Diposkan pada BrotherSister Couple, Chapters

So Many Coincidences (Part 2)

1426346246975

Author : Cho Haneul
Title      : So Many Coincidences
Type     : Chaptered
Genre   : Romance, Comedy, 
Poster   : IG @shirlyuanaaa

Cast :
– Kim Jiwon
– Kim Woo Bin
– Kim Minseok (Xiumin)
– Bang Minah
– Kang Haneul
– Jung Krystal

_______________________________________________

Beberapa teman sekelas Jiwon menatap gadis itu dengan pandangan aneh. Kim Jiwon yang biasanya selalu tampil ceria dan enerjik dengan segala macam candaannya akhir-akhir ini tampak begitu murung dan lesu. Seperti bukan Kim Jiwon saja. Contohnya sekarang, disaat jam istirahat telah berbunyi dan hampir seluruh murid berbondong-bondong untuk keluar dari ruang kelas yang mereka anggap neraka tingkat awal itu, Jiwon justru malah duduk diam dibangkunya dengan kepala yang menempel pasrah diatas meja. Sesekali akan terdengar helaan napas pasrah dari mulutnya, persis seperti orang yang sedang putus asa.

Shin Hye membalikkan tubuhnya menatap Jiwon bingung. “Tidak ke kantin?” Tanyanya.

“Ani.” Gumam Jiwon lesu.

“Kau sakit?” Shin Hye agak sedikit membungkuk guna untuk melihat wajah Jiwon yang tertutup rambut. Digesernya sedikit rambut coklat gelap Jiwon sehingga ia bisa melihat wajah gadis itu lebih jelas. “Kau kenapa sih? Tampangmu seperti orang sekarat saja.”

Jiwon mengangkat kepalanya sejenak. “Aku memang sekarat.” Ucapnya kemudian kembali meletakkan kepalanya diatas meja.

Shin Hye meringis. “Wae geure? Ayo cerita padaku! Siapa tahu aku bisa bantu. Ah, aku baru ingat ingin bertanya padamu. Apa Minseok berpacaran dengan Krystal? Sebab aku sering melihat mereka bersama sudah seminggu belakangan ini.”

Pertanyaan Shin Hye malah semakin meruntuhkan semangat Jiwon hingga sampai ke dasar. Dengan setengah hati ia terpaksa menjawab pertanyaan Shin Hye. “Ne, mereka sudah seminggu lebih berpacaran. Sekarang ini minggu kedua.” Jawab Jiwon lesu.

“Ah, jinjjayo? Tapi menurutku mereka serasi kok. Krystal yang pendiam namun agak manja serta Minseok yang ceria namun dewasa. Ah, kurasa mereka akan menjadi pasangan populer menyaingi Cho Kyuhyun dan Choi Haneul.” Ungkapnya.

Jiwon menatap Shin Hye dengan wajah bengis. Sedangkan Shin Hye yang tidak sadar akan reaksi temannya itu malah asyik tersenyum membayangkan pasangan baru di sekolah mereka itu. Shin Hye ini memang agak-agak ajaib. Hobinya adalah memperhatikan orang pacaran. Istilah bekennya adalah stalker khusus orang pacaran. Gadis itu akan men-stalk sosial media pasangan-pasangan yang dianggapnya romantis dan serasi hingga mengoleksi foto-foto pasangan tersebut. Katanya sih untuk referensi jika ia kelak memiliki kekasih.

Yup, Shin Hye ini memang masih jomblo. Bukan karena tidak ada namja yang menyukainya. Justru gadis berambut panjang ini adalah salah satu gadis yang paling didambakan oleh para namja di sekolah mereka. Tapi yang menjadi masalah, Shin Hye terlalu banyak menelan novel-novel romantis serta manga romance yang mana selalu menghadirkan prince charming nan perfect. Jadilah sekarang Shin Hye mencari sosok itu dikehidupan nyata yang mana sebenarnya itu adalah hal luar biasa susah. Mencari namja yang baik saja susah, apalagi yang model pangeran impian seperti itu. Cih, bagai mencari jarum didalam tumpukan jerami.

