!” Goda Han Saeron, membuat wajah Ah Young semakin bersemu merah.

 

*****

 

“Tapi kakek tidak bisa melakukan itu!”

“Tentu saja aku bisa.” Suara tuan Park terdengar begitu tenang. Hal tersebut semakin menambah amarah Jiyeon. Ia tidak habis pikir mengapa sang kakek dengan begitu mudahnya berencana akan menyingkirkan Ah Young begitu saja setelah apa yang telah gadis itu lakukan selama ini. Ah Young bahkan beberapa kali nyaris kehilangan nyawa karena menjadi sasaran orang-orang jahat itu. Dimana hati nurani kakeknya itu?

Jiyeon menarik napas dalam. Ia sudah membuat keputusan. Jika kakek tetap ingin Ah Young pergi, maka ia bersumpah takkan sudi menginjakkan kaki di rumah tuan Park. Dirinya lebih memilih untuk kembali pada orang tua angkatnya. Jiyeon menatap tuan Park. “Jika Ah Young tetap pergi, maka aku juga akan pergi. Aku akan kembali kepada orang tua angkatku.” Putus Ah Young yang sontak membuat pria tua itu kaget bukan main. Ia menatap Jiyeon intens, berharap jika tadi hanya sekedar gertakan yang spontan dilontarkan Jiyeon. Tapi ternyata tidak! Tuan Park dapat melihat kesungguhan dikedua bola mata cucunya itu. Rupanya Jiyeon memang tidak main-main.

“Jadi, apa pilihan kakek?” Tanya Jiyeon dengan gaya sok angkuh.

“Tapi gadis itu bukan siapa-siapa. Lagipula aku tidak mengusirnya begitu saja. Aku juga memberikan nominal uang yang besar sehingga gadis itu bisa menyambung hidup. Rasanya terlalu berlebihan jika aku tetap harus menampungnya.”

“Oke. Sudah jelas berarti. Besok pagi aku akan angkat kaki dari apartemen.” Setelah berkata demikian Jiyeon langsung bangkit dari duduknya. Gadis itu meraih tas tanganya yang diletakkan dikursi sebelahnya dan sudah akan beranjak pergi. Namun suara sang kakek menghentikan pergerakan gadis itu.

“Baiklah! Ia akan tetap tinggal.” Dengan berat hati tuan Park mengabulkan permintaan Jiyeon. Perlahan ekspresi Jiyeon melembut. Gadis itu duduk kembali di kursinya semula. “Kakek serius, kan?” Tanyanya yang dijawab dengan anggukan pasrah oleh sang kakek.

“Kakek ingin kau pindah ke rumah utama besok.”

Mata Jiyeon membelalak kaget. “Kenapa cepat sekali? Ulang tahunku masih empat hari lagi, kek. Apa tidak sebaiknya aku pindah kesana setelah ulang tahunku saja?”

Tuan Park mengeleng. “Lebih cepat lebih baik, Yeon. Toh dengan begitu kakek lebih bisa menjagamu. Pokoknya tidak ada penolakan! Besok kakek akan menyuruh anak buah kakek untuk membawa barang-barangmu ke rumah. Kakek ingin agar kau bisa beradaptasi dengan lingkungan rumah secepat mungkin.”

“Bagaimana dengan para paman, bibi, serta sepupu-sepupuku?” Jiyeon bertanya dengan nada lirih. Gadis itu gugup membayangkan reaksi seperti apa yang akan mereka berikan padanya. Apakah mereka bisa menerimanya? Atau justru semakin membenci dirinya karena sudah menyembunyikan jati diri selama beberapa bulan ini.

“Tidak perlu khawatirkan mereka. Mereka akan menerimamu. Yah, mereka harus bisa!”

 

*****

 

“Dia cantik sekali dan juga ramah. Lihat, dalam waktu beberapa jam saja anak-anak itu sudah lengket padanya.” Saeron berkata seraya memperhatikan Ah Young, lalu menyeruput teh hijau kesukaannya dengan perlahan. Kyuhyun menoleh sekilas kearah wanita yang telah dianggapnya sebagai ibu sendiri itu, dan kemudian ikut melihat kearah Ah Young yang tampak asyik bermain dengan anak-anak panti.

“Dia memang suka anak-anak.” Balas Kyuhyun singkat.

“Kapan kau akan menikah, Kyu? Umurmu sudah cukup matang untuk memulai rumah tangga. Kau bahkan tidak pernah berpacaran. Padahal eomma yakin ada banyak wanita yang mengantri untuk mendapatkanmu.”

“Aku tidak sempat untuk memikirkan itu sekarang, bu. Ada hal penting yang masih harus kukerjakan.” Jawab Kyuhyun sembari menatap Ah Young intens.

Ah Young tiba-tiba menoleh kearah Kyuhyun. Gadis itu sempat menyunggingkan sebuah senyuman manis sebelum perhatiannya kembali teralihkan oleh anak-anak panti. Eun Ha tampak begitu tenang duduk dipangkuan Ah Young. Sesekali Ah Young mengelus dan mengecup puncak kepala gadis itu. Diantara semua anak panti memang Eun Ha yang begitu menarik perhatiannya. Gadis cilik berwajah kalem dengan sepasang mata yang cukup besar untuk ukuran orang Korea dan memiliki rambut hitam lurus sepunggung. Ingin rasanya Ah Young mengadopsi gadis itu untuk menjadi adiknya, mengingat dirinya seorang anak tunggal dan bahkan sekarang ia sebatang kara.

Ah Young tersentak kala merasa tepukan ringan dibahunya. Gadis itu menoleh dan mendapati Kyuhyun tengah berdiri dibelakangnya. “Eun Ha sudah tidur. Biar kupindahkan ke kamarnya. Setelah itu kita pulang ke rumah.” Ucapnya. Ah Young termenung mendengar kata ‘rumah’. Masih pantaskah ia kembali ke sana setelah kakek secara langsung telah memintanya untuk meninggalkan rumah yang beberapa waktu belakangan ini menaungi dirinya? Ah Young bingung. Harus kemana ia pergi setelah ini?

 

*****

 

Donghae menatap nanar gedung apartemen mewah yang ada dihadapannya saat ini. Di gedung itu tinggal gadis yang dicintainya meskipun mereka baru kenal dalam kurun waktu yang singkat. Tapi Donghae tahu jika ia mencintai Jiyeon. Sangat. Ia masih tak percaya jika Jiyeon adalah cucu dari tuan Park. Diantara sekian banyak pemilik Jiyeon di Korea, kenapa harus Jiyeonnya yang menjadi cucu Park Jinyoung?

Layar ponsel Donghae berkedip. Sebuah pesan masuk dari Jiyeon.

Tunggulah. Aku akan segera ke bawah.

Singkat dan terkesan dingin. Apa Jiyeon sudah tahu siapa dirinya?

Lima menit kemudian Jiyeon sudah berada didalam mobil Donghae. Keduanya terdiam. Seakan tanpa berbicara masing-masing sudah tahu isi dikepala mereka. Donghae menghela napas pelan. Tangannya mencengkram stir mobil dengan erat.