“Ya Park Shin Hye! Hentikan khayalan bodohmu itu!” Jiwon mencubit kedua pipi Shin Hye dengan gemas. “Lagipula menurutku tidak ada yang bisa mengalahkan couple Kyuhyun dan Haneul. Mereka itu tidak ada duanya. Mana bisa kau bandingkan mereka dengan Minseok dan Krystal. Minseok dan Krystal itu tidak ada apa-apanya! Dan kau bilang tadi Minseok dewasa?! Yak, dia itu seperti bocah!” Ujar Jiwon berapi-api, membuat Shin Hye mengernyit bingung.

“Kau sedang PMS ya? Aneh sekali. Kau kan sahabatnya Minseok. Masa tidak mendukungnya dan Krystal sih? Hah, seolma neo…” Shin Hye menggantungkan kalimatnya sembari menatap Jiwon dengan mata yang sengaja disipitkan, ingin membuat kesan dramatis.

“Naega mwo?”

“Kau cemburu ya?” Tebak Shin Hye asal namun tepat menohok hati Jiwon.

“Cih, siapa yang cemburu? Kau gila ya! Untuk apa aku mencemburui si muka bakpao itu, eo? Aish, berbicara denganmu membuatku lapar!” Jiwon bangkit dari duduknya dan kemudian bergegas pergi dari dalam kelas. Shin Hye mengikuti gadis itu sambil tertawa geli.

 

*****

 

Bagi Bang Minah, siapapun atau apapun yang mengambil miliknya merupakan musuh. Dan yah, Kim Jiwon adalah salah satunya. Dengan seenaknya Jiwon mengambil hati Woo Bin, walaupun tanpa disadarinya, tapi itu cukup membuat Minah kesal bukan main. Dia sudah menaruh hati pada sunbae tampannya itu nyaris tiga tahun lamanya. Selama nyaris tiga tahun ini ia selalu mati-matian berusaha menarik perhatian Woo Bin agak pria itu menatapnya sebagai seorang gadis, bukan hanya hoobae atau dongsaeng semata. Sayangnya usaha nyaris tiga tahun Minah terpatahkan oleh sosok gadis baru yang bahkan tidak melakukan apapun untuk menarik perhatian Woo Bin.

Minah kesal bukan main.

Gadis itu baru saja keluar dari bilik toilet nomor dua ketika matanya menangkap sosok ‘musuh’ barunya itu. Kim Jiwon sedang mencuci kedua tangannya di wastafel. Minah berjalan pelan hingga berhenti di wastafel sebelah Jiwon. Gadis itu menyalakan keran dan membasuh kedua tangannya secara perlahan seraya diam-diam mengamati Jiwon. Ia ingin menelisik bagian mana dari Jiwon yang begitu unggul dan tidak dimiliki olehnya sehingga bisa membuat Woo Bin menyukai gadis itu.

Sadar tengah diperhatikan, Jiwon melirik Minah melalui cermin besar dihadapan mereka. Tatapan kedua gadis itu bertumbukan di cermin. Jiwon tersentak kaget melihat tatapan tajam Minah. Buru-buru Jiwon mengeringkan tangannya dan kemudian bergegas kembali ke kelas. Sepintas ia sempat melihat symbol merah dilengan jas sekolah Minah. Simbol yang sama dengan yang ada dijas sekolahnya, namun berbeda warna. Simbol miliknya berwarna biru yang berarti murid kelas 3, sedangkan merah untuk murid kelas 2.

‘Gadis aneh. Kenapa dia menatapku seperti itu? Perasaan aku tidak mengenalnya.’ Batin Jiwon bingung.

Jiwon tidak terlalu ambil pusing dengan kejadian di toilet tadi. Ah, lebih tepatnya kehadiran Minseok yang telah berhasil mengalihkan perhatiannya. Setengah berlari, Jiwon mengejar pria itu.

“Minseok-ah!” Gadis itu menepuk pundak temannya itu.

“Hei! Dari kantin?”

Jiwon menggeleng. “Ani. Dari toilet.” Jawabnya. Gadis itu berjalan sedikit lebih cepat sehingga ia berada didepan Minseok, lalu berjalan mundur sembari menghadap pria itu. Sesekali Minseok akan menggapai tubuhnya jika Jiwon nyaris menabrak sesuatu. “Kau sudah berjanji ingin mengajakku menonton. Nanti malam ada film yang bagus. Ayo kita menonton bersama! Kita sudah lama tidak menonton film bersama.”