“Apa kau… cucu Park Jinyoung?” Tanyanya to the point. Tidak ada waktu untuk sekedar berbasa-basi. Ia harus mendengar jawaban itu langsung dari mulut Jiyeon. Tubuh Jiyeon sempat menegang selama beberapa detik. Ia kemudian mendesah pelan. “Oppa sudah tahu?” tanyanya retoris.

“Eo. Ayah tiriku yang mengatakannya. Dan tampaknya kau juga sudah tahu siapa aku.”

Jiyeon menatap Donghae. Mata gadis itu berkaca-kaca. Batinnya bergejolak. Ia takut jika Donghae akan menyakiti dan meninggalkan dirinya hanya karena dendam tak jelas yang ada diantara kakek dan ayah mereka. “Lalu… apa oppa membenciku sekarang?” Suara Jiyeon terdengar bergetar. Donghae menoleh kearah gadis itu, menatap intens Jiyeon dengan sepasang matanya yang begitu teduh. “Aku gila jika aku membencimu hanya karena itu. Perasaanku padamu tulus, Yeon. Aku justru benci pada diriku sendiri. Aku benci pada fakta bahwa pria itu adalah ayah tiriku. Sungguh! Aku tidak pernah menyukainya atau menganggapnya seperti ayahku. Dia brengsek. Dia jahat.” Donghae menggenggam kedua tangan Jiyeon dan kemudian mengecupnya lembut. Air mata Jiyeon menetes. “Lihat aku, Yeon!” Pinta Donghae.

“Aku mencintaimu. Tidak peduli apapun yang terjadi, aku akan tetap memperjuangkanmu.” Donghae berkata dengan sungguh-sungguh.

Hati Jiyeon tersentuh mendengarnya, namun tak dapat dipungkiri bahwa ia merasa khawatir. Kakeknya adalah orang yang berkuasa. Dengan mudah ia bisa melakukan apapun untuk memisahkan mereka.

“Tapi bagaimana dengan—“

Ciuman Donghae terasa begitu memabukkan. Pria itu melumat bibir Jiyeon dengan lembut sembari mengelus pipi gadis itu. Jiyeon membalas ciuman Donghae meskipun masih agak kaku. Ini ciuman kedua mereka. Dan rasanya masih sama menegangkan seperti ciuman pertama mereka.

“Persetan dengan mereka! Kita saling mencintai. Mereka tidak berhak mengusik kita. Kau… juga mencintaiku, kan?”

Jiyeon mengangguk. “Ya, aku mencintaimu. Aku tidak ingin kita pisah.” Jiyeon menangis sesegukan. Donghae langsung membawa gadis itu kedalam pelukan hangatnya. Jemarinya mengelus kepala Jiyeon dengan penuh sayang. “Kita pasti bisa melawan mereka. Pasti bisa.”

 

*****

 

Dengan mengendap-endap Jiyeon kembali ke kamarnya. Beruntung Hyukjae tidak bertanya macam-macam. Tampaknya pria itu benar-benar percaya jika Jiyeon tadi pergi ke mini market yang ada dilantai dasar apartemen. Yah, plastik berisi cemilan ditangannya cukup untuk menjadi bukti yang meyakinkan.

Jiyeon duduk di ranjangnya dengan pandangan menerawang. Besok ia harus pindah ke rumah sang kakek. Itu berarti ia harus siap-siap untuk hidup terkekang dibawah pengawasan kakeknya yang begitu ditaktor. Tentunya itu akan sangat membatasi ruang geraknya dan juga kesempatannya untuk bertemu dengan Donghae. Entah kakeknya sudah tahu ataupun belum mengenai hubungannya dengan Donghae. Jiyeon takut jika ternyata diam-diam kakeknya sudah tahu mengenai Donghae dan tengah merencanakan sesuatu untuk memisahkan mereka.

Tak hanya soal itu, Jiyeon juga memikirkan Ah Young. Bagaimana tanggapan gadis itu jika tahu ia adalah Yura yang selama ini hilang? Ah Young pasti akan merasa dipermainkan. Padahal Jiyeon baru saja membangun pertemanan dengan gadis cantik itu.

“Kurasa aku harus menyiapkan diri untuk menjadi musuh sejuta umat.” Gerutu Jiyeon seraya membanting tubuhnya ke tumpukan bantal yang empuk. Ia berusaha keras untuk memejamkan matanya. Besok akan menjadi hari yang panjang. Jika bisa, Jiyeon berharap hari esok tak pernah datang atau Tuhan berbaik hati mau meloncatkan satu hari untuknya.

 

*****

 

Ah Young termangu melihat barang-barangnya telah berpindah tempat. Oh, sebenarnya ia merasa tak pantas mengklaim barang-barang itu sebagai miliknya sebab itu semua adalah pemberian tuan Park untuk Yura, cucu kandungnya, bukan dirinya! Ia bahkan tak membawa apapun saat pertama kali menjejakkan kakinya di rumah mewah ini. Jadi intinya ia tidak memiliki apapun. Hanya tubuhnya.

“Barang-barang anda telah dipindahkan ke kamar tamu ini atas perintah dari tuan Park.” Ucap SeKyung. Ah Young tersenyum kecil. “Terima kasih. Kau boleh kembali ke kamarmu.” Ucap Ah Young.

Selepas Sekyung pergi, Ah Young mendudukkan dirinya dipinggir ranjang. Ia memikirkan bagaimana kelanjutan hidupnya setelah ini. Ia harus pergi kemana? Minta tolong kepada siapa? Teman? Ah Young tidak memiliki teman dekat yang bisa dimintai tolong. Posisinya sebagai cucu orang kaya raya membuat geraknya terbatas dan ia tidak bisa sembarangan menjalin pertemanan. Lagipula dari yang Ah Young lihat, orang-orang di kampus bersikap baik dan ramah padanya karena mereka mengira ia adalah Park Yura. Jika mereka tahu yang sebenarnya, mereka pasti akan menganggapnya tak kasat mata. Benar-benar tak terlihat. Tipikal kampus kalangan atas.

“Park Jiyeon…”

Tiba-tiba nama itu terlintas dalam pikiran Ah Young. Akhir-akhir ini ia cukup akrab dengan gadis itu. Apa ia bisa minta tolong pada Jiyeon?

“Permisi nona.”

Ah Young agak sedikit tersentak. Ia menoleh kearah pintu dan mendapati seorang pelayan bernama Seo Yang tengah berdiri didepan pintu.

“Masuk saja!” Suruh Ah Young.

Seo Yang menyerahkan sebuah amplop, membuat Ah Young mengernyit heran. Mengerti ekspresi bingung Ah Young, Seo Yang menjelaskan mengenai amplop itu. “HangKyung yang menyerahkannya padaku tadi. Katanya surat itu ditujukan untuk nona. Hmm, kalau tidak salah HangKyung bilang yang mengantarkan surat itu seorang pria paruh baya.”

“Oh, begitu. Terima kasih.”

Seo Yang membungkuk sopan dan pamit kembali ke dapur, meninggalkan Ah Young yang tengah membolak balik amplop tersebut. Ini pertama kalinya ia mendapat surat. Amplop putih itu tampak polos. Tidak ada tulisan nama pengirim atau penerima ditampak depan maupun belakang amplop sehingga membuat Ah Young yakin jika surat ini diantarkan langsung oleh si penulis yang mungkin saja pria paruh baya yang dikatakan Seo Yang tadi. Ah Young merobek amplop, lalu mengeluarkan selembar kertas didalamnya.