‘Yah, tepatnya semenjak kau berpacaran dengan si putri populer itu.’ Batin Jiwon kesal.

Minseok memasang wajah tengah berpikir keras, tapi Jiwon tahu bahwa itu hanya aktingnya saja. Sebab sobatnya ini takkan mungkin melewatkan quality time mereka begitu saja. Tebakan Jiwon tidak meleset.

“Call! Nanti malam kujemput, oke!” Ujar Minseok sembari mengacak rambut Jiwon usil.

“Yak yak! Jangan sentuh rambut indahku!”

 

*****

 

“Cih! Geu yeoja ga yeppeoneun aniya!”

Haneul meringis ngeri melihat Minah yang dengan brutal menusuk-nusuk daging steak dipiringnya, persis seperti adegan di film-film thiller Hollywood.

“Nugu?”

Gerakan tangan Minah berhenti. Alih-alih ia menatap Haneul kesal. “Tentu saja si gadis penggoda, Kim Jiwon!” Ujarnya kesal, membuat Kang Haneul terkesiap mendengarnya. Hoobae-nya ini biasa selalu bersikap ceria dan ramah. Maka dari itu, melihat Minah yang seperti ini cukup membuatnya agak terkejut.

Haneul menatap Minah. “Jaga ucapanmu itu! Kim Jiwon adalah sunbae-mu. Tidak pantas kau menjulukinya seperti itu. Lagipula Woo Bin yang suka pada Jiwon, bukannya gadis itu yang suka apalagi menggoda Woo Bin seperti yang kau bilang tadi. Aku bahkan sangsi jika Jiwon mengenal Woo Bin.” Ucap Haneul.

Ekspresi wajah Minah semakin muram. “Oppa membela yeoja itu? Ara ara! Bela saja terus yeoja itu! Tinggalkan saja aku sendiri! Memang tidak ada yang sayang padaku. Kalian semua menyebalkan!”

Nah, ini dia yang Haneul hindari jika berdebat dengan Minah. Gadis itu cepat tersulut emosi dan terlalu drama queen baginya. Pria itu menghembuskan napas perlahan, berusaha untuk meningkatkan kadar kesabarannya. Menghadapi gadis seperti Bang Minah ini memang diperlukan kesabaran yang ekstra jika kau tidak ingin stress seketika.

“Sudah-sudah. Aku tidak bermaksud untuk membela siapapun dan lantas memojokkanmu. Habiskan makananmu setelah itu kita pulang.”

 

*****

 

Jiwon menghela napas kesal. Dengan sekali sentakan gadis itu melepas pita yang tadinya menghiasi rambut coklat gelapnya. Ia menatap pantulan dirinya yang tampak begitu menyedihkan di cermin. Seharusnya sekarang Minseok sudah menjemputnya seperti janji pria itu tadi siang. Seharusnya mereka sekarang sedang dalam perjalanan menuju bioskop. Yah, seharusnya memang seperti itu jika saja Minseok tidak seenaknya membatalkan janji secara sepihak. Dan mirisnya, lagi-lagi itu terjadi karena Krystal. Jiwon tidak mendengarkan alasan pria itu hingga selesai. Begitu mendengar kata ‘batal’ Jiwon sudah kehilangan seluruh mood bahagianya. Intinya Minseok lebih memilih Krystal yang baru dikenalnya daripada dirinya yang sudah bertahun-tahun berteman dengan pria itu. Jiwon sakit hati.

“Dasar namja pemberi harapan palsu! Kau sudah berjanji dan dengan seenak perutmu kau membatalkannya hanya karena yeoja itu.” Jiwon menghapus riasannya dengan kasar. Emosi gadis itu benar-benar sudah diubun-ubun.

Pintu kamarnya dibuka dari luar, menampakkan sang ibu yang datang dengan membawa sebuah mini dress cantik berwarna hijau ditangannya. Kim Nana mengernyit heran karena melihat putri tunggalnya itu masih berada disana dan bahkan sedang menghapus riasannya dengan cara yang sungguh tidak anggun.

Wae ajikdo yeogie?” (kenapa masih disini?) Bukankah kau bilang ingin pergi ke bioskop bersama Minseok?” Tanya Nana bingung.