Jantungnya berdegub begitu kencang begitu melihat tulisan hangul berantakan dengan tinta berwarna hitam pekat. Ia kenal tulisan tangan itu! Seketika tangan Ah Young yang memegang surat itu gemetar. Matanya bergerak liar membaca huruf per huruf yang ada disana. Tubuh Ah Young melemas. Tidak salah lagi! Pengirimnya memang orang itu. Sebaris kalimat pertama sudah cukup menjadi bukti. Surat itu memang dari ayah tirinya.

 

*****

 

Pandangan kagum begitu kentara terlihat dari wajah Jiyeon. Ini kali pertamanya menginjakkan kaki di kediaman kakeknya, atau bisa juga disebut sebagai kediamannya mulai hari ini. Begitu ia memasuki rumah, belasan pelayan telah menyambutnya didepan pintu. Mereka membungkuk sopan padanya. Tentunya itu membuat Jiyeon merasa tidak nyaman. Ia tidak terbiasa dengan perlakuan istimewa seperti ini. Disebelahnya ada Kyuhyun dan Hyukjae. Kedua pria itu yang membantunya berbenah pagi tadi.

“Selamat datang, nona muda. Perkenalkan nama saya Jang Hyunseuk. Saya adalah kepala pelayan sekaligus keamanan di rumah ini.” Ucap pria paruh baya itu sopan. “Tuan besar sedang menunggu anda. Mari saya antarkan.”

Jiyeon dan Kyuhyun berjalan mengikuti pak Jang yang sepertinya mengarahkan mereka ke taman belakang rumah. Kekaguman Jiyeon semakin bertambah kala melihat desain, hiasan serta perabotan mewah yang mengisi tiap ruang di penjuru rumah ini. Bahkan harga perabotannya saja mungkin lebih mahal daripada rumahnya dulu. Jiyeon menyenggol lengan Kyuhyun, membuat pria itu menoleh.

“Apa… Ah Young tahu mengenaiku? Maksudku aku sebagai cucu kakek?”

Kyuhyun menggeleng. “Sekarang tidak, tapi sebentar lagi ia tahu. Ku dengar dari kakek kau memohon padanya agar Ah Young tetap tinggal disini.”

“Yah, aku memang memintanya. Bahkan sedikit mengancam kakek. Aku hanya tidak suka dengan keputusannya yang ingin menyingkirkan Ah Young setelah pengorbanannya selama ini. Jika tidak ada dia, mungkin aku tidak akan disini sekarang.” Jiyeon berkata dengan nada lirih. Kyuhyun tersenyum kecil melihat Jiyeon. Tanpa sadar tangan pria itu terjulur mengusap kepala Jiyeon lembut. “Kau gadis yang baik.” Ucapnya pelan, namun cukup untuk didengar Jiyeon. Mendapatkan pujian seperti itu membuat wajah Jiyeon bersemu merah. Sejak dulu ia sudah mengagumi Kyuhyun. Ia menganggap pria itu sebagai kakak laki-laki yang selama ini tidak pernah dimilikinya. Begitu juga dengan Kyuhyun. Kehadiran Jiyeon cukup menghiburnya dengan segala macam sifat unik yang dimiliki oleh Jiyeon. Betul-betul mengingatkannya pada gadis masa kecilnya. Cheonsa.

Tuan Park tersenyum lebar menyambut mereka. “Kemarilah Jiyeon!” Ujarnya sembari merentangkan tangannya dengan lebar. Jiyeon berlari kecil dan kemudian memeluk kakeknya itu erat. Seperti apapun sifat buruk kakeknya, tapi Jiyeon sangat menyayangi pria tua dihadapannya ini. “Aku sangat senang karena mulai hari ini kau tinggal disini. Seperti mimpi rasanya. Ah, ini sudah jam makan siang. Kau pasti lapar, bukan? Ja, ayo kita makan. Kakek sudah meminta koki untuk memasakkan semua makanan favoritmu.” Pria itu menunjuk kearah meja berukuran besar yang ada disana. Mata Jiyeon membelalak. Kakeknya tidak main-main. Meja itu memang penuh dengan semua makanan kesukaannya.

Mereka bertiga sudah duduk ditempat masing-masing. Namun Jiyeon mengernyit. Ia masih merasa ada yang kurang. “Mana Ah Young?” Tanya gadis itu. Tuan Park menjawab malas. “Entahlah. Mungkin di kamarnya.”

“Kenapa ia tidak bergabung bersama kita saja? Sekalian… yah, kurasa aku perlu menjelaskan masalah ini padanya.” Wajah Jiyeon berubah murung. Tuan Park meletakkan sumpit yang tadi dipegangnya. “Kau tidak perlu melakukan itu. Dia bukan siapa-siapa.”

“Tapi—-“ Jiyeon tidak sanggup menyelesaikan perkataannya begitu matanya menangkap sosok Ah Young dikejauhan. Jantung Jiyeon berdegub kencang. Ia bisa lihat betapa kagetnya Ah Young melihat keberadaannya disana. Jiyeon menghela napas gusar. Sekarang Ah Young sudah tahu semuanya.

“Kau bisa menemuinya setelah makan.” Bisik Kyuhyun. Ternyata pria itu juga melihat keberadaan Ah Young beberapa saat yang lalu. Jiyeon mengangguk pasrah. Pikirannya sibuk merangkai kata-kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya kepada Ah Young. Ia tidak ingin Ah Young salah paham dan menganggapnya sebagai yeoja yang licik.

 

*****

 

Selesai makan Kyuhyun mengantar Jiyeon menuju kamar Ah Young. Jiyeon menatap Kyuhyun cemas. “Masuklah. Aku akan menunggu di luar.” Ucap Kyuhyun, namun Jiyeon menggeleng. “Oppa juga harus menjelaskannya. Ah Young pasti juga ingin mendapat penjelasan darimu. Aku ingin oppa menjelaskan padanya jika aku sama sekali tidak terlibat dalam perencanaan rencana gila ini.” Pinta Jiyeon. Kyuhyun menyerah. Pria itu kemudian mengetuk pintu kamar Ah Young. Beberapa saat kemudian pintu kamar itu terbuka dan menampakkan wajah Ah Young yang terlihat sembab. Hal itu membuat perasaan bersalah Jiyeon semakin menjadi.

Ah Young menatap mereka datar. “Ada perlu apa?” Tanyanya dingin.

Napas Jiyeon tercekat, membuat suaranya terdengar parau. “Boleh kami masuk? Ada yang ingin kujelaskan padamu.” Ah Young masih diam. “Kumohon…” Pinta Jiyeon. Ah Young melebarkan pintu kamarnya dan memberi ruang untuk Jiyeon dan Kyuhyun. “Masuklah.” Kata gadis itu.

Ah young duduk dipinggir ranjang, diikuti oleh Jiyeon. Sedangkan Kyuhyun memilih berdiri didepan kedua gadis itu. Jiyeon meraih kedua tangan Ah Young dan menggenggamnya erat. “Mianhe… Aku tahu kau pasti kaget sekali dengan ini semua. Aku tidak bermaksud membohongi apalagi memanfaatkanmu seperti yang mungkin saat ini ada dipikiranmu. Aku akan menjelaskan semuanya.” Jiyeon memperhatikan ekspresi Ah Young. Namun eskpresinya masih tetap sama seperti beberapa saat lalu.

Jiyeon menceritakan semuanya. Tentang dirinya yang tiba-tiba dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia bukan anak kandung orang tua yang selama ini mengasuhnya, kakek Park yang ternyata kakek kandungnya, orang tua kandung yang telah meninggal, posisi sebagai pewaris utama, hingga mengenai bahaya-bahaya yang selalu akan menghantui hidupnya. Ah Young mendengarkan dalam diam, namun tak dapat dipungkiri jika hati gadis itu semakin terkoyak. Betapa ia merasa dimanfaatkan, ditipu dan dihianati oleh orang-orang yang selama ini dianggap sebagai penolongnya. Tanpa terasa air mata menetes dipipinya. Cepat-cepat gadis berambut panjang itu menghapusnya dengan kasar. Jiyeon langsung memeluk Ah Young. “Maafkan aku. Aku sungguh tidak tahu mengenai rencana kakek yang memanfaatkanmu. Jika aku tahu sejak awal maka aku pasti akan sebisa mungkin menggagalkannya.  Aku tahu kau pasti marah dan benci sekali padaku, tapi sungguh, aku tulus berteman denganmu.”

“Jika ada yang ingin kau salahkan dalam hal ini, maka salahkan aku.” Kyuhyun yang sejak tadi diam kini membuka suara. Ah Young menatap Kyuhyun sejenak sebelum gadis itu memilih untuk menundukkan kepalanya. Ia tidak bisa marah pada pria itu.

“Kapan ulang tahunmu?” Suara Ah Young terdengar parau.

“Dua hari lagi.” Jawab Jiyeon.

“Aku akan pergi sebelum hari itu tiba. Kau sudah kembali, dan kurasa sudah tidak ada alasan bagiku untuk tetap disini.”

Jiyeon tersentak kaget. Gadis itu mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Ah Young. “Andwae! Kau tidak boleh pergi. Aku ingin kau tinggal disini. Aku sudah meminta pada kakek untuk mengizinkanmu tinggal disini. Dan kau—-“

“Tapi tempatku bukan disini. Aku bukan siapa-siapa. Aku tidak berhak berada disini.”

“Kau berhak, Ah Young! Kau adalah bagian dari keluarga ini! Lagipula, memangnya kau ingin pulang kemana?” Tanya Jiyeon yang sontak membungkam Ah Young. Jiyeon memang sengaja menanyakan hal itu. Ia sudah tahu bagaimana hubungan Ah Young dengan ayah tirinya, maka dari itu Jiyeon yakin seratus persen jika Ah Young tidak mempunyai tujuan sekarang ini.

“Kau diam. Itu berarti kau harus tetap tinggal disini. Kumohon…” Pinta Jiyeon begitu memelas. Ah Young menimang-nimang. Jika ia tetap memutuskan untuk pergi, ia tidak tahu harus kemana. Terlebih sekarang ayah tirinya sudah tahu dimana ia berada. Setidaknya jika Ah Young berada di rumah ini ia masih bisa aman karena penjagaan disini yang ketat. Tapi bagaimana dengan kakek? Pria itu terlihat sekali tidak menyukai kehadirannya disini.

“Ah Young?” Panggil Jiyeon.

Ah Young menoleh menatap Jiyeon. Gadis itu menghela napas. “Baiklah. Aku akan tinggal, keunde aku tidak ingin tinggal secara cuma-cuma. Biarkan aku bekerja disini sebagai gantinya.”

Jiyeon hendak menolak, namun Ah Young langsung membungkam gadis cantik itu. “Biarkan aku bekerja disini, atau aku akan pergi.”

Jiyeon tampak enggan, akan tetapi ia sadar bahwa ia tidak punya pilihan lain. Dengan berat hati gadis itu mengangguk. “Baiklah. Aku akan meminta pada kakek agar kau bekerja di rumah ini. Tapi tidak sebagai pelayan! Bagaimana jika menjadi…. Emm… asistenku?” Jiyeon bertanya agak ragu. Ah Young mengangguk setuju. “Terserah menjadi apa. Yang penting aku tidak mau tinggal secara gratis.”

 

*****

 

“MAKSUD AYAH APA?! KENAPA AYAH MEMBOHONGI KAMI SEMUA?!” Teriakan lantang yang sarat amarah itu terdengar menggelegar di ruang  kerja tuan Park. Anak keduanya, Hyesun, terlihat begitu murka. Wajahnya memerah, giginya gemeretak saat berbicara dan kedua tangannya mengepal sempurna. Wanita itu baru saja mendapatkan kejutan yang luar biasa saat bertandang ke rumah ayahnya. Ia mendapati seorang gadis muda yang ia sama sekali tidak ia kenali tinggal di rumah ayahnya. Dan gilanya, gadis itu adalah Park Yura yang asli.

“Permainan apa yang sedang ayah mainkan sekarang?” Pertanyaan dengan nada sinis itu keluar dari mulut Hyesun. Park Jinyoung masih tampak tenang. Pria itu bahkan tertawa kecil, seakan ada yang lucu dari pertanyaan Hyesun tadi.

“Permainan?” Alis Park Jinyoung terangkat. “Justru seharusnya ayah yang bertanya padamu. Apa yang kau dan suamimu itu rencana, eo? Aku tidak bodoh. Aku tahu jika kau dan suamimu sedang merencanakan sesuatu yang menyangkut Yura. Perusahaan suamimu nyaris bangkrut, kan?”

Hyesung tergagap, namun ia tetap berusaha untuk mempertahankan ekspresi dinginnya. Ia harus terlihat kuat!

“Tunggu sampai Jinho oppa mengetahui ini semua. Ia pasti akan—-“

“Lapor saja pada oppamu itu! Kita lihat apa yang bisa kalian lakukan untuk mengusikku dan Jiyeon. Yang jelas, jika sesuatu terjadi pada Jiyeon, dan aku tahu jika kalian penyebabnya, maka aku takkan segan-segan menghancurkan kalian meskipun kalian adalah anak kandungku.” Ancam Park Jinyoung yang cukup membuat nyali Hyesun menciut. Ia tahu bahwa ayahnya tidak pernah bermain-main dengan perkataannya.

Hyesun menatap ayahnya berang. “Ayah sudah mengambil keputusan yang salah dengan membawa anak itu kembali kesini. Ia hanya akan menghancurkan perusahaan ayah!”

Tuan Park melayangkan tatapan tajamnya. “Justru oppamu yang sudah membuat kekacauan di perusahaanku. Aku mendapat laporan dari anak buahku bahwa ada kecurangan dan kerugian yang tengah terjadi di perusahaan kita. Dan itu semua karena oppamu.” Ucap tuan Park. “Lalu, apa yang kau tunggu disini? Tidakkah kau ingin melapor pada oppamu itu?” sindir tuan Park sembari menatap Hyesun dengan tatapan mengejek, membuat wanita itu pergi dengan penuh amarah.