Jiwon menatap ibunya melalui cermin. “Batal. Dia lebih memilih bersama yeojachingunya! Sialan!” Umpat Jiwon kesal.

Kim Nana tersenyum kecil sembari menghampiri putrinya. Dielusnya kepala Jiwon dengan lembut. Jemarinya menyisir rambut sang putri. “Kau terlihat tidak suka dengan fakta bahwa Minseok sudah memiliki kekasih sekarang. Kau tentunya tidak selalu berharap bahwa ia akan berada 24 jam disisimu, bukan?” Tanya Nana lembut. Jiwon masih diam. “Sayang, wajar jika Minseok lebih memilih gadis itu. Kan yeoja itu adalah kekasihnya. Apalagi hubungan mereka masih sangat baru. Kau harus memaklumi itu. Minseok sudah tidak menjadi milikmu lagi.” Nana berkata dengan lembut, berusaha untuk membuat putrinya mengerti bahwa Jiwon tidak bisa selamanya bergantung pada pria itu.

Jiwon menunduk mendengar perkataan ibunya. Ia sadar bahwa apa yang sang ibu katakan benar. Namun rasanya sulit memikirkan bahwa dia tidak bisa memonopoli Minseok seperti dulu. Mata Jiwon mulai berkaca-kaca.

“Ah, bagaimana jika lusa kau ikut eomma arisan? Daripada bosan di rumah, lebih baik ikut eomma saja. Lagipula kita kan sudah lama tidak jalan-jalan berdua. Teman eomma ini juga seorang desaigner. Barangkali saja ada baju bagus yang cocok untukmu.” Bujuk Nana.

Jiwon mendengus. “Apapun jawabanku sepertinya takkan berpengaruh. Toh eomma sudah menyiapkan gaun untuk ku kenakan lusa, bukan?” Jiwon mengedikkan dagunya kearah mini dress yang dibentangkan diatas ranjangnya. Kim Nana tersenyum polos sembari mengedap-ngedipkan matanya. “Nah, karena bajunya sudah ada maka kau harus ikut. Kita akan pergi sebelum makan siang. Ja, kalau begitu selamat istirahat, sayang. Eomma mau lanjut menonton.” Kim Nana mengecup puncak kepala Jiwon dan mengusapnya lembut sebelum ia beranjak pergi dari kamar putri tunggalnya itu.

Jiwon meraih dress berwarna hijau itu. Kim Nana memang selalu tahu bagaimana membuat anak gadisnya menuruti keinginannya. Jiwon menggelengkan kepalanya, sadar bahwa sang eomma selalu bisa membuat dirinya mendadak berubah menjadi anak penurut. “Eomma eomma…” Desahnya.

 

*****

 

Woo Bin memijat pelipisnya dengan kuat. Helaan napas lelah terdengar dari mulutnya bersamaan dengan punggungnya yang ia sandarkan di kursi. Haneul mengerutkan dahinya. “Wae geure?” Tanya pria itu bingung sembari menyodorkan cemilan kepada Woo Bin. Woo Bin menolak sopan.

“Bang Minah.” Desahnya frustasi. “Gara-gara dia sekarang jadi beredar gossip mengenai aku dan Kim Jiwon. Ini gila! Aku bahkan tidak mengenal gadis itu secara langsung.”

“Huft, sudah kukatakan bukan bahwa berbohong seperti itu malah akan membuatmu semakin pusing. Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan? Bagaimana jika Jiwon mendengar gossip itu? Ia pasti akan bingung.”

“Aish jinjja si Bang Minah itu! Kenapa dia jadi merepotkan seperti ini sih?!”

Haneul terkekeh. “Ku koreksi sedikit. Gadis itu memang sudah merepotkan sejak awal kok. Apalagi jika ada hubungannya dengan mu.”

Woo Bin melayangkan pandangannya kearah pintu kelas, dan seketika jantungnya berdegub kencang kala mendapati Jiwon yang melintas didepan kelasnya. Kelas mereka memang bersebelahan, jadi bukan hal yang aneh jika Jiwon tampak hilir mudik disana. Yang aneh justru kenapa Woo Bin jadi segugup ini hanya karena hal lumrah seperti itu?