Hyesun berpapasan dengan Jiyeon saat menuruni tangga. Jiyeon menunduk sopan kepada bibinya, namun Hyesun hanya menatap gadis itu penuh benci sebelum akhirnya ia pergi tanpa mengatakan apapun. Jiyeon menghela napas. Ini yang dia takutkan. Ia tidak ingin mempunyai musuh. Apalagi dari keluarganya sendiri. Entah apa yang harus ia lakukan agar bibi dan pamannya bisa menerima kehadirannya dengan tulus.

 

*****

 

Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Ulang tahun Jiyeon. Sekarang gadis itu resmi berusia 21 tahun yang mana menandakan jika ia sudah sah dewasa secara hukum. Tidak ada hal yang terlalu istimewa terjadi, seperti pesta kejutan atau yang lain-lain. Namun Jiyeon cukup senang karena ayah dan ibu angkatnya menelponnya tepat jam 12 malam tadi. Mereka tidak sedikitpun melupakan hari ulang tahunnya. Berbeda dengan orang kebanyakan, hari ulang tahun Jiyeon bukanlah hari kelahirannya, melainkan hari dimana ia diangkat anak oleh orang tuanya. Tuan Park memang sengaja tetap memakai hari ulang tahun Jiyeon yang baru, karena bagaimanapun juga data-data pribadi gadis itu sudah berubah begitu ia menjadi Park Jiyeon. Lagipula jika menuruti hari ulang tahun aslinya, itu berarti hari ulang tahun Jiyeon masih 5 bulan lagi. Tuan Park tidak bisa menunggu selama itu.

Saat ini juga Jiyeon dihadapkan dengan selembar kertas yang merupakan surat pengalihan kekuasaan. Hanya perlu membubuhkan tanda tangannya disana, maka detik itu juga ia resmi menjadi penerus sekaligus pemegang saham terbesar di SJ Group. Dihadapan Jiyeon ada kakeknya dan seorang pria paruh baya yang merupakan pengacara keluarganya. Kyuhyun dan Gu Jun Pyo duduk disebelah kanan Jiyeon sebagai saksi.

Tangan Jiyeon terasa begitu dingin. Hatinya bimbang. “Aku…”

“Ayo Jiyeon! Kau hanya perlu membubuhkan tanda tanganmu disana, sayang.” Ucap tuan Park lembut. Dengan perlahan Jiyeon mengambil pena. Membuka tutupnya dan mengarahkannya ke bagian kosong dimana tanda tangan harus dibubuhkan. Gadis itu mengambil napas, berusaha meyakinkan diri bahwa ini adalah pilihan yang benar. Senyum tuan Park merekah begitu tanda tangan Jiyeon tertera diselembar kertas berharga itu. Keinginannya sudah terwujud.

“Mulai hari ini kau resmi menjadi penerusku di SJ Group.” Ujar tuan Park senang.

Jiyeon tersenyum kecut. Ia menatap nanar kertas dihadapannya itu. Mulai detik ini kehidupannya akan berubah. Entah ia akan menyukainya atau tidak, tetapi Jiyeon dapat merasakan firasat buruk mengenai hal ini.

 

*****

 

Acara makan malam yang juga sekaligus menjadi penampilan perdana Jiyeon didepan para pejabat SJ Group serta keluarga besarnya, membuat gadis itu harus mempersiapkan diri sebaik mungkin demi mendapatkan kesan pertama yang baik. Dan disinilah Jiyeon dan Ah Young berada saat ini, tepatnya disebuah salon ternama di kawasan elit Seoul. Awalnya Jiyeon enggan, tapi ternyata Lee Hyukjae sudah membuat jadwal untuknya perawatan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jiyeon sendiri bingung. Sebenarnya Lee Hyukjae ini pengawalnya atau penata riasnya sih? Pria itu ribut sekali membicarakan soal perawatan tubuh, make up yang bagus hingga gaun yang akan dipakai Jiyeon untuk acara makan malam nanti.

“Ya Tuhan, berisik sekali si Lee Hyukjae itu. Dia benar-benar menghancurkan image bodyguard yang seharusnya keren dan misterius.” Jiyeon berkata sembari menggelengkan kepalanya, membuat Ah Young yang duduk disebelahnya tertawa kecil.

“Dia memang seperti itu. Terkadang cerewetnya mengalahkan wanita.”

“Bukan terkadang, tapi selalu.” Ralat Jiyeon sambil terkekeh.

Jiyeon mengamati kuku kakinya yang sedang dicat dengan warna merah muda terang, kemudian melirik kesebelah dimana Ah Young juga tengah dicat kuku kakinya tapi dengan warna violet. Ponsel Jiyeon yang diletakkan dipangkuannya berdering. Ternyata berasal dari Jieun. Jiyeon menjawab panggilan tersebut. Ah Young menoleh sekilas begitu mendengar suara Jiyeon yang agak panik.

“Ya ya, kau tenang saja. Aku akan mengantarkan buku partiturmu sekarang. Kau tunggu aku ya!”

“Ada apa?” Tanya Ah Young begitu Jiyeon menutup teleponnya.

“Tadi Jieun menitipkan buku partiturnya di tasku, dan sialnya ia lupa mengambilnya kembali. Aku juga sama sekali tidak ingat soal buku partitur itu. Satu jam lagi Jieun akan tampil. Dia perlu buku partiturnya. Kurasa aku harus pergi sebentar untuk mengantarkan buku ini ke tempat kursus Jieun. Tidak jauh kok, hanya sekitar 18 menit dari sini.”

“Kenapa tidak menyuruh Hyukjae atau supir saja?”

“Tidak apa. Nanti mereka bingung mencari-cari alamatnya. Sudah ya, aku takkan lama kok. Kau disini saja dulu.” Ucap Jiyeon. Ia kemudian memakai sandalnya. “Maaf, bisa dilanjutkan lagi nanti? Aku harus pergi sebentar. Ada urusan yang penting. Nanti aku kembali lagi.”

“Ah, iya. Silahkan kalau begitu.” Ucap pegawai salon itu sopan.

Dengan berlari kecil Jiyeon menyambar tasnya. Ia sempat berbalik sejenak. “Aku tinggal sebentar ya.” Ujarnya pada Ah Young yang kemudian dibalas dengan anggukan.

 

*****

 

Kyuhyun melirik pria tua disebelahnya yang sejak tadi mengumbar senyum. Yah, wajar saja mengingat bahwa hari ini semua impian pria itu menjadi nyata. Kyuhyun kembali menatap keluar jendela.

“Kebakaran terjadi di sebuah salon di kawasan Gangnam. Saat ini tim pemadam kebakaran masih berusaha untuk memadamkan api yang cukup besar. Belum diketahui apa penyebab pasti kebakaran, namun diduga kebakaran terjadi akibat arus pendek listrik. Menurut laporan yang kami terima, beberapa karyawan telah berhasil diselamatkan. Namun belum dapat dipastikan apakah ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Kami akan terus memantaunya untuk memberikan informasi terbaru bagi anda.”