 

*****

 

‘Minseok bahkan tidak peduli lagi padaku…’ Jiwon menendang kerikirl didepan kakinya hingga terpental cukup jauh. Gadis itu menghela napas sedih. Dimana sahabatnya itu disaat ia sedang galau seperti ini? Jiwon tidak habis pikir darimana asal mula gossip gila mengenai dirinya dan Woo Bin. Ia sendiri baru mengetahui gossip itu tadi, saat Yerin dan Eunha bertanya antusias mengenai hubungannya dan Woo Bin.

“Hubungan apanya? Kenal saja tidak!” Gerutu Jiwon. Ia kemudian duduk disalah satu bangku di taman sekolah. Suasana yang tidak terlalu ramai dirasa cocok untuknya menenangkan diri. Jiwon malas berada di kelas ataupun kantin, sebab teman-temannya pasti akan berbondong-bondong menanyakan soal gossip itu.

Merasa bosan, Jiwon iseng membuka sosial media miliknya. Moodnya semakin rusak begitu melihat update terbaru instagram Minseok. Bagus sekali! Fotonya bersama Jung Krystal. Betapa rasanya Jiwon ingin membanting ponselnya. Tapi untungnya gadis itu masih cukup waras untuk tidak sok drama mengorbankan iphone 6 yang setengah mati diperolehnya dari sang ayah.

Balik ke soal gossip tidak jelas itu. Jiwon yakin seratus persen jika bukan Minseok yang membuat dan menyebarkan gossip itu. Yah, meskipun menurut Jiwon hanya pria itu yang tahu soal rasa ‘suka’ (bohong) pada Woo Bin.

‘Tapi masa Minseok sih? Dia bukan tipe namja penggosip. Jika Baekhyun, aku baru percaya.’

 

*****

 

“Ja, ayo kita turun!”

Jiwon menghela napas sejenak. Pandangan matanya menatap kearah rumah mewah yang berdiri dengan megah dihadapannya. Diperkarangan rumah itu sudah ada beberapa mobil yang tak kalah mewah diparkir disana.

“Sepertinya sudah mau dimulai.” Ucap Kim Nana sambil melihat kearah deretan mobil mewah itu. “Hei, ayo senyum! Jangan pasang wajah menyeramkan seperti itu!” Tegurnya kala mendapati wajah ditekuk Jiwon. Jiwon tidak menjawab. Alih-alih ia menggandeng lengan ibunya, dan keduanya pun masuk kedalam rumah tersebut.

Arisan diadakan di taman lantai dua. Dan saat dibilang taman, tempat itu benar-benar seperti taman pada umumnya. Bahkan lantainya ditutupi dengan rumput buatan serta bebatuan. Ada dua buah pohon berukuran sedang disana, yang Jiwon sendiri tidak tahu nama dan jenis pohon tersebut. Yang jelas keberadaan dua pohon itu membuat suasana taman menjadi rindang dan menambah kesan sejuk. Ada juga kolam renang berukuran sedang disana, beragam jenis bunga, bahkan air terjun buatan. Pokoknya benar-benar jjang! Melihat itu membuat Jiwon jadi mengira-ngira sendiri berapa kekayaan teman eommanya ini.

Ada sepuluh orang wanita paruh baya disana. Mereka tampak heboh begitu melihat Kim Nana datang. Kali ini Jiwon benar-benar harus mengakui bahwa ibu tersayangnya itu memang populer. Bahkan dirinya tidak memiliki teman sebanyak itu. Jiwon membungkuk sopan sembari memperkenalkan dirinya.

“Ah, jadi ini yang namanya Jiwon ya? Apa kau ingat ahjumma? Kita pernah bertemu di butik beberapa minggu yang lalu.” Tanya si pemilik rumah yang bernama Choi Yumi. Jiwon tersenyum canggung. “Ah ne, tentu saja.” Bohongnya. Jangankan untuk mengingat wajah orang yang ditemuinya beberapa minggu lalu, wajah orang yang ditemuinya beberapa menit yang lalu saja Jiwon bisa lupa. Gadis itu memang bukan pengingat wajah yang baik karena ia tidak pernah menatap orang yang tidak dikenalnya lebih dari 3 detik.

Choi Yumi tampak senang mendengar jawaban Jiwon. “Kau bersekolah di Jeguk High School, bukan?”