Kyuhyun dan tuan Park saling berpandangan. Kedua pria itu tiba-tiba begitu merasa was-was begitu mendengar berita dari radio. “Kyuhyun-ah, tadi kau bilang jika Jiyeon sedang berada di salon daerah Gangnam, kan?” Tanya tuan Park dengan wajah panik.

“Ya.”

“Cepat check salon apa yang mengalami kebakaran!”

Kyuhyun segera menghubungi salah seorang kaki tangannya. Wajah pria itu langsung memucat begitu mendengar jawaban yang sama sekali tidak ia inginkan. Kyuhyun menatap tuan Park. “Salon yang terbakar adalah salon yang Jiyeon datangi.” Ucap Kyuhyun.

“Sialan! CEPAT PERIKSA KEADAAN CUCUKU!”

“Putar arah menuju salon CiEL di Gangnam!” Perintah Kyuhyun pada sang supir. Ia kemudian tampak sibuk mengotak-atik ponselnya, berusaha untuk menghubungi Hyukjae sebab ia tahu jika hari ini Hyukjae dan dua orang pria lainnya yang bertugas menjaga Jiyeon. Ponsel Hyukjae aktif, tapi panggilannya tidak dijawab oleh pria bersenyum gusi itu. Kyuhyun tidak menyerah. Kali ini ia mencoba untuk menghubungi ponsel Jiyeon. Tapi sial! Ponsel gadis itu justru tidak aktif.

“BAGAIMANA?!” Tanya tuan Park panik.

“Aku masih belum bisa memastikan keadaan Jiyeon. Aku akan mencoba untuk menghubungi pengawal yang lain.” Ucap Kyuhyun. Pria itu berusaha untuk mengingat-ingat nama dua orang pengawal lainnya. Lee Han Byul dan Park So Min. Buru-buru Kyuhyun mencari nomor Han Byul dan langsung menghubunginya. Kali ini Kyuhyun tidak perlu menunggu lama. Didering kedua panggilan langsung diangkat. Mobil sudah berada di lokasi kejadian. Dari posisi mereka sekarang dapat terlihat jelas bagaimana dahsyatnya kobaran api yang melalap setengah bagian gedung.

“Yoboseyo tuan Cho.”

“Dimana Jiyeon?” Tanya Kyuhyun tanpa basa basi.

“Nona sedang berada di Institut Music Seoul. Katanya ingin mengantar buku partitur temannya. Hyukjae sunbae sedang mengantar nona menemui temannya itu.” Jawab Han Byul yang seketika membuat Kyuhyun merasa lega. Ia menatap Tuan Park yang sejak tadi begitu gusar menanti kabar keadaan cucunya. “Gwenchanayo. Jiyeon tidak berada didalam salon itu. Ia sedang mengantar buku temannya di Institut Music Seoul.”

“Syukurlah!” Tuan Park menghela napas lega. Tubuhnya berangsur-angsur rileks kembali.

“Em… jogiyo, kalau boleh tahu ada apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk?” Tanya Han Byul sopan.

“CiEL salon mengalami kebakaran yang cukup besar. Aku dan Tuan Park berpikir jika Jiyeon masih didalam sana. Tapi syukurlah karena ia baik-baik saja. Baiklah kalau begitu, lanjutkan tugasmu. Bawa Jiyeon dan Ah Young ke salon yang lain.”

“Maaf tuan Cho, tapi nona Ah Young tidak berada disini. Kami meninggalkannya di Salon.”

“Apa?!” Seru Kyuhyun kaget. Mata pria itu menatap kobaran api yang kini bukannya bertambah kecil, tapi malah membesar. “Ada apa dengan Jiyeon?!” Tanya tuan Park kembali merasa was-was. Kyuhyun memutuskan pangggilan. Ia menoleh kearah tuan Park.

“Ini bukan soal Jiyeon. Jiyeon baik-baik saja, tapi kata salah seorang bodyguard mereka meninggalkan Ah Young di salon, jadi ada kemungkinan jika gadis itu masih berada didalam sana.”

Wajah tuan Park tampak setenang air, sama sekali tidak terganggu dengan fakta bahwa nyawa Ah Young sedang terancam. “Oh, begitu. Kalau begitu serahkan semuanya pada pemadam kebakaran. Kita tunggu hasilnya. Jinki-ssi, jalankan mobil ke tempat tujuan kita semula.” Ujar tuan Park pada supirnya. Kyuhyun langsung menoleh kaget, nyaris tak percaya mendengar ucapan kakek angkatnya itu. “Lalu bagaimana dengan Ah Young?” Tanya Kyuhyun.

Tuan Park menatap tajam kearah Kyuhyun. “Kita serahkan pada petugas pemadam kebakaran. Itu sudah menjadi tugas mereka. Tak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu. Lagipula yang terpenting Jiyeon tidak terluka. Ah Young bukan urusan kita.”

Mobil perlahan berjalan melewati keramaian, baik yang berasal dari kendaraan lainnya ataupun akibat orang-orang yang berbondong-bondong ingin melihat langsung kebakaran yang tengah terjadi. Kyuhyun kembali mengarahkan pandangannya ke gedung salon yang terbakar. Kemungkinan besar Ah Young masih ada didalam sana. Dan jika memang begitu, gadis itu pasti sangat ketakutan sekarang. Kyuhyun mengalihkan pandangannya, menatap lurus kedepan. Ia berusaha untuk mengeraskan hatinya untuk mengabaikan Ah Young. Napas Kyuhyun berderu cepat. Wajah Ah Young terlintas dibenaknya. Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan! Ia masih punya hati. Ia bukan jahanam.

“Berhenti!” Seru Kyuhyun pada Jinki. Tuan Park menoleh kearah Kyuhyun. “Maaf tuan.” Ucap Kyuhyun singkat sebelum membuka pintu mobil dan beberapa detik kemudian ia sudah berlari menuju salon yang kebakaran. Tuan Park menatap punggung Kyuhyun dengan penuh emosi. Kedua tangannya mengepal kuat.

“Tuan kita—-“

“Jalan!”

 

-To Be Continued-

Annyeonghaseyo! 😀

Lama tidak bertemu teman-teman semuanya. Maaf bgt yah setelah sebulan lebih aku baru bisa post part 8 ini. Aku udah mulai sibuk lagi sama tugas kampus, dan lagi writer’s block suka menghampiri disaat yang tidak diduga :p Aku baca komen di part sebelumnya, dan kebanyakan pada kecewa karena pairingnya bukan KyuYeon. Cuma mau lurusin, dari awal kan aku juga udh bilang kalau couplenya waktu itu belum aku tentuin, jd aku sama sekali ga bermaksud untuk PHP. Kalo kalian ga suka, kalian ga harus baca ff ini kok. Aku ga pernah maksa kalian buat suka, baca dan komen di ff aku. Well, smpe sini aja cuap-cuap aku. Sampai ketemu di next chapternya. Makasih banyak buat readers yang masih setia baca ff ini dan juga komen, meskipun couplenya bukan KyuYeon. Love you all ❤

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

40 tanggapan untuk “The Bodyguard (Part 8)