“Ne.”

“Kelas berapa?”

“Aku kelas tiga.”

“Ah, geureyo. Kalau begitu kau mungkin mengenal anakku. Dia juga bersekolah di Jeguk dan sekarang duduk di kelas tiga.” Ucap Yumi bersemangat, membuat Jiwon agak sedikit tertarik. “Oh ya? Siapa namanya?”

Baru saja Yumi hendak menjawab, senyum wanita itu mengembang. “Ah, itu dia!” Ujarnya. Jiwon menoleh kearah yang dimaksud Yumi, dan seketika jantungnya berdegub kencang.

‘Oh tidak! Diantara sekian banyak murid Jeguk, kenapa anaknya harus Kim Woo Bin?!’

Woo Bin melenggang dengan santai menuju ibunya. Ditangannya ada sebuah kotak persegi berukuran sedang. Entah apa isi didalam kotak tersebut. Dan tampaknya pria tampan itu masih belum menyadari keberadaan Jiwon disana. Namun itu tetap saja tidak membuat Jiwon tenang.

“Ini ada paket untuk eomma.” Woo Bin menyerahkan kotak tersebut kepada sang ibu. Beberapa orang ibu-ibu ada yang saling berbisik-bisik mengagumi ketampanan Woo Bin. Tak sedikit pula yang sudah memiliki rencana untuk menjodohkan putri mereka dengan pria bertubuh tinggi itu.

Woo Bin baru saja akan pergi, sebelum ibunya menahan tangan pria itu. “Ah, Ini ada teman satu sekolahmu di Jeguk. Kau pasti kenal, atau setidaknya kalian pernah bertemu sebelumnya.” Ujar Yumi sambil tersenyum. Woo Bin baru sadar bahwa ada seorang gadis seusianya yang tengah duduk di kursi tepat didepan sang ibu. Seketika tubuh dan ekspresi pria itu menegang begitu kedua manik matanya bertatapan dengan manik Jiwon.

“Kim Jiwon…” Desis Woo Bin, namun cukup untuk didengar oeh Yumi. Wanita itu semakin tersenyum sumringah. “Ah, ternyata kalian memang saling mengenal. Ja, bagaimana jika kau ajak Jiwon mengobrol di taman bawah atau menonton film di home theater. Jiwon pasti bosan jika harus duduk berjam-jam mendengarkan obrolan para orang tua disini.

Jiwon tersentak. “Ah, tidak usah ahjumma. Aku tidak apa-apa disini.” Tolak Jiwon sopan. Lain dengan Jiwon yang terlihat enggan, Kim Nana justru tampak bersemangat. Sama persis seperti Choi Yumi.

“Ibu rasa itu ide yang bagus. Bukankah tadi kau malas ikut karena akan merasa sangat bosan? Sudah, ikut saja dengan Woo Bin. Kalian kan bisa mengobrol tentang sekolah atau apapun itu. Ayo sana!” Suruhnya. Jiwon menatap kearah ibunya kesal, namun sang ibu justru tersenyum dengan manisnya, membuat gadis itu tidak bisa menolak. Jiwon menoleh kearah Woo Bin. Pria itu tengah menatapnya intens.

“Ayo ikut aku!” Ajak Woo Bin.

“Ayo Jiwon.” Desak Yumi.

Dengan berat hati Jiwon bangkit dari kursinya, mengambil tas tangan lalu mengikuti Woo Bin berjalan masuk kedalam rumah. Pria itu membawa Jiwon ke taman belakang rumah yang terletak di lantai dasar. Taman yang ini tak kalah bagus dan indah dari taman di lantai dua. Woo Bin menghentikan langkahnya, lalu agak sedikit membungkuk. Jiwon melihat dari balik punggung pria itu, dan mendapati Woo Bin sedang mengusap kepala anjingnya dengan sayang. Jiwon menoleh kearah kanannya, dan mendapati ada kandang anjing yang cukup besar disana. Tampak seekor anjing sedang tidur dengan damai didalamnya. Jiwon yang memang pecinta binatang langsung terlihat antusias. Gadis itu ikut membungkuk dan mengelus kepala anjing jantan yang diberi nama Bruno itu. Bruno adalah anjing jenis Shiba Inu yang memiliki bulu begitu lembut berwarna coklat untuk bagian luar dan putih dibagian dalam.