  1. keren koq, kalo pairingnya dipaksa kyuyeon kesannya krg natural dan terlalu dongeng, kejam aja rasanya kalo semua yg ada dikasih ke jiyeon, ah young kan bkn org jahat pun, stidaknya ada hal manis yg dy dpt, kakek nya g punya hati

    1. Makasih banyak buat komennya 😀 iya, kalo semuanya untuk Jiyeon keenakan bgt dong haha. Lagian, bosen aja dimana2 liat main cast cewek selalu hrs couple sama main cast cowok. sekali-kali cari suasana baru lah 😀 Semoga ga bosen baca ff ini ya ^^

  2. Aaaaaaaaaaaaaaach,,,,
    Akhir_ny lanjut juga…Kkkk
    Aigooo
    Stu sisi q sukaaaaaa
    Bnget jiyi dating sma haepp…😍😍😍
    Tpi d sisi lain gak mau juga,,law kyuppa
    Jdi_ny sma ah young…hehhe
    law bisa ada caracter baru lgi de,h yang baik dan mau nrima ahyoung apa ada_ny,,jangan kyuppa,,ya ya ya….heeee
    Buat kyu perduli sma ah young hanya sbtas peduli sma adik,,jebaaaalllll 😔😔😔

    Sbel juga dech sma tuan park jahat bnget siiiiich….😬😬😬😬
    Wlau ah young bkan siap”ny dy,,,se tidak_ny peduli lah sma ah young sbgai sesama manusia,apalagi ah young dah sdkit mmbantu rencana_ny menyembunyikan identitas cucu_ny yang asli…😣😣
    Jiyi bner”claka bru tau rasa loooch dy,,,😒😒😒
    Gereget dech sma tuan park…😫😫😫😫😡😡😡😤😤😤
    Pnsaran sma lika liku hubngan HaeJi nanti_ny…Kkk
    Saeng kok part nie gak ada poto”ny part kmrin….heehe
    Neeeeeeeext
    D tunggu ya…😁😁😁
    FAIGTHING….✊✊✊

    1. Haha, aku cuma mau cari suasana baru aja eon. Abis kan dmana2 main cast cewek selalu sama main cast cowok, jd sekali-kali ganti lah. biarin sekali2 main cast cewek dpt cast biasa wkwkwk… makasih byk untuk komennya ^^ iya eon, maaf bgt nih utk chap ini ga ada foto2. Pdhl aku udh nyari loh. cuma internet lg agak lemot, jd kalo masukin foto bs lama. Next part aku usahain ada foto2 lagi hehe..

  3. cheonsa,jadi penasaran sapa kah gerangan ni anak?
    selalu menanti lanjutannya?
    bingung lol haeji atau kyuyeon?
    kwkwkw.gimana kalau jiyeon hyukjae,bercanda gin..
    apapun keputusannya q terima,tapi bisa lebih banyak bahas masa lalu jiyeon,kan ahyoung udah banyak,malah kebanyakan sedih..T T..

    1. Makasih banyak udh baca ^^ cheonsa msh di awang2 nih haha… hmm, jangan ah, kasian donghae. Masa udh papanya jahat, ditinggal jiyeon lg hehe. Ditunggu aja ya next chap nya

  4. Jd ini akan menjadi haeji couple kah??
    Aku dilemaaaa chinguuuuu
    Satu sisi aku suka haeji tp aku jg suka kyuyeon wkwkwk
    Dan kyknya ga rela aja klo kyu sama ah young wkwkwk *maruk bgt ya 😄😄😄
    Tp terserah dirimu aja deh, aku masih menikmati ff ini koq 😁

    1. Eonniii km sm kyk aku eon.. ga rela klo kyu sm ah young hikzzz.. andwe andwe andweee.. huhuhu awalx krx bkl kyuyeon krn jdlx bodyguard trnyta haeji ya.. yedah eon yuk rubah haluan kpn lg dpt haeji wkwkwkkw #plak.. eon btw jgn2 cerita authorx yg tmn msa kecil itu jiyi y? Mrk udh kakak adik gt?

      1. makanya eon dilema bgt
        Eon suka haeji tp ga rela kyu sama ah young
        Hikssss

        Iyaaa bisa jadi begitu
        Jiyeon temennya kyu pas di panti
        Kita tunggu aja lanjutannya kkkk
        *colek author

      2. Wkwkwkk nadoooo awalx kr kyuyeon krn kyu jd bodyguard jiyi trnyta haeji.. galau brt ywdalah eon anggap qja haeji hbrn buat slm haepa wamil ga tntu byk yg buat haeji kan kwwkwkk #plak

  5. aku kira ga akan lanjut aku udab takut huhuhuhu
    aku mentingin jiyeonnya doang sih mau dia sama donghae atau kyu its okaay walaupun emang disini tokoh utmanya lebih ke yura kyu tp tak apa aku udah jatuh cinta sama ceritanya tsaaaah
    aigooo jiyi baiknya mau bantuin yura buat tinggal disana tapi kakeknya jahay banget iih geregetan banget sama kakeknya udah gitu hae oppa juga jd susah mau pcaran sama jiyi gara2 dendam pribadi hiiih bete banget kasian mereka. apa cheonsa itu jiyi yaa waah pasti seru ketemu temen masa kecilnya dan jiyi jg nganggap kyu kayak kakak laki2nya

    1. Makasih banyak ya udh baca ^^ hehe, ga usah khawatir. Insya Allah aku bakalan terus lanjutin ff ini smpe tamat kok. Aku pantang berhentiin cerita ditengah jalan. Mohon dukungannya aja ya 😀

  6. Sumpah ya jahat bnget tuan park,, dia pikir nyawa orang gk penting gak ada apa”nya,,, Utung aja jiyeon udh pergi dari slon itu, trus gmn nasip ah young ,, dia gpp kan?? Tpi apa kebaran itu bukan sabotase orng atau emg kecelakaan? Q tungguin bnget nextx thor ,,

  7. Yakkkk apaa2an ini. Ya ampunnnnn knp rasanya cpt bgt baca ff sepanjang ini. Mgkn krn rasa rindu gue yg gak ketulungan nnguuin jwdwl tayang ni ff. haduhhh author kayanya sori dori nih gue mesti agak memaksa ente untuk cpt post next partnya. Penasarn bgt ama kelanjtnya hubgn dongyeon. Trs kyu ? spratian km yg km tnjukin k ahyoung itu cm skedar rasa kemanusiaan, pratian sama org yg da km kenal dan km anggep temn ato pratian dlm arti lain ? oh come on kyu,,, plisss jgn biarkan rasa care km lebi dr itu.
    Dek jiyi untung baik2 aja, gue tdi nyagkanya malah , nnti jiyi knp2 lg pas dlm prjlnn k IMS nemuin jieun eh malah justru keberuntungn yg ada.
    Aduhhhh bang donghae km pemuda idaman bgt sih, jarang loh cwo yg gak gila harta an ngedepankan hati dan kebaikan ky km. tulus contain jiyi dr hati dan harus mmpertahakn jiyi bgmn pun keadaan kedepnnya. Duhhh ayah tiri bang donghae si dongjun tuh ngeri bgt smoga aja klo dy mau bahayain jiyi bang donghae cptn tau dan brtindak cpt. Dan jg smoga hubgn mrk gak d halangi oleh kake nya jiyi.. dan jg smoga kakek jiyi bs liad ketulusan bang donghae contain jiyi. Nexxxtt parte