Gwiyeowo.” Ujar Jiwon sambil mengelus kepala dan punggung Bruno dengan lembut.

“Kau suka anjing?” Itu adalah kalimat pertama yang ditanyakan oeh Woo Bin. Jiwon sempat agak sedikit tersentak kaget, namun dengan lugas ia mengubah ekspresi kagetnya. “Ne. Aku suka anjing. Dan kulihat sepertinya kau juga pecinta anjing. Anjingmu ada dua.”

“Hmm, sebenarnya tiga. Aku masih punya seekor Shih Tzu.” Ucapnya.

“Wah jinjja?! Aku juga punya satu di rumah.”

Woo Bin tersenyum melihat betapa antusiasnya Jiwon kala membahas soal anjing. “Sebentar, biar aku ambil Helga dulu. Tadi sedang dimandikan oleh pembantuku. Kau bisa duduk disana.” Woo Bin menunjuk kearah gazebo kecil yang terletak agak disudut taman. Jiwon mengangguk dan berjalan menuju gazebo, sementara Woo Bin masuk kedalam rumah untuk mengambil anjingnya.

Tak lama pria itu kembali dengan menggendong seekor Shih Tzu berwarna putih abu-abu. Woo Bin meletakkan anjing betinanya itu di pangkuan Jiwon. “Namanya Helga.” Ucap Woo Bin. Kedua remaja itu sejenak melupakan rasa canggung mereka satu sama lain. Woo Bin menatap Jiwon dengan seksama. Ia tak tahan untuk tak menyinggung perihal rumor yang beredar di sekolah mengenai mereka. Ia penasaran ingin melihat reaksi serta tanggapan Jiwon.

“Aku yakin kau pasti sudah mendengar rumor tentang kita di sekolah, bukan?”

Tangan Jiwon yang semula mengelus-elus tubuh Helga langsung diam. Gadis itu menundukkan kepalanya, berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah karena malu dan gugup. Tapi Woo Bin justru salah mengartikan gerak gerik gadis itu. Ia pikir jika Jiwon marah padanya.

“Hei, maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuat suasana menjadi tidak nyaman. Aku hanya ingin menjelaskan padamu bahwa bukan aku yang membuat rumor itu. Aku bahkan tidak mengenalmu sebelumnya. Aku tidak ingin kau salah paham.” Jelas Woo Bin.

Jiwon berdeham. Entah mengapa tenggorokannya terasa kering. “Aku… aku tidak marah padamu. Aku sendiri juga heran bagaimana rumor seperti itu bisa muncul dan beredar dikalangan murid-murid. Aku sebenarnya juga ingin mengklarifikasi padamu jika bukan aku yang menyebarkannya. Aku juga tidak ingin kau salah paham. Sebab seperti yang kau bilang tadi, kita tidak saling mengenal sebelumnya.” Ujar Jiwon. Gadis itu menatap Woo Bin dengan malu-malu. “Seolma… apa kau mungkin punya kandidat yang mungkin menjadi biang kerok masalah ini?”

“Opseo.” Jawab Woo Bin singkat. Dan jelas pria itu berbohong. Sebenarnya ia yakin jika Minah adalah dalang dibalik rumor tersebut, akan tetapi salah rasanya jika ia dengan gamblang mengatakan itu. Terlebih tanpa disertai bukti yang konkrit. Lagipula jika ia jujur pada Jiwon, tentunya gadis itu akan tahu alasan mengapa rumor tersebut bisa muncul. Woo Bin belum siap untuk menanggung malu akibat kebohongan bodohnya yang sudah menyeret Jiwon.

Situasi diantara mereka kembali canggung. Hanya Helga yang tampak asyik karena menjadi pusat perhatian. Anjing betina itu melompat-lompat kecil kearah Jiwon dan Woo Bin. Jiwon melirik Woo Bin. “Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menghentikan rumor itu? Jujur saja ya, aku merasa sedikit terganggu dengan rumor itu, dan kuyakin kau pun juga begitu.”

Woo Bin tampak berpikir keras. Ia juga ingin agar rumor bodoh itu segera berakhir. Lagi serius berpikir, Jiwon dan terlebih Woo Bin dikejutkan dengan kehadiran Minah dan Haneul. Kedua tamu dadakan itu juga tak kalah kaget melihat pemandangan langka dihadapan mereka ini. Minah bahkan lupa bernapas selama 3 detik saking kagetnya, sedangkan Haneul hanya menatap Woo Bin dengan wajah bingung. Setahunya Woo Bin tidak mengenal Jiwon. Lalu apa arti pemandangan dihadapannya sekarang ini?

“OPPA!”

 

 

-To Be Continued-

Part 2 is out! 😀
Maaf banget yah udh bikin kalian lama nunggu FF ga jelas ini. Serius deh! Bukannya sengaja mau ninggalin dan lupain ff ini gitu aja. Tapi aku emang lagi ga sempat nulis dan juga lagi kosong ide T_T sekalinya ada waktu, eh malah ke distract sama comeback-nya GB/BB (Maafkan author yg begitu mencintai K-POP >.<) Part ini lumayan lebih panjang daripada yang chapter 1. Semoga ceritanya masih bisa kalian terima ya. Makasih banyak untuk semua dukungannya. Annyeong~ 😀

Iklan

Penulis:

Just a simple girl who loves music, food and blue sky

10 tanggapan untuk “So Many Coincidences (Part 2)

  1. Haha sempet lupa sama ceritanya krna udh lama bru lanjut.. Tpi pas dipertengahan mulaiinget
    Ya siapapun itu pasti bakalan lupain temen klu udh punya pacar. Pasti pacar diutamain terus kek minseok tuuh hayo tar nyesel jiwon nya diambil woobin akakak

    1. Aduuh, maaf ya soalnya aku lama updatenya. Aku sempet stuck ide buat nulis ditambah lg sama tugas kuliah yg byk. Makasih ya msh setia baca ff ini. Semoga ga bosen sm ceritanya ^^

  2. Yeee akhirnya muncul juga nih part 2…
    Udah nunggu lama bgt…
    minah nya terobsesi cbgt deh sm woobin oppa… jd bikin greget…
    kebersamaan woobin n jiwon nya kurang lama…
    di tunggu ya chap selanjutnya… jangan lama lama pliiiiisss…

  3. hai author…aku reader baru di sini 🙂 salam kenal 🙂 akhirnya nemu juga ff kim woo bin & kim ji won 🙂 keren thor ff nya,apa mereka akan pura-pura jadi pasangan?ketangkap basah lg berduaan,walopun sebenernya ngga sengaja ketemu 😀 scene woobin & jiwon nya di banyakin dong author…biar puas baca nya 🙂 hehe…*maksa ditunggu next nya,kalo bisa jangan lama-lama ya.susah soalnya nyari yg cast nya woobin & jiwon,kaya nya cuma ada di sini 😀

    1. Halo Devi, salam kenal juga ya 🙂 ini msh awal2 jd moment woobin jiwon emg sengaja blm aku munculin. Tp untuk part2 selanjutnya momen mereka pasti banyak kok hehe… ditunggu aja ya next chapnya. Makasih udh baca

  4. hai author…aku reader baru di sini,salam kenal 🙂 akhirnya nemu juga ff kim woo bin & kim jiwon 🙂 ffnya keren thor…apa mereka akan pura-pura jadi pasangan kekasih?apalagi haneul & minah melihat mereka berdua,di rumah woobin lagi 😀 scene woobin & jiwon nya di banyakin dong author…biar puas bacanya 😀 hehe…*maksa ditunggu next nya,kalo bisa jangan lama-lama ya author…soalnya nyari ff castnya mereka berdua susah banget 😦 malah kaya ngga ada,cuma di sini doang.semangat ya author… 🙂

  5. Banyakin scene jiwoon dan woobin ,thor …lucu aja kl mereka lg salting. Kyknya abis ini mereka bakal sering ktm dehh ,secara ibu2 mereka tmnan. Minah baru lihat jiwoon sm woobin duduk bareng aja bisa shock? Kl mereka sampe dijodohin bisa ngamuk kyk apa coba? Kkkk~

  6. Wah ortu mereka berteman jgn bilang nanti mereka bakal di jodohkan. Wah minah shock liat woo bin ma jiwon. Pasti habis ini minah bakal tambah gk suka ma jiwon.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s