    1. Hahahaha… aduuh, maaf bgt yah udh bikin kamu jamuran nunggu ff ini. Tp kyknya postnya bakalan lama nih. Udh mulai sibuk sama tugas kuliah nih. Makasih banyak udh baca. Semoga ga bosen sm ff ini 😀

  8. aku sich fine” aja jiyeon dipasangkan ama siapa entah donghae atau kyuhyun cocok” aja sich
    tapi kalo kyuhyun ama ah young aku masih belum sreg
    karna sampai part ini aku masih dibuat ragu ama sifat dan sikap ah young
    dia menyimpan dendam atau enggak terhadap kearoganan tuan park dan kehadiran jiyeon sebagai yura asli dan bisa ajakan dimanfaatkan oleh orang” yang memiliki niatan jahat
    dan donghae moga aja gk akan berubah pikiran jadi penjahat seperti ayah tirinya
    cinta mereka mungkin tulus tapi ancaman lee dongjun gk main” kan

    1. Iya, gpp. Semua org berhak kasih opini kok ^^ tp yg udh pasti sih jiyeon bakalan sm donghae hehe… makasih udh baca dan komen. Semoga ga bosen baca ff ini ya ^^

  9. Annyeong.. kekek msh ingt aku kan? Kmna aja km? Br update lg hhhuuuu.. andweee.. ini sbnrx ff kyuyeon apa haeji? Aku pkr kni bkl kyuyeon tp blsn comment km harji ya.. hikzz pdhl ngarep kyuyeon.. soalx krng cocok kyu sm ah young / yurax.. hmmm ottokhae dong? Wkwkwkk aku galau #plak

    1. Annyeong! Masih kok chingu. Km kamu pembaca setia ff ini hehehe… sebenarnya diriku ga kmn2 kok, malah hampir tiap hr buka wp. Tp gr2 lg musim comeback boyground n girlgroup, malah bikin salah fokus wkwkwk… huhu, sedih nih byk bgt yg ga suka sama ah young. Ya udh lah, kyu sama aku aja hehe

  10. wlupun agak gak sreg pairing nya kyu sama ah young dan jiyeon sama hae tp karna ceritanya menarik aku tetep lanjut baca
    sbnernya aku slalu mikir, dulu wkt aku jadi sider para author rajin banget post ff mereka bahkan sampe 2 hari sekali atau tiap hari ada. tpi stlah aku muncul dan punya niat baik buat komen di tiap ff yg aku baca pasti para author itu malah pada jd gini, maaf bukan maksud mau ngeluh soal kesibukan author, aku ngerti author juga pst sibuk, author yg lain juga, tpi kadang aku mikir kek nya aku lbh baik jd sider kek dulu tp para author tetep rajin munculin ff mereka, banding aku nongol ikut komen malah bikin reader lain nunggu lama 😉 aku liat vanilla eonni yg booming karna ff nya itu dulu rutin 2 minggu sekali post ff, tpi karna banyaknya readers yg mnta cepet dia malah sampe hilang, atau jd lama bgt ngepost ff nya, bahkan smpe skrg msh blm tamat. kak evi pun sama, dulu dia dua hari skali sllu update ff myungzy, stelah banyak kritikan dia pilih lepas jd author ff myungzy dan ganti cast tpi dia malah jd jarang post ff juga. dan alasannya pun karna sibuk kuliah..
    aku ngertiin kok para author smua pasti sibuk didunia nyata buat masa depan kalian, aku juga sama sibuk kerja dan yg lebih entengnya aku juga cuman tinggal baca aja..

    1. Makasih udh setia baca ff ini. Makasih jg buat pengertiannya. Aku tahu gmn ga enaknya nunggu post-an ff yg ga jelas kpn publishnya. Sebenarnya aku jg ga mau kyk gini. Bukannya sok sibuk, tp semester 5 ini aku lg getol2nya perbaikan nilai gr2 semester lalu agak jeblok. Udh gitu giliran ada ide, eh malah kena writer’s block atau kadang pas lg pengen nulis malah hrs ngerjin tugas kampus 😦 makanya itu aku ga minta readers ku buat nungguin ff ini krn takut diblg php. Tp makasih byk kalo kamu masih mau baca dan komen ff ini ^^

  11. Aaa si ahyoung gmn yaa?
    Semoga baik2 ajaa
    Uda lmyn bisa moveon dr kyuyeon , suka donghae sama jiyi tp masih blm rela kyu sama ahyoungg wkwkw
    Ditunggu next partnya yaa

  12. sebener y lebih pingin kyuhyun sama jiyeon tapi ngak mungkin juga krn kyuhyun n jiyeon jarang interaksi y
    n kyuhyun lebih sering sama ah young….
    mau diapain lg bener juga komen salah satu disini dipaksa kyuhyun ma jiyeon terlalu gmn gt krn mereka jarang terlibat berdua…. tapi q ngebet bgt pengen jiyeon ma kyuhyun tp pasrah deh terserah author y…..
    n jiyeon juga kyk y cheonsa temen kecil kyuhyun dipanti ya????
    kakek y kejam bgt sih ngak ada rasa sedikit pun pas tau ah young ada di salon….. ya ampun….

    1. Makasih banyak ya msh mau baca ff ini walaupun couplenya ga seperti yg kmu harapin. semoga cerita ini ga semakin ngebosenin buat kamu. sekali lg makasih ya 😀

  13. aiiissshhh kenapa kakek berhati batu bnget yah…aigoo kan kasian ah young nya…udah sekian banyak lho kejadian yg hampir merenggut nyawanya dia…huuufff smoga aja ah young gak kenapa napa…ditunggu next nya author niiiiiim figthiiiiinggggg

    1. Makasih banyak udh baca. Iya nih, si kakek emg berhati batu bgt. Dia ga peduli lg sm ah young krn menurut dia ah young udh ga nguntungin. Ditunggu aja ya next chapternya

  14. author yang cantik ff nya daebbak aku suka couple donghae jiyeom mereka romantis banget. next thor please bikin ff haeji couple .one shoot jebal jebal romance rating 17 jebal

    1. Hahaha, makasih buat pujiannya xD pdhl kamu blm pernah liat aku wkwkwk… duh, ga janji ya. Soalnya aku agak2 gmn gitu klo bikin yg rating 17. Tp aku bakal coba kok hehe

  15. SAlah gk aku mrngharap kyu sama jiyeon ….bukan nya gk suka ma ahyoung Ahyoung baik sic !! Tapi aku suka jiyeon !!apa kyu sdh mulai suka ahyoung ?? Mudah2 cuma rasa simpati aja bukan cinta !! Tuan prak memang kejam bagaimana pum ahyoung kan sdh berkorban

  16. Wahh kakek kok jahat bangetz sihh…
    Padahal aku suka ff dengan cast kyu oppa,tapi disini aku lebih suka donghae…tapi nggak ppa eonni ff nya selalu keren-keren penasaran mau baca part selanjutnya…gomawo eonni^_^sukses terus..aku dukung eonni terus kok tenang ajha..semangat!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s